Artikel

Abrahamic Covenant: Promise, Obedience, and Grace

Untuk membangun rasa percaya di dalam relasi antarpribadi adalah hal yang tidak mudah dan memerlukan waktu yang cukup lama. Kita tidak bisa secara langsung memercayai seseorang yang baru saja kita kenal. Rasa percaya itu timbul ketika kita sudah mengenal dengan baik orang tersebut, baik di dalam kepribadiannya maupun prinsip hidup yang ia pegang di dalam hidupnya. Namun di sisi lain, kita pun perlu menyadari bahwa rasa percaya yang sudah dibangun itu tidak bersifat sekali untuk selamanya. Kita perlu memelihara atau menjaga rasa saling percaya ini, baik dengan menjaga sikap maupun prinsip hidup dan juga menjaga dengan baik hal-hal yang sudah dipercayakan kepada kita. Sehingga, bukan hanya ketika membangun kepercayaan saja yang sulit, di dalam memeliharanya pun bukanlah hal yang mudah. Bahkan di dalam relasi antarmanusia yang paling intim, yaitu antara suami dan istri, rasa kepercayaan ini pun sering kali mengalami pasang-surut. Tidak sedikit perceraian yang harus terjadi karena hilangnya rasa percaya satu dengan yang lainnya. Kasus-kasus pengkhianatan baik oleh seorang teman maupun pasangan (di dalam konteks keluarga), kerap kali menimbulkan efek samping yang berat dan muncul secara tiba-tiba. Akibatnya, kepercayaan yang dibangun selama bertahun-tahun dapat rusak dan hancur dalam sekejap mata. Inilah salah satu fakta yang begitu ironis dalam kehidupan berelasi manusia berdosa.

Kita pun tidak dapat mengabaikan sebuah kenyataan bahwa rasa saling percaya ini tidak hanya ditentukan oleh pribadi-pribadi yang sedang berelasi, tetapi juga oleh situasi sekitar pribadi tersebut. Pandangan orang-orang di sekitar kita dapat dengan mudah memengaruhi rasa saling percaya ini, biasanya dimulai dari timbulnya kecurigaan atau keraguan akan kepercayaan tersebut. Selain pandangan orang lain, situasi yang tidak menyenangkan atau berbahaya, terutama yang berkaitan dengan keselamatan diri, dapat juga mengguncangkan rasa saling percaya tersebut. Di dalam kondisi yang terdesak, sering kali manusia memikirkan keselamatan dirinya dibanding orang lain, bahkan orang yang terdekat sekalipun. Hanya segelintir orang yang memiliki patriotisme tinggi yang dapat merelakan dirinya demi kepentingan orang lain. Sehingga, baik pribadi-pribadi yang terkait maupun situasi sekitar dapat menjadi penyebab hancurnya rasa saling percaya ini. Namun, kehancuran rasa saling percaya ini tidak berarti akhir dari relasi, karena hancur atau rusaknya rasa saling percaya tetap masih memiliki kemungkinan perbaikan atau rekonsiliasi. Bahkan di dalam konteks yang benar, rasa saling percaya yang dibangun kembali ini mungkin menjadi makin kukuh. Hal ini bergantung dari pribadi yang terlibat, sampai sejauh mana mereka rela mengampuni dan memiliki keinginan untuk kembali membangun rasa saling percaya tersebut.

Sebagai umat Allah, kita berada dalam relasi antara Sang Pencipta dengan ciptaan-Nya, atau lebih tepatnya kita berada di dalam covenantal relationship dengan Allah. Jikalau pada artikel bulan lalu kita sudah membahas mengenai pemeliharaan Allah bagi umat-Nya dengan menyatakan penghakiman-Nya kepada para covenant breaker, maka pada artikel kali ini kita akan membahas relasi antara Allah yang terus setia kepada janji-Nya dengan Abraham yang menyatakan kesetiaannya kepada Allah secara fluktuatif. Walaupun Abraham merupakan bapak iman bagi orang-orang percaya, tetap saja di dalam kehidupannya ada masa-masa di mana ia mulai meragukan janji Allah. Ia menjadi seorang yang tidak dapat percaya sepenuhnya kepada janji Allah dan lebih mengandalkan pemikiran atau hikmatnya sendiri. Namun, kesetiaan Allah akhirnya mendidik dan membentuk Abraham menjadi seorang yang memiliki iman yang sejati kepada Allah. Ia menjadi seorang tokoh Alkitab yang penting, yang menjadi teladan iman di dalam kepercayaan dan ketaatannya kepada Allah.

Perjanjian Allah dengan Abraham
Kisah relasi antara Allah dan Abraham dimulai dari Kejadian 12:1-3, yaitu ketika Allah memanggil Abraham.
Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: “Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat.”

Panggilan Allah kepada Abraham merupakan bagian dari Universal Covenant yang Allah kerjakan di sepanjang sejarah umat manusia. Khususnya di dalam konteks Abraham, Allah menjanjikan akan keturunan Abraham yang akan menjadi sebuah bangsa yang besar dan juga janji akan adanya tempat atau tanah yang menjadi tempat tinggal mereka, lalu melalui keturunan Abraham inilah seluruh bangsa akan memperoleh berkat. Allah menyatakan akan janji-Nya ini beberapa kali kepada Abraham. Pernyataan janji Allah kepada Abraham berikutnya dicatatkan di dalam Kejadian 15:3-7:
Tetapi datanglah firman TUHAN kepadanya, demikian: “Orang ini tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu.” Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: “Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya.” Maka firman-Nya kepadanya: “Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu.” Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. Lagi firman TUHAN kepadanya: “Akulah TUHAN, yang membawa engkau keluar dari Ur-Kasdim untuk memberikan negeri ini kepadamu menjadi milikmu.”

Pada bagian ini, Allah menyatakan janji-Nya dengan lebih jelas, yaitu mengenai keturunan Abraham. Pernyataan ini Allah kembali nyatakan karena munculnya keraguan dalam diri Abraham mengenai kemungkinan baginya untuk memiliki anak. Pernyataan ini Allah kembali nyatakan untuk meneguhkan kembali keyakinan dan kepercayaan Abraham kepada janji Allah. Janji ini kembali Allah nyatakan pada Kejadian 17: 3-8, setelah intrik antara Hagar dan Sarai, kira-kira 25 tahun setelah janji Allah dinyatakan pertama kali kepada Abraham.
Lalu sujudlah Abram, dan Allah berfirman kepadanya: “Dari pihak-Ku, inilah perjanjian-Ku dengan engkau: Engkau akan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa. Aku akan membuat engkau beranak cucu sangat banyak; engkau akan Kubuat menjadi bangsa-bangsa, dan dari padamu akan berasal raja-raja. Aku akan mengadakan perjanjian antara Aku dan engkau serta keturunanmu turun-temurun menjadi perjanjian yang kekal, supaya Aku menjadi Allahmu dan Allah keturunanmu. Kepadamu dan kepada keturunanmu akan Kuberikan negeri ini yang kaudiami sebagai orang asing, yakni seluruh tanah Kanaan akan Kuberikan menjadi milikmu untuk selama-lamanya; dan Aku akan menjadi Allah mereka.”

Dari ketiga kali Allah menyatakan janji-Nya kepada Abraham, kita dapat melihat adanya 3 poin yang Allah janjikan kepada Abraham:
The Promised Land of Canaan (Kej. 12:1, 15:7)
The Promise of Numerous Offsprings (Kej. 15:4-6, 17:6-8)
The Promise of Blessings unto the World (Kej. 12:3)

Ketiga hal yang Allah janjikan ini adalah janji yang besar dan tidak mudah untuk kita terima begitu saja. Jikalau kita menjadi Abraham, mungkin kita sulit untuk memercayai hal ini apalagi harus menanti hingga sekitar 25 tahun baru lahir anak yang pertama. Diperlukan iman yang besar untuk memercayai janji Allah yang besar ini. Di dalam konteks Abraham, Allah tidak hanya memberikan janji-Nya, tetapi juga menuntut akan ketaatan dan kepercayaan dari Abraham kepada janji dan segala perintah Allah. Di dalam aspek respons inilah Allah membentuk iman Abraham yang di dalam perjalanan imannya mengalami jatuh-bangun.

Keraguan Abraham dan Allah yang setia membentuk Abraham
Di dalam kisah hidup Abraham, khususnya sejak ia dipanggil Allah hingga lahirnya Ishak, kita dapat melihat masa-masa di mana Abraham mengalami keraguan atau bahkan kejatuhan. Kejatuhan iman Abraham yang pertama kali terjadi adalah ketika timbul kelaparan di negeri yang ia singgahi (Tanah Negeb). Dicatatkan bahwa ketika timbul kelaparan yang hebat di negeri tersebut, Abraham pergi ke Mesir. Lalu, kejatuhan Abraham dimulai ketika ia meminta istrinya mengaku sebagai adiknya, demi keselamatan dirinya. Lalu ketika Firaun berniat mengambil Sarai menjadi istrinya, Tuhan langsung menimpakan tulah yang hebat kepada Firaun dan seisi istana. Di sini kita dapat melihat pemeliharaan Allah yang begitu mengherankan terhadap Abraham. Ini adalah manifestasi dari kesetiaan Tuhan kepada janji-Nya terhadap Abraham. Allah tidak membiarkan orang-orang yang Ia ingin pakai untuk menjalankan kehendak-Nya dihancurkan oleh nafsu dunia. Ketika Abraham dalam keraguan dan kejatuhan, Allah tidak membuangnya, tetapi Allah tetap mengingat akan janji-Nya dan memelihara Abraham, inilah kesetiaan Allah kepada umat yang
Ia pilih.

Di dalam pasal 13, kita dapat secara langsung melihat pertobatan dari Abraham. Ketika terjadi perkelahian antara para gembala milik Abraham dan para gembala milik Lot, Abraham langsung memutuskan untuk berpisah dengan Lot demi menghindari pertikaian antarsaudara. Di dalam konteks ini kita dapat melihat bagaimana Abraham membiarkan Lot untuk terlebih dahulu memilih tempatnya. Sikap egois Abraham yang ditunjukkan ketika di Mesir berubah total di dalam pasal 13 ini. Ia dengan berbesar hati menyerahkan Lot untuk memilih tempatnya. Di ayat-ayat selanjutnya dijelaskan lebih lanjut bahwa Lot memalingkan matanya ke lembah Yordan yang pada saat itu merupakan daerah yang subur. Abraham bisa saja memilih terlebih dahulu tempat yang nyaman baginya, tetapi ia menyerahkan hidupnya kepada pimpinan Tuhan. Bukan hanya itu, Abraham pun menolong Lot yang diculik. Bahkan, Abraham tetap mengingat akan Tuhan ketika ia berhasil menyelamatkan Lot. Ia tidak mengambil sedikit pun harta dari kepunyaan orang-orang yang ia selamatkan, karena ia sudah berjanji kepada Allah untuk tidak mengambilnya dan sepenuhnya bersandar kepada pimpinan dan pemeliharaan Allah kepada dirinya. Setelah peristiwa di Mesir dan Lot inilah Allah menyatakan janji-Nya kepada Abraham yang saat itu mulai meragukan akan janji Allah akan keturunannya.

Keraguan Abraham secara jelas dicatatkan melalui pertanyaannya kepada Allah dalam Kejadian 15:8, “Ya Tuhan ALLAH, dari manakah aku tahu, bahwa aku akan memilikinya?” Inilah keraguan dari diri Abraham yang secara jelas ternyatakan. Lalu Allah secara langsung menjawabnya dengan mengadakan perjanjian dengan Abraham. Allah meminta Abraham untuk menyiapkan lembu, kambing, domba, burung tekukur, dan burung merpati, lalu meminta Abraham untuk memotong korban-korban ini menjadi dua dan diletakkannya bagian-bagian itu yang satu di samping yang lain. Biasanya pihak yang mengadakan perjanjian berjalan di antara potongan-potongan ini, sebagai sebuah simbol pernyataan akan komitmen mereka terhadap janji yang dibuat. Jikalau melanggar, mereka akan mendapatkan kematian seperti binatang-binatang yang dipotong ini. Namun, hal yang menarik berada pada Kejadian 15:17, yaitu ada perapian yang berasap beserta suluh yang berapi jalan di antara potongan-potongan daging itu. Hal ini menunjukkan bahwa Allah yang mengikatkan diri-Nya dalam perjanjian hidup dan mati dengan Abraham, bahwa Ia akan memenuhi janji-Nya. Abraham yang mengerti mengenai makna dari upacara ini pasti menyadari bahwa Allah benar-benar serius akan menggenapkan janji-Nya.

Kejatuhan iman Abraham berikutnya adalah di pasal 16, ketika Sarai tidak kunjung memiliki anak sedangkan mereka sudah menantikan selama lebih dari 20 tahun sejak Allah pertama kali menyatakan janji-Nya. Sarai yang tidak sabar akhirnya meminta suaminya untuk menghampiri hamba dari Sarai, yaitu Hagar. Ketika akhirnya Abraham menghampiri Hagar dan ia mengandung, pertikaian rumah tangga ini pun dimulai. Sarai yang merasa dipandang rendah oleh Hagar mengadu kepada Abraham dan Sarai pun menindas Hagar hingga ia lari meninggalkan tuannya. Sikap Abraham yang mendengarkan permintaan istrinya untuk menghampiri Hagar menjadi bukti bahwa Abraham kembali mulai meragukan janji Allah kepadanya. Ia menyadari bahwa umurnya makin tua tetapi ia tidak kunjung memiliki anak. Namun, cara yang mereka pikir sebagai jalan keluar ternyata bukanlah kehendak Allah. Sehingga akhirnya terjadi permasalahan rumah tangga yang merupakan konsekuensi dari kebimbangan iman Abraham kepada Allah. Namun, di sini pun kita tetap dapat melihat pemeliharaan Allah terhadap Abraham. Ia tidak membiarkan keturunan Abraham yang bukan pilihan-Nya mengambil peranan di dalam rencana-Nya. Allah tetap dengan kedaulatan-Nya mereka-rekakan situasi sehingga rencana-Nya dapat tetap dijalankan secara murni. Lalu pada pasal berikutnya, di pasal 17 inilah Allah kembali menyatakan janji-Nya kepada Abraham, ketika ia sudah berumur 99 tahun. Di dalam pernyataan kembali janji-Nya ini, Allah meminta Abraham untuk melakukan sunat bagi laki-laki di antara kelompok Abraham. Sunat inilah yang menjadi tanda perjanjian Allah dengan Abraham.

Barulah ketika Abraham berumur 100 tahun (Kej. 21), Sara melahirkan anak bagi Abraham dan anak ini dinamai Ishak. Inilah keturunan yang Allah janjikan bagi Abraham. Namun, kisah ini tidak berakhir di sini saja. Pada pasal 22, Allah menguji Abraham dengan memintanya untuk mengorbankan Ishak. Jikalau sebelumnya Abraham yang memulai keraguannya kepada janji Allah, pada pasal ini Allah sendiri yang menguji kepercayaan Abraham kepada Allah. Ini merupakan ujian yang berat bagi seorang ayah yang menantikan keturunan selama puluhan tahun, dan ketika keturunan itu sudah ada, secara tiba-tiba Allah meminta Abraham untuk mengorbankannya bagi Allah. Namun pada pasal ini kita dapat melihat Abraham yang sudah makin dewasa imannya. Ia dengan taat menjalankan segala perintah Tuhan dan ia tetap percaya kepada Allah meskipun harus melakukan hal yang paling sulit di dalam hidupnya saat itu, yaitu mengorbankan anak satu-satunya yang telah lama dinantikan. Di sinilah kita bisa melihat bagaimana Allah membentuk seorang Abraham menjadi tokoh yang Tuhan layakkan untuk menjadi bapak dari segala orang beriman. Dari keraguan, akhirnya Abraham menjadi seorang yang beriman kepada Allah karena Allah sendiri yang setia membentuk Abraham. Inilah relasi antara Allah dengan umat perjanjian-Nya.

Refleksi
Melalui kisah Abraham ini, kita dapat melihat bagaimana Allah bekerja memelihara umat-Nya ini untuk menjadi wadah dalam menjalankan rencana-Nya. Meskipun imannya mengalamai jatuh-bangun, Allah tetap memelihara dan membentuk Abraham menjadi seorang yang pada akhirnya dapat memancarkan imannya sebagai umat Allah. Hal ini menjadi pembelajaran bagi kita, umat Allah yang hidup pada zaman ini. Perjalanan hidup sebagai umat Allah bukan perjalanan yang mudah dan lancar. Bukan hanya kita harus berhadapan dengan situasi dunia ini yang begitu menggoda kita untuk menyimpang dari kehendak Allah, tetapi kita juga harus berhadapan dengan diri kita yang masih penuh dengan kebiasaan berdosa yang harus diselesaikan. Bahkan bisa dikatakan, musuh terbesar kita dalam menjalankan kehendak Allah dengan taat adalah diri kita sendiri. Namun, melalui kisah Abraham ini kita dapat sepenuhnya berserah kepada Allah yang adalah Pemimpin kita, untuk beranugerah membentuk diri kita. Sehingga pada akhirnya kita dapat menjadi umat-Nya yang hidup memancarkan kemuliaan Allah, dan melalui diri kita inilah dunia ini memperoleh berkat. Kiranya Tuhan menolong dan terus berbelaskasihan membentuk diri kita menjadi umat-Nya.

Simon Lukmana
Pemuda FIRES

Simon Lukmana

Juli 2019

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk rangkaian Grand Concert Tour 2019 di Kaohsiung, Taipei, dan Hong Kong pada tanggal 15-21 Juli 2019.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
baik

Selengkapnya...

saya mau bertanya aja, kalau di katakan bahwa "when they were created, human can be self-centered",...atau...

Selengkapnya...

Terima kasih untuk renungan tentang kasih Allah.

Selengkapnya...

Asumsikan ada terbatas banyaknya bilangan genap jika dan hanya jika terdapat M yang merupakan bilangan terbesar dari...

Selengkapnya...

YESUS BERJANJI AKAN KESELAMATAN JEMAAT-NYA SAMPAI AKHIR ZAMAN, GEREJA KATOLIK TERBUKTI EKSIS SAMPAI SEKARANG DAN...

Selengkapnya...

© 2010, 2019 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲