Artikel

Aku Melakukan Maka Aku Tahu

Bagaimana kita mengetahui, bagaimana kita tahu bahwa kita tahu? Pertanyaan mengenai bagaimana kita mendekati realitas, dalam arti bagaimana kita mengetahui realitas sudah menjadi pergulatan panjang para filsuf sejak era sebelum Sokrates. Hingga saat ini pun permasalahan ini belum masuk dalam laci konklusi yang cukup memuaskan, di mana semua, atau setidaknya sebagian besar, pihak mengangguk tanda setuju. Sungguhpun demikian, usulan-usulan dalam manusia menjawab permasalahan ‘bagaimana kita dapat mengetahui’ serta ‘bagaimana kita tahu bahwa kita benar-benar tahu’ memiliki bentuk yang bukan tak terbatas. Kita akan sekilas melihat sedikit pendekatan yang memang terbatas jumlahnya meski bukan tanpa variasi di dalamnya; dan mencoba untuk melihat alternatif lain yang penting namun (dalam pandangan saya) cukup terabaikan dalam hidup kita sebagai orang Kristen.

Epistemologi Barat

S. E. Frost, Jr. mencatat dengan sangat singkat[1] perjalanan tradisi pemikiran Barat dengan dua metode besar: deduksi (mendefinisikan partikular dari prinsip universal) serta induksi (menarik/membuat prinsip universal dari partikular) yang telah digunakan Sokrates dalam bentuk tertentu. Sejalan dengan Sokrates sang guru, Plato menyatakan bahwa pengetahuan sejati tidak bisa kita peroleh hanya dari persepsi inderawi kita. Manusia perlu naik melampaui persepsi inderawi ke dalam ranah ide yang tidak bergantung pada pengalaman. Pengetahuan konseptual seperti ini berbeda dari pengetahuan inderawi yang sebenarnya bukanlah pengetahuan yang sejati (dalam pandangan Plato). Aristoteles (yang kita kenal sebagai orang yang banyak melakukan eksperimen dan pengamatan empiris) dicatat oleh Frost, Jr. sebagai orang yang mengerjakan logika deduktif ini dalam bentuk yang sangat genap di dalam silogismenya. Deduksi dan induksi dikerjakan sebagai upaya manusia untuk mendekati realitas, mendapatkan arti dan kebenaran; Francis Schaeffer menyatakan bahwa untuk mendapatkan arti dari setiap hal partikular (yang senantiasa kita jumpai) manusia memerlukan “universal.” Permasalahannya adalah apa atau siapa yang cukup besar untuk dijadikan universal; pemikiran Yunani mengusulkan polis (literal: kota - sistem masyarakat) sebagai universal, namun mereka sadar hal tersebut tidak dapat benar-benar mencakup universal; selanjutnya para dewa yang berpribadi menjadi alternatif sebagai universal. Namun para dewa tersebut ternyata juga disadari tidak cukup besar untuk benar-benar menjadi universal karena mereka sendiri sering berperang dalam berbagai hal. Masalah ini menyeruak dan berdengung keras dalam postmodernisme yang tidak ketinggalan dalam mencibir klaim-klaim absolut atau universal. Dengan demikian dapatkah manusia mengetahui, dapatkah manusia mendapatkan nilai dan arti yang pasti? Dapatkah kita tahu bahwa kita tahu? Apakah memang relativisme radikal di mana sebuah arti bersifat subjektif dan manusia tidak benar-benar tahu apakah yang dia tahu itu harus menjadi jawaban dari perjalanan manusia dalam menemukan arti?

Pertanyaan-pertanyaan mendasar seperti ini meredup disapu oleh angin kencang pragmatisme. William James menyatakan bahwa tujuan utama penalaran adalah untuk memudahkan manusia untuk mengontrol hidup dalam mencapai tujuan. Di sini yang terpenting bukanlah apakah kita tahu ataukah apakah kita tahu bahwa kita tahu, namun yang terpenting bagi pengetahuan adalah bagaimana pengetahuan tersebut berfungsi baik sebagai instrumen untuk mencapai tujuan kita. Lebih jauh John Dewey menyatakan usaha untuk mencapai pengetahuan yang pasti adalah sebuah kesalahan besar epistemologi. Realitas senantiasa berubah, karena itu usaha untuk mendapatkan arti dari prinsip universal (yang tak berubah) adalah sebuah kesalahan.[2] Pengetahuan dalam pragmatisme kuat disapa sebagai instrumen, dan bagi sebuah instrumen, benar atau salah bukan masalah utama, urusan dasarnya adalah apakah instrumen tersebut berguna atau tidak. Jadi, kini pertanyaannya bukanlah apakah saya bisa tahu, apakah saya bisa tahu bahwa saya tahu; tapi apakah gunanya pengetahuan tersebut dalam saya mencapai tujuan saya. Namun arus pragmatisme ini tidak memberikan jawaban terhadap ke arah mana dan untuk tujuan apa instrumen (kata penting dalam pragmatisme) tersebut harus dipakai. Apakah instrumen tersebut sudah dipakai untuk tujuan yang benar? Pengertian untuk mendapatkan kebenaran tetap menjadi lubang pertanyaan yang menganga meski pertanyaan seperti ini berusaha untuk ditutup.

Schaeffer mengangkat satu jawaban yang sebenarnya sudah ada namun sering terabaikan dalam ranah ilmu pengetahuan; setelah memaparkan jalan buntu berbagai usulan epistemologi.[3] Schaeffer menyatakan bahwa satu-satunya jalan (bukan hanya bagi orang Kristen) bagi manusia untuk mendapatkan arti adalah dengan memulainya dengan Allah. Dalam kekristenan kita mengenal Allah yang ultimat, yang memberikan arti dan nilai pada setiap hal partikular; dan Dia memberikan arti tersebut dalam wahyu verbal-Nya. Allah ada dan Allah berkomunikasi, Allah tidak diam. Allah menyatakan kepada manusia apa yang dikehendaki-Nya bagi manusia untuk tahu. Hal ini tidak semestinya menjadikan orang Kristen mengklaim hal tertentu secara arbitrer hanya dengan mengangkat slogan “pokoknya”, namun sebaliknya seperti yang diungkapkan Whitehead bahwa kebenaran akan semesta ini dapat diraih/didekati dengan nalar karena manusia percaya bahwa ada Allah rasional yang mencipta. Allah memberitahukan kepada kita apa yang Dia mau untuk manusia ketahui. Di dalam sistem ini pengetahuan justru dimungkinkan.

Dalam tradisi Reformed kita sudah sangat terbiasa untuk mengumandangkan bahwa pengetahuan kita dapatkan dari kitab suci, wahyu Allah sendiri. Dalam Alkitab kita mendapatkan suatu sistem pengetahuan lain yang cukup berbeda dari tradisi pikir Barat. Tuhan Yesus menyatakan barangsiapa mau melakukan kehendak-Nya, ia akan tahu entah ajaran-Ku ini berasal dari Allah, entah Aku berkata-kata dari diri-Ku sendiri. Melakukan, ternyata merupakan salah satu pendekatan untuk manusia memperoleh pengetahuan; hal ini sangat tidak populer di tengah zaman yang mengagungkan nalar.[4] Sayangnya dalam tradisi Kristen pendekatan ini juga cukup terabaikan, dan dengan keberanian yang bahkan cukup sah untuk disebut nekat; banyak orang yang mengaku Kristen memutuskan untuk menjunjung tinggi epistemologi modern (dengan atau tanpa disadari) yang memandang enteng Allah dan Wahyu-Nya. Penjelasan selanjutnya saya ingin mengajak kita melihat sebuah doktrin klasik mengenai salib dan mendekatinya dengan pola tindakan praktis sebagai salah satu cara untuk mengenal kebenaran.

Salib dan Epistemologi

Pemberitaan mengenai salib merupakan salah satu horor yang unexpected terucap dari mulut seorang yang diagendakan untuk menjadi Mesias, Juruselamat yang membebaskan bangsa Israel dari penindasan. Tidak susah untuk dimengerti bahwa ayat-ayat dalam Matius 10:34-38 mengindikasikan sebuah pembalikan ekspektasi Mesianis yang bersifat triumphalistik.[5] Ekspektasi yang dari sudut pandang pengalaman partikular tidak sesuai dengan standar Mesias (yang diurapi – Raja) seperti Daud, Salomo, dan sebagainya dan di sisi yang lain juga gagal memenuhi kualifikasi konsep (universal) Yahudi mengenai Mesias. Orang Farisi meminta tanda Mesianis dalam diri Tuhan Yesus (Mat. 12:38; 16:1), mereka menilai apakah Dia benar-benar Mesias yang seturut dengan kualifikasi Mesias yang mereka tetapkan ataukah Yesus harus bersiap untuk mati disalibkan dan menambah panjang daftar pejuang yang mati disalibkan.[6] Selain urusan politis seperti yang dituturkan oleh Craig A. Evans di mana Yesus sangat mengganggu status quo para pemimpin Yahudi,[7] Yesus juga dianggap out of qualifications. Di sini kita melihat bahwa untuk mengetahui apakah Yesus itu Mesias atau bukan, standar pengukurnya adalah konsep (universal) Yahudi mengenai Mesias. Namun dalam pembacaan perikop ini ada sebuah pemutaran yang harus disadari oleh pembaca Injil Matius ini. (Bila kita menerima pandangan populer bahwa sifat Yahudi dalam Injil Matius sangatlah kental; maka tidak banyak kesulitan bagi kita untuk memahami bahwa pembaca awal Injil ini didominasi oleh orang-orang Yahudi yang berada dalam kesulitan tertentu sebagai orang yang dimusuhi karena dianggap murtad. Dalam kondisi seperti ini cukup normal bagi komunitas Matius untuk mengharapkan Mesias dalam suatu kualifikasi tertentu). Namun perikop ini menjungkirbalikkan pandangan yang mungkin cukup “lazim” pada waktu itu (dan cukup lazim juga bagi praktek hidup orang yang mengaku Kristen pada abad ke-21 ini). Tuhan Yesus tidak memberikan tanda maupun berusaha membuktikan bahwa diri-Nya memenuhi “kualifikasi universal” Yahudi, namun sebaliknya justru Dia yang memberikan kualifikasi mengenai siapa yang boleh menyandang nama sebagai pengikut-Nya. Konsep (universal) manusia terbatas; namun wahyu Allah mutlak, dan manusia dituntut untuk menyesuaikan diri terhadap Allah. Lebih lanjut Kristus mengetengahkan salib sebagai pemisahan yang bertabrakan langsung dengan segala konsep dan sistem pengetahuan Yahudi.

Dalam Institutio, Calvin memaparkan beberapa hal mengenai pemikulan salib yang sekali lagi sudah cukup akrab dengan hidup kita. Pemikulan salib berarti pelatihan keras yang diberikan Tuhan kepada orang yang dianggap-Nya layak untuk masuk dalam persekutuan orang-orang milik-Nya.[8] Tentu bagi Tuhan, lanjut Calvin, tidak perlu bagi Dia untuk memikul salib, namun bagi kita, hal tersebut sangat diperlukan sebab – sejalan dengan prolegomena Institutio Calvin – salib mengingatkan kita akan kerusakan diri karena dosa. Kecuali diharuskan memikul salib, kita akan terdorong untuk pongah dan memaparkan ketololan kita dengan berbangga kepada diri kita sendiri. Calvin menyatakan, He can best restrain this arrogance when he proves to us by experience not only the great incapacity but also the frailty under which we labor. Therefore, he afflicts us either with disgrace or poverty, or bereavement, or disease, or other calamities. Utterly unequal to bearing these, in so far as they touch us, we soon succumb to them. Thus humbled, we learn to call upon his power...[9] Selanjutnya, Calvin menyatakan bahwa salib membawa kita pada kesabaran untuk melihat penyertaan Tuhan; Salib juga mengajarkan kepada kita ketabahan serta ketaatan ...thus they are taught to live not according to their own whim but according to God’s will. Obviously, if everything went according to their own liking, they would not know what it is to follow God. Salib, bagi Calvin juga merupakan obat bagi hidup kita yang cenderung cekatan untuk berbuah bagi dosa sehingga Allah memandang perlu untuk menyelamatkan kita melalui salib. Thus, lest in the unmeasured abundance of our riches we go wild; lest, puffed up with honors, we become proud; lest, swollen with other good things — either of the soul or of the body, or of fortune —we grow haughty, the Lord himself, according as he sees it expedient, confronts us and subjects and restrains our unrestrained flesh with the remedy of the cross.[10] Yang tak kalah penting, Calvin menyatakan bahwa salib merupakan hardikan untuk kesalahan dan dosa kita. Melihat beberapa pengertian Calvin mengenai pemikulan salib ini, saya memberanikan diri untuk mengatakan bahwa gerakan Reformed Injili sangat Calvinian dalam memandang salib. Salib merupakan virtue yang senantiasa diangkat sebagai sarana yang dipakai oleh Allah untuk menguji kesabaran kita, membuat kita tidak pongah dan meletakkan kebahagiaan kita pada kesenangan yang tak bertanggung jawab. Terlebih lagi dengan konteks peperangan terhadap Theologi Sukses yang sedang menyebar luas, berita memikul salib sangat perlu untuk terus dikabarkan. Kehidupan Kristen sebagai kehidupan yang berat, instead of penuh kemudahan (seperti yang diusulkan para pembela Theologi Sukses) perlu untuk terus ditekankan, terutama dalam pengertian seperti yang dinyatakan oleh Calvin di atas.

Salib dan Theologi Paulus

Namun dalam tradisi Reformed, kita bukan hanya mengenal salib dalam arti demikian. Dalam pembacaan realized eschatology Paulus, salib memiliki makna yang cukup berbeda (bukan bertentangan). Kemuraman besar salib ditunggangi menjadi suatu sarana untuk menyatakan jati diri Kristen yang menyukakan; dan hal ini ternyata juga kita jumpai dalam beberapa bagian terakhir bab 8 buku ketiga Institutio Calvin. Memasukkan nama H. D. Wendland; Herman Ridderbos menyatakan bahwa belakangan ini motif pengajaran Paulus banyak ditarik dari titik tolak eskatologis proklamasi Kristus yang mendahului segala sudut pandang lain. Seluruh isi pengajaran ini bisa diringkas sebagai: proklamasi kedatangan, kematian, dan kebangkitan Kristus.[11] Paulus membicarakan kegenapan waktu (pleroma) sebagai hal yang telah terjadi[12] sehingga hal ini bukan melulu kita pandang dalam skema ke-nanti-an (not yet). Kegenapan waktu, yaitu digenapinya sejarah penebusan yang telah dirangkai dalam jalinan panjang sejarah Perjanjian Lama kini telah digenapi dalam Christ events. Ridderbos menyatakan bahwa banyak ajaran Paulus yang meneguhkan bahwa inti pemberitaan Injilnya berfokus kepada kematian dan kebangkitan Kristus,[13] dan dia mengaitkan kematian Kristus dengan salib sehingga seluruh Injilnya bisa disebut sebagai pemberitaan tentang salib.[14] Saya percaya bahwa banyak kelimpahan bila kita melihat salib dalam pandangan seperti ini. Sekali lagi, pemberitaan salib yang akan kita renungkan selanjutnya bukan untuk dipolemikkan dengan gambaran salib yang menyiratkan kehidupan yang keras dan penuh pergumulan seperti yang dipaparkan pada bagian sebelumnya. Dalam 2 Korintus 5:17 kita melihat bahwa Paulus melihat karya Kristus membentuk suatu kesatuan antara Diri dengan umat-Nya sehingga umat Tuhan dikatakan sebagai “berada di dalam Kristus”. Dengan demikian maka apa yang terjadi “di dalam Kristus” teraplikasi kepada umat Tuhan. Paulus sering membicarakan mengenai disalibkan, mati, dikuburkan, dan dibangkitkan bersama-sama dengan Dia (Rm. 6:3; Gal. 2:19; Kol. 2:12-13, 20; 3:1,3), dan hal tersebut bukan bersifat simbolis atau mistis belaka namun merupakan kondisi keselamatan umat Tuhan yang bersifat objektif.[15] Kematian Kristus di atas salib adalah kematian orang-orang yang berada “di dalam Dia”; dan kematian-Nya adalah kematian manusia lama (Rm. 6:6) sehingga manusia lama kita, keberadaan diri kita yang berdosa telah dihakimi dan mati. Dari pandangan ini maka kita melihat bahwa salib merupakan satu-satunya jalan untuk membuat diskontinuitas kita dengan persekutuan kematian di dalam Adam. Paulus menyatakan paket salib dengan kebangkitan dari antara orang mati, sehingga kini setelah manusia lama mati disalibkan, manusia baru kita dibangkitkan bersama-sama dengan Kristus. Dalam Dia, kebangkitan orang mati telah terjadi, kebangkitan-Nya mewakili permulaan dunia baru milik Allah.[16] Dengan cara pandang ini maka salib tidak lagi dipandang melulu sebagai satu hajaran, rotan yang masih harus kita jalani oleh karena kebebalan kita yang begitu gampang dirangsang oleh kemudahan dan kenikmatan hidup; sebagai pelatihan bagi kita yang diselimuti kepercayaan pada diri sendiri untuk belajar percaya kepada Allah; ataupun sebagai pelajaran untuk melatih kesabaran kita yang sering kali begitu pendek dan ketaatan kita yang sangat rapuh. Salib, yaitu penyaliban Kristus adalah suatu peristiwa objektif yang tergores dalam sejarah semesta, dan terjadi secara objektif terhadap gereja Tuhan, sehingga maut (yang adalah murka Allah, ganjaran dari permusuhan dengan Allah), si musuh yang terakhir itu telah benar-benar ditaklukkan. Maka tidak mengherankan bila kita melihat berita tentang salib terus dikumandangkan oleh Paulus.

Salib, Epistemologi, dan Kehormatan

Salib adalah sarana yang melaluinya kita ini dihidupkan dan dikhususkan untuk Tuhan; adakah hal yang lebih berdignitas dari hal ini; yaitu bahwa kita dikhususkan untuk Allah? Deraan yang kita emban, salib yang kita pikul, bukan sekadar realitas yang “harus” orang Kristen hadapi. Namun selanjutnya Calvin mengajak kita untuk melihat salib dalam how much honor God bestows upon us in thus furnishing us with the special badge of his soldiery … Even poverty, if it be judged in itself, is misery; likewise exile, contempt, prison, disgrace; finally, death itself is the ultimate of all calamities. But when the favor of our God breathes upon us, every one of these things turns into happiness for us.[17] Pemakaian kata happiness memberikan sebuah warna tersendiri terhadap theologi salib ala Calvin. Pemberitaan mengenai salib, di satu sisi sangat realistis dan di sisi yang lain sangat berani dan bermartabat. Salib, yang mana (dalam skema theologi Paulus) kita gereja Tuhan berbagian di dalamnya, dikatakan oleh Bartholomew dan Goheen represents the climactic victory of the kingdom of God. God's rule was disrupted by human rebellion and all that came with it: demonic power, sickness, suffering, pain, and death – every kind of evil. The root of all opposition to God's rule was human rebellion, and that could be destroyed only at the cross.[18]

Memikul salib adalah suatu kondisi yang terealisasi dalam hidup Kristen; orang Kristen tidak dihadapkan pada pilihan untuk memikul salib atau tidak. Kita sudah diajarkan untuk melihat hal ini melalui berbagai aktivitas sederhana dalam hidup bergereja kita; KKR, konser, janji iman, kuliah, seminar, rapat dan sebagainya. Sering kali kita menjalani hal tersebut dengan kesadaran penuh dan kerelaan yang tidak diragukan bahkan dengan kesabaran yang mungkin boleh diacungi jempol; namun dalam skema eskatologi terealisasi Paulus, kita belajar untuk melihat semua hal tersebut dengan delight. Bagaimana kita mengetahui bahwa benar-benar pemikulan salib tersebut benar dan mendatangkan delight? Satu pendekatan sederhana saja; mari kita lakukan dengan iman dan penuh kesadaran bahwa kita sedang menjalankan kehendak-Nya karena Dia yang telah memberikan teladan dengan mati di atas kayu salib dan bangkit dari kematian memerintahkannya. Inilah dasar kebenaran kita, wahyu Kristus yang inkarnasi dengan salib (kematian dan kebangkitan-Nya) sebagai pusatnya.

“For my yoke is easy and my burden is light.” GOD be praised!!!

 

Ev. Eko Aria

Pembina Pemuda Remaja GRII Bintaro



[1]      S.E. Frost, Jr. Basic Teachings of the Great Philosopher.

[2]      Dion Scott-Kakures... (et al.). History of Philosophy. 360-366.

[3]      Untuk mengikuti penjelasan singkat Schaeffer dalam memaparkan jalan buntu sistem pikir non Kristen bisa kita baca bukunya ‘He is there and He is not silent’.

[4]      Maksud saya dengan kata salah satu adalah bahwa pendekatan ini merupakan sebuah alternatif untuk memperlengkapi epistemologi Kristen, bukan untuk mengangkatnya sebagai satu-satunya tolok ukur dan pada saat bersamaan menenggelamkan bentuk lain dalam kita mendekati sebuah kebenaran.

[5]      Pada masa intertestamental, terminologi “Mesias” atau “Kristus” digunakan dalam nuansa kenabian sebagai gelar bagi dia yang akan ditunjuk Allah untuk merestorasi ke penguasaan Allah serta melayani kerajaan-Nya. (terjemahan penulis). Craig G. Bartholomew and Michael Goheen. The Drama of Scripture – Finding Our Place in the Biblical Story. 150

[6]      Bartholomew dan Goheen menyatakan bahwa kebrutalan Roma memantik perlawanan demi perlawanan terhadap pemerintahan, dan banyak dari mereka yang berakhir pada tiang salib. Ibid. 122.

[7]      Craig A. Evans & N.T Wright. Hari – Hari Terakhir Yesus.

[8]      John Calvin. Institutes of Christian Religion 1. Ed. John T. McNeill. 702.

[9]      Ibid. 703.

[10]   Ibid. 706

[11]   Herman Ridderboss. Paulus - Pemikiran Utama Theologinya.  35

[12]   Ibid. 36

[13]   Ibid. 46

[14]   Ibid. 47

[15]   Ibid. 52-53

[16]   Ibid. 48

[17]   John Calvin. ICR 707

[18]   Craig G. Bartholomew and Michael Goheen. The Drama of Scripture – Finding Our Place in the Biblical Story.  165

Ev. Eko Aria

Juni 2010

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk Gerakan Reformed Injili dalam menjalankan mandat Injil melalui pemberitaan Injil baik secara pribadi, berkelompok, maupun massal.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Contoh lain bhw di dlm Alkitab terdapat konsep seseorang dpt memperoleh pengurangan atau pembebasan hukuman sbg...

Selengkapnya...

Akan tetapi, seseorang tidak perlu bergantung pada dirinya saja untuk melunasi utang tersebut. Kekristenan pada zaman...

Selengkapnya...

Gereja Roma Katolik pada zaman itu memercayai dua hal yang fundamental berkaitan hal ini. Pertama, bahwa manusia...

Selengkapnya...

Halo Jones, Saya sendiri juga melayani dalam wadah sekolah minggu (SD). Tanggapan singkat saja dari saya. Untuk...

Selengkapnya...

Bagaimana caranya kita menerapkan pemahaman alkitab terhadap anak anak seperti saudara kita yang belajar di mda misalnya

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲