Artikel

Allah dan Probabilitas

Introduksi
Hidup ini tidak selalu berjalan dengan penuh kepastian atau terprediksi sesuai pemikiran dan pengalaman kita. Siapa pun pasti menyadari bahwa ada ketidakpastian dalam hidup ini yang tidak mampu kita kontrol dan prediksi. Ada persentase kemungkinan untuk suatu peristiwa dapat terjadi di luar yang ditunggu-tunggu. Dalam ranah ilmiah, kita menyebutnya sebagai probabilitas. Misalnya, probabilitas untuk hari ini turun hujan adalah sebesar 80%. Ini berarti masih ada kemungkinan 20% tidak akan turun hujan. Ada faktor ketidakpastian dalam menentukan hasil akhir suatu peristiwa. Inilah yang mendorong munculnya rumusan mengenai probabilitas, yakni mencoba meminimalkan ketidakpastian yang ada.

Lalu, bagaimanakah kita sebagai orang Kristen – yang percaya akan kedaulatan Allah – berhadapan dengan probabilitas? Alkitab mengajarkan untuk melihat kedaulatan Allah sebagai ketetapan yang pasti dan mutlak. Aspek kepastian mewarnai dan bahkan mendasari pemahaman kita terhadap Allah yang berdaulat. Jikalau demikian, bagaimana kita melihat dunia ini yang penuh dengan ketidakpastian dengan sifat Allah yang pasti? Bukankah Allah yang menciptakan segala sesuatu, termasuk probabilitas? Jadi, apakah probabilitas ini, suatu kepastian atau kemungkinan?

Probabilitas
Probabilitas percaya mengenai adanya aspek ketidakpastian dan kemungkinan. Dalam bahasa sehari-hari, kita sering memakai kata “mungkin” untuk menggambarkan adanya probabilitas terjadinya sesuatu ataupun tidak. Hal ini menyiratkan ada kepercayaan akan adanya ketidakpastian. Kata “mungkin” digunakan sebagai titik tengah di antara “pasti terjadi” dan “pasti tidak terjadi”. Kebingungan antara “ya” dan “tidak” ini kita atasi dengan menggunakan kata “mungkin”.

Untuk menjelaskan dan menggambarkan kata “mungkin” inilah kemudian manusia mencoba memakai cara yang lebih baik. Di sinilah muncul ilmu probabilitas sebagai ilmu untuk memberikan gambaran akan ketidakpastian dan kemungkinan. Metode numerik menjadi kunci utama dalam ilmu probabilitas. Kemungkinan turun hujan dapat diterjemahkan dalam angka-angka tertentu. Seolah-olah ada kepastian yang sedikit lebih baik dibandingkan hanya menggunakan kata “mungkin”. Misalnya, angka 0% menunjukkan kepastian tidak turun hujan dan 100% sebagai kepastian turun hujan. Sehingga pernyataan seperti “80% bakal turun hujan”, membuat kita yakin untuk membawa payung dibanding pernyataan yang hanya sekadar kemungkinan tanpa disertai angka. Nilai probabilitas yang semakin tinggi dapat memberikan kita keyakinan yang lebih tinggi akan suatu hal. Yang menjadi pertanyaan adalah bagaimana kaitan keyakinan kita yang didasarkan kepada nilai probabilitas dengan iman kita kepada Allah? Kalau seandainya kita diberikan sebuah pernyataan “80% kemungkinan Allah itu tidak ada”, apa yang akan menjadi reaksi kita? Apakah kita akan semakin yakin bahwa Allah itu tidak ada?

Di sinilah letak permasalahan kebanyakan orang Kristen yang sulit mengaitkan antara iman Kristen dan ilmu pengetahuan. Setiap kali bertemu angka-angka matematis, hal itu selalu identik dengan ilmu yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan iman kepada Allah. Dunia Matematika menjadi dunia yang tersendiri dan terasing dari iman Kristen. Tetapi, pemazmur berkata sebaliknya bahwa “langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya” (Mzm. 19:2). Bukankah kemuliaan Allah itu berupa karakter Allah seperti kekudusan-Nya, kemahakuasaan-Nya, kekekalan-Nya, dan sifat-sifat ilahi lain-Nya? Segala ciptaan memancarkan karakter Allah. Karakter atau sifat tertentu pada ciptaan memancarkan karakter Allah itu sendiri. Walaupun tentu ada perbedaan kualitas antara karakter Pencipta dan ciptaan. Demikianlah Allah yang setia pada janji-Nya juga nyata di dalam ilmu probabilitas yang setia pada hukumnya.

Probabilitas dan Kesetiaan Allah
Berkaitan dengan probabilitas ini, kita perlu mengetahui karakter utama dari probabilitas dan korelasinya dengan karakter Allah, salah satunya adalah sifat keteraturan (regularity). Walaupun secara kasat mata ketika satu koin dilemparkan akan memberikan hasil yang selalu berbeda-beda, tetapi bukankah perbedaannya hanya di antara gambar dan angka? Jadi, boleh kita katakan bahwa hasil lemparan koin adalah secara teratur berupa gambar atau angka. Ada keteraturan di dalam ketidakpastian. Inilah yang disebut sebagai probabilitas. Tanpa ada keteraturan tidak mungkin ada ilmu probabilitas. Begitu juga sebaliknya, adanya ketidakpastian menjadi dorongan bagi manusia untuk merumuskan ilmu probabilitas. Seperti yang Dr. Vern Sheridan Poythress katakan melalui bukunya Chance and the Sovereignty of God, “The world shows both regularities and unpredictabilities. It is the unpredictabilities that compel us to study probability.

Sifat keteraturan menyatakan adanya sesuatu yang tetap, tidak berubah, dan terjadi secara reguler. Inilah karakteristik yang ada pada diri Allah, seperti yang tertera pada Ibrani 13:8, “Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya.” Sifat ketidakberubahan ini menunjukkan kesetiaan (faithfulness) Allah. Allah sungguh setia pada janji-Nya. Janji keselamatan yang dinubuatkan Allah kepada Adam (Kej. 3:15), umat Israel (Ul. 18:15,18), Nabi Yesaya (Yes. 53:1-12), hingga kepada Yohanes Pembaptis (Yoh. 1:29) telah digenapkan melalui Yesus Kristus 2.000 tahun yang lalu. Kesetiaan Allah pada akhirnya tercermin juga melalui hukum-hukum ciptaan-Nya, bahwa semua mekanisme ciptaan setia dan taat kepada hukum ciptaan yang telah Tuhan tanamkan. Kesetiaan inilah yang kita yakini sebagai keteraturan. Suatu karakteristik utama agar kita dapat mempelajari, memahami, dan merumuskannya sebagai suatu ilmu pengetahuan, termasuk probabilitas yang memerlukan elemen keteraturan.

Begitu juga dengan karakteristik ketidakpastian. Bukankah dari sudut pandang manusia yang terbatas, kita melihat pekerjaan Allah di dalam “ketidakpastian”? Siapakah yang dapat mengetahui kapan seseorang dipanggil oleh Tuhan atau siapa yang dapat meramalkan suatu peristiwa bencana dengan akurat? Ada tendensi untuk melihat ketidakpastian sebagai sesuatu yang mengkhawatirkan dari sisi manusia. Tetapi, Poythress mempunyai pandangan lain tentang hal ini. Ia justru melihat ketidakpastian pada pekerjaan Allah sebagai karakter kreativitas Allah. Ia sanggup melakukan segala sesuatu dengan cara-Nya sendiri dan memang sangat kreatif. Contoh sederhananya dapat kita lihat pada wajah manusia. Tujuh miliar manusia di dunia, sangat sedikit yang memiliki wajah yang mirip. Allah menciptakan setiap orang dengan wajah yang unik dan tidak ada yang sama. Bukankah karakteristik ini tercermin secara langsung pada ilmu probabilitas? Walaupun ada nilai probabilitas yang dapat ditentukan, tetapi setiap percobaan selalu tak dapat diprediksi secara akurat. Kedua karakter ini tercermin di dalam konsep transenden dan imanen.

Transenden dan Imanen
Dua sifat Allah ini, “transenden” dan “imanen”, merupakan karakteristik yang penting pada diri Allah. Allah yang transenden menyatakan bahwa Dia berdaulat atas segala sesuatu. Tidak ada satu hal pun yang terjadi di luar kehendak dan kuasa-Nya (Mzm. 103:19). Segala ciptaan tunduk pada otoritas dan kontrol Allah. Sifat transenden mengartikan ada garis pemisah antara Allah Sang Pencipta dan seluruh ciptaan-Nya. Tetapi, di sisi yang lain, Allah adalah Allah yang imanen. Karakter ini menyatakan bahwa Allah sungguh-sungguh terlibat pada segala peristiwa di dunia. Allah yang imanen adalah Allah yang hadir di tengah-tengah dunia (Kej. 28:15).

Kedua karakter ini juga dapat kita temukan dalam kehidupan Yesus Kristus. Sifat transenden-Nya bisa kita lihat pada kuasa-Nya seperti meredakan badai (Luk. 8:22-25), menyembuhkan orang sakit, hingga membangkitkan Lazarus dari kematian (Yoh. 11:41-44). Pada waktu bersamaan, Kristus juga menyatakan sifat imanen-Nya yaitu hadir bersama-sama dengan murid-murid-Nya. Dia memberikan penyertaan dan bimbingan kepada murid-murid-Nya, Dia hidup di tengah-tengah mereka dan hidup sama seperti mereka.

Ilmu probabilitas merefleksikan kedua sifat Allah ini. Sifat transenden ini dibuktikan dengan adanya hukum probabilitas yang melampaui setiap detail yang ada. Lemparan sebuah koin memiliki probabilitas sebesar 0,5. Hukum ini berlaku universal, melampaui warna dan ukuran koin, melampaui di mana koin itu dilemparkan, dan juga melampaui kapan koin itu dilemparkan. Pada saat bersamaan, probabilitas juga menyatakan sifat imanensinya. Hukum probabilitas dapat diterapkan ke berbagai bidang ilmu lainnya. Di abad ke-21 ini, probabilitas tidak hanya dipakai untuk memprediksi lemparan koin maupun dadu, tetapi sudah merambah ke ranah prediksi peristiwa yang akan terjadi di masa akan datang, seperti perubahan cuaca, gempa bumi, tindakan kriminal, dan munculnya penyakit tertentu pada seseorang.

Probabilitas dan Allah yang Independen
Karakter kedua pada ilmu probabilitas adalah sifat independen. Sebagaimana Allah yang kita percayai adalah Allah yang independen, begitu juga dengan probabilitas. Allah yang independen memberi makna bahwa eksistensi diri-Nya tidak bergantung pada siapa pun dan oleh apa pun. Pada kasus probabilitas juga berlaku demikian. Misalkan kita ambil contoh, lemparan dadu yang hasil akhirnya berupa 6 kemungkinan dari 1 kali percobaan. Sehingga kita dapat menentukan nilai probabilitasnya sebesar 1/6 untuk masing-masing nilai dadu (dadu dengan angka 1 hingga 6).

Misalnya, ada 2 jenis dadu yang memiliki bentuk yang sama, tetapi yang satu berwarna dasar hitam, dan lainnya berwarna dasar putih. Seandainya dadu hitam dengan probabilitas 1/6 dilemparkan dan menghasilkan angka 6. Kemudian, dadu putih juga dilemparkan. Pertanyaannya adalah apakah informasi dadu hitam memengaruhi probabilitas angka 6 pada dadu putih? Jawabannya tidak. Dadu putih tetap memiliki nilai probabilitas 1/6 untuk masing-masing angka. Informasi angka 6 pada dadu hitam tidak memengaruhi nilai probabilitas pada dadu putih. Inilah yang disebut sebagai karakter independen pada probabilitas. Antara dadu hitam dan dadu putih saling independen dan tidak bergantung satu sama lain.[1] Inilah kaitan yang sangat jelas antara ilmu probabilitas dan Allah yang kita imani, Allah yang independen menyatakan sifat-Nya di dalam probabilitas. Kalau bukan dari Allah yang independen, dari mana lagi probabilitas dapat memiliki sifat independennya?

Pada kenyataannya, kita sering berdalih dari fakta ini. Kita lebih percaya kepada intuisi kita dibandingkan kebenaran akan sifat independen dari probabilitas. Apalagi bagi mereka yang senang berjudi, pasti sulit atau bahkan tidak mau menerima fakta ini. Tetapi, bagi Poythress sifat independen ini sangatlah penting dan justru memberi berkat dalam banyak hal. Pertama, sifat independen ini memudahkan kita untuk menguantifikasi nilai probabilitas dengan akurat. Walaupun pada kasus tertentu ada probabilitas yang tidak independen, seperti probabilitas turunnya hujan hari ini memengaruhi probabilitas turunnya hujan keesokan harinya. Hal ini dikarenakan ada parameter yang dapat mengubah probabilitas turunnya hujan, seperti arah dan kecepatan angin, temperatur, kelembaban, jumlah awan, dan sebagainya. Namun demikian, parameter ini tetap dapat dilihat sebagai parameter baru bagi esok hari, sehingga seakan-akan probabilitas turunnya hujan esok hari tetap merupakan nilai yang independen adanya.

Kedua, adanya sifat independen pada probabilitas seharusnya membuat kita semakin takjub dan mengucap syukur kepada Allah. Oleh karena tanpa adanya sifat independen ini, tidak mungkin manusia bisa merumuskan ilmu probabilitas. Ilmu probabilitas sangat membantu kita untuk memahami fenomena alam ciptaan, terutama peristiwa yang seolah-olah terlihat acak, tetapi menyimpan keteraturan dari sudut pandang yang lebih besar. Karena itu, tidak ada lagi alasan bagi manusia untuk tidak mengucap syukur dan memuji kebaikan Allah.

Kesimpulan
Akhir kata, kita dapat menyimpulkan bahwa tidak ada satu pun ilmu yang tidak terkait dengan Allah. Antara iman dan ilmu pengetahuan tidak saling berkontradiksi. Justru saat kita mengubah sudut pandang kita terhadap suatu ilmu pengetahuan, kita dapat melihat bagaimana hanya Allah saja yang dapat menjadi dasar utama bagi segala ilmu pengetahuan, seperti halnya pada probabilitas ini. Bagaimana karakter independen dan keteraturannya bisa ada oleh karena dua sifat tersebut ada juga di dalam diri Allah. Sehingga probabilitas tidak hanya digunakan sebagai alat untuk mengestimasi kejadian-kejadian tak terprediksi seperti lemparan dadu, tetapi untuk menyatakan kemuliaan Allah sungguh-sungguh tercermin lewat ciptaan-Nya. Benarlah apa yang dikatakan Rasul Paulus di Roma 1:20, “Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.” Terpujilah nama Tuhan, Allah Sang Pencipta dunia dengan segala isinya!

“In the subject of probability, God brings together regularity and unpredictability in a marvelous way. He brings together his faithfulness and his creativity.”[2]Vern S. Poythress

Trisfianto Prasetio
Pemuda GRII Bandung

Endnotes:
[1] Adakalanya ada probabilitas yang tidak independen, misalkan probabilitas lokasi kejahatan di kota A. Besaran probabilitas saat ini sangat bergantung dari informasi jumlah kejahatan yang terjadi di waktu yang lampau.
[2] Poythress, Vern S. Chance and Sovereignty of God. (Crossway, 2014). Hlm. 258.

Trisfianto Prasetio

September 2016

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk Gerakan Reformed Injili dalam menjalankan mandat Injil melalui pemberitaan Injil baik secara pribadi, berkelompok, maupun massal.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Contoh lain bhw di dlm Alkitab terdapat konsep seseorang dpt memperoleh pengurangan atau pembebasan hukuman sbg...

Selengkapnya...

Akan tetapi, seseorang tidak perlu bergantung pada dirinya saja untuk melunasi utang tersebut. Kekristenan pada zaman...

Selengkapnya...

Gereja Roma Katolik pada zaman itu memercayai dua hal yang fundamental berkaitan hal ini. Pertama, bahwa manusia...

Selengkapnya...

Halo Jones, Saya sendiri juga melayani dalam wadah sekolah minggu (SD). Tanggapan singkat saja dari saya. Untuk...

Selengkapnya...

Bagaimana caranya kita menerapkan pemahaman alkitab terhadap anak anak seperti saudara kita yang belajar di mda misalnya

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲