Artikel

Allah Dunia Akademis

Para orang tua Kristen mungkin memiliki ketakutan tertentu ketika akan mengirimkan anaknya untuk menempuh pendidikan tinggi. Dari sekian banyak ketakutan yang ada, salah satunya adalah mengenai iman. Mengapa? Kita sering mendengar kabar tentang orang-orang yang memutuskan untuk meninggalkan Tuhan dalam perjalanan akademisnya dan memilih menjadi seorang atheis. Hal ini sudah sangat lumrah di negara-negara maju. Mayoritas orang yang berada di universitas sudah tidak percaya lagi kepada Tuhan. Iman kepercayaan bahkan dianggap tabu dan memalukan jika dibicarakan di ranah publik dan akademis.

Apa yang salah? Apakah ilmu bertentangan dengan iman Kristen? Apakah kekristenan betul-betul hanya berisi dongeng dan mitos sehingga orang-orang yang katanya sudah pintar dan banyak belajar tidak sanggup memercayainya lagi? Apakah iman dan Tuhan hanya untuk konsumsi kalangan non-akademis? Tentu saja tidak. Kekristenan bukanlah lawan dari ilmu pengetahuan. Kekristenan justru adalah satu-satunya dasar yang mampu menjelaskan ilmu pengetahuan dengan utuh.

Kita percaya bahwa Tuhan kita, Allah Tritunggal adalah pribadi yang menciptakan dunia ini, tidak terkecuali ilmu pengetahuan di dalamnya. Ilmu pengetahuan yang manusia miliki bisa ada hanya karena Tuhan menciptakannya dan memberikannya kepada manusia untuk diketahui. Kita harus sadar bahwa Tuhan adalah pengontrol atas segala sesuatu, termasuk pengetahuan dan pengertian kita. Sesungguhnya tidak ada manusia yang boleh menyombongkan dirinya karena telah memiliki banyak pengetahuan, karena itu adalah pemberian Allah. Karena itulah, kita perlu belajar memahami bagaimana seharusnya hubungan antara iman dan pengetahuan.

Pertama, kita perlu tahu posisi kita sebagai manusia di dalam dunia ini. Kita adalah ciptaan yang diciptakan oleh Tuhan untuk mengatur alam ini. Jadi kita sangat berbeda dengan Sang Pencipta dan bergantung penuh terhadap kemurahan hati-Nya, sehingga logika dan pemahaman kita sebagai manusia juga tentu saja bersifat terbatas. Kita tidak mungkin memahami segala sesuatu secara komprehensif seperti apa yang dimengerti oleh Tuhan.

Sering kali yang menjadi masalah adalah hal-hal yang tersembunyi dan tidak dibukakan oleh Tuhan tidak akan pernah dapat dipahami oleh manusia, tetapi manusia memaksa ingin tahu dan mengarang cerita sendiri yang pada akhirnya mendiskreditkan Tuhan. Sebagai orang Kristen kita harus sanggup mengakui misteri-misteri yang Tuhan tidak bukakan, tetapi harus terus mau mengejar sampai tuntas apa yang Tuhan sudah bukakan. Tanpa sikap dan pengakuan demikian, kita tidak akan menjadi ilmuwan Kristen yang baik.

Kedua, kekristenan bukanlah rumusan mati yang dapat diterapkan dengan mudah ke segala keadaan untuk mendapatkan hasil yang baik secara pasti. Kekristenan berbicara tentang keseluruhan hidup yang diperkenan oleh Allah. Sering kali orang Kristen kesulitan melihat hal ini ketika berhubungan dengan Allah. Kehidupan yang disebut Kristen baru terasa ketika seseorang berdoa, beribadah di gereja, melakukan pelayanan, dan lain-lain yang bersifat gerejawi. Tetapi bagaimana dengan kegiatan di luar gereja? Ketika kita belajar, bekerja, makan, minum, bersosialisasi, dan melakukan kegiatan lainnya, masihkah kita Kristen?

Pasti akan sulit untuk kita menjawabnya. Ketika orang mengukur tentang seberapa Kristen kegiatan kita, biasanya yang dilihat adalah ada tidaknya hal “rohani” dalam kegiatan itu. Misalnya berdoa sebelum makan, belajar, atau bekerja. Ada juga yang mengukur dari sisi standar moral yang dipenuhi, seperti tidak membunuh, tidak merugikan orang lain, tidak mendukung kejahatan lain, melakukan dengan jujur, dan lain-lain. Tentu saja hal-hal ini perlu ada, tetapi sifatnya masih sangat dangkal dan tidak bisa dijadikan patokan bahwa yang kita lakukan sudah Kristen dan diperkenan oleh Allah.

Kekristenan harus utuh dalam hidup seseorang. Cornelius Van Til memberikan sebuah kerangka etika Kristen dalam bukunya “Christian Theistic Ethics”, yaitu segala sesuatu harus dilakukan dengan motivasi, metode, dan tujuan yang benar. Ketiga hal ini tidak boleh dipisahkan atau diabaikan salah satu. Ketika kita melakukannya, kita menjadi tidak utuh dan tidak Kristen lagi. Maka ketika kita belajar, kita perlu sungguh-sungguh mengenal Allah, memerhatikan spiritualitas kita, mengenal apa yang Tuhan inginkan atau panggil melalui pembelajaran kita, mencari dan mengejar apa saja yang perlu dilakukan untuk bisa belajar dengan benar dan sesuai dengan prinsip kebenaran, mencari tujuan dari kegiatan belajar kita dan bagaimana kita memuliakan Allah melaluinya. Belajar bukan hanya sekadar dari tidak tahu menjadi tahu. Belajar juga bukan hanya dapat memahami dan mempraktikkan. Belajar terkait dengan seluruh spiritualitas dan pengenalan kita akan Allah, dunia, dan diri. Prinsip inilah yang harus dipakai untuk melihat ilmu nantinya.

Ketiga, kita selalu hidup di dalam konteks dan panggilan. Tuhan memberikan masing-masing manusia konteks hidup dan panggilan yang berbeda-beda. Orang Kristen tidak hidup dalam biara yang seluruh isinya suci. Kita dipanggil untuk menjadi domba di tengah-tengah serigala. Kita dipanggil untuk menggarami dan menerangi dunia ini. Kita tidak perlu ketakutan menghindari dunia ini dikarenakan dunia ini jahat. Tuhan yang akan berperang di depan kita dan akan menang. Kita hanya orang-orang yang diberi anugerah untuk berbagian di dalam pekerjaan-Nya dan menyaksikan kemuliaan-Nya. Hal ini bukan omong kosong, bahkan dalam dunia pemikiran dan akademis Tuhan telah menyediakan segala sesuatunya bagi kita untuk mempermuliakan Dia.

Jika segala kebenaran adalah berasal dari Allah dan milik Allah, mengapa ada orang yang tidak percaya kepada Tuhan juga bisa mendapatkan kebenaran? Tidak hanya bisa mendapatkan kebenaran, mereka bahkan sering kali lebih baik daripada orang Kristen dalam banyak hal. Banyak sekali ilmuwan yang menemukan dan mengembangkan ilmu pengetahuan tidak percaya kepada Tuhan. Apakah ini berarti setiap orang berpotensi untuk berilmu dalam dirinya tanpa perlu Tuhan? Ataukah pengetahuan tidak ada hubungannya dengan Allah, jadi siapa pun yang bekerja lebih keras untuk mendapatkannya bisa mendapatkannya? Tentu tidak. Tuhan tidak buta dan tidak bodoh. Tuhan tetap mengontrol dan berkuasa atas segala sesuatu, termasuk orang-orang yang tidak percaya kepada-Nya. Ini justru adalah kemurahan hati Tuhan, yaitu memberikan anugerah kepada mereka yang masih menjadi seteru-Nya. Dalam Theologi Reformed, hal ini kita sebut dengan istilah common grace, anugerah yang Tuhan berikan baik kepada orang percaya maupun bukan.

Mengapa Tuhan memberikan common grace? Tuhan memberikannya supaya dunia ini dapat tetap berjalan dan tidak rusak separah-parahnya seperti neraka sebelum waktu-Nya. Bayangkan apa jadinya jika Tuhan menarik anugerah hati nurani dan kemampuan berpikir manusia? Dunia bisa menjadi kacau. Bagaimanakah Tuhan memberikannya? Tuhan memberikannya melalui kebenaran-kebenaran yang dibukakan kepada manusia untuk ditemukan. Tuhan memampukan manusia yang berdosa untuk menemukan kebenaran (walaupun tidak utuh) dan mengembangkannya. Kebenaran inilah yang harusnya kita kejar sebagai orang Kristen dan menginterpretasikannya sesuai dengan yang Allah inginkan.

Ada perbedaan antara kebenaran dan interpretasi atas kebenaran. Sebagai orang Kristen kita harus jeli melihatnya, terutama ketika belajar. Kebenaran tidak mungkin salah karena berasal dari Allah, tetapi interpretasi atas kebenaran tersebut mungkin saja salah karena diinterpretasikan oleh manusia yang dicipta, terbatas, dan berdosa. Maka ketika kita membaca buku teks atau melihat teori-teori dalam ilmu pengetahuan yang ada, belum tentu semuanya benar. Sebagai intelektual Kristen kita dipanggil untuk tidak melanjutkan ketidakbenaran yang ada, melainkan mengoreksi dan memberikan solusi interpretasi yang lebih sesuai dengan kebenaran Allah.

Jadi apakah ada perbedaan antara ilmu yang Kristen dan ilmu yang tidak Kristen? Saya akan menjawab ada dan tidak ada sekaligus. Ketika kita berbicara mengenai ada perbedaan, sering kali kita membayangkan mengenai sebuah ilmu yang teralienasi, yaitu ilmu Kristen yang benar-benar belum pernah ada sebelumnya di dunia ini dan benar-benar berbeda dari ilmu yang sudah ada. Ini tidaklah benar, bukan perbedaan seperti ini yang dimaksud. Ketika membicarakan tentang tidak ada perbedaan, juga bukan sedang berbicara tidak ada perbedaan di seluruh bagian. Mungkin ada bagian yang sama, tetapi ada juga bagian yang berbeda.

Mari kita melihat contoh, misalnya kita berbicara tentang kebenaran matematika sederhana 1+1=2. Kita pasti akan kebingungan melihat apa bedanya 1+1=2 bagi orang yang Kristen dan bagi orang yang tidak. Mengapa? Karena baik orang Kristen maupun tidak, akan menghitung menggunakan standar ini tanpa terkecuali. Jika menghitung di luar standar ini, pasti hasilnya salah. Seakan-akan 1+1=2 sama di mata semua orang. 1+1=2 memang sama di mata semua orang, tetapi perlu ditekankan sebagai apa. 1+1=2 akan sama jika dilihat sebagai output atau hasil akhir kesimpulan dari sebuah kebenaran. Tetapi apakah benar kebenaran telah utuh jika dilihat hanya dari output-nya saja? Seperti prinsip Cornelius Van Til yang dipaparkan di atas, kita harus utuh dan bukan hanya melihat hasil akhirnya saja. Bagaimanakah kita melihat keutuhan dari kebenaran ini?

Cara kita melihat keutuhan dari kebenaran inilah yang akan membedakan kita orang percaya dengan orang yang tidak percaya. Pertama, kita perlu melihat apa yang mendasari kebenaran tersebut. Kenapa bisa ada kebenaran yang berbentuk seperti demikian? Mengapa kebenaran itu bisa kita percaya? Dari manakah asalnya? Dari sini kita bisa melihat bahwa jawaban satu-satunya yang memungkinkan dan kuat hanya bisa diperoleh dari kekristenan. Hanya Allah Tritunggallah yang sanggup menjadi alasan bagi seluruh hal ini. Silakan saja jika orang lain ingin percaya bahwa segala hal itu asalnya dari sebuah kekacauan atau randomness, tetapi dasar tersebut tidak akan konsisten dengan keseluruhan kebenaran tersebut. 1+1=2 mengasumsikan adanya konsep ketunggalan, multiplisitas, dan konsistensi keberadaan. Dari manakah konsep-konsep itu berasal? Jawaban atas hal-hal seperti ini berbeda-beda dan dapat datang dari filsafat dan kepercayaan yang berbeda-beda juga. Inilah yang akan membedakan ilmu orang Kristen dengan yang lainnya. Kita percaya hanya Allah Tritunggal saja yang sanggup menyediakan dasar atas itu semua secara sekaligus dan utuh.

Kedua, kita perlu melihat apa hubungan kebenaran tersebut dengan seluruh kebenaran lainnya. Apakah yang menjadi keistimewaan kebenaran tersebut dan posisinya dalam dunia ini? Prinsip apa yang secara khusus Tuhan bukakan melalui wahyu khusus-Nya mengenai hal ini? Untuk menjawab hal-hal seperti ini kita perlu mempelajari theologi dan ilmu tersebut secara lebih mendalam, karena Tuhan menciptakan dunia ini tidak terpisah-pisah, semuanya saling berhubungan dan saling memengaruhi.

Ketiga, kita perlu juga memerhatikan untuk apa kita mengetahui kebenaran tersebut. Akan kita gunakan untuk apakah sebuah kebenaran ketika kita telah mengetahuinya? Ini adalah bagian etika dari ilmu pengetahuan. Setiap filsafat dan kepercayaan pasti akan berbeda dalam bagian ini karena prinsip yang berbeda-beda yang mendasarinya.

Iman dan ilmu sebenarnya terkait sangat erat jika kita melihatnya dengan utuh. Hanya dengan pengenalan akan Allah yang benar sajalah kita dapat melihat keutuhan ilmu, melihat keindahannya, dan tentu saja melihat kemuliaan Penciptanya yang besar. Mari kita menjadi manusia Kristen yang utuh, mengenal Allah, dan tidak takut lagi menghadapi tantangan dunia yang semakin terlihat menakutkan, khususnya di dalam dunia akademis.

Rolando
Pemuda FIRES

Rolando Kaizer

Mei 2016

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲