Artikel

Amos: Peringatan Tuhan atas Bangsa yang Angkuh

Tahun 1837, di London, Inggris, hari itu matahari sudah tepat di atas kepala. Bel berbunyi, menandakan waktu para pekerja meletakkan peralatan mereka dan pergi untuk beristirahat. Di antara mereka, terlihat muka anak-anak putih kecil yang menghitam akibat batu bara yang mereka masukkan ke dalam tungku. Mungkin Anda akan sulit membedakan mereka dari anak budak-budak Afrika yang ada di kebun-kebun orang kaya. Mereka bergegas berlari ke gubuk kecil tempat mereka mendapatkan semangkuk bubur gandum. Mungkin hari ini airnya lebih sedikit, pikir mereka, sembari menatap mangkuk yang tersaji di hadapan mereka. Dengan cepat, anak-anak itu menghabiskan makanan mereka. Segera setelah makanan di mangkuk habis, mereka bergegas kembali ke tempat kerja. Anak-anak itu sudah kapok dipukuli mandor, hanya karena mereka baru beranjak dari meja makan setelah bel istirahat selesai berbunyi. Anak-anak itu berharap, kelakuan mereka tidak membuat mandor memotong upah, yang hanya sebesar 1-2 Shilling per minggu. Salah satu dari mereka berharap, dalam waktu 3 bulan, ia dapat mengganti sepatunya dengan salah satu yang dipajang di toko seberang pabrik.

Sebelas tahun kemudian, di kota yang sama, Marx baru saja memublikasikan The Communist Manifesto. “Sebuah hantu (roh) sedang menghantui Eropa–hantu (roh) komunisme. Semua kekuatan dari Eropa Tua sudah menggabungkan diri dalam sebuah persekutuan suci untuk mengusir hantu ini.” Kritik pedasnya terhadap sistem ekonomi kapitalis saat itu, yang menurutnya didasarkan pada eksploitasi pekerja tanpa upah, adalah poin utama dari buku tersebut. Ia melihat bahwa sejarah umat manusia diwarnai oleh perjuangan perlawanan kaum proletar (para pekerja) terhadap kaum borjuis (para pemilik modal). Marx mengkritik para borjuis, yang mengeksploitasi para pekerja dan mengumpulkan kekayaan demi kaum mereka sendiri. Secara tidak langsung ia mengkritik konsep pekerja anak-anak, yang pada saat itu hampir tidak diupah sama sekali. Pada akhirnya, menurut Marx, para kaum proletar akan bangkit melalui revolusi, dan menggeser para borjuis.

Kritik yang senada dengan Marx sebenarnya pernah diutarakan sekitar dua ribu tahun sebelum manifesto tersebut terbit. Bedanya, ketimbang datang dari seorang filsuf, teriakan akan ketidakadilan dalam masyarakat saat itu datang dari seorang gembala di kota yang kecil. Dia bukan keturunan nabi, dan sambil menggembalakan ternak, dia memungut buah ara dari hutan (Am. 7:14-15). Dia bukan orang penting pada zamannya. Namun, panggilan Tuhan membangkitkannya untuk menegur bangsa-bangsa yang kejam dan angkuh.

Hukuman atas Bangsa-Bangsa yang Angkuh
Kemarahan Tuhan kepada bangsa Israel bukan tidak beralasan. Amos menulis kitab ini ketika bangsa Israel dan Yehuda dalam keadaan yang tergolong baik. Raja Uzia (Azarya; 2Raj. 15:1-7) dan Raja Yerobeam (Yerobeam II; 2Raj. 14:23-29) memimpin bangsa ini dengan sangat baik. Keadaan politik kedua kerajaan tersebut tergolong aman dan stabil (2Taw. 26:2, 6-15; 2Raj. 14:25). Sayangnya, kedua raja tersebut pernah melakukan kekejian di hadapan Tuhan. Pada masa kejayaannya, Raja Uzia, yang awalnya setia dan melakukan yang baik di mata Tuhan (2Raj. 15:3), berubah menjadi angkuh (2Taw. 26:16-19). Tuhan akhirnya menulahi dia dengan sakit kusta hingga ia mati (2Taw. 26:20-23). Di sisi lain, Yerobeam pun dicatat serupa dengan leluhurnya, Yerobeam I (2Raj. 14:24). Hanya karena belas kasihan Tuhan sajalah (2Raj. 14:26-27), Yerobeam dapat mempertahankan kerajaannya selama 41 tahun (2Raj. 14:23).

Di satu sisi, Tuhan marah kepada kedua raja tersebut. Ia menganggap kekejian Yehuda dan Israel sama seperti kekejian bangsa-bangsa lain yang ada di sekitar mereka. Di sisi lain, ia masih sayang kepada kedua bangsa tersebut–hingga waktu tertentu. Sebelum menyatakan nubuat hukuman atas Yehuda dan Israel, Tuhan menyatakan terlebih dahulu penghukuman kepada bangsa-bangsa tetangga Yehuda dan Israel. Bangsa-bangsa ini–Damsyik (Suriah), Gaza (Filistin), Tirus, Edom, Amon, dan Moab–melakukan perbuatan-perbuatan keji dalam kapasitas masing-masing. Mereka berperang dengan keji (Damsyik, Amon, Moab), membawa bangsa dalam pembuangan (Gaza; Yl. 3:4-6), menjual orang Israel (Tirus), dan mengambil kesempatan dalam kesempitan (Edom). Setiap kali Tuhan menyatakan penghukuman kepada bangsa-bangsa tersebut, Ia selalu menggunakan istilah tiga dan empat, yang bisa diartikan sebagai simbol kegenapan (bd. Ams. 30:15, 18, 21, 29). Ini berarti Tuhan sudah cukup sabar menahan amarah-Nya terhadap bangsa-bangsa ini. Sudah waktunya buah kerusakan mereka dijatuhkan atas mereka sendiri.

Setelah menyatakan hukuman-Nya atas tetangga-tetangga Israel, Tuhan mengalihkan pandangan-Nya kepada Yehuda dan Israel. Ia menganggap kedua bangsa tersebut mirip dengan tetangga-tetangganya (Yer. 9:26). Di satu sisi, Yehuda sudah berpaling setia dan disesatkan oleh berhala (Am. 2:4). Di sisi lain, orang-orang Israel menjual orang miskin dan orang benar (2:5), menindas orang lemah (2:6-8), berzinah (2:7), dan menolak nabi (2:11). Padahal, Tuhan sudah menyertai mereka (2:10). Oleh karena itu, sama seperti Tuhan akan menghukum tetangga mereka, Tuhan akan menjatuhkan hukuman yang serupa atas Yehuda dan Israel.

Setelah membuat Israel, Yehuda, dan tetangga-tetangganya sebagai seteru, Tuhan menyatakan kekecewaan-Nya. Pasal demi pasal dalam Kitab Amos mengungkapkan kekecewaan Tuhan atas bangsa-bangsa ini. Tuhan menyatakan keseriusan-Nya dalam menyatakan penghukuman, melalui perantaraan nabi-Nya (Am. 3:1-9), bagi bangsa yang “tidak tahu berbuat jujur” (3:10), pemeras orang lemah dan orang miskin (4:1). Ia akan mencabut mereka yang tersisa seperti kait dan kail ikan (4:2). Tuhan mengolok-olok persembahan yang mereka lakukan (4:4-5), karena Ia tahu, hati mereka sudah tidak lagi berpaut kepada Tuhan, tetapi kepada kuasa dan keamanan dunia.

Suara dari Mereka yang Tak Bersuara
Salah satu kesalahan besar orang Israel yang dibukakan Amos adalah mereka yang tidak melakukan keadilan Tuhan. Mereka memutarbalikkan keadilan (Am. 5:7), menekan orang miskin (5:11), serta membungkam orang benar dan berakal budi (5:12-13). Meskipun Tuhan sudah pernah menjatuhkan berbagai hukuman yang menghancurkan potensi ekonomi mereka, tidak ada pertobatan yang mereka lakukan (4:6-11). Mereka juga sering mengabaikan berbagai teguran yang sudah mereka terima (5:10).

Harapan satu-satunya yang ada atas Israel hanyalah kembali kepada Tuhan. Korban-korban bakaran, puji-pujian, dan persembahan (5:21-23) sudah tidak membuat Tuhan senang. Hanya dengan mencari Tuhan dan berbalik dari masalah, orang Israel akan hidup (5:4). Keselamatan mereka tidak datang dari Betel, tempat penyembahan berhala yang akan lenyap (5:5). Dengan mencari Tuhan, penguasa alam semesta (5:8), mereka akan mendapat hidup (5:6).

Peringatan Amos, sayangnya, tidak diterima dengan baik oleh Israel. Amazia, imam Israel, menuduh Amos telah merencanakan persekongkolan melawan Yerobeam, dan mengusir dia ke Yudea (Am. 7:10-13). Amos membalasnya dengan menyatakan nasib Amazia di masa mendatang (Am. 7:17). Ia kemudian menutup kitab ini dengan visi penghancuran Israel, yang akan dikerjakan oleh bangsa lain (8-9).

Mayoritas isi dari Kitab Amos berisi kemarahan dan nubuat Tuhan terhadap Israel. Bangsa yang awalnya terpilih, diselamatkan Tuhan dari pembuangan di Mesir, berbalik arah dan menyembah berhala lain. Mereka lupa akan identitas awal mereka sebagai umat pilihan. Selain itu, penyembahan mereka kepada berhala membuat bangsa Israel menjadi angkuh. Mereka merasa aman menindas orang yang lemah dan memutarbalikkan keadilan, hanya demi memuaskan nafsu mereka belaka. Di dalam kekacauan bangsa ini, Tuhan memanggil Amos sebagai suara kecil yang berteriak menegur kebobrokan bangsa.

Peringatan bagi Zaman Kini
Seperti yang dijabarkan pada bagian awal tulisan ini, kemajuan peradaban membawa dampak baik dan buruk. Dalam zaman Revolusi Industri abad ke-19, atau yang juga dikenal sebagai Industry 1.0, keberadaan mesin membuat makin banyak orang kaya. Kaum yang disebut sebagai middle class bertambah seiring beralihnya orang-orang dari masyarakat agraris menjadi masyarakat industri. Sayangnya, industri yang tergolong baru ini cenderung mengesampingkan orang-orang yang tidak punya kuasa atas kapital–anak-anak, kaum papa, mereka yang tidak sekolah, dan mereka yang lemah fisik. Di tengah masyarakat yang terpisah ini, muncullah Marx yang memimpikan masyarakat “ideal”, yang dapat mengangkat kaum yang diperas.

Perlu digarisbawahi bahwa motivasi Amos sama sekali berbeda dengan Marx. Dari Kitab Amos, dapat disimpulkan bahwa Amos tidak punya motivasi apa pun selain menyenangkan Tuhan. Pembebasan manusia, dalam konsep Amos, datang dari pertobatan kepada Tuhan. Di sisi lain, Marx, yang sangat terinspirasi oleh Hegel, melihat bahwa pembebasan datang dari perjuangan kaum proletar yang melawan eksploitasi dari kaum borjuis. Keselamatan bagi umat manusia, menurut Marx, datang ketika kaum proletar (para pekerja) menjadi penguasa atas kapital, yang sebelumnya dikuasai oleh kaum borjuis.

Sayangnya, konsep yang dibawa Marx tidak sesuai dengan keadaan dunia. Kita sudah melihat kegagalan “eksperimen Marx” pada abad ke-20, melalui kehancuran negara-negara komunis, atau berubahnya negara tersebut menjadi negara kapitalis. Hingga saat ini, kita tidak bisa lepas dari scarcity, atau keterbatasan dari sumber daya yang tersedia untuk produksi. Konsep yang dibawa Marx hanya bisa diterapkan jika masyarakat sudah pindah kepada ekonomi post-scarcity. Semua sumber daya tersedia dengan murah. Hal itu hanya pernah terjadi dalam romantisisme fiksi ilmiah, yang mencita-citakan manusia sebagai penguasa banyak planet. Dalam dunia yang sudah jatuh dalam dosa, dengan angkatan yang bengkok, dan hari-hari yang makin jahat ini, sulit untuk membayangkan realisasi konsep Marx. Idealisme yang menyatakan bahwa manusia dapat menyelamatkan dirinya sendiri perlu kita tolak, karena semua orang telah berdosa dan kehilangan kemuliaan Allah. Kita berdosa kepada Allah, keselamatan harus punya kekuatan melepaskan kita dari murka Allah, bukan hanya sekadar masalah sosial belaka.

Hendaknya kita sebagai pemuda Kristen sadar, di tengah-tengah gonjang-ganjing dan segala perubahan yang terjadi di dunia, kita harus kritis dan peka terhadap sistem dan arus baru yang akan menggantikan arus yang lama. Tidak ada yang baru di bawah matahari, kata penulis Kitab Pengkhotbah. Jangan pernah menanggap semua sistem buatan manusia itu sempurna. Setelah krisis ekonomi 2008, masyarakat dunia–khususnya di Eropa–mulai kembali melihat tawaran Marx, yang menurut mereka bisa menjadi pembebas mereka dari kerusakan sistem yang selama ini menguasai mereka.

Oleh karena itu, teruslah berpaut kepada Tuhan, carilah Kerajaan-Nya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepada kita. Jangan menyia-nyiakan segala berkat–waktu, tenaga, dan kesehatan–yang Tuhan sudah berikan. Jangan sampai kita mengulang kesalahan yang dibuat oleh pendahulu kita, yang sudah dicatat sejarah untuk dipelajari. Kita perlu kembali menyadari bahwa sebagai umat Allah, kita memiliki tanggung jawab bukan hanya di kehidupan personal saja, tetapi juga kehidupan yang menjadi berkat bagi sekitar kita. Dengan kata lain, keberadaan kita seharusnya dapat memberikan dampak bagi lingkungan di sekitar kita. Hal ini menjadi sebuah konsekuensi logis dari keberadaan kita sebagai umat tebusan Allah yang dipanggil bukan hanya untuk hidup kudus, tetapi juga berfungsi sebagai garam dan terang dunia. Kita seharusnya hidup menggarami dunia ini sehingga proses pembusukan karena dosa dapat diperlambat. Kita juga seharusnya menjadi pemancar terang dari Allah yang menerangi kegelapan dunia. Penghukuman Tuhan atas bangsa Israel di dalam konteks Kitab Amos adalah karena mereka gagal menjalankan fungsi mereka sebagai umat Allah. Seharusnya mereka dapat hidup menjadi contoh bagi bangsa-bangsa lain di dalam menunjukkan sifat-sifat Allah. Namun, ironisnya bangsa Israel malah hidup bertolak belakang dengan yang Tuhan kehendaki. Mereka justru menjadi bangsa yang berbuat ketidakadilan bahkan terhadap sesama mereka. Terlebih lagi, mereka menjadi bangsa yang justru berkhianat dari Allah dengan menyembah berhala kendati hidup mereka sedang begitu diberkati Tuhan. Fakta ini sering kali berulang di dalam sejarah kekristenan. Pada Abad Pertengahan, kita dapat melihat satu masa “Dark Ages” di mana kekristenan terbuai di dalam kenyamanannya sebagai kaum mayoritas. Tetapi di dalam kondisi yang nyaman tersebut, justru kehidupan mereka makin jauh dari Allah, bahkan mereka mengembangkan praktik-praktik keagamaan yang begitu melenceng dari ajaran Alkitab. Akibatnya, kekristenan pada masa itu menjadi kekristenan yang tidak lagi dapat mempertahankan kemurnian iman mereka, dan justru menjadi kelompok yang begitu bobrok di dalam iman dan moralnya. Mereka tidak lagi dapat menjadi garam dan terang bagi dunia ini. Banyak sekali kisah di dalam sejarah kekristenan yang dapat kita pelajari berkaitan dengan hal ini.

Oleh karena itu, sebagai pemuda Kristen, kita perlu dengan baik-baik menyadari panggilan dan identitas kita sebagai umat Allah. Kita tidak dapat menjadi seorang Kristen yang “autistik” dan egois. Kita perlu menjalankan panggilan kita secara utuh bukan hanya di dalam kekudusan, tetapi juga di dalam memengaruhi dunia dengan kebenaran Allah yang harus kita nyatakan dengan keberanian, kesetiaan, dan kebijaksanaan. Kiranya Tuhan menolong kita untuk mau menggumulkan identitas kita sebagai umat Allah dan panggilan yang seharusnya kita jalankan di dalam hidup ini.

Alvin Natawiguna
Pemuda GRII Kebon Jeruk

Referensi:
1. Matthew Henry’s Commentary of the Whole Bible.
2. The Big Question: What inspired Marx?

Alvin Natawiguna

Maret 2019

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pimpinan Tuhan selama 30 tahun bagi GRII.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
@David Chandra : kan kita sama2 mengerti bagaimana Tuhan memulihkan Gereja-Nya dari reformasi melalui Martin Luther...

Selengkapnya...

Apa indikator bahwa gerakan Pentakosta Kharismatik dapat disebut sebagai gerakan pemulihan berikutnya?

Selengkapnya...

Saya diberkati oleh tulisan ini. Tapi pada akhir-akhir tulisan ada bbrp hal yang mengganggu saya, kenapa tulisan2...

Selengkapnya...

Terimakasih atas renungannya sangata memberkati

Selengkapnya...

Terima kasih..sangat memberkati!

Selengkapnya...

© 2010, 2019 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲