Artikel

Antara Beranak Cucu dan Mengatur Jumlah Anak

Manusia diperintahkan untuk “beranak cucu dan bertambah banyak sampai memenuhi bumi” di dalam Kejadian 1:28. Perintah ini tidak hanya ditujukan kepada orang Kristen saja, tetapi juga untuk non-Kristen, karena perintah ini diberikan baik sebelum kejatuhan manusia ke dalam dosa (Kej. 1) dan juga setelah peristiwa air bah (Kej. 9); yaitu setelah manusia jatuh ke dalam dosa. Berdasarkan alasan ini, mandat prokreasi haruslah dilakukan sesuai dengan kehendak dan pimpinan Tuhan karena mandat prokreasi adalah mandat yang berasal dari Tuhan kepada seluruh umat manusia.[1] Lalu bagaimanakah dengan Kontrol Kelahiran melalui Program Keluarga Berencana (KB)? Apakah pandangan Alkitab berkaitan dengan hal ini?

Keluarga Berencana (KB)
Sekilas tentang Keluarga Berencana (KB), KB adalah suatu usaha untuk mengontrol jumlah dan jarak antara kelahiran anak dalam rangka mengontrol jumlah penduduk suatu negara ataupun dunia. Metode atau alat yang sering dipakai dalam KB disebut alat kontrasepsi. Alat kontrasepsi ini bertujuan untuk menghindari kehamilan yang bersifat sementara. Ada beberapa metode kontrasepsi yang umum dipakai, seperti oral kontrasepsi atau yang dikenal sebagai pil KB, KB suntik, Intra Uterina Device (IUD) atau dikenal dengan istilah AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim) yang oleh orang awam dikenal dengan istilah spiral karena alat yang dipakai berbentuk spiral. Selain itu juga dikenal metode-metode lain seperti kondom, spermisida, dan diafragma. Lalu, masih ada yang disebut sebagai kontrasepsi mantap. Metode ini menghindari kehamilan secara permanen. Metode ini sering juga disebut sebagai sterilisasi, yaitu di mana suatu tindakan kontrasepsi dengan mengikat saluran indung telur pada perempuan atau memotong saluran sperma pada pria.

Keluarga Berencana dalam Alkitab
Apakah yang diajarkan Alkitab tentang Keluarga Berencana? Tidak ada satu ayat pun di dalam Alkitab yang menuliskan tentang Keluarga Berencana atau hal-hal yang terkait dengan pengendalian kelahiran. Lalu bagaimanakah kita sebagai orang Kristen menyikapi Keluarga Berencana?

Ada tiga pertanyaan yang perlu digumulkan sebagai orang Kristen di dalam merespons Keluarga Berencana.[2]
Apakah Keluarga Berencana konsisten dengan kebenaran bahwa anak-anak adalah pemberian Allah?
Tidakkah sebaiknya kita membiarkan Allah menentukan jumlah keluarga kita?
Apakah perencanaan keluarga secara natural lebih baik daripada kontrasepsi yang artifisial?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, mari kita coba melihatnya satu per satu.

Anak-anak adalah pemberian Allah?
Sebagai orang Kristen, kita pasti setuju bahwa “anak-anak adalah pemberian Allah”. Dengan pemahaman ini, ada yang berpendapat bahwa seharusnya kita tidak perlu mengatur waktunya Tuhan kapan Dia memberikan anak kepada kita dan jumlah anak yang kita miliki. Benarkah demikian? Bukankah pemikiran ini sama saja dengan pemikiran yang mengatakan bahwa istri adalah pemberian dari Allah (Ams. 18:22), maka oleh karena itu kita tidak perlu berbijaksana di dalam mencari pasangan kita, biarkan Tuhan yang menentukan dan memimpin. Implikasi dari pemikiran tersebut adalah tidak salah jika seseorang memutuskan untuk melajang (1Kor. 7:8) karena menganggap belum waktunya Tuhan ia mendapatkan istri. Di sisi lain, kita juga tidak bisa melakukan perintah Tuhan dengan semena-mena, seakan-akan perintah Tuhan itu bersifat statis, hanya seperti saklar yang menyalakan atau mematikan lampu. Kita harus melihat perintah Tuhan dalam firman-Nya sejalan dengan pimpinan Roh Kudus pada saat itu dalam konteks yang Tuhan berikan kepada kita saat itu. Jadi, perintah Tuhan tidak diberikan begitu saja, lalu kita boleh menjalankan dalam kadar yang kita tetapkan, melainkan dalam kadar pimpinan Tuhan. Dalam konteks prokreasi, demi membangun Kerajaan Allah bila kita dipimpin tidak harus menikah, maka kita tidak menikah. Atau jika kita harus menikah, janganlah menahan diri dari pimpinan Tuhan. Selanjutnya, demikian halnya dalam hal mengatur jumlah anggota keluarga dan kapan untuk menambah anak dalam keluarga kita. Hidup ini tidaklah pernah boleh lepas dari pimpinan Roh Kudus dalam setiap aspek hidup kita. Manusia tidak pernah diberikan hak otonom yang mengatasnamakan kebijaksanaan dalam mengatur seinci dari hidupnya. Mari kita tidak meng-abuse perintah prokreasi untuk memuaskan ambisi keberdosaan kita agar mendapatkan anak sebanyak-banyaknya atau menahan jumlah anak sesedikit mungkin agar hidup kita tidak repot adanya. Panggilan hidup kita sebenarnya sangat sederhana: taat kepada perintah Tuhan dalam firman-Nya dengan pimpinan Roh Kudus yang dinamis setiap saat. Jadi, KB hanyalah bagian dari anugerah Tuhan yang diberikan bagi kita untuk menyinkronkan hidup ini dengan kehendak Tuhan dalam konteks membangun keluarga kita dalam keluarga Kerajaan Allah.

Biarkan Allah menentukan jumlah keluarga kita!
Jika dengan kita percaya kepada Tuhan, kita tidak perlu mengatur kelahiran anak atau KB, kita sedang “membiarkan semua itu berjalan secara natural” karena natural itulah kehendak Allah. Ini adalah pemahaman yang salah. Allah tetap mengontrol seluruh kehidupan dan perencanaan kita baik kita menggunakan KB ataupun tidak. Sadarlah bahwa tangan Allah yang Mahakuasa tidak diikat oleh KB yang kita gunakan. Sebuah pasangan pasti akan memperoleh anak sesuai waktunya Tuhan, apakah itu dengan menggunakan KB atau tidak, termasuk juga Allah secara ultimat mengontrol jumlah anak dari sebuah keluarga.

Sama seperti dengan pemikiran “kita jangan memotong rambut kita, biarkan Allah yang memutuskan berapa panjang rambut kita” atau “tidak perlu bekerja dan cukup menunggu Tuhan menyediakan makanan bagi kita yang akan jatuh dari langit”, jika kita berpendapat hidup ini harus berada di dalam kepasifan belaka. Jadi, di manakah sinkronisasi antara kedaulatan Allah dan KB? Justru melalui pergumulan kita dalam menjalankan KB, kita diajarkan mengenal kehendak-Nya dalam kedaulatan-Nya. Seluruh kemampuan yang Tuhan berikan bagi kita adalah untuk dipakai mengejar pengenalan akan Tuhan, kehendak-Nya, dan penggenapan kehendak-Nya. Melalui pengejaran inilah kita berelasi dengan Dia Sang Pencipta kita.

Apakah Keluarga Berencana mengekspresikan kurangnya iman kepada Allah?
Pada konteks dunia berdosa zaman sekarang ini, tanpa mengatur jumlah keluarga, banyak pasangan akan memiliki “lebih banyak” anak daripada yang mereka dapat pertanggungjawabkan secara finansial pada akhirnya. Ada yang beranggapan bahwa kita harus memiliki iman sederhana bahwa Allah akan menyediakan semuanya untuk kebutuhan hidup. Allah tidak menyediakan kebutuhan hidup dengan menjatuhkannya dari langit. Tetapi apakah benar juga, jika alasan finansial merupakan faktor penentu dalam penentuan jumlah anak? Tentu saja isu finansial adalah isu yang relevan untuk dipertimbangkan. Jadi, etika Kristen tidak membutakan kita dengan iman yang bodoh, tetapi juga tidak memberikan kita rumusan bagaikan rumusan matematika yang tinggal dimasukkan nilai-nilai variabel yang ada, kemudian akan keluar hasilnya yang pasti. Etika Kristen berbicara tentang iman yang sederhana kepada firman Tuhan melalui pergumulan yang real dalam berelasi dengan Allah Pencipta kita yang berkehendak dalam seluruh detail hidup kita. Allah kita adalah Allah yang hidup, Allah yang berelasi dengan umat-Nya, Allah yang hadir dalam setiap langkah umat-Nya yang mengasihi Dia.

Bolehkah merencanakan KB dengan memakai kontrasepsi artifisial?
Ada yang beranggapan “KB secara natural” lebih dapat diterima daripada yang “artifisial”. Benarkah demikian? Bila KB secara natural digunakan untuk mengatur jumlah anak dan kapan waktunya, maka pada prinsip dasarnya tentu tidak ada beda dengan pemakaian kontrasepsi secara artifisial. Jika KB dilakukan, baik dengan KB natural maupun artifisial, sebagai ekspresi otonomi manusia berdosa dalam menentukan hidupnya, kedua bentuk KB tidaklah ada bedanya. Lalu di manakah perbedaan KB natural dan artifisial? Tentu saja ini bukan karena Allah “lebih bebas” dalam mengatur seluruh rencana kita bila kita lakukan secara natural. Jadi, di manakah letak permasalahannya?

Metode-metode KB
Pada dasarnya metode KB dibagi menjadi 2 kelompok besar yaitu yang mencegah konsepsi (pertemuan sel telur dan sperma) dan yang mencegah implantasi sel telur yang telah dibuahi ke dalam uterus (ini bersifat abortifacient). Sebelum kita lebih lanjut membahas tentang KB, kita perlu mengerti definisi hidup seorang manusia. Reformed memegang prinsip kehidupan individu dimulai sejak konsepsi (pertemuan sperma dan ovum) seperti yang bisa kita baca di dalam Kejadian 4:1; Mazmur 51:5, Mat 1:20, dan lain-lain. Oleh karena itu metode KB yang bersifat abortifacient tidaklah diizinkan, karena konsepsi telah terjadi sebelumnya, artinya kita membunuh seorang manusia dengan sengaja. Contoh metode yang bersifat abortifacient adalah Intrauterine Device (IUD) atau yang dikenal dengan KB Spiral, “mini pil” (yang hanya berisi progestin), dan obat suntik subkutaneus yang berisi estrogen dan progestin, serta pil “morning after” (yang mengandung dosis tinggi estrogen atau progestin).[3] Semua jenis KB ini tidaklah dapat dipertanggungjawabkan dari sisi iman Kristen, karena alasan yang sama, yakni pembunuhan manusia.

Koitus interuptus[4] adalah bentuk kontrasepsi paling tua. Koitus interuptus sering diharamkan oleh sebagian orang Kristen dengan mengacu kepada kasus Onan di PL. Hukuman terhadap Onan adalah karena kegagalannya memenuhi kewajibannya, bukan karena tindakan koitus interuptus itu sendiri (Kej. 38:8-9). Pada dasarnya koitus interuptus secara moral bisa diterima, tetapi secara praktikal ini memerlukan pendisiplinan yang tinggi pada pihak suami.

Metode alat KB lain yang secara moral bisa diterima adalah penggunaan kondom, diafragma, cervical caps, dan spermisida (berupa foam atau jeli) yang biasanya digunakan dengan beberapa kombinasi. Namun di dalam praktiknya kegagalannya cukup tinggi. Kemampuan alat-alat ini terbatas untuk mencegah kehamilan. Menyusui bayi adalah mekanisme yang dapat mencegah ovulasi (sel telur yang matang dilepaskan). Ini dapat menurunkan insiden kehamilan pada ibu-ibu yang aktif menyusui bayinya.

Metode kontrasepsi yang paling efektif dan paling kontrovesial di antara kekristenan adalah pil KB (oral kontrasepsi). Umumnya, mereka mengandung estrogen dan progestin. Metode utama dari cara ini adalah untuk mencegah. Tetapi pada prosesnya, metode ini menggabungkan kedua metode KB, mencegah sperma bergerak masuk ke ovum dan membuat kondisi uterus sedemikian rupa sehingga mencegah terjadinya implantasi (jika ovulasi dan fertilisasi terjadi). Jadi, walaupun metode ini tidak secara khusus mencegah implantasi, tetapi metode ini membuka kemungkinan melakukan pembunuhan manusia ketika terjadinya kegagalan dalam pencegahan konsepsi.

Hal ini bisa terlihat di mana jutaan perempuan yang menggunakan pil mengalami potensi aborsi (tidak terjadi implantasi). Sebagai contoh, jika 1 dari 1.000 siklus terjadi konsepsi. Dari 10 juta perempuan yang memakai metode KB ini, akan terdapat 130 juta siklus (28 hari) setiap tahunnya, maka setiap tahunnya akan ada minimal 130.000 aborsi yang juga berarti pembunuhan manusia secara sengaja.

Selain itu, masih ada metode kontrasepsi yang dikenal dengan KB mantap (seperti yang sudah dijelaskan di atas; yaitu sterilisasi) adalah dengan melakukan pembedahan. Pada perempuan disebut ligasi tuba, pada laki-laki disebut vasektomi.

Akhir kata, pertanyaan tentang KB sebenarnya tidak dimulai dari metode mana yang boleh atau mana yang tidak boleh, walaupun ada metode yang jelas-jelas tidak diperbolehkan karena terjadi pembunuhan manusia. Pertanyaan KB dimulai dari pergumulan kehendak Tuhan atas hidup kita yang sudah Tuhan berikan dan sudah Tuhan tentukan tujuannya dalam pembangunan Kerajaan Allah, bukan dimulai dari pertanyaan apa yang kita inginkan atas hidup kita. Kiranya Tuhan menolong kita hidup taat di hadapan-Nya dan bukan menjadi pelawan kehendak-Nya di dunia ini. Selamat menggumulkan!

dr. Diana Samara
Pembina FIRES

Endnotes:
[1] Franklin. E. Payne, Jr. Birth Control. Journal of Biblical Ethics in Medicine – Vol. 6, No. 2.
[2] Matt Perman. Does the Bible permit birth control? Available at Desiring God.htm.
[3] Franklin. E. Payne, Jr. Birth Control. Journal of Biblical Ethics in Medicine – Vol. 6, No. 2.
[4] Koitus Interuptus (metode withdrawal/senggama terputus) adalah suatu metode kontrasepsi di mana senggama diakhiri sebelum terjadi ejakulasi intra vaginal. Ejakulasi terjadi jauh dari genetalia eksterna si istri.

Diana Samara

Juni 2015

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk Gerakan Reformed Injili dalam menjalankan mandat Injil melalui pemberitaan Injil baik secara pribadi, berkelompok, maupun massal.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Contoh lain bhw di dlm Alkitab terdapat konsep seseorang dpt memperoleh pengurangan atau pembebasan hukuman sbg...

Selengkapnya...

Akan tetapi, seseorang tidak perlu bergantung pada dirinya saja untuk melunasi utang tersebut. Kekristenan pada zaman...

Selengkapnya...

Gereja Roma Katolik pada zaman itu memercayai dua hal yang fundamental berkaitan hal ini. Pertama, bahwa manusia...

Selengkapnya...

Halo Jones, Saya sendiri juga melayani dalam wadah sekolah minggu (SD). Tanggapan singkat saja dari saya. Untuk...

Selengkapnya...

Bagaimana caranya kita menerapkan pemahaman alkitab terhadap anak anak seperti saudara kita yang belajar di mda misalnya

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲