Artikel

Athanasius: Melawan Dunia bagi Dunia

Sejarah Gereja mengungkapkan kepada kita bahwa dalam setiap masa dan zaman, (selalu) bermunculan bidat demi bidat, yang jika kita perhatikan, penyebab utamanya adalah adanya oknum tokoh Gereja yang lebih menitikberatkan atau mementingkan suatu pengajaran (baca: doktrin) melampaui doktrin lain, mengabaikan keharmonisan dan integrasi suatu doktrin dengan doktrin lain. Salah satu contoh, Marcionisme (abad 2-7 m) — yang didirikan oleh Marcion — yang mengatakan bahwa Allah Perjanjian Lama lebih rendah daripada Allah Perjanjian Baru karena Perjanjian Lama tidak selaras dengan ajaran Kristus. Allah Perjanjian Lama hanyalah demiurge[1] sedangkan Allah Perjanjian Barulah Allah yang sejati, yang tertinggi. Beberapa pemikiran dari paham ini — seperti pengontrasan yang berlebihan antara hukum (Taurat) dan Injil — masih “terwariskan” sampai hari ini.[2] Kita dapat menemukan sebagian orang Kristen zaman ini yang memisahkan secara ekstrem Taurat dan Injil lebih dari apa yang Paulus sendiri ajarkan.

Sejak Perjanjian Baru dan zaman Gereja mula-mula yang mengungkapkan kesaksian-kesaksian tentang siapakah Yesus Kristus, dilanjutkan oleh Bapa-bapa Gereja, semuanya secara terus-menerus menyatakan bahwa Yesus Kristus adalah (seutuhnya) Allah yang sekaligus (seutuhnya) manusia. Dan bahwa inkarnasi tidak mengurangi keilahian-Nya sebagai Anak Allah ataupun menjadikan-Nya sebagai manusia super (superman). Sebagai contoh, Justin Martyr, apologet Kristen abad ke-2 yang menegaskan diperanakkannya Kristus oleh Bapa dan inkarnasi-Nya menjadi manusia melalui (seorang) perawan.[3] Juga Melito dari Sardis yang menegaskan keilahian sekaligus kemanusiaan Kristus dengan mengungkapkan fakta-fakta tentang Kristus secara paradoksikal (di antaranya, hamba sekaligus Anak, berada di rahim Maria sekaligus senatur dengan Bapa, berada di bumi sekaligus di sorga, bertubuh jasmani sekaligus tak terbatas keilahian-Nya, sebagai manusia yang membutuhkan makanan sekaligus Allah yang memelihara seluruh alam semesta).[4] Ironisnya, bidat-bidat awal muncul menyerang ajaran sehat (ortodoks) sejak Gereja mula-mula, khususnya dalam Kristologi, padahal Bapa-bapa Gereja pun percaya bahwa kesatuan keilahian dan kemanusiaan Yesus Kristus adalah prasyarat mutlak dan hal yang penting untuk menggenapi keselamatan umat manusia. Ada yang menyangkal kemanusiaan seutuhnya Yesus karena mereka percaya bahwa Yesus adalah roh adanya dan Ia hanya tampak/kelihatan seperti manusia saja (bidat ini dikenal sebagai Docetisme).[5] Di sisi lain, ada juga bidat yang mengajarkan sebaliknya, yaitu menyangkal inkarnasi Allah menjadi manusia. Bagi mereka, Yesus hanyalah seorang manusia biasa yang di dalam diri-Nya hadirat dan kuasa Allah berkarya dengan begitu hebatnya (dikenal sebagai Ebionisme).[6]

Kemudian ada bidat yang menerima keilahian dan kemanusiaan Kristus, namun menganggap bahwa keilahian-Nya itu tidaklah penuh/utuh, yaitu Arianisme. Bidat ini didirikan oleh Arius, yang percaya bahwa Allah itu satu adanya dan hanya satu, tidak pernah keberadaan-Nya berbagian/terbagi dengan (pribadi) yang lain. Namun Allah yang kekal dan tak-memperanakkan ini menciptakan seorang Anak. Maka Sang Anak adalah yang diciptakan. Arius memaparkan bahwa “Allah telah memperanakkan satu-satunya Anak yang diperanakkan sebelum masa kekekalan…. Ia menjadikan-Nya ada berdasarkan kehendak-Nya sendiri, tak dapat berubah dan berganti. Ia adalah ciptaan Allah yang sempurna, namun tidak seperti ciptaan yang lain; Ia adalah keturunan yang sempurna, namun tidak seperti yang diperanakkan yang lain…. Seturut kehendak Allah, Ia diciptakan sebelum segala masa dan zaman, dan mendapatkan hidup dan keberadaan-Nya dari Sang Bapa.”[7] Meskipun Arius menegaskan keunikan Yesus Kristus sebagai Anak, namun ia menyatakan bahwa Anak adalah yang diciptakan. Dengan demikian, ada suatu masa ketika Anak tidak (baca: belum) ada, “… being created and founded before ages, did not exist before his generation,”[8] ungkapnya. Oleh sebab itu bagi Arius, Anak adalah (Pribadi yang) tidak kekal, tidak saling-kekal (co-eternal), atau tidak saling-tak-bermuasal (co-unoriginate) dengan Bapa[9] dan Anak memiliki natur (baca: substansi) yang berbeda dengan Bapa. Implikasi ini sesuai dengan keyakinannya bahwa Allah adalah hanya satu adanya dan tak-berbagi. Dan sebagaimana bidat-bidat lain, ia pun mencari dasar “alkitabiah” untuk mendukung keyakinannya ini, di antaranya dari Yohanes 14:28 (“… for the Father is greater than I”) dan Kolose 1:15 (“the firstborn of all creation”).[10]
Pandangan Arius tersebut membuat Kaisar Constantine I khawatir, karena isu theologis seperti ini dapat berisiko memecah belah kekaisarannya. Maka pada tahun 325 ia menginisiasikan pelaksanaan konsili (yang dikenal sebagai Konsili Nicea I) yang dihadiri oleh para uskup yang diutus dari gereja-gereja yang berada di wilayah kekuasaan Romawi, di mana agenda utamanya adalah membahas dan memutuskan untuk mencapai konsensus dalam masalah natur (yaitu substansi) Anak dan relasi-Nya dengan Allah Bapa, yang pada dasarnya merupakan isu tentang (Allah) Tritunggal. Dalam konsili ini dihadiri oleh tiga macam kelompok peserta, yaitu pihak pro-Arian, pihak anti-Arian (kedua belah pihak ini masing-masing sedikit jumlahnya), dan sebagian besar peserta yang tidak berpihak. Akhirnya, konsili ini mengakui bahwa keilahian Anak adalah penuh dan utuh, sekaligus juga memutuskan untuk mengutuk beberapa hal yang dipercaya oleh kaum Arianisme sebagai bidat. Dan hasil dari konsili ini diformulasikan dalam bentuk Pengakuan Iman (Kredo) Nicea (The Creed of Nicea). Sebagian besar dari para peserta bersedia menandatangani kredo ini. Di antara lebih dari 300 peserta, hanya dua orang saja yang menolak untuk menandatanganinya. Maka, Arius diasingkan dengan peringatan agar menghentikan ajaran dan pandangannya yang sesat tersebut. Dengan demikian, Gereja dapat berjalan dengan doktrin yang teguh tentang keilahian yang sejati dari Anak Allah.[11] Patut kita camkan bahwa Konsili Nicea tidak menciptakan doktrin keilahian Kristus — seperti yang diduga oleh sebagian kalangan, termasuk kaum Arianis — namun menegaskan kembali apa yang telah dipercayai dan dipegang oleh umat Tuhan sebagai warisan Gereja sejak para rasul Perjanjian Baru.[12]

Dalam hal ini, salah satu dari Bapa-bapa Gereja, yaitu Athanasius dari Alexandria berjuang dengan gigih mempertahankan doktrin yang sehat melawan ajaran yang coba menyangkal dan menggugurkannya. Ia lebih dikenal sebagai Athanasius yang kadang kala dijuluki sebagai St. Athanasius the Great. Lahir di Alexandria, Mesir, menjelang pergantian abad ketiga menuju abad keempat, sekitar tahun 295.[13] Menjabat sebagai seorang Uskup Alexandria yang ke-20 (pada abad ke-4) selama 45 tahun, namun sepertiga masa jabatannya ia mengalami pembuangan yang diperintahkan oleh beberapa kaisar Romawi karena perjuangannya mempertahankan ajaran dan iman yang ortodoks[14] yang telah diwariskan sejak para rasul.[15] Ia adalah seorang theolog terkenal sekaligus apologet yang mempertahankan doktrin Tritunggal dan inkarnasi Firman menjadi manusia melawan Arianisme. Apologianya yang begitu sengit dan respected, baik oleh kawan maupun lawan, membuatnya dijuluki “Athanasius melawan dunia bagi dunia” (Lat. Athanasius contra mundum).

Athanasius menentang bidat ini dengan begitu gigih, sehingga dapat dikatakan bahwa sebagian besar masa pelayanannya dihabiskan untuk mempertahankan dan membela Kristologi ortodoks melawan Arianisme, terutama mengenai kesetaraan Anak dan Bapa, serta inkarnasi Anak menjadi manusia. Kegigihan dan sikapnya yang tidak mau berkompromi terhadap segala ajaran yang mendukung Arianisme — termasuk jika harus “melawan” para kaisar Romawi pada saat itu — membuatnya dijuluki sebagai “santo yang keras kepala”. Perjuangannya begitu berat, pada saat ia mulai menjabat sebagai Uskup Alexandria, pada saat yang sama Constantine mulai berganti haluan mendukung Arius. Hal ini disebabkan sang kaisar mengalami tekanan para uskup yang diam-diam bersimpati pada Arius. Constantine memulihkan kembali Arius ke dalam jabatannya sebagai imam (presbyter) di Alexandria serta memerintahkan Athanasius untuk menerimanya kembali. Athanasius menolaknya kecuali Arius mengiyakan satu kata — yaitu homoousios[16]— sebagai pernyataan relasi antara Bapa dan Anak. Karena Arius menolak maka Athanasius pun menolaknya serta mengabaikan perintah dan ancaman kaisar. Singkatnya, Athanasius pun dilucuti dari jabatannya dan dibuang ke kota paling Barat dari Kekaisaran Romawi, yaitu Trier, Jerman. Kisah ini tidak berhenti di sini. Selanjutnya dapat dilihat bahwa pengganti Constantine — yaitu anaknya, Constantius — yang pada awalnya memulangkan dan memulihkan Athanasius kembali sebagai Uskup Alexandria, di kemudian hari relasi mereka menjadi buruk. Sang kaisar baru yang menginginkan perdamaian dan keseragaman dalam agama (yaitu gereja) dan di bawah paksaan ayahnya, mengganti kata homoousios dalam Kredo Nicea menjadi homoiousios yang artinya “substansi yang mirip” (“of a similar substance”) yang waktu itu diterima baik termasuk oleh banyak dari kalangan yang memegang (doktrin) Tritunggal. Dalam hal ini, Athanasius menolak keras dan menggolongkan mereka (juga) sebagai bidat dan menyejajarkan mereka sebagai antikristus.[17] Polemik dan perseteruan yang rumit di antara mereka terus berlangsung episode demi episode. Kemungkinan dalam pembuangannya ke Trier, Athanasius menulis On the Incarnation of the Word, yang kemudian menjadi karya klasik Kristen yang agung yang ditulisnya sebagai Bapa Gereja abad permulaan, yang berisi apologianya dalam Kristologi, yang mengungkapkan signifikansi inkarnasi Allah menjadi manusia demi keselamatan manusia dan menekankan[18] keilahian Yesus Kristus. Bukunya ini mengungkapkan pula refleksi secara eksegesis nas-nas Alkitab yang berkaitan dengan Kristus dan keilahian-Nya, serta relasi antar-Pribadi Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Tujuannya jelas, yaitu mencelikkan (dan menegaskan) bahwa Anak adalah diperanakkan, bukan diciptakan. Tulisannya yang lain, yang juga merupakan karya klasik Kristen yang agung, sekaligus lebih direct menghadapi Arianisme adalah Against the Arians, yang merupakan karya polemisnya melawan kaum Arian sekaligus semi-Arian.[19] Athanasius meninggal di Alexandria pada tahun 373, di mana tujuh tahun terakhir masa hidupnya ia jalani dengan damai dan tenang. Meskipun Valens, kaisar Romawi saat itu, adalah pendukung penuh Arianisme dan pernah membuangnya sekali, namun kemudian mengizinkannya untuk pulang. Setelah akhir hidupnya — di mana dia tidak pernah mengenyam buah perjuangannya selama hidupnya — kaisar yang baru, Theodosius,[20] menjadi seorang pendukung penuh iman ortodoks dan trinitarian yang diperjuangkan (dan dimenangkan) oleh Athanasius dan sahabat-sahabatnya. Theodosius memerintahkan dilaksanakannya Konsili kedua di Constantinople (yaitu Konsili Contantinople), dengan agenda dan tujuan untuk menegaskan kembali Kredo Nicea, di mana pada akhirnya ditetapkan sebagai pengakuan iman universal bagi seluruh umat Kristen.[21]

Dari sekelumit kisah Athanasius dan perjuangannya membela iman di atas, paling tidak kita dapat mempelajari, pertama, bahwa “hanya” karena perbedaan satu kata “saja” (atau bahkan satu huruf saja) dalam Kredo Nicea — yaitu antara homoousios dan homoiousios—yang memiliki bunyi yang mirip namun memiliki arti yang sangat berbeda, maka terjadi perbedaan (baca: pertentangan) yang begitu tajam antara dua paham (baca: doktrin), yang meminjam ungkapan dari Olson yang mengatakan, “… is the difference between the divine and the creaturely”.[22]

Kedua, meskipun acap kali diabaikan — yaitu dengan sedikit banyak mengenal karakter atau kepribadian pendirinya. Dengan mempelajari karakter/kepribadiannya akan membantu kita memperoleh gambaran seperti, mengapa dapat muncul ajaran semacam itu, mengapa ajaran semacam itu dapat berkembang secara luas, bahkan pesat, dan mendapat dukungan langsung maupun tak langsung dari pihak penguasa (baik penguasa/tokoh politik maupun gereja). Arius adalah seorang yang berpenampilan asketis, bermoral murni, dan berpendirian teguh. Carroll, seorang sejarawan Katolik, mengatakan bahwa ia adalah seorang yang santun dalam berbicara, para wanita memujanya karena terpesona dengan sikap anggunnya dan penampilan asketisnya, orang-orang terkesan dengan kehebatan intelektualnya.[23] Karakter seperti ini sedikit banyak membuat kebanyakan orang “terlena” serta tidak menyikapi secara kritis apa yang dia ajarkan. Apalagi konteks bergereja saat itu, masih kental dengan dikotomi (yang wujudnya berupa separasi) kaum pejabat gereja (yaitu para imam atau pekerja gereja) dengan kaum awam, yang tampak dari dimonopolinya Alkitab, penafsiran Alkitab, dan pengajaran (doktrin) oleh kaum imam, sedangkan kaum awam berada pada posisi hanya menerima dan menelan apa yang disajikan oleh pejabat gereja. Sehingga tidak heran bahwa — meskipun bidat — ajaran yang melawan salah satu ajaran yang paling krusial dari rasul-rasul dan Bapa-bapa Gereja ini dapat berkembang di Kekaisaran Romawi yang membuat Constantine mau tidak mau segera mengadakan Konsili untuk membendung (dan menghentikan) pengaruhnya yang dapat merusak keutuhan kekaisarannya (meskipun tentu dengan menggunakan alasan gerejawi). Hal ini mengajarkan (serta memperingatkan) kepada kita salah satu prinsip yang dikumandangkan oleh para Reformator untuk kembali kepada (hanya) firman/Alkitab saja (dikenal sebagai sola Scriptura) sebagai satu-satunya tolok ukur iman dan kehidupan kaum pilihan, bukan pada kehebatan dan nalar manusiawi yang mempesona yang — sering kali — membutakan hati untuk kembali kepada kebenaran (baca: firman). Kita harus kritis dan berhati-hati menghadapi berbagai macam pengajaran, karena sering kali bidat-bidat menyelubungi diri di balik argumentasi-argumentasi yang (terdengar) logis dan mirip dengan ajaran yang benar, ditambah dengan pesona pribadi sang tokoh/pendirinya. Faktor-faktor ini sangat mungkin dapat mengaburkan pertimbangan nalar kita.

Terakhir, kita perlu meneladani spirit dan perjuangan Athanasius yang dengan gigih dan tanpa kompromi membela kesejatian iman dan doktrin yang ortodoks. Khususnya di dalam zaman kita, di mana kebenaran dianggap sebagai sesuatu yang subjektif, relatif, dan kontekstual. Meskipun dianggap kaku, kontroversial, tidak bersedia untuk harmonis, eksklusif, dan seterusnya, namun apakah kita lebih mementingkan persaudaraan dengan “saudara seiman” di mana mereka — sadar ataupun tidak — sedang melawan kebenaran sejati atau kesetiaan kita hanya kita berikan kepada Allah dan firman-Nya? Mari kita melihat bagaimana Athanasius bukan semata-mata menghadapi serangan Arianisme sebagai musuh utama gereja, namun ia pun mengalami manipulasi (sekaligus ”penganiayaan”) dari beberapa penguasa Romawi saat itu. Hidupnya, pelayanannya, perjuangannya begitu berat, meskipun demikian ia tetap setia dan tidak kompromi.

Boleh dikatakan bahwa pada hari ini Saksi Yehova bukanlah salah satu bentuk kekristenan ortodoks, bukanlah sesuatu yang berlebihan.[24] Tanpa perjuangannya yang gigih seperti itu — tentunya dengan tidak melupakan kedaulatan dan pengaturan Allah atas sejarah dan Gereja-Nya — bukan tidak mungkin hari ini Saksi Yehova (juga bidat-bidat lain, baik yang sejenis maupun berbeda jenis) akan terhitung sebagai (representasi) kekristenan yang ortodoks dan sebaliknya kita (dan kekristenan ortodoks dan Injili lain) dikecam dan dikutuk sebagai bidat. Kita patut bersyukur kepada Allah karena pemeliharaan-Nya kepada gereja sepanjang masa dan berterima kasih kepada Athanasius yang dengan penuh keberanian memberikan teladan memperjuangkan kebenaran sejati dengan setia dan tanpa kompromi. Amin.

Ev. Sanny Erlando
Hamba Tuhan GRII

Endnotes:
[1] Yaitu sosok ilah “pencipta” dan “pemelihara” alam semesta. Marcionism sebagai salah satu bentuk Gnosticism, percaya bahwa demiurge adalah ilah, tetapi ia adalah ilah (jenis) yang jahat, karena ia mencipta alam semesta yang material, yang jahat menurut pemahaman gnostik (bdk. http://en.wikipedia.org/wiki/Demiurge diakses pada 14 Juni 2012).
[2] William Edgar dan K. Scott Oliphint (para editor), Christian Apologetics Past and Present: A Primary Source Reader, vol. I, To 1500 (Wheaton: Crossway Books, 2009), 86.
[3] Gregg R. Allison, Historical Theology: An Introduction to Christian Doctrine (Grand Rapids: Zondervan, 2011), 367; dikutip dari Justin Martyr, Dialogue with Trypho, a Jew, 105, dalam Alexander Roberts, James Donaldson, Philip Schaff, dan Henry Wace (para editor), Ante-Nicene Fathers, 10 vol. (Peabody: Hendrickson, 1994), 1:251.
[4] Allison, 367; dikutip dari Melito dari Sardis, From the Discourse on the Cross, dalam Ante-Nicene Fathers, 8:756.
[5] Allison, 366.
[6] Allison, 367.
[7] Allison, 368-69; dikutip dari Arius, Letter to Alexander, dalam Alexander Roberts, James Donaldson, Philip Schaff, dan Henry Wace (para editor), Nicene-and Post-Nicene Fathers (NPNF), 14 vol. (Peabody: Hendrickson, 1994), 4:458.
[8] Allison, 369; dikutip dari Letter to Alexander, dalam NPNF, 4:458.
[9] Allison, 369; dikutip dari Letter to Alexander, dalam NPNF, 4:458.
[10] http://en.wikipedia.org/wiki/Arius#cite_note-Carroll_a-7 diakses pada 22 Juni 2012. Kutipan-kutipan Alkitab diambil dari terjemahan English Standard Version (ESV).
[11] Allison, 369-71.
[12] Bdk. http://en.wikipedia.org/wiki/First_Council_of_Nicaea diakses pada 22 Juni 2012.
[13] Edgar dan Oliphint, 173.
[14] Dimengerti sebagai norma-norma atau kredo-kredo yang diakui/diterima. Lih. http://en.wikipedia.org/wiki/Orthodoxy diakses 18 Juni 2012.
[15] Roger E. Olson, The Story of Christian Theology (Downers Grove: IVP, 1999), 161.
[16] Yun. homo = Ing. “same”; Yun. ousia = Ing. “essence, being.” Yun. homoousios = Ing. “same essence/being” = “sama esensi/keberadaan.” Lih. http://en.wikipedia.org/wiki/Homoousios diakses pada 23 Juni 2012.
[17] Olson, 161-64.
[18] Tentunya dalam konteks melawan Arianisme dan tidak dipahami sebagai mementingkan suatu aspek dan mengabaikan yang lain. Karena seperti diuraikan di awal artikel bahwa ketidakseimbangan penekanan menjadi bibit lahirnya bidat dalam Gereja.
[19] Olson, 167.
[20] Dianggap/diakui sebagai seorang santo oleh Gereja Ortodoks Timur. Lih. http://en.wikipedia.org/wiki/Theodosius_I diakses pada 23 Juni 2012.
[21] Olson, 167.
[22] Olson, 165.
[23] http://en.wikipedia.org/wiki/Arius#cite_note-Carroll_a-7diakses pada 22 Juni 2012; dikutip dari Warren H. Carroll, A History of Christendom, vol. 2 (Christendom Press, 2004), 10.
[24] Lih. Olson, 161-62.

Ev. Sanny Erlando

Juli 2012

30 tanggapan.

1. lulufdelau dari medan berkata pada 11 October 2012:

siapakah nama Tuhan kita yang sebenarnya? 1. ada yang bilang nama Tuhan kita adalah YAHWEH 2. ALLAH dan 3. Allah Tritunggal itu tidak ada tapi hanya satu? 4. coba jelaskan dengan singkat jelas dan padat.

Tuhan Yesus Berkati. Amin

2. Lukas Yuan Utomo dari Singapura berkata pada 4 November 2012:

Hi Lulufdelau,

1. Bahasa asli Ibrani dari kata TUHAN di Perjanjian Lama dengan huruf kapital adalah YHWH. 2. Allah adalah istilah yang umum dipakai di Alkitab selain penggunaan kata TUHAN. 3. Allah Tritunggal adalah satu-satunya Allah yang benar, yang dinyatakan di dalam Alkitab, satu substansi dan 3 pribadi, yaitu Allah Bapa, Anak yaitu Yesus Kristus, dan Roh Kudus.

Grace n Peace, Lukas Yuan Utomo. Redaksi PILLAR

3. Martua Siringoringo dari Jakarta berkata pada 13 January 2015:

SAKSI YEHOVAH.

Dari belajar Alkitab, yang saya dapat dan mengerti, bahwa hanya Bapa Abraham, Nabi Musa dan Tuhan Yesus Kristuslah yang benar-benar saksi Yehovah.

Pertanyaannya : Kenapa hanya Bapa Abraham, nabi Musa dan Tuhan Yesus Kristus yang benar-benar saksi Yehovah?

Jawabnya:

1. Dalam sejarah Alkitab Perjanjian Lama, Bapa Abraham pernah bertemu dengan Allah dengan didampingi oleh dua malaikat (baca kisahnya di Kitab Kejadian 18 dan 19), Bapa Abraham dalam kisah itu pernah bertemu atau berbicara langsung dengan Allah, dan kemudian bersaksi (memberitakan) kepada anak-anaknya dan keturunannya, baik kepada orang-orang yang bersama-sama dengan dia, akan janji Allah yang disampaikan kepadanya

2. Dalam sejarah kitab Perjanjian Lama, Nabi Musa pernah bertemu dan berbicara langsung dengan Allah, maka nabi Musa termasuk saksi Yehovah, karena Musa dipilih Allah menjadi pemimpin bangsa Israel keluar dari tanah Mesir untuk masuk ke tanah perjanjian (tanah kanaan) dan untuk menyampaikan janji-janji dan perintah Allah kepada bangsa itu (baca kitab Kejadian, Keluaran, Bilangan, Imamat dan Ulangan), disana banyak perintah dan janji Allah yang diterima nabi Musa untuk disampaikan kepada bangsa Israel, artinya nabi Musa bersaksi kepada bangsa Israel maupun bangsa-bangsa lain, bahwa bangsa Israel memiliki dan menyembah Allah, pencipta langit dan bumi dan segala isinya.

3. Dalam Kitab Perjanjian Baru dicatat sebagai berikut:

- Dalam Injil Yohanes 8:16, 17 dan 18 disebutkan:

Ayat 16, dan jukalau Aku menghakimi, maka penghakimanKu itu benar, sebab Aku tidak seorang diri, tetapi Aku bersama dengan Dia yang mengutus Aku. Ayat 17, Dan dalam kitab Tauratmu ada tertulis, bahwa kesaksian dua orang adalah sah; Ayat 18, Akulah yang beraksi tentang diriKu sendiri, dan juga Bapa, yang mengutus Aku, bersaksi tentang Aku

- Dalam Injil Yohanes 14:7 disebutkan: Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti juga kamu mengenal BapaKu. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu melihat Dia.

Dan di ayat 10 lebih dipertegas oleh Tuhan Yesus dengan mengatakan, bahwa : Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dakam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diriKu sendiri, tetapi Bapa yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya. ayat 11 Percayalah kepadaKu, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku;

- Dalam Injil Yohanes 17:7 dan 8, disebutkan: ayat 7. Sekarang mereka tahu, bahwa semua yang engkau berikan kepadaKu itu berasal dari padaMu. ayat 8. Sebab segala firman yang Engkau sampaikan kepadaKu telah Kusampaikan kepada mereka dan mereka telah menerimanya. Mereka tahu benar-benar, bahwa Aku datang dari padaMu, dan mereka percaya, bahwa Engkaulah yang mengutus Aku.

Penjelasan.

Dari rangkuman ayat firman yang dicatat dalam Injil Yohanes di atas adalah menjelaskan, bahwa Tuhan Yesus tidaklah seorang diri yang bersaksi, akan tetapi Dia adalah dua Tuhan yang memberi kesaksian, yaitu: tentang diri Yesus sendiri sebagai yang diutus Allah dan diri Bapa sebagai yang mengutus Anak-Nya, yaitu: Tuhan Yesus Kristus.

Kesimpulan.

Kesaksian Tuhan Yesus disini adalah sebagai "saksi Yehovah", karena Dia bersaksi tentang Bapa yang mengutus-Nya ke dunia ini untuk menyampaikan firman Allah yang diterimanya dari Bapa untuk disampaikan kepada dunia, dan bagi orang yang mau menerima dan melakukan firman-Nya itu, dialah orang yang menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai yang di utus oleh Allah Bapa sebagai Tuhan dan Juruslamat.

PERINGATAN.

Diluar sebagaimana yang disebutkan diatas, itu adalah saksi Yehovah bohongan, karena mereka belum pernah melihat wajah Allah dan atau belum pernah berdialog langsung dengan Allah.

Kita sebagai orang percaya adalah saksi Kristus, bukanlah menjadi seorang saksi Yehovah (baca Kisah Para Rasul 1:8)

God bless we all, who beleave to Jesus Chrits, that He comes from God.

4. Martua Siringoringo dari Jakarta berkata pada 13 January 2015:

KRISTOLOGI

YESUS KRISTUS, nama ini adalah nama Firman Allah setelah Dia di utus oleh Allah ke dunia ini dan menjelma menjadi Manusia yang disebut Anak Allah. Kristus, artinya yang di urapi oleh Allah dan yang di urapi itu lazimnya adalah manusia yang TAAT dan SETIA kepada Allah. Jadi nama, YESUS KRISTUS adalah nama seorang Manusia, yang TAAT dan SETIA kepada Allah, itulah sebabnya YESUS KRISTUS disebut sebagai Manusia seutuhnya.

Sebelum YESUS KRISTUS menjadi Manusia, tadinya Dia adalah Firman Allah. , Dalam Injil Yohanes 1:1 dan 14 menyebutkan bahwa : "Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Firman itu telah menjadi Manusia," Jadi, Injil Yohanes 1:1 ini menegaskan, bahwa Firman Allah itu adalah Allah. Itulah sebabnya YESUS KRISTUS itu disebut Allah sepenuhnya.

Kesimpulannya:

Bahwa "TUHAN YESUS KRISTUS", adalah Allah sepenuhnya dan Manusia sepenuhnya.

TUHAN YESUS, sebagai Allah, adalah Juruslamat dunia dan YESUS KRISTUS, sebagai Manusia yang TAAT dan SETIA kepada Allah, adalah menjadi Manusia TELADAN dan atau ANAK DOMBA ALLAH yang menjadi korban penebus dosa umat manusia.

Jadi ketika YESUS KRISTUS berdoa kepada ALLAH adalah dalam kapasitas manusia sepenuhnya atau sebagai Manusia TELADAN, bukan sebagai kapasitas ALLAH, karena ALLAH tidak mungkin berdoa kepada ALLAH atau kepada DIRINYA SENDIRI.

TUHAN YESUS memberkati kita semua.

5. Martua Siringoringo dari Jakarta berkata pada 29 January 2015:

KRISTOLOGI

Ketika TUHAN YESUS di dunia, Dia berkata: " Aku dan Bapa adalah SATU " (Yohanes 10:30), akan tetapi YESUS juga mengatakan Roh Tuhan ada padaKu (Lukas 4:18), keberadaan Roh Tuhan ada pada diri Tuhan Yesus itulah yang membuktikan bahwa Yesus dan Bapa adalah "SATU" . Jadi kesatuan antara YESUS dan BAPA adalah di dalam "ROH KUDUS".

Penjelasan.

Bapa + Roh Kudus inilah yang merupakan satu pribadi, artinya : Bapa tanpa ada Roh Kudus adalah Allah yang mati karena tidak ada RohNya, dan sebutan Bapa disini adalah untuk membedakan Allah Bapa dengan Anak Allah sedangka Roh Kudus adalah Roh(Jiwa)Nya Bapa demikian juga dengan Anak bahwa Roh Kudus adalah Roh (Jiwa) Nya Anak. Jadi Roh Kudus adalah Roh (Jiwa)Nya Allah Bapa, dan Roh Kudus adalah Roh (Jiwa)Nya Anak Allah. Jadi intinya keberadaan Allah itu adalah Roh adanya (baca Yohanes 4:24).

GBU. Masih lanjut...............

6. Martua Siringoringo dari Jakarta berkata pada 2 February 2015:

ROH KUDUS.

Tuhan Yesus berkata (dalam Yohanes 4:24): " Allah itu Roh, dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembahNya dalam roh dan kebenaran."

Penjelasan:

Perkataan Tuhan Yesus di atas adalah dalam konteks dialog (sharing) antara Tuhan Yesus dengan seorang perempuan Samaria. Inti dari pembicaraan mereka adalah "AIR" yang ada dalam sumur Yacub. Jikalau kita simak lebih dalam dari percakapan antara Tuhan Yesus dengan perempuan Samaria itu, ada suatu pengertian rohani yang ingin Tuhan Yesus sampaikan. Dalam Injil Yohanes 4 ayat 10 disebutkan sebagai berikut: Jawab Yesus kepadanya: " Jikalau engkau tahu tentang karunia Allah dan siapakah Dia yang berbicara kepadamu: Berilah Aku minum! Niscaya engkau telah meminta kepadaNya dan Ia telah memberikan kepadamu air hidup." dan di ayat 13 dan 14 di jelaskan oleh Tuhan Yesus; Jawab Yesus kepadanya: " Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan kepadanya, ia tidak akan haus untuk selama-lamanya. Sebaliknya air yang akan Kuberikan kepadanya, akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal." Tuhan Yesus berbicara dari hati ke hati dengan perempuan Samaria itu, supaya perempuan Samaria itu mengerti, bahwa Tuhan, Allah akan memberikankan karunia keselamatan bagi orang yang mau menerima Tuhan Yesus, dan apabila perempuan Samaria itu mau menerima atau mendengarkan kabar baik yang disampaikan oleh Tuhan Yesus, maka bagi dia akan di karuniakan Roh Kudus, dan Roh Kudus itulah yang akan menuntun dan memberi kekuatan untuk melakukan Perintah Allah. Ketika Roh Kudus di karuniakan kepada kita, maka Roh Kudus itulah yang menuntun roh kita untuk menyembah Allah. Maka dengan demikian rohani kita akan bertumbuh, berakar dan menghasilkan buah. Buah yang di hasilkannya, kita dapat melakukan yang benar di hadapan Allah.

Amen. GBU. Masih berlanjut..............

7. Martua Siringoringo dari Jakarta berkata pada 9 February 2015:

KRISTOLOGI

Firman Allah adalah Allah (baca: Yohanes 1:1).

Yesus berkata dalam Injil Yohanes 6:63b, demikian kata-Nya: "Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup." Dan dalam Injil Yohanes 14:9-10, kata Yesus kepadanya: "Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filipus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.-- Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diriKu sendiri, tetapi Bapa yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya ---."

Penjelasan:

Injil Yohanes 14:9-10 di atas menjelaskan: Perkataan-perkataan yang Tuhan Yesus sampaikan kepada murid-murid-Nya dan orang banyak adalah merupakan perkataan Bapa-Nya sendiri yang diam di dalam Dia (Aku dan Bapa adalah satu=Bapa bekerja dalam diri Tuhan Yesus, artinya: Allah dan Firman-Nya adalah satu. Buktinya Bapa ada di dalam diri Tuhan Yesus adalah Roh Kudus/Roh Allah ada di dalam diri Tuhan Yesus. Jadi Roh Kudus yang ada di dalam diri Tuhan Yesus adalah merupakan kehadiran Bapa ada di dalam diri Tuhan Yesus). Diri Tuhan Yesus yang kelihatan itu adalah sebagai Manusia (kasing/bungkus) agar Dia dapat beradaptasi dengan manusia, dan yang ada di dalam diri-Nya sebagai Manusia ada Roh Kudus dan Firman Allah.

Masih berlanjut, Tuhan Yesus memberkati kita, Amen!

8. Martua Siringoringo dari Jakarta berkata pada 9 April 2015:

KRISTOLOGI.

Dalam kitab Wahyu 19:7b, ada Anak Domba dan di kitab Wahyu 19:13, Ia memakai jubah yang telah dicelup dalam darah dan nama-Nya: "Firman Allah".

Penjelasan.

TUHAN YESUS setelah naik ke Sorga, dikotomi kehidupan-Nya masih melekat sebagaimana ketika Ia berada di dunia ini, yaitu, bahwa :1. "Yesus Kristus" sebagai Anak Manusia adalah "Anak Domba Allah", dan 2. "Yesus Kristus" sebagai Anak Allah adalan "Firman Allah" yang telah menjadi manusia.

Kedua nama tersebut di Sorga masih eksis, namun kelihatannya menjadi dua oknum (baca kitab Wahyu 19:6-10 & kitab Wahyu 19:11-16), yaitu : 1. "Anak Domba", dan 2. Firman Allah".

Sang Anak Domba, dari penjelasan Wahyu 19:6-10, sepertinya "Anak Domba" itu menjadi Raja? Sedangkan menurut penjelasan Wahyu 19:11-16, bahwa "Firman Allah" itu menjadi Panglima Perang dan sebagai gembala.

Menurut penjelasan kitab Wahyu 19:6-10 dan kitab Wahyu 19:11-16 ini, bahwa, "YESUS KRISTUS" itu di Sorga menjadi dua oknum (terbelah dua), yaitu: 1. "Anak Domba", dan 2."Firman Allah". Dan di semua kitab Wahyu nama atau sebutan "BAPA" tidak ada lagi ditemukan.

Di kitab Wahyu istilah "Tritunggal/Tiga Pribadi Yang Berbeda" itu tidak ada di temukan, yang ada adalah DUA TAHTA, yaitu : "Tahta Allah" dan "Tahta Anak Domba". Artinya: Yang bertahta di Sorga itu adalah Allah Yang Maha Esa dan Seorang Anak Manusia Yang Telah Menang mengalahkan dosa, yaitu YESUS KRISTUS.

Amen, Tuhan Yesus memberkati kita !!!

Jikalau di hubungkan pendapat Athananius tentang KRISTOLOGI dengan kitab Wahyu, hampir-hampir tidak ada

9. Si Tampu dari Soerabaja berkata pada 9 April 2015:

Dear Martua Siringoringo.

Keyakinan Anda juga adalah keyakinan Arianus yang dianut Saksi Yehova sekarang. Supaya Anda tahu secara kronolgis, Konsep yang ditawarkan Arianus "Ada masa Firman tidak ada dan menjadi ada setelah diciptakan" adalah konsep yang muncul setelah konsep ortodox, yang dipertahankan Athananius dan dikuatkan dalam konsili Nicea. sehingga dalam konsili Nicea ide Arianus ditolak dan dianggap sesat, seiring dengan waktu telah gugur dan muncul kembali dalam bentu saksi Yehova sekarang. Namun saksi Yehova menuduh konsili itu adalah "menyimpangkan diri" dengan rumusan Tritunggal.

Dalam Kitab Wahyu Allah memberikan gulungan Kitab kepada Anak Domba tidak akan Anda mengerti sebelum melihat nubuatan dalam PL, bahwa Anak Domba itulah yang oleh Daud disebut "tuanku" yang didudukkan oleh Tuhanku disebelah kanan-Nya.

Dan Yesus adalah ALLAH yang menjadi manusia yang merendahkan diri samapai di kayu salib sehingga ia diberi gelar (diangkat)yang tinggi sebagai TUHAN. Sampai level ini Saksi Yehova bingung, karena mereka kira diangkat sebagai Tuhan (Tuan) karena posisinya lebih rendah sebelumnya.

Roh Kudus memiliki kehendak, ia menginsyafkan, ia berduka, kesemua ini adalah ciri bahwa ia bukan sekedar kuasa seperti yang Anda yakini, Ia adalah berpribadi

10. Martua Siringoringo dari Jakarta berkata pada 13 April 2015:

Bp. Si Tampu yang di kasihi Tuhan!

Pengertian "DASAR" yang perlu kita ketahui adalah SIAPA ALLAH ITU?

TUHAN YESUS menerangkan sebagaimana dicatat dalam INJIL YOHANES 4:24, sebagai berikut: "ALLAH itu ROH dan BARANGSIAPA MENYEMBAH DIA, HARUS MENYEMBAHNYA DALAM ROH dan KEBENARAN."

Jikalau kita simak perkataan TUHAN YESUS tersebut mempunyai pengertian"

1. ALLAH itu ROH, artinya dan penjelasannya sbb: BAPA adalah ALLAH, dan ANAK adalah ALLAH, jadi apabila BAPA dan ANAK itu adalah ALLAH, maka BAPA dan ANAK itu adalah ROH, karena ALLAH itu ROH. Jelas atau belum pak Si Tampu? Kalau belum puas boleh kita pergi ke ahli bahasa untuk mencari penjelasan, apakah pendapat saya itu ,salah atau tidak!?

2. Barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.

Maksudnya: Dalam dialog antara TUHAN YESUS dengan Perempuan SAMARIA itu ada disinggung tentang tempat dimana nenek moyang mereka menyembah Allah dan apakah mereka mengenal Allah yang disembahnya itu!? Demikian perbincangan mereka, sebagaimana yang dicatat di dalam Injil Yohanes 4:19-23, sbb: 19) Kata perempuan itu kepada-Nya : "Tuhan, nyata sekarang padaku, bahwa Engkau seorang nabi. 20) Nenek kami menyembah di gunung ini, tetapi kamu katakan, bahwa Yerusalemlah tempat orang menyembah." 21) Kata Yesus kepadanya: "Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. 22) Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari orang Yahudi. 23) Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.

Dari percakapan TUHAN YESUS dengan Perempuan SAMARIA di atas khususnya arti dari ayat 24b (Barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran) dapat kita simpulkan sbb:

Harus menyembah Dia dalam roh dan kebenaran: Artinya: Kita menyembah BAPA harus dengan segenap hati dan jiwa kita (segenap hidup kita), yaitu dalam segala langkah dan perbuatan kita (disetiap waktu/detik) dimanapun kita berada, karena Allah itu adalah Allah yang Maha-hadir ada dimana-mana sesuai dengan kebenaran firman Allah.

Thanks. GBU

11. Si Tampu dari Soerabaja berkata pada 14 April 2015:

JAWAB:

@Martua Siringoringo, kali ini Anda berubah dan mengaku kemahahadiran Roh Allah dan bukan ada "banyak", itu bagus Pak. Tetapi dg meminta pergi ke ahli bahasa, saya kira tidak perlu:

Saya kutip pernyataan Anda "ALLAH itu ROH, artinya dan penjelasannya sbb: BAPA adalah ALLAH, dan ANAK adalah ALLAH, jadi apabila BAPA dan ANAK itu adalah ALLAH, maka BAPA dan ANAK itu adalah ROH, karena ALLAH itu ROH"

Dari sini Anda tidak bisa bedakan ROH sebagai "dzat" atau "substansi" Allah dengan Roh Kudus. Anda terjebak dg kata "Roh" pada Roh Kudus sbg pribadi yg ketiga dan menganggapnya sama dg "Roh" yg adl subtansi Allah. (Mohon diperhatikan Pak!). Sehingga seperti dlm komen sebelumnya ANDA menyimpulkan demikian:

"Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah. Jikalau Bapa dan Anak adalah Allah, maka Bapa dan Anak itu adalah Roh (Roh Kudus)"

Sekali lagi Pak! TIDAK ada Bapa Gereja manapun yg memiliki pernyataan demikian, apalagi para teolog. Karena konsep itu menentang Alkitab sendiri. Sampai disini JELAS?

Pernyataan Anda sudah tidak cocok pula dg "Syahadat" Konsili Nicea abad ke 4 (konsili=rapat para USKUP seluruh dunia) dan shahadat setelahnya, apalagi Teologi Sistematika manapun.

Dan hebatnya, Anda merasa paling benar daripada para Apostolic father (Murid dari rasul Yesus) USKUP (Bapa Gereja) dan teolog manapun dg hanya membaca Alkitab SAJA, dg Alibi Bapak belajar langsung pada YESUS. Lah mereka yg saya sebtkan apa GAK BACA Alkitab

Jadi mohon belajar ya Pak, please... Ini terakhir kali saya menjawab dan menegur kebodohan Anda.

12. Martua Siringoringo dari Jakarta berkata pada 17 April 2015:

Bp. Si Tampu yang dikasihi Tuhan,

Dari duhulu saya sudah tahu dan mengakui bahwa Roh Allah itu ada hadir dimana-mana Allah omnipresent), karena memang bangsa Israel menyebut-Nya Ruakh, yang artinya angin (sifatnya ada dimana-mana), dan daya hidup yang aktif (memberi hidup). Itulah menurut bangsa Ibrani tentang Ruakh.

Walaupun demikian, karena saya belajar dari Alkitab, saya mempunyai keyakinan, bahwa Roh Allah itu jamak (banyak jumlahnya), karena memang demikian kata Firman Allah. Untuk itu pelajari kitab Wahyu 5:6, yang dicatat sebagai berikut: "Maka aku melihat ditengah-tengah tahta dan keempat makhluk itu dan di tengah-tengah tua-tua itu berdiri seekor AnakDomba seperti telah disembelih, bertanduk tujuh dan bermata tujuh: Itulah ketujuh Roh Allah yang diutus ke seluruh bumi."

Firman Tuhan tersebut di atas menjelaskan, bahwa: Pada diri Anak Domba itu ada tujuh Roh Allah, yang diutus keseluruh dunia (itulah sebabnya kuasa TUHAN YESUS SANGAT BESAR, karena ada tujuh Roh Allah pada diri TUHAN YESUS.

Dengan pernyataan Firman Allah di atas, dapat kita simpulkan, bahwa Roh Allah itu sangat jamak sekali, dan disituiah letaknya kejamakan Allah (Elohim).

Thanks & GBU

13. Martua Siringoringo dari Jakarta berkata pada 18 April 2015:

Bp Si Tampu yang dikasihi Tuhan,

Masih banyak rahasia dalam Alkitab yang belum diketahui orang-orang theolog, karena memang bagi mereka yang belajar theologi, sepertinya dikenakan kacamata kuda, sebab mereka tidak boleh melenceng atau melampaui pengetahuan theologi yang diajarkan oleh guru theolog mereka (pemuka/penemu theolog yang mereka pelajari).

Jadi supaya kita tidak terpaku pada theolog seseorang, mari kita menggali "FIRMAN TUHAN" yang terpendam dalam ALKITAB, agar kita jangan monoton pada pendapat theolog-theolog pendahulu kita, karena FIRMAN TUHAN itu sangat kaya dan bagaikan air yang mengalir terus memancarkan cahaya yang menuju kepada hidup yang kekal.

Trimakasih , selamat belajar, & God Bless You.

14. Si Tampu dari Soerabaja berkata pada 20 April 2015:

@Martua Siringoringo, hebatnya Anda merasa lebih tahu daripada teolog yg belajar seumur hidup yang mewarisi pengetahuan dari teolog sebelumnya. Anda bisa melihat "kacamata kuda" mereka, sedangkan mereka tidak menyadarinya.

Jika Anda ke dokter spesialis, Anda datang ke dokter mana? Yang belajar di univerisitas dg gelar yg tinggi atau yang belajar sendiri (seperti dukun)? Untuk urusan sakit Anda mementingkan pendidikan yg tinggi, untuk urusan keselamatan Anda mencari secara otodidak?

Jawaban Anda saja sudah melenceng dari kebenaran Alkitab, jika saya buktikan dari perkataan teolog Anda berkilah mereka pakai kacamat kuda, jika saya sampaikan perkataan Apostolic Father (murid dari rasul pertama) seperti Clement (murid Paulus), Markus (murid Petrus), Policarpius (murid Yohanes) apa jawab Anda @Martua Siringoringo?

Apakah Anda juga menolak Syahadat Nicea (abad 4) yg dirumuskan Bapak gereja seluruh dunia? (silahkan belajar di http://id.wikipedia.org) dan mengatakan mereka pakai kacamata kuda?

Haruskah seluruh dunia mengikuti teologi dari Martua Siringoringo? Seluruh umat Kristian sejati sepakat Pak, menolak warisan Apostoliv Father dan menentang Syahadat Nicea adalah BIDAT.

Wasalam

15. Adhya dari Jakarta berkata pada 23 April 2015:

Kepada Pak Martua dan Pak Tampu.

Terima kasih kepada bapak yang telah memberikan banyak tanggapan terhadap artikel ini. Kami bersyukur kepada Tuhan Yesus Kristus karena begitu haus mau belajar dan mengkritisi teologi dan doktrin. Setiap kita orang Kristen haruslah memiliki jiwa yang haus akan kebenaran Tuhan dan juga memiliki jiwa yang mau dibentuk oleh Tuhan.

Saya percaya akan adanya prinsip doktrin Progresive Revelation. Artinya Tuhan memberikan revelation (kebenaran firman Tuhan) kepada umatNya dalam bentuk yang progresive/bertahap/bertingkat. Artinya Tuhan tidak memberikan 1 revelation, lalu besok ganti revelation yang lain, lalu berubah-ubah doktrin pada setiap jaman. Karena setiap jaman ada tantangan jaman atau juga yang kita suka sebut Roh/Spirit Jaman (zeitgeist). Hal ini sangat berpengaruh terhadap kehidupan orang Kristen dan juga berpengaruh terhadap Doktrin & Teologi.

Satu hal yang pasti, revelation Tuhan itu pasti konsisten. walaupun kadang kita tidak melihatnya secara konsisten, tetapi itu perlu waktu untuk manusia yang Created, Limited, Polluted, Corupted untuk dapat mencerna hal tersebut.

Karena itu, kita orang reformed juga percaya bahwa bergantung dengan akal pikiran kita saja tidak cukup untuk mengerti kebenaran Tuhan melewati Alkitab, karenanya kita harus membentuk pola pikiran/kerangka pikiran kita yang limited dengan structural doktrin seperti mempelajari systimatic theology, atau membuka pikiran kita melewati doktrin2x seperti doktrin predestinasi, atau doktrin Allah Tritunggal untuk dapat mengerti Alkitab lebih dalam lagi. Selain itu juga kita percaya bahwa ada kebijaksanaan Tuhan pada setiap Jaman yang di dapatkan oleh bapa-bapa gereja (kalau tidak mereka tidak akan jadi Bapa-bapa gereja yang mempertahankan Ke-kristenan dari ajaran bidat di Jaman mereka), karena itu kita harus mempelajari Sejarah ke-kristenan untuk melihat konteks jaman tersebut. Dan yang pasti kita tidak mungkin hidup cukup lama untuk mengerti seluruh Alkitab, karena itu kita membaca buku2x teologi dari bapa-bapa jaman yang telah mempelajarinya terlebih dahulu. Sungguh sangat tidak bijaksana kalau kita mengabaikan anugrah Tuhan dari jaman-ke jaman dan menganggap bahwa baca Alkitab dan lewat penerangan roh kudus cukup untuk mengerti tentang Allah. Dan juga jangan lupa banyak ajaran bidat dan nabi palsu yang terus membuat kita bingung, justru dengan mempelajari bidat-bidat di jaman2x yang lampau, kita jadi lebih aware akan ajaran-ajaran bidat yang menyusup masuk ke dalam gereja.

Apakah doktrin tentang Allah Tritunggal berubah setelah 2000 tahun? pasti Tidak, tetapi doktrin Allah Tritunggal jaman dulu tidak menghadapi dunia modern yang dipenuhi dengan konsep2x Post modern era seperti Relativisme, Pragmatisme, Hedonisme, Humanisme, dan lain-lain.

Yang terakhir saya mohon dalam diskusi maupun perdebatan agar saudara dapat menjaga kesopanan di dalam bertutur kata. Jangan sampai kita orang Kristen (apalagi mengaku dirinya Reformed) dilihat sebagai orang yang kurang etika atau kurang ajar.

Jesus Christ bless you.

16. Martua Siringoringo dari Jakarta berkata pada 7 May 2015:

Bp SiTampu yang dikasihi Tuhan,

Saya mau duduk bersama dengan bapak dalam rangka mengkonfirmasi pernyataan-pernyataan yang saya tulis tersebut, apakah benar bertentangan dengan Alkitab, sebagaimana bapak tuduhkan diatas.

Bila bapak atau pihak GRII berkenaan saya mau kita duduk bersama untuk mempertanggungjawabkan segala pernyataan saya itu dihadapan para Theolog.

Terima kasih. GBU

17. Si Tampu dari Soerabaja berkata pada 7 May 2015:

Untuk @ Martua Siringoringo: diatas @Adhya sudah menjelaskan panjang lebar. Referensikan terlebih dahulu pemikiran Anda dengan teologi sistematika yg mana atau ajaran bapa gereja yg mana, maka saya akan tunjukkan buku2 yang menjadi jawaban. Diskusi atas keyakinan semata dan penalaran yang tidak sebagaimana mestinya tidak akan menghasilkan apa2. Mungkin mulai membaca dan belajar dasar teologi aliran ini bisa membantu Anda @ Adhya: Saran yang baik, namun jika kita menegur keteledoran dan kebodohan apakah tidak beretika? bukankah kata "orang bebal", "ular beludak", "munafik", "sesat" adl kosakata yg digunakan para rasul dan nabi? Setahu saya menempatkan pendapatan yang tidak alkitabiah dan merasa benar sendiri tanpa maksud belajar dalam situs adalah tidak etis. Dan bukankah pipmpinan reformed menegur sesama hamba Tuhan yg tidak belajar dan merasa mendapat pewahyuan yg baru dengan kata2 yang lebih keras dari yang saya gunakan.

Well... GBU semua & Wasalam

18. Martua Siringoringo dari Jakarta berkata pada 8 May 2015:

Bp.Si Tampu & Adhiya yang dikasihi Tuhan,

Pernyataan saya bukanlah suatu wahyu baru, saya hanya mengangkat isi atau pernyataan Alkitab yang berlaku bagi semua orang Kristen (terjemahan LAI). Itulah sebabnya saya minta kita duduk bersama, mari kita konfirmasi pernyataan saya dan juga buku-buku theologi yang anda pelajari yang anda katakan bersumber dari theologi sistematika, mari kita uji materil dari sumbernya, yaitu Alkitab (kitab Kejadian sampai Wahyu).

Saya membuat pernyataan itu tujuannya tidak mau menjual buku atau disanjung orang, saya hanya mengangkat kebebenaran yang dicatat dalam Alkitab, itulah tujuan saya, untuk mencelikkan mata setiap orang tentang kebenaran Firman Allah yang dicatat dalam Alkitab. Jadi walaupun anda tuduhkan kepada saya sebagai seorang "ular beludak" dan "bebal" saya tidak sakit hati, karena saya yakin TUHANlah yang akan menjadi HAKIM bagi kita semua. Saya mengangkat itu tidak bertujuan supaya dianggap orang sebagai orang hebat, tidak, tapi supaya setiap orang tahu akan kebenaran Firman Tuhan, karena pernyataan saya itu terkandung dalam Alkitab, kita boleh mengujinya dengan duduk bersama.

Kitab Wahyu sebagai kitab penutup, adalah merupakan kitab yang berisi simpul dari semua kitab Kejadian sampai kitab Yudas. Jadi apabila kita membuat suatu pernyataan iman jangan bertentangan dengan kitab Wahyu, karena kitab Wahyu adalah wahyu terakhir dari Yesus Kristus, yang dikaruniakan Allah kerpada-Nya, supaya ditunjukkan-Nya kepada hamba-hamba-Nya apa yang harus segera terjadi. Dan oleh malaikat-Nya yang di utus-Nya, Ia telah menyatakannya kepada hamba-Nya Yohanes. Yohanes telah bersaksi tentang firman Allah dan tentang kesaksian yang diberikan oleh Yesus Kristus, yaitu segala sesuatu yang telah dilihatnya. Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini dan menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat (Wahyu 1:1-3).

YESUS KRISTUS tidaklah seorang pendusta, Ia adalah seorang yang taat dan setia kepada Allah, apa yang disampaikan-Nya, itulah yang diterima-Nya dari Bapa-Nya, untuk keselamatan setiap orang yang mengasihi Dia.

Amen, Puji Tuhan.

19. Si Tampu dari Soerabaja berkata pada 10 May 2015:

Katakan, untuk apa duduk berdiskusi dengan Anda yg menolak syahadat iman Kristen Nicea, warisan teologis bapak gereja dg orang yang tegar dg keyakinan sbg berikut:

a.) "ada tujuh Roh Allah pada diri TUHAN YESUS" dlm pengertian jumlah lebih dari satu bukan mahahadir (satu namun tdk dibatasi ruang), [lihat comment no 12]. pada situs lain Anda bahkan memberi pernyataan "Berapa jumlah Roh Allah dalam diri Bapa?" dalam pengertian jumlahnya pasti lebih banyak.

b.) YESUS KRISTUS" itu di Sorga menjadi dua oknum (terbelah dua), yaitu: 1. "Anak Domba", dan 2."Firman Allah" (lihat comment 8)

c.) Diri Tuhan Yesus yang kelihatan itu adalah sebagai Manusia (kasing/bungkus) agar Dia dapat beradaptasi dengan manusia, dan yang ada di dalam diri-Nya sebagai Manusia ada Roh Kudus dan Firman Allah.(lihat comment 7)

d.) kesatuan antara YESUS dan BAPA adalah di dalam "ROH KUDUS". (lihat comment 5) e.) Bapa + Roh Kudus inilah yang merupakan satu pribadi, artinya : Bapa tanpa ada Roh Kudus adalah Allah yang mati karena tidak ada RohNya f.) Jadi Roh Kudus adalah Roh (Jiwa)Nya Allah Bapa, dan Roh Kudus adalah Roh (Jiwa)Nya Anak Allah. Jadi intinya keberadaan Allah itu adalah Roh adanya (lihat comment 5) g.) Tuhan Yesus tidaklah seorang diri yang bersaksi, akan tetapi Dia adalah dua Tuhan yang memberi kesaksian, yaitu: tentang diri Yesus sendiri sebagai yang diutus Allah dan diri Bapa sebagai yang mengutus Anak-Nya (lihat comment 3)

Keyakinan diatas telah dilawan dan ditentang dari jaman kejaman sebagai BIDAT

20. Martua Siringoringo dari Jakarta berkata pada 15 May 2015:

Bp. Si Tampu, saya akan memberi komentar terhadap pernyataan anda yang anda muat pada komentar ke 19. pada 10 May 2015, sbb:

a.) "ada tujuh Roh Allah pada diri TUHAN YESUS" dlm pengertian jumlah lebih dari satu bukan mahahadir (satu namun tdk dibatasi ruang), [lihat comment no 12]. pada situs lain Anda bahkan memberi pernyataan "Berapa jumlah Roh Allah dalam diri Bapa?" dalam pengertian jumlahnya pasti lebih banyak.

Jawab: Bukan saya yang mengatakan ada tujuh Roh Allah, tapi silakan baca kitab Wahyu 1:4 terakhir; Wahyu 3:1; Wahyu 5:6. Akan tetapi saya hanya mengangkat ayat tersebut untuk dipelajari dan ternyata disana ada ditulis "Tujuh Roh Allah".

b.) YESUS KRISTUS" itu di Sorga menjadi dua oknum (terbelah dua), yaitu: 1. "Anak Domba", dan 2."Firman Allah" (lihat comment 8)

Jawab: Bukan saya yang mengatakannya, silakan baca kitab Wahyu 19:6-10 dan kitab Wahyu 19:11-16, saya hanya mengangkat ayat tersebut untuk kita pelajari, dan ternyata disana ada di catat : 1. "Anak Domba" dan 2. "Firman Allah".

c.) Diri Tuhan Yesus yang kelihatan itu adalah sebagai Manusia (kasing/bungkus) agar Dia dapat beradaptasi dengan manusia, dan yang ada di dalam diri-Nya sebagai Manusia ada Roh Kudus dan Firman Allah.(lihat comment 7)

Jawab: Baca kitab Ulangan 18:18-19; Lukas 4:18-19.

d.) kesatuan antara YESUS dan BAPA adalah di dalam "ROH KUDUS". (lihat comment 5) e.) Bapa + Roh Kudus inilah yang merupakan satu pribadi, artinya : Bapa tanpa ada Roh Kudus adalah Allah yang mati karena tidak ada RohNya f.) Jadi Roh Kudus adalah Roh (Jiwa)Nya Allah Bapa, dan Roh Kudus adalah Roh (Jiwa)Nya Anak Allah. Jadi intinya keberadaan Allah itu adalah Roh adanya (lihat comment 5) g.) Tuhan Yesus tidaklah seorang diri yang bersaksi, akan tetapi Dia adalah dua Tuhan yang memberi kesaksian, yaitu: tentang diri Yesus sendiri sebagai yang diutus Allah dan diri Bapa sebagai yang mengutus Anak-Nya (lihat comment 3)

Jawab: Baca Kamus Bahasa Indonesia, apa artinya Roh, menurut bahasa Ibrani, artinya: Angin, sifat angin ada dimana-mana.

Terima kasih, selamat belajar, Tuhan Yesus memberkati.

21. Si Tampu dari Soerabaja berkata pada 15 May 2015:

Pertanyaan terakhir belum dijawab Pak? Termasuk BIDAT atau tidak pandangan Anda tsbt?

Silahkan tegar dengan ketidakmauan belajar Anda! dg demikian apakah Anda diberkati? Wasalam

22. Martua Siringoringo dari Jakarta berkata pada 15 May 2015:

Saya sarankan kepada Anda: Tidak ada artinya kita membuat dan mengajarkan doktrin Allah Tritunggal, dalam Alkitab tidak ada diajarkan itu, akan tetapi yang terpenting adalah: lakukanlah Perintah Allah, supaya kamu berkenaan di hadapan Allah. Karena apabila kita telah melakukan Firman-Nya, kita telah mengasihi Anak, dan Bapa akan mengasihi kita. Maka Bapa dan Anak akan datang kepada kita yang melakukan Perintah-Nya dan diam bersama-sama dengan kita. Ada Amen-kan!? Puji Tuhan!!!

Itulah pernyataan Tuhan Yesus Kristus yang dicatat dalam Injil Yohanes 14:23, yang disebutkan sebagai berikut: Jawab Yesus: "Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia."

Kata "Kami" disini maksudnya Allah Bapa dan Anak Allah (Yesus). Pertanyaannya: Kenapa tidak Roh Kebenaran yang datang dan diam bersama-sama dengan orang yang telah menuruti firman Allah itu. Jawabannya: Baca Injil Yohanes 14:1-31 secara berulang-ulang, nanti anda akan mengerti dan menemui jawabannya, apabila anda di ajar oleh Roh Kudus.

Orang yang sungguh-sungguh melakukan perintah Allah, dialah yang telah mendapat kasih karunia, dan apabila seseorang belum mendapat kasih karunia dari Allah, seseorang itu tidak akan sanggup melakukan Perintah Allah. Pertanyaannya: Darimana kita mendapat kasih karunia itu? Jawabnya: Dari Tuhan Yesus Kristus, karena Dia-lah yang telah di utus Allah Bapa ke dunia ini untuk menebus kita dari segala dosa-dosa kita.

Hanya melalui Tuhan Yesus Kristus sajalah kita beroleh kasih karunia itu, yaitu apabila kita telah mengenal Tuhan Yesus Kristus yang telah di utus Bapa ke dunia ini dan mengenal Bapa satu-satunya Allah yang benar. Dalam Injil Yohanes 17:3 dicatat sebagai berikut: "Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus."

Jadi kita harus menerima Yesus Kristus yang adalah satu-satunya yang di utus Allah ke dunia ini, menjadi Tuhan dan Juruslamat dunia. Karena tidak ada nama lain yang di utus Bapa dari sorga datang ke dunia ini menjadi sama dengan manusia, kecuali Anak-Nya Yang Tunggal, yaitu Tuhan Yesus Kristus.

Amen!!! Tuhan Yesus Kristus memberkati kita semua.

23. Martua Siringoringo dari Jakarta berkata pada 15 May 2015:

Seorang "BIDAT" ialah yang menentang "FIRMAN TUHAN" atau "ALKITAB", mengajar orang diluar "PRINSHIP ALKITAB" alias "MENGADA-ADA".

Terima kasih, selamat belajar, Tuhan Yesus memberkati!!!

24. Si Tampu dari Soerabaja berkata pada 15 May 2015:

Bagaimana Anda mengasihi Allah namun tidak mengenal siapa Dia?

Bagaimana mentaati Yesus namun tidak mengetahui siapa Dia?

Bagaimana Anda menyerukan jangan ajarkan Allah Tritunggal, jika itu adalah konsep Alkitab dan dipertahankan Bapa gereja dari abad pertama sampai dengan sekarang.

Nampak sekarang "belang" pemikiran Anda, yang disayangkan adalah mengapa Anda tidak belajar dari artikel di situs ini yang limpah dengan kekayaan hikmat Tuhan dan sangat akurat baik secara teologis maupun historis.

Ayo Pak Martua, jangan kerdil dalam wawasan, tunduk pada kebenaran, akui karya Allah pula dalam sejarah. dan Dia yang mengenal-Nya lah yang diberkati

25. Adhya dari Jakarta berkata pada 15 May 2015:

Pak Tampu. Sedikit saya Sharing mengenai apa yg saya ketahui mengenai pemimpin gereja kami Pak Pdt. Stephen Tong. Beliau pernah ditanya, kenapa pak Tong kalau di mimbar terlihat galak tetapi kalau ketemu muka dengan muka tidak? Beliau mengatakan bahwa mimbar merupakan tempat yg serius. Merupakan tempat dimana pengkhotbah sedang berperang melawan iblis merebut jiwa2 dr cengkraman dosa dan menegur manusia akan dosa. Karena itu di atas mimbar bukan tempatnya untuk beramah tamah agar disukai pendengar, menyampaikan lelucon atau menyampaikan apa yg pendengar mau dengar tetapi tempat yg paling serius dan menakutkan (karena itu membutuhkan penyertaan Tuhan di atas mimbar).

Kenapa galak dan keras? Beliau pernah bilang, yg harus di benci dan ditegur keras adalah dosa, bukan orangnya. Justru harus keras terhadap dosa karena beliau sangat mencintai jiwa2 agak diselamatkan di dalam Kristus. Jadi tegur dosanya, cintai orangnya.

Jadi jangan sampai kita membenci Pak Martua karena beliau banyak menulis mengeni doktrin yg kurang tepat, tetapi tetap berharap dan mendoakan beliau, agar Tuhan dapat membukakan hatinya untuk dapat melihat kebenaran yang sejati. Tuhan memberkati.

26. Adhya dari Jakarta berkata pada 15 May 2015:

Pak Martua. Saya rasa tidak perlu bapak mempertanggung jawabkan pengertian bapak kepada saya, karena saya hanyalah orang awam yang masih banyak perlu belajar. Tetapi saya sangat merekomendasikan bapak untuk mengikuti kelas2 teologia untuk awam yg diadakan oleh gereja kami untuk dapat mengerti doktrin dan teologia, terutama mengenai teologia Reformed. Utk infonya dapat menghub:http://strij.org/.

Saya sendiri telah ikut beberapa tahun dan selama mengikuti kelas tersebut banyak sekali paradigma dan presaposisi saya yg diubahkan bahkan dirombak total. Setelah mempelajadi banyak doktrin, saya mendengar, membaca dan mengerti firman Tuhan menjadi sangat berbeda, karena saya tidak lagi melihat alkitab yang terkotak2 tetapi dapat melihat secara garis besar dan dapat melihat benang merah dari seluruh rencana Tuhan di dalam Alkitab.

Di dalam kelas tersebut tidak jarang saya melihat diskusi2 seperti ini dengan pengajar (hamba Tuhan), dan begitu banyak peserta yg memiliki pengertian yang seperti bapak dan walaupun sangat sulit untuk berubah, tetapi pada akhirnya mereka dibukakan oleh Tuhan kebenaran yang sejati. Tidak jarang dr teman2 sekelas saya yg pada awalnya banyak bertanya, tetapi pada akhirnya sama2 melayani di gereja kami, bahkan beberapa masuk sekolah teologia.

Kalau bapak di Jakarta dan ingin mempertanggung jawabkan doktrin yang bapak miliki, saya sangat menyarankan bapak untuk mengikuti kelas tgl 8 - 12 juni ini. Tuhan memberkati.

Saya berdoa agar saya, bapak, Pak Tampu, maupun pembaca yang lain dapat terus belajar dan terus mencari kebenaran yang sejati dan kiranya Tuhan mau membukakan hati dan pikiran kita. Karena pengertian akan Firman Tuhan bukan karena kita pintar, melainkan anugrah Tuhan lewat Roh kudus.

27. Si Tampu dari Soerabaja berkata pada 16 May 2015:

Dear Pak Adhya, dalam hal ini mungkin kita memiliki perspektif yang berbeda mengenai peran situs, apakah sebagai mimbar atau pertemuan "face-to face".

Yang saya lakukan bukan membenci Pak @Martua melainkan, melawan dan mematahkan orasi beliau dalam topik Tritunggal, yang menurut saya dengan "beraninya" menyalahkan artikel tertera diatas dg membawa konsep yang telah dipatahkan berabad-abad,

Soga Pak MArtu sadar akan kekurangan diri dan tergerak menimba ilmu spt yang Anda sarankan.

28. Martua Siringoringo dari Jakarta berkata pada 18 May 2015:

Dear Bp. Si Tampu,

Saya telah mengenal Allah melalui firman-Nya (Yesus Kristus), dan saya sudah mengerti kehendak-Nya dan juga isi hati-Nya, yaitu supaya kita TAAT dan SETIA kepada ALLAH, agar kita mau dibentuk dengan melakukan PERINTAHNYA, TERUTAMA untuk memberitakan INJIL, yaitu kabar baik yang diberitakan oleh TUHAN YESUS, itulah yang harus kita lakukan. Ajaran TRI TUNGGAL tidak termasuk sebagai INJIL. INJIL adalah kabar baik yang memberitakan tentang ANUGRAH TUHAN, yaitu KESELAMATAN yang telah disediakan TUHAN. Allah kita bagi umat manusia yang mengasihi "DIA".

"TRI TUNGGAL" itu tidak ada, sebab BAPA sendiri yang punya FIRMAN dan ROH. FIRMAN dan ROH KUDUS tidak bisa di pisahkan dari BAPA, karena FIRMAN dan ROH KUDUS ada di dalam BAPA.

FIRMAN ALLAH yang telah menjadi manusia, yang keluar dari BAPA adalah sebagai yang mewakili BAPA hadir di dunia bersama-sama dengan manusia (IMMANUEL dan atau SEBAGAI LOGOS ALLAH), sedangkan ROH KUDUS yang keluar dari BAPA dan masuk di dalam HATI manusia, adalah bentuk PERSEKUTUAN ALLAH dengan manusia, mewakili BAPA dan ANAK hadir di dalam HATI kita ( Yohanes 14:16-23).

Puji Tuhan, selamat belajar, Tuhan Yesus memberkati.

29. Martua Siringoringo dari Jakarta berkata pada 21 May 2015:

*BAPA, ANAK & ROH KUDUS.*

"KETIGA SEBUTAN DI ATAS TIDAKLAH MERUPAKAN TRI TUNGGAL"

Ketika kita mendalami sebutan BAPA, ANAK & ROH KUDUS, ada beberapa hal yang perlu kita pahami:

1. Apa pengertian dari kata "BAPA, ANAK & ROH KUDUS"?.

2. Apa tujuan sebutan daripada "BAPA, ANAK & ROH KUDUS"?.

3. Bagaimana kita harus meresfoni "BAPA, ANAK & ROH KUDUS?.

ULASAN.

1. Pengertian kata "BAPA & ANAK & ROH KUDUS" dalam konteks ayat Injil Matius 28:18-20, ( Yesus mendekati mereka dan berkata: " Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di Sorga dan di bumu. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.").

Sebelum kita lebih jauh mendalami kata tersebut, kita harus terlebih dahulu memahami, bahwa kata "BAPA, ANAK & ROH KUDUS" adalah "TIGA KATA SERANGKAI", artinya ke-TIGA KATA tersebut tidak bisa di pisahkan, menjadi sendiri-sendiri (BAPA sendiri, ANAK sendiri dan ROH KUDUS sendiri, karena ke-TIGA KATA TERSEBUT SALING BERKAITAN.

KETERKAITAN KATA BAPA, ANAK & ROH KUDUS dalam konteks Injil Matius 28:18-20 tersebut di atas adalah betul-betul serangkai, dimana pada ayat 20b, TUHAN YESUS BERKATA: "Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman". KATA "AKU" disana, adalah betul-betul kata pengganti BAPA, ANAK & ROH KUDUS, yaitu: BAPA, FIRMAN & ROH KUDUS yang menyertai kita senantiasa orang percaya sampai kepada akhir zaman. Jadi perkataan TUHAN YESUS, "AKU" menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman, dalam realitanya yang menyertai kita bukan TUHAN YESUS (dalam bentuk tubuh jasmani), namun adalah ROH KUDUS yang HADIR, dimana kehadiran ROH KUDUS merupakan kehadiran BAPA & ANAK (TUHAN YESUS KRISTUS) di dalam HATI setiap orang PERCAYA (baca dan pelajari Injil Yohanes 14:15-23).

Masih berlanjut ...................

Terima kasih, Tuhan Yesus memberkati.

30. Si Tampu dari Soerabaja berkata pada 22 May 2015:

Pak Martua, pandangan Anda kemungkinan disebut dengan "Modalisme", mengenai apa itu silahkan dipelajari ya Pak, dari situs ini atau dari sumber2 lain, seperti Wiki.

Dengan hanya bca sekilas tanpa mempertimbangkan prinsip eksegesa yg benar akan menghasilkan kekacauan konsep seperti Anda. Satu ayat sebagai bukti Tritunggal dan menjawab "kebebalan" Anda adalah

"...baptislah mereka dalam nama ('onoma') Bapa dan Anak dan Roh Kudus," (Mat 28:19).

"baptizing them in the name ('onoma') of the ('ho') Father, and of the ('ho') Son, and of the ('ho') Holy Ghost: (Mat 28:19)

Dalam konteks gramatika bahasa ASLI Alkitab, kata "nama" ('onoma') adalah kata tunggal, bukan "names" dlm bhs Inggrisnya. Namun setiap menyebut nama oknum Allah diawali kata "The" bahasa Yunaninya adl "ho", yang berarti "Sang Bapa" atau "Bapa itu" atau dalam bahasa indonesinya "Si Anu".

Ada tiga "the" atau "sang...", menunjukkan tiga pribadi yang berbeda dan terpisah satu sama lain, namun ketiganya adalah Allah Yang Satu (esa) dengan nama yang esa (satu).

Doktrin yang Anda tentang adl doktrin yg dibangun dengan prinsip yg menghargai kebenaran baik kebenaran scr gramatika, eksegesa dan hitorika.. Yang dimana doktrin tersebut diwarisi dari generasi pertama dan kedua orang Kristen sampai sekarang.

Mungkin sampai disini, silahkan Anda berorasi di situs ini sesuka hati Anda. Saya sudah menjawab seharusnya saya menjawab. Wasalam.

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲