Artikel

Banyak Alasan

Setiap kita pasti mengetahui bahwa penginjilan adalah panggilan utama kita sebagai orang percaya. Namun pengetahuan tersebut tidak cukup untuk mendorong kita untuk secara nyata menjalankan penginjilan. Umur kerohanian kita tentunya berbeda-beda, tetapi itu tidak menjadi alasan untuk kita tidak mengabarkan Injil. Meskipun kerohanian kita masih seumur bayi, kita pun wajib mengabarkan Injil, karena ketika kita mengaku bahwa kita percaya kepada Tuhan Yesus, di saat itulah kita menjadi murid-Nya dan menerima perintah dalam Matius 28:19-20.

Ada banyak kemungkinan yang menjadi alasan untuk kita tidak mengabarkan Injil. Pertama, mungkin kita merasa bahwa melayani Tuhan di gereja sudah cukup menjadi pengganti tugas penginjilan tersebut, sehingga kita hanya menjadi orang yang sibuk melayani di dalam gereja. Kita sibuk menjadi kolektan, guru Sekolah Minggu, atau bergabung dalam paduan suara gereja. Jika itu yang membuat kita tidak lagi mengabarkan Injil, berarti pelayanan yang kita kerjakan selama ini hanya menjadi obat bius bagi nurani kita sehingga tidak ada rasa bersalah karena tidak menginjili.

Kedua, mungkin kita tidak siap untuk mengalami penolakan dari orang yang kita injili, karena faktanya ketika kebenaran dinyatakan, tidak semua orang akan menerimanya dengan mudah. Kebenaran pastinya akan berlawanan dengan ketidakbenaran, sehingga orang yang terbiasa hidup dalam ketidakbenaran akan merasa terganggu dengan adanya kebenaran. Itulah yang membuat orang yang pertama kali mendengarkan Injil bisa menjadi marah. Hal itu yang sebenarnya ingin kita hindari. Kita tidak ingin melukai hati orang lain dan kehilangan kepercayaan mereka. Alasan ini menunjukkan bahwa kita adalah orang yang sangat egois, kita hanya memikirkan kenyamanan diri. Kita tidak ingin dilukai.

Ketiga, kemungkinan lainnya yang membuat kita tidak mengabarkan Injil adalah pemahaman kita yang setengah-setengah tentang beberapa pengajaran Kristen. Misalnya tentang predestinasi, kita percaya bahwa Allah sudah memilih umat-Nya, di mana sejak kekekalan Ia sudah menentukan siapa saja yang akan diselamatkan. Atau mengenai kedaulatan Allah, kita percaya bahwa Allah berdaulat penuh atas keselamatan manusia, sehingga kita tidak perlu mengabarkan Injil karena Allah yang sudah memilih umat-Nya dan Ia yang akan menyelamatkan mereka. Jikalau demikian, kita sedang lupa akan sisi lainnya dan mengabaikan tanggung jawab kita sebagai umat Allah.

Masih ada banyak alasan lainnya yang menghalangi kita mengabarkan Injil. Namun melalui tulisan ini, penulis ingin mengajak para pembaca untuk memikirkan alasan apa yang membuat kita harus mengabarkan Injil dan bisa menjauhkan kita dari alasan-alasan negatif yang sebelumnya sudah disebutkan di atas.

Amanat Agung Tuhan Yesus

Perintah atau amanat Tuhan kita Yesus Kristus, “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,” tercatat dalam Matius 28:19. Ini seharusnya menjadi alasan utama kita untuk menginjili dengan giat, namun kenyataannya kebanyakan dari kita tidak menghiraukan perintah ini. Kita gagal untuk melihat bahwa perintah ini adalah anugerah Tuhan yang harus kita respons dengan benar.

Perintah ini diberikan Tuhan Yesus kepada para murid setelah Ia bangkit dan menang atas maut. Tuhan Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk meneruskan kabar sukacita mengenai kemenangan-Nya itu sampai ke ujung bumi. Perintah ini tidak hanya diberikan untuk para murid di zaman saat Tuhan Yesus di dunia, melainkan untuk seluruh orang percaya di segala waktu dan tempat, termasuk kita yang hidup di zaman ini. Betapa agung dan mulia tugas dan panggilan kita sebagai orang Kristen. Tuhan Pencipta alam semesta ini rela memberikan tugas tersebut kepada kita yang merupakan manusia terbatas dan pasti gagal untuk menjalankannya. Tuhan yang sudah menyelamatkan kita dan akan menjadi Hakim bagi kita serta seluruh dunia, memercayai kita, maka sudah seharusnya kita sungguh-sungguh menjalankan perintah ini dengan rasa tanggung jawab yang serius kepada Tuhan.

Penginjilan bukanlah hal remeh. Ini adalah tugas yang begitu berat di mana kita menjadi wakil Tuhan untuk menyatakan kebenaran-Nya dan kemuliaan-Nya di tengah dunia. Tugas yang dipercayakan kepada kita ini harus dijalankan dengan benar dan seturut kehendak-Nya yang kita wakili. Jika kita tidak menginjili, celakalah kita karena mengabaikan tugas dari Tuhan yang Mahakuasa.

Tuhan yang penuh kasih tidak hanya memberikan perintah. Pada pasal yang sama dengan perintah tersebut, Tuhan Yesus juga sudah memberikan janji-Nya untuk menyertai kita, sehingga tidak ada alasan untuk kita tidak mengabarkan Injil. Ia telah membuktikan janji-Nya tersebut dalam berbagai zaman. Kekristenan ada hingga saat ini karena topangan tangan-Nya dan penyertaan-Nya kepada setiap umat-Nya yang setia.

Kasih Allah

Alasan lain yang seharusnya mendorong kita dalam mengabarkan Injil adalah kasih Allah. Ia adalah kasih. Ia menyatakan kasih-Nya kepada kita melalui pengorbanan Yesus Kristus di atas kayu salib. Apalagi yang membuat kita ragu akan kasih Allah? Anak-Nya yang tunggal pun sudah rela Ia berikan untuk menjadi Penebus kita dari hukuman dosa. Respons kita seharusnya adalah mengasihi Dia dengan seluruh hidup kita. Namun, sudahkah kita benar-benar mengasihi Dia?

Manusia melakukan segala sesuatu dengan berbagai dorongan, baik dari dalam maupun dari luar dirinya. Namun, kebanyakan manusia melakukan sesuatu karena mencintai sesuatu tersebut. Hal yang dilakukan karena dorongan cinta akan membuat hal tersebut menjadi fokus utama dan hal lain yang tidak berkaitan dengannya menjadi seakan tidak ada. Cinta terhadap sesuatu akan menghilangkan semua alasan yang mampu menghalangi dalam mencapai tujuan. Misalnya saja dalam kehidupan percintaan sepasang remaja. Sang remaja laki-laki akan melakukan segala sesuatu untuk membuat pasangannya bahagia. Ia akan rela menguras tabungan dan seluruh waktunya untuk membahagiakan pasangannya. Cinta itu membuat ia lupa segala kesulitannya. Apakah kita seperti remaja laki-laki ini dalam mengasihi Tuhan?

Kasih kita kepada Allah seharusnya membuat kita tidak sempat memikirkan alasan-alasan untuk tidak mengabarkan Injil seperti yang sudah dituliskan sebelumnya, seperti para misionaris yang rela menempuh hidup yang sulit dan penuh ancaman untuk menyampaikan Injil kepada orang lain yang belum percaya. Kasih kepada Allah yang membuat mereka mengabaikan keamanan diri. Mereka mengasihi Tuhan dengan sungguh dan dapat memiliki hati yang berbelaskasihan kepada dunia yang sedang menuju kebinasaan ini. Ketika kita mengasihi Tuhan, maka kita pun akan mengasihi yang Tuhan kasihi.

Bayar Utang

Paulus adalah orang yang begitu mengasihi Tuhan. Setelah pertobatannya, ia menjadi orang yang sangat gigih dalam memberitakan Tuhan Yesus. Selain karena kasihnya kepada Tuhan, ia memberitakan Injil karena suatu perasaan berutang kepada orang lain seperti yang tertulis dalam Roma 1:14-15. Paulus dengan berani menginjili sebagai suatu tindakan yang mengikuti perasaan berutang tersebut.

Kita seharusnya meneladani Paulus. Kita sama seperti Paulus, orang berdosa yang seharusnya menerima murka Allah, namun mendapat belas kasihan-Nya. Kita berutang kepada dunia ini untuk menyatakan kasih tersebut dan terutama untuk mengabarkan Injil. Kita sudah mendengar Injil dan menjadi percaya, seharusnya kita pergi melanjutkan berita tersebut kepada siapa saja yang belum percaya dan membiarkan Roh Kudus yang bekerja dalam hati mereka. Perasaan berutang itu harus diikuti dengan pelunasannya, yaitu menyatakan kasih Allah dan mengabarkan Injil.

Waktu yang Terbatas

Utang harus dibayar sesuai dengan batas waktu yang diberikan. Begitu juga dengan kita, kita tidak mempunyai waktu yang tidak terbatas di dunia ini untuk membayar utang kita. Sebagai manusia berdosa, kita semua pasti akan mati dan saat itulah waktu kita habis. Kita harus kembali kepada Tuhan dan mempertanggungjawabkan seluruh hidup kita selama di dunia.

Kita adalah manusia yang terbatas oleh waktu. Kita tidak bisa mengatur waktu sesuai kehendak kita. Kita tidak bisa mengatur kapan kita akan dilahirkan dan tentunya kita tidak bisa mengatur kapan kita mati. Sehingga dengan kesadaran ini seharusnya kita tidak melewatkan waktu hidup kita untuk hal yang sia-sia. Kita harus siap sedia kapan pun waktunya Tuhan memanggil kita atau kapan pun Tuhan akan datang kedua kalinya di dunia ini.

Seorang penderita kanker stadium empat yang divonis bahwa satu bulan lagi ia akan mati tidak akan menghabiskan waktunya untuk hal-hal remeh. Ia tidak akan menonton televisi seharian dan makan serta tidur terus-menerus. Melainkan ia akan memanfaatkan waktunya yang tersisa itu untuk melakukan banyak hal yang ia rasa penting. Ia akan mengunjungi setiap keluarganya dan menyampaikan kalimat perpisahan. Ia akan menemui rekan-rekannya untuk meminta maaf. Ia akan melakukan banyak hal untuk mewujudkan impiannya yang tersisa. Kemudian ia akan mengakhiri hidupnya dengan tenang.

Kita harus memiliki kesadaran seperti yang dicontohkan di atas. Waktu kita begitu singkat di dunia ini. Kita tidak tahu bagaimana kita akan mengakhiri hidup. Namun selama Tuhan masih memberikan waktu bagi kita, hendaknya kita mempergunakan segala anugerah tersebut dengan bijaksana. Setia melakukan Amanat Agung yang Tuhan Yesus berikan sampai Ia datang kedua kalinya dan kita siap bertemu dengan-Nya muka dengan muka.

Penutup

Kita sudah membahas beberapa alasan yang seharusnya mendorong kita untuk mengabarkan Injil. Namun semua hal tersebut akan sia-sia jika kita hanya menyimpannya di dalam kepala. Setiap pembelajaran untuk makin mengenal Tuhan tidak cukup hanya dengan membaca dan menghafal, namun perlu waktu untuk merenungkannya dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, kita bisa dengan mudah menyetujui yang sudah kita baca di atas, namun semua akan sia-sia jika hati kita pada dasarnya hanya terpaut kepada dunia. Dunia dengan segala kenyamanannya akan membuat kita melupakan alasan-alasan di atas. Dunia memang terlihat menarik, namun ingatlah akan kesementaraannya. Berbeda dengan janji Tuhan yang kekal selamanya.

Berita Injil yang sudah kita terima bukanlah hal yang harus kita simpan dan sembunyikan dari orang lain, melainkan harus kita bagikan dan nyatakan melalui hidup kita. Jika kita percaya bahwa Injil adalah kebenaran yang membebaskan, tidakkah kita sangat egois jika menahannya sendiri dan melihat orang lain berada dalam belenggu dosa? Bersyukur kepada Tuhan memang respons pertama setelah kita mendengar Injil, namun respons selanjutnyalah yang menjadi penting. Ada banyak orang yang sudah mendengar Injil namun sedikit yang mau meneruskannya kepada yang lain. Ada banyak orang yang mengaku pengikut Kristus namun enggan untuk memperkenalkan Kristus kepada dunia. Apakah kita salah satunya? Jika iya, mari bertobat dan minta pengampunan Tuhan.

Melalui tulisan ini, penulis mengajak kita semua untuk setia mengabarkan Kristus yang adalah satu-satunya Juruselamat dunia. Ada banyak cara untuk dapat mengabarkan Injil, namun yang harus kita ingat adalah bagaimana membawa orang lain melihat Kristus dan menjadi percaya. Memang bukan bagian kita untuk membuat orang menjadi percaya, namun Kristus yang sudah menjanjikan penyertaan-Nya bagi kita akan membuat perkerjaan kita untuk mengabarkan Injil menjadi berhasil. Bukan keinginan akan keberhasilan itu yang menjadi motivasi kita, tetapi keinginan menyenangkan dan memuliakan Tuhan, itulah yang menjadi motivasi kita. Kiranya Tuhan memberikan kita sekali lagi pertobatan di hadapan-Nya.

Rose Purba

Pemudi FIRES

Referensi:

  1. 1. Tong, Stephen. 1988. Theologi Penginjilan. Surabaya: Momentum.
  2. 2. Packer, J. I. 2014. Penginjilan dan Kedaulatan Allah. Surabaya: Momentum.

Rose Purba

Agustus 2020

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk acara Global Convention on Christian Faith and World Evangelization dan Seminar Reformasi 2020 yang telah dilaksanakan pada bulan Oktober 2020.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2020 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲