Artikel

Berapa Harga Sebuah Alkitab Kita?

“Laper nih, makan yuks!”, “Lagi sakit, mau cari dokter nih!”, “Gawat kolesterolku naik, jangan makan makanan berlemak dululah!”, “Berat badan makin naik, kudu olahraga nih!”, “Badan lagi gak fit jadi harus minum vitamin dan jaga makan”, “Lagi sakit, mau cek ke dokter nih!”. Saatnya medical check up, pembersihan karang gigi, tambal gigi berlubang, ikut fitness, atur waktu buat olahraga, banyaklah minum air putih, istirahatlah yang cukup, jangan makan sembarangan, kurangi junk food, en bla bla bla bla. Daftar di atas masih bisa terus bertambah panjang bila dilanjutkan. Sering kali ketika kesehatan kita bermasalah, kita sangat terganggu dan akan cepat untuk mengambil langkah. Hal yang kelihatan memang terbukti lebih ampuh  mengganggu kita daripada hal yang tidak kelihatan. Ketika tubuh ini tidak beres, dengan segera kita berusaha mencari tahu penyebabnya dan penyembuhannya. Kita sangat peka untuk melakukan sesuatu demi hal itu. Kita pun cekatan mengambil langkah untuk hal yang kita anggap mendesak. Tapi ketika ada sesuatu yang sedang terjadi dan tidak beres dengan keadaan kerohanian kita, apakah yang kita lakukan? Segerakah kita mengambil langkah? Mencari tahu penyebabnya? Mengusahakan sesuatu? Atau jangan-jangan kita tidak lagi peka bahwa sesuatu yang tidak beres telah terjadi dengan kerohanian kita. Kita tidak lagi bisa mendeteksi apa yang sedang terjadi dengan kehidupan spiritual kita. Meminjam satu ungkapan yang cocok dengan keadaan ini: You know how to feed your mouth to eat three times a day, but not for your soul.

Setiap orang tahu bahwa mereka membutuhkan makanan yang cukup bergizi untuk membuatnya bertumbuh dengan sehat, sama halnya setiap orang Kristen juga tahu apa yang mereka butuhkan untuk membuat kerohaniannya bertumbuh dengan sehat. Melampaui keduanya, orang Kristen Reformed tahu ada hal yang tidak mungkin dan haram mereka abaikan untuk bertumbuh, yakni mempelajari buku yang sudah bertahun-tahun ada di dekat mereka dan buku wajib yang mereka sering bawa setiap minggu namun sering kali diperlakukan tidak “wajib” untuk dibaca setiap hari: Alkitab!

Apakah tujuan utama manusia? Rata-rata orang Reformed pun akan tahu ketika mereka ditanya mengenai pertanyaan pertama dari salah satu dokumen agung dalam sejarah kekristenan, Katekismus Westminster, dan mereka pun bisa menjawab pertanyaan itu dengan baik, yakni untuk memuliakan Allah dan untuk menikmati Dia selamanya. Namun sering kali kita cuma berhenti di pertanyaan pertama Katekismus tersebut tanpa melanjutkan pertanyaan kedua. Padahal pertanyaan kedua adalah apa perjuangan yang harus dikerjakan untuk mengejar yang pertama, dan berbunyi demikian, “Pedoman apakah yang telah diberikan Allah untuk menunjukkan kepada kita bagaimana memuliakan serta hidup memperkenan Dia?” Jawabannya adalah: “Firman Allah yang termuat di dalam Alkitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru merupakan satu-satunya pedoman pembimbing kita dalam memuliakan serta memperkenan Allah.”

Alkitab, firman Tuhan adalah satu-satunya pedoman pembimbing kita dalam memuliakan dan memperkenan Dia dan lagi-lagi semua orang Kristen tahu hal ini. Namun seberapakah seorang Kristen menggeluti buku yang diagungkan sebagai firman Tuhan ini, seberapakah seorang Kristen ingin tahu apa yang Tuhan nyatakan lewat tulisan-tulisan di dalamnya. Siapakah Dia dan apakah kehendak-Nya untuk kita lakukan masih menjadi interest kita sebagai orang yang katanya penyembah Allah sejati ini?

Kita sangat bangga mengaku diri kita sebagai Kristen Reformed. Entah mungkin karena gereja ini sedemikian megah dan kokoh berdiri di pusat ibu kota Indonesia dan kita bernaung di bawah kebesaran ini, ataukah mungkin karena ada seorang hamba Tuhan besar yang Tuhan bangkitkan di zaman ini dan kita bersembunyi dibalik kekaguman kita akan beliau? Atau mungkin karena banyak pekerjaan besar telah dikerjakan gereja ini sehingga kita memparasitkan diri kita dengan kebesaran pencapaian Reformed? Apa yang membuat kita bangga mengaku sebagai seorang Kristen Reformed? Apakah yang menjadikan seorang Refomed adalah Reformed? Tentu ada banyak sekali ciri yang bisa kita list atas pertanyaan tersebut. Sering kita mendengar dari mimbar, Pdt. Stephen Tong mengatakan bahwa Gerakan Reformed adalah gerakan yang begitu mulia yang Tuhan bangkitkan dalam sejarah, satu gerakan yang ingin membawa gereja untuk kembali pada apa yang benar, dan apa yang benar adalah apa yang terus diperjuangkan Reformator dalam sejarah yaitu semangat kembali kepada Kitab Suci. Dan satu ciri yang tidak boleh tidak ada dari seorang yang menyebut Reformed adalah cinta pada Kitab Suci.

Perjuangan Reformasi dimulai dari cinta akan Kitab Suci dan kebenaran, dimulai dari kesakitan saat kebenaran Kitab Suci dipalsukan, dimulai saat hati kecil terpanggil, terdesak dan tidak lagi tertahankan untuk membela kebenaran. Perjuangan Reformasi adalah perjuangan yang memperjuangkan Alkitab. Di sepanjang jalan sejarah ini, banyak darah telah tertumpah demi Alkitab. Alkitab terdiri dari sekitar 1.000 halaman, terdiri dari 66 kitab, dan ditulis oleh beberapa puluh penulis dari berbagai tempat dan masa adalah buku “sederhana” yang telah “menelan“ korban yang tidak sedikit dalam sejarah manusia, namun buku sederhana yang sama ini juga adalah buku yang telah mengubah hidup banyak orang, sampai orang yang sudah terpikat padanya rela mati untuknya. James Kennedy, dalam bukunya “Bagaimana Jika Alkitab Tidak Pernah Ditulis?“, menulis dengan baik dan mendalam mengenai dampak Kitab segala Kitab ini pada umat manusia, sambil menunjuk ke wilayah spesifik dalam masyarakat masa kini yang tidak akan menjadi seperti sekarang, andai saja bukan karena Alkitab. Kumpulan kitab ini telah menjadi inspirasi dan pembangkit semangat bagi hampir semua penjelajah besar, para ilmuwan, penulis termasyhur, artis, politisi hebat, pendidik terkenal yang pernah dikenal dunia. Dan kitab yang telah mempengaruhi begitu banyak orang ini telah mampu bertahan dalam ujian waktu dan pembencinya yang telah berkali-kali ingin menghancurkannya. Namun buku ini masih ada sampai hari ini, masih mudah ditemukan di rumah kita, dijual di toko buku, dan ditemukan tak berpemilik di rak lost and found gereja kita. Alkitab adalah buku terpenting yang pernah ditulis - anugerah bagi kita dari Tuhan sendiri. Jika Anda ingin menemukan Tuhan, mengenal-Nya, mengerti kehendak-Nya, rencana-Nya bagi dunia, mulailah dari buku ini dan hanya ada di dalam buku ini saja. Jika buku ini telah mengubah banyak orang, apakah buku ini juga mengubahmu?

Sering kali keterbiasaan membuat kita tidak lagi menghargai sesuatu, kita lebih menghargai dan senang meng-explore sesuatu yang baru, dan itu pun terjadi saat kita memperlakukan Alkitab. Banyak dari kita lebih bangga selesai membaca buku theologi daripada membaca Alkitab. Kita lebih ketakutan ketinggalan buku theologi daripada ketinggalan Alkitab. Lebih mengenal Luther daripada Musa. Lebih mengenal Calvin daripada Paulus. Kita mengumpulkan istilah theologis tapi berhenti untuk menggali Alkitab apalagi menghidupi kebenaran darinya. Hal ini bukan berarti kita tidak mempelajari buku lain selain Alkitab atau bukan juga berarti kita anti belajar theologi dan hanya belajar dari Alkitab saja. Karena toh isi Alkitab dikeluarkan oleh banyak theolog yang mempelajari Kitab Suci menjadi pemahaman theologi, dan theologi bisa menjadi jembatan yang memudahkan orang untuk belajar apa yang Kitab Suci ingin kita mengerti, tapi adalah hal yang sangat menyedihkan saat kita belajar theologi, tidak membuat kita semakin mencintai Alkitab, sumber dari theologi yang benar.

Kita tidak lagi menganggap penting mempelajari Alkitab karena sudah menggantikan studi PA pribadi kita dengan khotbah-khotbah di kebaktian dan persekutuan serta seminar-seminar. Dan kita merasa itu sudah cukup. Kita tidak lagi antusias dengan buku ini. Buku ini sudah lama kita miliki dan tidak lagi menarik untuk dipelajari. Saya teringat akan anak-anak kecil di salah satu sekolah di Teluk Gong yang tidak pernah melihat Alkitab, dan mereka menyebut Alkitab adalah kamus sampai suatu hari saya membawa Alkitab dan mereka begitu semangat untuk bergantian meminjam dan membacanya. Spirit antusias yang sudah hilang dari jiwa saya yang suka menyebut diri Reformed, membaca buku theologi, mengikuti seminar yang bagus tapi kehilangan kerinduan untuk mempelajari Alkitab. Sering kali, saya mengatasnamakan belajar theologi dalam rangka memahami Alkitab tapi sebetulnya jauh di dalam hati saya, kerinduan dan usaha mempelajari Alkitab sudah tidak ada lagi. Saya mempelajari theologi dalam rangka belajar theologi itu sendiri, bukan lagi dalam rangka memahami Alkitab sebagai wahyu khusus yang Tuhan berikan untuk memperkenalkan Diri-Nya. Knowing God or knowing about God? Apakah saya sungguh adalah seorang Kristen Reformed, sang pencinta Kitab Suci?

Demi buku yang sering kita abaikan ini, banyak orang yang mencintainya telah memberikan seluruh hidup mereka, berjuang agar buku ini bisa dibaca dalam bahasa yang dimengerti banyak orang, misionaris membaktikan seluruh hidup demi menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa suku. Banyak orang rindu menerjemahkan Alkitab untuk mengerti isinya. Salah satu orang yang melakukannya adalah John Wycliffe. Dia adalah orang pertama yang menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Inggris (dari Alkitab Latin Vulgate yang diterjemahkan Jerome pada tahun 404 AD) dan memproduksinya di tahun 1382. Ia melakukannya satu abad sebelum reformasi Martin Luther di Jerman, karena  ia rindu agar orang awam pun bisa mengerti Alkitab dalam bahasa mereka. Di tengah keadaan kacau dari pengajaran gereja yang sudah sangat jauh bergeser dari pengajaran Alkitab, maka Wycliffe percaya bahwa Alkitab adalah Otoritas untuk kebenaran dan hidup, maka ia mulai berjuang menerjemahkan Alkitab berbahasa Inggris edisi Perjanjian Baru. Karena pada masa itu belum ditemukan mesin cetak, maka semua lembar Alkitab harus ditulis dengan tangan. Untuk menulis tangan sebuah Alkitab Perjanjian Baru dibutuhkan waktu sampai berbulan-bulan. Akibatnya tentu saja harga sebuah Alkitab menjadi sangat mahal. Saat itu, banyak orang yang haus membaca firman Tuhan, tetapi karena harganya yang sangat mahal maka sangat sedikit yang mampu membelinya. Sehingga ada yang rela membayar cukup mahal agar bisa membaca Alkitab “selama 1 atau 2 jam” karena tidak mampu membeli satu buku utuh. Begitu hausnya orang pada zaman itu, rela membayar untuk bisa meminjam Alkitab dengan waktu baca hanya 1 atau 2 jam saja. Bagaimana dengan Alkitab utuh yang ada di tangan kita? Kita punya berbagai macam terjemahan yang lengkap dengan tools yang memungkinkan kita untuk bisa mengerti Alkitab dengan lebih mudah dibanding orang zaman dulu, kita memiliki kamus bahasa asli Alkitab, konkordansi, ensiklopedia, commentary yang ditulis oleh pendahulu kita yang pernah menggeluti buku ini, kita punya banyak akses yang memungkinkan kita untuk belajar dan mendapat pengertian dari buku ini tapi mengapa buku ini masih tergeletak rapi di sudut rak, bersih karena jarang disentuh dan baru kita ingat saat hari Minggu tiba dan kita harus membawanya ke habitatnya, yakni gereja? Kalau orang percaya yang hidup di abad ke-13 melihat kondisi ini mungkin mereka akan menangis, karena di abad lalu mereka begitu haus membacanya, tapi tidak bisa memilikinya. Sementara kita bisa memiliki lebih dari satu Alkitab utuh, berbagai versi dan bahasa dengan begitu mudah dan murahnya. Wycliffe membayar kerinduannya dengan kematiannya bahkan sampai 30 tahun sesudah kematiannya, larangan membaca Alkitab edisi bahasa Inggris dikeluarkan dengan ancaman kehilangan harta benda sampai nyawa. John Wycliffe, John Hus, William Tyndale, John Rogers, Thomas Cranmer, Thomas Hitton adalah cuma beberapa saja dari sekian banyak orang yang mencintai Alkitab, memiliki dan menerjemahkannya, tapi mereka dianggap terkutuk dan dihukum mati dengan sadis. Kita tidak dibakar hidup-hidup saat memiliki dan membaca Alkitab tapi tetap saja kita tidak membacanya. Kita cuma membayar beberapa puluh ribu rupiah untuk sebuah Alkitab, tapi mereka membayar Akitab dengan nyawa mereka.

Apakah yang sedang terjadi dengan ke-reformed-an kita yang mengagungkan Sola Scriptura?  Apakah semangat reformasi yang mencintai Alkitab masih ada di dalam kerinduan kita? Apakah kita menghargai Alkitab yang di tangan kita? Masihkah kita rajin membaca dan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh seperti yang pernah dilakukan para Reformator kita?

Tanty
Pemudi GRII Pusat

Tanty

Juli 2011

1 tanggapan.

1. braga romano italo lozeo azea dari boyolali berkata pada 25 June 2012:

semoga tuhan memberkati

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Nama
Kota
Alamat imel
Pastikan alamat imel anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui imel.
 
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk KIN bagi Guru Sekolah Minggu dan Guru Pendidikan Agama Kristen yang telah diadakan pada tanggal 11-16 November 2014. Bersyukur untuk lebih dari 3.000 peserta yang telah menghadiri acara ini, kiranya api penginjilan yang telah dikobarkan terus membara.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Ditengah suasana Natal kita diingatkan untuk melihat dan mengingat dengan pasti pada kedatanganNya yang Pertama...

Selengkapnya...

Struktur dan pembagian al-quran. al-quran terdiri ats 114 bagian yg dikenal dgn nama suroh ( surat ) dan 6666...

Selengkapnya...

Samson memang memiliki karakter yang tidak taat, ketika ia menjadi hakim bagi bangsa Israel, dia juga mengambil...

Selengkapnya...

Terimakasih buat renungannya yang sangat memberkati saya sebagai bahan reference untuk share di big group nanti...

Selengkapnya...

samson dapat menjadi simbol iman ketaatan dan keberanian

Selengkapnya...

© 2010, 2014 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲