Artikel

Bersaksi

Bersaksi – Perintah yang Berat dan Hak Istimewa
Bersaksi mungkin bukan suatu kata yang asing bagi kita semua. Setiap orang memberi dan mendapatkan berbagai bentuk kesaksian dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini terlihat sangat sederhana secara fenomena karena “hanya” melibatkan penyaluran informasi dari satu pihak ke pihak lain. Tetapi sejarah mengajarkan bahwa kesaksian yang berdasarkan kebenaran dan kesaksian palsu dapat memberikan hasil yang jauh berbeda. Lewat kesaksian Martin Luther yang hanya berdasarkan Kitab Suci, ajaran para rasul boleh diturunkan dari generasi ke generasi. Sebaliknya, lewat kesaksian-kesaksian palsu di pengadilan, dunia harus kehilangan seorang genius bernama Sokrates.

Bersaksi sebagai Perintah
Dalam konteks kekristenan, bersaksi merupakan salah satu panggilan utama orang Kristen yang keluar dari mulut Yesus Kristus sendiri. Pada momen-momen paling akhir sebelum terangkat ke sorga, Tuhan Yesus dua kali mengulangi perintah untuk bersaksi. Pertama, dalam amanat agung-Nya, Tuhan Yesus menginginkan orang-orang percaya untuk pergi dan menjadikan semua bangsa murid-Nya. Perintah ini mengandung implikasi penginjilan karena sebelum seseorang dimuridkan ia harus terlebih dahulu diselamatkan, melalui pendengaran akan Injil Kristus. Selain itu, Kisah Rasul 1:8 juga mencatat bahwa Tuhan Yesus menjanjikan kuasa dan penyertaan Roh Kudus untuk mendukung pengabaran Injil sampai ke ujung bumi.

Hal ini sangat konsisten dengan dua perintah kasih, yaitu: Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hati, jiwa, kekuatan, akal budimu dan; Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Dalam 1 Yohanes 5:2-3, mengasihi Allah berarti menaati perintah-perintah-Nya, termasuk mengabarkan Injil sesuai dengan amanat-Nya.

Mengasihi Allah juga berarti mengasihi gereja-Nya, yang untuknya Kristus telah mati dan bangkit. Hal ini termasuk bersaksi untuk membawa kembali anggota gereja universal, yang telah dipilih sebelum dunia diciptakan tetapi sementara masih belum mengenal Tuhan.

Meskipun banyak orang Kristen setuju secara kognitif akan pentingnya penginjilan, tetapi dalam realitas kehidupan, menjalankannya tidaklah semudah yang dibayangkan. Ini merupakan suatu perintah yang berat dan sarat dengan penolakan karena orang yang paling membutuhkan Injil justru merasa diri tidak membutuhkan Injil. Apalagi hal ini berada di wilayah metafisika yang tidak dapat secara langsung dilihat and diraba oleh indera manusia. Secara natural, manusia yang telah jatuh dalam dosa akan menolak Injil karena semua manusia telah mati terhadap kebenaran. Tanpa pertolongan Roh Kudus, tidak ada seorang pun yang mampu merespons Injil dengan benar. Karena itu, orang percaya tidak perlu berkecil hati menghadapi penolakan demi penolakan karena hanya anugerah yang mampu membuat orang tersebut meresponi dengan tepat. Perintah yang berat? Ya, tetapi tak ada yang mustahil bagi Allah.

Bersaksi sebagai Hak
Selain sebagai perintah, memberitakan Injil merupakan suatu hak istimewa yang Tuhan berikan kepada gereja-Nya, orang-orang yang telah mengecap anugerah keselamatan. Kristus yang diberitakan dalam Injil adalah satu-satunya jalan di mana manusia dapat diselamatkan. Ini membuat Injil Kristus menjadi sesuatu yang sangat berharga dan dibutuhkan semua orang. Sebelum gereja mula-mula terbentuk, Allah Tritunggal telah terlebih dahulu memberikan teladan dalam bersaksi - menunjuk langsung pada Kristus sebagai penggenap rencana keselamatan:
 Allah Bapa bersaksi tentang Kristus pada waktu pembaptisan di Sungai Yordan (Mat. 3:17) dan transfigurasi di atas gunung (Mat. 17:5).
Allah Anak bersaksi tentang diri-Nya sendiri dalam pelayanan-Nya di dunia (Yoh. 4:26, Yoh. 18:37).
Allah Roh Kudus memenuhi Petrus untuk bersaksi di hari Pentakosta (Kis. 2) and bekerja di hati setiap orang yang mendengar Injil sampai saat ini.

Bukankah ini suatu privilege jika saudara dan saya dipercaya untuk meneruskan pengabaran Injil yang dimulai Allah sendiri?

Secara pribadi, pernahkah teman-teman bertanya-tanya jika pengabaran Injil begitu penting mengapa Tuhan tidak datang sendiri dengan kemuliaan atau setidaknya mengutus malaikat untuk memberitakan Injil? Bukankah jauh lebih mudah dan cepat jika Tuhan mau menyatakan diri-Nya kepada dunia seperti waktu Dia menyatakan diri kepada Paulus? Mengapa Tuhan “harus” mengandalkan gereja-Nya yang seringkali lamban, ragu-ragu, dan kurang cinta kasih ini? Saya juga pernah mempunyai pertanyaan yang sama. Pdt. Stephen Tong pernah berkata bahwa malaikat pun tidak layak untuk mengabarkan Injil karena mereka tidak pernah mengalami Injil. Hanya orang yang pernah menerima dan mengalami Injil yang dilayakkan untuk mengabarkan kabar baik itu.

Bersaksi merupakan suatu yang unik dalam kekristenan karena ini merupakan sebuah perintah sekaligus hak istimewa yang dipercayakan Allah kepada gereja-Nya. Perintah untuk menginjili mendorong kita secara eksternal untuk bersaksi demi kemuliaan Allah. Hak Istimewa untuk menginjili mendorong kita secara internal untuk bersaksi tentang anugerah yang telah kita terima melalui Iman. Anugerah yang begitu besar yang membuat kita tidak bisa tinggal diam. Memperoleh perintah dan hak istimewa ini seharusnya membuat gereja gentar - bukan terlena dan sombong - karena Allah telah rela untuk menjadikan gereja mitra kerja-Nya.

Dalam kehidupan kita, sadar atau tidak sadar, kita semua adalah saksi Kristus, baik secara verbal maupun sikap dan perbuatan. Tidak ada seorang pun yang tidak bersaksi, yang ada hanyalah saksi yang sejati dan yang palsu. Waktu kita secara fenomena tidak bersaksi secara lisan, tidak mengakui Tuhan dalam sikap dan perbuatan kita, sesungguhnya kita sedang menyaksikan image Tuhan yang palsu. Pada waktu kita mengandalkan diri sendiri dan tidak beriman, kita sedang mengimplikasikan Tuhan yang tidak Maha Kuasa and tidak layak dipercaya. Pada waktu kita tutup mulut padahal semestinya memberitakan Injil, kita sedang mengimplikasikan bahwa Injil tidak begitu significant dan Kristus bukan satu-satunya jalan dan kebenaran dan hidup. Pada waktu kita tidak memberikan yang terbaik sewaktu bos tidak melihat, kita sedang mengimplikasikan Tuhan yang tidak Mahatahu atau bahkan Tuhan itu tidak ada. And the list goes on.

Pertanyaannya bukan maukah kita semua bersaksi, tetapi setelah mendapatkan perintah dan hak istimewa ini: Apakah kita mau setia menjadi saksi yang sejati atau secara tidak sadar kita telah menjadi saksi yang palsu? Apakah melalui perkataan dan perbuatan kita orang dibawa untuk mengenal atau menjauhi Kristus? Soli Deo Gloria.

Hendry Lieviant
Pemuda GRII Singapura

Hendry Lieviant

Oktober 2011

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲