Artikel

Christian Ministry, Self-Actualization, and God's Will

Sejauh ini kita sudah membahas 3 kebangunan yang menjadi ciri-ciri dari pemuda Reformed Injili, yaitu kebangunan theologi, epistemologi, dan etika. Kebangunan theologi menjadi langkah pertama yang penting bagi seorang pemuda Reformed Injili. Kelahiran baru seorang Kristen sejati seharusnya diikuti dengan kecintaannya kepada firman Tuhan. Bukan hanya munculnya kerinduan untuk membaca Alkitab secara disiplin, tetapi juga adanya keinginan orang percaya untuk mengerti firman lebih dalam lagi. Semakin intense dan disiplinnya seorang pemuda mempelajari Alkitab, secara bertahap kerangka berpikirnya pun semakin berubah. Cara pandangnya akan kebenaran juga berubah. Kebenaran tidak lagi ditentukan berdasarkan keinginan diri tetapi berdasarkan pernyataan Tuhan di dalam Alkitab. Mereka akan melihat segala kebenaran dan pengetahuan yang dipelajari berdasarkan terang firman Tuhan. Inilah kebangkitan yang kedua yaitu kebangkitan epistemologi. Ketika kita sudah dibukakan akan kebenaran yang sejati dan kerangka berpikir kita pun semakin dibarui, maka hidup kita pasti akan berubah. Kebenaran yang sejati tidak mungkin berhenti di dalam ranah informasi saja. Kebenaran yang sejati akan mendorong kita untuk mempraktikkannya di dalam realitas hidup. Maka kebangkitan yang ketiga adalah kebangkitan etika. Kehidupan yang semakin sesuai dengan firman Tuhan menjadi ciri dari kebangkitan ini. Segala kebenaran yang Tuhan sudah anugerahkan, kita jalankan secara utuh di dalam hidup kita.

Namun, kehidupan Kristen bukanlah kehidupan yang escapism, atau mengucilkan diri dari dunia. Kehidupan Kristen adalah kehidupan yang berjuang membangun kehidupan yang benar, lalu memakai hidup ini untuk menyatakan kehendak Allah di dalam dunia ini. Kehidupan yang menjadi saluran berkat, menjalankan pekerjaan yang Allah sudah nyatakan melalui firman-Nya. Ini adalah kebangkitan yang keempat yaitu kebangkitan pelayanan. Kebangkitan yang menyadarkan pemuda untuk melayani, bukan untuk mencari apa yang diinginkannya, menikmatinya, atau hanya ingin dilayani. Kita menjadi pemuda-pemudi yang sadar bahwa hidup adalah untuk menjadi berkat, bukan lagi untuk kepentingan diri.

Menjalankan kehidupan Kristen yang menjadi berkat adalah sebuah tantangan, khususnya pada zaman ini. Kehidupan yang memberikan diri bagi orang lain secara tulus menjadi pemandangan yang sangat langka bagi zaman yang begitu egois. Bahkan semangat yang mementingkan diri sendiri ini memengaruhi hingga ke dalam gereja. Akibatnya, kehidupan beribadah hingga pelayanan tercemar oleh semangat egoisme ini. Pelayanan tidak lagi menjadi wadah untuk menyalurkan berkat Tuhan, tetapi menjadi ajang untuk aktualisasi diri. Tantangan ini terjadi secara nyata di dalam gereja saat ini, khususnya di kalangan pemuda. Ironisnya, banyak gereja yang tidak sadar sudah terbawa semangat ini. Pelayanan dijadikan sebagai wadah untuk para pemuda mengaktualisasikan dirinya, dan hal ini adalah cara bagi gereja untuk menarik atau menjaring pemuda. Namun, hal ini menjadi sebuah kanker atau bom waktu bagi gereja, karena dengan berkompromi menjangkau mereka, gereja sedang mempertaruhkan masa depannya. Ini adalah sebuah ironi yang kita harus waspadai. Artikel ini akan membahas tantangan tersebut. Kita akan melihat bagaimana tantangan tersebut membahayakan keberadaan gereja. Lalu, kita juga akan membahas bagaimana seharusnya sebuah pelayanan dihidupi, khususnya di dalam konteks pemuda.

Self-Actualization in Egoistic Age
Masa setelah perang dunia adalah masa yang menimbulkan banyak masalah sosial, salah satu masalah utama adalah identitas diri. Salah satu efek samping dari perang dunia adalah banyak meninggalnya kaum pria, dalam hal ini figur ayah sebagai kepala keluarga. Akibatnya, banyak anak yang dibesarkan secara timpang dan mereka menjadi anak-anak yang hidup di dalam krisis identitas. Selain itu, secara psikologis dan sosial, perang dunia pun meninggalkan trauma bagi generasi-generasi selanjutnya. Hal ini menjadikan institusi keluarga mengalami ketimpangan. Oleh karena itu, masa pasca perang dunia menjadi masa perkembangan ilmu psikologi dan sosial yang cukup signifikan, disebabkan oleh semakin kompleksnya masalah-masalah sosial yang terjadi pada masa ini. Faktor inilah yang menjadi salah satu pendorong lahirnya semangat postmodern yang kental dengan semangat individualisme. Semangat yang mendorong setiap individu untuk menjadikan dirinya sebagai pusat perhatian dengan mengaktualisasikan dirinya. Inilah semangat yang kental terjadi pada masa ini di dalam setiap lapisan masyarakat.

Salah satu teori yang mungkin kita semua pernah kenal adalah Maslow’s Hierarchy of Needs.

Teori Maslow ini sering kali digambarkan dengan piramida dengan level paling bawah, kebutuhan fisik, sebagai hal yang paling mendasar hingga ke level paling atas, yaitu aktualisasi diri. Dari kelima level ini Maslow membaginya menjadi dua kelompok. Kelompok yang pertama disebut sebagai deficiency needs, yaitu physiological, safety, love/belonging, esteem needs. Empat kebutuhan ini dianggap sebagai kebutuhan dasar yang kalau tidak terpenuhi akan menimbulkan rasa cemas, walaupun secara fisik mungkin tidak terlalu terlihat secara signifikan. Jikalau keempat kebutuhan tidak terpenuhi, maka kebutuhan yang lebih tinggi, yaitu self-actualization, tidak akan dirasa perlu. Oleh karena ini, self-actualization dianggap sebagai secondary level of needs. Maslow menyatakan lebih lanjut bahwa ada tipe kebutuhan yang akan lebih dominan dan perlu untuk dipenuhi lebih dahulu. Walaupun pada dasarnya setiap orang memiliki kecenderungan yang berbeda di dalam level kebutuhan, tetapi Maslow tetap menekankan bahwa kebutuhan dasar harus dipenuhi dahulu, baru kemudian manusia mulai mencari kebutuhan yang lebih tinggi (secondary level). Maslow menyatakan bahwa self-actualization dibutuhkan manusia untuk menyatakan dirinya yang seharusnya, “What a man can be, he must be.” Kebutuhan ini dianggap sebagai kebutuhan dari manusia dalam menyatakan potensi dirinya secara utuh.

Teori Maslow ini menjadi gambaran dari manifestasi semangat zaman pasca perang dunia. Pemenuhan kebutuhan manusia menjadi isu yang menarik untuk dibahas. Selain teori Maslow, berkembang banyak teori lainnya mengenai kebutuhan hidup manusia karena di zaman postmodern inilah manusia ditinggikan dan menjadi fokus di dalam berbagai bidang studi. Teori-teori seperti ini berkembang di dalam dunia psikologi dan sangat memengaruhi dunia kerja. Sehingga di dalam beberapa dasawarsa terakhir ini kita bisa merasakan perkembangan yang signifikan baik di dalam teori maupun praktik ketenagakerjaan, khususnya di dalam teori manajemen sumber daya manusia. Tuntutan untuk memberikan konteks dunia kerja yang manusiawi sangatlah besar pada saat ini. Bahkan mereka dituntut untuk memberikan ruang atau kesempatan bagi pekerja dalam mengaktualisasikan dirinya baik di dalam kreativitas maupun kesempatan untuk berkembang di dunia kerja. Hal ini sudah dianggap sebagai kebutuhan untuk sebuah dunia kerja yang dinilai ideal.

Selain pengaruh terhadap dunia kerja, pengaruh yang dapat jelas kita saksikan adalah di dalam dunia seni dan hiburan. Menjamurnya ajang pencari bakat menjadi sebuah trend yang berkembang saat ini. Uniknya, ajang ini bisa diikuti oleh berbagai kalangan dan mampu menyajikan kisah-kisah dramatis perjuangan seseorang dalam mengaktualisasikan dirinya. Kalau kita perhatikan, viewers di YouTube pun bisa mencapai ratusan ribu atau bahkan jutaan orang. Hal ini mengindikasikan perilaku masyarakat pada saat ini yang begitu menyukai kisah-kisah dramatis orang-orang yang dianggap berhasil mengaktualisasikan dirinya. Mereka begitu menyukainya, karena mereka pun menginginkan hal tersebut. Kesempatan di dalam mengaktualisasikan diri dianggap sebagai sebuah kesempatan emas yang layak dibayar dengan pengorbanan besar. Semangat yang sama terjadi juga di dalam aspek penyaluran hobi. Perkembangan dunia hiburan, teknologi informasi, dan busana, pada saat ini tidak terlepas dari pengaruh aktualisasi diri. Tingkat konsumsi yang besar adalah indikasi dari besarnya kebutuhan masyarakat zaman ini untuk mengaktualisasikan dirinya.

Aktualisasi diri sudah dianggap sebagai sebuah kewajaran, bahkan sangat didukung oleh masyarakat umum. Seorang yang berjuang sedemikian rupa demi merealisasikan impiannya dianggap sebagai orang-orang yang inspiratif dan patut diteladani. Bahkan standar keberhasilan pada zaman ini bukan lagi ditentukan dari seberapa besar harta yang dimiliki atau gelar yang dicapai, tetapi berdasarkan seberapa jauh impian atau ambisi dari orang tersebut direalisasikan. Maka perjuangan demi kepentingan diri dianggap sebuah kewajaran. Dengan kata lain, kehidupan yang egois adalah sebuah hal yang lumrah karena hal itu adalah bagian dari aktualisasi.

Self-Actualization and Ministry
Semangat aktualisasi diri ini tidak hanya terjadi dalam konteks di luar gereja tetapi juga di dalam gereja, bahkan di dalam konteks pelayanan. Salah satu isu yang sering didengungkan di gereja adalah pentingnya pemuda sebagai penerus dari gereja. Pemuda dinilai sebagai generasi penerus yang harus diperhatikan oleh gereja. Oleh karena itu, banyak gereja yang memperjuangkan pelayanan kaum muda demi menjangkau pemuda lebih luas. Namun, perjuangan ini sering kali disertai dengan kompromi standar kebenaran. Para pemuda diberikan ruang atau wadah untuk mengaktualisasikan dirinya di gereja. Gejala ini bukan hanya melanda gereja-gereja Karismatik tetapi juga gereja-gereja Injili tradisional. Mereka akhirnya berkompromi di dalam musik, tata ibadah, standar atau aturan dalam pelayanan, semua itu dilakukan agar pemuda mendapatkan wadah yang luas untuk mengaktualisasikan dirinya. Wadah seperti ini dianggap sebagai cara terbaik di dalam menjaring pemuda ke dalam gereja.

Cara berpikir ini beranggapan bahwa pemuda menyukai wadah di mana ia merasa diterima dan dapat mengekspresikan dirinya. Pelayanan dianggap sebagai wadah yang tepat untuk hal ini. Semakin seseorang melayani, semakin ia merasa dibutuhkan oleh banyak orang. Semakin tinggi posisi di dalam pelayanan, semakin ia berkuasa dalam mengatur banyak hal. Pelayanan menjadi ajang untuk membuktikan diri dan pemuasan akan ambisi diri. Semangat pelayanan seperti ini adalah semangat yang bertolak belakang dengan semangat pelayanan Kristen yang sejati. Pelayanan sebagai aktualisasi diri adalah pelayanan yang self-centered, pelayanan yang mencuri kemuliaan Allah. Sedangkan, pelayanan Kristen yang sejati adalah pelayanan yang memberikan diri untuk menjadi berkat dan mengembalikan segala kemuliaan bagi Allah.

Semangat pelayanan yang self-centered menjadi tantangan bagi pemuda Kristen saat ini. Semangat seperti ini menjadikan pelayanan sebagai sebuah kompetisi untuk menunjukkan kemampuan diri. Di dalam situasi seperti ini, tidaklah mengherankan jikalau konflik di dalam pelayanan sering kali terjadi karena antarpelayan saling iri satu dan lainnya. Mereka berkompetisi untuk merebut posisi pelayanan yang “strategis” demi kepuasan dirinya yang diakui oleh banyak orang. Lebih jauh lagi, kompetisi pun terjadi antara gereja satu dan lainnya. Semakin gereja itu berkompromi dengan gaya anak muda zaman ini, semakin gereja itu merasa dirinya diberkati Tuhan karena mampu menjaring banyak pemuda. Jikalau seperti ini, pelayanan tidak lagi menjadi ladang untuk menyalurkan berkat Tuhan tetapi menjadi ajang memamerkan dosa keangkuhan dan kesombongan manusia yang ingin mengaktualisasikan dirinya. Pelayanan bukan lagi tempat di mana setiap anak Allah bergumul untuk semakin bergantung kepada Allah di dalam menjalankan pekerjaan-Nya di dunia ini. Pelayanan menjadi tempat untuk manusia menunjukkan kemampuan diri dalam menyatakan, “Saya ada, dan saya memiliki banyak kehebatan. Ayo, akuilah saya!” Inilah keberdosaan manusia yang begitu mematikan. Selain kompetisi di dalam pelayanan yang berakibat impotensinya gereja dari tugas dan panggilan yang sesungguhnya, jemaat pun dibiarkan untuk semakin liar di dalam mengaktualisasikan ambisinya yang berdosa. Inilah semangat postmodern yang meracuni dan pada akhirnya mematikan gereja dan pelayanan, khususnya pelayanan pemuda.

Image of God and Self-Actualization
Sebagai gambar dan rupa Allah, manusia diciptakan dengan memiliki martabat. Manusia yang bermartabat tidak rela untuk diperlakukan layaknya binatang. Manusia pasti akan menuntut perlakuan yang bermartabat ketika mereka diperlakukan secara tidak manusiawi. Salah satu contohnya adalah film Charlie Chaplin yang memprotes Revolusi Industri karena menjadikan manusia harus bekerja secara monoton. Sebagai gambar Allah, manusia seharusnya diberikan ruang untuk menggunakan talenta yang Tuhan anugerahkan, untuk berkarya mengembangkan kebudayaan. Selain diciptakan dengan martabat, manusia pun diciptakan dengan memiliki tujuan, yaitu memuliakan Allah. Ketika manusia tidak bisa berfungsi untuk mencapai tujuan tersebut, kekosongan ataupun ketimpangan hati pasti membayangi kehidupannya.

Namun, kejatuhan manusia ke dalam dosa telah merusak martabat manusia dan menyimpangkan tujuan hidup manusia. Dosa menjadikan manusia tidak sadar diri atau martabat diri. Sering kali manusia jatuh menjadi seorang yang sombong atau justru minder karena mereka tidak menyadari martabatnya sebagai gambar Allah. Selain itu, manusia juga kehilangan tujuan hidupnya. Manusia yang seharusnya hidup memuliakan Allah telah berusaha merebut kemuliaan itu dimulai saat kejatuhannya ke dalam dosa. Kecenderungan hati seperti ini terus membayangi kehidupan manusia berdosa; di satu sisi mereka ingin memuliakan diri, tetapi semakin memuliakan diri, semakin manusia merasa tidak puas. Semakin manusia berusaha untuk mengaktualisasikan dirinya, semakin manusia kehilangan makna dan kepuasan hidupnya.

Aktualisasi diri merupakan bagian dari diri manusia sebagai gambar Allah. Namun yang menjadi masalah paling mendasar adalah terputusnya relasi manusia dengan Allah. Kehidupan manusia yang seharusnya memuliakan Allah dengan menjalankan kehendak-Nya, telah menyimpang dengan menjalankan ambisi diri. Firman Tuhan mengajarkan bahwa ketika manusia menjalankan kehendak Allah, di situlah manusia akan merasakan kepenuhan dirinya. Ketika kehendak Allah dapat dinyatakan di tengah dunia ini melalui diri kita, itulah yang seharusnya menjadi aktualisasi diri sejati dari manusia.

Christian Ministry and Self-Actualization
Seperti yang sudah dijelaskan pada bagian awal, kebangkitan pelayanan hanya bisa terjadi ketika 3 kebangkitan sebelumnya sudah terjadi (theologi, epistemologi, dan etika). Seorang pelayan yang sejati adalah seorang yang menyadari siapa Allah, siapa diri, dan sadar akan misi yang Tuhan berikan di dunia ini baginya. Tanpa adanya kesadaran seperti ini, pelayanan hampir tidak berbeda dengan sebuah ambisi untuk memuaskan diri. Pelayanan yang sejati adalah pelayanan yang didorong oleh cinta kasih kita kepada Tuhan. Cinta kasih ini hanya mungkin tumbuh ketika kita mendengarkan firman Tuhan dengan benar. Motivasi pelayanan seperti ini adalah motivasi pelayanan yang mengutamakan orang lain, bukan diri. Motivasi pelayanan yang akan mendorong kita untuk terus melayani meskipun harus mengorbankan banyak hal di dalam hidup kita. Aktualisasi diri seorang pelayan yang sejati bukan ketika dirinya dapat menonjol dan dipandang, tetapi ketika Tuhan dapat dimuliakan melalui dirinya, ketika kehendak Tuhan dapat terjadi di dunia ini melalui perjuangan pelayanan kita. Tidak peduli jika kita harus melalui jalan salib, kesulitan, bahkan hinaan, yang penting Tuhan dimuliakan. Inilah semangat pelayanan yang sejati.

Di dalam setiap kebaktian pembaruan iman yang dipimpin oleh John Wesley, sering kali diucapkan doa seperti ini:

I am no longer my own, but thine.
Put me to what thou wilt, rank me with whom thou wilt.
Put me to doing, put me to suffering.
Let me be employed for thee or laid aside for thee,
exalted for thee or brought low for thee.
Let me be full, let me be empty.
Let me have all things, let me have nothing.
I freely and heartily yield all things to thy pleasure and disposal.
And now, O glorious and blessed God, Father, Son and Holy Spirit,
thou art mine, and I am thine.
So be it.
And the covenant which I have made on earth,
let it be ratified in heaven. Amen.
(John Wesley’s Covenant Prayer)

Melalui doa ini Wesley mengajak jemaat untuk selalu mengingat kembali saat kita bertobat dan berjanji di hadapan Allah untuk meninggalkan dosa dan hidup sepenuhnya bagi Allah. Penyerahan hidup ini berarti kita siap untuk menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Kristus. Inilah penyerahan diri yang seharusnya dilakukan oleh setiap pelayan Kristen yang sejati.

Conclusion
Jikalau 3 kebangkitan sebelumnya berkaitan dengan aspek-aspek internal kehidupan seorang pemuda Reformed Injili, maka kebangkitan pelayanan ini mendorong kita untuk menyatakan iman kita ke aspek eksternal. Melayani berarti menyatakan pengertian kita akan firman untuk menjadi berkat bagi orang lain. Oleh karena itu, semangat seperti ini tidak bisa dijalankan dengan semangat egoisme zaman postmodern ini. Sebagai seorang pemuda, kita harus menyadari tantangan ini, terutama ketika kita berada di dalam lingkungan pelayanan pemuda yang memberikan ruang untuk jemaatnya mengekspresikan ambisi dirinya melalui pelayanan. Sebagai pemuda Reformed Injili, kita harus berani untuk hidup secara berbeda dengan semangat zaman ini. Kita harus peka menganalisis setiap bentuk pengaruh postmodern ke dalam gereja yang mungkin selama ini kita tidak sadari. Kita harus dengan berani menyatakan kehidupan yang rela untuk mengutamakan terlaksananya kehendak Allah dan kehidupan yang menjadi berkat bagi orang lain walaupun harus mengorbankan kepentingan diri. Inilah semangat seorang pelayan yang sejati.

Setelah kebangkitan pelayanan, kita akan melihat bahwa kebangkitan pemuda Reformed Injili bukan hanya dinyatakan secara eksternal di dalam lingkungan gereja saja, tetapi dinyatakan juga kepada dunia luar. Menyatakan kebenaran melalui mandat budaya, yaitu bagaimana firman Tuhan dapat menerangi bidang-bidang kehidupan lainnya. Hal ini akan dibahas dalam artikel bulan depan, yaitu mengenai kebangkitan mandat budaya. Kiranya Tuhan menolong kita untuk semakin hari semakin dibentuk dan diubahkan menjadi pemuda Reformed Injili yang sejati. Kiranya Roh Kudus mendorong kita untuk terus secara disiplin memperjuangkan pertumbuhan rohani kita melalui firman yang kita pelajari, kehidupan kudus yang kita perjuangkan, dan pelayanan yang kita jalankan dengan konsisten di hadapan Allah.

Simon Lukmana
Pemuda FIRES

Simon Lukmana

September 2018

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pimpinan dan penyertaan Tuhan sehingga izin pendirian dan pelaksanaan Calvin Institute of Technology telah diberikan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi pada tanggal 18 Oktober 2018.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Pengalaman Pak Heru membuat renungan ini lebih sarat makna. Thank you

Selengkapnya...

Salah tafsir Yesus bukan Allah atau hanya sbg ciptaan belaka ( ciptaan sbg manusia saja atau malaikat seperti...

Selengkapnya...

Hambatan-hambatan gereja baik eksternal dan internal,serta terangkan keberadaan Allah dan Sifat-sifat Allah

Selengkapnya...

Saya harus sampaikan ini Artikel sesat sebaiknya di hapus, ini tidak alkitabiah buah pemikiran penulis bukan...

Selengkapnya...

Salomo Depy : kmu over sensitif. Ini artikel tujuan utk membangun, tp kamu spt salah minum obat

Selengkapnya...

© 2010, 2018 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲