Artikel

Christianity, a Life-system

Manusia merupakan mahkota ciptaan Allah yang diciptakan menurut peta dan teladan Allah. Sebagai peta dan teladan Allah, manusia adalah makhluk yang berpribadi, ini merupakan sifat turunan dari Pencipta manusia, yaitu Allah – Sang Pribadi yang tidak dicipta. Seorang pribadi pasti memiliki tiga hal ini dalam dirinya, yaitu: rasio, emosi, dan kehendak. Setelah kejatuhan ke dalam dosa, peta dan teladan ini menjadi rusak. Pada saat peta dan teladan ini rusak, manusia tidak lagi dapat menggunakan rasio, emosi, dan kehendak mereka sesuai dengan kehendak Allah Sang Pencipta. Manusia cenderung untuk menggunakan rasio, emosi, dan kehendak mereka untuk kepuasan diri yang sementara, dan di dalam keberdosaan ini, manusia bahkan menggunakan ketiga hal ini untuk lepas dari Allah. Manusia menggunakan rasio dengan mencari cara untuk membuktikan bahwa Allah tidak ada di dunia ini. Manusia menggunakan emosi untuk menyatakan bahwa merekalah yang perlu diperhatikan dan dipuja. Manusia menggunakan kehendak untuk mengejar kemakmuran dan kekayaan. Setelah kita menerima anugerah keselamatan, kita ditebus dan kembali diperdamaikan dengan Allah Bapa oleh Yesus Kristus. Di dalam penebusan, seluruh arah dan pandangan hidup kita dari yang paling besar sampai yang paling kecil dan mendasar semuanya ini dikembalikan tertuju kepada Allah saja. Kita seharusnya kembali mulai berjuang untuk menggunakan rasio kita untuk mencari cara supaya kita dapat menghadirkan Allah di dalam dunia ini, kita seharusnya menggunakan emosi kita untuk mengasihi yang dikasihi Allah dan membenci dosa yang juga dibenci Allah, kita seharusnya menggunakan kehendak bebas kita untuk menghendaki apa yang Allah hendaki untuk terjadi dalam hidup kita pribadi lepas pribadi.

Suatu ketika, ada seorang pemuda yang menghadiri sebuah KKR yang diadakan oleh salah satu gereja Reformed. Setelah mengikuti KKR tersebut laki-laki yang tadinya tidak percaya Allah ini akhirnya mengambil keputusan untuk percaya kepada Kristus dan mengakui bahwa Kristuslah satu-satunya Juruselamat dunia dalam KKR tersebut. Dia mulai menghadiri kebaktian di gereja, mengikuti kelas-kelas doktrinal yang diadakan, dan dia juga mulai membeli buku-buku theologi untuk dibaca. Dia pun mulai mengenal banyak istilah-istilah theologi yang mungkin tidak ditemukan dalam banyak denominasi Kristen lainnya. Setelah beberapa waktu kemudian, dia mulai menjadi bingung, bukan bingung apakah yang selama ini dia pelajari benar atau tidak, melainkan bingung bagaimana seharusnya dia menjalankan apa yang dia tahu selama ini. Bukankah skenario ini hampir mirip dengan kita pada waktu kita pertama kali percaya? Seperti inilah kebanyakan dari kita bahkan mungkin sampai sekarang setelah bertahun-tahun menjadi orang Kristen.

Apa hubungan doktrin-doktrin yang kita pelajari selama ini dengan kehidupan kita sendiri? Apakah kita merasa sama bingungnya dengan laki-laki ini? Theologi Reformed merupakan theologi yang komprehensif dalam menginterpretasi firman Tuhan, tetapi Theologi Reformed bukanlah salah satu doktrin yang mudah dihidupi dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Abraham Kuyper, Calvinisme justru merupakan suatu theologi dengan prinsip yang dapat diaplikasikan ke dalam segala aspek kehidupan, baik dalam politik, ekonomi, kehidupan sosial maupun ilmu pengetahuan seperti matematika, kimia, fisika, dan bidang apapun. Pembelajaran akan theologi berarti belajar pengenalan akan Allah dengan lebih jauh dan mendalam. Pembelajaran ini bukan untuk disimpan di dalam kepala saja dan hanya menjadi sebatas ilmu, tetapi tujuan pembelajaran itu sendiri adalah bagian dari melengkapi dan menjalankannya dalam kehidupan kita masing-masing.

Anugerah Allah

Di dalam Theologi Reformed, kita mengetahui bahwa setelah kejatuhan manusia, anugerah Allah terbagi menjadi dua macam, yaitu anugerah umum dan anugerah khusus. Anugerah umum dikaruniakan untuk menopang setiap ciptaan Allah di dalam dunia yang sudah rusak ini, sedangkan anugerah khusus yaitu keselamatan dikaruniakan kepada umat yang telah dipilih sebelum dunia dijadikan dan kemudian digenapi oleh Kristus. Melalui penebusan Kristus, kita kembali diperdamaikan dengan Allah. Orang yang sudah menerima anugerah keselamatan mempunyai kecenderungan hati ingin lebih mengenal Allah, karena hatinya telah diubah untuk boleh mencintai Allah. Maka tidak heran kalau kita akan mulai lebih rajin membaca Alkitab, mencatat poin-poin penting yang diucapkan lewat mimbar, atau membeli buku-buku theologi. Seiring pembacaan dan semakin banyak khotbah yang didengar, kita menjadi lebih banyak tahu tentang doktrin. Yang perlu kita perhatikan adalah apakah dengan kita mengetahui begitu banyak doktrin maka kita dapat menjalankannya di dalam kehidupan kita sehari-hari? Jikalau kita mengakui bahwa kita adalah umat yang telah dipilih Allah sejak sebelum dunia dijadikan, tidakkah itu akan membuat kita menjadi sekelompok orang yang berbeda dari orang-orang di dunia ini?

Orang Kristen seharusnya mempunyai suatu pola pikir yang berbeda dari orang-orang non-Kristen, kita seharusnya mempunyai sebuah worldview Kristen. John M. Frame mengartikan kata “presupposition” sebagai komitmen hati yang mendasar, a basic heart commitment. Pada saat hati kita benar-benar komit dan tertuju kepada Allah, tidak mungkin kita akan melihat dunia dengan kacamata dunia yang berdosa lagi. Kita harus belajar melihat dunia ciptaan ini berdasarkan penyataan (wahyu) Allah melalui Alkitab, tidak seperti paham-paham modern yang memulai dari sisi humanis dan bukan dari Allah. Cornelius van Til mengatakan, “Mereka melihat bunga di padang tetapi tidak melihat apa-apa”. Abraham Kuyper mengatakan hal yang serupa, “Ketika mereka melihat bunga atau hewan, mereka hanya melihatnya sebagai ornamen-ornamen yang tidak memiliki hubungan satu dengan yang lain, mereka tidak melihat keutuhan dalam sebuah architectural design yang dijadikan oleh Allah.” Jika sesuatu tidak dimulai dari apa yang Allah nyatakan maka itu menjadi sebuah kesalahan. Kita bagaikan orang yang berada di bawah sumur yang ingin mencoba untuk menimba diri keluar naik dari sumur itu. Jikalau kita mengaku diri sebagai orang Kristen, kita percaya bahwa Kristus sudah datang dan menebus kita dari ikatan dosa, mengapa sering kali kita tidak ada bedanya dengan orang-orang di luar sana yang tidak mengenal akan penebusan Kristus?

Iman Kristen tidak hanya berbicara bahwa orang-orang Kristen harus pergi ke gereja setiap minggu (dan kalau sempat, kita berbagian dalam pelayanan gerejawi). Iman Kristen berbicara hidup yang memper-Tuhan-kan Kristus dalam segala aspek kehidupan. Ketika kita memecahkan kehidupan kita menjadi di ‘dalam gereja’ dan di ‘luar gereja’, kehidupan kita menjadi dualisme dan bukan lagi Kristen. Ketika kita ingin menjalankan firman Tuhan (iman Kristen) seutuhnya dalam kehidupan kita sebagai orang Kristen, dunia akan menganggap kita sebagai orang gila di tengah-tengah dunia ini. Iman Kristen sering kali dianggap tidak applicable dalam dunia berdosa ini. Itu hanyalah suatu ide yang ideal dan terlalu tinggi yang tidak mungkin dihidupi. Orang-orang yang mencoba menghidupi iman Kristen adalah pemimpi-pemimpi di siang bolong. Kita sering mendengar orang-orang berkata, “hidup itu harus realistis”, “jangan berpikiran picik, sempit, legalis, dan ekstrem”, atau “orang Kristen harus kompromi agar dapat merakyat dan Injil dapat diberitakan”. Inikah tampang kekristenan hari ini?

Kita memang masih hidup di dalam dunia yang sudah jatuh. Kejatuhan berarti kondisi di dunia ini sudah ‘tidak normal lagi’ atau ‘abnormal’. Pada saat kita melakukan hal-hal yang sesuai dengan prinsip firman Allah (yang adalah seharusnya dan normal), kita akan dianggap sebagai orang aneh atau abnormal dari kacamata dunia berdosa yang abnormal ini. Dosa telah membuat manusia menjadi pribadi yang liar. Liar di dalam penafsiran akan hidupnya sendiri. Manusia ingin lepas dari Allah, ingin menikmati kebebasan individunya secara total, dan tidak mau diganggu oleh siapapun terlebih lagi Allah. Manusia ingin otonom, lepas dari kedaulatan Allah. Sepanjang zaman, itulah yang manusia ingin dan cari semenjak Kejadian 3. Manusia ingin bebas! Banyak yang berteriak tentang kebebasan dan memperjuangkan kebebasan, tetapi kebebasan yang bagaimana? Bebas dalam perbudakan dosa? Inikah kebebasan yang kita dambakan?

Di dalam penebusan Kristus, manusia dipulihkan kembali ke posisi awal yang sudah Allah tentukan pada saat manusia diciptakan. Manusia ditempatkan kembali di antara Allah dan alam, di mana manusia hidup untuk Allah dan manusia berkuasa atas alam. Ketika posisi tersebut direstorasikan kembali, seharusnya manusia dapat kembali menjalankan fungsi normalnya yang sebenarnya telah Allah tetapkan sejak semula. Di dalam hal ini, orang Kristen yang sudah mengalami penebusan Kristus seharusnya memfokuskan seluruh hidupnya bagi Allah, karena itulah yang seharusnya. Setiap aspek, setiap kondisi, setiap detail hidup harus dapat dipertanggungjawabkan di dalam tujuan ini. Kita adalah orang-orang yang “diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah” (Yoh. 1:12). Kita sering tidak sadar akan kuasa yang Tuhan berikan untuk merepresentasikan Dia di dalam dunia ini. Kuasa ini dikatakan diberikan bagi mereka yang menerima Sang Firman, menerima-Nya sebagai Terang yang datang kepada umat-Nya. Kuasa merepresentasikan Allah dalam hidup kita tidak dapat dipisahkan dari menerima Sang Firman, menerima-Nya sebagai Juruselamat dan menerima-Nya sebagai Tuhan atas hidup kita. Sang Firmanlah yang harus direpresentasikan dalam hidup anak-anak Allah, artinya seluruh hidup kita harus merupakan pengaplikasian atau penyataan Firman saja. Untuk itulah kita dicipta dan ditebus!

Abraham Kuyper pernah mengatakan, “Tidak ada satu inci pun di dalam hidup kita yang di mana Kristus tidak berkata ‘itu milik-Ku!’” Ketika seluruh pandangan hidup kita tertuju kepada Allah, hidup kita hanya melakukan segala sesuatu untuk Allah, belajar terus mengerti segala sesuatu mulai dari apa yang Allah nyatakan, pada saat itulah iman kekristenan tidak menjadi hanya sebuah ilmu. Iman kekristenan akan menjadi nyata karena firman Tuhan menjadi patokan dasar kita dalam melakukan segala sesuatu dari hal yang terkecil sampai hal yang kompleks. Dengan demikian, iman kekristenan menjadi sebuah life-system yang mempengaruhi seluruh aspek kehidupan kita. Mari kita sebagai orang Kristen terus berusaha dan belajar untuk menyatakan firman Tuhan (wahyu khusus) di dalam seluruh aspek kehidupan kita (wahyu umum) sehingga Tuhan dipermuliakan melalui seluruh hidup kita. Soli Deo Gloria.

Ryan Putra

Pemuda FIRES

Ryan Putra

September 2010

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲