Artikel

Christmas: A Holiday or the Holy Day?

Silent night, holy night… All is calm, all is bright…

Round yon virgin mother and Child. Holy Infant, so tender and mild,

sleep in heavenly peace… sleep in heavenly peace…

Dalam hitungan hari kita akan mendengar lagu ini didendangkan di seantero dunia—lagu yang sangat digemari, karena dunia yang penuh dengan persoalan, konflik, dan krisis ini memang sangat memerlukan peace. Christmas Peace menjadi satu-satunya pelepasan yang ditunggu-tunggu di akhir tahun. ...sleep in heavenly peace... inilah yang diharapkan, sleep dengan peace dan melupakan segala persoalan yang ada. Memang dunia ini mungkin sekali sedang sleep, tetapi apakah benar in heavenly peace atau sebenarnya ...sleep in worldly lust? Ketika lagu-lagu bernuansa Natal didendangkan di segala pelosok dunia, baik di gereja-gereja, di rumah-rumah orang Kristen, di mobil, di radio dan televisi, di konser-konser, dan bahkan di mal-mal, maka serasa seluruh dunia mau tidak mau tersihir oleh suasana Natal. Nuansa hati mendadak menjadi tenang, penuh damai sejahtera dan penuh kasih.

Damai dan kasih? Tentu saja! “Merry Christmas... ho ho ho....” Banyak orang kembali diingatkan untuk saling memberi dan mengasihi sesamanya. Maka daftar hadiah-hadiah yang akan dibeli pun mulai memanjang, mengingat kembali semua kerabat dan teman-teman yang mungkin sudah lama tidak bersua. Suatu ekspresi kasih dan damai... dengan hadiah tetapi tanpa Christ.

Kota-kota mulai berhiaskan ornamen-ornamen natal, bermandikan jutaan lampu-lampu gemerlap, pohon-pohon Natal yang tiba-tiba tumbuh serempak di mana-mana, iklan-iklan yang menawarkan suatu lifestyle dan Christmas joy  ’sesungguhnya’ yang telah menggeser arti sesungguhnya dari Natal itu sendiri. Terlihat pula di pusat-pusat perbelanjaan, ’malaikat-malaikat’ beramai-ramai turun dari ’sorga’ merayakan Christmas shopping, Christmas gifts, Christmas sale, Christmas package, Christmas dinner, Christmas cake, dan Christmas holiday. Hey, sesungguhnya apa yang terjadi? Bukankah semuanya ini telah bertolak belakang 180 derajat dari apa yang terjadi dua ribu tahun yang lalu? Apakah orang-orang Kristen menyadari hal ini? Atau ikut terhanyut di dalamnya? Toh, dengan suasana seperti ini justru terasa amat damai dan penuh kasih, bukan?

Atau… mungkin lebih baik menjadi seperti tokoh “Grinch” yang sengaja tidak menginginkan Natal seperti yang ada sekarang. Di mana-mana anak-anak dicekoki oleh impian Natal yang sumir, penuh dengan hadiah, permainan, nyanyian-nyanyian Natal, lonceng-lonceng yang berdentang, coklat, permen, dan hadiah dari Santa Claus. Dari Santa Claus? Bukankah hadiah yang paling besar, paling berharga, paling mulia yaitu Anak-Nya yang Tunggal Yesus Kristus, Sang Raja Damai, berasal dari Allah Pencipta langit dan bumi? Dialah yang mendamaikan manusia yang berdosa dengan Allah, tetapi manusia lebih aware dengan hadiah-hadiah kecil dan berdamai dengan sesama orang berdosa di dalam ketidaksadaran akan keberdosaannya. Dapatkah orang-orang Kristen steril dari tawaran arus dunia dengan segala macam hadiahnya dan kembali memikirkan hadiah Natal apa yang terbaik yang sedapat-dapatnya diterima manusia? Bukanlah berita Injil itulah hadiah yang ultimat yang membawa damai sesungguhnya, perdamaian antara manusia yang berdosa dengan Allah yang Maha Kudus, perdamaian yang kekal dan paling esensial? Jelas, dunia ini sangat memerlukan damai. Damai di sorga? dan damai di bumi… Damai sorgawi atau damai duniawi?

Silent night, holy night… Shepherds quake at the sight…

Glories stream from heaven afar, heavenly hosts sing Alleluia,

Christ the Savior is born… Christ the Savior is born…

Suara paduan-paduan suara gereja mulai terdengar di ujung-ujung jalan, celoteh anak-anak Sekolah Minggu mewarnai latihan-latihan drama Natal, keriaan jemaat menghias gedung gereja mulai terdengar. Guru-guru Sekolah Minggu mulai memikirkan acara-acara Natal. Para pengurus gereja, majelis-majelis, dan hamba-hamba Tuhan mengatur serangkaian kebaktian Natal. Semua anak-anak Tuhan tampak mulai sibuk dalam mempersiapkan diri menyambut kedatangan Tuhannya, Juru Selamat yang telah rela turun dari sorga ke dunia, dari tempat yang teramat mulia ke tempat yang paling hina, dari yang tidak terbatas menjadi yang terbatas, dari yang kekal menjadi terkurung sementara di dalam waktu, dari Pencipta segala yang hidup menjadi manusia, yaitu Tuhan Yesus yang telah lahir… Puji Tuhan! Ternyata ada sekelompok manusia so called orang Kristen yang tampaknya lebih rohani, lebih dekat sorga jika dibanding dengan orang-orang kebanyakan yang mungkin tidak tahu makna Natal yang ’sejati’.

Tetapi... jikalau mau jujur, sejujur-jujurnya apakah semua orang Kristen mengetahui dengan sedalam-dalamnya hati akan makna Natal? Atau Natal yang dimengerti tidak lain sebagai serentetan acara gerejawi yang diadakan oleh gereja-gereja, kalau tidak sibuk di gereja waktu Natal bukankah itu suatu hal yang aneh, kesannya tidak rohani sekali, lagipula Natal kan cuma setahun sekali, kalau mengaku Kristen bukankah harus merayakan Natal, hari yang mulia di mana Tuhan Yesus lahir? Bahkan sejak lahir pun sudah tahu kalau dua ribu tahun yang lalu Tuhan Yesus lahir, dari kecil juga sudah dengar di Sekolah Minggu, dan dalam setiap kebaktian remaja-pemuda juga sudah sangat tahu. Puji Tuhan! Yesus Anak Allah telah lahir... tetapi lahir di mana? … di palungan? Di Betlehem yang nun jauh di sana dua ribu tahun yang lalu? atau di hati kita sekarang ini?

Silent night, holy night… Son of God, love’s pure light…

Radiant beams from Thy holy face, with the dawn of redeeming grace,

Jesus, Lord, at Thy birth… Jesus, Lord, at Thy birth…

Mari kita terbang menembus lorong waktu ke dua ribu tahun yang lalu di mana ‘the original Christmas’ itu terjadi, di mana tidak seorang pun sibuk mempersiapkan, merayakan, menyambut, atau bahkan menyadarinya, di mana tidak ada yang tahu bahwa pada malam itu hal yang sangat amat mulia akan terjadi. Malam itu… di Betlehem senyap... seperti malam-malam sebelumnya. Hanya ada ada sebuah bintang yang bersinar terang jauh di atas palungan, alam semesta yang menyambut Sang Pencipta dalam segala kemampuannya untuk menyaksikan kehadiran Sang Terang. Dan ada kawanan gembala yang akhirnya dikejutkan oleh sekelompok besar Bala Tentara sorga yang memuji-muji Tuhan dan memberitahukan akan kelahiran Sang Juru Selamat umat manusia. Jika gembala itu hidup di zaman sekarang, mungkin mereka akan mencoba merasionalisasikan apa yang mereka lihat, mungkin mereka akan lari ketakutan dan segera mencari psikolog atas ’halusinasi’ yang tidak masuk akal itu, atau mungkin juga mereka cuek saja karena sedang terlalu sibuk mengurus strategi berternak dombanya demi mencari nafkah untuk memberi makan bagi keluarganya.

Singkatnya, memang terlalu banyak alasan untuk tidak mempercayai apa yang diberitakan. Tetapi... mereka percaya dan pergi. Jika kita menjadi gembala-gembala itu, apa yang akan kita lakukan? Akankah kita bereaksi dengan cara yang sama, bergegas cepat-cepat melihat dan mencari tahu apa yang dikatakan oleh malaikat-malaikat itu? Dan kemudian memberitakan apa yang mereka lihat? Apakah berita Natal yang selalu ada di penghujung tahun, yang kerap kita dengar, masih mencengangkan hati kita? Masihkah Natal terus mencelikkan hati kita untuk melihat kasih Tuhan yang teramat besar? Ataukah berita Natal sudah larut bercampur dalam nuansa damai yang dunia ini tawarkan yang membawa ke dalam suatu masa di mana manusia yang satu diingatkan kembali akan kasih kepada manusia yang lain saja sembari menikmati dan memuja kenikmatan hidup yang jauh dari spirit inkarnasi itu sendiri? Kita memberi bingkisan-bingkisan kepada orang-orang yang dekat dengan kita bahkan ke panti-panti asuhan merayakan kegembiraan Natal dan pada saat yang bersamaan kita membuang Sang Tokoh Utama kisah Natal, yaitu Yesus Sang Juru Selamat yang telah lahir.

Inkarnasi Kristus memang tidak pernah bisa dipahami oleh manusia berdosa secara tuntas. “Glory to God in the highest, and on earth peace to men on whom His favor rests” (Luke 2:14). Kasih yang dikandung di dalam berita Natal tidaklah bersumber dari kemampuan dan kemauan manusia yang satu mengasihi manusia yang lain... apalagi terlintas untuk mengasihi Allah. Sungguh semata-mata hanyalah kasih karunia Allah kepada manusia berdosa... to whom His favor rests... Mungkin bayi Yesus hanya dianggap sebagai bayi yang mungil, yang tidak berdaya, yang hanya merupakan suatu simbol saja dan secara tidak sadar kita melupakan siapa yang telah lahir itu dan mengapa Ia dilahirkan.

Mungkin Natal kali ini kita perlu meratap dan pada waktu yang sama bersyukur sedalam-dalamnya, melihat kembali betapa besar anugerah rencana keselamatan Tuhan. Natal tidak bisa dilepaskan dari Paskah, kematian Tuhan Yesus di atas kayu salib menebus umat pilihan-Nya—tubuh-Nya yang dipecahkan untuk menjadi tebusan bagi banyak orang. Natal tidak bisa dilepaskan dari sengsara Tuhan yang rela menjadi manusia yang terbatas—menjadi daging, Natal tidak bisa dilepaskan dari keberdosaan manusia, Natal tidak bisa dilepaskan dari besarnya cinta kasih Tuhan yang sempurna. Mari melihat jauh di dalam hati kita masing-masing, jika inti berita Natal yaitu Injil, telah sampai pada telinga kita, bagaimana hati kita berespon kepada-Nya? Akankah kita cepat-cepat pergi melihat Sang Juru Selamat? Akankah kita bergegas mengajak teman-teman kita ke Betlehem untuk pergi melihat Yesus yang telah lahir itu? Dan setelah kita bertemu dengan Sang Juru Selamat dunia, akankah kita memberitakan kabar damai ini? Wahai, manusia yang lapar akan pengharapan kekal, lapar akan damai sorgawi, cepat bergegaslah menuju Betlehem, Rumah Roti itu di mana Allah telah mengarunikan Roti Hidup, Roti yang dari Sorga, ”Karena roti yang dari Allah ialah roti yang turun dari sorga dan yang memberi hidup kepada dunia... Akulah roti hidup, barang siapa yang datang kepadaKu, ia tidak akan lapar lagi...” (Yoh. 6:33,35). Di Betlehem, Rumah Roti itu, Sang Roti Hidup memilih untuk inkarnasi dua ribu tahun yang lalu agar manusia berdosa boleh kembali memperoleh damai di dalam Allah dan dengan Allah—inilah damai Natal yang sesungguhnya.

Christmas is definitely not a holiday but it’s always be THE HOLY DAY… for His chosen ones to be saved and have peace by God, peace with God, and peace in God.

Dewi Arianti

Pemudi GRII Pusat

Dewi Arianti Winarko

Desember 2006

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pimpinan dan penyertaan Tuhan sehingga izin pendirian dan pelaksanaan Calvin Institute of Technology telah diberikan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi pada tanggal 18 Oktober 2018.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kisah yang membaharui pikiran saya. Perbandingan dua orang ini dan karakternya menyadarkan untuk lebih tunduk pada...

Selengkapnya...

Puji Tuhan, harapan saya terkabul, bisa mendengar secara langsung khotbah pendeta Dr. Sthepen Tong dan foto bersama...

Selengkapnya...

Mohon penjelasannya terkait "Etika hidup kita ditentukan oleh kebenaran Allah, bukan oleh diri kita...

Selengkapnya...

bersyukur dalam segala keadaan, semakin terberkati... biarlah kehidupan ini jadi seperti yang Tuhan perkenankan...

Selengkapnya...

Terima Kasih Yah...

Selengkapnya...

© 2010, 2018 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲