Artikel

Christmas and Our Response

Momen Natal merupakan salah satu momen yang sangat dinantikan oleh seluruh umat Kristen bahkan oleh dunia. Hampir seluruh belahan dunia turut merayakan Natal dengan meriah. Kita dapat membayangkan gemerlapnya malam Natal, di tengah salju yang turun (untuk negara empat musim), Santa Claus yang membagi-bagikan hadiah kepada anak-anak, pohon Natal yang dihiasi dengan berbagai hiasan, jalanan yang dihias dengan indah, alunan musik Natal yang merdu, bahkan yang tidak kalah serunya adalah sale/diskon besar-besaran di pusat perbelanjaan.

Perayaan Natal menjadi salah satu perayaan yang dapat dikatakan cukup meriah yang dirayakan oleh dunia. Libur Natal juga menjadi momen yang dinantikan, sebagian dari kita mungkin ingin menikmati perayaan Natal di luar negeri atau tempat lain bersama keluarga sambil menikmati indahnya malam Natal.

Natal bagi Dunia
Dunia memiliki cara tersendiri dalam merayakan Natal. Umumnya, mereka merayakan Natal sebagai salah satu rutinitas tahunan yang meriah. Ambillah contoh beberapa negara seperti Jepang, Belanda, Jerman, atau bahkan Indonesia. Di Jepang, yang termasuk negara non-Kristen (hanya sekitar 1% orang Kristen), mereka turut berbagian dalam merayakan Natal tanpa mengetahui makna sebenarnya. Mereka mengadakan pesta untuk kalangan anak-anak yang mengharapkan hadiah dari ‘santa-san’. Mereka juga menggunakan momen Natal ini sebagai momen untuk menyebarkan kebahagiaan yang terlepas dari unsur perayaan yang bersifat agama, bahkan sebagian pasangan/couple ada yang menggunakan indahnya malam Natal untuk berjalan-jalan dan makan malam dengan suasana romantis.

Di Belanda, hari yang paling penting bagi anak-anak adalah tanggal 5 Desember, sebab di hari tersebut mereka mendapatkan hadiah dari Santa Claus. Mereka menantikan hadiah yang diberikan oleh Santa Claus, karena perbuatan baik yang telah mereka lakukan. Pesta Santa Claus juga menjadi satu acara yang penting bagi anak-anak di sana, mereka bermain berburu harta karun dengan puisi dan teka-teki sebagai petunjuknya, jika mereka beruntung mereka akan menemukan hadiah kecil yang ditinggalkan oleh Santa Claus.

Lain lagi di Jerman, bagi masyarakat Jerman pada umumnya pohon Natal merupakan ikon penting pada masa Natal. Sang ibu dari seorang anak umumnya mendekorasi pohon Natal tersebut secara diam-diam dan pada malam Natal biasanya seluruh keluarga berkumpul makan malam bersama dan bertukar kado.

Yang terakhir adalah perayaan Natal di Indonesia. Kita dapat melihat hiasan dan dekorasi Natal yang indah menghiasi pusat perbelanjaan. Melodi musik Natal juga turut meramaikan suasana. Dan yang tak kalah hebohnya adalah sale/diskon yang diberikan oleh beberapa toko di pusat perbelanjaan. Anak-anak juga menantikan momen ini untuk mendapatkan hadiah dari Santa Claus yang mungkin ditemukan di pusat perbelanjaan.

Natal bagi Umat Kristen
Bagaimana dengan kita umat Kristen? Kita sebagai umat Kristen juga merayakan Natal setiap tahun. Gereja mempersiapkan momen Natal dengan kebaktian Natal yang diisi dengan acara seperti drama Natal, paduan suara, bahkan KKR.

Namun, apa yang sebenarnya kita harapkan pada momen Natal? Apakah kita hanya menjalankan “rutinitas” tersebut setiap tahun? Apakah kita juga mengharapkan Santa Claus memberikan hadiah kepada kita? Apakah kita hanya mengharapkan dan menantikan sale/diskon atau liburan?

Sebagai umat Kristen, kita mengerti bahwa Natal adalah salah satu hari bersejarah yang penting, yaitu Kristus Yesus datang ke dalam dunia, rela merendahkan diri-Nya untuk lahir di dalam daging. Makna ini tidak boleh kita lupakan sebagai orang Kristen. Dibandingkan dengan dunia, kita sudah mendapatkan hadiah terbesar yaitu Allah telah memberikan Anak-Nya yang tunggal untuk lahir ke dalam dunia, lalu mati di kayu salib untuk menebus kita dan bangkit untuk menjadi Raja.

Seperti tertulis pada Yesaya 9:6, “Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.” Bukankah ini merupakan Hadiah dari Allah yang tak ternilai harganya? Dia, yang adalah Sang Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, dan Raja Damai, turun ke dalam dunia, yang tidak terbatas menjadi terbatas, bahkan sampai mati di kayu salib untuk menanggung dosa kita. Dalam salah satu lagunya pada Oratorio Messiah (Part 1), Handel menggambarkan hal tersebut dengan begitu indah pada lagu “For Unto Us a Child is Born”. Jika kita mendengarkan lagu tersebut, terdengar sangat indah, riang, dan penuh sukacita, namun perhatikan lagu pada bagian kata “born”, terdapat satu part yang sulit bagi setiap suaranya. Hal ini merupakan paradoks, it’s beautiful yet hard at the same time, kita mendengarkan paduan suara menyanyikan lagu tersebut dengan indah, namun bagian tersebut merupakan bagian yang dapat dikatakan cukup sulit untuk dinyanyikan. Hal ini menggambarkan diri kita yang bersukacita menyambut kelahiran-Nya, namun Kristus lahir ke dalam dunia dengan menanggung kesulitan yang besar.

Bagaimana dengan respons manusia? Alkitab (dalam Injil Matius) menceritakan mengenai Herodes dan orang majus yang memiliki respons berbeda. Pada saat mengetahui kelahiran Sang Raja, Herodes sangat terkejut (Mat. 2:3). Menurut Calvin, Herodes membayangkan suatu kerajaan yang aman bagi dia dan keturunannya, tetapi kedatangan Raja tersebut menjadi ancaman bagi dirinya. Lalu sampailah pada puncaknya di mana Herodes membunuh seluruh bayi yang ada di Betlehem dan sekitarnya (Mat. 2:16-18). Kita melihat bahwa Raja Herodes hanya memikirkan diri sendiri dan mengabaikan pengharapan dalam diri Sang Raja bagi dunia.

Bagaimanakah respons kita sebagai orang Kristen modern? Mungkin bagi sebagian dari kita, Natal hanyalah suatu kebaktian dengan suasana yang berbeda dari kebaktian umum setiap minggunya. Kita bisa saja mengatakan “Selamat Hari Natal”, namun tidak mengerti makna Natal. Dalam pemikiran kita, kita lebih terfokus kepada apa yang dunia tawarkan seperti liburan, diskon yang diberikan, waktu untuk bersenang-senang, atau sekadar menjalankan perayaan Natal sebagai acara kumpul keluarga saja. Mengapa kita juga tidak dapat melihat Hadiah terbesar yang telah Tuhan berikan bagi kita?

Respons lain yang dapat kita lihat adalah respons dari orang majus. Mereka mencari Sang Raja yang lahir dan ketika menemukan Raja tersebut, bersukacitalah mereka. Mereka sujud menyembah Sang Raja dan memberikan persembahan kepada-Nya (Mat. 2:10-12). Kita dapat melihat respons spiritual yang orang majus tunjukkan yaitu datang memberikan yang terbaik untuk Sang Raja yang baru lahir, dengan memberikan persembahan yang terbaik bagi-Nya (emas, kemenyan, dan mur berdasarkan apa yang dicatat di Injil Matius). Mereka peka untuk menyadari momen di mana Tuhan menyatakan pekerjaan-Nya yang besar. Saat momen itu datang, para orang majus berani meresponinya.

Bukankah hal ini merupakan respons yang seharusnya kita lakukan? Kita seharusnya bersukacita pada saat Natal bukan karena keindahan yang dunia tawarkan, bukan karena hadiah yang dunia berikan, tetapi karena Tuhan telah memberikan Hadiah yang tak ternilai yaitu kelahiran Yesus Kristus ke dalam dunia. Pekakah kita akan momen ini, momen di mana Allah menyatakan pekerjaan/karya agung-Nya? Beranikah kita meresponinya dengan benar, di tengah-tengah tren dunia yang berbeda total dari respons kita sebagai orang Kristen?

Tjioe Marvin Christian
Pemuda GRII Bandung

Tjioe Marvin Christian

Desember 2014

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲