Artikel

Christmas in July

Tidak terasa waktu bergulir begitu cepatnya. Kita sudah memasuki penghujung tahun 2016. Rasanya baru saja kita memulai tahun ini, dengan segala harapan dan resolusi baru. Namun seperti hanya dalam satu hembusan nafas saja kita telah tiba di bulan Desember lagi. Hiasan-hiasan Natal mulai dijual di toko-toko, lagu-lagu Natal dimainkan di mall, dan mungkin sebagian besar dari kita kembali disibukkan dengan berbagai persiapan untuk kebaktian atau KKR Natal di gereja. Bagaimana dengan resolusi yang kita buat di awal tahun 2016? Berapa banyak yang telah tercapai?

Ketika saya diajak untuk menulis artikel renungan Natal, waktu itu masih pertengahan tahun. Dalam benak saya, “Ah... Natal kan masih lama sekali. Mana mungkin sekarang bisa memikirkan apa yang akan ditulis.” Namun pemikiran itu justru menegur diri saya sendiri. Mengapa untuk memikirkan Natal harus menunggu akhir tahun? Apakah Natal tidak ada artinya untuk bulan Januari... Juni... dan seterusnya?

Orang-orang di Australia mengalami musim dingin di pertengahan tahun, sedangkan musim panas di akhir tahun. Maka agar bisa mendapatkan suasana Natal seperti orang-orang di Eropa atau Amerika dengan salju yang turun dan pakaian-pakaian musim dingin, orang Australia terkadang bisa merayakan Natal di pertengahan tahun, terkenal dengan istilah Christmas in July. Tetapi apakah ini yang dimaksud? Apakah Natal hanya sekadar sebuah festival, suatu keriuhan di mana banyak orang berkumpul, saat orang-orang yang hidup jauh dari keluarga kembali pulang ke rumah, dan bisa disesuaikan dengan musim?

Dari pemikiran inilah saya mencoba merenungkan nilai-nilai dari peristiwa Natal yang perlu terus-menerus diingat dan dipegang teguh dalam menjalani kehidupan sepanjang tahunnya.

Bagi kita orang Kristen, hari Natal tentunya adalah hari yang sangat penting. Tanggal 25 Desember bukanlah hari kelahiran Yesus secara literal, karena tanggal tersebut tidak secara jelas dituliskan dalam Alkitab, dan hanya ditetapkan berdasarkan konteks sejarah. Namun adalah suatu kebenaran bahwa Tuhan Yesus Kristus lahir ke dalam dunia. Dan kelahiran-Nya itu adalah kelahiran yang mengubah sejarah dan kehidupan seluruh umat manusia di segala penjuru dunia, di segala zaman.

Beberapa poin yang dapat kita renungkan bersama di dalam momen Natal ini. Kita akan merenungkan signifikansi dari nilai-nilai ini bagi kehidupan kita sehari-hari.

He Is God of Humility
Lebih dari sekadar kerendahan hati, Tuhan Yesus lahir ke dunia sebagai Pencipta yang turun mengambil rupa seorang ciptaan. Tidak akan ada habisnya hal ini menjadi renungan bagi kita. Anak Allah yang begitu mulia, berdaulat, dan bertakhta di sorga, mau turun ke bumi menjadi manusia. Bukan sekadar bumi ciptaan, lebih tepatnya adalah Sang Pencipta turun ke dalam dunia ciptaan yang telah jatuh ke dalam dosa. Dunia yang penuh dengan manusia yang menolak Dia, terus menyangkali-Nya, tidak menaati perintah-Nya, dan tidak menghargai anugerah-Nya. Bumi yang alamnya telah rusak dan kehidupannya penuh dengan penderitaan. Bahkan Dia pun memilih terlahir sebagai manusia yang taraf hidupnya sangat sederhana dan termasuk tidak layak. Ia meminjam rahim anak dara yang calon suaminya hanya seorang tukang kayu, berasal dari kota kecil, dan tempat lahir pun di kandang yang hina.

Sebuah Christmas carol yang berjudul “What Child is This?” merupakan sebuah lagu yang menyatakan keheranan melihat fakta kelahiran Kristus Sang Raja yang lahir di palungan. Seorang raja seharusnya lahir di istana yang mewah dan disambut dengan pesta yang meriah. Tetapi Kristus adalah raja yang lahir di palungan dan disambut oleh para gembala dan binatang gembalaannya. Hal ini begitu mengherankan dunia ini bahkan dianggap mustahil, karena secara logika dunia ini tidak mungkin ada seorang yang rela merendahkan dirinya seperti itu. Walaupun dunia ini menghargai konsep humility, tetapi yang dikerjakan oleh Kristus tidak terbayangkan oleh dunia ini.

Bila kita menanyakan apakah arti humility yang sesungguhnya. Bagi saya Natal adalah satu-satunya jawaban yang paling sempurna. Rendah hati ternyata bukan hanya sekadar pura-pura malu ketika dipuji dan berkata, “Ah... saya tidak sehebat itu kok... biasa saja...” Rendah hati juga bukan hanya terbatas pada keadaan di mana kita seharusnya mendapat kredit dari apa yang telah kita kerjakan namun kita tidak mengambilnya. Namun humility yang ditunjukkan Yesus pada saat Dia lahir ke dalam dunia jauh lebih dari itu. Apa yang Yesus kerjakan mulai hari Natal, sampai pada akhir pelayanan-Nya di dunia ini adalah teladan sempurna dari yang Ia perintahkan kepada kita: menyangkal diri, memikul salib, mengikut Tuhan. Humility is to let God take control of our lives completely because we understand that He is sovereign upon our lives. True humility is based on the comprehension that whatever we do, whatever we achieve, are because of God. Mungkin hal ini terdengar sebagai sesuatu yang klise dan kita anggap diri sudah mengerti hal ini berulang kali. Namun tidakkah pengertian ini akan membangkitkan attitude yang begitu berbeda? Kesombongan yang tersembunyi, perasaan membandingkan diri dengan orang lain dengan senang jika kita tampak lebih baik, atau iri hati yang dapat menimbulkan pertikaian, akan dikikis dengan attitude ini. Karena itu, sebagai pengikut Kristus, semangat inkarnasi yang Kristus sudah nyatakan di dalam sejarah harus selalu kita ingat dan jalankan sebagai bagian dari kehidupan kita.

He Is God Who Intervenes
Siapa yang menyangka bahwa setelah hampir 400 tahun tanpa suara dan seakan Tuhan sudah melupakan umat-Nya, namun secara mendadak dan tersembunyi Sang Juru Selamat itu hadir di tengah umat-Nya? Siapa yang menyangka lahirnya Mesias di Betlehem? Para ahli Taurat saja baru “ingat” tentang nubuatan tersebut karena ditanya oleh orang majus yang datang ke istana Herodes. Tuhanlah yang menempatkan bintang penunjuk tersebut di malam itu, dan membuat orang majus melihat dan terpukau olehnya sampai rela menempuh perjalanan jauh untuk menyembah raja yang akan dimuliakan ini. Tuhanlah yang membuat Elisabet yang mandul itu bisa mengandung Yohanes Pembaptis sebagai orang yang akan mempersiapkan jalan bagi-Nya. Tuhanlah yang menetapkan akan dilakukan sensus oleh Kerajaan Romawi sehingga kelahiran Yesus persis terjadi di Betlehem, kota Daud seperti nubuatan.

Di dunia ini tidak ada hal yang kebetulan. Allah kita adalah Allah yang terus bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi semua orang yang dikasihi-Nya. Dia adalah Allah yang berkuasa untuk melakukan intervensi untuk menggenapkan kehendak-Nya. Sering kali mungkin ketika masalah dan beban berat menimpa kita, kita tidak dapat melihat adanya jalan keluar, dan kita menyerah. Kita lupa bahwa Allah kita adalah Allah yang berdaulat dan terus bekerja dengan cara-Nya yang jauh melampaui apa yang dapat kita pikirkan. Kerap kali jalan keluar tersebut tidak serta-merta ada di depan kita, namun Tuhan menjanjikan penyertaan-Nya dan berkat-Nya pada waktu-Nya. Peristiwa Natal ini adalah bukti yang nyata. Dan ada begitu banyak peristiwa-peristiwa lain yang dicatat dalam Alkitab di mana Tuhan melakukan intervensi untuk menjaga umat-Nya, menggenapkan kehendak-Nya, dan menyatakan kemuliaan-Nya. Dalam keseharian kita menjalani kehidupan sebagai orang percaya, jangan berhenti berharap kepada-Nya, jangan berhenti untuk terus merasa kagum dan bersyukur akan karya-karya-Nya. Tugas yang Tuhan mandatkan bagi kita di tengah dunia ini memang sangat berat dan kesulitannya akan semakin bertambah beriringan dengan perkembangan zaman. Tetapi sadarilah satu hal ini, Allah yang secara mendadak melakukan intervensi di dalam sejarah melalui kehadiran Kristus, adalah Allah yang akan terus menyertai umat-Nya yang setia dan taat kepada setiap kehendak-Nya. God is at work!

He Is God Who Is Present
Betapa poin yang sederhana ini sering kita lupakan. Ketika sudah memasuki pertengahan tahun, dan kita sudah disibukkan dengan begitu banyak urusan yang menyita waktu kita, pekerjaan, sekolah, pasangan, anak, pelayanan, tanpa disadari kita telah terjebak dalam usaha kita sendiri untuk menyelesaikan semuanya. “Saya harus tampil prima besok dalam presentasi penting dengan jajaran direksi”, “Saya harus memenangkan kompetisi ini agar bisa mendapatkan beasiswa”, “Anak saya harus berprestasi, saya tidak mau dia menjadi anak yang biasa-biasa saja”. Betapa mudahnya ambisi pribadi, hiruk-pikuk kehidupan kota, dan cepatnya waktu bergulir membuat kita membebani diri sendiri dengan berbagai hal. Kita sering kali lupa, untuk apa, atau untuk siapa kita melakukan segala hal itu. Kita juga lupa bahwa kita mempunyai Allah yang hadir di tengah-tengah kita. Ia ada beserta kita untuk menyertai, memimpin, dan memberikan kita kekuatan dalam menjalani kehendak-Nya. Kita juga lupa untuk selalu berkomunikasi dengan-Nya sebelum melakukan segala sesuatu karena kita anggap kegiatan itu adalah rutinitas yang memang sudah seharusnya berjalan demikian. Akan sangat melelahkan jika kita menjalani hidup tanpa menyadari untuk siapa kita mengerjakannya.
Momen Natal adalah momen yang kembali mengingatkan kita akan kehadiran Allah di tengah-tengah kita. Ia bukan Allah yang meninggalkan ciptaan-Nya dipimpin oleh hukum alam. Ia adalah Allah yang memberikan awal kepada diri kita, Ia juga yang menetapkan akhir dari hidup kita, termasuk juga Ia adalah Allah yang terus menopang seluruh kehidupan dan pergerakan ciptaan-Nya. Maka pertanyaannya adalah, “Sadarkah kita kalau hidup kita adalah kehidupan yang diberikan oleh Allah, ditopang sepenuhnya oleh Allah, dan ditujukan untuk dihidupi di hadapan Allah? Sadarkah kita kalau kita hidup bukan bagi diri kita sendiri tetapi untuk menjalankan kehendak-Nya?” Immanuel, God with us.

Setelah kita memegang dan menghayati makna-makna penting dari peristiwa Natal ini, bagaimanakah seharusnya kita berespons? Mari kita mengingat akan malaikat yang dengan gegap gempita memberitakan “Kemuliaan bagi Allah di tempat Mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” Sudahkah dalam keseharian kita, kita terus bersyukur dan memuji Allah atas kelahiran Yesus Sang Juru Selamat? Sudahkah rasa syukur itu kita wujudkan dengan menjadi manusia yang ingin memperkenan Dia dan juga menyalurkan damai sejahtera dari-Nya kepada orang-orang di sekitar kita? Mari kita juga mengingat akan para gembala yang begitu mendengar kabar dari malaikat, mereka cepat-cepat berangkat untuk menjumpai Maria, Yusuf, dan Sang Bayi itu. Setelahnya mereka pun segera memberitahukan apa yang mereka saksikan dan membuat orang-orang heran akan apa yang mereka katakan. Bagaimana dengan kita? Setelah firman kita terima, apakah kita cepat-cepat menangkap dan menaatinya? Masihkah firman yang kita dengarkan minggu demi minggu menjadi sesuatu yang membakar hati kita? Rindukah kita juga untuk memberitakan kabar sukacita Injil sehingga membuat orang di sekitar kita terheran-heran oleh karya-Nya? Mari kita lihat juga orang majus, yang begitu melihat bintang-Nya, langsung melakukan perjalanan jauh ke Yerusalem untuk menyembah-Nya dan memberikan persembahan-persembahan terbaik. Mereka tidak sepenuhnya paham siapa Raja itu, mereka mungkin belum pernah mendengar secara langsung nubuatan para nabi Perjanjian Lama. Namun dengan iman mereka tanggap akan petunjuk dari Tuhan sampai membuat mereka rela bersusah payah menempuh perjalanan berhari-hari dan membawa persembahan emas, kemenyan, dan mur. Bagaimana dengan kita? Apakah kita tanggap akan petunjuk dari Tuhan? Dengan masa depan yang mungkin masih terlihat samar, apakah kita rela menempuh hal yang jauh dan sulit untuk menaati Tuhan, serta mempersembahkan hidup kita yang terbaik bagi-Nya?

Kiranya peristiwa Natal tidak hanya sekadar menjadi sebuah perayaan atau tradisi dalam setiap akhir tahun kita. Tetapi mari jadikan Natal menjadi salah satu peristiwa sentral yang dapat menuntun kita menjalani kehidupan sepanjang tahun dengan komitmen mengikut Tuhan. Karena Tuhan kita adalah Allah yang merendahkan diri-Nya, yang berdaulat dan aktif bekerja, serta Juru Selamat yang selalu beserta kita. Soli Deo Gloria!

Sally Danayani
Pemudi GRII Kertajaya

Sally Danayani

Desember 2016

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲