Artikel

Covenant: Knowing the God of Promise

Dalam mempelajari Alkitab khususnya Perjanjian Lama, kita akan menemukan begitu banyak kisah yang mewarnai Allah berelasi dengan manusia di dalam sebuah perjanjian (kovenan). Kita akan menelusuri beberapa kisah mengenai Allah memberikan perjanjian-Nya kepada manusia dan akan belajar mengenal Allah yang terus-menerus menyatakan diri-Nya. Kisah ini dimulai sejak kisah penciptaan Adam sampai zaman para nabi yang memberitakan firman Allah kepada bangsa Israel di dalam pembuangan ke Babel.

Perjanjian pertama yang Allah lakukan dengan manusia adalah perjanjian dengan Adam dan Hawa yang dikenal dengan sebutan kovenan kerja. Hal ini terjadi setelah Allah menciptakan Adam dan Hawa dan menempatkan keduanya dalam sebuah taman di suatu tempat yang bernama Eden. Di sana Allah memberikan perjanjian yang berupa perjanjian kerja yang tercatat di dalam Kejadian 1 dan 2. Allah memberikan perintah-Nya kepada Adam dan Hawa untuk beranak-cucu dan memenuhi bumi, menaklukkannya dalam arti memelihara dan mengusahakan bumi ini untuk kemuliaan Allah. Tetapi di dalam kisah selanjutnya kita melihat bahwa manusia jatuh ke dalam dosa. Allah di dalam anugerah-Nya menopang manusia yang seharusnya langsung mati ketika memakan buah pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat menjadi masuk di dalam proses menuju kematian (dari dead menjadi dying). Di sini Allah memberikan anugerah-Nya dengan disertai perjanjian dengan manusia bahwa melalui keturunan perempuan (Hawa) akan datang seorang Juru Selamat yang akan mengalahkan ular dan keturunannya.

Perjanjian yang Allah berikan ini disebut sebagai protoeuangelion, yaitu sebuah janji pertama kalinya yang menyatakan akan datangnya Kristus yang akan menyelesaikan permasalahan manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa. Di sini kita melihat bahwa Allah secara aktif memberikan topangan di dalam belas kasihan-Nya kepada manusia sehingga manusia tidak langsung mati dan manusia diberikan pengharapan akan kelepasan dari keberdosaannya. Allah menggantikan manusia yang pada saat itu harus mati dengan binatang yang disembelih-Nya untuk membuat pakaian dari kulit binatang. Di sini kita belajar melihat Allah yang penuh belas kasihan dan anugerah kepada manusia di dalam janji yang Ia berikan untuk menyediakan seorang Juru Selamat bagi manusia untuk dapat kembali kepada-Nya.

Perjanjian Allah selanjutnya dinyatakan di dalam kisah Nuh setelah Allah menurunkan air bah. Allah melihat manusia yang hidup dalam kejahatan dan menurunkan air bah untuk membinasakan mereka. Allah menyisakan delapan orang (keluarga Nuh) dan beberapa pasang dari seluruh binatang di bumi untuk melanjutkan kehidupan di dunia setelah air bah. Lalu kita belajar mengenai janji yang Allah berikan kepada Nuh, yaitu Allah tidak akan lagi menurunkan air bah untuk membinasakan manusia yang setelahnya akan terus bertambah jahat. Allah melakukan hal ini dengan memberikan sebuah tanda berupa busur yang mengarah ke langit (sering ditafsirkan sebagai pelangi).

Perjanjian berikutnya terjadi antara Allah dengan Abraham. Allah berjanji akan memberikan Abraham keturunan yang banyak sehingga menjadi suatu bangsa yang besar dengan nama yang besar dan ia akan menjadi berkat bagi seluruh dunia. Allah melakukan perjanjian dengan Abraham mengikuti suatu cara yang biasa dilakukan pada zaman itu. Pembelajaran dari sejarah Ancient Near East (Timur Dekat Kuno) menyatakan bahwa dalam zaman itu terdapat suatu bentuk perjanjian yang dikenal sebagai perjanjian suzerain, yaitu perjanjian antara dua pihak yang tidak setara. Satu pihak yang lebih kuat yang memberikan perjanjian dengan syarat-syarat di dalamnya dan pihak kedua yang adalah pihak yang lebih lemah dan harus menaati seluruh syarat-syarat yang ada di dalam perjanjian tersebut. Perjanjian ini dilakukan melalui suatu upacara menyembelih binatang seperti lembu sapi, kambing domba, serta burung merpati menjadi 2 bagian dan diletakkan di tanah sebelah-menyebelah dengan adanya satu “lorong” untuk orang dapat berjalan di tengah-tengahnya. Lalu pihak yang lebih lemah yang harus menaati seluruh syarat-syarat di dalam perjanjian tersebut berjalan melewati belahan binatang-binatang yang disembelih tersebut untuk menandakan bahwa jikalau orang itu lalai menjalankan syarat-syarat yang tercakup, ia akan mengalami nasib yang sama seperti binatang yang dibelah dua ini. Namun di dalam kisah Abraham kita melihat bahwa Allah sendirilah yang berjalan di tengah-tengah binatang yang dibelah dua itu untuk menandakan bahwa Allah sendiri akan mengalami hal itu bila Ia melanggar dan tidak menepati janji-Nya kepada Abraham. Hal ini sangat tidak lazim karena pihak yang lebih kuat yang berjalan melewati binatang tersebut. Di sini kita sekali lagi melihat kebesaran dan kesetiaan Allah yang memberikan perjanjian-Nya dengan Abraham dan memberikan kepastian bahwa Ia akan menggenapinya.

Perjanjian berikutnya dilakukan oleh Allah dengan bangsa Israel melalui perantaraan Musa. Allah melihat perbudakan Israel oleh Mesir sudah berlangsung lama dan Allah akhirnya bertindak untuk membawa Israel keluar dari Mesir dan membawanya ke tanah yang Ia janjikan kepada Abraham dan mengambil mereka menjadi umat-Nya untuk beribadah dan menyembah-Nya. Allah menantang raja Mesir, Firaun, dengan kalimat, “Biarkanlah umat-Ku pergi ke padang belantara untuk beribadah kepada-Ku.” Di sini Allah sekali lagi menyatakan diri sebagai Allah yang penuh belas kasih kepada manusia. Ia berjanji mengambil Israel menjadi umat-Nya dengan memberikan hukum Taurat dan berjanji akan memberikan hidup yang penuh kelimpahan bila mereka melakukan seluruh perkataan hukum Taurat itu. Namun karena hati manusia terus menyatakan kejahatan semata, maka bangsa Israel pun berkali-kali mengkhianati Allah dan berpaling kepada dewa-dewa lain sehingga Allah menghukum mereka dengan membuang mereka ke Babel.

Dalam kisah pembuangan ke Babel ini, Allah sekali lagi menyatakan belas kasih-Nya kepada Israel. Dalam menjalankan masa penghukuman akibat dosa-dosanya, Israel kembali menerima perjanjian dari Allah melalui nabi-nabi yang Ia utus ke tengah-tengah mereka. Allah memberikan janji kepada mereka untuk memulihkan mereka dari keadaannya saat itu. Satu hal penting yang Allah janjikan dinyatakan oleh Nabi Yehezkiel di dalam kitab Yehezkiel 36:22-32 adalah bahwa Allah akan kembali mengumpulkan mereka, memberikan air untuk mentahirkan mereka dan memberikan hati yang baru untuk mengubah mereka. Allah berjanji akan memberikan hati yang baru, yaitu hati yang dari daging untuk menggantikan hati yang dari batu di dalam diri umat-Nya untuk mengubahkan mereka. Inilah perjanjian yang Allah berikan kepada umat-Nya dengan menjanjikan Roh-Nya akan ditaruh ke dalam diri umat-Nya sehingga umat-Nya diubahkan kembali menjadi milik Allah seutuhnya. Kasih Allah begitu besar kepada umat-Nya sehingga meskipun mereka ada di dalam penghukuman pun Allah tetap berjanji untuk menyelamatkan bahkan memulihkan keadaan umat-Nya.

Beberapa hal penting dari setiap perjanjian yang Allah berikan. Hal pertama adalah seluruh perjanjian yang Allah berikan adalah murni dimulai dan digenapi oleh Allah sendiri. Dia berinisiatif memberikan perjanjian kepada manusia dan dengan kepenuhannya Ia menggenapi setiap perjanjian tersebut. Dari sini kita dapat belajar mengenal siapakah Allah yang kita percaya, bagaimana Ia menyatakan diri-Nya melalui setiap hal yang Ia kerjakan di dalam menggenapi seluruh perjanjian-Nya. Yang kedua kita melihat bahwa meskipun manusia setelah kejatuhan ke dalam dosa terus-menerus melawan Allah, Allah terus memberikan janji-Nya untuk memulihkan manusia kembali ke dalam posisi yang benar tanpa ada usaha dari manusia sedikit pun. Allah sepenuhnya yang memberikan anugerah-Nya sehingga manusia dapat dikembalikan menjadi manusia yang utuh dan dapat memuliakan Allah kembali. Manusia sama sekali tidak ada andil dalam proses pemulihan ini sehingga tidak ada satu hal pun yang dapat kita banggakan untuk membesarkan diri kita sendiri.

Kiranya hidup kita tidak lagi melihat kepada diri sendiri dan membesarkannya, tetapi kita menjadi anak-anak Allah yang mengerti kebesaran dan cinta kasih Allah dalam setiap perjanjian yang sudah Ia berikan dan genapkan bagi kita semua. Mari kita belajar membaktikan diri kita kepada Allah yang sudah menunjukkan kesetiaan-Nya dalam menggenapi setiap janji yang Ia berikan dan menjalankan bagian yang harus kita jalankan sebagai respons kita terhadap janji Allah tersebut. Dengan demikian kita boleh menjadi umat Allah yang setia kepada Allah yang sudah setia terlebih dahulu.

Aries Kencana Chandra
Pemuda FIRES

Aries Chandra Kencana

Februari 2014

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲