Artikel

Covenant of Grace: Hope for the Hopeless and Helpless Covenant Breakers

Dalam beberapa minggu terakhir ini, kita dihebohkan dengan release-nya sebuah film yang sangat dinanti-nantikan, yaitu Avengers: Endgame. Selain karena memang film Avengers itu sendiri selalu menjadi film yang populer, banyak orang menantikan film ini dengan begitu antusias karena berkaitan dengan film sebelumnya, Avengers: Infinity War, yang memiliki ending yang begitu suram. Hampir seluruh penikmat film ini kecewa dan tidak bisa menerima sebuah sad ending, di mana separuh dari penduduk seluruh alam semesta musnah, termasuk sebagian dari superheroes yang kita jago-jagokan. Sebuah kondisi yang begitu kelam, suram, dan tidak ada pengharapan ini adalah kondisi yang tidak bisa diterima oleh mayoritas manusia yang berusaha untuk mencari kebahagiaan. Menariknya, selama masa penantian dari film kedua ini, begitu banyak teori yang dikemukakan untuk menduga-duga kelanjutan dari film selanjutnya, dan hampir seluruh teori ini berisi harapan akan happy ending. Hal ini menjadi sebuah kenyataan yang perlu kita sadari, bahwa manusia tidak mungkin hidup di dalam keputusasaan yang berkepanjangan. Manusia memerlukan harapan di dalam hidupnya.

Jikalau urusan cerita sebuah film yang fiksi saja banyak yang peduli, bukankah seharusnya kita lebih peduli dengan kondisi yang sesungguhnya terjadi di depan mata kita? Seharusnya kita semua menyadari bahwa ancaman kita lebih berbahaya dan lebih mematikan dibandingkan dengan yang dihadapi para superheroes Avengers. Tragedi kejatuhan manusia ke dalam dosa bukan hanya mengancam sebagian penduduk alam semesta saja, tetapi seluruh umat manusia di sepanjang sejarah. Kita semua berada di dalam ancaman kematian kekal sebagai akibat kejatuhan manusia ke dalam dosa.

Pada artikel sebelumnya, kita melihat peristiwa kejatuhan manusia ke dalam dosa sebagai rusaknya covenantal relationship antara manusia dan Allah. Kita juga sudah membahas bagaimana efek kerusakan relasi ini mengakibatkan manusia tidak lagi mampu berfungsi sebagai gambar dan rupa Allah. Manusia menjadi hopeless dan helpless.
The Hopeless and Helpless Covenant Breakers
Manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa tidak mungkin menyelamatkan dirinya dari dosa, inilah yang dimaksud dengan manusia yang helpless. Di sepanjang sejarah, umat manusia terus berusaha mencari cara untuk membebaskan diri dari kondisi yang terjerat dosa. Segala sesuatu yang dikerjakan manusia hanya akan berujung kepada dosa, bahkan usaha manusia untuk menolong dirinya sendiri pun adalah perbuatan dosa di mata Allah. Di dalam Theologi Reformed, hal ini dikenal juga sebagai total depravity atau kerusakan total. Seluruh aspek di dalam hidup manusia sudah rusak dan kecenderungannya adalah berbuat dosa. Seorang Bapa Gereja yang bernama Agustinus menjelaskan kondisi ini di dalam pemikirannya mengenai empat kondisi manusia:

Posse peccare (bisa berdosa)
Kondisi atau status ini adalah status dari manusia sebelum jatuh ke dalam dosa. Manusia diciptakan dalam kondisi yang Allah katakan sungguh amat baik. Manusia berada dalam kondisi yang sangat baik bagi mereka untuk menjalankan kehendak Allah. Namun, di dalam kondisi ini manusia masih perlu diuji oleh Allah, yaitu ujian ketaatan. Sehingga di dalam diri manusia ada potensi untuk mereka jatuh ke dalam dosa. Manusia saat itu tidak berdosa, namun bisa berdosa.

Non posse non peccare (tidak bisa tidak berdosa)
Kondisi ini adalah kondisi dari manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa. Seperti yang dibahas dalam artikel sebelumnya, masalah utama dari manusia berdosa bukanlah perbuatan mereka, tetapi ketaatan hati mereka kepada Allah. Sikap hati seperti inilah yang akhirnya menuntut manusia kepada perbuatan-perbuatan berdosa. Bukan hanya itu, manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa akan terjerat di dalam kondisi tersebut dan akan terus-menerus mengulangi dosanya bahkan di dalam tingkatan yang makin parah. Di dalam kondisi inilah manusia tidak mungkin untuk melepaskan dirinya dari jerat dosa. Bahkan hal yang terlihat baik tetapi dilakukan oleh manusia dengan motivasi yang salah pun adalah dosa di mata Allah. Oleh karena itu, apa pun yang dilakukan manusia hanyalah dosa di mata Allah.

Posse non peccare (bisa tidak berdosa)
Kondisi ini adalah setelah manusia ditebus dan menerima Kristus sebagai satu-satunya Juruselamat. Melalui kuasa penebusan yang dikerjakan oleh Allah Anak dan diterapkan dalam diri manusia oleh Allah Roh Kudus, manusia dimampukan untuk melawan kebiasaan berdosanya. Kuasa penebusan Allah bukan hanya membersihkan orang-orang percaya dari dosa-dosanya, tetapi juga memberikan mereka hati yang baru dan juga Roh Kudus yang memimpin mereka untuk membangun hidup yang kudus di hadapan Allah. Sehingga manusia yang sebelumnya selalu berbuat dosa, setelah ditebus mampu untuk tidak berbuat dosa karena Allah yang menopang kehidupan mereka.

Non posse peccare (tidak bisa berdosa)
Kondisi yang terakhir adalah ketika manusia sudah disempurnakan dan hidup kekal bersama Allah. Dalam kondisi ini, manusia sudah tidak mungkin lagi berbuat dosa karena mereka sudah hidup sepenuhnya didedikasikan bagi Allah. Segala sesuatu yang dilakukan lahir dari hati yang rindu memuliakan Allah dan berpaut dengan segala kehendak yang Allah nyatakan.

Konsep dari empat status manusia ini memberikan kita gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi manusia setelah jatuh ke dalam dosa. Manusia yang kecenderungan hatinya terus berbuat dosa tidak mungkin dapat menyelamatkan dirinya. Di satu sisi, mereka masih terus berbuat dosa yang merupakan kekejian di mata Allah. Di sisi lain, karena kondisi berdosa ini, manusia tidak mungkin memulihkan relasinya dengan Allah yang kudus. Jikalau dikaitkan dengan kisah Hosea dan Gomer, manusia berdosa bagaikan Gomer yang terus-menerus melacurkan dirinya kepada dosa dan, secara status, Gomer sangat tidak layak menjadi istri dari Hosea yang adalah seorang nabi. Oleh karena itu, di dalam kisah ini Allah menyuruh Hosea secara inisiatif menerima Gomer walaupun ia masih melacurkan dirinya. Relasi Hosea-Gomer inilah yang menjadi analogi relasi Allah dengan manusia. Kondisi manusia yang hopeless dan helpless hanya bisa menemukan harapannya di dalam Allah, yaitu Allah yang berinisiatif sendiri untuk memulihkan relasi manusia dengan Allah dan membawa kembali manusia untuk hidup secara utuh bagi Allah.

Tanpa adanya intervensi Allah secara langsung, manusia tidak mungkin dapat mempertahankan panggilannya sebagai umat Allah. Di sepanjang sejarah Alkitab, kita dapat melihat bagaimana Allah yang secara langsung bertindak ke dalam sejarah manusia untuk menjaga benang merah dari perjanjian-Nya dengan manusia. Hal ini terlihat dengan jelas di dalam peristiwa kejatuhan manusia ke dalam dosa. Allah secara langsung membuat perjanjian penebusan (covenant of redemption) dengan umat-Nya. Pada artikel ini kita akan melihat bagaimana perjanjian Allah dengan manusia yang secara langsung dibuat ketika manusia sudah jatuh ke dalam dosa.

Pertanyaan pertama yang Allah lontarkan kepada manusia ketika manusia sudah jatuh ke dalam dosa adalah, “Di manakah engkau?” (Kej. 3:9). Ini adalah sebuah pertanyaan yang perlu kita renungkan dengan baik-baik sebagai manusia berdosa. Salah satu efek kejatuhan adalah bergesernya posisi manusia dari covenant keeper menjadi covenant breaker, dari umat Allah menjadi seteru Allah. Manusia berdosa, tanpa pertolongan Allah, berada di dalam statusnya sebagai pemberontak kepada Allah, dan sudah sepatutnya dihukum Allah. Berkaitan dengan posisi manusia, secara umum dapat dibagi menjadi dua posisi, entah hidup taat kepada Allah dan seteru terhadap dunia, atau hidup mengikuti arus dunia tetapi berseteru dengan Allah. Hal ini sangat berkaitan dengan covenantal relationship antara Allah dan manusia. Sebagai covenant keeper, seharusnya manusia hidup sepenuhnya taat kepada kehendak Allah, tetapi jikalau manusia tidak rela untuk hidup taat sepenuhnya kepada Allah, manusia sudah memilih untuk menjadi covenant breaker. Dengan dibuatnya covenant of redemption, Allah menyatakan anugerah-Nya kepada manusia sehingga manusia mendapatkan pengharapan untuk kembali ke posisinya sebagai covenant keeper. Palmer Robertson menamakan perjanjian antara Allah dan Adam setelah jatuh ke dalam dosa sebagai covenant of commencement, perjanjian yang menjadi awal atau permulaan dari covenant of redemption. Di dalam Kejadian 3:14-19, Allah menyatakan perkataan-Nya kepada Iblis, Hawa, dan juga Adam. Di dalam perkataan ini, terdapat unsur berkat dan kutuk/hukuman sebagai bagian dari perjanjian Allah dengan manusia.

God’s Word to Satan, Woman, and Man
Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: “Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu. Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” (Kej. 3:14-15)

Kutukan yang Allah berikan kepada ular tidak hanya ditujukan kepada ular secara literal, tetapi juga kepada Iblis. Di satu sisi, memang binatang ular itu sendiri mendapat kutukannya dan berjalan dengan perutnya, tetapi di sisi lain, hal ini pun ditujukan kepada si Iblis sebagai sebuah lambang kekalahan mutlak dari si Iblis. Inti dari perkataan Allah kepada ular ini adalah deklarasi perseteruan yang berkelanjutan di sepanjang sejarah umat manusia hingga akhir zaman, sebuah peperangan rohani antara umat Allah dan seteru Allah, antara covenant keeper dan covenant breaker. Allah mengadakan perseteruan ini sebagai bagian dari pemeliharaan-Nya atas umat-Nya. Tanpa adanya perseteruan antara umat-Nya dan dunia atau keturunan si Iblis, maka kemurnian kekudusan kehidupan umat Allah akan sulit dijaga. Melalui perserteruan ini, Allah ingin memelihara sekelompok manusia hingga lahirnya Sang Juruselamat, dan melalui kelahiran-Nya inilah kemenangan dan karya keselamatan Allah digenapi.

Firman-Nya kepada perempuan itu: “Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu.” (Kej. 3:16)

Inti dari perkataan Allah kepada perempuan itu adalah adanya hukuman bagi sang perempuan dengan adanya kesakitan di dalam melahirkan dan membesarkan anak. Hal ini tetap harus dijalankan oleh perempuan sebagai bagian dari pemeliharaan Allah bagi kelangsungan umat manusia. Selain itu, yang paling utama di balik hukuman ini adalah berkat dan harapan yang Tuhan janjikan, yaitu kelahiran dari seorang Anak yang spesial yang akan menyatakan kemenangan-Nya di dalam perseteruan dengan si Iblis (akan meremukkan kepala si jahat) dan menyelamatkan umat Allah dari dosa.

Lalu firman-Nya kepada manusia itu: “Karena engkau mendengarkan perkataan istrimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.” (Kej. 3:17-19)

Di dalam perkataan Allah kepada manusia (laki-laki), kita dapat melihat adanya hukuman Allah kepada manusia, khususnya laki-laki, yang harus bekerja keras untuk kelangsungan hidupnya. Mereka harus bekerja keras dalam mengusahakan tanah sehingga dapat memberikan hasil. Meskipun hasil itu bisa jadi hanya semak dan rumput duri, yang berarti adalah hal yang sia-sia, tetapi Tuhan tetap memberikan berkat, bahwa usaha ini akan memberikan hasil yang dapat digunakan untuk hidup. Di dalam konteks ini, laki-laki harus bekerja untuk memelihara kelangsungan hidup manusia di dalam kebutuhan fisik sebagai bagian dari pemeliharaan Allah hingga kelahiran Sang Anak yang dijanjikan. Di balik hukuman kesulitan dan kesusahan di dalam bekerja, terdapat berkat yang Allah janjikan, yaitu lahirnya Sang Juruselamat.

John Frame merangkum pengertian dari 3 perkataan ini seperti demikian:
“By following the narrative of the fall, Scripture indicates that God intends to save His fallen people. There is good news mixed with the bad. God curses Satan, the serpent (Gen. 3:14-15), but at the end of this curse He indicates that Satan will be crushed by a Child of Eve (v. 15). Though labor and childbearing are to be painful, they will preserve the human race until the time when the special Child of the woman will gain this victory and save His people. Adam and Eve received this promise in faith. Adam named his wife Eve, “mother of all living” (3:20), expressing his confidence that God would keep mankind alive until the Deliverer should come, and Eve named her first son Cain, honoring childbirth as a gift of God (4:1). So the promise of seed (the child promise) correlates with the promise that Adam’s work will continue to feed the human race (the land promise), bringing God’s blessing out of curse.”

Inilah perjanjian yang Allah adakan langsung setelah manusia jatuh ke dalam dosa, perjanjian yang menjadi harapan bagi umat manusia dari ancaman kematian dan murka Allah atas dosa-dosa mereka, sebuah perjanjian keselamatan yang menjadi janji dan harapan yang terus manusia ingat dan pelihara sebagai bagian dari anugerah Allah atas manusia berdosa.

Conclusion
Allah yang kita imani adalah Allah yang setia dan terus memelihara perjanjian yang Ia adakan dengan manusia. Di satu sisi, Allah tetap mengeksekusi setiap pelanggaran terhadap perjanjian-Nya dengan manusia. Segala keberdosaan yang dilakukan manusia akan dihukum oleh Allah sesuai dengan perjanjian. Namun, di sisi lain, Allah tetap menyatakan kasih-Nya yang tidak bersyarat dengan mengadakan perjanjian penebusan atau keselamatan. Ia menjanjikan akan adanya Sang Juruselamat bagi manusia berdosa, dan melalui-Nya-lah kita mendapatkan pengharapan akan keselamatan dan jalan perdamaian dengan Allah yang kudus. Tentu saja janji ini menuntut manusia yang menerima anugerah tersebut untuk hidup dalam ketaatan kepada Allah. Setiap umat Allah yang menerima anugerah ini harus berespons dengan iman yang hidup dan secara aktif menjalankan setiap kehendak dan perintah Allah, iman yang ternyatakan di dalam kehidupan yang secara total didedikasikan bagi Allah dan hidup berseteru dengan arus dunia berdosa ini. Kita dipanggil untuk kembali menjalankan misi kita sebagai umat-Nya, untuk menyatakan kemuliaan dan kebesaran-Nya ke seluruh bagian di bumi ini, hidup menyatakan Injil dan kebenaran-Nya kepada dunia yang berdosa ini. Biarlah kita bersyukur atas anugerah Allah yang besar ini dan dengan tanggung jawab dan gentar kepada Allah, kita menjalankan setiap kehendak-Nya. Kiranya Tuhan menolong kita!

Simon Lukmana
Pemuda FIRES

Simon Lukmana

Mei 2019

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk WRF General Assembly 2019 yang telah diadakan pada 8-12 Agustus 2019.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
baik

Selengkapnya...

saya mau bertanya aja, kalau di katakan bahwa "when they were created, human can be self-centered",...atau...

Selengkapnya...

Terima kasih untuk renungan tentang kasih Allah.

Selengkapnya...

Asumsikan ada terbatas banyaknya bilangan genap jika dan hanya jika terdapat M yang merupakan bilangan terbesar dari...

Selengkapnya...

YESUS BERJANJI AKAN KESELAMATAN JEMAAT-NYA SAMPAI AKHIR ZAMAN, GEREJA KATOLIK TERBUKTI EKSIS SAMPAI SEKARANG DAN...

Selengkapnya...

© 2010, 2019 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲