Artikel

Cultural Mandate Revival "To be in the world, but not of the world"

Baru saja bulan lalu kita merayakan kemeriahan Asian Games 2018 yang diadakan di Jakarta dan Palembang. Kita semua pasti bangga dengan kemeriahan opening ceremony yang disajikan dengan begitu megah dan meriah, tetapi juga kental dengan warna budaya lokal Indonesia. Pertunjukan seni dan budaya seperti ini sering kali mengundang decak kagum banyak orang, karena terdapat nilai-nilai budaya setempat yang unik sekaligus sarat dengan makna dan kepercayaan setempat. Oleh karena itu, budaya tidaklah netral. John Frame menyatakan, “Every worldview, every philosophy, even if it professes to be nonreligious, has this totalitarian influence on human life, and, followed consistently, will dictate a certain kind of culture. Culture, therefore, is never religiously neutral. Everything in culture expresses and communicates a religious conviction: either faith in the true God or denial of Him.” Dari kalimat ini Frame mempertajam dengan menyatakan bahwa budaya itu tidak sekadar netral, tetapi memiliki kecenderungan untuk mengarahkan kita kepada dua hal, yaitu iman kepada Allah yang sejati atau penyangkalan terhadap Dia. Setiap hal yang kita lakukan di dalam budaya akan mencerminkan iman kita.

Berdasarkan pengertian ini kita dapat lebih jelas mengerti alasan kebangkitan mandat budaya berada di urutan paling akhir dari Lima Kebangkitan Pemuda Reformed Injili. Pengertian iman yang benar dan secara konsisten diterapkan dalam kehidupan harus menjadi fondasi dari kebudayaan. Tanpa fondasi iman yang kukuh, maka kebudayaan yang kita cerminkan bisa jadi bukan cerminan iman Kristen yang sejati. Disadari atau tidak disadari, kita sudah tercemar dengan berbagai nilai atau ideologi yang dunia ini tawarkan. Keluarga, sekolah, kehidupan sosial, media, hingga norma-norma masyarakat setempat, adalah institusi-institusi yang menjadi sarana penyaluran nilai-nilai filsafat dunia. Lebih berbahayanya lagi, banyak orang Kristen yang tidak sadar dan bahkan dengan tangan terbuka menerima pengajaran yang melawan Tuhan tersebut, lalu mereka memperjuangkannya sebagai kebenaran. Alkitab berkali-kali mewanti-wanti kita akan kebahayaan hidup bergaul akrab dengan dunia, karena hal itu akan meracuni dan merusak iman kita kepada Allah.

Di satu sisi, hidup bergaul dengan dunia merupakan suatu kebahayaan, tetapi di sisi lain Alkitab juga tidak mengajarkan hidup seperti seorang escapist. Tuhan tidak memanggil kita untuk hidup terasing meninggalkan dunia ini. Terkait hal ini Alkitab memberikan sebuah formula umum, yaitu “to be in the world (Yoh. 17:11,15 dan Tit. 2:12) but not of the world (Yoh. 15:19, 17:14-16).” Kita menyadari bahwa Tuhan menempatkan kita di dunia ini, sehingga kita adalah bagian dari dunia ini dan hidup di dalam lingkungan dunia ini. Namun, kita tidaklah sama dengan dunia ini, karena dengannya kita menerima seluruh nilai-nilainya yang memberontak terhadap Allah. Artikel ini akan membahas mengenai kebangkitan mandat budaya, khususnya di dalam pengertian to be in the world but not of the world. Sebagai dasarnya, kita akan membahas terlebih dahulu mengenai perbedaan ciptaan dengan budaya.

Creation vs. Culture
Seperti yang sudah dijelaskan di atas, budaya tidaklah netral. Di dalam budaya terkandung nilai-nilai dari si pencipta budaya tersebut. Di dalam hal ini kita harus jelas membedakan bahwa budaya bukanlah ciptaan Tuhan secara langsung, budaya diciptakan oleh manusia. Allah menciptakan dunia ini. Alam, struktur genetika makhluk hidup, proses kimiawi dunia, ataupun hukum alam, bukanlah budaya, itu adalah ciptaan. Namun, budaya adalah mandat yang diberikan kepada manusia ciptaan-Nya. Manusia sebagai gambar dan rupa Allah, diberikan potensi dan kapasitas untuk mengelola alam semesta ini dan mengembangkannya menjadi sebuah kebudayaan. Budaya bukan sekadar hal yang kita kelola saja, tetapi juga hal yang kita buat menggunakan tangan dan pikiran kita. Akibatnya, di dalam budaya kita tidak hanya mendapatkan wujud secara fisik atau tampak secara mata saja, melainkan juga nilai-nilai yang ada di dalamnya. Oleh karena itu, Lausanne Committee on World Evangelism menyatakan bahwa “culture is an integrated system of beliefs, values, customs, and institutions which binds a society together and gives it a sense of identity, dignity, security, and continuity.” Nilai dan makna dari suatu budaya sangat bergantung pada ideologi atau iman orang-orang di balik budaya tersebut.

Sebagai orang Kristen, kita mengerti sekali bahwa alam semesta ini sudah jatuh ke dalam dosa, sehingga tidak ada satu pun aspek kehidupan yang tidak tercemar dosa. Akibatnya, budaya yang dibangun oleh manusia pun adalah kebudayaan yang sudah dicemari oleh dosa. Manusia membangun budayanya dengan memasukkan nilai-nilai pemberontakan kepada Allah di dalamnya. Padahal, Kitab Kejadian sudah mencatat mengenai mandat budaya, yaitu untuk memenuhi dan menaklukkan alam ini, lalu mempersembahkannya bagi kemuliaan Tuhan. Mandat ini sangatlah penting, karena mandat ini mendefinisikan tujuan hidup manusia. Sebagai gambar Allah, manusia diberikan hak untuk menggunakan sumber daya alam di dalam ciptaan Allah, untuk menggarap segala potensi yang ada di dalamnya dan memfasilitasinya di bawah hukum Allah. Kita dipanggil untuk mengubah ciptaan ini menjadi kebudayaan, sebagai rumah atau wadah umat manusia. John Frame menyatakan demikian, “God’s original purpose is to fill the world with human culture that glorifies Him. And today we do see people filling and ruling the earth, but in human cultures that often express hatred for the Creator.” Inilah gap dan tantangan yang kita hadapi sebagai pemuda Reformed Injili, yaitu menjalankan mandat budaya yang sejati di tengah lingkungan yang menyimpangkan mandat budaya.

Should Christians be Involved in Modern Culture?
Jikalau kita sudah menyadari mandat budaya yang Tuhan berikan dan situasi budaya sekitar kita yang sudah berdosa, pertanyaannya adalah: “Bagaimana seharusnya kita berinteraksi dengan dunia ini?” Seperti yang sudah disinggung pada bagian awal artikel ini, prinsip kekristenan adalah “to be in the world but not of the world,” kita ditempatkan di tengah-tengah dunia ini tetapi kita tidak berbagian di dalam nilai-nilai dunia ini. Prinsip ini dapat dijelaskan di dalam beberapa aspek. Pertama, kita tidak dipanggil untuk hidup mengasingkan diri dari dunia, tetapi kita dipanggil untuk berada di tengah dunia, bahkan berinteraksi dengan dunia ini. Pengaruh yang diberikan oleh dunia modern ini hadir dengan begitu kental, di dalam berbagai aspek kehidupan, sehingga kita tidak bisa menghindari pengaruhnya. Mau tidak mau, suka tidak suka, kita harus berinteraksi dengan budaya dunia, tetapi yang penting adalah kita tidak boleh mengompromikan iman. Aspek yang pertama ini lebih bersifat pasif dan defensif, berada di tengah dunia tetapi tetap menjaga kemurnian iman. Alkitab menyatakan bahwa kita dipanggil untuk menjadi garam dan terang bagi dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa ini. Ini aspek yang kedua, secara aktif kita memancarkan terang Allah dan mencegah kebusukan di dalam dunia, dengan kata lain membawa kuasa penebusan Allah ke dalam budaya dunia yang berdosa. Oleh karena itu, kita ada di dunia ini bukan hanya bertahan menjaga kemurnian iman saja, tetapi juga harus secara aktif memengaruhi dunia ini untuk mengembalikan budaya bagi kemuliaan Tuhan.

Untuk menjalankan hidup yang ada di dunia ini tetapi tidak dipengaruhi nilai dunia bukanlah hal yang mudah. Di satu sisi kita harus berinteraksi dengan dunia ini untuk menyatakan kebenaran Allah, tetapi kita harus berhati-hati karena semakin dalam kita berinteraksi, semakin rapuh kita terhadap pengaruh dunia ini. Kita harus mempertimbangkan aspek kedewasaan rohani ketika bermandat budaya. Karena itulah kita harus kembali menyadari bahwa kebangkitan mandat budaya berada setelah 4 kebangunan yang lain (doktrin, epistemologi, etika, dan pelayanan) yang menjadi pilar dalam kedewasaan rohani seseorang.

Kesimpulan
Siapakah pemuda Reformed Injil yang sejati? Kembali pertanyaan ini harus kita renungkan baik-baik. Bukan hanya kita harus membangun pengertian doktrin yang kukuh, kita pun harus memiliki kerangka berpikir yang tepat. Tidak cukup memiliki pengertian yang benar, kita juga dituntut untuk memiliki kehidupan yang memancarkan kebenaran ini di dalam etika hidup kita. Kalau kita berhenti sampai titik ini, kita akan dianggap sebagai orang Kristen yang pasif dan egois, karena sesungguhnya kita dituntut untuk menjadi berkat dengan melayani Tuhan. Namun, hal ini pun tidak cukup untuk menjadikan kita seorang pemuda Reformed Injili yang sejati, kita juga harus dibangunkan di dalam mandat budaya, karena Tuhan menyatakan bahwa kita adalah garam dan terang bagi dunia ini. Khususnya di dalam rangka memperingati Hari Reformasi di bulan Oktober ini, marilah kita kembali merenungkan akan kobaran api Reformasi yang Tuhan sudah pelihara lebih dari 500 tahun ini. Sebagai pemuda Reformed Injili, sudah sejauh manakah kita mendisiplinkan diri kita mengejar apa yang Tuhan inginkan di dalam diri kita? Kiranya Tuhan menolong kita untuk menyadari seutuhnya panggilan yang mulia ini.

Simon Lukmana
Pemuda FIRES

Simon Lukmana

Oktober 2018

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pimpinan dan penyertaan Tuhan sehingga izin pendirian dan pelaksanaan Calvin Institute of Technology telah diberikan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi pada tanggal 18 Oktober 2018.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Pengalaman Pak Heru membuat renungan ini lebih sarat makna. Thank you

Selengkapnya...

Salah tafsir Yesus bukan Allah atau hanya sbg ciptaan belaka ( ciptaan sbg manusia saja atau malaikat seperti...

Selengkapnya...

Hambatan-hambatan gereja baik eksternal dan internal,serta terangkan keberadaan Allah dan Sifat-sifat Allah

Selengkapnya...

Saya harus sampaikan ini Artikel sesat sebaiknya di hapus, ini tidak alkitabiah buah pemikiran penulis bukan...

Selengkapnya...

Salomo Depy : kmu over sensitif. Ini artikel tujuan utk membangun, tp kamu spt salah minum obat

Selengkapnya...

© 2010, 2018 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲