Artikel

Davidic Covenant: The Everlasting Kingdom

Sebagai umat Allah, seharusnya kita menyadari bahwa seluruh hidup kita harus tunduk di bawah pemimpin kita, yaitu Allah itu sendiri. Ketaatan kita kepada sang pemimpin tersebutlah yang menentukan keberlangsungan kita sebagai bagian dari umat-Nya. Pada artikel sebelumnya, kita melihat bagaimana umat Allah dibentuk sebagai bagian dari perjanjian Allah dengan tokoh-tokoh utama di dalam Alkitab, seperti Abraham yang menerima janji akan tanah dan juga keturunan baginya yang akan menjadi suatu bangsa besar. Dan pada artikel yang terakhir, kita membahas sepintas mengenai perjanjian Allah dengan Musa yang salah satu tema utamanya adalah pemberian hukum Allah sebagai dasar etika kehidupan umat Allah. Hingga titik ini (pemberian hukum Allah), seharusnya kita menyadari bahwa Allah adalah the Lord of the covenant. Hal ini berarti Allah adalah satu-satunya pribadi yang berhak atas seluruh hidup kita. Kehidupan kita, beserta seluruh aspek di dalamnya berada dalam ikatan perjanjian dengan Allah. Maka pada masa kehidupan Daud, Allah ingin menyatakan takhta-Nya secara konkret di dalam sebuah wilayah. Sehingga, Ia tidak lagi memerintah umat-Nya secara mobile, tetapi dari sebuah wilayah yang jelas. Dengan kata lain, pada masa Daud inilah Kerajaan Allah mulai dinyatakan walaupun belum sepenuhnya. Namun, hal ini bukan berarti Allah tidak pernah memerintah pada masa-masa sebelumnya. Ia tetap menyatakan pimpinan-Nya melalui hakim-hakim yang Ia tunjuk. Untuk mengerti latar belakang dari Kerajaan Daud, kita akan sedikit mengulas cerita yang menjadi latar belakang kemunculan Daud hingga masa pasca-Daud.

Establishment of the Davidic Covenant
Ketika hakim yang terakhir, Samuel, sudah tua, para tua-tua Israel berkumpul dan meminta Samuel untuk menunjuk seorang raja. Mereka berkata, “Engkau sudah tua dan anak-anakmu tidak hidup seperti engkau; maka angkatlah sekarang seorang raja atas kami untuk memerintah kami, seperti pada segala bangsa-bangsa lain” (1Sam. 8:5). Hal yang menarik yang dapat kita lihat pada bagian ini adalah keinginan Israel memiliki seorang raja yang bermotifkan keirihatian mereka terhadap bangsa-bangsa lain, padahal secara ambivalen Alkitab mencatatkan bahwa Israel memiliki sejarah yang kelam berkaitan dengan penunjukan seorang raja. Misalnya saja Abimelekh bin Yerubaal yang dinobatkan menjadi raja setelah ia membunuh hampir seluruh saudara-saudaranya yang berjumlah 70 orang dan menyisakan satu orang saja yang tidak dibunuh karena ia bersembunyi. Walaupun Allah sendiri menjanjikan akan adanya raja baik kepada Abraham maupun Yakub, namun penunjukan seorang manusia sebagai raja perlu pertimbangan yang sangat bijak. Demikian juga ketika Israel meminta seorang raja, Allah memberikan keputusan sekaligus peringatan seperti demikian (1Sam. 8:7-9):

TUHAN berfirman kepada Samuel: “Dengarkanlah perkataan bangsa itu dalam segala hal yang dikatakan mereka kepadamu, sebab bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka. Tepat seperti yang dilakukan mereka kepada-Ku sejak hari Aku menuntun mereka keluar dari Mesir sampai hari ini, yakni meninggalkan Daku dan beribadah kepada allah lain, demikianlah juga dilakukan mereka kepadamu. Oleh sebab itu dengarkanlah permintaan mereka, hanya peringatkanlah mereka dengan sungguh-sungguh dan beritahukanlah kepada mereka apa yang menjadi hak raja yang akan memerintah mereka.”

Lalu Samuel memperingatkan bangsa Israel bahwa seorang raja dapat menjadi seorang tiran yang menindas mereka, tetapi pada akhirnya seorang raja pun ditunjuk, yaitu Saul (1Sam. 9:2). Saul dipilih karena ia memiliki penampilan fisik yang sangat berbeda dibanding orang lain; selain wajahnya yang tampan, perawakannya yang tinggi pun menjadi dasar dalam pertimbangan pemilihannya. Memang pada mulanya Saul memimpin Israel menuju kepada kemenangan, tetapi berikutnya Saul melanggar perintah Allah, hingga Allah menyatakan bahwa kerajaannya tidak akan berlanjut, tetapi akan diserahkan kepada seorang yang Tuhan pilih (1Sam. 13:14), seorang yang dikatakan sebagai “a man after God’s own heart”.

Jikalau kita membandingkan penunjukan Saul dan Daud sebagai raja, kita akan menjumpai perbedaan yang cukup signifikan. Sederhananya, Saul dipilih menjadi raja karena penampilan fisiknya, sedangkan Daud karena Allah sendiri yang membuatnya menjadi seorang yang berkenan di hati-Nya. Terdapat rentang waktu yang cukup panjang mulai dari penunjukannya hingga Daud benar-benar diangkat menjadi seorang raja. Di dalam kekristenan, kita percaya bahwa seorang pelayan Tuhan itu matang karena Tuhan sendiri yang memimpin dan membentuk hidupnya, bukan karena kehebatan yang diperjuangkan oleh orang itu sendiri. Perbedaan yang lain antara Daud dan Saul adalah ketika mereka jatuh ke dalam dosa. Saul yang melanggar perintah Allah tidak mengalami pertobatan, sedangkan Daud begitu menyesal dan bertobat di hadapan Allah. Allah mengampuni kesalahan Daud, walaupun pada masa akhir hidupnya terjadi pemberontakan dan hal-hal yang begitu menyedihkan hatinya. Namun, di balik semua ini, Daud tetaplah raja yang paling agung yang pernah ada di dalam sejarah Kerajaan Israel dan Yehuda.

Ketika Daud menjabat sebagai raja Israel inilah perjanjian Allah dengan Daud diadakan (2Sam. 7:8-16).

Oleh sebab itu, beginilah kaukatakan kepada hamba-Ku Daud: Beginilah firman TUHAN semesta alam: Akulah yang mengambil engkau dari padang, ketika menggiring kambing domba, untuk menjadi raja atas umat-Ku Israel. Aku telah menyertai engkau di segala tempat yang kaujalani dan telah melenyapkan segala musuhmu dari depanmu. Aku membuat besar namamu seperti nama orang-orang besar yang ada di bumi. Aku menentukan tempat bagi umat-Ku Israel dan menanamkannya, sehingga ia dapat diam di tempatnya sendiri dengan tidak lagi dikejutkan dan tidak pula ditindas oleh orang-orang lalim seperti dahulu, sejak Aku mengangkat hakim-hakim atas umat-Ku Israel. Aku mengaruniakan keamanan kepadamu dari pada semua musuhmu. Juga diberitahukan TUHAN kepadamu: TUHAN akan memberikan keturunan kepadamu. Apabila umurmu sudah genap dan engkau telah mendapat perhentian bersama-sama dengan nenek moyangmu, maka Aku akan membangkitkan keturunanmu yang kemudian, anak kandungmu, dan Aku akan mengokohkan kerajaannya. Dialah yang akan mendirikan rumah bagi nama-Ku dan Aku akan mengokohkan takhta kerajaannya untuk selama-lamanya. Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku. Apabila ia melakukan kesalahan, maka Aku akan menghukum dia dengan rotan yang dipakai orang dan dengan pukulan yang diberikan anak-anak manusia. Tetapi kasih setia-Ku tidak akan hilang dari padanya, seperti yang Kuhilangkan dari pada Saul, yang telah Kujauhkan dari hadapanmu. Keluarga dan kerajaanmu akan kokoh untuk selama-lamanya di hadapan-Ku, takhtamu akan kokoh untuk selama-lamanya.

Di dalam bagian ini, kita dapat melihat adanya janji Allah yang akan mengukuhkan Kerajaan Daud selama-lamanya, tetapi juga ada disiplin yang akan diberikan bagi setiap pelanggaran. Di dalam bagian ini kita dapat melihat adanya janji Allah, tanggung jawab manusia, berkat bagi ketaatan, dan disiplin bagi ketidaktaatan. Ini adalah aspek-aspek yang muncul dalam sebuah perjanjian. Di dalam perjanjian Allah dengan Daud ini pun kita dapat melihat adanya kesinambungan atau pemeliharaan Allah yang terus berlangsung bagi umat manusia. Janji Allah kepada Daud tidak hanya diberikan bagi Daud saja, tetapi juga kepada keturunan-keturunannya. Salomo, anak Daud yang menggantikannya menjadi raja Israel, memiliki kekuasaan yang melebihi Daud, seorang raja yang dikatakan sebagai raja yang sangat bijaksana. Pada masa Salomo inilah Bait Allah akhirnya didirikan (2Sam. 7:12-13). Walaupun Kerajaan Israel ini akan terpecah pascakepemimpinan Salomo, sebagai salah satu konsekuensi dari dosa Salomo, Tuhan telah berjanji bahwa Kerajaan Daud akan berlangsung selama-lamanya. Hal ini pada nantinya dapat dimengerti di dalam kaitannya dengan janji kedatangan Mesias.

Salah satu aspek penting dalam penjanjian Daud dengan Allah adalah kerajaan yang berlangsung selama-lamanya, sebuah stabilitas atau keberadaan yang permanen. Hal ini adalah lanjutan atau perkembangan dari janji mesianis yang Allah nyatakan. Janji akan datangnya Juruselamat yang bukan hanya menebus dosa manusia berdosa, tetapi juga menjadi Raja atas Kerajaan Allah yang akan hadir di dunia ini. Oleh karena itu, Kerajaan Daud disebut juga sebagai bayang-bayang dari Kerajaan Allah. Palmer Robertson mengatakan, “David’s throne was a typological representation of the throne of God itself.” Dengan berdirinya Kerajaan Daud, bisa dikatakan bahwa Kerajaan Allah sudah datang tetapi tetap merupakan bayang-bayang dari masa di mana Kerajaan Allah dinyatakan sepenuhnya. Hal ini menjadi sebuah berita yang memberikan harapan kepada umat Allah, sekaligus pernyataan akan kedaulatan Allah atas Kerajaan-Nya.

David’s Kingdom and the Messianic Promise
Ketika Salomo meninggal, Kerajaan Israel terpecah menjadi dua, kerajaan selatan yang dipimpin oleh Rehabeam (anak Salomo), dan kerajaan utara yang dipimpin oleh Yerobeam. Sehingga kerajaan selatan dipimpin oleh keturunan Daud dan kerajaan utara dipimpin oleh raja yang memberontak kepada dinasti Daud. Pada masa-masa selanjutnya, kedua kerajaan ini sama-sama memiliki pemimpin yang tidak berkenan di mata Allah; hanya ada beberapa raja saja yang menyatakan kesetiaannya kepada Allah. Maka pada masa raja-raja inilah Allah membangkitkan para nabi untuk mengonfrontasi dosa para raja dan masyarakat.

Di dalam konteks ini, para nabi adalah pelaksana dari perjanjian Allah, yang menegur Israel akan dosanya terhadap Allah dan menyampaikan penghakiman Allah kepada mereka. Tetapi melalui nabi ini juga Allah menyatakan belas kasihan dan anugerah-Nya kepada Israel dengan memberikan janji akan pemulihan Kerajaan Israel. Janji-janji pemulihan yang dinyatakan oleh para nabi ini merupakan perkembangan dari janji Allah dengan Adam, janji akan adanya keturunan perempuan yang meremukkan kepala si ular (Yes. 9:6-7; 53:4-6). Seluruh janji ini menunjuk kepada Kristus yang akan datang pada masa Perjanjian Baru. Sehingga Kristus adalah Raja yang lahir dari keturunan Daud, yang telah menerima janji Allah. Dengan kata lain, di dalam Kristuslah janji akan Kerajaan Daud yang berdiri selama-lamanya tergenapi. Kristus adalah Raja yang dijanjikan Allah akan memerintah umat-Nya di dalam kerajaan yang akan berlangsung selama-lamanya. Kristuslah Raja yang layak atau sesuai dengan standar Allah. Kristus adalah Raja atas seluruh alam semesta, keturunan dari perempuan yang memimpin seluruh ciptaan, dan menyatakan berkat serta kemuliaan Allah kepada umat yang sudah dipilih-Nya.

Conclusion
Berada di dalam ikatan covenant dengan Allah, keberadaan seorang raja di dalam Kerajaan Israel sangatlah unik sifatnya. Keberadaan mereka memiliki fungsi ganda. Di satu sisi, sebagai raja, mereka menjadi kepala bangsa yang memerintah dan mengatur berbagai aspek dari sebuah kerajaan. Di sisi lain, ia juga menjabat sebagai mediator dalam covenant Allah dengan Israel. Palmer Robertson mengatakan, “In his office as covenant mediator, the king not only represents God in his authority as covenant Lord to the people. He also represents the people to God. As head of the people, he embodies them and their cause before the Lord.” Sehingga, sikap dari seorang raja Israel sangat menentukan nasib dari bangsa ini di hadapan Allah. Di dalam Alkitab, kita dapat melihat kisah dari raja-raja yang lalim yang akhirnya Tuhan hancurkan atau singkirkan, disertai dengan hukuman yang datang kepada Israel. Di sisi yang lain, raja yang saleh dan setia kepada Allah mendatangkan banyak berkat yang juga dirasakan oleh bangsa Israel. Melalui hal inilah kita dapat mengerti akan keberadaan Kristus sebagai penggenapan dari seluruh janji Allah. Hanya Dialah yang layak menjadi Raja yang memimpin selama-lamanya. Karena Dialah yang setia di hadapan Allah dan menjadi perwakilan yang sangat representative dari umat manusia di hadapan Allah.

Sebagai pengikut Kristus, kita harus menyadari akan peranan Kristus sebagai Raja atas seluruh ciptaan. Hanya Dia yang berhak memimpin setiap langkah dan tindakan yang kita lakukan. Di hadapan Allah, Ia menjadi seorang yang setia dan tak bercacat sebagai representasi manusia yang menerima anugerah keselamatan. Di hadapan manusia, Dia adalah Raja yang mewakili Allah memerintah di dalam kebenaran dan kebajikan. Oleh karena itu, biarlah kita semua dengan kesadaran dan kerelaan penuh mengikuti setiap pimpinan dan teladan yang Ia nyatakan kepada kita. Melalui ketaatan inilah kita dibentuk sebagai alat-alat-Nya yang dipakai untuk memuliakan nama-Nya dan membagikan berkat-Nya hingga ke seluruh dunia. Kiranya Tuhan menolong kita menjadi umat yang mau tunduk di bawah Sang Raja yang layak memimpin seluruh kehidupan kita.

Simon Lukmana
Pemuda FIRES

Simon Lukmana

September 2019

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Kita mengucap syukur untuk penyertaan dan pemeliharaan Tuhan atas rangkaian Gospel Rally, Seminar, dan Grand Concert Tour di Australia dan Selandia Baru pada akhir Oktober dan awal November ini.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Dear Kartika. Seperti yg disampaikan di awal, Tuhan Yesus pun 'dipilih' Allah sebagai Juruslamat...

Selengkapnya...

Allah Tritunggal mengasihi manusia tidak terbatas, hanya sebagai ciptaan kita manusia memiliki keterbatasan menerima...

Selengkapnya...

wuih mantap jiwa. sangat menjadi berkat bagi saya. terimakasih ya

Selengkapnya...

Bgm caranya sy bs memiliki buletin pillar edisi cetak?

Selengkapnya...

@David Chandra : kan kita sama2 mengerti bagaimana Tuhan memulihkan Gereja-Nya dari reformasi melalui Martin Luther...

Selengkapnya...

© 2010, 2019 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲