Artikel

Dunia dalam Genggaman

Kemajuan di dalam bidang teknologi dan telekomunikasi, khususnya internet, membawa perubahan besar di dalam cara hidup masyarakat zaman ini. Kita hidup di dalam zaman internet yang memberikan kita kemudahan untuk berinteraksi dan bersosialisasi. Bukan hanya itu saja, kita juga diberikan akses baik kepada ilmu pengetahuan maupun hiburan yang dapat kita kunjungi kapan pun dan di mana pun kita mau. Singkat kata, kita bisa mengatur kapan kita ingin dan kapan kita tidak ingin, sesuai dengan mood dan selera kita. Kita bebas menentukan apa yang hendak kita lakukan. Semua berada di dalam kendali kita, semua berada di dalam genggaman kita.

Saya ingin mendengar musik, maka saya tinggal pilih musik yang ingin didengarkan. Saya ingin belajar membuat kue, maka saya tinggal klik dan semua resep makanan yang diinginkan muncul. Saya ingin menonton komedi, maka saya tinggal pilih channel yang saya suka. Jika komedinya membosankan, akan saya tinggalkan dan ganti yang lain. Saya ingin berbicara dengan rekan saya, maka saya tinggal menelepon. Saya sedang konflik dan tidak ingin berkomunikasi dengan orang lain, maka saya hanya perlu diam dan matikan.

Semangat ini nyatanya juga memengaruhi orang Kristen, khususnya di dalam hal beribadah. Kita mengalami masa PSBB sehingga kita harus beribadah di rumah masing-masing melalui live streaming yang disediakan. Dan di masa new normal ini, sebagian dari kita juga masih memilih beribadah secara online. Di satu sisi, hal ini merupakan suatu anugerah yang Tuhan berikan melalui kemajuan teknologi dan telekomunikasi. Di sisi lain, ini juga dapat menimbulkan kebahayaan ketika kita mulai terbuai dengan kenyamanan dan kemudahan yang internet berikan.

Kemudahan dan kenyamanan yang diberikan menjadi berbahaya jika tanpa disertai dengan pengertian akan ibadah yang benar. Bukankah makin gampang anugerah itu didapatkan, manusia justru makin tidak menghargainya? Bukankah makin gampang kita beribadah, makin kita sulit untuk menghormatinya?

Seberapa banyak dari kita yang betul-betul mempersiapkan diri untuk beribadah? Sudahkah kita datang tepat waktu? Atau kita baru join di detik-detik terakhir? Atau lebih parahnya lagi, walaupun beribadah dari rumah, kita masih sering kali terlambat. Tunggu dahulu! Tidak ada kata terlambat untuk ibadah live streaming. Bukankah sekalipun terlambat, kita tinggal tarik mundur saja tombolnya sehingga kita bisa tetap mengikuti ibadah dari awal walaupun kita terlambat untuk join? Kita juga bisa memainkan tombol pause dan play sesuka kita sesuai dengan keinginan saat itu. Waktu pun seolah-olah dapat kita kendalikan. Ditambah lagi dengan adanya beberapa jam tayang kebaktian yang disediakan membuat kita dapat dengan sesuka hati mengikuti kebaktian sesuai mood hari itu. Bahkan bila kita bosan sekalipun, kita tinggal ganti ke saluran ibadah yang lain.

Tidak ada rasa hormat saat beribadah kepada Tuhan. Mengikuti ibadah live streaming seolah-olah tidak ada bedanya dengan menonton channel hiburan favorit kita. Jangan lupa bahwa Alkitab mencatat, sejak mulanya Allah telah menetapkan hari Sabat sebagai hari di mana nantinya umat Allah beribadah kepada-Nya. Ada waktu yang Tuhan tetapkan. Sungguhkah kita menghargai dan menghormati waktu di mana Tuhan memanggil kita untuk beribadah kepada-Nya? Atau di tengah kemudahan akses yang ada, kita justru menjadi kurang ajar? Ingatlah bahwa dari sejak awal panggilan beribadah adalah Allah yang tentukan, bukan kita yang tentukan. Kita dapat beribadah bukan karena kita yang mau beribadah, tetapi karena Allah yang memanggil kita. Kita dapat beribadah bukan karena kita yang atur, tetapi Allah yang sudah mengatur. Celakalah kita jika anugerah untuk beribadah yang Tuhan berikan justru membuat kita hidup makin jahat dan makin berdosa di hadapan-Nya. Kiranya Tuhan mengampuni kita dan menolong kita untuk menghormati panggilan beribadah yang Tuhan anugerahkan.

Novita Valentina

Pemudi FIRES

Novita Valentina

Oktober 2020

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk acara Global Convention on Christian Faith and World Evangelization dan Seminar Reformasi 2020 yang telah dilaksanakan pada bulan Oktober 2020.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2020 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲