Artikel

Epistemologi Kristen dari Van Til dan Ilmu Pengetahuan

Cornelius Van Til adalah seorang theolog yang sangat berpengaruh pada abad yang lalu, khususnya di kalangan Kristen Reformed. Dia memiliki suatu cara pemikiran yang sangat berbeda dari theolog-theolog lainnya. Van Til mengajarkan bahwa untuk memulai mencari dan mempelajari kebenaran, kita harus mulai dari wahyu Allah. Van Til juga mengajarkan bahwa ada sebuah presuposisi dasar yang harus dipegang, yaitu bahwa Allah adalah Pencipta langit dan bumi, termasuk manusia di dalamnya. Dari dasar ini Van Til mengajak setiap orang Kristen kembali kepada arti sebenarnya dari frasa “Allah adalah Pencipta langit dan bumi”. Hal ini berarti bahwa Allah adalah Perancang dunia ini dan Allah menciptakan dunia ini sesuai dengan desain yang Ia buat. Allah menaruh wahyu-Nya pada saat Ia menciptakan dunia ini.

Jikalau manusia tidak kembali kepada wahyu dari Sang Pencipta maka manusia tidak akan dapat mengerti kebenaran. Karena Allah adalah Perancang dan Pencipta dunia ini, maka hanya Allah yang mengetahui dengan tuntas kebenaran yang ada di dunia karena Dialah yang menanamkan kebenaran ini dalam wahyu-Nya. Manusia hanya dapat mengerti kebenaran ketika kembali kepada wahyu dari Sang Pencipta. Hal ini dapat dimengerti dengan ilustrasi seperti ini: ketika kita membeli sebuah barang elektronik, kita tidak mengerti bagaimana menggunakannya jikalau kita tidak belajar melalui user manual yang diberikan oleh pabrik dalam paket barang tersebut. Inilah gambaran yang tepat untuk menjelaskan bagaimana seharusnya manusia mempelajari kebenaran dengan kembali kepada wahyu Sang Pencipta dunia ini.

Namun celakanya adalah orang jarang sekali melihat user manual ini untuk belajar bagaimana menggunakan barang tersebut. Sama seperti manusia yang tidak mau kembali kepada wahyu dari Sang Pencipta untuk mengerti kebenaran di dunia ini, maka hasil yang muncul adalah seperti orang-orang melakukan berbagai percobaan terhadap barang elektronik tersebut sampai akhirnya menemukan bagaimana menggunakan barang itu. Di dalam science dikenal dengan prinsip falsifikasi di mana suatu teori dianggap sebagai kebenaran selama belum ada yang dapat membuktikan hal tersebut salah dan selama belum ada teori baru yang menggantikannya. Inilah yang terjadi ketika manusia tidak kembali kepada wahyu Sang Pencipta dalam mempelajari kebenaran di dunia ini.

Alkitab mengajarkan bahwa Allah yang menciptakan dunia ini adalah Allah yang transenden dan personal. Allah adalah Allah yang ada dan secara aktif menyatakan diri-Nya melalui wahyu. Allah bukan hanya adalah prasyarat bagi keberadaan segala sesuatu, tetapi juga adalah prasyarat bagi makna segala ciptaan-Nya. Maka Allah yang Alkitab ajarkan bukan hanya adalah Allah Pencipta dan Penopang segala ciptaan tetapi juga adalah Pencipta dan Penafsir kebenaran, yang memberi makna bagi segala ide, peristiwa, keberadaan, dan hukum.[1] Inilah dasar epistemologi bagi orang Kristen. Maka ketika ditanya bagaimana kita dapat mengenal dan mengerti kebenaran, orang Kristen seharusnya menjawab dengan kembali kepada wahyu Allah.

Lalu bagaimana kita bisa mengenal wahyu yang Allah taruh di dalam ciptaan-Nya? Van Til mengajarkan bahwa segala ciptaan berasal dari Diri Allah sendiri dan seluruh ciptaan adalah wahyu Allah. Bahasa yang sering Van Til pakai ialah “all created reality is inherently revelational of the nature and will of God.”[2] Van Til menjelaskan:

God naturally has an all-comprehensive plan for the created universe. He has planned all the relationships between all the aspects of created being. He has planned the end from the beginning. All created reality therefore actually displays this plan. It is, in consequence, inherently rational.[3] If the whole universe was created to show forth the glory of God, as the Scriptures constantly say that it was, then it could not do this unless it was a revelation of God.[4]

Ada hal penting lain yang harus diingat bahwa manusia adalah ciptaan Allah. Meski manusia dicipta berpribadi seperti Allah sehingga manusia memiliki 3 aspek kepribadian yaitu rasio, emosi, dan kehendak. Namun, sebagai ciptaan, rasio manusia terbatas. Pengetahuan yang dapat manusia miliki bukanlah pengetahuan yang Allah miliki secara penuh. Van Til sekali lagi mengajarkan bahwa pengetahuan manusia hanyalah analogi dari pengetahuan Allah. Hal ini berarti bahwa pengetahuan manusia (1) dicipta maka pengetahuan manusia berbeda secara kualitas dari pengetahuan Allah, dan (2) tunduk pada pengaturan dan otoritas Allah.[5] Hal ini menyatakan bahwa ketika manusia ingin mengenal pengetahuan yang benar, tidak ada jalan lain kecuali kembali kepada wahyu Allah.

Sekarang kita akan melihat wahyu Allah. Theologi Reformed percaya bahwa Allah memberikan wahyu dalam bentuk wahyu umum yaitu seluruh ciptaan, dan wahyu khusus dalam bentuk tertulisnya adalah Alkitab. Wahyu ini hadir sebagai “sidik jari” Allah di dalam setiap ciptaan Allah dan juga di dalam setiap lembar Alkitab. Wahyu ini adalah absolute necessity karena tidak ada pengertian yang benar yang ada di luar dari wahyu Allah. Namun yang menjadi kesulitan adalah bahwa manusia zaman ini sudah dijejali dengan begitu banyak informasi yang banyak orang di seluruh dunia menyebutnya sebagai science (ilmu pengetahuan). Padahal begitu banyak hal yang manusia dapatkan di dalam science sebenarnya hanyalah berupa informasi belaka dan bukanlah kebenaran. Ilmu pengetahuan (science) tidak identik dengan wahyu Allah karena bisa saja hanya berisi informasi-informasi dari hasil percobaan atau penelitian dari sang ilmuwan. Ilmu pengetahuan hanyalah merupakan respons manusia berdosa terhadap wahyu Allah dan di dalam keberdosaannya manusia berkecenderungan salah merespons wahyu. Kesalahan ini merupakan kesesatan dalam ilmu pengetahuan. Bagaimana kita dapat mengetahui bahwa ilmu pengetahuan yang kita pelajari dan terima, baik di institusi pendidikan (sekolah sampai dengan perguruan tinggi) maupun melalui media-media yang ada (televisi, radio, internet, dan lain-lain), itu benar-benar adalah ilmu pengetahun dan bukan hanya informasi? Salah satu cara yang Van Til ajarkan kepada kita adalah untuk selalu menilai ilmu yang kita pelajari melalui prinsip-prinsip yang diajarkan oleh wahyu Allah di dalam Alkitab.

Berikut adalah sebuah usaha mempelajari kebenaran melalui wahyu. Semoga ini dapat merangsang para pembaca untuk boleh belajar mengaplikasikan apa yang sudah dipelajari melalui artikel ini. Contoh yang diambil adalah dari prinsip One and Many (Satu dan Banyak) yang Alkitab ajarkan. Allah menyatakan Diri-Nya melalui Alkitab bahwa Allah adalah Allah Tritunggal. Allah adalah Allah yang Satu Pribadi dan Tiga Pribadi sekaligus. Dari doktrin Allah Tritunggal ini, kita dapat mengerti prinsip One and Many. Maka dalam science yang mempelajari mengenai alam ini, kita menemukan bahwa seluruh ciptaan Allah yang adalah “sidik jari Allah” menyatakan prinsip ini. Tidak ada satu pun ciptaan Allah yang tidak memiliki sifat ini. Kita bisa melihat pada bidang matematika misalnya, bagaimana prinsip ini bisa ditemukan. Pelajaran matematika pertama yang kita terima adalah kita belajar angka 1 sampai dengan 9, lalu penjumlahan 1+1=2, 2+1=3, dan seterusnya. Bahkan hal kecil ini pun merefleksikan prinsip One and Many yang berasal dari diri Allah Tritunggal. Dari mana bisa tahu bahwa di dalam matematika yang sangat sederhana ini terdapat prinsip One and Many?

Pertama kita harus mengerti bahwa Allah menciptakan dunia yang pasti tidak akan berlawanan dengan natur Allah sendiri. Allah adalah Allah Tritunggal sehingga ketika menciptakan dunia ini tidak mungkin tidak dalam prinsip One and Many yang menyatakan natur Diri-Nya. Maka kita dapat melihat bahwa angka 1 ada di dalam kelompok One, angka 2 dan seterusnya (yang lebih dari satu) ada di dalam kelompok Many. Adanya kelompok angka One and Many yang bekerja di dalam dunia ini dalam setiap halnya menyatakan bahwa ciptaan adalah “sidik jari” Allah yang adalah Allah Tritunggal yang menciptakannya.

Kedua, dari hal ini juga kita dapat belajar bahwa adanya ketidakkonsistenan dalam agama yang mengajarkan Allah yang monotheistic atau polytheistic. Karena ketika melihat ke dalam prinsip One and Many di dalam kelompok angka dalam matematika ini saja menyatakan bahwa tidak mungkin Allah adalah Allah yang hanya satu atau hanya banyak. Karena jikalau Allah hanya satu, maka di dalam dunia tidak boleh ada kelompok angka Many (dua dan seterusnya yang lebih dari satu). Konsekuensi dari percaya kepada Allah yang hanya satu adalah tidak mungkin ada sesuatupun yang lebih dari satu, dengan demikian menolak keragaman.

Demikian juga, jikalau Allah adalah Allah yang banyak, tidak mungkin di dunia yang dicipta oleh Allah yang banyak ini bisa mengandung kelompok angka One. Di dalam dunia ini tidak mungkin bisa ada satu. Tetapi nyatanya ketika percaya pada Allah yang banyak pun di dalamnya ada “Oneness” (ke-satu-an) yaitu bahwa masing-masing Allah memiliki satu atribut atau sifat. Misalnya agama dari Yunani yang percaya pada banyak dewa. Begitu banyak dewa-dewi yang dipercaya namun masing-masing dewa dan dewi ini memiliki sendiri satu kesatuan yang seharusnya tidak boleh ada satu. Dewa-dewi yang dipercaya memiliki satu sifat tersendiri yang hanya ada pada masing-masing dewa/dewi. Hal ini pun sudah mustahil diterima. Bagaimana bisa muncul kelompok angka Many tanpa ada kelompok angka One? Hal yang mustahil dimengerti oleh manusia.

Maka dari hal yang sederhana yaitu kelompok angka dalam matematika saja kita bisa melihat kepada Kebenaran yang Allah tanamkan di dunia ini yang dapat kita pelajari dan lihat melalui prinsip-prinsip yang Allah ajarkan di dalam Alkitab. Tanpa mengerti keterkaitan matematika dengan Firman yang Tuhan berikan, sebenarnya kita tidak tahu dasar kebenaran dari angka-angka atau penjumlahan yang kita hidupi setiap harinya. Masih banyak contoh lain yang bisa dipelajari namun tujuan ditulisnya artikel ini dan contoh pengaplikasiannya adalah membawa para pembaca untuk kembali melihat dan menghidupi epistemologi Kristen yang benar yang berasal dari Allah. Biarlah artikel ini boleh menjadi dorongan untuk semakin banyak orang Kristen mulai kembali mengejar ketinggalan dalam dunia ilmu pengetahuan dan meneruskannya bahkan sampai ke generasi mendatang sehingga menyatakan bahwa orang Kristen sungguh-sungguh mengerti Kebenaran yang berasal dari Allah. Soli Deo Gloria.

Aries Chandra Kencana
REDS - Worldview

Endnotes:
[1] W. Andrew Hoffecker, Gary Scott Smith, Membangun Wawasan Dunia Kristen Volume 1: Allah, Manusia, dan Pengetahuan, Penerbit Momentum, 2006, hal. 207.
[2] Frame, John M. Cornelius Van Til: An Analysis of His Thought, Presbyterian and Reformed Publishing Company, 1995, hal. 116.
[3] Frame, John M. Cornelius Van Til: An Analysis of His Thought, Presbyterian and Reformed Publishing Company, 1995, hal. 116-117.
[4] Frame, John M. Cornelius Van Til: An Analysis of His Thought, Presbyterian and Reformed Publishing Company, 1995, hal. 117.
[5] Frame, John M. Cornelius Van Til: An Analysis of His Thought, Presbyterian and Reformed Publishing Company, 1995, hal. 116.

2 tanggapan.

1. Peral dari Bogor berkata pada 10 February 2014:

Selain prinsip "One and Manny", apa saja prinsip lain yang bisa digunakan untuk mempelajari kebenaran melalui wahyu Allah? Kalau bisa dengan penjelasannya, karena saya juga sangat tertarik dan ingin belajar tentang hal ini. Terimakasih...

2. audy rorimpandey dari jayapura berkata pada 12 August 2014:

Saya sangat suka mempelajari artikel anda...kebetulan saya lagi kuliah theologi dan artikel ini sangat membantu saya dalam menambah wawasan kekristenan mengenai ilmu pengetahuan. Tuhan memberkati

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk Gerakan Reformed Injili dalam menjalankan mandat Injil melalui pemberitaan Injil baik secara pribadi, berkelompok, maupun massal.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Contoh lain bhw di dlm Alkitab terdapat konsep seseorang dpt memperoleh pengurangan atau pembebasan hukuman sbg...

Selengkapnya...

Akan tetapi, seseorang tidak perlu bergantung pada dirinya saja untuk melunasi utang tersebut. Kekristenan pada zaman...

Selengkapnya...

Gereja Roma Katolik pada zaman itu memercayai dua hal yang fundamental berkaitan hal ini. Pertama, bahwa manusia...

Selengkapnya...

Halo Jones, Saya sendiri juga melayani dalam wadah sekolah minggu (SD). Tanggapan singkat saja dari saya. Untuk...

Selengkapnya...

Bagaimana caranya kita menerapkan pemahaman alkitab terhadap anak anak seperti saudara kita yang belajar di mda misalnya

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲