Artikel

Eschatological Life

“Hidup itu udah susah jangan dibuat lebih susah, pikirin aja yang ada di depan mata, jangan kejauhan.”  Jawaban seperti itulah yang mungkin kita dapatkan saat berbicara mengenai tujuan akhir dari hidup dengan pemuda-remaja pada saat ini. Mereka cenderung untuk menjalani hidup sebagaimana adanya. “Lulus sekolah, masuk universitas top, dapet kerja dengan gaji besar dan jabatan yang prestigious , dapat pasangan hidup yang ok, menikmati hidup, jadi tua….. and that’s the end of the story.” Kehidupan yang dijalani tanpa tahu untuk apa dan harus bagaimana menjalaninya dan akhirnya mengisi kehidupan seperti orang pada umumnya. Kehidupan yang tidak memikirkan tujuan akhir dengan sungguh-sungguh, hanya fokus pada apa yang ada di depan mata. Sangat peduli dengan kesementaraan tetapi melupakan kekekalan. Cara berpikir seperti ini yang dapat kita sebut sebagai “Non-eschatological life”.

Seperti yang pernah dibahas dalam artikel “The Age of Great Distraction” buletin PILLAR dua bulan lalu, maka orang-orang yang memiliki non-eschatological life adalah orang-orang yang melupakan tujuan utama hidupnya. Mereka ter-distract oleh apa yang dunia ini tawarkan. Apalagi kita hidup di dalam dunia yang begitu banyak menawarkan pleasureness of life yang mendorong gaya hidup konsumerisme. Itulah yang terjadi pada anak-anak muda saat ini, terlalu sibuk mengurusi apa yang ada di sekitar hidupnya dan melupakan apa yang paling esensial dalam hidupnya. Hidup yang seharusnya menjalankan apa yang Tuhan mandatkan dalam hidupnya demi kemuliaan-Nya, digantikan dengan hidup yang berpusat pada diri demi kepuasan yang sementara. Maka kehidupan yang dijalankan tidak mengarah kepada titik eschaton di mana orang-orang percaya akan disempurnakan pada saat itu. Kehidupan yang tidak berkait dengan harapan eskatologis daripada redemptive story yang Kristus berikan kepada umat manusia.

Saat kita berbicara mengenai Christian Worldview, maka kita diajak untuk melihat hidup kita sebagai bagian dari keutuhan redemptive history (Creation-Fall-Redemption-Consummation). Maka kita kembali harus menyadari bahwa pengharapan eskatologis akan memengaruhi bagaimana kita menjalani kehidupan kita pada masa kini. Di saat kita melupakan pengharapan eskatologis maka kita kehilangan arah dan tujuan hidup kita di masa kini. Sebaliknya di saat kita mengabaikan kehidupan masa kini maka pengharapan eskatologis kita adalah pengharapan yang salah. Creation dan Fall memberikan kita realitas yang sebenarnya terjadi dalam hidup kita, Redemption memberikan kepada kita solusi bagi permasalahan dalam realitas hidup kita, dan ketiga titik ini harus dilengkapi dengan Consummation di mana seluruh kisah ini akan diakhiri di dalam kekekalan. Seluruh alur sejarah akan berakhir mencapai garis finis dan apa yang menjadi tujuan dari pergerakan sejarah semua tercapai pada titik ini. Di dalam eschatology tersebut kita akan memperoleh kepenuhan berkat Allah, kepenuhan janji Allah yang kekal. Keutuhan metanarasi biblikal seperti inilah yang akan membawa kita kepada eschatological life yang sesungguhnya.

Living in the Middle of Two Ages
Salah satu aspek yang penting di dalam eschatological life adalah kehidupan di antara dua zaman (living in the middle of two ages), this age and the age to come atau sering kita kenal juga dengan istilah “already and not yet”. Theolog Geerhardus Vos menyebut masa ini sebagai masa semi-eschatological era. Masa ini adalah masa yang dimulai semenjak kebangkitan Kristus dan berakhir pada saat kedatangan Kristus yang kedua kali. Kehidupan di dalam dua masa ini menuntut orang-orang percaya untuk memiliki ketekunan (perseverance of the saints) dalam membangun kehidupannya sebagai seorang yang sudah ditebus. Hal ini dikarenakan adanya ketegangan antara dua masa yang memiliki karakteristik yang sangat berbeda sehingga menimbulkan dilema dalam kehidupan orang percaya.

Zaman sekarang (This Age) adalah zaman yang berawal semenjak penciptaan dan akan berakhir pada saat Kristus datang kedua kali. Yang berkuasa atas zaman ini adalah si Iblis. Bagi orang-orang tidak percaya maka yang menjadi penguasa atas diri mereka adalah dosa dan juga segala filsafat dunia yang berkembang pada zaman mereka hidup, sehingga pada umumnya non-believers akan berpikir bahwa kehidupan saat ini adalah kehidupan satu-satunya yang mereka harus pertahankan dan nikmati sepuasnya, karena sesudah kehidupan ini ya berakhirlah kisah mereka. Dan inilah strategi yang Iblis jalankan yaitu membawa manusia melupakan akan kehidupan sesudah kematian dan mempertaruhkan seluruh kehidupan mereka hanya untuk apa yang ada pada zaman ini.

Zaman yang akan datang (The Age to Come) adalah masa yang dimulai dari kebangkitan Kristus hingga kekekalan. Masa ini adalah masa di mana Kerajaan Allah berkuasa secara progressive, dimulai dari prinsip yang direalisasikan dalam dunia ini hingga saat di mana realisasi sepenuhnya dinyatakan di dalam kekekalan sesudah Kristus datang kedua kalinya. Di dalam zaman inilah manusia berdosa dibawa untuk kembali kepada Tuhan Allah. Mereka dibawa pada suatu kesadaran bahwa hidup tidak hanya berhenti pada zaman kini saja tetapi ada kehidupan setelah kematian, kehidupan yang bernilai kekal. Kehidupan di mana dosa dan kesengsaraan akan sirna sepenuhnya, diganti dengan sukacita yang berlimpah dan kekal dari Tuhan Allah. Melalui zaman yang akan datang inilah manusia disadarkan akan arti sesungguhnya dari hidup mereka yang harus dikembalikan kepada metanarasi biblikal yang Tuhan sudah tetapkan bagi orang-orang pilihan-Nya.

Dari kedua zaman ini kita bisa melihat adanya satu periode di mana terdapat singgungan dari dua zaman tersebut, inilah yang disebut sebagai semi-eschatological. Di satu sisi, zaman ini menarik manusia untuk melupakan pengharapan eskatologis dengan tawaran-tawaran yang begitu menggoda, disadari atau tidak disadari, perlahan atau cepat membawa manusia untuk hidup di bawah kuasa dosa. Tetapi di sisi lain, orang-orang yang sudah menerima karya penebusan Kristus, dari dalam hatinya Roh Kudus bekerja secara progressive untuk memperbaharui hidup mereka sehingga mereka memiliki pengharapan eskatologis yang membawa cara hidup pada zaman ini yang berbeda daripada kehidupan orang-orang yang belum menerima karya penebusan Kristus tersebut.

Ini menjadi salah satu kesulitan hidup sebagai orang percaya. Di satu sisi kita sangat berharap agar kesudahan dari segala sesuatu segera terjadi. Sukacita, kebebasan, keagungan, dan keindahan dari hidup bersama dengan Allah menjadi pengharapan yang sangat dinantikan. Tetapi sewaktu kembali pada realitas kehidupan zaman ini, di mana realitas dosa masih berada di tengah-tengah kehidupan orang percaya, maka penderitaan dan kesengsaraanlah yang menjadi bagian dari kehidupan orang percaya karena perjuangan untuk melawan keberdosaan inilah yang menjadi sumber utama kesulitan tersebut. Secara kasat mata, zaman yang akan datang belum dinyatakan sepenuhnya, tetapi secara prinsip sudah direalisasikan melalui gereja dan kehidupan orang-orang percaya. Di saat yang bersamaan realisasi prinsip agung tersebut menjumpai hambatan dari prinsip keberdosaan yang sudah lama bercokol dalam kehidupan manusia. Inilah dilema kehidupan di antara dua zaman. Dilema ini juga dialami oleh Paulus seperti yang ia tuliskan dalam Roma 7:13-26.

Setidaknya ada dua respons ekstrem yang terjadi dalam menghadapi dilema tersebut. Respons pertama adalah gaya hidup monasticism, gaya hidup yang mengucilkan diri dari kehidupan dunia dan bertekun dalam kehidupan spiritual di suatu tempat yang terisolasi dari peradaban. Inilah gaya kehidupan yang terlalu menekankan aspek heavenly tetapi melupakan realitas kehidupan wordly, yang sebenarnya adalah gaya kehidupan yang tidak bertanggung jawab dengan apa yang Tuhan mandatkan untuk kita kerjakan pada zaman ini. Respons yang kedua adalah kehidupan hedonism yang mengejar worldly pleasure dan hidup seakan-akan tidak ada yang namanya kekekalan. Inilah kehidupan yang pada bagian awal kita sebut sebagai non-eschatological life. Respons kedua inilah yang mendominasi anak-anak muda saat ini. Berapa banyak anak muda yang mengerti apa tujuan ultimat dari kehidupannya? Berapa banyak yang benar-benar sadar mengapa ia memilih suatu bidang studi? Berapa banyak yang mengetahui apa esensi dari bekerja dan berkeluarga? Mereka menjalani semuanya hanya karena dorongan kebutuhan dasar dari hidupnya sebagai manusia tetapi esensi dan arti dari semua aktivitasnya tidak dimengertinya. Inilah suatu realitas menyedihkan yang terjadi bukan hanya pada orang-orang non-Kristen tetapi juga pada orang-orang yang mengatakan dirinya Kristen.

Self-Denial, Bearing Cross and Vocation
Dalam menghadapi dilema ini, John Calvin di dalam buku ketiga dari ‘Institutes of the Christian Religion’ memberikan suatu nasihat yang ia jabarkan dari 1 Korintus 7:29-31. Di dalam bagian ini, Calvin mengajarkan kepada kita untuk memiliki keseimbangan, di satu sisi kita harus selalu ingat pengharapan eskatologis, tetapi di sisi lain kita diajak untuk menghargai kehidupan saat ini. Calvin memberikan dua alasan mengapa kita harus menghargai kehidupan saat ini. Pertama, karena Allah telah menetapkan bahwa seorang yang suatu saat nanti menerima mahkota di sorga haruslah terlebih dahulu menjalani pergumulan hidup di dalam dunia ini sampai ia berhasil melewati peperangan ini dan memperoleh kemenangan. Kedua, mulai dari kehidupan saat ini, melalui berbagai manfaat, kita merasakan betapa manisnya kemurahan Allah untuk membangkitkan harapan dan hasrat kita untuk menantikan pernyataan sepenuhnya dari hal ini. Dari kedua alasan ini, kita dapat melihat bagaimana kita diajak untuk menghargai dan mensyukuri kehidupan kita saat ini sebagai pemberian Allah untuk membentuk diri kita. Tetapi di sisi lain, Calvin juga memberikan suatu prinsip yang menjelaskan bahwa seluruh pemberian Allah ini tidak akan salah diarahkan atau digunakan bila selalu ditujukan pada titik eskatologis yang Tuhan telah ciptakan dan persiapkan untuk kita, karena Allah menciptakannya untuk kebaikan kita, bukan untuk kehancuran kita.

Secara sederhana, prinsip-prinsip Calvin dapat dimengerti seperti demikian: Pertama, jikalau kita menggunakan hal di dalam dunia ini janganlah terlalu berlebihan; Kedua, bersabarlah dalam menghadapi segala kesulitan kehidupan saat ini; Ketiga, selalu ingat untuk mengarahkan seluruh hidup kita kepada Tuhan yang berdaulat atau berkuasa. Dalam menjalankan tiga prinsip ini, penyangkalan diri dan pikul salib menjadi syarat yang penting dalam keberhasilan kita. Dan bukanlah suatu kebetulan Calvin menempatkan pembahasan mengenai self-denial dan bearing cross sebelum pembahasan mengenai eschatological life. Sangatlah mudah bagi kita untuk melupakan pengharapan eskatologis jikalau kita terlalu menikmati dunia ini dan hanya orang-orang yang sadar dan menjalani penyangkalan diri dan pikul salib yang dapat dengan tepat menjaga keseimbangan antara hidup di dunia ini dan pengharapan akan kesempurnaan yang akan datang. Menikmati kehidupan di dunia ini sebagai pemberian Allah yang harus dikembalikan untuk kemuliaan Allah, serta terus berharap akan zaman yang akan datang sebagai pendorong untuk menjalani kehidupan zaman ini dengan bertanggung jawab kepada Allah.

Calvin menutup bagian ini dengan menjabarkan mengenai vocation atau calling dari hidup kita. Inilah yang menjadi kunci jawaban dalam menjalani eschatological life yaitu menjalani apa yang menjadi calling atau vocation dari kehidupan kita masing-masing, yang Tuhan telah tentukan. Calvin menggambarkan hal ini seperti sebuah pos jaga di mana kita ditempatkan untuk bertugas di sana hingga pada saatnya Tuhan memanggil kita. Menjalankan apa yang menjadi calling atau vocation kita memiliki suatu signifikansi terkait dengan eschatological life. Saat kita menjalankan apa yang menjadi vocation kita, maka di situlah kita akan memiliki makna di dalam hidup ini, kejelasan apa yang menjadi tujuan hidup ini, serta dorongan motivasi untuk mengerjakan dengan sepenuh hati, karena tidak ada cara hidup yang lebih sesuai bagi hidup kita kecuali menjalankan apa yang Tuhan telah siapkan bagi kita. Di dalam vocation inilah kita akan merasakan penyertaan Tuhan yang berlimpah karena Tuhan yang akan memimpin, mendidik, melatih, dan menghibur kita. Seperti yang Calvin katakan, “….that no task will be so sordid and base, provided you obey your calling in it, that it will not shine and bereckoned very precious in God’s sight. Biarlah kita bergumul dengan sungguh-sungguh untuk mencari apa yang menjadi calling kita sebagai dasar dari sebuah eschatological life yang harus kita pertanggungjawabkan kepada Tuhan.

Simon Lukmana
Pemuda GRII Bandung

Simon Lukmana

November 2013

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲