Artikel

Esther: God's Presence in Every Moment of Life

Jikalau kita membaca keseluruhan Alkitab secara teliti, kita akan melihat bagaimana Allah menyatakan kehadiran-Nya dengan cara yang limpah. Ada kalanya Allah hadir dengan kemuliaan-Nya, sehingga siapa pun yang melihat-Nya pasti akan mati (Kel. 33:20). Sebaliknya, Allah juga bisa hadir dengan kasih melalui inkarnasi Yesus Kristus. Ia mengambil rupa sebagai manusia supaya dapat berada bersama-sama dengan kita. Tidak cukup sampai di situ, Allah pun menyatakan diri di dalam “ketidakhadiran-Nya”. Hal seperti ini dapat kita temukan dalam kisah Ester. Bagaimana tidak, dari sebanyak 3.200 kata dalam Kitab Ester, tidak ada satu pun kata “Allah” yang tercantum. Tetapi, setiap peristiwa yang dialami oleh Ester jelas menunjukkan adanya pemeliharaan Allah melalui peristiwa tersebut. Allah memakai setiap kejadian sederhana untuk menggenapkan rencana-Nya, seolah-olah Allah sungguh hadir melalui peristiwa tersebut. Artikel ini akan membahas pemeliharaan dan penyertaan ilahi sebagai salah satu aspek kehadiran-Nya di tengah-tengah umat Tuhan, sehingga kita sebagai orang Kristen yang percaya kepada Allah yang sejati dapat menyadari kehadiran-Nya di setiap momen kehidupan.

Pergumulan Pertama: Berhadapan dengan Dunia Sekuler
Kitab Ester mengambil latar di mana sebagian orang Yahudi sudah dibebaskan dan kembali ke Yerusalem, tetapi sebagian masih berada di pembuangan wilayah Babel. Saat itu wilayah Babel telah dikuasai oleh Kerajaan Persia yang dipimpin oleh Raja Ahasyweros[1] atau lebih dikenal sebagai Raja Xerxes I. Pada masa pemerintahannya, Kerajaan Persia berada pada masa puncak kejayaannya.[2] Pasal pertama Kitab Ester menyebutkan wilayah kekuasaan Persia mencapai hampir keseluruhan dunia saat itu, yaitu 127 daerah, dari India sampai Etiopia. Kemudian, raja mengadakan perjamuan besar untuk merayakan kejayaan Persia selama 180 hari (Est. 1:3-9).

Saat menuju akhir dari perjamuan besar itu, cerita utama Kitab Ester dimulai oleh sang ratu kerajaan, Wasti, yang menolak perintah dari raja. Sang raja marah dan meminta adanya pengganti untuk posisi ratu kerajaan. Lalu, disebarkanlah pengumuman ke seluruh wilayah Persia untuk dibawakan para perempuan agar ditempatkan pada balai perempuan atau tempat karantina (Est. 2:1-4) untuk mencari pengganti ratu kerajaan. Sistem seleksi dilakukan dengan cara setiap perempuan akan menghadap raja satu demi satu hingga raja memutuskan siapa yang dapat menjadi pendampingnya sebagai ratu kerajaan. Dari sekian banyak perempuan pada kontes tersebut, salah satunya adalah seorang perempuan muda keturunan Yahudi, bernama Ester.

Alkitab tidak secara jelas menuliskan apa yang menjadi motif Ester mengikuti kontes tersebut (Est. 2:8). Bryan R. Gregory, melalui buku The Gospel According to Esther: Inconspicuous Providence, berpendapat bahwa ada kemungkinan keikutsertaan Ester di kontes tersebut bukan karena keinginan atau keputusannya sendiri. Ada dua petunjuk yang disampaikan oleh Bryan R. Gregory untuk membuktikan pendapatnya. Pertama, kata “dibawa” (Est. 2:8) di dalam bahasa aslinya (Ibrani) menggunakan istilah lâqach yang mana istilah tersebut kembali digunakan pada ayat 15 (Est. 2:15). Terutama pada ayat 8 yang di dalam terjemahan KJV menggunakan bentuk kalimat pasif (Esther was brought also unto the king’s house). Dua ayat ini seolah-olah mau menunjukkan bagaimana peristiwa yang dialami Ester bukan berasal dari keinginannya. Ia mengikuti saja setiap arahan dari pamannya, yaitu Mordekhai, walaupun mungkin ia sebenarnya tidak mau menjalani kehidupan tersebut. Kedua, nama “Ester” sendiri berasal dari bahasa Persia, yang diprediksi merupakan turunan dari salah satu nama dewi agama Timur Dekat Kuno (“Ishtar”). Sedangkan, namanya di dalam bahasa Ibrani adalah “Hadasa” (Est. 2:7). Istilah itu hanya disebutkan sekali di dalam keseluruhan Kitab Ester, sisanya didominasi dengan sebutan “Ester”. Hal ini jelas menunjukkan bagaimana Ester mengalami krisis identitas, yaitu apakah memilih menjadi bangsa Persia atau tetap setia terhadap tradisi Yahudi.

Dua argumentasi di atas dapat menjadi alasan utama bagaimana Ester akhirnya memilih untuk berkompromi selama menjalani masa karantina di balai perempuan (Est. 2:9). Penekanan ini dapat kita temukan dalam terjemahan bahasa Inggris (ESV) dengan kalimat seperti berikut, “won his favor[3] (“memenangkan hatinya” bandingkan terjemahan LAI “menimbulkan kasih sayangnya” – Est. 2:9). Kalimat ini secara langsung menunjukkan bentuk aktif dari tindakan Ester agar dapat memenangkan kontes tersebut. Ia mendapat perhatian dari pengawas yang bernama Hegai. Ester bahkan mendapat hak istimewa berupa tempat yang terbaik di balai perempuan dan tujuh pelayan terbaik siap melayani dia. Lalu, Ester 2:10 menceritakan bagaimana Ester menyelesaikan konflik identitasnya yaitu dengan cara menyembunyikan identitas keyahudiannya, dan mengadopsi kehidupan orang Persia. Padahal pada masa itu, tidak ada stigma atau persepsi mengenai penolakan terhadap orang Yahudi. Lebih jauh lagi, keikutsertaan Ester pada kontes ini secara tidak langsung sudah melanggar kitab Taurat karena membiarkan dirinya terlibat dalam pernikahan dengan bangsa asing. Padahal jelas sekali bagaimana Kerajaan Yehuda dibuang oleh Tuhan oleh karena salah satu dosa ini, yaitu menikah dengan bangsa asing.

Pergumulan Kedua: Momen Penentu
Singkat cerita, akhirnya Ester terpilih sebagai ratu kerajaan menggantikan Ratu Wasti. Melalui momen inilah pergumulan kedua Ester dimulai ketika seorang tangan kanan raja yang bernama Haman, bersekongkol untuk memusnahkan semua orang Yahudi. Hal ini disebabkan oleh kedengkian hatinya karena tidak senang dengan tindakan Mordekhai yang tidak mau sujud kepadanya. Kemudian, Haman menghasut raja untuk membuat dekrit[4] atau peraturan agar dapat memusnahkan seluruh orang Yahudi. Mordekhai mengetahui niat jahat tersebut dan menemui Ester yang adalah orang paling dekat dengan raja supaya Ester dapat mengatasi masalah ini.[5] Mordekhai berharap Ester dapat membujuk balik raja agar membatalkan dekrit tersebut. Tetapi, kondisi saat itu sangatlah tidak memungkinkan untuk membujuk raja karena Ester sudah tiga puluh hari tidak dipanggil oleh raja. Pada masa itu, tidak sembarang orang dapat bertemu dengan raja.[6] Hanya orang-orang yang dipanggil saja yang dapat bertemu dengan raja. Jikalau memaksa begitu saja, risikonya adalah hukuman mati (Est. 4:11).

Inilah yang menjadi pergumulan Ester yang kedua. Pergumulan ini menjadi momen penentu bagi Ester dan seluruh bangsanya. Ia harus memilih di antara dua alternatif pilihan. Apakah ia rela mempertaruhkan nyawanya agar orang-orang Yahudi dapat selamat atau justru ia lebih memperhatikan nyawanya sendiri dengan risiko umat Tuhan dimusnahkan. Gejolak ini tidak membuat Mordekhai menyerah begitu saja. Hanya dengan satu kalimat saja, Mordekhai telah membalikkan arah kehidupan Ester sepenuhnya. Mordekhai berkata, “…Siapa tahu, mungkin justru untuk saat yang seperti ini engkau beroleh kedudukan sebagai ratu” (Est. 4:14b). Kalimat tersebut dengan sangat jelas ingin menyadarkan Ester bahwa setiap detail kehidupannya tidak berjalan secara kebetulan. Ia dipilih sebagai ratu di antara perempuan-perempuan lainnya bukan disebabkan baik oleh kebetulan maupun juga keberuntungan, seperti orang-orang sekuler pahami. Justru Allah menetapkan satu demi satu peristiwa yang akan dialami Ester. Kedudukannya sebagai ratu adalah salah satu peristiwa yang Tuhan pakai untuk membebaskan bangsa Israel.

Ayat-ayat berikutnya menjelaskan bagaimana Ester akhirnya bertobat dan sadar akan penyertaan Allah di setiap momen hidupnya. Pertobatannya ditunjukkan dengan ia secara aktif mengambil keputusan untuk bertemu dengan raja, bahkan ia memberi perintah kepada Mordekhai supaya orang-orang Yahudi ikut berpuasa juga. Mulai dari pasal pertama Kitab Ester hingga ayat ini (Est. 4:15-16), inilah pertama kalinya kalimat ucapan Ester dituliskan. Hal ini menunjukkan bagaimana sebelum momen ini Ester sangatlah pasif, ia hanya mengikuti arus dari perjalanan hidupnya, tanpa mempertimbangkan apakah itu berkenan kepada Tuhan atau tidak. Momen ini akhirnya mengubah hidup Ester untuk aktif bertindak oleh karena Allah sungguh-sungguh hadir di dalam setiap momen kehidupannya.

Penyertaan Tuhan tidak berhenti sampai di situ, pasal berikutnya menyebutkan berbagai peristiwa yang terjadi secara tak terduga. Haman mungkin menjadi satu-satunya tokoh di kisah ini yang paling merasakan dampak kejadian-kejadian yang tidak terduga ini. Bagaimana tidak, ia beserta keluarganya dengan licik menyiapkan rencana untuk membunuh Mordekhai (Est. 5:9-14), tetapi pada akhirnya Tuhan menghancurkan rencana tersebut melalui satu momen sederhana yaitu raja tidak bisa tidur (Est. 6:1). Gara-gara peristiwa inilah raja mengetahui bahwa Mordekhai pernah berjasa besar kepadanya dan tidak pernah diberikan penghargaan. “Kebetulan” Haman baru mau bertemu dengan raja untuk memberi usul agar Mordekhai diberi hukuman gantung (Est. 6:4-6). Pertemuan ini justru membawa celaka bagi Haman dan dengan terpaksa ia harus memberi penghargaan kepada Mordekhai. Lebih dari itu, momen “raja tidak bisa tidur” ini menjadi titik balik dari seluruh kisah Kitab Ester. Berbagai peristiwa terjadi, seperti Haman yang digantung pada tiang yang ia bangun sendiri (Est. 7:1-10), apresiasi yang begitu besar kepada Mordekhai dengan menggantikan posisi jabatan Haman (Est. 8), hingga perayaan yang begitu besar oleh orang-orang Yahudi oleh karena dekrit tersebut berhasil dibatalkan (Est. 9, 10).

Refleksi: Kehadiran Allah di Setiap Momen Kehidupan
Setiap kali tokoh perempuan disebutkan oleh Alkitab, selalu ada peristiwa signifikan yang mengikutinya dan juga tindakan yang dapat menjadi teladan bagi orang percaya. Kita mengenal tokoh perempuan seperti Maria, ibu Yesus yang menunjukkan iman yang begitu luar biasa. Ada juga Rut yang walaupun adalah seorang bukan keturunan Israel (bangsa Moab), tetapi memiliki iman kepada Allah Israel. Begitu juga nama-nama lainnya seperti Debora, Hana (ibu Samuel), Elisabet (ibu Yohanes Pembaptis), dan lainnya. Lain halnya dengan kisah Ester, yang jarang dibahas dan menjadi contoh teladan bagi orang percaya. Salah satu alasannya adalah karena kehidupan Ester tidak berbeda jauh dengan kehidupan kekristenan kita saat ini, yaitu kompromi dan mengikuti cara hidup dunia.

Hal ini jelas sekali disebabkan oleh pengertian kita yang sempit mengenai kehadiran Allah. Kita boleh menyebut diri Kristen, tetapi gaya hidup kita lebih mirip orang-orang deist[7]. Kita menyebut Allah sebagai Sang Pencipta alam semesta, tetapi urusan hidup sehari-hari, kita sendirilah yang memutuskannya, tanpa adanya pertimbangan akan Tuhan. Kita berjerih lelah mengejar cita-cita yang kita dambakan, tanpa menyadari apakah itu menyenangkan hati Tuhan atau diri sendiri. Kita memutuskan jalan hidup kita sendiri, tanpa menyadari kehadiran Allah yang bekerja dalam hidup kita. Contoh yang paling menggambarkan hal ini adalah ketika seorang lulusan SMA memilih jurusan untuk masuk ke pendidikan tinggi. Adakah di antara pembaca yang memilih jurusan tersebut karena memang panggilan dan beban yang Tuhan berikan? Atau sebaliknya, kita masuk jurusan tersebut karena alasan sederhana, supaya mudah mencari pekerjaan dan menghasilkan uang yang banyak nantinya? Sebagian bahkan ada yang cuma sekadar mengikuti tren perkembangan zaman. Jikalau tren pada zaman itu adalah jurusan IT (Information Technology), saya ikuti saja. Sama seperti apa yang dialami Ester, yang hanya sekadar mengikuti tren pada saat itu untuk ikut serta pemilihan ratu kerajaan. Lebih buruknya lagi, mungkin sebagian dari kita mengklaim bahwa kita terjun ke jurusan tersebut sesuai panggilan Tuhan, tetapi pada faktanya itu hanya kedok untuk menyenangkan diri sendiri.

Lalu, bagaimanakah kita sebagai orang Kristen sungguh-sungguh boleh memiliki hidup yang sadar akan kehadiran Allah, dan tidak hanya sekadar tampak luar saja? Salah satunya adalah kisah perjalanan Ester menjadi kunci untuk mengerti kehadiran Allah. Kita patut bersyukur bahwa kisah Ester tidak berhenti pada akhir cerita Ester yang menjadi ratu kerajaan. Kita justru melihat bagaimana Allah masih tetap mengasihi dan menggenapkan rencana-Nya melalui umat Allah yang sering kali kompromi kepada kehidupan duniawi. Allah memakai seorang yang bernama Mordekhai untuk menegur kebimbangan Ester agar tetap beriman kepada penyertaan dan kehadiran Allah. Iman ini ia tunjukkan melalui keaktifan untuk menyiapkan rencana dengan sangat matang agar bisa membujuk raja untuk membatalkan dekrit tersebut.[8]

Tetapi, jikalau kita membaca setiap peristiwa di Kitab Ester dengan teliti, ada begitu banyak hal-hal yang terjadi seolah-olah “kebetulan”. Mulai dari Ester terpilih dari sekian ribu perempuan, Mordekhai yang tidak sengaja mendengarkan rencana pembunuhan raja, Ester yang berhasil lolos dari ancaman hukuman mati ketika bertemu raja secara langsung, hingga raja yang tidak bisa tidur membuat Haman harus mati oleh tiang yang ia buat sendiri. Oleh karena itu, apakah benar semua peristiwa itu hanya terjadi secara “kebetulan” saja? Tidak, justru sebaliknya, ada tangan Allah yang hadir dan mengatur momen yang tepat untuk peristiwa itu terjadi. Baik itu peristiwa yang sangat besar maupun hal-hal sederhana yang terjadi dalam hidup kita. Allah tidak harus memakai para nabi untuk menyatakan kehadiran-Nya secara langsung, ataupun peristiwa mukjizat yang sering terjadi di Perjanjian Lama. Melalui peristiwa sederhana di sekitar kita, Allah dapat memakai itu semua untuk menggenapkan rencana-Nya bagi umat-Nya.

Karena itu, bagi kita yang saat ini masih berkompromi dengan kebenaran firman Tuhan, segeralah bertobat di hadapan Tuhan agar kita boleh memiliki hidup yang sadar akan kehadiran Tuhan di dalam setiap bagian kehidupan kita. Jikalau kita sudah terlanjur berada pada kondisi dan tempat yang mana adalah akibat tindakan kompromi kita, seperti terlanjur berada di jurusan atau tempat kerja tertentu, mari kita meminta belas kasihan dan anugerah Tuhan. Selayaknya Ester yang terlanjur mengikuti arus dunia saat itu, Tuhan pun bisa memakai momen itu untuk kemuliaan nama-Nya dan berkat bagi umat-Nya. Yang terpenting adalah kita harus bertobat dan memberikan diri untuk taat kepada pimpinan Tuhan. Allah yang sama juga akan melakukan hal tersebut kepada gereja-Nya. Allah berkenan hadir dan memimpin gereja-Nya. Kiranya pernyataan dan penyertaan Allah senantiasa hadir di dalam dan melalui gereja-Nya. Amin.

[God] does not throw down men at random on the earth, to go wherever they please, but guides all by his secret purpose.” – John Calvin[9]

Trisfianto Prasetio
Pemuda FIRES

Endnotes:
[1] Berikutnya penyebutan “Raja Ahasyweros” akan disingkat menjadi “raja”.
[2] Tautan laman peta wilayah kekuasaan Kerajaan Persia saat di bawah pemerintahan Raja Xerxes I/Ahasyweros. http://www.biblestudy.org/maps/persian-empire-large-map.html.
[3] Bandingkan dengan penggunaan kalimat “found favor” (disukai) yang cenderung mengarah ke tindakan pasif, tanpa perlu ada usaha lebih.
[4] Dekrit pada saat itu dicap dengan cincin raja yang mana tidak dapat diganggu gugat atau dibatalkan.
[5] Kisah yang lebih detail dapat dibaca di Ester 3:1-4:17.
[6] Ketentuan peraturan Kerajaan Persia saat itu adalah hanya tujuh orang kepercayaan raja yang dapat bertemu langsung dengan raja tanpa perlu izin. Ester bukan salah satu dari golongan tujuh orang tersebut.
[7] Deist = penganut deisme yang percaya bahwa setelah Allah menciptakan alam semesta, alam semesta bergerak berdasarkan hukum alam, tanpa perlu topangan dan pemeliharaan langsung dari Allah.
[8] Keaktifan Ester ini terlihat dari undangan makan sebanyak dua kali agar dapat memastikan momen yang tepat untuk membujuk raja.
[9] Gregory, Bryan R. The Gospel According to Esther: Inconspicuous Providence. 2014. P&R Publishing.

Trisfianto Prasetio

Oktober 2018

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pimpinan dan penyertaan Tuhan sehingga izin pendirian dan pelaksanaan Calvin Institute of Technology telah diberikan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi pada tanggal 18 Oktober 2018.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Pengalaman Pak Heru membuat renungan ini lebih sarat makna. Thank you

Selengkapnya...

Salah tafsir Yesus bukan Allah atau hanya sbg ciptaan belaka ( ciptaan sbg manusia saja atau malaikat seperti...

Selengkapnya...

Hambatan-hambatan gereja baik eksternal dan internal,serta terangkan keberadaan Allah dan Sifat-sifat Allah

Selengkapnya...

Saya harus sampaikan ini Artikel sesat sebaiknya di hapus, ini tidak alkitabiah buah pemikiran penulis bukan...

Selengkapnya...

Salomo Depy : kmu over sensitif. Ini artikel tujuan utk membangun, tp kamu spt salah minum obat

Selengkapnya...

© 2010, 2018 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲