Artikel

For You, The Sun Of Righteousness Shall Rise: Memaknai Kedatangan Kristus bersama Maleakhi

Sering kali Kitab Maleakhi diabaikan dalam pembacaan kita akan Kitab Suci. Selain karena sulit, kitab ini juga hanya memberikan kita sedikit gambaran berkaitan dengan Tuhan kita, Kristus Yesus. Namun pada dasarnya, Kitab Maleakhi memberikan kita gambaran yang sangat kaya tentang harapan akan kehadiran Tuhan kita, apalagi ketika kitab ini dibaca di dalam sejarah penyelamatan Tuhan.

Selayang Pandang Kitab Maleakhi

Kitab Maleakhi diberikan oleh Tuhan setelah masa pembuangan, suatu periode yang sulit ketika Allah diam dan memalingkan wajah-Nya dari Israel. Oleh karena itu, pembacaan Maleakhi tidak mungkin terlepas dari sumber-sumber alkitabiah setelah zaman pembuangan, seperti Kitab Hagai dan Zakharia, serta Kitab Ezra dan Nehemia yang mencakup periode kembalinya Israel dari pengasingan.

Yerusalem dihancurkan oleh Babel pada tahun 586 SM (2Raj. 25), dan hampir lima puluh tahun kemudian, Koresh menaklukkan Babel dan menyatukannya ke dalam Persia, serta menetapkan bahwa kaum yang sebelumnya dibuang ke Babel dapat kembali ke tanah asal mereka dan membangun kembali kuil-kuil mereka. Bangsa Yahudi termasuk di antara kaum-kaum ini (Ezr. 1:1-4). Setelah mereka kembali, mereka memberikan persembahan untuk membangun kembali Bait Allah (2:68), membangun mezbah (3:3), memulai kembali korban bakaran, dan perayaan-perayaan kudus (3:4-6), tidak lupa mereka meletakkan dasar Bait Allah (3:10). Namun pada masa ini, umat Allah kembali menghadapi kesulitan bertubi-tubi: kelaparan (Hag. 1:9-11; 2:15-19), tekanan ekonomi (Hag. 1:6; Za. 8:10), pertikaian (Za. 8:10), serta ketegangan dengan Samaria (Ezr. 4; Neh. 2-4, 6). Semua ini menyebabkan pembangunan kembali Bait Allah terhenti selama sekitar dua puluh tahun sampai zaman Raja Darius dari Persia. Pada titik ini, Allah membangkitkan Nabi Hagai dan Zakharia untuk membangunkan Israel dari tidurnya dan menyelesaikan pembangunan kembali Bait Allah, yang mereka selesaikan sekitar empat tahun kemudian pada tahun 515 SM (Ezr. 6:14-15). Namun, meskipun Bait Allah telah dibangun kembali, Kitab Maleakhi menunjukkan bahwa kesulitan ekonomi yang dihadapi oleh Israel terus berlanjut (Mal. 3:10-11), dibarengi dengan munculnya masalah-masalah sosial seperti lemahnya jabatan keimamatan (1:6-2:9), perkawinan silang dengan mereka yang tidak percaya (2:11-12), perceraian (2:13-16), ketidakadilan sosial (3:5), pengabaian akan perpuluhan dan persembahan (3:8-10), dan keraguan akan Allah (2:17; 3:14-15).

Maleakhi dalam Sejarah Keselamatan

Kisah bangsa Israel dimulai dengan janji kepada Abraham bahwa keturunannya akan menjadi bangsa yang besar, akan mewarisi Tanah Perjanjian, dan menjadi berkat bagi semua bangsa di bumi (Kej. 12:1-3). Janji ini mengingatkan kita akan janji Tuhan untuk mendirikan Kerajaan-Nya terlepas dari episode-episode kelam kejatuhan manusia ke dalam dosa dalam Kejadian 3-11.

Janji-janji Allah kepada Abraham ditegaskan kembali di dua tempat dalam narasi Kejadian —pasal 15 dan 17, juga kepada Ishak dan Yakub (Kej. 26:3-5; 28:13-15; 46:3-4), serta menjiwai sebagian besar alur kisah Kejadian dan kitab-kitab lain dalam Kitab Suci. Janji-janji ini dimaknai oleh Israel sebagai tugas historis untuk membawa pengetahuan tentang Allah YHWH kepada bangsa-bangsa di luar sana, dan membawa mereka ke jalan pendamaian dengan Tuhan (tikkun olam). Tugas Abraham sebagai sarana untuk memberkati bangsa-bangsa juga menempatkan Israel sebagai imam di tengah-tengah bangsa. Seperti halnya peran para imam untuk memberkati orang Israel, demikian pula peran Israel secara keseluruhan pada akhirnya untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa.

Sangat penting juga untuk melihat bahwa hubungan perjanjian antara Allah dan Israel yang ditetapkan dalam Taurat adalah fundamental bagi Maleakhi. Maleakhi dan nabi-nabi lain memperingatkan Israel tentang penghakiman Ilahi dalam situasi di mana perjanjian dilanggar dan meminta setiap orang untuk bertobat. Para nabi tidak hanya memperingatkan penghakiman Ilahi, tetapi juga menjanjikan berkat ketika umat Allah bertobat dan kembali menaati Allah (Yer. 22:4-5; Za. 6:15).

Tragisnya, kisah Israel lebih dipenuhi dengan kegagalan dalam memenuhi panggilan mereka dan jatuh di dalam kutuk. Sementara Allah berkali-kali membuktikan kesetiaan-Nya, Israel terbukti menjadi mitra perjanjian yang serong. Kitab Hakim-hakim bahkan menunjukkan bagaimana Israel menjadi jauh lebih buruk daripada bangsa-bangsa lain dalam kehidupan moralnya, namun Allah terus menyelamatkan. Akhir dari Kitab Hakim-hakim mengantisipasi seorang Raja yang akan meneguhkan Kerajaan Allah yang menyelamatkan (17:6; 18:1; 19:1; 21:25).

Banyak nabi juga meramalkan peristiwa ini. Bahkan, Musa, yang tampaknya sejak awal telah pesimis tentang kesetiaan Israel, tampaknya berharap bahwa Tuhan akan mencabut mereka dari tanah dengan murka-Nya dan melemparkan mereka ke negeri lain karena mereka akan meninggalkan perjanjian (Ul. 29:24-28). Namun untungnya, “pengasingan” bukanlah kata terakhir Tuhan bagi Musa. Alih-alih, Tuhan menjanjikan harapan baru di mana Tuhan “akan menyunat hatimu dan hati keturunanmu, sehingga engkau mengasihi TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, supaya engkau hidup” (Ul. 30:6). Pekerjaan Allah dalam menyunat hati umat-Nya inilah yang memungkinkan Israel untuk kembali kepada-Nya dalam ketaatan perjanjian (Ul. 30:2) dan tampaknya menjadi dasar untuk apa yang kemudian disebut Nabi Yeremia sebagai “perjanjian baru”, ketika Allah berkata, “Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku” (Yer. 31:33). Yehezkiel mengaitkan ini dengan pekerjaan Roh Allah (Yeh. 36:25-28). Bersamaan dengan perjanjian baru dengan umat Allah yang baru, para nabi juga menjanjikan eksodus baru (Yes. 43:15-21; Yer. 16:14-15; 23:7-8), Yerusalem baru (Yes. 44:24-28), sebuah Bait Allah baru (Yes. 2:2-4; 44:2), seorang Daud yang baru (Yes. 9:6-7; Mi. 4:7–5:6; Am. 9:11-15), dan ciptaan baru dengan berkat yang melimpah ruah dan mengalir sampai ke ujung bumi (Yes. 51:3; 65:17-21, 25; Yeh. 36:33-36). Berkat-berkat ini tidak akan terbatas pada Israel, tetapi meluap kepada orang-orang dari bangsa-bangsa yang mencari Tuhan sesuai dengan janji-Nya kepada Abraham (Kej. 12:3; Yes. 2:2-4; Mi. 4:1-4).

Pada “hari” ini, Allah akan dengan tegas menghakimi zaman yang jahat ini dan dengan demikian membebaskan manusia sekali dan untuk selamanya dari dosa dan segala konsekuensinya. Melalui hari penghakiman yang akan datang ini, Allah akan menegakkan pemerintahan-Nya yang tak tertandingi dan memerintah sebagai Raja dan di bawah kedaulatan-Nya yang tak terbantahkan, Ia menghasilkan ciptaan baru seturut perjanjian-Nya.

Dari Pengasingan ke Babel sampai Kedatangan Sang Fajar

Elemen-elemen positif dari Hari Tuhan ini menjelaskan harapan besar di antara banyak orang buangan yang pertama kali kembali ke Yerusalem. Nabi Yeremia telah menubuatkan tujuh puluh tahun kehancuran bagi tanah Yehuda (Yer. 25:11-12; 29), dan tujuh puluh tahun ini telah mendekati akhir bagi mereka yang kembali ke Yerusalem untuk membangun kembali Bait Allah (Za. 1:12). Imamat dan sistem pengorbanan dipulihkan kembali, garis keturunan Daud diteguhkan kembali di Yerusalem (Hag. 2:20-23; Za. 4:6-10), demikian pula, Maleakhi mencatat sebuah kelompok yang takut akan Tuhan muncul (Mal. 3:16). Tanggapan ini menimbulkan pertanyaan—apakah ini perjanjian baru? Apakah Tuhan telah menegakkan kembali Kerajaan-Nya dan mengantarkan era baru yang dijanjikan oleh para nabi sebelumnya? Apakah ini pemulihan kekayaan yang dijanjikan Zefanya?

Sementara dalam kitab-kitab nabi sebelumnya, Israel masih menantikan pemulihan yang mulia setelah pengasingan, yang akan terjadi “pada hari itu”, Maleakhi menunjukkan bahwa meskipun orang-orang telah melalui hukuman pengasingan oleh Tuhan dan kembali ke tanah air mereka, pengalaman penuh dari “Hari Tuhan” masih terletak jauh di masa depan dan belum terjamah. Referensi yang mengarah pada “hari itu” muncul enam kali dalam pasal-pasal terakhir Maleakhi. “Hari itu” adalah hari penghakiman dan keselamatan—hari ketika perbedaan akan terlihat antara orang benar (“orang yang melayani Allah”) dan orang fasik (“orang yang tidak melayani Dia”) (Mal. 3:18). Penghakiman Allah akan meluluhlantahkan mereka yang tidak takut kepada-Nya (Mal. 3:5-6). Hari yang akan datang akan membara seperti tungku yang terbakar dan semua yang sombong dan fasik akan terbakar (4:1). Orang fasik akan diinjak-injak di bawah kaki orang benar (4:3). Pada saat yang sama, “hari itu” adalah hari ketika Tuhan akan datang dan memurnikan anak-anak Lewi sehingga persembahan umat-Nya dapat berkenan kepada-Nya (3:3-4). “Hari itu” adalah hari di mana mereka yang bertobat dan takut akan Tuhan akan menjadi “milik yang berharga” dari Allah dan dengan demikian memenuhi panggilan Israel (3:17). “Hari itu” adalah hari ketika Allah akan membawa kebenaran dan kesembuhan kepada mereka yang takut akan nama-Nya sehingga mereka yang mengalami-Nya akan melompat bersorak dalam kebebasan yang baru (4:2). Dengan gema dari Kejadian 3:15 dan Mazmur 110:1, Allah berjanji kepada umat-Nya bahwa musuh-musuh mereka akan ditundukkan “di bawah telapak kakimu” (4:3). Dalam persiapan untuk “hari itu”, Allah akan mengirim Nabi Elia, yang “akan memalingkan hati para ayah kepada anak-anak mereka dan hati anak-anak kepada ayah mereka. Kalau tidak, aku akan datang dan menyerang negeri itu dengan kutukan” (Mal. 4:6). Dengan cara ini, Maleakhi menunjukkan bahwa akan ada Hari Tuhan yang lain yang masih akan datang sebelum Kerajaan Allah akhirnya akan tiba dengan segala kemuliaan dan kepenuhannya.

Bagi para penulis Injil, “Hari Tuhan” ini datang bersama Tuhan kita Kristus Yesus, Ialah Sang Fajar Kebenaran yang membawa penghakiman dan keselamatan. Yohanes Pembaptis menjadi Elia eskatologis yang diumumkan dalam Maleakhi 4:5-6, yang mempersiapkan jalan bagi Sang Fajar, ia datang “dalam roh dan kuasa Elia” (Luk. 1:17). Dia mengenakan pakaian Elia (Mat. 3:4; Mar. 1:6), dan mengkhotbahkan pesan pertobatan sehubungan dengan penghakiman Allah yang akan datang (Mat. 3:12; Mar. 1:2-4). Lukas menjelaskan misi Yohanes Pembaptis sehubungan dengan Maleakhi, “Ia akan membuat banyak orang Israel berbalik kepada Tuhan, Allah mereka, dan ia akan berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk membuat hati bapa-bapa berbalik kepada anak-anaknya dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu umat yang layak bagi-Nya” (Luk 1:16-17).

Dosa-dosa komunitas pasca-pembuangan sangatlah jelas dalam Kitab Maleakhi karena bentuk kitab ini sendiri mencerminkan isinya. Maleakhi mengutip orang-orang dan menanggapi sikap dan perilaku mereka yang buruk dalam serangkaian enam “perselisihan kenabian”. Tiga bagian adalah tuduhan yang diarahkan oleh Allah terhadap umat atas dosa-dosa mereka (yang kedua, ketiga, dan kelima). Tiga bagian lainnya menjadi tanggapan Allah terhadap keluhan umat-Nya.

Kitab Maleakhi mengungkapkan bahwa setiap orang gagal menghargai kasih Allah bagi mereka (1:2-5). Para imam gagal menghormati Allah dengan hanya melalui segala gerak-gerik mereka dan tidak menghargai panggilan mulia yang dianugerahkan kepada mereka. Mereka menutup mata terhadap persembahan orang-orang kelas dua (1:7-14) dan lalai untuk hidup dan mengajar dengan setia jalan Tuhan (2:1-9). Kaum Israel juga menunjukkan ketidaksetiaan perjanjian, terutama dalam pernikahan mereka (2:10-16), tetapi juga dalam perzinahan, sumpah palsu, menindas janda dan anak yatim, menipu para pencari nafkah, menyangkal keadilan kepada orang asing (3:6), dan dalam kegagalan mereka untuk mendukung para imam dengan membayar persepuluhan dan persembahan (3:8). Dalam semua cara ini, setiap orang telah meninggalkan Tuhan dan menolak panggilan mereka untuk menengahi pengetahuan tentang Allah kepada dunia (Kel. 19:5-6). Apa yang Maleakhi ungkapkan secara tragis adalah bahwa alih-alih menjadi seperti rumah pertunjukan yang menampilkan karakter Allah kepada bangsa-bangsa lain, mereka lebih seperti sebuah gubuk yang bobrok dan reyot.

Berita yang lebih besar mengenai kedatangan Tuhan Allah di Maleakhi adalah kedatangan Tuhan Yesus untuk membangun Kerajaan Allah, yang berinkarnasi dan melibatkan diri-Nya dalam seluruh sengketa yang berurusan dengan dosa yang najis. Itu karena Yesus sepenuhnya memenuhi persyaratan hukum Musa, sehingga Ia dapat menjadi wakil yang benar dan pengganti Israel yang tidak setia serta manusia yang berdosa. Di kayu salib, Yesus mengambil segala kutuk yang mengancam dalam ayat-ayat terakhir Maleakhi yang mencekam (Mal. 4:6; Gal. 3:13); Ia menanggung segala hukuman atas dosa-dosa kita, sehingga setiap orang yang percaya kepada-Nya menjadi “harta milik yang berharga” Allah (Mal. 3:17; 1Ptr. 1:17-21; 2:9).

Semua harapan kenabian terwujud dalam pribadi Kristus. Dia adalah sisa yang setia, “Israel sejati” yang membawa keselamatan bagi bangsa-bangsa (Mat. 2:11; 4:1-11; 12:18-21; 28:19). Dia adalah Daud yang baru (Mat. 1:1, 20; 15:22; 20:30) dan Bait Allah yang baru (Yoh. 2:19-22). Kematian-Nya menyebabkan eksodus baru (Luk. 9:31) dengan penebusan dan pengampunan dosa (Kol. 1:14). Kebangkitan-Nya dan pencurahan Roh adalah buah sulung dari ciptaan baru (1Kor. 15:20; 2Kor. 5:16-17). Yesus menetapkan perjanjian baru yang dijanjikan (Luk. 22:20; Ibr. 9:15), yang tidak hanya untuk orang Yahudi, tetapi juga untuk yang bukan Yahudi, membawa berkat yang dijanjikan kepada Abraham (Gal. 3:14). Dia membawa harapan Maleakhi untuk memuji nama Allah di antara bangsa-bangsa (1:5, 11, 14; 3:12). Memang, penyembahan Allah “di segala tempat” (Mal. 1:11).

Seperti halnya Hari Tuhan yang merujuk kepada kedatangan Kristus yang pertama, para rasul Perjanjian Baru juga menggunakannya untuk berbicara tentang kedatangan Kristus yang kedua kalinya ketika segala ciptaan Allah akan menemukan penggenapannya yang sempurna. Hari ini adalah hari yang akan menguji kualitas pekerjaan mereka yang berusaha membangun Bait Allah, gereja Allah (1Kor. 3:12-15; Mal. 3:2-3). Pada Hari Tuhan ini, orang fasik (yang berdiri di belakang kejahatan, Mal. 2:17; 3:15) akan terbuka kedoknya dan Yesus akan menghancurkannya dengan napas dari mulut-Nya (2Tes. 2:8). Kembalinya Yesus akan membawa penghakiman terakhir dan menegakkan “langit baru dan bumi baru, di mana kebenaran akan tinggal” (2Ptr. 3:13; Why. 21:1; Mal. 4:2). Dan dengan cara ini para rasul mengajarkan bahwa Hari Tuhan telah datang dan akan datang.

Membaca Maleakhi dalam Masa Penantian

Periode pasca-pembuangan memiliki banyak kesamaan dengan waktu di mana kita hidup, di antara dua kedatangan Yesus Kristus. Menyadari hal ini memberikan kerangka kerja penting bagi kita untuk menerapkan pesan Maleakhi hari ini, hari-hari di mana kita menanti Kristus. Seperti para pendengar Maleakhi yang pertama, kita tidaklah jauh berbeda dengan orang Israel pada zaman itu: gagal menjalani panggilan kita sebagai terang di tengah bangsa-bangsa, kita telah terpencar ke segala arah mengikuti dosa yang memperbudak kita. Namun kita harus melihat bagaimana Allah telah menepati janji-janji-Nya di masa lalu dan bagaimana Ia menepati janji-janji itu di masa kini sebagai dasar harapan untuk realisasi penuh dari janji-janji-Nya saat Sang Fajar datang kembali. Kita harus takut akan Tuhan, sementara hidup dengan setia sesuai dengan firman-Nya untuk menghormati-Nya (Mal. 1:6; 3:16). Karena Allah tidak berubah (Mal. 3:6), dan umat Allah dipanggil untuk mencerminkan karakter-Nya dan merefleksikan sinar Sang Fajar, mari kita mencoba menghidupi panggilan kita di masa-masa penantian ini sembari menunggu kedatangan Sang Fajar untuk kedua kalinya. Maranatha!

Robin Gui

Pemuda FIRES

Robin Gui

Desember 2019

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pelayanan Tim Aksi Kasih (TAK) GRII untuk COVID-19 yang telah melayani pembagian Alat Pelindung Diri (APD) untuk 213 rumah sakit/puskesmas dan pembagian sembako di 31 provinsi di Indonesia. Berdoa kiranya melalui pelayanan ini, gereja dapat menjadi saluran kasih.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2020 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲