Artikel

Gaya Bahasa dalam Sastra: Allah Tritunggal Menjawab!

Saat kita membaca sebuah karya sastra – baik itu novel, cerpen, maupun puisi – yang membuat kita kagum – selain alur cerita, karakter, setting, dan tema – tentu saja adalah style, yaitu gaya penulisannya. Setiap penulis yang baik mempunyai style yang unik dan menarik. Di dalam ilmu bahasa (linguistik), cabang yang mempelajari tentang style penulisan adalah stylistic. Tugas stylistic adalah mempelajari dan menjelaskan mengapa dan bagaimana style dapat mengutarakan arti dan makna, lalu memberikan efek yang diinginkan penulis pada pembaca.

Setelah selesai membaca sebuah tulisan, mungkin kita pernah mengeluarkan komentar-komentar seperti, “Bahasanya puitis sekali” atau “Pendeskripsian dalam teks ini sangat nyata”. Orang yang dapat mengeluarkan pernyataan seperti di atas secara tidak sadar mengakui adanya perbedaan FORM dan CONTENT, MANNER dan MATTER, EXPRESSION dan MESSAGE. Di dalam stylistic, orang-orang yang memisahkan isi dari bentuk termasuk dalam kategori dualisme.

Dualisme dalam stylistic dapat dibagi menjadi dua macam. Satu macam mengatakan bahwa style adalah pakaian dari buah pikiran. Jadi buah pikiran perlu diberi pakaian yang bagus supaya dapat diterima dengan baik oleh pembaca. Tujuan style adalah mendandani, menghiasi, dan mendekorasi buah pikiran. Buah pikiran yang sama dapat mengenakan pakaian yang berbeda-beda, bahkan ia dapat melepaskan pakaian style dan menjadi telanjang. Jika itu yang dilakukan, lahirlah tulisan yang tidak ber-style.

Dualisme macam yang kedua mengatakan bahwa style hanyalah masalah cara penyampaian. Dualisme jenis ini membedakan elemen invariant dari elemen variant di dalam sebuah tulisan. Elemen invariant adalah elemen yang tidak dapat diganti-ganti, sedangkan elemen variant adalah elemen yang dapat secara bebas diganti-ganti. Kita ambil contoh permainan tenis meja. Di dalam permainan tersebut, ada satu set peraturan yang harus diikuti setiap pemain (invariant), misalnya harus memukul bergantian jika bermain double, satu pemain mendapat giliran service lima kali sebelum giliran service diberikan kepada pihak lawan, dan sebagainya. Namun dalam permainan itu juga ada cara memukul bola yang beraneka ragam. Pemain tenis meja dengan bebas berpindah-pindah dari satu jenis pukulan ke jenis pukulan lain (variant), misalnya pukulan backhand, forehand, smash, bola spin, dan lain-lain. Elemen invariant bersifat mengikat, sedangkan yang variant tidak.

Bagi kaum dualis, isi bersifat invariant, sedangkan style bersifat variant, maka sebuah kalimat dapat diparafrase tanpa mengubah arti kalimat tersebut. Misalnya,

[1] Desdemona mengambil sebuah kursi, lalu mendudukinya.

Parafrase:

[1a] Sebuah kursi diambil oleh Desdemona, kemudian didudukinya.

[1b] Desdemona mengambil dan menduduki sebuah kursi.

[1c] Desdemona mengambil sebuah kursi dan kemudian mendudukinya.

Masih banyak kemungkinan parafrase yang dapat dirangkai untuk kalimat [1]. Bagi seorang dualis, kalimat [1a], [1b], dan [1c] mempunyai arti yang sama dengan [1].

Demikianlah untuk dualisme. Kita akan kembali nanti untuk mengkritisi pandangan tersebut dan menunjukkan kesalahannya. Sekarang mari kita meninjau lagi sebuah pandangan yang berseberangan dengan dualisme: monisme. Bagi monisme, style dan isi tidak dapat dibedakan, sehingga Archibald Macleish menulis, “A poem should not mean but be.Form adalah content dan content adalah form yang kita lihat; di antara keduanya tidak ada perbedaan sama sekali. Untuk membuktikan hal ini, orang monis, misalnya, akan menantang orang dualis untuk memparafrasekan syair puisi, seperti katakanlah puisi Chairil Anwar berikut.

PENERIMAAN

Kalau kau mau kuterima kau kembali

Dengan sepenuh hati

Aku masih tetap sendiri

Kutahu kau bukan yang dulu lagi

Bak kembang sari sudah terbagi

Jangan tunduk! Tentang aku dengan berani

Kalau kau mau kuterima kau kembali

Untukku sendiri tapi

Sedang dengan cermin aku enggan berbagi

Apa yang akan ikut hilang jika kita menghilangkan salah satu ‘kau’ di baris pertama dan ketujuh dari puisi ini? Kita tidak dapat menghilangkan salah satu ‘kau’ tanpa juga mengurangi emosi dari puisi ini. Setiap baris dari puisi di atas dirangkai dengan kata-kata yang dipilih dan disusun dengan sangat hati-hati dan penuh pertimbangan. Memparafrase puisi di atas akan memporakporandakan makna keseluruhan ‘Penerimaan’.

Dengan alasan inilah kaum monis berargumen bahwa sebuah kalimat tidak dapat diparafrasekan tanpa mengubah artinya. Karena style adalah isi dan isi adalah style, mengubah style sama saja dengan mengubah isi.

Ada anggapan bahwa dualisme lebih cocok dengan prosa karena prosa lebih mudah diparafrasekan daripada puisi, sedangkan monisme lebih berjodoh dengan puisi karena kita tidak dapat memparafrasekan puisi tanpa mengubah artinya. Namun mari kita coba melihat bagaimana monisme ternyata juga dapat menantang dualisme di kandangnya sendiri. Mari kita ambil contoh [1] dan ketiga parafrasenya. [1a] tidaklah sama persis dengan [1] karena objek kalimat disebut terlebih dahulu, menandakan penekanan sudah dipindahkan dari ‘Desdemona’ ke ‘kursi’. [1b] sedikit ambigu karena berdasarkan informasi yang kita dapatkan dari kalimat [1b], kursi yang diambil belum tentu juga kursi yang diduduki oleh Desdemona. [1c] menggantikan jeda koma dengan menggabungkan kedua klausa menjadi satu. Penggabungan ini memberikan efek aliran yang lebih cepat pada lajunya kalimat. Ini dapat mengindikasikan betapa cepatnya Desdemona duduk setelah mengambil kursi.

Penjelasannya orang monisme cukup masuk akal sampai di sini, tapi bagaimana dengan dua parafrase di bawah ini?

[1] Desdemona mengambil sebuah kursi, lalu mendudukinya.

[1d] Desdemona mengambil sebuah bangku, lalu mendudukinya.

[1e] Desdemona mengambil sebuah kursi, kemudian mendudukinya.

Meskipun tidak terlalu tepat jika disebut parafrase, kedua contoh di atas juga adalah variasi yang sah dari [1]. Menghadapi ini, para monis pertama-tama mungkin akan mencari, dan  jika mereka beruntung, akan menemukan perbedaan arti antara ‘bangku’ dengan ‘kursi’, dan antara ‘lalu’ dengan ‘kemudian’. Jika mereka tidak berhasil, maka kedua, mereka dapat saja berargumen tentang tidak samanya panjang kalimat [1] dibandingkan dengan [1d] dan [1e]. Di dalam penulisan, keekonomisan kalimat juga dapat mengungkapkan makna. Ketiga, ketiga kalimat tersebut juga berbeda di dalam bunyi, yang sangat sering menjadi media penulis, terutama penyair, untuk mengantarkan makna. Ini menunjukkan kepada kita bahwa tidak ada pilihan yang netral. Tidak ada style yang netral: semua pilihan adalah menyangkut makna.

Akan tetapi, dengan pendiriannya bahwa isi dan style adalah dua hal yang sama, monisme mengabaikan fakta bahwa setiap tulisan itu dituliskan tentang sesuatu di luar bahasa. Isi dan style tentu saja adalah dua hal yang berbeda. Isi adalah dunia atau konsep di luar bahasa, sedangkan style adalah bahasa yang digunakan untuk mengutarakan konsep itu. Mari kita lihat salah satu contoh kesalahan monisme sebagai implikasi dari teorinya tentang kesamaan isi-style. Bagi monisme, kedua kalimat di bawah ini hanyalah masalah perbedaan style:

[2] Sambil duduk dengan santai, Desdemona menyeruput kopi dan membaca koran.

[3] Sambil duduk dengan santai, kambing itu menyeruput kopi dan membaca koran.

Dengan catatan bahwa Desdemona bukan nama seekor kambing, kita tahu bahwa perbedaan [2] dan [3] bukanlah pada style tetapi pada peristiwa yang mereka gambarkan, yaitu isinya. Dengan menggantikan kata ‘Desdemona’ dengan ‘kambing itu’, saya sama sekali bukan sedang mengganti gaya bahasa saya, tetapi saya mengganti dunia di dalam kalimat [2] dengan sebuah dunia yang sama sekali berbeda, dunia di mana kambing bisa bertingkah laku seperti manusia.

Kesalahan kaum monisme adalah mereka tidak membedakan antara bekerja di dalam bahasa dengan bekerja melalui bahasa. Pada kenyataannya, bekerja di dalam bahasa adalah hal yang berbeda dengan bekerja melalui bahasa. Geoffrey Leech berpendapat bahwa ada dua macam pernyataan yang dapat dibuat untuk sebuah karya tulis. Di satu sisi, sebuah tulisan dapat digambarkan sebagai sebuah teks linguistik:

X ditulis dengan bahasa yang sederhana/lugas/kompleks/puitis, dan lain-lain.

Dalam hal ini penulis dikatakan sedang bekerja di dalam bahasa, karena ia mengutak-atik bahasa sehingga bahasa tersebut mengeluarkan makna. Di sisi lain, sebuah karya tulis dapat digambarkan dengan cara yang tidak menyinggung hal yang berhubungan dengan linguistik:

Di dalam X terdapat seorang karakter yang bijak.

Atau,

X adalah cerita tentang seorang karakter yang kejam, tentang sebuah peristiwa yang terjadi pada abad pertengahan, dan lain-lain.

Dalam hal ini penulis dikatakan sedang bekerja melalui bahasa, karena ia menggunakan bahasa sebagai medium untuk menyampaikan sesuatu di luar bahasa.[1]

Lagipula, dengan pendiriannya itu, kaum monis tidak akan dapat membuat penilaian terhadap sebuah tulisan. Tidak ada lagi perbedaan antara ‘apa yang seharusnya dikatakan’ dengan ‘bagaimana mengatakannya’. Padahal kita seringkali ketika membaca tulisan buruk dapat mengeluarkan komentar seperti, “Seharusnya ini dapat dituliskan dengan cara yang lebih baik lagi.” Selain itu, kaum monis tidak punya alasan untuk memberi penilaian ‘ini sastra tingkat tinggi dan ini tingkat rendah’, sedangkan kaum dualis punya alasan untuk itu karena bagi mereka ada banyak cara untuk mengungkapkan sebuah pikiran.

Sampai di sini tampak seolah-olah kita mengunggulkan dualisme. Namun dualisme juga bukannya tanpa kelemahan. Seperti yang sudah kita lihat pada contoh puisi Chairil Anwar di atas, monisme benar dengan mengatakan bahwa di dalam style terkandung makna. Mengubah style dapat mengubah makna. Ini adalah sesuatu yang ditentang oleh dualisme. Dualisme macam yang pertama tadi bahkan mengatakan kalau suatu tulisan dapat berada tanpa style. Ini adalah kesalahan di dalam mengerti arti style. Style terus dimengerti sebagai <city w:st="on"><place w:st="on">gaya</place></city> bahasa yang unik, aneh, dan indah, padahal di dalam tulisan terdapat style yang sederhana, style yang buruk, style yang monoton, dan sebagainya. Jadi, tidak mungkin ada tulisan tanpa style. “Style is a property of all texts.” tulis Leech.[2] Sedangkan kesalahan dualisme jenis kedua yaitu, seperti yang sudah dibahas di atas, adanya anggapan bahwa style adalah medium yang netral. Tadi sudah dibahas bahwa setiap pemilihan penggunaan style tidak ada yang netral, semuanya menyangkut makna yang hendak disampaikan.

Nampaknya dualisme dan monisme sama-sama mempunyai tanah pijaknya sendiri. Keduanya tidak seluruhnya benar dan tidak seluruhnya salah. Sebagai orang Kristen, kubu yang manakah yang harus kita pilih? Monisme atau dualisme? Atau apakah kita, sebagai penerima wahyu khusus, dapat memberikan sebuah cara alternatif mengerti hubungan isi-style yang berbeda dari yang ditawarkan kedua kubu di atas?

Karena masalah style dan isi ini menyangkut bidang bahasa, kita perlu melihat ke dalam Alkitab dan mencari prinsip yang membicarakan bahasa. Apakah Alkitab memberikan prinsip kebenaran di dalam bidang bahasa? Atau, apakah Alkitab menyediakan contoh natur bahasa yang sempurna, ideal, dan dapat menjadi archetype (model sempurna) bagi seluruh bahasa di dunia? Jawabannya adalah: HARUS ADA. Archetype bahasa ada pada Allah Tritunggal, Pencipta langit dan bumi serta isinya. Mari kita perhatikan beberapa ayat yang menyangkut natur bahasa:

“Pada mulanya adalah Sang Kata; Sang Kata itu bersama-sama dengan Allah dan Sang Kata itu adalah Allah.” (Yoh. 1:1)

“Sekiranya kamu mengenal aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia.” (Yoh. 14:7)

“Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa.” (Yoh. 14:9)

“Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan.” (Kol. 1:15)

The Son is the radiance of God’s glory and the exact representation of his being.” (Ibr. 1:3)[3]

“Yesus . . . penuh dengan Roh Kudus.” (Luk. 4:1)

Alkitab mengajarkan bahwa Kristus adalah Kata yang keluar (manifestasi) dari Allah Bapa. Ia adalah Wahyu yang diberikan oleh Bapa supaya Bapa yang tidak kelihatan itu boleh dikenal oleh manusia. Sang Kata adalah representasi keberadaan-Nya dan tidak ada distorsi antara yang merepresentasi dan yang direpresentasikan. Barangsiapa yang sudah melihat yang merepresentasikan, dia juga sudah melihat yang direpresentasikan, tetapi yang merepresentasikan itu bukan yang direpresentasikan. Dan semua ini dapat terjadi karena ada Roh Kudus yang mengikat yang merepresentasikan dengan yang direpresentasikan.

Menurut Vern S. Poythress, kita dapat menganalogikan relasi pikiran-kata dengan Bapa-Kata, “On a human level, we may say that the relation between human thought and human word is analogical to the relation between the Father and the Word.”[4] Di sini saya ingin menarik lebih jauh lagi analogi tersebut. Bapa-Anak bukan hanya menjadi analogi model pikiran-kata, tetapi juga dengan content-form, matter-manner, message-expression, atau isi-style. Jika memang demikian, ayat-ayat yang baru kita baca tadi dapat kita gunakan untuk menjawab baik monisme maupun dualisme.

Monisme benar di dalam mempertahankan pentingnya kemutlakan representasi (style). Ketika representasinya diubah, makna yang hendak disampaikan juga terpengaruh, karena ada ide yang lebih tepat direpresentasikan oleh suatu representasi tertentu daripada representasi yang lain, yang mana jika representasi yang paling tepat itu diganti dengan representasi yang kurang tepat, maka makna yang disampaikan juga akan meleset dari yang diinginkan. Tetapi monisme salah karena tidak mau membedakan antara yang merepresentasi dengan yang direpresentasikan. Style hanyalah representasi dari ide yang tidak kelihatan yang berada di luar bahasa. Style bukanlah ide itu sendiri.

Dualisme benar karena membedakan yang direpresentasi dengan yang merepresentasi. Yang merepresentasi memang bukan yang direpresentasi, dan yang direpresentasi bukan yang merepresentasi. Namun dualisme jenis pertama melangkah terlalu jauh ketika berkata bahwa yang merepresentasikan hanyalah dekorasi dari yang direpresentasikan. Yang merepresentasikan juga boleh tidak hadir. Ini adalah hal yang mustahil karena yang direpresentasi adalah sesuatu yang di luar bahasa. Kembali kepada model Bapa-Kata, kita tahu bahwa tidak ada orang yang bisa langsung melihat Allah Bapa. Kita selalu memerlukan medium (Mediator), yaitu Yesus Kristus.

Dualisme jenis kedua salah karena mengatakan bahwa ada banyak pilihan representasi yang sama tepatnya di dalam merepresentasi sebuah ide. Ini bukanlah yang terdapat dalam model Bapa-Kata. Di dalam model itu, tidak ada yang dapat merepresentasikan Bapa dengan lebih exact daripada yang dapat dilakukan oleh Sang Kata. Setiap ide mempunyai satu representasi yang paling tepat, dan tugas para penulis adalah menemukan dan menggunakannya. Penulis yang baik adalah penulis yang dapat menemukan style yang paling representatif bagi pikirannya.

Sebagai contoh, saya akan coba memparafrase sebuah kutipan yang diambil dari cerpen Jujur Pranoto.

Seperti ingin bunuh diri, Monsera menantang teriknya Matahari tanpa berbekal setetes pun air dan menantang dinginnya malam tanpa berbekal selembar pun selimut. Pada hari ketujuh, Monsera tergeletak tanpa daya di atas permukaan rumput. Saat itu hujan turun deras. Kilat berkerjap-kerjap menerangi malam yang gelap. Guntur menggelegar. Seleret petir melesat menukik tajam, menyambar tubuh Monsera.[5]

Parafrase:

Tanpa takut mati, Monsera berjalan di bawah terik matahari tanpa membawa air dan melewati malam yang dingin tanpa membawa selimut. Tujuh hari kemudian, Monsera jatuh pingsan di atas tanah berumput. Ketika itu sedang ada hujan deras. Kilat memancar-mancar, sesekali membagi terang di tengah-tengah malam yang gelap. Terdengar juga suara guntur. Sesaat kemudian, tubuh Monsera tersambar petir.

Kedua paragraf di atas mengacu pada sebuah kejadian yang sama. Tetapi saya yakin, Jujur Pranoto kemungkinan besar tidak akan puas jika paragrafnya diganti dengan parafrase saya, karena baginya parafrase saya kurang dapat merepresentasikan apa yang dia imajinasikan.

Sebagai penulis Kristen, kita seharusnya terus menerus bergumul dan bergelut dengan pena kita sampai kita dapat mengeluarkan style yang paling representatif. Sebagai Anak yang diutus, Yesus taat sebagai hamba kepada Bapa karena Ia ingin sempurna merepresentasikan Bapa. Maka dengan semangat manifestasional Kristus ini, marilah kita juga berjuang untuk mengeluarkan style yang serepresentatif mungkin untuk pikiran kita. To Him be the glory! Amin.

Erwan

REDS - Arts


[1]               Leech, G. (1981). Sytle in Fiction: A Linguistic Introduction to English Fictional Prose. <place w:st="on"><city w:st="on">London</city></place>: Longman. p. 37

[2]               idem. p. 18

[3]               Terjemahan NIV. Terjemahan LAI kurang menggigit, “Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah.” Di sini kata “exact” tidak terterjemahkan.

[4]               Poythress, V. (19--). God-Centered Biblical Interpretation. Philipsburg: Presbyterian and Reformed Publishing Company. Diambil dari versi web: http://www.frame-poythress.org/Poythress_books/ GCBI/BG00Front.htm. Bab 7.

[5]               Pranoto, J. (2002). Doa yang mengancam. Jejak Tanah: Cerpen Pilihan Kompas 2002. Ed. Nurhan, K. Jakarta: Penerbit Buku Kompas. pp. 48-58

Erwan

Mei 2008

42 tanggapan.

1. Angeline Ng dari Jakarta berkata pada 15 March 2015:

Menurut yang saya mengerti dari artikel "Gaya Bahasa dalam Sastra: Allah Tritunggal Menjawab!", saya tidak menemukan pembahasan tentang Roh Kudus pada bahasa (isi-style), hanya tertulisnya ayat “Yesus . . . penuh dengan Roh Kudus.” (Luk. 4:1). Saya masih kurang mengerti peran Roh Kudus pada isi-style atau bahasa. Apakah Roh Kudus yg memberikan kita pengertian bahwa A adalah A? Roh kudus adalah pribadi, apakah kita bisa mengerti bahwa Dia adalah pribadi?

Terima kasih

2. martua Siringoringo dari Jakarta berkata pada 2 April 2015:

ILLUSTRASI.

YOHANES 4:24, "ALLAH ITU ROH" & YOHANES 6;63b, "Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup"

ROH KUDUS. Dalam Kamus Bahasa Indonesia ROH, artinya: Jiwa. Jadi ROH KUDUS artinya adalah JIWA YANG KUDUS

BAPA, adalah status sebagai BAPA, karena dari BAPA berasal segala sesuatu (yang pertama sekali "firman"), maka jadilah segala sesuatu yang telah di jadikan-Nya (Yohanes 1:3)

ANAK, adalah status sebagai ANAK, Firman yang keluar dari BAPA telah menjadi Manusia (Yohanes 1:14)

PERTANYAAN :

1. Jikalau ALLAH kita adalah ROH, maka BAPA itu siapa? Tentunya, adalah ALLAH atau ROH yang berfirman itu adalah BAPA, karena dimana ada ROH ALLAH disitu ada PEWAHYUAN ALLAH.

CATATAN.

ROH ALLAH.

ROH, artinya : Jiwa, atau Pribadi

ALLAH, artinya: Yang kita sembah.

Jadi ROH ALLAH, artinya ROH YANG KITA SEMBAH (Jiwa atau Pribadi Yang Kita Sembah)

BAPA tanpa ROH, adalah ALLAH yang tidak berpribadi

ANAK tanpa ROH, adalah ANAK yang tidak berpribadi

Jadi BAPA dan ANAK adalah dua Pribadi yang berbeda, sang BAPA adalah ROH yang berfirman dan ANAK adalah Firman Allah yang telah Manusia.

Jadi frase yang disebutkan TUHAN YESUS dalam Injil Matius 28:19, "Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus". Dalam menyampaikan "Perintah-Nya" tersebut kepada murid-murid-Nya, stilnya dengan menyebutkan tiga nama, namun yang sebenarnya adalah dua oknum, yaitu: Bapa dan Anak, sedangkan ROH KUDUS itu adalah yang ada di dalam BAPA dan ANAK, atau yang menyatukan BAPA dan ANAK (baca Injil Yohanes 10:30, AKU dan BAPA adalah SATU).

AMEN.

3. Martua Siringoringo dari Jakarta berkata pada 9 April 2015:

PENJELASAN.

ROH KUDUS itu adalah JIWA-NYA SANG BAPA dan juga JIWA-NYA SANG ANAK, TANPA ROH KUDUS ADA DI DALAM BAPA dan ANAK, MAKA BAPA dan ANAK TIDAK MEMPUNYAI PRIBADI (itulah sebabnya dalam Injil Yohanes 14:9b Tuhan Yesus berkata sbb: "Barangsiapa telah melihat AKU, ia telah melihat BAPA; " Artinya: "ROH KUDUS" itu adalah Jiwa/Pribadi-Nya sang BAPA dan juga Jiwa/Pribadi-Nya sang ANAK). Jadi dapat kita simpulkan bahwa, kehadiran "ROH KUDUS" itu didalam HATI kita adalah merupakan kehadiran BAPA dan ANAK diam bersama-sama dengan kita (baca Injil Yohanes 14:23, yang dicatat sbb: Jawab Yesus: "Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan KAMI akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia." Untuk lebih lengkapnya renungkan Injil Yohanes 14:15-23).

Tuhan Yesus memberkati kita!!!

4. Si Tampu dari Soerabaja berkata pada 9 April 2015:

JAWAB:

Sama seperti cara menjawab dan menafsir Alkitab, kelompok saksi Yehuwa kurang beretika dan tidak melihat kaidah penafsiran. Demi menekankan hanya Bapalah Sang Yehuwa, maka mereka mengeliminasi Allah Anak dan Roh Kudus sebagai Allah. Bahkan menfasirkan Alkitab bagi kelompok mereka dengan melanggar makna dan gramatika tulisan asli Alkitab.

@ Martua Siringoringo dan @ Angeline mengatakan Roh Kudus adl "pribadi" dari Bapa dan Yesus sangat kacau, meski saksi Yehuwa meyakini Roh Kudus adalah "kuasa", meski Alkitab (bahasa asli dan terjemahan LAI) menyatakan bahwa Roh Kudus memiliki ciri kepribadian seperti berduka, memberi karunia menurut kehendakNYa, menginsyafkan dan mengingatkan.

5. Si Tampu dari Soerabaja berkata pada 9 April 2015:

JAWAB:

Sama seperti cara menjawab dan menafsir Alkitab, kelompok saksi Yehuwa kurang beretika dan tidak melihat kaidah penafsiran. Demi menekankan hanya Bapalah Sang Yehuwa, maka mereka mengeliminasi Allah Anak dan Roh Kudus sebagai Allah. Bahkan menfasirkan Alkitab bagi kelompok mereka dengan melanggar makna dan gramatika tulisan asli Alkitab.

@ Martua Siringoringo dan @ Angeline mengatakan Roh Kudus adl "pribadi" dari Bapa dan Yesus sangat kacau, meski saksi Yehuwa meyakini Roh Kudus adalah "kuasa", meski Alkitab (bahasa asli dan terjemahan LAI) menyatakan bahwa Roh Kudus memiliki ciri kepribadian seperti berduka, memberi karunia menurut kehendakNYa, menginsyafkan dan mengingatkan.

6. Martua Siringoringo dari Jakarta berkata pada 9 April 2015:

Bpk Si Tampu, yang saya sampaikan itu adalah Theologi-Nya guru kita "YESUS KRISTUS" Dia adalah Tuhan dan Guru, Theolog yang datang dari Sorga, yaitu sang "Firman Allah" yang telah menjadi Manusia, sedangkan yang anda yakini adalah Theologinya Athanasius.

YESUS KRISTUS itu adalah seorang "SAKSI YEHOVAH", saya bukan seorang saksi Yehovah, dan saya tidak pernah bergaul dengan kelompok saksi Yehovah, dan saya adalah "saksi Kristus", itulah yang di ajarkan oleh Alkitab.

Saya adalah penganut Monotheisme dan kamu penganut Politheisme (meyakini tiga Allah). Mempunyai/meyakini tiga Allah, itu sangat kacau sekali (bentrok). Yang saya tahu bahwa, Allah itu adalah satu, punya Firman dan punya Roh (Roh Kudus). Allah kita itu sangat ajaib, Firman-Nya menjadi Manusia (mengambil rupa manusia), hal itu terjadi agar manusia bisa berbicara dengan Allah Yang Maha Besar dan Dahsyat itu. Bayangkan ketika zamannya nabi Musa di Gunung Horeb, ketika Allah mau memberikan HUKUM TAURAT kepada bangsa Israel, dimana pada saat itu bangsa Israel tidak tahan mendengarkan langsung "SUARA TUHAN", maka bangsa Israel meminta kepada nabi Musa, supaya nabi Musa saja yang berbicara kepada bangsa Israel, karena apabila TUHAN, Allah sendiri yang langsung berbicara kepada bangsa Israel, mereka takut mati. Itulah sebabnya TUHAN menjanjikan kepada bangsa Israel akan mengutus seorang nabi seperti nabi Musa, yaitu YESUS KRISTUS sang FIRMAN (ALLAH) yang telah menjadi Manusia, yang artinya : "ALLAH BLUSUKAN KE DUNIA".

TUHAN YESUS memberkati kita semua. Masih bersambung..........

7. Si Tampu dari Soerabaja berkata pada 10 April 2015:

JAWAB:

@Martua Siringoringo, keyakinanmu Allah itu tunggal, sedangkan keyakinan Yahudi & Kristen sejak semula adl Allah itu Esa (satu) namun jamak. seperti dlm shema Yisrael " TUHAN itu Allah (elohim (jamak)) kita, TUHAN itu esa". Jangan paksakan tafsiran Anda (yg bertentangan scr teologis) dengan tidak mengindahkan tafsiran para rabbi dan bapa2 gereja yg hidup mendekati jaman penulisan kitab2 Alkitab dibanding kita, kita memiliki sumber sejarah sebelum konsili Nicea yg mempertahankan (kejamakan) ketritunggalan Allah. silahkan kunjungi di www.ccel.org

Tunjukkan konsep teologis dari rabbi dan bapa gereja sebelum konsili Nicea yang mendukung pendapat Anda. Tidak ada guna berdebat tafsir, karena anda memiliki tafsiran sendiri dan tidak mengindahkan gramatika bahasa alslinya. Sehingga tafsiran yang akurat dari mereka yang belajar & menyelidiki sungguh-sungguh, dan tunduk pada kebenaran Alkitabpun takkan Anda gubris.

Keyakinan ketunggalan Yehuwa sebagai Allah sudah dipatahkan dalam konsili Nicea oleh SELURUH uskup di dunia, sehingga dirumuskannya dari ayat2 Alkitab sebuah konsep yg dinamakan Tritunggal.

Selamat belajar. Wasalam

8. Martua Siringoringo dari Jakarta berkata pada 10 April 2015:

Dear Bpk Sitampu, belajarlah kepada perkataan Kristus jangan kepada Athanasius, karena Athanasius itu adalah manusia biasa, sedangkan TUHAN YESUS KRISTUS adalah sang "Firman Allah" yang telah menjadi Manusia, jadi apa yang di perkatakan-Nya itu adalah benar (tidak ada yang salah), akan tetapi apa yang diperkatakan Athanasius itu masih kita ragukan kebenarannya, karena pernyataannya tidak mendukung akan seluruh kebenaran yang dinyatakan dalam kitab Kejadian sampai kepada kitab Wahyu.

Dalam kita mencermati kitab Wahyu, kita tidak menemukan disana adanya penjelasan tentang "Allah TRITUNGGAL", akan tetapi yang di jelaskan disana adalah "TAHTA ALLAH" & "TAHTA ANAK DOMBA", yang artinya ada "DUA" oknum yang berkuasa memerintah disana.

Bapak Si Tampu, coba renungkan kitab Wahyu 21:22-27, yang dicatat sebagai berikut, ayat: 22) Dan aku tidak melihat Bait Suci di dalamnya; sebab Allah, Tuhan Yang Mahakuasa, adalah Bait Sucinya, demikian juga Anak Domba itu. 23) Dan kota itu tidak memerlukan matahari dan bulan untuk menyinarinya, sebab kemuliaan Allah meneranginya dan Anak Domba itu adalah lampunya. 24) Dan bangsa-bangsa akan berjalan di dalam cahayanya dan raja-raja di bumi membawa kekayaan mereka kepadanya; 25) dan pintu-pintu gerbangnya tidak akan ditutup pada siang hari, sebab malam tidak akan ada lagi disana; 26) dan kekayaan dan hormat bangsa-bangsa akan dibawa kepadanya. 27) Tetapi tidak akan masuk ke dalamnya sesuatu yang najis, atau orang yang melakukan kekejian atau dusta, tetapi hanya mereka yang namanya tertulis di dalam kitab kehidupan Anak Domba itu.

Kitab Wahyu itu adalah merupakan jurnal atau rekapitulasi dari kitab Kejadian sampai dengan kitab Yudas.

Tuhan Yesus memberkati kita semua.

9. Si Tampu dari Soerabaja berkata pada 10 April 2015:

@Martua Siringoringo, Anda sama sekali tidak menjawab pertanyaan dan pernyataan saya. Seperti yg sy sebutkan, Anda berkilah dg tafsiran Anda dan kelompok Anda sdr tanpa memperhitungkan tafsiran kuno Bapa Gereja sebelum dan sesudah konsili Nicea, dan para sarjana theologia di era sekarang. Selain menggunakan sumber historis dan ilmiah, sisanya hanya debat kusir. Jadi Bpk Martua Siringoringo, belajarlah Sejarah.

10. Martua Siringoringo dari Jakarta berkata pada 10 April 2015:

Bapak Si Tampu, saya meyakini Allah (Elohim) itu jamak, tapi jangan dibatasi hanya sebatas tritunggal saja, karena jika kita melihat penciptaan "ADAM" dia diciptakan hanya satu orang saja, namun oleh karena ALLAH menciptakan manusia itu menurut gambar dan rupa-Nya, maka dari rusuk "ADAM" dibentuklah "HAWA" menjadi teman hidupnya (teman sekerjanya) agar mereka beranakcucu dan bertambah banyak memenuhi bumi. Manusia "ADAM" itu telah menjadi "DUA" yang disebut: "ADAM & HAWA" yang permulaannya kedua-duanya adalah "SATU" dan mereka (kedua-duanya) disebut juga satu. Itulah sebabnya setiap orang yang "BERSUAMI, ISTERI" itu disebut "SATU".

Demikian juga "TUHAN YESUS" menyebut diri-Nya dengan "BAPA" adalah "SATU" (baca Injil Yohanes 10:30). Dan juga sebagaimana yang dijelaskan dalam Injil Yohanes 1:1b-2, yang dicatat sebagai berikut: ayat 1b) Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. ayat 2) Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah. Artinya: Firman Allah itu selalu bersama-sama dengan Allah (yang notabene dalam Injil Yohanes 4:24, bahwa Allah itu Roh), atau Firman dan Allah itu adalah Roh, karena Firman itu adalah Allah, maka dengan demikian Allah itu adalah Roh.

Kita juga dapat melihat bahwa Allah itu jamak, coba dipelajari kitab MAZMUR 82:1-6 dan INJIL YOHANES 10:34. disana dijelaskan bahwa, Allah itu sangat jamak sekali/banyak (tidak dibatasi jumlahnya). Karena apa? Karena memang roh manusia itu berasal dari Allah, maka setiap orang yang dituntun oleh Roh Allah adalah anak-anak Allah atau Rohnya menyatu dengan Roh Allah. Jadi sangat jelas sekali oleh karena Allah itu Roh, maka Allah itu sangat jamak sekali.

11. Martua Siringoringo dari Jakarta berkata pada 11 April 2015:

KEJAMAKAN "ROH KUDUS".

Menurut grammatical Alkitab, sebutan "ROH KUDUS" lah yang dipakai untuk menerangkan kehadiran Allah pada setiap hati orang yang mengasihi-Nya, dimana kehadiran-Nya itu merupakan persekutuan Allah dengan umat-Nya. Sedangkan sebutan "BAPA" itu dipakai menerangkan Allah yang selalu ada di dalam Sorga, dan sebutan "ANAK" digunakan sebagai yang diutus Allah.

"ROH KUDUS ADA PADA HATI SETIAP ORANG YANG MENGASIHI-NYA".

Jikalau Roh Kudus ada pada hati banyak orang. Pertanyaannya seberapa banyakkah Roh Kudus itu sehingga ada pada banyak orang? Tentu saja jumlahnya kita tidak tahu bukan?! Jadi oleh karena Roh Kudus itu boleh ada pada banyak orang berarti Roh Kudus itu jamak sekali. Dan itulah yang membuat kita sangat yakin bahwa Allah (Elohim) itu sangat jamak.

Dalam penciptaan manusia, pertama sekali Allah hanya menciptakan satu orang saja, namun Allah telah menciptakan berlaksa-laksa orang atau berbagai suku bangsa. Pertanyaannya: Darimana datangnya roh mereka? Tentu saja dari Allah yang telah menciptakan umat manusia itu. Rahasia itu sekarang ini hanya Allah yang tahu, oleh karena itu hindari membuat pernyataan bahwa Allah itu Tritunggal dan katakanlah bahwa Allah itu Mahabesar.

GBU.

12. Si Tampu dari Soerabaja berkata pada 12 April 2015:

JAWAB:

@ Martua Siringoringo Sampai disini letak SALAH konsep Anda. 1. Roh Allah dan manusia berbeda, yang satu Pecipta yg satu dicipta. 2. Roh Allah yg pribadi ketiga dari Allah, adl pencipta ruang dan waktu, karenanya Ia maha hadir. Ia dapat hadir dimanapun termasuk hati seluruh manusia yg percaya TANPA membelah diri, jumlahnya tetap SATU. Ia dapat hadir di waktu yg sama & tempat berbeda, ini disebut MAHA HADIR. 3. Roh manusia karena dicipta dalam ruang dan waktu, maka ia dibatasi ruang dan waktu, karena itu manusia TIDAK maha hadir, karena ia dibatasi ruang dan waktu

Allah Tritunggal adl rumusan yang diangkat dari Alkitab bukan imajinasi. Allah memang maha besar, namun Ia telah mewahyukan dirinya untuk dipahami lewat Yesus (Firman Hidup) dan Firman tertulis (Alkitab)

Pernyataan tersebut berasal dr kotbah Bpk Stephen Tong. Dari sini saya bisa lihat Anda hanya komentar tanpa menyimak dan mempelajari bahan2 pembelajaran dan kotbah2 yg berbobot dalam situs ini. Karenanya Anda tdk dapat buktikan sumber pemikiran teolog mana dan hanya berkutatat pada keyakinan Anda yg non alkitabiah. Saran saya BELAJAR Pak!, kita harus tunduk pada kebeneran dg menyelidiki dan merenungkan Firman-Nya, dan belajar dari buku2 yg berasal dari pemikiran orang-orang hebat yang mengabdikan dirinya dalam penyelidikan Firman.

Wasalam

13. Martua Siringoringo dari Jakarta berkata pada 12 April 2015:

Bahan pokok pembelajaran saya adalah ALKITAB (BIBLE) atau Kitab Suci orang KRISTEN. Saya kurang tertarik terhadap tulisan-tulisan atau buku-buku karangan orang, karena ketika saya pelajari, pengajarannya ada yang bertentangan dengan pengajaran ALKITAB, jadi bagi saya cukup dengan mendalami ALKITAB saja.

Terima kasih. Tuhan Yesus memberkati kita semua.

14. Si Tampu dari Soerabaja berkata pada 12 April 2015:

AYO BELAJAR:

@Martua Siringoringo, Anda menyanggah artikel namun tak membacanya, menyuguhkan pemikiran theologi namun tak mengujinya. Pdt Stephen Tong telah memabaca ribuan buku yang bermutu selain Alkitab, bagaimana Anda mengadili pemikiran beliau dg Alkitab saja.

Jika Anda menolak buku selain Alkitab, anda kehilangan mutiara pemikiran dari St Agustinus, yg juga bapak filsafat barat, atau Marthin Luther tokoh Kristen Protestan, akankan pengejaran mereka bertentangan? apakah pemikiran Anda saja yg Alkitabiah?

Anda melempar komentar dan sanggahan (yang tanpa belajar) di tempat kaum pembelajar yang memegang teguh kebenaran dan terus menyelidikinya. Saya kira itu tidak etis.

Jadi ayo perkaya diri Pak Martua Siringoringo dengan kelimpahan pengetahuan, Rasul Paulus sdr tetap membaca perkamen di penjara. Kita gak jauh lebih hebat dari beliau, sehingga tidak ada alasan bagi kita tidak belajar, lalu merasa lebih tahu dari yang lain, terutama mereka yang belajar.

Wasalam

15. Martua Siringoringo dari Jakarta berkata pada 12 April 2015:

Bp. Si Tampu.

Di bawah ini saya kutib artikel dari bp. Stepen Tong dari artikel Doktrin Roh Kudus (Bagian 1) alinea terakhir baris ke-enam sbb:

"Maka sejak tahun 1990, ketika GRII pertama kali membaptis, saya selalu mengatakan,# “Aku membaptis engkau dengan air yang melambangkan Roh Kudus turun atasmu, membawamu bergabung ke dalam GRII, ke tubuh Kristus.” Air dicurahkan dari atas kepala sebagai lambang Roh Kudus yang turun dari atas#. Maka saya percaya bahwa baptis percik lebih sesuai dengan Alkitab karena Roh Kudus dicurahkan dari atas dan kau harus dilahirkan dari atas. Maka, jangan ikut-ikutan atau ditakuti-takuti oleh orang yang mengkritik atau menyerang, “Jikalau engkau tidak dibaptis selam, engkau tidak diselamatkan#.” Prinsip yang Alkitab berikan melampaui tafsiran manusia. Ketika Yohanes membaptis, adakah yang menyaksikannya? Ada banyak. Namun ketika Tuhan Yesus membaptis orang dengan Roh Kudus, adakah yang menyaksikannya? Tidak, karena Dia sudah naik ke sorga. Jadi, apakah bukti seseorang sudah menerima baptisan Roh Kudus? Ia akan menjadi semakin setia kepada Firman, semakin taat dan semakin menjalankan kebenaran firman Tuhan. Kiranya Tuhan memimpin setiap kita untuk hidup semakin dipenuhi oleh Roh Kudus, semakin mengerti Firman, semakin setia di dalam kebenaran Firman, dan hidup seturut kebenaran Firman.

Sebagai catatan yang perlu kita cek cross dengan kebenaran Firman Tuhan, antara lain:

#"Aku membaptis kamu dengan air yang melambangkan Roh Kudus turun atasmu, membawamu bergabung ke dalam GRII, ke tubuh Kristus." Air dicurahkan dari atas kepala sebagai lambang Roh Kudus yang turun dari atas. Maka saya percaya bahwa baptis percik lebih sesuai dengan Alkitab karena Roh Kudus di curahkan dari atas dan kau harus dilahirkan dari atas.#

Komentar.

Pernyataan di atas adalah mengada-ada tidak sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan dalam Alkitab, karena:

Tentang pembaptisan YESUS konteksnya pada waktu itu: "sesudah dibaptis, YESUS segera keluar dari air dan pada waktu itu juga langit terbuka dan Ia melihat Roh Allah seperti burung merpati turun ke atas-Nya, lalu terdengarlah suara dari sorga yang mengatakan: Inilah Anak yang Kukasihi, kepadaNyalah Aku berkenan." Artinya, dalam konteks tersebut air tidak melambangkan Roh Kudus.

Demikian juga tentang baptisan Roh Kudus terhadap murid-murid Tuhan Yesus pada hari Pentakosta, yang terjadi pada saat itu adalah ssb: "semua orang percaya berkumpul disatu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masin. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.

Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri.

Dalam konteks di atas, air juga tidak melambangkan Roh Kudus. Jadi oleh karena itu pernyataan Stepen Tong itu mengada-ada alias tidak sesuai konsep Alkitab.

Dan juga Stepen Tong sepertinya mencuri Kemulian Allah dalam hal pelaksanaan baptisan yang dilakukan oleh Stepen Tong, karena air yang melambangkan Roh Kudus turun atas seseorang yang dibaptis oleh Stepen Tong tersebut , seolah-olah Stepen Tong yang membaptiskan Roh Kudus ke atas seseorang yang dibaptis tersebut.

16. Martua Siringoringo dari Jakarta berkata pada 12 April 2015:

Bp. Si Tampu.

TUHAN YESUS BERKATA sebagaimana yang di catat dalam Injil Yohanes 4:24, sbb: "Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan keberanan."

Penjelasan.

Allah itu Roh

Pernyataan:

1. Bapa adalah Allah 2. Anak adalah Allah 3. Jikalau Bapa dan Anak adalah Allah, maka Bapa dan Anak itu adalah Roh (Roh Kudus). 4. Barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran. Artinya: Karena Allah itu adalah Roh, maka kita harus menyembah-Nya dengan segenap hidup (by Spirit) dan kekuatan kita sesuai dengan kebenaran firman Tuhan, dan menyembah-Nya tidak harus di Jerusalem maupun di gunung Sion, karena Allah yang adalah Roh sifatnya itu, ada dimana-mana (Allah yang omnipresent) yang tidak dibatasi ruang dan waktu, maka Allah itu haruslah kita sembah disetiap waktu (detik) dengan segenap hati dan perbuatan kita dengan tidak memandang tempat (ruang).

Pertanyaannya: benar atau salah?

Thanks & GBU.

17. Si Tampu dari Soerabaja berkata pada 13 April 2015:

JAWAB:

@Martua Siringoringo, saya hanya membahas pemahaman dasar saja, dan saya mengutip pernyataan Anda mengenai doktrin dasar ttg Allah.

"Jikalau Roh Kudus ada pada hati banyak orang. Pertanyaannya seberapa banyakkah Roh Kudus itu sehingga ada pada banyak orang? Tentu saja jumlahnya kita tidak tahu bukan?!"

"Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah. Jikalau Bapa dan Anak adalah Allah, maka Bapa dan Anak itu adalah Roh (Roh Kudus)"

Nah saya sudah jawab diatas pokir (pokok pikiran) Anda. Yang pasti sangat kacau, dan tidak ada pemuka agama Kristen yang pernah menyatakan hal yg sedemikian, pilihannya cuman dua, Anda memiliki terobosan pemikiran theologia atau Anda melenceng dari seharusnya.

saya tidak lagi menjawab, karena Anda tidak mau memperhatikan jawaban saya dan menyelidikinya. Ketida cocokan dengan buku Stephen Tong tidaklah esensial, pernyataan Anda yg saya kutip adlh esential, dan yg pasti Anda pernytaan tersebut tergolong bidah.

Selamat Terus belajar, bukan bertanya tanpa merenungkannya.

18. Martua Siringoringo dari Jakarta berkata pada 13 April 2015:

Yth. Bp Si Tampu.

Di bawah ini adalah kutipan pernyataan bapak Si Tampu pada tanggal 12 April 2015.

@ Martua Siringoringo Sampai disini letak SALAH konsep Anda. 1. Roh Allah dan manusia berbeda, yang satu Pecipta yg satu dicipta. 2. Roh Allah yg pribadi ketiga dari Allah, adl pencipta ruang dan waktu, karenanya Ia maha hadir. Ia dapat hadir dimanapun termasuk hati seluruh manusia yg percaya TANPA membelah diri, jumlahnya tetap SATU. Ia dapat hadir di waktu yg sama & tempat berbeda, ini disebut MAHA HADIR. 3. Roh manusia karena dicipta dalam ruang dan waktu, maka ia dibatasi ruang dan waktu, karena itu manusia TIDAK maha hadir, karena ia dibatasi ruang dan waktu

Komentar tentang pernyataan bp pada:

1. Roh Allah dan manusia berbeda, yang satu Pecipta yg satu dicipta.

Pernyataan bapak tersebut salah total bila di komfirmasi dengan penciptaan ADAM. Tubuh ADAM diciptakan dari Tanah liat, sedangkan nafas ADAM adalah NAFAS ALLAH SENDIRI yang di hembuskan ke dalam tubuh ADAM. Dalam kitab Kejian 2:6-7, dicatat sebagai berikut: 6) Tetapi kabut naik ke atas dari bumi dan membasahi seluruh permukaan bumi itu -- 7) ketika itulah TUHAN, Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikian manusia itu menjadi mahluk yang hidup. Artinya: Nafas hidup itu, adalah Roh Allah, Bandingkan dengan Injil Yohanes 6:63, yang dicatat sebagai berikut: "Rohlah yang memberi hidup, daging sama sekali tidak berguna. Perkataan-perkatan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup."

Jadi oleh karena roh manusia itu adalah berasal dari Roh Allah, maka manusia itupun menjadi segambar dan serupa dengan Allah, karena setiap tindakan dan perbuatan manusia itu menggambarkan karakter Allah, contohnya; TUHAN YESUS YANG PENUH ROH KUDUS ITU adalah sungguh-sungguh menggambarkan KEHADIRAN BAPA DI DALAM DIRINYA. Itulah sebabnya TUHAN YESUS MENGATAKAN : "BARANGSIAPA TELAH MELIHAT AKU, IA TELAH MELIHAT BAPA." Kesimpulannya roh manusia tidak diciptakan, yang dicipta adalah tubuh manusiaa. Dan Firman Tuhan juga mengatakan : "Yang dari tanah kembali ke tanah, yang dari Allah kembali kepada AllaH. Pertanyaannya: Apa yang dari Allah. Jawanya, adalah Roh Allah dan itulah yang kembali kepada Allah. Ada Amen?

Thanks & GBU.

19. Martua Siringoringo dari Jakarta berkata pada 13 April 2015:

Bp. Si Tampu yang dikasihi Tuhan, yang "INTINYA" perlu kita ketahui adalah : "THEOLOGINYA TUHAN YESUS" DIAlah sang THEOLOG yang HANDAL yang tahu persis siapa "ALLAH ITU", karena DIA datang dari ALLAH, oleh karena itu simaklah semua perkataan TUHAN YESUS yang ada dicatat dalam Alkitab, tanpa mengabaikan satupun perkataan yang pernah diucapkan/disampaikan oleh "TUHAN YESUS" kepada murid-murid-Nya maupun kepada dunia.

THEOLOG idola saya adalah TUHAN YESUS KRISTUS, hanya Dialah yang mampu memperkenalkan siapa ALLAH itu dengan jelas.

ALKITAB (BIBLE) atau KITAB SUCI ORANG KRISTEN adalah ALKITAB yang sangat HANDAL, tidak ada bandingannya dengan Kitab manapun di dunia ini. Karena isinya" SEMUANYA ADALAH FIRMAN TUHAN"

PUJI TUHAN, yang mengasihi kita.

20. Si Tampu dari Soerabaja berkata pada 14 April 2015:

@Martua Siringoringo.

Saya kutip pernyataan Anda "ALLAH itu ROH, artinya dan penjelasannya sbb: BAPA adalah ALLAH, dan ANAK adalah ALLAH, jadi apabila BAPA dan ANAK itu adalah ALLAH, maka BAPA dan ANAK itu adalah ROH, karena ALLAH itu ROH"

Dari sini Anda tidak bisa bedakan ROH sebagai "dzat" atau "substansi" Allah dengan Roh Kudus. Anda terjebak dg kata "Roh" pada Roh Kudus sbg pribadi yg ketiga dan menganggapnya sama dg "Roh" yg adl subtansi Allah. (Mohon diperhatikan Pak!). Sehingga seperti dlm komen sebelumnya ANDA menyimpulkan demikian:

"Bapa adalah Allah, Anak adalah Allah. Jikalau Bapa dan Anak adalah Allah, maka Bapa dan Anak itu adalah Roh (Roh Kudus)"

Sekali lagi Pak! TIDAK ada Bapa Gereja manapun yg memiliki pernyataan demikian, apalagi para teolog. Karena konsep itu menentang Alkitab sendiri. Sampai disini JELAS?

Pernyataan Anda sudah tidak cocok pula dg "Syahadat" Konsili Nicea abad ke 4 (konsili=rapat para USKUP seluruh dunia) dan shahadat setelahnya, apalagi Teologi Sistematika manapun.

Dan hebatnya, Anda merasa paling benar daripada para Apostolic father (Murid dari rasul Yesus) USKUP (Bapa Gereja) dan teolog manapun dg hanya membaca Alkitab SAJA, dg Alibi Bapak belajar langsung pada YESUS. Lah mereka yg saya sebtkan apa GAK BACA Alkitab

Jadi mohon belajar ya Pak, please... Ini terakhir kali saya menjawab dan menegur kebodohan Anda.

21. Martua Siringoringo dari Jakarta berkata pada 15 April 2015:

Bp. Si Tampu yang dikasihi Tuhan,

Saya hanya mengangkat "Firman Tuhan" yang dicatat dalam Alkitab saja, saya tidak mengada-ada pak! dan inilah ayat-ayat Alkitab tersebut:

1. Yohanes 4:24, menyebutkan: "Allah itu Roh dan barangsia menyembah Dia, haruslah menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran.." Perkataan ini adalah YESUS SENDIRI YANG MENGATAKANNYA, dan bukan perkataan saya.

Dari perkataan TUHAN YESUS tersebut di atas dapat kita pelajari sebagai berikut, bahwa:

1. Semua orang Kristen tahu dan mengakui, bahwa BAPA, adalah ALLAH

2. Semua orang Kristen tahu dan mengakui, bahwa ANAK, adalah ALLAH

3. Semua orang Kristen tahu dan mengakui bahwa ROH KUDUS, adalah ALLAH

Berarti, BAPA dan ANAK dan ROH KUDUS adalah ALLAH, jikalau BAPA dan ANAK dan ROH KUDUS adalah ALLAH, maka BAPA dan ANAK dan ROH KUDUS itu adalah ROH.

Jika demikian seharusnya DIAGRAMNYA adalah :

1. BAPA adalah ROH

2. ANAK adalah ROH

3. ROH KUDUS adalah ROH

4. BAPA bukan ANAK, karena BAPA itu adalah ROH YANG BERFIRMAN sedangkan ANAK adalah FIRMAN YANG MENJADI MANUSIA. Jadi jelas beda BAPA dengan ANAK, namun BAPA dan ANAK tetap disebut ROH. Renungkan FIRMAN TUHAN sbb: 1) "ALLAH itu ROH (Yohanes 4:24a)}. 2) PERKATAAN-PERKATAAN (FIRMAN) yang Kukatakan kepadamu adalah ROH dan HIDUP ( Yohanes 6:63b)

Jadi FIRMAN TUHAN ini, menurut saya sangat jelas, bahwa: BAPA dan ANAK dan ROH KUDUS adalah ROH.

Dan khusus untuk ROH KUDUS atau ROH saya meyakininya adalah ROH ALLAH, jadi saya tidak bisa membedakannya, karena menurut KAMUS BAHASA INDONESIA, bahwa ROH artinya: "JIWA", jadi ROH KUDUS saya artikan: "JIWA ALLAH YANG KUDUS". Sehingga ROH atau ROH KUDUS itu adalah merupakan Pribadinya BAPA dan ANAK. Dan sebutan BAPA dan ANAK adalah sebagai menyebutkan "STATUS", sedangkan ROH atau ROH KUDUS itu bukanlah "STATUS", akan tetapi ROH itulah yang membuat BAPA dan ANAK itu ber-Pribadi, karena memang ROH atau ROH KUDUS itu ada di dalam BAPA dan ANAK.

Jadi walaupun bapak katakan/sebut saya bodoh, saya tidak akan sakit hati, dan saya tetap akan mempertahankan pendapat saya itu. Sebab begitulah yang ducatat dalam ALKITAB, kecuali jikalau memang terjemahan ALKITAB itu yang salah.

Thanks & GBU.

22. MartuaSiringoringo dari Jakarta berkata pada 1 June 2015:

MANUSIA itu daging, diciptakan dari tanah dan roh (daging dan roh), maka disebutlah dia MANUSIA.

ALLAH itu ROH, ROH, artinya: JIWA (PRIBADI YANG HIDUP/AKTIF). ALLAH itu bukan zat, akan tetapi FIRMAN (LOGOS ALLAH/GAMBAR ALLAH) & ROH (PRIBADI/JIWA) YANG BERFIRMAN.

GBU.

23. Si Tampu dari Soerabaja berkata pada 1 June 2015:

Allah bukan zat (padat, cair, gas) itu betul Pak Martua, tetapi konteks zat atau "dzat" -nya Allah berbeda dg zat materi. Zat (dzat)-nya Allah adl Roh.

Manusia memang berdaging, tetapi bukan sekedar daging.

Roh Kudus adl oknum ketiga dr Allah dan bukannya esensi (zat)-nya Allah, karena zat (esensi) Roh Kudus adl Roh, demikian juga dg Allah Bapa dan Anak.

KEKELIRUAN Anda yg didengungnkan dr awal adl "dzat"-nya Allah Bapa & Anak adl Roh Kudus. Hal itu bertentangan dg Alkitab.

Well.. sy melihat Anda masih tidak mau menundukkan diri dalam pembelajaran atas kebenaran

24. Martua Siringoringo dari Jakarta berkata pada 4 June 2015:

Kita belajar Alkitab harus dari awal (kitab Kejadian). Dalam kitab Kejadian tahapan kejadiannya adalah; Roh Allah dulu yang muncul baru firman Allah. Bukan firman Allah yang lebih dahulu muncul, akan tetapi adalah Roh Allah (baca kitab Kejadian 1:2b (dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air), di ayat 3) Berfirmanlah Allah: "Jadilah terang." Lalu terang itu jadi.

Dari konteks di atas mengajarkan kepada kita, bahwa Roh Allah itu bukan Pribadi yang ke-tiga, akan tetapi Ialah Pribadi yang terutama, karena Roh Allah mempunyai peran yang terlebih dahulu baru kemudian firman Allah.

Pertanyaannya.

Kenapa di dalam Kitab Perjanjian Baru Tuhan Yesus memakai istilah Roh Kudus? Mari kita belajar dari Injil Yohanes 8:42-44, yang dicatat sbb:

ad.42. Kata Yesus kepada mereka: "Jikalau Allah adalah Bapamu, kamu akan mengasihi Aku, sebab Aku keluar dan datang dari Allah (sebab Dia adalah firman Allah yang telah menjadi Manusia/utusan Allah/Anak Allah). Dan Aku datang bukan atas kehendak-Ku sendiri, melainkan Dialah yang mengutus Aku.

ad. 43. Apakah sebabnya kamu tidak mengerti bahasa-Ku? Sebab kamu tidak dapat menangkap firman-Ku.

ad. 44. Iblislah yang menjadi Bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta.

Penjelasan.

Disana ada disebut iblislah bapamu. Jadi sebutan Bapa dan Anak dan Roh Kudus di kitab Injil (PB), adalah untuk membedakan perkataan Tuhan Yesus kepada orang Parisi & Saduki bahwa bapa mereka adalah iblis (pelajari Injil Yohanes 8:44), sedangkan Bapa dan Anak yang harus kita sembah itu adalah Allah yang hidup dan kudus.

Itulah sebabnya Tuhan Yesus mempertegas, bahwa ada bapa yang jahat (Iblis) dan ada Bapa dan Anak yang Kudus, yaitu Allah Bapa dan Anak Allah yang mempunyai Jiwa Yang Kudus.

GBU.

25. Si Tampu dari Soerabaja berkata pada 4 June 2015:

Wahai Martua..

Anda sdr tdk bisa memahami apa itu "dzat" (esensi) Allah.

Anda tidak bisa memahami perbedaan esensi Allah yg adl Roh dg Roh Allah sbg oknum.

Anda melupakan sejarah, warisan pemikiran Bapa Gereja, dan Kalimat syahadat konsili Nicea yang dirumuskan oleh Bapa Gereja seluruh dunia.

Anda dg percaya diri mengatakan bahwa Anda langsung belajar Alkitab dg menolak konsep teologis yg sudah sistematis, itupun Alkitab dlm terjemahan bahasa Indonesia, dan bukan bahasa aslinya.

Anda tidak memahami gaya bahasa & pola gramatika bahasa asli Alkitab, dengan membaca terjemahan Anda merasa mendapat yang sli dibanding para pemikir, teolog, filsuf, bapa gereja dan murid2 para rasul.

Sekarang Anda membuka Kitab Kejadian dan mengatakan Roh Allah ada terlebih dahulu, dengan menolak keyakinan Roh Kudus, bersama dg Bapa dan Anak scr bersama-sama SUDAH ada sblm kisah di Kejadian 1.

Anda sendiri tidak memahami kata "Pada mulanya adl ALLAH.." (Kej 1:1), dimana Pada mulanya adl permulaan dari WAKTU, itupun ditulis "Allah" & bukan "Roh Kudus/ Roh Allah".

Anda tidak memahami bahwa Yoh 1:1, menulis kalimat yg senada "Pada mulanya adl Firman... Firman menjadi manusia", dan Firman ini yang dikenal dg Yesus yg adl Allah Putra.

26. Martua Siringoringo dari Jakarta berkata pada 5 June 2015:

Dear Bp. Sitampu,

Saya kutip pernyataan anda di bawah ini :

"Allah ada terlebih dahulu, dengan menolak keyakinan Roh Kudus, bersama dg Bapa dan Anak scr bersama-sama SUDAH ada sblm kisah di Kejadian 1.

Anda sendiri tidak memahami kata "Pada mulanya adl ALLAH.." (Kej 1:1), dimana Pada mulanya adl permulaan dari WAKTU, itupun ditulis "Allah" & bukan "Roh Kudus/ Roh Allah". "

Sangat rancu pernyataan anda tentang Allah! Yang saya tahu Allah Yang Kita Sembah Itu punya Roh (Jiwa) dan firman (perkataan/perintah/janji) Allah.

Dalam peristiwa Nabi Musa ketika menerima Hukum Taurat, Allah berbicara langsung kepada bangsa Israel, tetapi bangsa Israel berkata: "Tidak mau aku mendengar lagi suara TUHAN, Allahku, dan api yang besar ini tidak mau aku melihatnya lagi, supaya jangan aku mati. Lalu berkatalah TUHAN kepadaku: Apa yang dikatakan mereka itu baik; seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya. Orang yang tidak mendengarkan segala firmanKu yang akan diucapkan nabi itu demi namaKu, dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban." (kitab Ulangan 18:16-19)

Percakapan antara Nabi Musa dengan bangsa Israel, dan percakapan antara nabi Musa dengan Allah di atas, itulah latar belakang akan kehadiran seorang nabi, yaitu: {firman Allah menjadi manusia/Yesus Kristus}.

Dari percakapan di atas dapat kita lihat, bahwa oleh karena begitu besar kemuliaan TUHAN, Allah (full power of God) sehingga bangsa Israel yang kurang percaya itu tidak kuat melihat kemuliaan TUHAN, Allah, maka di utuslah seorang nabi seperti nabi Musa (versi PL) yaitu Tuhan Yesus Kristus/Imanuel, dan menurut versi kitab Injil Yohanes 1:1, 2 dan 14, firman itu telah menjadi Manusia.

Jadi dapat kita bayangkan, bahwa firman (perkataan-perkataan) Allah itu telah menjadi Manusia supaya dapat dilihat manusia dan beradaptasi dengan manusia dan berbicara dari hati ke hati sebagai manusia biasa (bandingkan/pelajari Yesaya 55:10-11)

Selamat belajar, Tuhan Yesus memberkati.

Masih bersambanung...........

27. Si Tampu dari Soerabaja berkata pada 5 June 2015:

Hehehe ,,, silahkan disambung sdr Pak Martua dg opini pribadi Anda. Entah kontekstual atau ilmiah sepertinya Anda tdk peduli...

Anda tidak pernah menjawab apa yg sudah sy utarakan sebelumnya:

1. Formula baptisan "dalam nama (tunggal) (Sang) Bapa (Sang) Putra (Sang) Roh Kudus" menyatkan ketritunggalan dan bukan Ketunggalan.

2. Kata "pada mulanya..." dilajutkan dg kata "Allah" dan bukan "Roh Kudus", sedang Anda meyakini Roh Kudus muncul pertama kali pada Kej 1, dan MEYAKINI Roh Kuduslah yg menjadi Bapa dan Firman, padahal...

3. Kata "pada mulanya..." di Yoh pasal 1 yg senada dg Kejadian pasal 1, disusul dg kata "Firman... Firman yg menjadi manusia". Poin ini menyatakan Firman ada "bersama-sama dg Allah" pada mulanya (sblm waktu), dan setara dg Kejadian 1:1

Yg sulit dalam menjawab pernyataan Anda adl jika di jawab "A" anda jawab "C". itupun tanpa konteks gramtika, sejarah dan prinsip eksegesa yg baik...

Mengenal Allah sejatinya Allah sesuai dg Firman adl tanda keselamatan, tanda percaya, tanda ketaatan dan kelahiran baru mereka yang ditebus dari dosa.Karena "Kasih karunia dan damai sejahtera melimpahi kamu oleh pengenalan akan Allah dan akan Yesus, Tuhan kita. (2Pe 1:2)

Menolak pengenalan yang sejati justru menjauhkan Anda dari kasihkarunia tersebut... Sampai disini Pak Martua

28. Martua Siringoringo dari Jakarta berkata pada 5 June 2015:

Tuhan Yesus adalah sang firman, jadi apa yang Tuhan Yesus terangkan, yang dicatat dalam Yohanes 4:24, Allah itu Roh, itulah yang saya terima, karena Tuhan Yesuslah Juruslamatku, jadi Dialah yang saya percaya, yang tidak mungkin menyesatkan saya kepada kebinasaan. Itulah pengenalan saya akan Allah.

Teologi yang kalian kupas itu adalah teologi pikiran manusia, karena Tuhan Yesus telah katakan bahwa "Allah itu Roh", lantas kalian tolak dengan mengatakan Bapa itu ya Bapa sendiri, firman itu ya firman sendiri, Roh Kudus itu ya sendiri. Menurut pandangan saya tidak demikian, pandangan saya Allah itu Esa (Tunggal) punya Roh (jiwa) dan punya Firman (Ucapan/Perintah/Janji) sama seperti saya sendiri adalah satu (tunggal) punya roh (jiwa) dan perkataan (ucapan). Dan ketika saya menerima Tuhan Yesus masuk di dalam hati saya, Yesus itu adalah dalam wujud Roh dan saya diajar oleh Roh-Nya {dikendalikan oleh Roh-Nya atau firman-Nya} itulah sebabnya ketika kita mau berbuat yang jahat kita diingatkan oleh Roh itu sesuai dengan firman yang telah kita terima: Sebagai contoh "Jangan mencuri".Lalu ketika ada niat kita untuk melakukannya kita di ingatkan oleh Roh itu, firman Tuhan mengajarkan jangan mencuri itu adalah dosa, maka kitapun nyadar bahwa perbuatan itu adalah dosa, sehingga tidak jadi kita lakukan. Itulah wujud pengenalan saya akan TUHAN, Allah kita. Jadi tidak hanya sekedar mengenal Allah itu tiga, tapi tidak mau melakukan perintah-Nya. Itu nama iman orang parisi dan ahli Taurat.

GBU

29. Si Tampu dari Soerabaja berkata pada 6 June 2015:

Pak Martua....

Bagi saya Anda bukan seorang pembelajar yang mau belajar, namun Anda merasa begitu lebih tahu dari yang lain tanpa pembelajaran dan prinsip yang benar.

Mungkin dijawab dulu, jika Anda bisa membantah konsep tritunggal dalam formula Baptisan yang sudah diutarakan diatas dengan eksegesa yang tepat, pandangan Anda patut dipertimbangkan. Jika tidak Anda hanya mengungkapkan bualan yang tidak berdasar disini.

Anda ada menulis konsep kosong Anda di tengah "harta" pengetahuan yang berupa artikel disini yang begitu kaya, murni dan sejati. Mohon jangan ambil langkah bodoh tersebut lagi.

Salam kasih (yang menghajar)

30. Martua Siringoringo dari Jakarta berkata pada 9 June 2015:

Bagi TUHAN yang mau belajar kehendak TUHAN, adalah orang-orang yang mau melakukan FIRMAN TUHAN, bukan orang-orang yang sok tahu akan keberadaan TUHAN. HANYA TUHANLAH YANG TAHU AKAN KEBERADAANNYA. "PERINTAHNYA KEPADA KITA ADALAH UNTUK MEMBERITAKAN KABAR BAIK, MELAKUKAN PERINTAHNYA, SUPAYA KITA HIDUP KUDUS". CARA BELAJAR KALIAN ITU ADALAH CARA BELAJAR ORANG PARISI DAN AHLI TAURAT (merasa pintar sendiri mengupas FIRMAN TUHAN, tapi tidak mau melakukan PERINTAH TUHAN).

GBU, Selamat belajar untuk melakukan FIRMAN TUHAN.

31. Martua Siringoringo dari Jakarta berkata pada 9 June 2015:

Pada komentar 15 saya sudah koreksi, bahwa pernyataan Bp. Stepen Tong itu adalah mengada-ada tidak sesuai dengan "FIRMAN TUHAN". Disana Bp. Stepen Tong mencuri Kemuliaan TUHAN, karena dalam pernyataannya itu ia yang mencurahkan Roh Kudus kepada orang-orang yang ia baptis. Pengajaran ini adalah sesat, alias menyesatkan.

Orang yang mau belajar FIRMAN TUHAN, adalah orang-orang yang mau melakukan PERINTAH TUHAN (Artinya: Mau belajar hidup kududs di hadapan TUHAN), bukan yang menguasai FIRMAN TUHAN, akan tetapi adalah orang-orang yang menuruti FIRMAN TUHAN.

GBU. Selamat belajar untuk melakukan FIRMAN TUHAN!!!

32. Si Tampu dari Soerabaja berkata pada 9 June 2015:

Ya Pak Martua,

Anda seorang "pelaku" Firman, entah apapun itu konsep Firman yang Anda pahami baik atau benar.

Dari orasi dan komen Anda di dua artikel pada situs ini Anda sudah menunjukkan diri sebagai orang yang bertindak untuk tidak merasa "menguasai Firman Tuhan".

Yang apsti Anda menuduh saya dan pendeta yg Anda sebut lebih rendah dari Anda karena Anda adl seorang "pelaku" dan bukan "penguasa" Firman, hanya karena tidak bisa menjawab dg benar.

Wasalam...

33. adhya dari Jakarta berkata pada 9 June 2015:

Pak Martua yang saya kasihi. Misalkan, saya coba belajar dan mengerti konsep Allah seperti apa yang bapak katakan.

ALLAH =ROH (Yoh 4:24). ini basis pemikiran mengenai Allah yang bapak mengerti bukan?

maka: Allah Bapa / Tuhan Yesus / Roh Kudus = Roh. Maka mereka adalah pribadi yang sama dan oknum yang sama? Tidak ada Allah Tritunggal, hanya ada satu Allah.

Jadi setiap kali ada muncul kata Roh Kudus maupun Tuhan Yesus maupun Allah Bapa, selalu mengarah pada pribadi dan oknum yang sama, yaitu Allah.

Benar ya begitu pak?

Ketika Tuhan Yesus di salib, apakah itu adalah Allah Bapa yang sedang disalibkan juga? bagaimana dengan perkataan Tuhan Yesus, seperti Eli, Eli, lema sabachthani?Mat27:46? Apakah Tuhan Yesus ditinggalkan oleh Allah(sering dipakai oleh ajaran bidat bahwa Tuhan Yesus adalah manusia ya pak)? Bagaimana dengan peristiwa Turunnya Roh Kudus? Roh apakah yang diterima oleh para Rasul (apakah maka para rasul menjadi Allah juga ketika dipenuhi dengan Roh kudus)? Bagaimana dengan peristiwa dipanggilnya rasul Paulus (Saulus)? ketika Saulus bertanya siapakah engkau, Tuhan?.. lalu Tuhan menjawab "Akulah Yesus yang kauaniaya itu" (Kis 9:5). Siapakah yang hadir di depan Saulus? Apakah Tuhan Yesus sebagai manusia? Tuhan Yesus yang dipenuhi Roh Kudus? atau Allah Bapa? kenapa Tuhan Yesus tidak sebut saja "Akulah Allah yang kauaniaya (ini yang juga membingungkan, kalau Tuhan Yesus manusia, kenapa dia bisa turun dan hadir di depan Saulus)?".

Dan masih banyak lagi. Banyak hal dan kejadian-kejadian di dalam Alkitab yang saya tidak dapat mengerti kalau Alkitab dibaca dengan pola pikiran yang bapak katakan tadi. Tetapi Alkitab menjadi sangat jelas ketika kita membaca dengan pola pikiran Allah Tritunggal. Karena banyak sekali peristiwa di dalam Alkitab yang melibatkan hubungan antara Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus.

Buat saya, justru sebelum mengeri Allah Tritunggal (biasanya ketika baru menjadi kristen tidak bisa/mau mengerti Allah Tritunggal), dalam membaca alkitab saya suka bingung, tetapi setelah mengerti konsep Allah Tritunggal, segalanya jauh lebih jelas. Ya saya juga tidak menerima Allah Tritunggal dahulu, maka sering sekali saya bertanya di dalam PA, maupun kelas-kelas, tetapi setelah mengerti konsep Allah Tritunggal (walaupun belum mengerti secara keseluruhan), ketika membaca alkitab, segala sesuatunya menjadi berbeda. tidak ada lagi pertanyaan-pertanyaan karena semuanya jelas dengan relasi Allah Tritunggal.

Saya memaklumi bahwa bapak tidak bisa menerima Allah Tritunggal, tetapi bukan berarti bapak sendiri yang paling mengerti tentang Alkitab. karena kami pun juga membaca Alkitab yang sama (saya sendiri suka pakai versi KVJ, MKJV, ESV, NIV, alkitab Indonesia, dan juga yang Strong's, belum sampe level bahasa asli hehe.. ) . Hanya saja Interpretasi dari Alkitab sendiri yang berbeda-beda antara setiap individu, karena itu saya pakai beberapa versi alkitab. Semakin banyak baca Alkitab, kita malah semakin takut akan penafsiran yang salah. karena urusannya panjang dan akan mempengaruhi pengertian di ayat-ayat yang lain. Juga semakin sadar bahwa kita tidak tahu apa-apa tentang Allah.

GBU

34. Martua Siringoringoi dari Jakarta berkata pada 9 June 2015:

Bp. Adhya yang dikasihani Tuhan, saya kutib pertanyaan bapak di bawah ini:

"Ketika Tuhan Yesus di salib, apakah itu adalah Allah Bapa yang sedang disalibkan juga? bagaimana dengan perkataan Tuhan Yesus, seperti Eli, Eli, lema sabachthani?Mat27:46? Apakah Tuhan Yesus ditinggalkan oleh Allah(sering dipakai oleh ajaran bidat bahwa Tuhan Yesus adalah manusia ya pak)? Bagaimana dengan peristiwa Turunnya Roh Kudus? Roh apakah yang diterima oleh para Rasul (apakah maka para rasul menjadi Allah juga ketika dipenuhi dengan Roh kudus)? Bagaimana dengan peristiwa dipanggilnya rasul Paulus (Saulus)? ketika Saulus bertanya siapakah engkau, Tuhan?.. lalu Tuhan menjawab "Akulah Yesus yang kauaniaya itu" (Kis 9:5). Siapakah yang hadir di depan Saulus? Apakah Tuhan Yesus sebagai manusia? Tuhan Yesus yang dipenuhi Roh Kudus? atau Allah Bapa? kenapa Tuhan Yesus tidak sebut saja "Akulah Allah yang kauaniaya (ini yang juga membingungkan, kalau Tuhan Yesus manusia, kenapa dia bisa turun dan hadir di depan Saulus)?". "

KITA HARUS MENGIMANI:

1. Kita harus percaya bahwa TUHAN YESUS KRISTUS, adalah yang di utus ALLAH.

2. TUHAN YESUS KRITUS, adalah FIRMAN (ALLAH) YANG TELAH MENJADI MANUSIA (sebagai ALLAH, kapasitas-Nya adalah Firman Allah dan sebagai TELADAN, kapasitas-Nya, adalah sebagai manusia ).

3. TUHAN YESUS KRISTUS, adalah sebagai INKARNASI ALLAH (KETIKA KITA MELIHAT YESUS KITA TELAH MELIHAT BAPA).

4. KITA harus percaya, bahwa ALLAH KITA ITU AJAIB, MAHA KUASA, MAHA BESAR, AGUNG, MULIA dan ALLAH YANG DAHSYAT. ARTINYA: TIDAK ADA YANG MUSTAHIL BAGI ALLAH.

5. TUHAN YESUS KRISTUS mendeklarasikan diri-Nya sebagai: 1. Anak Allah, 2. Gembala Yang Baik,.3. Roti Yang Turun dari Sorga, 4. Air Hidup, 5. Sahabat, 6. Anak Manusia, 7. Yang di utus Bapa, 8. Jalan, dan Kebenaran, dan Hidup

KOMENTAR dan JAWABAN.

1. YESUS KRISTUS YANG DISALIB ITU, adalah FIRMAN ALLAH YANG TELAH MENJADI MANUSIA {KAPASITAS SEBAGAI ALLAH (FIRMAN) DAN JURUSLAMAT, KAPASITAS SEBAGAI MANUSIA (TELADAN), DAN SEBAGAI KORBAN PENEBUS DOSA.

2. PERKATAAN TUHAN YESUS di KAYU SALIB, dengan mengucapkan: Eli, Eli, lema sabachthani!!! Yang artinya: AllahKU, AllahKu, kenapa kau tinggalkan Aku. Dari perkataan-Nya itu YESUS KRISTUS, adalah sebagai MANUSIA TELADAN. Maksudnya: Kita juga yang betul-betul mengikuti jalan KRISTUS, akan mengalami seperti yang di alami KRISTUS, yaitu apabila kita mengalami cobaan penganyaan, kita merasa seakan-akan di tinggalkan Tuhan (tidak di jagai Tuhan). Sehingga dengan kita melihat kebangkitan-Nya pada hari ke-tiga, maka orang-orang percaya tidak perlu takut apabila mengalami peristiwa penganyaan tersebut.

3. Turunnya Roh Kudus kepada para Rasul (apakah para rasul menjadi Allah juga ketika di penuhi Roh Kudus?) Jawab saya: Para rasul itu menjadi anak-anak Allah (allah) bandingkan Mazmur 82:6 dan Yohanes 10:34, karena para rasul itu telah di tuntun oleh Roh Allah.

4. Peristiwa Saulus di panggil Tuhan Yesus ketika mengejar-ngejar orang percaya (pengikut Yesus). Siapakah yang hadir di depan Saulus? Jelas Ialah, Tuhan Yesus dalam wujud cahaya dan suara yang memanggil saulus. Untuk apa pertanyaan ini?. Anda harus belajar "Hikmah Allah". Sudah jelas YESUS KRISTUS, yang adalah FIRMAN ALLAH YANG TELAH MENJADI MANUSIA (FIRMAN ITU ADALAH ALLAH). Kenapa harus ditanya seperti itu, masih ragukah saudara, bahwa YESUS KRISTUS ITU ADALAH FIRMAN ALLAH YANG TELAH MENJADI MANUSIA, DAN TELAH MENAKLUKKAN DOSA? HANYA ALLAH YANG DAPAT MENGALAHKAN DOSA.

Yang perlu kita perhatikan, YESUS KRISTUS adalah UTUSAN ALLAH (FIRMAN ALLAH). GBU.

35. samson dari pekanbaru berkata pada 20 June 2015:

Bgs sekali tanggapan anda berdua ini Pak Sitampu dan Pak Martua. Anda berdua berbeda dlm hal brp jumlah Tuhan itu?. Pak Sitampu (PT) menyatakan Tuhan itu esa dlm kejamakan 'Tritunggal' dan bukan tripitaka atau trimurti atau trikora dan trisakti, smntra Pak Martua (PM) menyatakan Tuhan itu satu dgn dua pribadi dgn 'menghilangkan Roh Kudus' dari konsep pertama. Yg satu bersandar dr pemikiran Bapa2 gereja yg sudah diakui keabsahannya, yg lain mengaku memiliki referensi dari Yesus Kristus itu sendiri. Konsep saya sendiri yg saya rasa jauh lbh penting utk kita perhatikan pertama2 adalah mengenai apa itu "Kerajaan Allah".

36. samson dari pekanbaru berkata pada 20 June 2015:

Mengenai @Pak Martua yg sy pahami sejauh ini sy binggung dgn pemahaman anda sebenarnya. Anda menolak Trinitas, tetapi percaya penebusan yg dilakukan Yesus. menyatakan bhwa Yesus adlh utusan Tuhan, nabi, Firman Allah, manusia, Allah yg menjelma menjadi manusia dgn diisi Roh Tuhan, guru, teladan dll. Tetapi anda menolak Trinitas dan anda jg bukan Saksi Yehovah. Jadi rumusan kepercayaan anda seperti apa? Tolong dijelaskan dlm paragraf yg sesingkat dan sejelas mungkin ya.. dlm point2 berikut ini: 1. Apa itu dosa warisan dan apa tujuannya? 2. Anda mengaku monotheisme, apa hubungan Bapa, Anak, dan Roh Kudus yg anda pahami dlm Alkitab? 3. Yesus sbg Juruselamat dan penebus dosa manusia, mengenai ini bgm pemahaman yg anda yakini? 4. Apa yg anda pahami mengenai Kerajaan Allah? 5. Apakah anda muslim atau terpengaruh olehnya dlm pemahaman anda mengenai Kekristenan? ... . Itu saja Pak Martua, krn sy terkesan dgn pengertian2 anda yg saya rasa anda rasa anda gali dari Alkitab.

37. Martua Siringoringo dari Jakarta berkata pada 26 June 2015:

Bp. Samson, yang dikasihi TUHAN,

Jawaban saya singkat saja mengenai iman saya (monotheisme), yaitu mengakui hanya ada satu Allah saja. sedangkan sebutan Allah Bapa dan Anak dan Roh Kudus yang ada di dalam Alkitab, saya akan jelaskan sebagai berikut:

1. Terlebih dahulu yang kita bahas adalah mengenai sebutan "ANAK".

Injil Yohanes menjelaskan, bahwa sebutan ANAK ini muncul di Yohanes 1:14 (Firman itu telah menjadi manusia, dan diam diantara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya SEBAGAI ANAK TUNGGAL BAPA, penuh kasih karunia dan kebenaran.

Frase diatas kita bandingkan dengan Injil Yohanes1:1dan 2 (1* Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. 2* Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah) dan di ayat 14 disebutkan: "Firman itu telah menjadi manusia,"--- kemulian-Nya sebagai "ANAK TUNGGAL BAPA", artinya: "Firman Allah itu diperanakkan sebagai ANAK TUNGGAL BAPA (kita dapat bayangkan, bahwa perkataan-perkataan yang keluar dari mulut ALLAH itu telah menjadi manusia dan diberi status sebagai ANAK TUNGGAL BAPA). Maksud ALLAH disini, adalah untuk menggenapi janji ALLAH dalam kitab Ulangan 18:15-19. Jadi seorang nabi yang akan diutus itu, realitanya, adalah "FIRMAN ALLAH YANG TELAH MENJADI MANUSIA". Dan yang perlu kita ketahui. adalah, bahwa ROHNYA BAPA adalah sama dengan ROHNYA ANAK (JIWANYA SANG BAPA SAMA DENGAN JIWANYA SANG ANAK), itulah sebabnya TUHAN YESUS berkata dalam Injil Yohanes 14:7 yang dicatat sebagai berikut: " Sekiranya kamu mengenal Aku, pasti kamu juga mengenal Bapa-Ku. Sekarang ini kamu mengenal Dia dan kamu telah melihat Dia." dan di ayat 9 dan 10 Tuhan Yesus lebih mempertegas lagi. Kata Yesus kepadanya: Telah sekian lama Aku bersama-sama kamu, Filifus, namun engkau tidak mengenal Aku? Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami. Tidak percayakah engkau, bahwa Aku di dalam Bapa dan Bapa di dalam Aku? Apa yang Aku katakan kepadamu, tidak Aku katakan dari diri-Ku sendiri, tetapi Bapa yang diam di dalam Aku, Dialah yang melakukan pekerjaan-Nya.

Yang saya tangkap dari perkataan Tuhan Yesus di atas dibandingkan dengan Lukas 4:18 dan 19, yang dicatat sebagai berikut: "Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang." Frase di atas adalah menerangkan bahwa, ROH (JIWA) NYA SANG BAPA SAMA DENGAN ROH (JIWA) NYA SANG ANAK.

Kesimpulan.

Anak, adalah Firman (Perkataan-perkataan) Allah yang telah menjadi (mengambil rupa) manusia dan Roh (Jiwa) Nya sang Anak sama dengan Roh (Jiwa) Nya sang Bapa

Itulah yang saya tahu dan fahami hubungan Bapa, Anak dan Roh Kudus.

Masih bersambung........

GBU.

38. samson dari pekanbaru berkata pada 26 June 2015:

Syalom Pak Martua..

Terimakasih atas jawabannya yg masih bersambung tsb. Terus terang saya seminggu ini sangat menunggu2 jawaban Pak Martua. Saya menunggu sambungan jawabannya, saya sangat berharap 5 pertanyaan saya dapat dijawab tuntas dl sebelum saya memberikan komentar.

Syaloom....

39. Martua Siringoringo dari Jakarta berkata pada 5 July 2015:

2. FIRMAN ALLAH YANG TELAH MENJADI MANUSIA, DIPERANAKKAN, Status sebagai ANAK ALLAH, yaitu TUHAN YESUS KRISTUS.

ALLAH kita adalah, ALLAH YANG AJAIB, FIRMANNYA (ALLAH) TELAH MENJADI MANUSIA, sehingga disebutlah IMMANUEL, ALLAH BESERTA KITA.

"NUBUATAN" Nabi Yesaya (kitab Yesaya 55:11), yang dicatat sebagai berikut:

" demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya."

Nubuatan Nabi Yesaya tersebut di atas, telah terjadi ketika TUHAN YESUS KRISTUS diutus kedunia untuk melakukan missi keselamatan bagi umat manusia, sebagai mana yang di catat dalam kitab Yesaya 55:10, (" Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan,").

Tugas tersebutlah yang dilakukan oleh TUHAN YESUS KRISTUS sebagaimana yang di perintahkan oleh BAPANYA.

Sejak manusia jatuh ke dalam dosa oleh karena pelanggaran yang dilakukannya (ADAM & HAWA). Lalu firman-Nya kepada manusia itu: "Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu."

Sejak itulah tanah menjadi tandus, sebab telah di kutuk oleh ALLAH. Demikian juga dengan hati setiap orang telah menjadi tandus, karena secara rohani, hubungan ALLAH dengan MANUSIA telah terputus.

Namun oleh karena Janji ALLAH kepada ABRAHAM ("---- dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat."). Maka ALLAH hendak mengikat perjanjian abadi dengan keturunan ABRAHAM, menurut kasih setia yang teguh yang ALLAH janjikan kepada Daud.

Menurut versi Injil Yohanes: FIRMAN ITU TELAH MENJADI MANUSIA DAN DIAM DI ANTARA KITA, DAN KITA TELAH MELIHAT KEMULIAANNYA, YAITU KEMULIAAN YANG DIBERIKAN KEPADANYA SEBAGAI ANAK TUNGGAL BAPA, PENUH KASIH KARUNIA DAN KEBENARAN.

Masih bersambung .......................

GBU.

40. nice dari kupang berkata pada 22 October 2015:

Syalom, puji Tuhan. Ini artikel yang sangat bagus juga langka. Saya suka pembahasan-pembahasan semacam ini. Tentang persoalan sastra dalam Alkitab. Apalagi yang membahasnya adalah dari sudut pandang Reformed. Terima kasih, Tuhan berkati.

41. Martua Siringo-ringo dari Jakarta berkata pada 13 June 2016:

Sambungan .................

Nubuatan nabi Yesaya dalam Kitab Yesaya 55:10 & 11.

Ayat 10. Sebab seperti hujan dan salju turun dari langit dan tidak kembali ke situ, melainkan mengairi bumi, membuatnya subur dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, memberikan benih kepada penabur dan roti kepada orang yang mau makan, ayat 11. demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku; ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.

Penjelasan:

Ayat 10. Yesus Kristus di ibaratkan sebagai hujan dan salju yang turun dari langit untuk mengairi bumi, supaya tanah tersebut menjadi subur dan agar menumbuhkan tumbuh-tumbuhan, artinya: supaya di dalam tanah tersebut ada kehidupan, dan apabila tanah tersebut di tanami benih, maka benih tersebut akan tumbuh dengan subur pada tanah tersebut (berakar, bertumbuh dan berbuah).

Manusia diciptakan Allah dari debu tanah. Jadi hujan dan salju yang turun dari langit untuk mengairi bumi itu, maksudnya, adalah untuk membasahi debu tanah (manusia) yang sudah kering itu karena telah dikutuk oleh Allah, agar menjadi ada kehidupan (Roh Allah) di dalam debu tanah (manusia) itu, sehingga manusia itu hidup kembali (bandingkan dengan Yehezkiel 37:1-14).

memberikan benih kepada penabur ----, artinya: setelah debu tanah (manusia) itu menjadi hidup kembali (ada Roh Allah di dalamnya), maka manusia itu diberi tugas oleh Tuhan Yesus Kristus untuk menaburkan benih (memberitakan Injil) kepada debu tanah (manusia yang belum bertobat).

---- dan roti kepada yang mau makan, maksudnya: firman Tuhan adalah roti bagi orang yang sudah bertobat, roti (firman Allah) menjadi makanan pokok bagi orang yang sudah bertobat, karena firman Allah memberikan hidup yang kekal bagi orang yang mau memakannya.

ayat 11. demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku:

ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.

Maksudnya: Firman Tuhan yang telah menjadi manusia itu, yaitu YESUS KRISTUS telah berhasil melaksanakan kehendak Bapa-Nya, dengan menyatakan nama Bapa-Nya kepada semua orang, dan menyampaikan segala firman yang Bapa-Nya sampaikan kepada-Nya telah Ia sampaikan kepada murid-murid-Nya dan telah mereka terima. Dan mereka tahu benar-benar, bahwa Yesus datang dari Bapa-Nya, dan mereka percaya, bahwa Yesus di utus oleh Bapa-Nya dan juga kita menjadi orang-orang percaya dan sampai kepada orang yang jauh kedepan akan menjadi percaya dan diselamatkan, yaitu orang-orang yang mau menerima firman yang kita sampaikan.

Setelah TUHAN YESUS berhasil melaksanakan tugasnya, maka kembalilah (terangkatlah) Dia ke sorga kepada Bapa-Nya (pelajari Kisah Para Rasul 1:9).

Hasil pekerjaan-Nya adalah, TUHAN YESUS telah berhasil menjadikan murid-Nya menjadi

42. Martua Siringo-ringo dari Jakarta berkata pada 30 October 2016:

Sambungan Penjelasan Tanggapan 41.

Kitab Yesaya 55:10-11. Kitab inilah dasar penjelasan yang di sajikan oleh Rasul Yohanes pada Injil Yohanes. Pada Injil Yohanes 1 intinya menceritakan tentang firman Allah telah menjadi manusia (mengambil rupa manusia), firman Allah yang telah menjadi manusia ini di jelaskan oleh Rasul Yohanes sebagai Anak Allah, dan kemuliaan yang diberikan kepada-Nya adalah sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran.

Yesus, firman Allah yang telah menjadi manusia, dan diam diantara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, yaitu kemuliaan yang diberikan kepada-Nya sebagai Anak Tunggal Bapa, penuh kasih karunia dan kebenaran, artinya : Firman Allah telah menjadi manusia (mengambil rupa manusia) yang kehadiran-Nya di dunia ini kemuliaan-Nya disetarakan dengan manusia sempurna dan hanya Yesuslah yang di utus oleh Bapa-Nya untuk menyelamatkan umat manusia dari dosanya, yaitu melalui kasih Allah dan firman-Nya, yaitu melalui pengampunan (anjuran pertobatan) dan pengajaran yang dilakukan oleh Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya dan orang banyak.

Melalui karya keselamatan yang dilakukan oleh Tuhan Yesus, Rasul Yohanes telah melihat dan memastikan bahwa, Yesus adalah yang dimaksudkan dalam nubuatan nabi Yesaya di yang catat di kitab Yesaya 55:10-11, sehingga Rasul Yohanes menuliskan kisah Kristus di dalam Injil Yohanes.

Gbu. Masih bersambung .............

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pimpinan dan penyertaan Tuhan sehingga izin pendirian dan pelaksanaan Calvin Institute of Technology telah diberikan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi pada tanggal 18 Oktober 2018.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Akhirnya, kita harus sadar, semakin kita mencoba untuk menarik semuanya untuk diri kita, maka kita akan semakin...

Selengkapnya...

SHALOM, PAK TONG TERIMA KASIH SEKALI, SAYA SANGAT DIBERKATI SEKALI DENGAN PENGAJARANPAK TONG INI, KAPAN YA PAK TONG...

Selengkapnya...

Kisah yang membaharui pikiran saya. Perbandingan dua orang ini dan karakternya menyadarkan untuk lebih tunduk pada...

Selengkapnya...

Puji Tuhan, harapan saya terkabul, bisa mendengar secara langsung khotbah pendeta Dr. Sthepen Tong dan foto bersama...

Selengkapnya...

Mohon penjelasannya terkait "Etika hidup kita ditentukan oleh kebenaran Allah, bukan oleh diri kita...

Selengkapnya...

© 2010, 2018 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲