Artikel

God's Decree of Election, God's People, and Our Identity

Sebagai pemuda Kristen di zaman ini, kita memiliki tantangan untuk memelihara kemurnian identitas kita sebagai umat Allah. Banyak orang yang hidup di zaman ini dibiasakan untuk berpikir bahwa identitas diri kita ditentukan oleh diri kita sendiri. Kita didorong untuk memilih jalan yang menurut kita paling tepat. Bahkan di dalam usia yang masih belum dewasa pun, seorang anak diberikan kebebasan untuk memilih atau mengejar impian mereka. Hal ini sangatlah kontras dengan beberapa masa yang lalu, ketika peranan orang dewasa atau senior dianggap penting dalam memberikan bimbingan dalam memutuskan identitas diri. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jikalau pada saat ini kita hidup di tengah keragaman komunitas, karena mereka diberikan ruang untuk secara bebas menentukan identitas dirinya, lalu mengekspresikannya. Mereka menganggap diri berhak menentukan arah hidup dan bagaimana mereka ingin mengisi kehidupannya. Segala bentuk otoritas akan dianggap sebagai sebuah ancaman bagi diri. Inilah semangat dari anti-otoritas yang kita dapat rasakan terjadi dengan sangat kental pada zaman ini.

Sebagai pemuda Kristen, kita tidak bisa menutup mata, telinga, dan mulut kita terhadap hal ini. Karena semangat ini bukan hanya terjadi di luar gereja tetapi sudah terjadi juga di dalam gereja, khususnya di kalangan anak muda. Banyak pemuda di dalam gereja yang setiap minggu beribadah bahkan aktif ikut pelayanan, tetapi mereka tidak tahu akan identitasnya. Kalaupun tahu, mereka sering kali mengabaikan identitasnya sebagai umat Allah.

Kita bisa mendengar ratusan khotbah yang menyatakan bahwa diri kita ini adalah milik Allah dan kita pun mengamini hal ini. Namun, pada realitasnya kita menyangkali fakta ini. Kita tidak rela kalau seluruh hidup ini benar-benar harus takluk kepada pimpinan Allah. Kita tidak rela hidup ini diarahkan berdasarkan kehendak Allah; yang kita ingini adalah dengan bebas menentukan ke mana kita akan mengarahkan hidup ini. Inilah kebahayaan pertama yang terjadi pada zaman ini.
Kebahayaan yang kedua adalah orang-orang yang menyadari akan identitasnya sebagai umat Allah, tetapi hanya secara superfisial atau kelihatan di luarnya saja. Kita bisa saja mengamini pernyataan bahwa kita adalah milik Allah. Bahkan, kita bisa dengan rela dan senang hati melayani atau mengerjakan berbagai aktivitas kerohanian. Namun, semua itu dilakukan hanya secara permukaan saja, sedangkan hati kita tetap memiliki ilah lain yang disembah. Kebahayaan yang kedua ini lebih berbahaya dibanding yang pertama, karena orang-orang seperti ini sulit sekali untuk teridentifikasi. Secara permukaan atau kelihatannya, mereka begitu rajin bahkan terlihat begitu rohani, tetapi pada kenyataannya hati mereka masih melacur kepada hal-hal lain yang ada di dalam dunia. Jikalau orang secara terang-terangan menolak untuk tunduk kepada Allah, setidaknya dia masih dengan jujur menyatakan sikapnya. Maka orang-orang yang munafik jauh lebih berbahaya. Mereka bagaikan bejana yang terlihat begitu bagus secara penampakan luar, tetapi dalamnya penuh dengan kotoran dan tulang belulang yang harus dibereskan.

Hal ini terjadi pada bangsa Israel di masa lalu. Allah menjadikan mereka sebagai umat pilihan Allah, tetapi mereka gagal untuk memahami status ini dengan benar. Mereka berpikir bahwa pemilihan Allah ini didasarkan karena mereka spesial, sehingga lama-kelamaan mereka tidak bisa menghargai anugerah ini. Mereka menjadi bangsa yang angkuh dan menyalahgunakan anugerah Tuhan. Bahkan di dalam konteks Perjanjian Baru, kita bisa melihat kemunafikan yang terjadi di dalam kalangan bangsa Yahudi. Mereka memamerkan keagamaannya di muka umum, tetapi di dalam hati mereka begitu penuh dengan dosa.

Menghadapi dua konteks kebahayaan ini, kita perlu kembali memikirkan artinya identitas kita sebagai orang Kristen atau umat Allah. Di dalam artikel sebelumnya, sudah dipaparkan secara sepintas mengenai konsep covenant theology. Pengertian ini menyadarkan kita bahwa sebagai umat Allah, kita terikat di dalam ikatan perjanjian dengan Allah. Di dalam ikatan perjanjian ini, kita wajib mengikuti setiap aturan yang Allah berikan kepada kita. Oleh karena itu, identitas dan arah hidup ini tidak bisa dihidupi berdasarkan keinginan diri tetapi harus mengikuti pimpinan Tuhan. Bukan hanya itu, kita pun harus melihat bahwa ikatan perjanjian dengan Allah ini terus berlangsung secara berkesinambungan bahkan hingga saat ini. Artinya, kita sebagai orang-orang yang telah menerima penebusan Kristus, kita adalah orang-orang yang hidup di dalam ikatan perjanjian yang baru dengan Allah, kita harus hidup berdasarkan pimpinan Allah di dalam aturan yang Dia berikan.

Pada artikel ini, kita akan melihat bahwa penetap perjanjian ini bukanlah sebuah tindakan yang bersifat reaktif atau secara tiba-tiba terjadi. Namun, hal ini sudah terjadi sebelum penciptaan. Allah sudah merencanakan semuanya ini sebelum dunia diciptakan. Di dalam konteks theologi, ini dikenal sebagai God’s decrees, dan khususnya kita akan membahas mengenai God’s decree of election.

God’s Decree
God from all eternity, did, by most wise and holy counsel of His own will, freely, and unchangeably ordain whatsoever comes to pass: yet so, as thereby neither is God the author of sin, nor is violence offered to the will of the will of the creatures, nor is the liberty or contingency of second causes taken away, but rather established. (Westminster Confession of Faith 3.1)

God’s decree atau ketetapan Allah merupakan salah satu pernyataan attribute dari Lordship of God yang menyatakan control Allah atas alam semesta ini. Hal ini berarti, apa pun yang Allah kehendaki dan rencanakan haruslah digenapi di dalam alam semesta ini. Selain menyatakan control Allah atas alam semesta ini, God’s decree juga menyatakan otoritas Allah. Ketetapan Allah ini merupakan pemikiran atau perencanaan yang bermakna dan bijaksana. Hal inilah yang menjadi dasar dari interpretasi atas dunia ini, menjadi penentu akan makna dan signifikansi dari segala sesuatu yang Tuhan ciptakan di dunia ini. Interpretasi Allah adalah otoritas yang tertinggi dari segala interpretasi, makna, dan signifikansi dari segala sesuatu di dalam dunia ciptaan ini. Hal ini serupa dengan yang dikatakan oleh Cornelius Van Til, bahwa interpretasi dari fakta mendahului fakta. Berdasarkan hal ini, segala usaha manusia dalam menginterpretasi bukanlah suatu usaha untuk menilai atau mempertimbangkan fakta yang belum diinterpretasi. Melainkan, interpretasi manusia adalah interpretasi dari interpretasi Allah. God’s decree juga menyatakan covenantal presence dari Allah, karena ketika Allah merencanakan di pikiran-Nya, Ia sedang mempersiapkan sebuah relasi personal dengan ciptaan-ciptaan-Nya. Ini berarti Allah mengenal kita bahkan sebelum kita ada, dan Ia yang mempersiapkan dan menentukan arah dan identitas hidup kita (Yer. 1:5; Ef. 1:4).

Berdasarkan konsep ini, kita dapat dengan jelas melihat standpoint dari kekristenan, khususnya Reformed, yang sangat berbeda dengan dunia ini. Pemikiran zaman modern mengatakan bahwa arah dan identitas hidup kita ditentukan oleh yang mayoritas. Pemikiran zaman postmodern mengatakan bahwa arah dan identitas hidup kita ditentukan oleh kata hati masing-masing pribadi. Namun, Alkitab menyatakan bahwa arah dan identitas hidup kita ditentukan oleh Allah yang merencanakan segala sesuatunya sebelum semua itu ada.

Dari perbandingan ini kita dapat melihat betapa agungnya pemikiran yang dinyatakan Alkitab. Kita disadarkan bahwa arah dan identitas hidup kita tidak mungkin ditetapkan oleh manusia lain atau bahkan diri sendiri yang sudah dicemari oleh dosa, tetapi hidup ini harus diserahkan kepada Sang Pencipta yang mengetahui bahkan merancang hidup manusia, khususnya umat pilihan-Nya.

God’s Decree of Election
“Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau, dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau, Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.” (Yer. 1:5)
“Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.” (Ef. 1:4)

Kedua ayat ini menjadi dasar di dalam kita mengerti konsep pemilihan Allah. Ia memilih kita bukan hanya di dalam konteks untuk diselamatkan saja, tetapi Allah pun menetapkan sekelompok orang untuk menjalankan tugas tertentu, seperti yang dituliskan dalam Yeremia 1:5. Misalnya, Yesus memanggil murid-murid-Nya dan dua belas di antaranya dipilih-Nya menjadi rasul. Namun, kita harus mengerti bahwa tidak semua orang yang dipilih Allah untuk menjalankan suatu tugas khusus dipilih juga untuk menerima anugerah keselamatan.

Jawab Yesus kepada mereka: “Bukankah Aku sendiri yang telah memilih kamu yang dua belas ini? Namun seorang di antaramu adalah Iblis.” (Yoh. 6:70)
Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorang pun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci. (Yoh. 17:12)

Misalnya saja beberapa kisah tokoh Alkitab seperti Yudas dan Saul. Yudas dipanggil menjadi murid oleh Yesus Kristus sendiri, bahkan di sepanjang perjalanannya ia turut berbagian di dalam pelayanan dan karya-karya besar yang mereka lakukan. Namun, pada akhir hidupnya, Yudas menjadi murid yang dipakai Iblis, berkhianat kepada Gurunya, bahkan ia tidak pernah bertobat sampai akhir hidupnya. Begitu juga dengan kehidupan Saul, Allah yang memilih Saul untuk menjadi raja (1Sam. 9:17) dan nabi (1Sam. 10:5-11), tetapi Saul memberontak kepada Allah dan mengakhiri hidupnya secara tidak terhormat. Alkitab tidak mencatat bahwa Saul mati di dalam persekutuan dengan Allah.

Begitu juga dengan bangsa Israel, Allah memilih bangsa ini untuk memuliakan nama-Nya dan menjadi berkat bagi banyak bangsa (Kej. 12:3). Israel adalah bangsa yang Allah pakai menjadi bangsa yang melalui mereka akan muncul Sang Penebus. Melalui bangsa Israel, Allah menyampaikan berita keselamatan yang disebarkan kepada seluruh bangsa di dunia. Tetapi, di sepanjang Perjanjian Lama, kita melihat bangsa ini dikatakan sebagai bangsa yang tegar tengkuk. Mereka menyembah berhala, menindas orang-orang yang seharusnya ditolong, dan menyatakan pemberontakan kepada hukum-hukum Allah. Maka, melalui nabi-nabi-Nya Allah menegur dan menyatakan penghakiman-Nya untuk menghancurkan bangsa ini, tetapi Ia juga menyatakan janji akan anugerah dan pengampunan-Nya.

Tema mengenai penghakiman dan anugerah menjadi tema yang terus-menerus mewarnai perjalanan hidup bangsa Israel beriringan relasi yang jatuh bangun antara bangsa ini dan Allah. Semua ini terus berlangsung hingga mencapai titik puncaknya di dalam kehadiran Sang Juruselamat sebagai Israel yang terpilih dan paling ultimat, yaitu Kristus. Melalui diri-Nyalah pengampunan Allah dinyatakan secara total karena Dialah yang menanggung penghukuman Allah. Hanya orang-orang yang beriman kepada Sang Juruselamat inilah yang merupakan Israel sejati.

Akan tetapi firman Allah tidak mungkin gagal. Sebab tidak semua orang yang berasal dari Israel adalah orang Israel, dan juga tidak semua yang terhitung keturunan Abraham adalah anak Abraham, tetapi: “yang berasal dari Ishak yang akan disebut keturunanmu.” Artinya: bukan anak-anak menurut daging adalah anak-anak Allah, tetapi anak-anak perjanjian yang disebut keturunan yang benar. (Rm. 9:6-8)

Maka, kita perlu mengerti bahwa pemilihan Israel sebagai umat Allah itu murni karena anugerah Allah, bukan karena jasa dari bangsa Israel. Namun, anugerah dipilih menjadi umat Allah ini harus disertai dengan kesetiaan yang terus-menerus kepada Allah. Di dalam konsep pemilihan secara historis ini, seseorang bisa kehilangan status terpilihnya dengan sikap ketidaksetiaan dan pemberontakannya kepada Allah (Rm. 11:20).

Di dalam konteks ini, John Frame membedakan menjadi dua jenis election, yaitu historical election dan eternal election. Di dalam konteks historical election-lah kita dapat menjumpai adanya orang yang dipilih oleh Tuhan tetapi pada akhirnya dibuang karena ketidaksetiaan orang tersebut. Lebih jauh lagi Frame mengatakan bahwa orang-orang seperti Yudas, Ananias, atau orang yang dikatakan pernah mencicipi sorga tetapi akhirnya berkhianat adalah orang-orang yang dipilih oleh Allah dalam konteks historical election saja. Mereka merasakan cicipan berkat dapat melayani bersama Yesus, tetapi mereka menolak-Nya dan bergabung dalam kelompok orang yang menyalibkan Dia. Hal ini masih terus berlanjut hingga saat ini, seperti peringatan penulis Ibrani di dalam Ibrani 4:11, “Karena itu baiklah kita berusaha untuk masuk ke dalam perhentian itu, supaya jangan seorang pun jatuh karena mengikuti contoh ketidaktaatan itu juga.”

Jenis election yang kedua adalah eternal election. Konsep pemilihan ini adalah orang yang dipilih tidak mungkin kehilangan keselamatannya, dan hal ini sama sekali tidak bergantung kepada kesetiaan manusia atau jasanya. Hanya orang-orang yang hidup di dalam Kristus yang memiliki-Nya di dalam hati yang adalah bagian dari eternal election ini. Orang-orang yang menjadi bagian dari eternal election ini, adalah orang-orang yang memang Tuhan sudah rencanakan sejak sebelum dunia diciptakan. Tuhan mengatur segala sesuatu di dalam dunia ciptaan ini untuk membawa orang-orang yang merupakan bagian dari eternal election untuk kembali kepada-Nya.

Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka juga yang dipanggil-Nya, mereka juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya. (Rm. 8:29-30)

Dari ayat ini kita bisa dengan jelas melihat bahwa eternal election merupakan ketetapan Allah yang memilih umat-Nya yang sejati, dan Ia akan memeliharanya sampai akhirnya mereka semua dimuliakan atau disempurnakan. Di dalam konteks inilah juga kita belajar, bahwa orang-orang yang merupakan umat Allah, di dalam hidupnya pasti merindukan kehidupan yang kudus dan tidak bercacat. Ada beberapa poin yang perlu kita ingat di dalam memahami hubungan antara historical election dan eternal election:
Kedua jenis election ini merupakan aspek-aspek dari rencana karya penebusan Allah. Allah memakai historical election untuk mengumpulkan orang-orang yang menerima eternal election.
Historical election bersifat sementara, tetapi eternal election bersifat kekal dan dilakukan sejak sebelum penciptaan. Sehingga, semua yang dipilih secara eternal, dipilih juga secara historical. Historical election adalah proses di dalam waktu yang melaluinya Tuhan menjalankan ketetapan-Nya untuk menyelamatkan yang dipilih secara eternal.
Historical election adalah bentuk kelihatan dan sementara dari eternal election. Hal ini serupa dengan gereja yang kelihatan merupakan gambaran dari Gereja yang tidak kelihatan.

Conclusion
Berdasarkan pemaparan singkat artikel ini, kita dapat belajar bahwa hidup kita seharusnya tidak ditentukan oleh diri sendiri atau orang lain. Namun, hidup kita sudah ditetapkan oleh Allah sejak sebelum penciptaan. Kita yang Tuhan panggil untuk bersekutu di dalam gereja dan menjadi bagian dari tubuh Krisuts, harus menyadari bahwa semua ini hanyalah karena anugerah. Anugerah ini bukanlah anugerah yang bisa dengan begitu saja kita sia-siakan. Anugerah ini menuntut kita untuk hidup bertanggung jawab di hadapan Tuhan, yaitu dengan menjaga kekudusan hidup. Biarlah melalui pemaparan singkat ini, kita makin menyadari identitas hidup kita sebagai umat Allah dan hidup benar-benar sesuai dengan kehendak-Nya. Kiranya Tuhan menolong kita!

Simon Lukmana
Pemuda FIRES

Simon Lukmana

Februari 2019

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk SPIK Keluarga 2019, kiranya firman yang akan dibawakan oleh setiap pembicara dapat memberikan pengertian yang holistik baik mengenai relasi kasih Tuhan dengan manusia maupun relasi kasih antarmanusia. Berdoa kiranya setiap peserta dapat mengerti prinsip kebenaran yang disampaikan dan mampu menerapkannya seturut hikmat-Nya.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
terimaksih dengan artikel ini saya bisa mendapatkan pemahaman yang sangat luar biasa tentang berdoa yang di inginkan...

Selengkapnya...

apakah ada buku tentang kritik Stephen Tong dalam kharismatik?

Selengkapnya...

Shalom, lalu bagaimana dengan orang-orang yang mengaku pernah ke sorga? Adakah mereka sudah dimuliakan? Mohon...

Selengkapnya...

Shalom, lalu bagaimana dengan orang-orang yang mengaku pernah ke sorga? Adakah mereka sudah dimuliakan? Mohon...

Selengkapnya...

Yesus itu adalah firman Allah yang telah menjadi manusia, Kata kunci : "Firman Allah telah menjadi manusis"...

Selengkapnya...

© 2010, 2019 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲