Artikel

Habakuk: Pengharapan bagi Pejuang Kebenaran yang Tertindas

Sebagai orang Kristen, kita percaya bahwa masalah kejahatan bukan karena dunia yang Tuhan ciptakan ini memiliki kecacatan, tetapi karena manusia sendiri yang di dalam kehendak bebasnya memilih untuk memberontak kepada Allah. Kitab Kejadian mencatatkan bahwa Tuhan menciptakan dunia dan segala isinya dengan kondisi yang sungguh amat baik. Seluruh ciptaan berada di dalam kasih dan keadilan yang sejati di dalam Tuhan. Tidak ada kelaliman, kefasikan, dan ketidakadilan yang menggerogoti sendi-sendi kehidupan kala itu. Akan tetapi, setelah manusia memilih untuk berpaling dari Allah dan terkekang di bawah jeratan dosa yang mematikan, seluruh tatanan ciptaan menjadi kacau. Relasi manusia dengan Allah, manusia dengan sesamanya, dan manusia dengan ciptaan yang lain menjadi rusak. Ketimpangan dan ketidakadilan mulai muncul di mana-mana. Dosa mulai merasuki setiap kehidupan manusia. Kebenaran lambat laun mulai memudar. Akibatnya, hari demi hari kita melihat keadaan sekitar yang makin buruk dan jauh dari kebenaran. Sebagai contoh, berita yang masih hangat bagi telinga kita adalah legalisasi pernikahan sesama jenis di Taiwan—negara pertama di Asia yang melegalkan LGBT. Berita ini tentu menjadi sukacita bagi mereka yang mendukung legalisasi ini, yang katanya demi tercapainya kesetaraan Hak Asasi Manusia (HAM). Namun, sebagai orang Kristen, sudah tentu kabar ini adalah duka yang pelik, bahwasanya dampak dari dosa sudah sangat mendarah daging dan merusak hingga setiap orang berbuat menurut apa yang mereka anggap baik.  

Belakangan ini ada sebuah kabar dari Irlandia yang patut menjadi kesedihan bagi kita, karena seorang pendeta dari Amerika Serikat harus dicekal dan tidak jadi berkhotbah di Irlandia sebab dirinya menolak LGBT.[1] Sebelumnya, dirinya juga dicekal di Belanda, Jamaika, dan Afrika Selatan dengan alasan yang sama. Tentu kita menjadi heran, mengapa pada saat ini, para penyuara kebenaran harus dibungkam oleh mereka yang menjunjung tinggi pandangan yang mereka anggap benar? Mengapa seakan-akan Allah membiarkan kefasikan berkuasa dan kebenaran ditindas? Usut punya usut, sebagaimana dikatakan dalam Kitab Pengkhotbah bahwa tidak ada yang baru di bawah matahari, maka kejadian-kejadian ketika orang benar ditindas oleh orang fasik sudah pernah terjadi, yaitu pada zaman para nabi di Perjanjian Lama, khususnya pada zaman Nabi Habakuk. Bangsa Israel harus ditindas oleh kefasikan dan di saat itu juga Nabi Habakuk berteriak kepada Tuhan atas ketidakadilan yang terjadi pada bangsa Israel.

Mengapa Tuhan Membiarkan?
Pertanyaan “Mengapa Tuhan membiarkan kejahatan terus berada di dunia ini?” mungkin ada di benak kita sekarang. “Di manakah Tuhan? Mengapa Tuhan membiarkan semua ketidakadilan ini terjadi?” Inilah yang diserukan juga oleh Nabi Habakuk ketika dirinya melihat umat Israel ditindas oleh bangsa Kasdim. Sebagaimana ada pepatah yang mengatakan, “Tiada asap jikalau tiada api,” begitu pula dengan kondisi bangsa Israel pada saat itu. Bangsa Israel yang berpaling dari Tuhan menjadi salah satu alasan bagi Tuhan untuk memberikan hukuman kepada bangsa Israel. Inilah yang menjadi latar belakang kondisi bangsa Israel pada zaman Nabi Habakuk.

Dalam Habakuk 1:1-4, dikisahkan mengenai keluh kesah dari Nabi Habakuk akan kondisi bangsa Israel kala itu. Habakuk berteriak kepada Tuhan, tetapi Tuhan tidak memberi tanggapan sama sekali. Bahkan, Habakuk juga menyatakan bahwa seluruh hal yang dilihatnya adalah ketidakadilan dan penindasan. Seluruh keluh kesahnya disimpulkan dalam ayat ke-4, yang merupakan ayat terkenal ketika terjadi penindasan dan ketidakadilan, yaitu mengenai hukum yang hilang kekuatannya karena orang fasik mengepung orang benar dan munculnya keadilan secara terbalik.

Kejadian seperti di atas mungkin pernah terjadi di dalam hidup kita. Saat berkuliah, kita tidak jarang merasakan ketidakadilan karena kawan-kawan kita yang menyontek bisa mendapatkan nilai lebih baik dibanding kita yang berusaha jujur, atau maraknya kasus titip presensi. Ironisnya, mereka yang berlaku curang ini mendapatkan hasil prestasi yang lebih baik dibanding kita yang menjunjung tinggi kejujuran dan integritas. Kita merasakan adanya ketidakadilan yang terjadi di sekitar kita, mulai dari hal yang sepele hingga hal yang serius. Lantas, mengapa hal tersebut bisa terjadi? Tuhan menjawab teriakan Habakuk pada Habakuk 1:5-11, bahwa ketidakadilan dan kefasikan yang terjadi berada di bawah kehendak Allah dan bertujuan untuk memberi hukuman kepada bangsa Israel yang telah berpaling dari Allah. Ini bukan kali pertama Allah memberikan hukuman kepada bangsa Israel dengan cara yang demikian. Alkitab mencatatkan bahwa Allah pernah memberikan hukuman yang serupa kepada Israel. Allah mengutus bangsa Kasdim untuk menjalankan hukuman-Nya atas bangsa Israel (ay. 5-6). Hukuman yang diberikan tidak main-main karena bangsa Kasdim dikenal dengan kehebatan dan kekuatan pasukan mereka, serta kekejaman mereka dalam menawan bangsa-bangsa yang sedang dikuasainya (ay. 6-11). Oleh sebab itu, tidaklah heran bahwa Habakuk berteriak kepada Tuhan atas hukuman ini.

Tentu kita sepakat bahwa Allah adalah Allah yang penuh kasih—mengasihi umat-Nya senantiasa. Namun, sering kali kita terlalu menekankan sisi kasih Allah—sangat lumrah terjadi di gereja-gereja yang tidak mempelajari doktrin Allah secara tepat dan mendalam. Kita lupa bahwa Allah adalah Allah yang adil—keadilan yang sejati dan sempurna, yang membenci kefasikan dan ketidakadilan. Alhasil, ketika Allah mulai menyatakan keadilan-Nya, kita pun mulai berkeluh kesah kepada Allah. Bahkan, jauh lebih parah, tak jarang kita malah menyalahkan Allah, marah kepada Allah, atau mengutuki Allah sebab hukuman yang Allah berikan atas kesalahan-kesalahan kita. Padahal, Allah mau supaya kita boleh sadar akan kesalahan kita dan bertobat kembali kepada-Nya. Hal ini pernah dilakukan oleh Allah kepada Ayub untuk menguji kesetiaan Ayub kepada Tuhan dan membuat Ayub sadar bahwa dirinya hanya butuh Tuhan semata dan tidak dapat mengandalkan kepunyaannya.

Pada perikop selanjutnya, Habakuk kembali berkeluh kesah kepada Tuhan untuk kedua kalinya atas kesesakan dan hukuman yang Tuhan berikan bagi bangsa Israel (ay. 12-17). Dalam keluh kesah ini, kita dapat melihat bahwa begitu sulitnya keadaan yang ada sehingga membuat hati Habakuk begitu sedih. Bahkan, kesedihan yang begitu larut pun membuat pesan yang Tuhan sampaikan di perikop sebelumnya tak tersampaikan kepada umat Israel. Memang, sering kali kita dihadapkan pada situasi-situasi yang sulit, begitu banyak pergumulan, kesesakan, atau merasa bahwa dunia sangat tak adil bagi kita. Akan tetapi, kita sering lupa bahwasanya segala hal yang terjadi dalam hidup kita berada dalam kehendak dan kedaulatan Tuhan.  

Selain itu, dalam keluh kesah Habakuk, justru kita dapat melihat sifat Allah yang sejati dan pemeliharaan-Nya bagi kita. Kita bisa melihat bahwa Allah adalah Allah yang kekal, yang sudah berada sejak dalam kekekalan, dan Allah adalah Allah yang suci, yang tidak menoleransi sedikit pun kefasikan dan ketidakadilan. Meski Allah sering memberikan peringatan kepada kita melalui orang-orang yang mungkin tidak percaya dan fasik, kita harus tahu bahwa Allah tidak pernah menyetujui kefasikan yang ada. Ada kalanya iman kita goyah ketika kita melihat orang-orang lain yang tidak percaya atau tidak melakukan kebenaran dapat lebih berhasil dalam pekerjaan-pekerjaan mereka di dunia. Akan tetapi, kita harus ingat bahwa Allah tidak pernah membenarkan kefasikan ada dalam hidup kita. Allah memang bersabar dalam “membiarkan” kefasikan terus ada, tetapi kita harus tahu bahwa kesabaran Allah juga ada batas dan suatu saat Allah akan menyatakan penghukuman-Nya atas kefasikan yang ada.

Kapan Tuhan Mengakhiri?
Setelah Allah menyatakan hukuman-Nya bagi umat Israel, Allah menyatakan bahwa kefasikan dan ketidakadilan yang dibawa oleh orang-orang fasik (dalam kisah Habakuk adalah bangsa Kasdim) tidak akan bertahan lama. Maka, hal yang terutama bagi orang percaya adalah kesetiaan dan kesabaran dalam menantikan jawaban Tuhan atas keluh kesah yang diungkapkan kepada Tuhan sebagaimana dilakukan oleh Habakuk (Hab. 2:1).

Satu hal yang kita tahu pasti bahwa jawaban Tuhan atas doa dan keluh kesah kita adalah yang terbaik bagi kita, tetapi kita tidak pernah tahu kapan Tuhan menjawabnya. Bisa saja Tuhan menjawab dengan segera, tetapi bisa juga Tuhan meminta kita untuk bersabar dan menanti, atau bahkan Tuhan menuntut kita menyelesaikan sesuatu dahulu sebelum dijawab oleh-Nya. Sebagaimana dikatakan pada Habakuk 2:3 bahwa apa yang dilihat oleh Habakuk akan segera datang walaupun secara perlahan, akan ada masa ketika Tuhan menyatakan kebenaran dan keadilan-Nya sehingga orang-orang yang berlaku fasik dan tidak adil akan sirna oleh kebenaran-Nya dan setiap orang yang tetap percaya kepada Allah akan diteguhkan. Ini adalah pengharapan yang menguatkan kita.

Selanjutnya, Tuhan juga menyatakan akan memberikan balasan yang setimpal bagi mereka yang melakukan tindakan semena-mena kepada setiap orang, khususnya kepada orang-orang percaya. Dalam konteks Nabi Habakuk, bangsa Kasdim akan dihukum oleh Tuhan (Hab. 2:6-20) atas segala pertumpahan darah yang mereka lakukan untuk memperluas kerajaannya, melampiaskan kemarahan kepada orang yang tidak bersalah, dan yang terutama adalah penyembahan berhala. Hal ini kembali menyadarkan kita bahwa jatuh bangun sebuah kekuasaan berada di tangan Tuhan dan tidak dibenarkan bagi kita untuk menumpas darah orang yang tak bersalah. Oleh sebab itu, meski kita melihat seakan-akan orang yang melakukan kejahatan mendapatkan posisi yang lebih layak di dunia atau mendapatkan keuntungan yang lebih, kita tahu bahwa akan ada saatnya Tuhan membalas setiap perbuatan fasik tersebut. Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini ada dalam kontrol Tuhan yang setia dan baik.

Kembalikah Kita kepada Tuhan?
Pertanyaan yang penting untuk kita pikirkan adalah, “Apa tanggapan kita atas karunia Tuhan yang diberikan kepada orang-orang percaya yang sedang ditindas oleh kefasikan dan ketidakadilan?” Dalam kisah ini, kita dapat meneladani Habakuk yang langsung berdoa kepada Tuhan. Salah satu doa yang patut kita teladani adalah bagaimana Habakuk mengerti isi hati Tuhan dan bagaimana Tuhan telah menyendengkan telinga-Nya untuk mendengarkan keluh kesah kita (Hab. 3:2). Setelah itu, barulah kita memohon agar kiranya kehendak Allah terjadi di setiap pergumulan dan kesesakan kita (bandingkan ayat-ayat di Mzm. 138:7-8 atau Ezr. 9:8).

Selanjutnya, doa Habakuk kepada Tuhan dapat dibagi menjadi dua bagian yang dapat kita selidiki. Bagian pertama, yaitu dari Habakuk 3:3-14, yang sangat kental menggambarkan kebesaran Allah dan segala perbuatan yang telah Ia lakukan sebelumnya bagi bangsa Israel, sejak bangsa Israel masih tertindas. Pertama, Allah sendiri datang dengan seluruh kemuliaan-Nya sejak dahulu kala dan tidak pernah berubah hingga selama-lamanya (Hab. 3:3-4). Allah senantiasa memakai terang serta suatu singkap berupa awan atau kabut pekat untuk menandakan kemuliaan Tuhan yang begitu agung, sekaligus begitu kudus. Kedua, Allah adalah Allah yang melebihi seluruh penguasa angkasa, yaitu seluruh dewa-dewa dan berhala-berhala yang manusia sembah (Hab. 3:5). Allah pernah memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir dengan menulahi Mesir. Selain itu, penulahan Allah juga menunjukkan bahwa dewa-dewi bangsa Mesir tak berkuasa di bawah kuasa Allah orang Israel. Ketiga, Allah menyatakan kuasa-Nya atas seluruh ciptaan-Nya (Hab. 3:6-15) dan membawa umat Israel kepada kemenangan sejati melawan bangsa Kanaan. Seluruh alam semesta, baik gunung-gunung, sungai-sungai, samudra-samudra tunduk di bawah kemarahan Allah yang menyala-nyala atas kekejian yang dilakukan oleh bangsa Kanaan. Allah membelah Laut Merah dan Sungai Yordan ketika keduanya menghambat perjalanan bangsa Israel. Allah bahkan membuat matahari dan bulan terhenti di tempatnya sehingga dapat memberi kemenangan kepada bangsa Israel (ay. 11). Kemarahan Allah dinyatakan dengan begitu dahsyat sehingga musuh-musuh begitu gentar.

Bagian kedua dari doa Habakuk menggambarkan pengharapan sejati yang didapatkan ketika kita berharap penuh kepada Tuhan dan telah melihat seluruh pekerjaan Tuhan yang menuntun kita untuk melewati seluruh permasalahan dan kesulitan dalam hidup (Hab. 3:16-19). Habakuk melihat bahwa pekerjaan Tuhan bagi bangsa Israel begitu dahsyat, khususnya ketika Allah memimpin bangsa Israel keluar dari tanah Mesir, menuntun bangsa Israel melewati padang gurun sembari Allah menyatakan diri-Nya di Gunung Sinai, dan melalui tiang api dan awan. Ketika Habakuk mendengarnya, gentarlah Habakuk dengan perbuatan Allah. Meski gentar, Habakuk mendapatkan suatu kepastian dan penghiburan karena suatu saat Allah akan membalaskan segala perbuatan kejam yang dilakukan oleh bangsa-bangsa kafir (ay. 16). Meski terlihat bahwa hidup seperti tidak ada hasil yang baik, segala usaha kita tidak membuahkan hasil yang baik, Tuhan tetap menjadi sumber kekuatanku dan Dialah yang dapat menyelamatkan kita (ay. 17-19).

Penghiburan Setelah Penderitaan?
Penderitaan tidak pernah usai selama Tuhan belum datang untuk kedua kalinya, karena manusia telah jatuh dalam dosa. Karena manusia diciptakan Allah sebagai mahkota ciptaan, seluruh dunia ciptaan beserta isinya harus menerima konsekuensi atas dosa yang telah dilakukan manusia. Relasi manusia dengan Allah, manusia dengan sesamanya, dan manusia dengan alam harus menjadi rusak. Alhasil, tidaklah mengejutkan bahwa dari kisah Kain dan Habel pun terlihat bahwa kejahatan berusaha untuk membungkam dan menaklukkan kebenaran.

Keturunan ular dan perempuan pun harus mengalami perseteruan, bahkan hingga saat ini. Sejak zaman Perjanjian Lama, berlanjut dengan Perjanjian Baru, lalu saat berdirinya gereja, hingga saat ini, kita sendiri melihat perseteruan antara kedua pihak ini. Tidak jarang, kita melihat penindasan dan ketidakadilan yang dilakukan oleh mereka yang tidak percaya kepada kelompok yang percaya kepada Tuhan, dan tidak jarang kita merasa Tuhan membiarkan kita untuk disesah dan dianiaya. Lantas, apakah Tuhan membiarkan begitu saja hal-hal tersebut?

Dari kisah Habakuk ini, kita dapat belajar bahwa kesesakan yang Tuhan berikan bagi kita adalah salah satu bentuk didikan dan ujian bagi kita. Didikan dan ujian yang tidak menyenangkan namun perlu ini menuntut kepercayaan kita sepenuhnya kepada Tuhan. Kita dituntut percaya bahwa Tuhan sedang menyatakan kasih-Nya kepada kita. Ketika itulah, kita akan rela untuk menyangkal diri dan memikul salib. Akan tetapi, banyak gereja sekarang sangat mengabaikan penekanan dari penyangkalan diri dan pikul salib sehingga umat Kristen terbuai oleh pengajaran bahwa hidup di dalam Tuhan itu indah, penuh limpahan berkat materi, pasti masuk sorga, berlimpah mujizat dalam kesuksesan hingga kesembuhan. Memang Alkitab menyatakan bahwa dalam iman kepada Kristus, kita akan mendapatkan penyertaan dan pemeliharaan dari Tuhan. Namun, penyertaan ini tidak identik dengan kehidupan yang berlimpah dengan kekayaan materi. Kita harus siap untuk merasakan pahitnya hidup di dalam dunia ketika kita dengan sungguh-sungguh mengikuti Tuhan, seperti merasa dihina, dicerca, dianiaya, dan dikucilkan, karena sebagaimana dunia ini membenci Tuhan Yesus, begitu juga dunia akan membenci kita, pengikut Tuhan Yesus yang sungguh-sungguh. Di dalam Yohanes 15:18-19, Yesus Kristus berkata bahwa diri-Nya, dan juga setiap orang percaya, dibenci oleh dunia karena tidak berasal dari dunia—dengan kata lain, terpisah dari dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa. Namun, ada kalanya Tuhan mengizinkan hal-hal tersebut terjadi karena kita sudah begitu jauh dari Allah dan berpaling dari-Nya. Dosa terus merongrong dalam diri kita, terus menggoda diri kita untuk tetap berada di bawah jeratannya. Tidak jarang juga, dosa begitu menarik dan memikat sehingga kita meninggalkan Allah dan menghambakan diri kita pada hal-hal selain Allah. Tentu Allah begitu cemburu dan murka akan sikap hati kita yang menduakan Allah dan mendirikan berhala dalam diri kita, seperti Allah begitu murka terhadap bangsa Israel dalam kisah Habakuk ini. Meski demikian, Allah tetap mengasihi kita dengan belas kasih-Nya. Oleh sebab itu, Allah mengizinkan kesesakan terjadi supaya kita dapat kembali bertobat dan sadar bahwa kita tidak bisa hidup tanpa Tuhan, karena kita yang begitu lemah dan tak berdaya.

Terakhir, kita juga harus mengingat bahwa pekerjaan Tuhan begitu besar dalam hidup kita, terutama di dalam komunitas umat Allah atau gereja. Kita sering terbius oleh masalah-masalah dalam hidup kita yang seolah-olah besar sehingga tidak bisa melihat pekerjaan Tuhan yang lebih besar. Kita sering mereduksi pekerjaan Tuhan untuk hanya terpusat pada diri saja. Padahal, jika kita melihat sejarah kekristenan dan gereja, kita dapat melihat bahwa kehendak Allah bagi setiap individu dinyatakan di dalam suatu komunitas. Ada keterkaitan yang sangat erat antara kehendak Allah secara individu dan kehendak Allah pada suatu kelompok atau komunitas. Oleh karena itu, jangan sampai hidup kekristenan kita hanya terpusat pada diri seperti bagaimana diri ini dapat masuk sorga, atau seperti jemaat Laodikia yang disinggung sebagai jemaat yang suam-suam kuku karena segala kenyamanan yang ada. Akibatnya, jemaat Laodikia menjadi tidak berbuah dan mati di dalam kenyamanan mereka sendiri (Why. 3:14-22). Oleh karena itu, sebelum kita menjadi komunitas yang mati di dalam kenyamanan, marilah kita menyerahkan hidup kita menjadi saksi Kerajaan Allah dan pekerjaan-pekerjaan-Nya yang besar. Kiranya Tuhan menolong kita mengerti peringatan yang dicatat di dalam Kitab Habakuk.

Andrian Cedric
Pemuda GRII Bandung

Endnotes:
[1]Anti-LGBT pastor becomes first person banned from Ireland”. (diakses pada 18 Mei 2019).

Andrian Cedric

Agustus 2019

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk WRF General Assembly 2019 yang telah diadakan pada 8-12 Agustus 2019.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Shalom Pak Pendeta. 1.Bagaimanakah saya boleh membeli buku hasil penulisan bapak? kerana saya berada di Malaysia...

Selengkapnya...

baik

Selengkapnya...

saya mau bertanya aja, kalau di katakan bahwa "when they were created, human can be self-centered",...atau...

Selengkapnya...

Terima kasih untuk renungan tentang kasih Allah.

Selengkapnya...

Asumsikan ada terbatas banyaknya bilangan genap jika dan hanya jika terdapat M yang merupakan bilangan terbesar dari...

Selengkapnya...

© 2010, 2019 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲