Artikel

Hagai dan Relevansinya bagi Masa Kini

Kitab Hagai adalah kitab pertama dari tiga nabi setelah pembuangan Israel. Dilihat dari Hagai 2:3, banyak yang menyimpulkan bahwa Nabi Hagai pasti telah melihat Bait Allah Salomo sebelum kehancurannya pada tahun 586 SM. Dalam hal ini, Hagai berusia 70 tahun ke atas ketika dia menulis Kitab Hagai. Dalam membaca Kitab Hagai, sangat perlu untuk melihat konteks dari Kitab Ezra karena kisah dalam Kitab Hagai merupakan bagian dari keseluruhan kisah yang tercatat dalam Kitab Ezra (Ezr. 5:1). Kitab Hagai mempunyai dua pasal dan terbagi menjadi empat poin. Artikel ini akan membahas empat pesan yang disampaikan dalam Kitab Hagai untuk pembaca mula-mula dan bagaimana pesan-pesan tersebut dapat dikaitkan dengan keadaan pada zaman ini.

Pesan pertama adalah peringatan untuk membangun Bait Suci dalam Hagai 1. Setelah masa pembuangan, bangsa Yehuda mendapat banyak tekanan dalam membangun Bait Suci karena banyak bangsa lain yang menentang pembangunan kembali Bait Suci. Namun dalam Kitab Hagai, Tuhan menegur bangsa Yehuda melalui Nabi Hagai karena pembangunan Bait Suci terhambat sebagai akibat dari bangsa Yehuda yang egois dan kurang memedulikan Tuhan. Alih-alih mengabdikan diri dan semangat mereka dalam membangun Bait Suci, mereka menggunakan waktu, tenaga, dan uang yang mereka miliki untuk membangun dan mempercantik tempat tinggal mereka sendiri (Hag. 1:4, 1:9). Sebenarnya keputusan membangun kembali rumah sendiri terlebih dahulu sangatlah logis. Tanpa rumah, tanpa tempat berteduh bagi keluarga, bagaimana mungkin Bait Allah dapat dibangun dengan baik? Bukankah kisah ini cukup familier bagi kita? Kita pun mempunyai sifat yang sama. Sibuk dengan urusan pribadi dan lupa akan pembangunan Gereja Tuhan atau Kerajaan-Nya, dan kita tentunya juga memiliki alasan yang sangat logis. Selain itu, penerimaan oleh orang sekitar kita merupakan dorongan yang kuat dalam melakukan banyak hal. Apa kata dunia jika kita lebih mementingkan Bait Allah daripada kesejahteraan keluarga sendiri? Bukankah mereka juga ladang pelayanan yang Tuhan percayakan kepada kita? Hal-hal seperti ini dapat mendorong manusia lebih memikirkan diri sendiri dan memandang sebelah mata pekerjaan Tuhan, karena pekerjaan bagi diri dianggap lebih memberikan manfaat, baik secara materi maupun pengakuan dari sekitar. Akhirnya, kita menjadi tidak acuh, tidak peka, dan bahkan tidak merasa perlu memperjuangkan pertumbuhan keinginan dan kerelaan melakukan perintah Tuhan.

Pesan kedua dalam Kitab Hagai adalah dorongan dan penghiburan Tuhan saat membangun Bait Suci (Hag. 2:1-9). Tuhan memberi pesan melalui Nabi Hagai untuk bangsa Yehuda supaya fokus kepada waktu kedatangan Mesias. Melalui pesan ini, bangsa Yehuda diberikan dorongan, karena pada saat itu mereka takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan saat membangun Bait Suci. Namun dalam bagian ini, Tuhan memberikan pernyataan bahwa Ia menyertai mereka (ay. 5), seperti janji yang telah Ia ikat pada saat mereka keluar dari Mesir (ay. 6). Tuhan mengatakan bahwa Ia ada bersama-sama dengan mereka dan bahwa itu merupakan penghiburan bagi bangsa Yehuda. Dalam kehidupan pada zaman ini, pekerjaan Tuhan sudah pasti bukan hal yang mudah. Kita dituntut lebih berani memikul salib demi nama Tuhan ditinggikan, bahkan mungkin harus berkorban nyawa. Tentu hal itu sulit dan sangat berat untuk dibayangkan di zaman sekarang. Kita sudah begitu pintar dalam menggali firman Tuhan untuk mendukung kehendak kita, sampai-sampai kehendak kita terlihat sama dengan kehendak Tuhan. Memang benar, pada zaman yang sekuler ini, sungguh banyak kesulitan untuk menyatakan Kerajaan Tuhan, seperti halnya orang Israel yang mendapatkan kesulitan yang besar dalam membangun Bait Suci. Namun dalam kitab ini, orang Kristen diingatkan bahwa mereka tidak sendiri. Tuhan bukan hanya memerintah, namun Tuhan juga berjuang bersama-sama dengan mereka, bergumul, dan memikul beban bersama. Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya ketika mereka menjalankan kehendak-Nya. Justru di dalam kesulitan dan ancaman bahaya, kita akan makin melihat secara nyata pimpinan Tuhan bagi umat-Nya.

Pesan ketiga dalam Kitab Hagai adalah peringatan akan kekudusan (Hag. 2:11-15). Pasal tersebut berisi salah satu peringatan paling jelas terhadap kekotoran spiritualitas Perjanjian Lama. Dalam ayat 14, ada perumpamaan tentang seseorang yang najis oleh mayat, menyentuh sesuatu, tentu sesuatu yang disentuh orang tersebut akan menjadi najis. Demikian juga dengan bangsa Yehuda di hadapan Tuhan, segala hal yang dikerjakan dan yang dipersembahkan untuk membangun Bait Suci menjadi najis karena mereka sendiri sudah menjadi najis oleh dosa-dosa mereka. Tuhan memberikan peringatan ini kepada bangsa Yehuda yang sedang mengerjakan Bait Suci, bahwa tidak boleh sembarang orang boleh berbagian dalam membangun Bait Suci. Orang-orang najis yang membangun Bait Suci akan menajiskan Bait Suci yang kudus. Dalam hal ini, bukan kekudusan yang akan menguduskan orang-orang najis, tetapi kenajisan yang akan menajiskan pekerjaan Tuhan yang kudus. Pada zaman ini, mungkin banyak anggota gereja yang aktif dalam pelayanan, namun sedikit yang melayani dengan tulus dan jujur. Pada hari Minggu melayani di gereja, namun dari hari Senin hingga Sabtu hidup kotor dan sembarangan. Selingkuh, menggelapkan uang, menipu, korupsi, seks bebas, atau hal-hal lain seperti malas, menyontek, mengambil hasil orang lain; hal-hal ini najis di mata Tuhan. Banyak orang Kristen yang menyepelekan keseriusan dalam melayani Allah, mereka menajiskan pelayanan tersebut. Tuhan tidak bisa ditipu dengan alasan rasionalisasi kita, Tuhan tidak bisa ditipu juga dengan doa minta ampun tanpa pertobatan dari dalam hati yang paling dalam.

Pesan keempat dalam Kitab Hagai adalah dorongan dan pengharapan dengan melihat kepada masa depan (Hag. 2:20-23). Dalam Kitab Hagai, pesan yang disampaikan adalah janji Tuhan kepada Zerubabel di masa yang akan datang, bahwa Tuhan memilih Zerubabel, bupati Yehuda, untuk menjadi “pangeran kedamaian” yang akan menghakimi bangsa-bangsa pada saat kemunculan-Nya (Hag. 2:20-23). Orang Israel pada masa itu baru kembali ke Israel dari pembuangan di Babel dan mereka dalam kondisi yang hancur. Mereka melihat Bait Allah yang sudah rata dengan tanah, tembok Yerusalem yang sudah runtuh, sejauh mata memandang hanyalah reruntuhan belaka. Mereka melihat kehancuran dan hal ini menimbulkan keputusasaan. Karena itu, tidaklah heran mereka terus mengingat masa lalu, yaitu masa kemegahan Israel pada zaman Daud dan Salomo. Namun pada bagian ini, Tuhan tidak menghibur mereka dengan membawa mereka melihat masa lalu, masa kejayaan Israel, masa Tuhan menyatakan kuat kuasa-Nya yang besar, namun Tuhan membawa mereka melihat janji Tuhan di masa yang akan datang. Bangsa Yehuda diajar untuk melihat ke depan, memegang janji Tuhan dan percaya akan kuat kuasa Tuhan yang akan menggenapkan janji-Nya dengan pasti, bukan terus mengenang masa lalu. Banyak dari kita sulit maju karena terus mengenang kejayaan masa lalu, kenyamanan yang pernah dialami, bahkan kesuksesan orang lain, dan lupa akan janji Tuhan serta pekerjaan Tuhan yang akan Tuhan genapi dalam hidup kita sendiri. Kita menjadi pasif dalam gereja karena hanya hadir sebagai penikmat, bukan pelayan yang rela sepenuhnya dipakai Tuhan. Kita mengenang kenikmatan, menikmati kenyamanan, dan menuntut pertumbuhan rohani yang instan tanpa perjuangan. Inilah yang melumpuhkan kita untuk membangun Kerajaan Allah di zaman ini.

Dalam kitab ini, keempat pesan tersebut memberikan peringatan agar setia kepada perintah Allah untuk membangun Bait Suci, penghiburan akan penyertaan Tuhan saat membangun Bait Suci, peringatan akan kekudusan dalam membangun Bait Suci, dan dorongan untuk melihat dan percaya kepada janji Tuhan di masa depan. Kiranya Kitab Hagai ini mengingatkan kita akan panggilan dan perintah Tuhan kepada kita sebagai umat-Nya di tengah dunia yang tidak bersahabat ini, khususnya para pemuda yang kurang berpengalaman, cenderung sombong, sulit diajar, dan hedonis ini. Seberapa pun sulit dan besarnya tantangan yang kita hadapi dalam menghidupi panggilan sebagai seorang Kristen sejati, haruslah kita tetap setia kepada Tuhan. Karena kita tahu bahwa Tuhan terus menyertai kita dan Ia pasti menggenapi janji-janji-Nya.

Timtania Lasyana Graceli
Pemudi GRII Bandung

Timtania Lasyana Graceli

November 2019

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Kita mengucap syukur untuk penyertaan dan pemeliharaan Tuhan atas rangkaian Gospel Rally, Seminar, dan Grand Concert Tour di Australia dan Selandia Baru pada akhir Oktober dan awal November ini.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Dear Kartika. Seperti yg disampaikan di awal, Tuhan Yesus pun 'dipilih' Allah sebagai Juruslamat...

Selengkapnya...

Allah Tritunggal mengasihi manusia tidak terbatas, hanya sebagai ciptaan kita manusia memiliki keterbatasan menerima...

Selengkapnya...

wuih mantap jiwa. sangat menjadi berkat bagi saya. terimakasih ya

Selengkapnya...

Bgm caranya sy bs memiliki buletin pillar edisi cetak?

Selengkapnya...

@David Chandra : kan kita sama2 mengerti bagaimana Tuhan memulihkan Gereja-Nya dari reformasi melalui Martin Luther...

Selengkapnya...

© 2010, 2019 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲