Artikel

Hagai: Rutinitas dan Kesia-siaan

“Beginilah firman TUHAN semesta alam: Bangsa ini berkata: Sekarang belum tiba waktunya untuk membangun kembali Rumah TUHAN!” Maka datanglah firman TUHAN dengan perantaraan nabi Hagai, bunyinya: “Apakah sudah tiba waktunya bagi kamu untuk mendiami rumah-rumahmu yang dipapani dengan baik, sedang Rumah ini tetap menjadi reruntuhan? Oleh sebab itu, beginilah firman TUHAN semesta alam: Perhatikanlah keadaanmu! Kamu menabur banyak, tetapi membawa pulang hasil sedikit; kamu makan, tetapi tidak sampai kenyang; kamu minum, tetapi tidak sampai puas; kamu berpakaian, tetapi badanmu tidak sampai panas; dan orang yang bekerja untuk upah, ia bekerja untuk upah yang ditaruh dalam pundi-pundi yang berlobang!” (Hag. 1:2-6)

Introduksi
Bagi pembaca Buletin PILLAR, kitab nabi-nabi kecil mungkin merupakan suatu bagian yang agak asing atau relatif jarang digali secara mendalam, apalagi jika dibandingkan dengan kitab-kitab lain seperti Injil, Mazmur, surat-surat Paulus, ataupun kitab-kitab Taurat. Penulis sendiri dalam perjalanan hidup sebagai orang Kristen pernah agak menghindari dan “terasing” dalam membaca kitab nabi-nabi kecil. Bersyukur akhirnya ada momen-momen di mana Tuhan membukakan keindahan dan kedalaman kitab-kitab tersebut. Salah satu kitab yang paling berkesan bagi penulis adalah Kitab Hagai. Penulis merasa pesan-pesan Hagai di pasal pertama sangatlah dekat dan relevan dengan konteks kita, masyarakat yang hidup di tahun 2019 ini, di mana tren individualisme, self-centeredness, konsumerisme, inovasi teknologi, relativisme, dan urbanisasi “berseliweran” di tengah-tengah rajutan kehidupan masyarakat.

Menabur, Makan, Minum, Berpakaian, Bekerja
Sebagai konteks umum, Hagai hidup dalam periode pembangunan Bait Allah yang kedua di Yerusalem. Salah satu tema utama dalam kitab ini adalah mengenai dorongan untuk membangun kembali Bait Allah. Dalam Kitab Hagai, memang tidak banyak tertulis detail konteks hidup atau deskripsi mengenai pribadi dari Nabi Hagai sendiri. Walaupun kemungkinan besar, Hagai termasuk dalam kelompok tawanan ketika Kerajaan Yehuda dibuang ke Babel dalam pemerintahan Nebukadnezar.

Dalam ayat-ayat awal di pasal satu, Tuhan menyatakan teguran kepada bangsa Israel. Bangsa Israel sepertinya sudah begitu “terbius” dalam rutinitas dan begitu memikirkan diri mereka sendiri. Mereka menabur, makan, minum, berpakaian, dan bekerja, namun tanpa sama sekali memikirkan kondisi Rumah Tuhan. Rumah Tuhan yang seharusnya menjadi lambang kehadiran Tuhan, yang menjadikan Israel berbeda dari seluruh bangsa-bangsa lain, justru malah dibiarkan terbengkalai dalam puing-puing reruntuhan. Tuhan dan pekerjaan Tuhan sama sekali bukan menjadi perhatian dan prioritas dalam kehidupan bangsa Israel secara komunal. Dalam kondisi seperti ini, menarik bahwa Tuhan memberikan pertanyaan-pertanyaan yang seharusnya membuat bangsa Israel tertegun. Ketika mereka hanya memikirkan dan memperhatikan diri sendiri, justru kondisi mereka tidak menjadi lebih baik/makmur. Mereka menabur tetapi hanya menuai hasil yang sedikit, makan tetapi tidak kenyang, minum tetapi tidak puas, dan bekerja namun upahnya hanya menghilang dalam pundi-pundi yang berlubang. Sungguh suatu kondisi yang ironis, menyedihkan, dan memprihatinkan!

Bagi penulis, pertanyaan Tuhan kepada bangsa Israel juga masih sangat relevan ditanyakan kepada diri kita di zaman ini. Sudahkah kita memperhatikan keadaan kita dan sekeliling kita? Lingkaran rutinitas dan “kesia-siaan” ini agaknya juga masih berlanjut sampai sekarang. Masyarakat kita masih bekerja, makan, minum, menaruh uang dalam pundi-pundi (mungkin dengan tambahan menonton film dan “bermain” social media di tengah-tengahnya). Mirip dengan bangsa Israel, Tuhan dan pekerjaan Tuhan sangat mungkin kita kesampingkan dan tidak kita prioritaskan. Apakah yang sudah dihasilkan dari itu semua? Sudahkah kita bertambah kenyang, puas, dan memiliki tambahan dalam pundi-pundi kita? Ataukah kita dan masyarakat kita malah masuk ke dalam pusaran kebosanan dan kesia-siaan yang makin dalam dan kelam? Di tengah konteks perkembangan inovasi teknologi dan berbagai variasi hiburan, apakah kita sudah merasa hidup kita puas dan berarti?

Salah satu filsuf yang menyoroti permasalahan ini adalah Albert Camus, seorang filsuf Prancis yang memaparkan ide mengenai “absurditas”. Camus banyak dipengaruhi oleh filsuf seperti Kierkegaard, Schopenhauer, juga Nietzsche. Salah satu esai karya Albert Camus berjudul The Myth of Sisyphus yang ditulis pada tahun 1942. Esai ini merujuk kepada satu mitologi Yunani, yakni mengenai Raja Sisyphus yang harus menjalani suatu hukuman kekal.[1] Setiap hari, Sisyphus dihukum mendorong suatu batu besar ke atas bukit, namun kemudian batu tersebut akan selalu menggelinding turun kembali. Esok harinya, Sisyphus harus kembali mendorong batu tersebut, yang nantinya juga akan jatuh kembali. Demikianlah hukuman ini terus berlangsung sampai kepada kekekalan. Inilah suatu keadaan yang menggambarkan kerja keras dan peluh, tanpa akhir, tanpa hasil, tanpa arti, dan berputar dalam lingkaran kesia-siaan. Dalam esainya, Camus berargumen bahwa Sisyphus memiliki suatu pilihan. Sisyphus bisa mengambil sikap menerima absurditas tersebut, dan kemudian bersukacita dalam menjalani hidup yang absurd tersebut. “The struggle itself ... is enough to fill a man’s heart. One must imagine Sisyphus happy.” Salah satu film kontemporer yang mengangkat tema ini (absurditas, kesia-siaan, makna hidup) adalah Bojack Horseman, suatu film drama komedi animasi yang mendapatkan penghargaan online magazine Thrillist (2018) sebagai “the best Netflix original series of all time”.[2]

Teguran bagi Zaman Ini
“Jadi naiklah ke gunung, bawalah kayu dan bangunlah Rumah itu; maka Aku akan berkenan kepadanya dan akan menyatakan kemuliaan-Ku di situ, firman TUHAN.” (Hag. 1:8)

Kembali ke Kitab Hagai, di tengah situasi yang memprihatinkan ini, Tuhan masih berbelaskasihan dan memberikan firman kepada umat-Nya. Di ayat 8, Tuhan menyatakan agar bangsa Israel ke gunung, membawa kayu, dan membangun Rumah Tuhan. Kemudian Tuhan akan menyatakan kemuliaan-Nya di sana. Bangsa Israel yang sudah terlalu memikirkan diri sendiri, diajak kembali berbalik untuk mengarahkan hidup mereka kepada Tuhan. Di sini, kita sekali lagi kembali diingatkan bahwa manusia dicipta oleh Allah untuk memuliakan dan menikmati Allah. Allahlah yang seharusnya menjadi pusat, bukan diri manusia yang begitu terbatas. Tidak ada satu ciptaan pun yang berhak merebut kemuliaan Allah. Ketika manusia tidak mengembalikan kemuliaan kepada Allah dan malah memikirkan dan memuliakan diri sendiri, justru ia sedang menghancurkan dirinya sendiri dengan melenceng dari tujuan awal ia dicipta.

Namun di dalam keberdosaannya, manusia cenderung berpikir, dengan makin banyak memikirkan diri sendiri, kondisi dirinya akan makin baik dan makmur. Pdt. Billy Kristanto pernah memberikan suatu teguran cukup keras mengenai hal ini.[3] Bukankah kita begitu terbatas dan Tuhan adalah Tuhan yang tidak terbatas? Diri kita memiliki begitu banyak limitasi, termasuk dalam memikirkan apa yang “baik” bagi diri kita sendiri. Apa yang kita anggap baik, sering kali salah dan justru bersifat merusak dan menghancurkan. Sudah sewajarnya kita menyerahkan hidup kita kepada Tuhan yang Mahabaik, Mahakuasa, dan penuh kasih setia. Allahlah yang sesungguh-sungguhnya tahu apa yang baik bagi kita dan Ia sanggup menyediakan itu bagi kita. Dengan memusatkan hidup kita kepada Tuhan, dengan menyerahkan hidup kita ke dalam tangan Tuhan, justru kita akan mendapatkan dan menyelamatkan nyawa kita.

Seperti perkataan Agustinus dalam buku Confessions, hati manusia memiliki suatu lubang yang hanya bisa diisi oleh Allah.[4] Manusia akan selalu gelisah sampai ia menemukan perteduhan sejati di dalam Allah. Hanya ketika manusia menjadikan Allah sebagai pusat hidupnya, kegelisahan dan kekosongan itu bisa terobati. Namun, agaknya manusia justru cenderung berusaha mengisi kekosongan tersebut dengan berbagai aktivitas, rutinitas, distraksi, dan hal-hal lain di luar Allah. Sedikit melihat dari kondisi bangsa Israel yang tidak memedulikan Allah dan kondisi Rumah Allah, ini bisa menjadi cermin yang mungkin menggambarkan kondisi kita di zaman ini. Seberapa sering kita melupakan Allah dan malah menyibukkan diri dengan urusan diri sendiri? Sepatutnya kita kembali merenungkan seruan para Reformator, yakni Tuhan haruslah menjadi pusat hidup, dan keseluruhan aspek hidup adalah ibadah di hadapan Tuhan (coram Deo).[5] Tuhan bukanlah “sesuatu” yang boleh ada ataupun tidak, boleh kita pikirkan kalau kita ingat, sedang “mood”, sedang menemui jalan buntu, ataupun menjadi semacam tempelan aksesoris dalam hidup. Keseluruhan hidup kita harus dipersembahkan dengan tuntas dan seutuhnya di hadapan Tuhan, dan demi kemuliaan Tuhan.

Penutup
Di akhir artikel ini, penulis ingin menyampaikan harapan dan doa yang sederhana. Semoga artikel singkat mengenai Kitab Hagai ini boleh mengingatkan dan mendorong pembaca Buletin PILLAR untuk hidup mengasihi dan sungguh-sungguh untuk Tuhan. Bagi para pembaca yang mungkin sudah lama tersedot dalam kesibukan yang hanya berpusat kepada diri, kita bisa kembali melihat dan merenungkan keadaan hidup kita, serta dengan jujur membukanya di hadapan Tuhan. Semoga hari demi hari, kita boleh makin dibentuk untuk hidup berpusat kepada Tuhan dan hidup untuk memuliakan Dia.

O, my dear Lord, I offer Thee my heart,
as a living sacrifice for Thee.
My heart my life, Thy temple and
Thy throne.

Now I surrender my life only for Thee.
(Only for Thee, Stephen Tong,
Taipei 1982)

Juan Intan Kanggrawan
Redaksi Bahasa PILLAR

Endnotes:
[1] Contoh penjelasan lebih jauh mengenai Sisyphus: https://www.britannica.com/topic/Sisyphus.
[2] https://www.thrillist.com/entertainment/nation/best-netflix-tv-shows-original-series.
[3] Yesus ditangkap di Getsemani.
[4]Thou awakest us to delight in Thy praise; for Thou madest us for Thyself, and our heart is restless, until it repose in Thee.”
[5] Satu tulisan baik yang membahas mengenai coram Deo: https://www.ligonier.org/blog/what-does-coram-deo-mean/.

Referensi:
– Augustine, Confessions.
– Matthew Henry, Bible Commentary (Book of Haggai).
– Vern S. Poythress, Redeeming Sociology.
– Zack Eswine, Preaching to a Post-Everything World.

Juan Intan Kanggrawan

November 2019

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Kita mengucap syukur untuk penyertaan dan pemeliharaan Tuhan atas rangkaian Gospel Rally, Seminar, dan Grand Concert Tour di Australia dan Selandia Baru pada akhir Oktober dan awal November ini.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Dear Kartika. Seperti yg disampaikan di awal, Tuhan Yesus pun 'dipilih' Allah sebagai Juruslamat...

Selengkapnya...

Allah Tritunggal mengasihi manusia tidak terbatas, hanya sebagai ciptaan kita manusia memiliki keterbatasan menerima...

Selengkapnya...

wuih mantap jiwa. sangat menjadi berkat bagi saya. terimakasih ya

Selengkapnya...

Bgm caranya sy bs memiliki buletin pillar edisi cetak?

Selengkapnya...

@David Chandra : kan kita sama2 mengerti bagaimana Tuhan memulihkan Gereja-Nya dari reformasi melalui Martin Luther...

Selengkapnya...

© 2010, 2019 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲