Artikel

Head and Heart: A Brief Reflection about Jonathan Edwards

Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu
dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.” (Mat. 22:37-38)

Pergumulan
Penulis tergerak menulis artikel ini sebagai bentuk refleksi ketika mendatangi dan memerhatikan kondisi beberapa persekutuan kampus dan gereja di Jakarta dan Singapura. Persekutuan-persekutuan dan gereja-gereja tersebut memiliki fokus, program, dan penekanan yang berbeda-beda. Ada yang memerhatikan aspek emosi, pujian, kegiatan sosial, pergumulan relasional, kebersamaan, pengajaran doktrin, ataupun penginjilan pribadi. Sejauh yang penulis perhatikan, sepertinya ada tantangan dalam menjalankan dan “mengimbangkan” berbagai elemen tersebut.

Sebagai pendiri Gerakan Reformed Injili, Pdt. Dr. Stephen Tong melihat dengan tajam (sekaligus dengan beban hati yang berat) akan kesulitan besar yang mengancam gereja. Gereja-gereja Reformed yang memiliki pengajaran yang solid dan kokoh ternyata tidak menginjili. Gereja-gereja yang menginjili ternyata tidak terlalu memerhatikan pembelajaran firman Tuhan dan pengertian doktrin yang lebih menyeluruh. Gereja-gereja yang memiliki pengertian yang mendalam dan akurat akan firman Tuhan, akhirnya jumlahnya terus menyusut dan “bunuh diri” karena tidak memberitakan Injil. Gereja yang memberitakan Injil dan mengirim misionaris dengan begitu gencar ke berbagai daerah dan pelosok, tidak memiliki pengertian firman yang beres dan teliti. Sehingga orang-orang yang sudah dimenangkan, sangat mudah guncang dan bahkan disesatkan ke dalam pengajaran-pengajaran yang tidak bertanggung jawab.

Dalam kondisi seperti ini, dengan penuh doa dan kerinduan, beliau memulai Gerakan Reformed Injili yang terus berlanjut sampai hari ini.[1] Suatu gerakan yang menjadi ajakan bagi gereja-gereja untuk semakin setia dalam menggali kebenaran firman Tuhan dan sekaligus melayani ke luar melalui pemberitaan Injil.

Terulang
Dalam sejarah, ternyata kesulitan-kesulitan semacam ini tidak hanya terjadi satu dua kali saja. Ayunan pendulum terus bergerak dari satu sisi ke sisi yang lain. Ketika Rasul Paulus melayani, ada golongan Yunani yang mencari hikmat, dan golongan Yahudi yang mencari tanda. Dalam sejarah gereja, pernah ada Gerakan Scholastic dan juga Gerakan Spiritual. Gerakan Scholastic memberikan penekanan kepada pembelajaran akademis, kekukuhan dogma, dan penekanan terhadap studi dan kapasitas rasio.[2] Gerakan Spiritual lebih mengarah kepada aspek relasi pribadi di hadapan Tuhan, kesalehan hidup, dan doa.[3] Dalam konteks kita yang lebih dekat lagi, ada Gerakan Liberal dan Gerakan Karismatik. Gerakan Liberal cenderung mengaitkan iman Kristen dengan kemajuan ilmu dan kebudayaan, namun melakukan kompromi terhadap beberapa aspek, seperti aspek keilahian Kristus.[4] Gerakan Karismatik cenderung menekankan aspek spiritual gifts, pimpinan Roh Kudus, dan emosi, namun cenderung kurang mengupas firman Tuhan dengan tuntas.[5]

Mengapa di dalam sejarah sepertinya pertentangan ini berulang kali terjadi dan jurang pemisah terbentang semakin jauh? Mengapa hal-hal yang seharusnya bersatu dan berjalan harmonis, akhirnya menjadi terpecah-pecah begitu rupa? Adakah contoh tokoh, gerakan, atau kelompok yang bisa dijadikan panutan atau teladan pembelajaran bagi orang Kristen? Ketika penulis memikirkan dan melakukan penelusuran lebih jauh akan hal-hal ini, penulis menemukan sosok Jonathan Edwards di masa lampau. Seorang hamba Tuhan yang memiliki pengertian firman yang begitu mendalam sekaligus berkobar-kobar dalam memberitakan Injil, memiliki pembelajaran akan berbagai bidang yang begitu luas sekaligus menggumulkan afeksi yang suci dan murni, mempersembahkan segala kapasitas rasio (head) sekaligus semangat, emosi, kehendak, dan hatinya (heart) secara utuh untuk Tuhan yang ia kasihi.[6] Ia adalah seseorang yang memiliki jiwa dan semangat “Reformed Injili”, jika kita ingin melakukan kontekstualisasi atau mengaitkan dengan kondisi kita yang berjemaat di GRII. Bagian-bagian selanjutnya dari artikel ini akan membahas mengenai Jonathan Edwards, yakni mengenai kisah hidupnya dan kematangan hidup rohaninya.

Jonathan Edwards: Riwayat Singkat
Jonathan Edwards adalah seorang berkebangsaan Amerika yang dilahirkan pada tanggal 5 Oktober 1703. Sejak dini, ia sudah mendapatkan pendidikan Alkitab dan Theologi Reformed. Pembelajaran dini tersebut dimungkinkan karena ayahnya, Timothy Edwards, adalah seorang pendeta. Sang ayah mengajarkan Edwards berbagai hal mendasar seperti Alkitab, Katekismus Singkat Westminster, dan Theologi Reformed.

Dalam masa studi sebelum menulis skripsinya, Edwards memperoleh sebuah kesempatan untuk melayani di satu gereja Presbyterian Skotlandia yang kecil di kota New York. Dalam periode ini, Edwards memiliki dorongan untuk hidup sebagai seorang Kristen yang sungguh-sungguh dan berdedikasi. Hal ini kemudian menuntunnya untuk melakukan refleksi dan evaluasi terhadap aspek-aspek hidup pribadinya. Pada momen itu, Jonathan Edwards menuliskan resolusi-resolusi yang sudah sangat kita kenal sekarang.[7] Resolusi ini ia tuliskan dengan penuh kegentaran dan kerendahan hati. Ia sadar bahwa ia tidak akan mampu melakukannya jika Tuhan tidak memberikan anugerah dan kekuatan. Kesadaran akan anugerah Allah ini membuatnya hidup begitu rupa demi menyenangkan Tuhan yang ia kasihi. Seperti yang juga dituliskan oleh Rasul Paulus, “Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku” (1Kor. 15:10).

Kerinduannya dalam mempelajari firman Tuhan terlihat begitu jelas dan nyata. Suatu kali Edwards mendapatkan hadiah berupa Alkitab dengan satu selipan halaman kosong di setiap halamannya. Jika dijumlahkan, ada sekitar 900 halaman kosong yang tersedia. Halaman kosong tersebut bisa digunakan untuk menuliskan pemikiran, catatan, refleksi ketika sedang membaca dan merenungkan firman Tuhan. Pembacaan Edwards begitu teliti dan menyeluruh. Dalam bagian-bagian atau ayat-ayat yang tidak terlalu “terkenal”, masih tetap bisa ditemukan catatan dan refleksi yang panjang mengenai ayat-ayat tersebut. Sampai begitu banyaknya catatan yang dituliskan, kerap kali huruf-huruf yang dituliskan begitu kecil dan tidak terbaca.

Kerinduan Edwards untuk mempelajari firman Tuhan juga kemudian mendorongnya untuk mengasihi dan menjangkau orang lain. Semakin ia mempelajari firman Tuhan, semakin ia mengerti betapa Tuhan mengasihinya, dan semakin ia terdorong untuk membagikan kasih yang begitu ajaib itu kepada sesamanya. Edwards tidak puas untuk hanya duduk tenang dan belajar mengenai theologi, filsafat, dan berbagai bidang ilmu. Ia begitu giat untuk memberitakan Injil, khususnya melalui berbagai inisiatif Kebaktian Kebangunan Rohani yang ia kerjakan dari kota ke kota. Pada awalnya, ada banyak orang yang tidak menyetujui pendekatan pelayanan melalui Kebaktian-kebaktian Kebangunan Rohani semacam itu.[8] Meskipun mendapatkan berbagai tantangan dan pendapat yang tidak setuju, dengan kesungguhan dan kemurnian hati, ia tetap mengerjakan pelayanan tersebut. Dampak dari Kebaktian Kebangunan Rohani yang Edwards kerjakan masih bisa kita lihat dan rasakan sampai saat ini.

Mengenai gaya khotbah, Edwards bukanlah orang yang sengaja menggunakan berbagai intonasi suara ataupun gerakan tangan.[9] Ia cenderung diam dan tidak banyak bergerak ketika berkhotbah. Di saat yang sama, setiap pendengar dapat merasakan dengan pasti keseriusan, kesungguhan, kedalaman, dan keyakinan dari setiap kalimat yang keluar dari mulut Edwards ketika berkhotbah. Sereno Dwight, orang yang mengumpulkan riwayat hidup Edwards, pernah bertanya kepada seorang pria yang telah mendengar khotbah Edwards secara pribadi. Pria itu menjawab, “Tuan Edwards tidak menggunakan variasi suara. Dia jarang membuat isyarat tubuh. Ia tidak menunjukkan keelokan yang memesonakan mata dan imajinasi. Tetapi jika yang Anda maksud adalah kefasihan dalam menyampaikan kebenaran penting dengan argumen berbobot, dan dengan perasaan intens sehingga seluruh jiwa pembicara dimasukkan ke dalam setiap bagian konsep dan penyampaian; supaya perhatian yang khidmat dari seluruh pendengar terpaku dari awal hingga akhir, Tuan Edwards adalah pria yang paling fasih yang pernah saya dengar.”
Jonathan Edwards: Head and Heart
Dalam mengaitkan antara pengertian (head), emosi, aplikasi, pengalaman, dan hati (heart), Edwards menyatakan:

Your mind can know honey is sweet, people can tell you it’s sweet, you’ve read books about it, etc. but if you haven’t actually tasted it, you know with your head, but not with your heart. When you taste it, you experience it for yourself, you know it in a full way, and you can know it in your heart.” (Sermon: Divine and Supernatural Light)[10]

Bagi Edwards, titik awal dari integrasi head dan heart bermula dari kelahiran baru yang adalah intervensi ilahi. Orang berdosa hatinya masih begitu keras dan terus menolak Tuhan. Hanya melalui pekerjaan ajaib Roh Kudus, arah hati seseorang bisa berubah, memiliki pengenalan akan Tuhan yang sejati, dan memiliki kerinduan untuk menikmati kemuliaan dan keindahan Tuhan. Menurut Edwards, “True Christianity involved not just an understanding of God and the facts of Scripture but a new ‘sense’ of divine beauty, holiness, and truth.” Aspek menikmati dan mengagumi keindahan Tuhan adalah suatu bagian yang penting dalam hidup dan pertumbuhan kerohanian seseorang.

Edwards yakin bahwa iman dan pengetahuan yang sejati harus memberikan pengaruh dalam seluruh aspek hidup. Iman dan pengetahuan yang sejati akan terpancar keluar melalui perubahan karakter, ekspresi emosi, dan perbuatan. Kedalaman pembelajaran Edwards tidak pernah mengurangi kesalehan hidup, kesederhanaan, sekaligus kobaran semangat, dan kebergantungannya yang penuh kepada Tuhan.

Di dalam buku Religious Affections, Edwards menegaskan kembali bahwa afeksi yang suci adalah afeksi sejati yang berasal dari perubahan natur orang tersebut oleh karya Roh Kudus. Afeksi yang disucikan juga adalah tanda mutlak seseorang sudah dibenarkan. Tanpa perubahan natur yang dikerjakan oleh Roh Kudus ini, seseorang tidak sanggup memiliki afeksi sejati. Kemurnian afeksi sedemikian merupakan sesuatu yang dianugerahkan dari atas. Kemurnian afeksi ini juga menjadi sesuatu yang membedakan antara afeksi rohani sejati dan afeksi yang palsu. Tanda pertama dan yang paling penting adalah afeksi terhadap berita Injil. Di sinilah permulaan pertobatan seseorang dan permulaan dimulainya proses penyucian yang menumbuhkan afeksi tersebut secara indah. Pembenaran ditandai dengan adanya afeksi yang diberikan secara limpah kepada Yesus Kristus dan kasih-Nya yang berkorban.

Setelah kepergian Jonathan Edwards, tidak mudah bagi gereja-gereja di Amerika untuk tetap menjalankan aspek pengertian firman yang mendalam, dan diikuti dengan kesalehan hidup, afeksi yang murni, dan semangat yang berkobar. Mark Noll, seorang pengajar sejarah di Wheaton College menuliskan:[11]

Since Edwards, American evangelicals have not thought about life from the ground up as Christians because their entire culture has ceased to do so. Edwards’s piety continued in the revivalist tradition, his theology continued in academic Calvinism, but there were no successors to his God-entranced world-view or his profoundly theological philosophy. The disappearance of Edwards’s perspective in American Christian history has been a tragedy. (Quoted in “Jonathan Edwards, Moral Philosophy, and the Secularization of American Christian Thought,” Reformed Journal, February 1983)

Penutup
Semoga sedikit pembelajaran dari Jonathan Edwards bisa mendorong para pembaca Buletin PILLAR untuk menggumulkan aspek pengertian (head) dan emosi, aplikasi, afeksi, hati (heart) dalam mengikut Tuhan. Sebagai penutup, penulis berharap agar bagian firman dari teguran kepada gereja-gereja di Kitab Wahyu, dan penggalan kutipan singkat ini bisa mendorong kita semua untuk hidup lebih sungguh-sungguh bagi Tuhan.

Aku tahu segala pekerjaanmu: baik jerih payahmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa engkau tidak dapat sabar terhadap orang-orang jahat, bahwa engkau telah mencobai mereka yang menyebut dirinya rasul, tetapi yang sebenarnya tidak demikian, bahwa engkau telah mendapati mereka pendusta. Dan engkau tetap sabar dan menderita oleh karena nama-Ku; dan engkau tidak mengenal lelah. Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula… Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Tiatira: Inilah firman Anak Allah, yang mata-Nya bagaikan nyala api dan kaki-Nya bagaikan tembaga: Aku tahu segala pekerjaanmu: baik kasihmu maupun imanmu, baik pelayananmu maupun ketekunanmu. Aku tahu, bahwa pekerjaanmu yang terakhir lebih banyak dari pada yang pertama. Tetapi Aku mencela engkau, karena engkau membiarkan wanita Izebel, yang menyebut dirinya nabiah, mengajar dan menyesatkan hamba-hamba-Ku supaya berbuat zinah dan makan persembahan-persembahan berhala. (Why. 2:2-4, 18-20)

“Be Thou my Vision,
O Lord of my heart;
Naught be all else to me,
save that Thou art
Thou my best Thought,
by day or by night,
Waking or sleeping,
Thy presence my light”
(Be Thou My Vision, English version: Eleanor Hull, 1912)

“My heart I offer to you, O Lord, promptly and sincerely.”
(John Calvin)

“He that has doctrinal knowledge and speculation only, without
affection, never is engaged
in the business of religion.”
(Jonathan Edwards,
Religious Affections)

Juan Intan Kanggrawan
Redaksi Bahasa PILLAR

Referensi:
1. Head Knowledge vs Heart Knowledge
2. A TREATISE CONCERNING RELIGIOUS AFFECTIONS IN THREE PARTS
3. Jonathan Edwards
4. Coordinating the Head, Heart, and Hands
5. The Distance Between Head and Heart
6. Jonathan Edwards
7. Timothy Keller - The Temptation of Ministry

Endnotes:
[1] Artikel ini selesai ditulis pada tanggal 3 Desember 2016. Beban Pdt. Dr. Stephen Tong dan analisis tantangan kekristenan bisa dilihat di bagian visi GRII: http://grii.org/visi_grii.
[2] Scholasticism.
[3] Pietism.
[4] Theological liberalism.
[5] Charismatic.
[6] Dalam cakupan artikel ini, hati (heart) bisa mencakup aspek emosi, afeksi, aplikasi, ketersentuhan, relasi, pribadi, dan kemanusiaan. Zaman ini orang cenderung melihat hati hanya sebagai aspek emosi saja. Padahal, pengertian hati bisa lebih luas dari itu. Hati bisa mencakup inti/esensi yang sesungguhnya dari seorang manusia. Artikel berikut bisa memberikan perspektif yang baik mengenai hati (heart): Sejak Yesus Masuk ke dalam Hatiku.
[7] Resolusi dari Jonathan Edwards bisa dilihat di link berikut: The Resolutions of Jonathan Edwards.
[8] The Pastor as Theologian, Great Awakening.
[9] The Supremacy of God in Preaching.
[10] Ringkasan khotbah ini bisa dilihat melalui link berikut: A Divine and Supernatural Light, Immediately Imparted to the Soul by the Spirit of God, Shown to be Both Scriptural and Rational Doctrine.

Artikel dan Buku Bacaan: Pembelajaran Lebih Jauh
Bagi pembaca Buletin PILLAR yang tergerak untuk menelusuri lebih jauh mengenai topik yang dibahas dalam artikel ini, berikut adalah beberapa contoh artikel atau buku yang dapat dipelajari secara lebih mendalam:
1. How to Stay Christian in Seminary (David Mathis dan Jonathan Parnell).
2. Religious Affections (Jonathan Edwards).
3. When Hearts Are Better than Heads, and Vice Versa (John Piper).
4. Five Ways to Go from Head Knowledge to Heart Application (Josh Squires).
5. Head, Heart, and Hands (Kevin Labby)
6. Mind and Heart.
7. Blind Spots: Becoming a Courageous, Compassionate, and Commissioned Church (Collin Hansen).
8. Balancing Head and Heart in Seventeenth Century Puritanism: Stephen Charnocks Doctrine of the Knowledge of God (Larry Siekawitch).

Juan Intan Kanggrawan

Januari 2017

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk Gerakan Reformed Injili dalam menjalankan mandat Injil melalui pemberitaan Injil baik secara pribadi, berkelompok, maupun massal.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Menurut saya artikel yg membingungkan...terakhir dinyatakan iman dan perbuatan baik tidak dapat dipisahkan.....awal...

Selengkapnya...

Awalnya saya bingung, saya sedang berlatih agar bisa menjadi seorang atlet tinju profesional.. Namun bagaimanakah...

Selengkapnya...

Contoh lain bhw di dlm Alkitab terdapat konsep seseorang dpt memperoleh pengurangan atau pembebasan hukuman sbg...

Selengkapnya...

Akan tetapi, seseorang tidak perlu bergantung pada dirinya saja untuk melunasi utang tersebut. Kekristenan pada zaman...

Selengkapnya...

Gereja Roma Katolik pada zaman itu memercayai dua hal yang fundamental berkaitan hal ini. Pertama, bahwa manusia...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲