Artikel

Hidupku di Tangan Sang Penghulu Hidup

Selama saya hidup, saya sadar satu hal: bahwa hidup ini adalah sebuah misteri. Saya tidak pernah memiliki inisiatif untuk hidup dan saya tidak pernah meminta untuk dilahirkan. Tetapi, faktanya hari ini saya hidup di Jakarta di abad ke-21. Dan di dalam hidup ini, banyak masalah dengan “hidup-hidup yang lain” yang harus dihadapi. Hal-hal seperti demikian membuat saya semakin bertanya-tanya, kenapa saya hidup dan kenapa saya harus hidup? Kenapa saya berada dan harus berada? Di tengah-tengah ketidakmengertian seperti ini, saya semakin tidak mengerti ketika memikirkan sebuah fakta bahwa keberadaan saya di dunia ini tidak selamanya. Ketika datang ke rumah duka dan melihat orang-orang yang meninggal, saya sadar suatu hari saya akan mengalami hal yang sama. Misteri yang lebih besar muncul dan yang ini lebih menakutkan. Fakta bahwa keberadaan akan berubah menjadi ketidakberadaan, inilah yang mengerikan. Mau tidak mau, saya harus berpikir apa itu kematian? Kenapa saya harus mati jika hari ini saya hidup? Apa yang terjadi ketika saya mati? Namun satu hal yang saya sadari adalah ketika kita semakin memikirkan tentang hidup, semakin kita sadar akan kematian. Sebaliknya, semakin kita sadar akan kematian, semakin kita memikirkan mengenai makna hidup. Kedua hal ini tidak pernah terpisahkan bagaikan dua sisi koin.

Dalam SPIK “Kristus Penghulu Hidup: Mati dan Bangkit”, saya sadar bahwa misteri kehidupan dan kematian tidak menakutkan jika kita mengenal siapa yang memegang hidup dan mati kita. Dalam sesi Pdt. Billy Kristanto, beliau mengatakan bahwa pembicaraan mengenai kehidupan dan kematian dalam Alkitab bukanlah secara jasmani kita hidup atau mati, melainkan yang terutama berbicara mengenai relasi manusia dengan Allah. Manusia dikatakan hidup ketika berelasi dengan Allah, dan bisa berespons kepada Allah dengan benar. Sayangnya, manusia yang jatuh dalam dosa tidak lagi memiliki relasi dengan Allah yang menciptakannya. Itu sebabnya, manusia mati walaupun secara jasmani hidup. Akibatnya, manusia kehilangan makna sesungguhnya dari menjadi seorang manusia. Tidak heran saya takut menjalani hidup ini, saya berusaha mencari makna di tengah kegelapan dunia dan tidak menemukannya. Saya tidak tahu bagaimana menjalani hidup ini. Semua ini karena saya adalah seorang berdosa.

Kegelisahan manusia ketika memikirkan kehidupan dan kematian tidak terlepas dari fakta bahwa kita semua sudah jatuh ke dalam dosa. Ketakutan ini muncul karena pada dasarnya semua manusia menyadari di dalam hati kecilnya, bahwa ia berada di dalam posisi yang tidak aman. Hatinya kosong, karena tempat yang seharusnya diisi oleh Sang Pencipta telah menjadi kosong karena pemberontakan manusia terhadap Allah. Oleh karena itu, segala usaha manusia, baik dengan berbagai hiburan, prestasi diri, maupun berbagai aktivitas rohani atau kejiwaan, tidak dapat mengisi ruang kosong ini. Karena ruang kosong itu hanya dapat diisi oleh Allah ketika kita kembali berdamai dengan Dia. Namun, di manakah jalan perdamaian itu? Bukankah manusia sedang berada di dalam status sebagai musuh Allah?

Di dalam sesi lain, yang dipimpin oleh Pdt. Ivan Kristiono, dijelaskan bahwa pengenalan akan Allah yang sejati bukan dimulai dari perenungan filosofis. Allah bukan ekstensi dari pemikiran manusia, sehingga manusia berdosa tidak mungkin mencapai pengenalan akan Allah yang benar dengan usahanya sendiri. Melainkan, hanya belas kasihan Allah sendiri yang rela menyatakan diri-Nya kepada kita, baru kita dapat mengenal Allah. Hanya oleh pekerjaan Roh Kudus kita dapat mengenal Allah, Ia membawa kita untuk mengenal Sang Allah-manusia (God-man), yaitu Yesus Kristus. Allah sendiri rela berinkarnasi menjadi manusia.

Pdt. Billy menjelaskan bahwa inkarnasi Kristus adalah bentuk dari solidaritas Yesus kepada manusia. Walaupun Dia adalah Allah, namun ketika menjadi manusia, Kristus memiliki hidup seperti kita, bahkan hidup-Nya bukan hidup yang diidam-idamkan orang. Kita dilahirkan, Kristus juga dilahirkan, namun Dia dilahirkan di kandang binatang. Kita belajar berbicara, Kristus juga belajar berbicara. Kita belajar berjalan, Kristus juga belajar berjalan. Kita bertumbuh menjadi remaja, kemudian menjadi pemuda, Kristus juga demikian; Dia melalui proses itu juga. Suatu hari kita akan mati, Kristus pun pernah mati. Jika Kristus saja pernah melalui semua itu, mengapa kita khawatir menjalani hidup ini? Kristus memberikan sebuah makna baru bagi manusia yang selama ini hilang, yaitu hidup di dalam kehendak Allah. Hidup manusia menjadi bermakna ketika manusia diperdamaikan dengan Allah Bapa. Semua ini hanya bisa terjadi jikalau kita di dalam Kristus. Hanya dengan memiliki relasi dengan-Nya kita dapat berdamai dengan Allah, karena dengan demikian kita boleh belajar seperti Kristus yang menaati dan menjalankan kehendak Bapa-Nya.

Berbicara mengenai kehendak Allah, Pdt. Stephen Tong menyatakan satu kalimat yang mengejutkan saya. Beliau mengatakan bahwa Allah tidak pernah menghendaki manusia untuk mati, namun ada satu kematian yang dikehendaki oleh Allah, yaitu kematian Kristus. Yesus Kristus dikatakan sebagai Penghulu Hidup, Dia adalah Sumber dari segala kehidupan, namun Dia harus mati di atas kayu salib. Bagaimana mungkin yang dikatakan sebagai Sumber hidup dapat mati, bahkan mati dengan cara yang begitu hina? Kita sulit mengertinya. Pdt. Stephen Tong mengatakan, “Christ is the greatest mystery of God.” Namun, justru misteri dalam diri Kristus memberikan saya pengharapan dan damai ketika melihat kembali hidup ini. Khususnya, ketika saya berhadapan dengan kematian. Tanpa mengenal Kristus, hidup ini menakutkan, apalagi kematian, itu hal paling mengerikan. Namun di dalam Kristus ada hidup, sehingga kita tidak perlu lagi takut menghadapi kematian karena seluruh hidup kita sudah ada di dalam tangan Sang Penghulu Hidup.

Kristus menjawab kebutuhan terdalam dari setiap manusia berdosa, dengan hal yang paling ditakuti oleh manusia, yaitu kematian. Mengapa demikian? Karena kematian Kristus berbeda dari kematian kita. Pertama, kita semua mati akibat dosa, namun Kristus mati untuk menebus dosa kita. Kedua, semua orang mati di bawah kuasa kematian, kita tidak dapat memilih untuk tidak mati, namun Kristus mati di atas kuasa kematian, Dia mati menyerahkan diri-Nya dengan rela untuk kita. Ketiga, kita semua mati ditelan oleh kematian, Kristus mati menelan kematian, Dia telah mengalahkan kematian. Terakhir, kita mati karena upah dosa, namun Kristus mati di dalam kehendak Allah. Kematian Kristus menggetarkan sekaligus menenangkan jiwa kita. Di satu sisi kita gentar, ketika melihat Anak Allah, Sang Penghulu Hidup menderita dan mati di atas kayu salib. Di sisi lain, kematian Kristus membuat kita tidak perlu takut lagi terhadap kematian, karena kematian telah ditelan, kematian telah dikalahkan oleh-Nya.

Setelah mati, Kristus mengonfirmasi kemenangan-Nya atas kematian itu dengan bangkit pada hari yang ketiga. Kebangkitan Kristus memberikan ketenangan, kepastian, dan pengharapan bagi yang percaya kepada-Nya. Walaupun saya tidak pernah melihat orang mati yang bangkit. Namun, di dalam Kristus kebangkitan itu telah terjadi. Kristus sendiri telah membuktikannya. Dia bangkit dengan kuasa-Nya sendiri, kuasa Sang Penghulu Hidup, sehingga kematian takluk di bawah kaki-Nya. Dia bangkit sebagai yang sulung, memastikan kebangkitan yang akan terjadi nanti, yaitu kebangkitan kita orang-orang yang percaya kepada-Nya. Melalui SPIK ini, iman saya dikuatkan, saya terdorong untuk semakin menyerahkan diri kepada-Nya. Jika Kristus sudah mengalahkan kematian dan bangkit menyatakan kemenangan-Nya, maka seharusnya tidak ada lagi yang perlu kita takuti. Kita, yang sudah dibangkitkan dan memiliki hidup di dalam Dia, hanya perlu takut jika kita menyangkal kebangkitan-Nya. Kita tidak lagi perlu untuk takut menjalani hidup ini, karena hidup kita sudah kembali kepada Pemilik Hidup itu sendiri. Karena itu, kita tidak lagi menjalani hidup tanpa makna, karena bagi orang-orang yang sudah dibangkitkan Tuhan, hidup adalah Kristus. Dengan kata lain, kita menjadikan Kristus sebagai fondasi, kerinduan, dan tujuan tertinggi dalam hidup kita. Mari kita hidup bagi Tuhan sebagai bukti bahwa Tuhan telah menyatakan diri-Nya kepada kita dan membangkitkan kita, sehingga kita tidak menyangkal kebangkitan-Nya. Di dalam Kristus, kita tidak lagi perlu menghabiskan hidup kita untuk mencari-cari kedamaian atau cara untuk terbebas dari kematian. Ketika kita menyerahkan seluruh hidup kita kepada Kristus, kita dapat dengan bebas mendedikasikan hidup kita melayani Allah. Di dalam hidup bersama dengan Kristus, kita bisa dengan sukacita berkata, “Aku damai karena hidupku berada di tangan Sang Penghulu Hidup, yang telah mati dan bangkit bagiku.”

Evan Jordan
Pemuda FIRES

Evan Jordan

April 2018

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Bersyukur untuk MRII Samarinda dan GRII Kebon Jeruk yang akan melakukan Kebaktian Dedikasi Gedung Baru pada tanggal 5 April 2018 dan tanggal 7 April 2018.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara dan firnanda: wartawan Koran B = - Gubernur memaksa pedagang Bakso di Sirabaya untuk Pindah tgl 21...

Selengkapnya...

Saya terlebih dahulu mohon maaf, kalau salah salah kata. Saudara dedi dari siantar, saya mau Tanya, kapankah Tuhan...

Selengkapnya...

Pertanyaan buat Wong Maruf....ayat - ayat Alkitab yang anda kutip sebagai dasar kesimpulan anda bahwa Yesus itu bukan...

Selengkapnya...

Martua Siringoringo Nggak usah bikin tafsir berlebihan, yang jelas Yesus sendiri menyatakan bahwa KEHIDUPAN YANG...

Selengkapnya...

Bpk Pdt. DR. Stephen Tong. Saya berTerimakasih banyak atas penyampain Isih Firman Allah (melalui Artikel ini)...

Selengkapnya...

© 2010, 2018 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲