Artikel

His Story, Our Story, and The Story of God's People

Setiap tahun Natal kita rayakan, berkali-kali di dalam hidup kita mendengarkan pesan atau khotbah Natal baik di gereja maupun di acara-acara besar Natal yang diadakan berbagai kalangan. Namun, seberapa jauhkah kita mengerti signifikansi kehadiran Kristus di tengah-tengah manusia, khususnya bagi umat pilihan-Nya? Banyak orang Kristen tidak menyadari signifikansi Kristus bagi keberadaan mereka. Sejak Adam dan Hawa berbuat dosa, seluruh manusia telah kehilangan identitas diri. Sejak saat inilah manusia terus berusaha untuk mengisi kekosongan dirinya, khususnya di dalam masyarakat saat ini yang sangat individualistis, yang menganggap toleransi atau kebebasan bagi orang-orang dalam mengidentifikasikan dirinya sebagai hal yang penting di zaman ini. Semangat zaman ini merasuk juga ke dalam kekristenan. Keengganan gereja untuk secara gamblang menegur dosa dari atas mimbar dan memilih untuk mengkhotbahkan hal-hal yang menyenangkan hati jemaat saja adalah pengaruh dari semangat individualistis terhadap pengajaran di gereja. Bahkan ada theolog yang mengategorikan khotbah seperti ini sebagai “identity gospel”. Khotbah-khotbah yang mengatakan bahwa Allah menginginkan kita puas dengan diri kita apa adanya. Selama hati kita merasa benar, maka kita sedang mengikuti apa yang Tuhan mau. Ini pengajaran yang begitu menyesatkan kekristenan saat ini. Sehingga banyak orang Kristen yang hidup egois untuk memenuhi ambisi dirinya, dan bukan memikirkan apa yang menjadi kehendak Allah. Kehidupan yang begitu individualistis ini sudah jelas bukan pengajaran dari Alkitab. Oleh karena itu, sebagai orang Kristen, kita perlu kembali memikirkan akan identitas hidup kita sebagai umat Allah.

“Sebagai umat Allah yang berada di zaman ini, bagaimana seharusnya kita hidup?” Inilah pertanyaan yang kita coba bahas dalam artikel-artikel yang terbit di Buletin PILLAR tahun ini. Kita telah membahas secara singkat sejarah umat Allah di dalam Perjanjian Lama. Kita sudah membahas bagaimana perjalanan umat Allah di dalam relasi mereka dengan Allah itu sendiri, khususnya di dalam ikatan covenantal relationship. Maka pada artikel yang terakhir ini, kita akan membahas mengenai bagaimana seharusnya kita belajar dari sejarah umat Allah, dan bagaimana kita menjalani kehidupan, dengan status sebagai bagian dari umat Allah kita di zaman ini.

“Sebab Kristus adalah “ya” bagi semua janji Allah. Itulah sebabnya oleh Dia kita mengatakan “Amin” untuk memuliakan Allah” (2Kor. 1:20). Di dalam ayat ini, Paulus sedang menunjuk kepada perjanjian-perjanjian yang Allah buat dengan umat-Nya. Semua perjanjian yang Allah buat dengan umat-Nya, baik melalui Adam, Nuh, Abraham, maupun Daud. Melalui janji-janji ini, Allah menyatakan anugerah-Nya bagi umat-Nya. Ia memberikan pemeliharaan-Nya, tanah perjanjian, sebuah umat yang besar, dan juga janji akan adanya keturunan yang membebaskan mereka, dan sebagainya. Seluruh kegenapan dari janji-janji ini berada di dalam diri Kristus, sejak melalui kelahiran, kematian, hingga kebangkitan-Nya.

Hal ini dapat kita lihat dari dua sisi. Pertama, hal ini menyatakan ketidakmampuan manusia untuk menyelamatkan dirinya, begitu juga dalam kesetiaannya menjaga relasi dengan Allah. Manusia gagal dalam menjaga relasi perjanjiannya dengan Allah karena manusia sendiri yang tidak dapat menjaga hatinya untuk tetap mengabdi kepada Allah. Kita melihat bagaimana bangsa Israel berkali-kali berpaling dari Allah dan menghambakan diri kepada ilah-ilah. Sederhananya, mereka tidak bisa menjaga kekudusan hidupnya di hadapan Allah dan mencemarkan diri mereka dengan berbagai macam dosa yang sudah dilarang Allah melalui Hukum Taurat. Kegagalan yang dialami oleh umat Allah di dalam sejarah adalah cerminan dari kehidupan kita sebagai orang Kristen. Kita sering kali gagal untuk mengikuti kehendak Tuhan di dalam hidup kita. Berkali-kali kita selalu berpaling dari kehendak-Nya dan hidup mengejar apa yang kita inginkan. Kita lebih memilih untuk menggapai impian kita dibanding menjalankan kehendak Allah.

Kedua, kita bisa melihat bahwa kehidupan kita sebagai umat Allah haruslah bersandar kepada Kristus sebagai Juruselamat kita. Di dalam 2 Korintus 1:20, Paulus menyatakan, “Oleh Dia, kita mengatakan amin untuk memuliakan Allah.” Hal ini berarti kita yang sudah berbagian menjadi umat Allah melalui penebusan Kristus seharusnya menjadikan kemuliaan Allah sebagai tujuan dari hidup ini. Di dalamHeidelberg Cathecism, pertanyaan pertama adalah, “What is your only comfort in life and in death?” dan bagian awal dari jawaban ini adalah, “That I am not my own, but belong with body and soul, both in life and in death, to my faithful Savior Jesus Christ.” Ini adalah sebuah pernyataan yang seharusnya menjadi bagian dari kehidupan umat Allah, kehidupan yang tidak lagi merasa diri bebas untuk berlaku apa pun sesuai dengan kehendak diri masing-masing, tetapi menyadari bahwa seluruh kehidupannya adalah milik Kristus, sehingga setiap hal yang dilakukan oleh diri haruslah sesuai dengan kehendak Allah, bukan lagi kehendak diri.

Kita perlu dengan baik-baik bercermin kepada sejarah umat Allah. Kita tidak dapat menjadikan sejarah ini hanya sebagai kisah yang memberikan “moral lessons” saja, tetapi kita harus melihat bahwa kita adalah bagian dari sejarah ini. Kita berada di tengah dunia ini untuk melanjutkan estafet karya keselamatan Allah dengan taat kepada-Nya. Kita sering kali dengan bodohnya tertipu oleh pengajaran dunia yang menjadikan kisah di dalam Alkitab hanya sebagai pelajaran moral. Jikalau selama ini kita menganggap pengajaran Alkitab hanya sebagai pengajaran moral, kita telah mereduksi Alkitab. Kita tidak lagi menganggap Alkitab sebagai firman Allah, tetapi hanyalah kitab yang memberikan pengajaran moral bagi kehidupan. Jikalau demikian, pengertian kita tentang Alkitab tidak ada bedanya dengan “identity gospel”. Kita hanya menjadikan Alkitab sebagai alat untuk membantu kita memuaskan kehausan diri saja.

Sebagai umat Allah yang sejati, seharusnya kita menyadari bahwa Alkitab adalah firman Allah yang seharusnya menjadi panduan utama dalam menjalani hidup kita. Kita tidak hanya menjadikan kisah-kisah yang ada di dalamnya sebagai pelajaran moral, tetapi melihat diri ini sebagai bagian dari kisah itu. Seluruh kisah yang tercatat di dalam Alkitab merupakan kisah-kisah di mana Allah sendiri menjadi bagian dari cerita tersebut. Bahkan, kisah-kisah ini pada hakikatnya adalah kisah mengenai Allah di dalam relasi dengan umat-Nya. Seperti yang sering dikatakan bahwa history is His story. Oleh karena itu, kita harus sadar bahwa kita adalah bagian dari kisah yang besar tersebut. Kita hidup dengan sebuah misi penting, yaitu melanjutkan kisah perjuangan umat Allah di dalam menyatakan kemuliaan Allah di tengah dunia ini. Secara khususnya, menjadi bagian dari karya keselamatan Allah yang masih terus berjalan hingga nanti Kristus datang kedua kalinya dan menyempurnakan segalanya.

Ketika dunia ini menawarkan kita berbagai kesempatan untuk mengaktualisasikan diri, maka sebagai umat Allah kita dipanggil untuk menyangkal diri dan hidup memikul salib, taat kepada kehendak Allah. Ketika banyak pengajaran gereja yang mengatakan kita bisa menanggapi firman Tuhan dengan “santai saja”, maka sebagai orang Kristen yang benar-benar menyadari panggilannya, kita harus dengan serius menanggapi firman Allah dan berjuang keras menjalankan setiap perintah yang ada di dalamnya. Kegagalan umat Allah di dalam sejarah selalu dimulai ketika mereka tidak lagi menanggapi firman Allah dengan serius. Mulai dengan menganggap enteng firman Allah, lama-kelamaan mereka menjadi kompromi dan akhirnya berpaling jauh meninggalkan Allah. Inilah kebahayaan yang sering kali orang Kristen tidak sadari.

Bukankah pada saat ini kita sering sekali mendapatkan cap, “Ah, jangan sok suci lu!”, atau “Sudahlah…. Jadi orang Kristen jangan terlalu ekstrem.” Cap atau pemikiran seperti inilah yang menjadi pemicu kehancuran kehidupan seorang Kristen. Sebagai pemuda Kristen, khususnya Reformed Injili, seharusnya kita menyadari bahwa ketika kita ditebus oleh Kristus dan menjadi umat Allah, kita harus menjadikan Allah sebagai tujuan utama dalam hidup ini. Seluruh aspek kehidupan kita harus mencerminkan sikap hidup yang “amin untuk kemuliaan Allah”, sikap hidup yang meneladani kehidupan Kristus. Kita harus rela menanggung segala beban dan tantangan dari kehidupan yang menjalani kehendak Allah, sebagaimana Kristus rela memikul salib. Kisah hidup kita bukan lagi kisah hidup milik kita, tetapi kisah hidup kita adalah bagian dari kisah kehidupan umat Allah yang dipakai Allah untuk menyatakan kisah hidup-Nya di dunia ini. Inilah salah satu ciri kehidupan dari umat Allah yang sejati. Kiranya di dalam momen Natal ini kita kembali merenungkan apa itu artinya menjadi bagian dari umat Allah. Kenapa Kristus harus turun ke dalam dunia ciptaan ini, menjalani kehidupan yang berat, dan menebus kita menjadi bagian dari umat Allah? Kiranya Tuhan menolong kita untuk menyadari identitas kita, dan dengan pertolongan Roh Kudus kita didorong untuk terus setia menjalankan kehendak-Nya.

Simon Lukmana

Pemuda FIRES

Simon Lukmana

Desember 2019

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk rangkaian KKR yang dipimpin oleh Pdt. Dr. Stephen Tong di Malaysia yaitu Johor Bahru dan Muar pada tanggal 18-22 November 2019. Berdoa kiranya Roh Kudus memelihara iman dari setiap orang yang telah mendengarkan Injil dan merespons terhadap panggilan untuk menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat melalui rangkaian KKR ini.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Dengan cara yang sama, Roh Kudus akan menelanjangimu. Kalau engkau mengakui tuntunan tangan Roh Kudus yang gagah...

Selengkapnya...

Hidup sejati adalah kehidupan yg sebenarnya terjadi setelah kematian di Dunia ini. Sebab kehidupan di Dunia ini...

Selengkapnya...

Terima kasih renungan yg inspiratif. Kekristenan saat ini memang sdh jauh dari pesan injil, orang2 lebih mengejar...

Selengkapnya...

Tulisan yang baik dan mengingatkan kita sebagai manusia yang selalu mengejar hikmmat dunia dan ternyata semuanya...

Selengkapnya...

Diusia berapakah seseorang bisa pacaran? Melihat fenomena jaman sekrang, bayak remaja2 kristen atau anak2 sekolah,...

Selengkapnya...

© 2010, 2020 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲