Artikel

Hukuman atas Niniwe: Berkaca pada Kota Tebe (Nahum 3:8-10)

Kota Tebe adalah ibu kota Mesir. Kota Tebe menjadi sebuah kota yang sangat penting karena merupakan pusat ibadah. Di dalam Kitab Nahum pasal 3, digambarkan bahwa kota Tebe adalah kota yang secara geografis aman dari ancaman serangan bangsa lain dan mempunyai kekuatan militer yang tidak terbatas. Namun, kota yang begitu kuat dan secara geografis aman dari serangan akhirnya juga bisa ditawan dan dihancurkan. Digambarkan di ayat 10 bahwa bayi-bayinya diremukkan, orang yang dihormati dibuang undi untuk dijadikan budak, dan pembesar-pembesarnya dirantai. Kota itu dikalahkan dan dirampas oleh bangsa Asyur pada tahun 664 SM.

Nahum menceritakan kota Tebe ini sebagai salah satu peringatan sekaligus nubuat penghakiman yang akan diberikan oleh Tuhan. Jika dilihat dari Nahum 3, beberapa kali Nabi Nahum menyatakan alasan-alasan yang mendukung peringatan dan nubuat hukuman Allah. Pertama, di ayat 1 sampai ayat 7, dikatakan bahwa Allah pasti akan menghukum Niniwe karena dosa mereka. Kedua, ayat 8 sampai ayat 10, karena kesamaan antara Niniwe dan Tebe. Ketiga, ayat 15 sampai ayat 17, karena mereka terlelap di dalam dosa, meskipun mempunyai potensi kekuatan militer, hal itu tidak menghalangi penghakiman yang Tuhan berikan.

Pada ayat 8 dimulai dengan pertanyaan retorika yang disampaikan Nabi Nahum, “Apakah Niniwe lebih baik daripada Tebe?” Jawabannya pasti tidak. Niniwe tidak lebih baik daripada kota Tebe. Asyur yang tadinya mengenal Allah yang esa, kembali ke pemujaan yang semula. Agama di Asyur berdasar pada agama kuno dari Sumeria dan Babilonia. Perbedaannya adalah dewa utama Asyur adalah Assur. Selain Assur, ada Dewa Nabu (Bijaksana), dan Ishtar (Cinta) yang diadaptasi dari Babilonia. Masyarakat Asyur mencoba memenangkan hati dewa-dewa dengan menyembah dan mempersembahkan korban. Mereka juga mencoba agar dewa menyingkapkan masa depan baik dengan tanda maupun lambang. Astrologi dan sihir terhubung dengan agama, demikian juga dengan pengobatan dan ilmu pengetahuan.1 Imam dalam kuil berhala juga membacakan jampi-jampi dan melakukan pengusiran setan, demikian juga terdapat kegiatan persembahan makanan dan minuman kepada dewa.2

Bukan hanya itu saja, perdagangan orang-orang Niniwe sangat tidak beretika. Niniwe memiliki pejabat yang korupsi, haus akan kemewahan, dan memeras bangsa jajahannya. Pedagangnya rakus akan kekayaan sehingga menjual banyak barang kepada kota yang sangat bernafsu kepada barang-barang, sehingga banyak keuntungan didapat.3 Kejujuran dan moral dapat dihilangkan dan tidak terkena sanksi, yang terpenting kekayaan didapat dan memiliki kepuasan. Cara Asyur melakukannya adalah dengan mengincar daerah kaya yang sedang lemah militernya dan menjajahnya.4 Asyur sangat terkenal dengan kekejaman militernya saat menginvasi suatu daerah. Asyur sering kali menyiksa tawanan dengan menguliti, membakar, memutilasi, dan yang lainnya.5 Asyur juga menipu bangsa-bangsa supaya takluk dengan taktik-taktik menipu. Asyur menyerang bangsa-bangsa yang lemah secara politik dan militer, dan memberikan
serangan psikologis.

Ayat 1 menyatakan bahwa Niniwe adalah kota penumpah darah, artinya Niniwe adalah sebuah bangsa yang gemar membunuh. Pendusta, artinya Niniwe menipu bangsa-bangsa agar tunduk kepadanya serta merampasnya secara terus-menerus. Asyur ditakuti karena prajuritnya yang bengis dan suka menindas. Asyur memperlakukan bangsa yang ditaklukkannya tanpa ampun, meminta dihormati, dan memperbudak atau membunuh semua yang mencoba melawan.6 Kerajaan Asyur adalah kerajaan yang memberikan inovasi militer. Segala sesuatu dicapai dengan perang. Kejadian-kejadian ini yang dimaksudkan dari ayat 2-4. Nahum yang tahu kebiasaan Asyur dalam peperangan menuliskan kekejaman Asyur dengan dramatis, bagaimana Asyur melakukan pembantaian tersebut. Ayat 3 menggambarkan dengan jelas bagaimana kekejian Asyur hingga banyak yang mati.

O. Palmer Robertson di dalam bukunya The Books of Nahum, Habakkuk, and Zephaniah (New International Commentary on the Old Testament) mengatakan bahwa alasan Nabi Nahum membandingkan kota Niniwe, ibu kota Asyur, dengan kota Tebe, ibu kota Mesir, adalah karena bangsa Asyur yang menaklukkan kota Tebe, jadi mereka pasti tahu dengan jelas keadaan geografis dan sosial kota Tebe yang bagus, namun tetap bisa ditaklukkan oleh Asyur.

Kush, Mesir, dan Put adalah kota-kota yang berkaitan dengan kota Tebe (Kej. 10:6). Kush terletak di selatan Sungai Nil. Jadi orang Asyur tahu secara langsung kekuatan musuh ini. Bangsa Put atau Libya umumnya termasuk dalam daftar dengan negara-negara Afrika lainnya (Yer. 46:9; Yeh. 30:5), dan tampaknya merujuk ke Libya di Afrika Utara, yang terletak di sebelah barat Mesir (2Taw. 12:3; 16:8).

Niniwe terletak di tengah sungai dengan laut di sekitarnya, saluran di mana Sungai Nil terbagi. Berkat Tuhan diberikan melalui Sungai Nil, tetapi Niniwe melupakannya. Seperti Mesir mengklaim Sungai Nil sebagai kepunyaannya dan mereka yang membuatnya (Yeh. 29:2-3, 9-10), begitu juga bangsa Asyur melakukan hal yang sama dengan Mesir. Bangsa Asyur mengklaim bahwa mereka yang telah mengeringkan sungai-sungai di Mesir (2Raj. 19:24). Mereka lupa bahwa Allah yang menentukan mereka yang menjatuhkan kota yang dibentengi, dan mereka lupa Allah juga yang memerintahkan tembok air untuk melindungi mereka.

Nubuat Nabi Nahum digenapi saat banjir membuat Sungai Tigris meluap dan menghancurkan sebagian besar tembok kota Niniwe, sehingga bangsa Babel bisa menyerbu masuk melalui tembok-tembok yang runtuh, lalu bangsa itu menjarah dan juga sebagian kota itu dihanguskan oleh api. Banjir merupakan hukuman Allah atas Asyur bagaikan air bah yang tidak dapat dihentikan. Kejahatan penduduk kota Niniwe yang luar biasa membuat rencana hukuman kali ini tidak ditunda lagi. Keadilan Allah tidak ragu-ragu untuk menjatuhkan hukuman. Allah berkuasa untuk melaksanakan apa yang Ia janjikan (baik berkat maupun hukuman) dan Ia setia memegang janji-Nya. Tidak ada yang bisa menghalangi Allah untuk menghukum bangsa yang tidak taat, tidak tembok-tembok kota, tidak juga sungai yang mengelilinginya, tidak juga pasukan Asyur. Penghancuran kota Niniwe begitu detail sampai tidak bersisa sama sekali. Hukuman Allah adalah pasti, karena sifat Allah yang cemburu dan pembalas. Pembalasan kepada lawan-lawan-Nya (Nah. 1), dan sifat-Nya yang tidak berubah, tetap, dan pasti, maka hukuman-Nya juga adalah pasti.

Hukuman Allah tidak dapat dibatalkan, maka jangan menganggap remeh kesempatan yang Tuhan berikan dan jangan melakukan dosa lagi saat sudah bertobat. Kota Niniwe pernah bertobat di dalam pelayanan Nabi Yunus, namun mereka berdosa lagi karena tidak menjaga kesetiaan kepada Tuhan. Mereka kembali hidup di dalam kebiadaban bangsa Asyur.

Tuhan mempermalukan Asyur di hadapan seluruh bangsa. Kondisi Asyur pada bagian ini bertolak belakang dengan Asyur yang dahulu. Asyur yang mulia, terkemuka, dan kaya raya menjadi hina sekali. Ayat 6 menubuatkan kondisi yang kontras dengan kondisi Asyur yang dahulu. Dahulu, Asyur adalah kerajaan yang sangat dihormati, dan bangsa-bangsa harus membayar upeti berupa benda-benda berharga atau hasil peternakan dan pertanian suatu bangsa, tetapi Tuhan akan melawan Asyur dan melemparkan barang najis7 dan membuat Asyur seperti orang bodoh. Asyur yang menuntut hormat dari bangsa-bangsa akan dicemooh sebagai kerajaan yang bodoh oleh bangsa-bangsa yang pernah dijajah Asyur. Perbuatan Allah ini yang dimaksud pada ayat 5 sebagai perbuatan yang mempermalukan Asyur pada semua bangsa dan kerajaan yang dijajah Asyur.

Pada ayat 7, Asyur akan menerima balasan yang sepadan atas segala dosa dan kekejian yang pernah Asyur lakukan kepada bangsa-bangsa lain. Asyur yang pernah melakukan pembantaian massal dan pelenyapan suatu bangsa akan diperlakukan demikian dan akan dipertontonkan kepada semua bangsa. Kebinasaan yang dilakukan Asyur akan berbalik menimpa Asyur, bukan karena karma tetapi karena pembalasan dari Allah. Kebinasaan ini digambarkan seperti serigala yang sedang berburu, korbannya akan dikejar, diserang, dan dicabik-cabik oleh cakar dan taring serigala. Allah juga menilai adil untuk Asyur menerima hukuman ini, maka tidak seharusnya dan tidak boleh ada yang meratapi hukuman yang Allah berikan kepada Niniwe, karena keputusan Allah adalah adil. 

Selain menubuatkan penghakiman Tuhan atas Niniwe, Kitab Nahum juga sekaligus menyatakan kesetiaan Allah kepada umat-Nya, bangsa Israel. Penjajahan Yehuda oleh Niniwe memang merupakan hukuman, namun Allah tidak pernah melupakan janji-Nya, yaitu Allah akan membuat Israel menjadi suatu bangsa yang besar. Allah tidak pernah melupakan umat pilihan-Nya Israel. Meskipun Allah memang menghukum bangsa ini karena dosanya, namun Allah pada akhirnya akan membela bangsa Israel dengan kekuatan Allah sendiri.

Begitu juga dengan kita, anugerah yang kita dapatkan hari ini juga tidak akan terus ada. Tuhan memang setia kepada umat-Nya, tetapi kita tidak boleh take it for granted. Selain setia, kita juga perlu ingat bahwa Ia adalah Allah yang cemburu, yang setiap saat bisa mencabut anugerah-Nya jikalau sebagai umat-Nya kita tidak menunjukkan kesetiaan. Tebe dan Niniwe juga dahulunya adalah kota yang makmur tetapi kemudian hancur. Hukuman Allah pasti pada yang berdosa. Begitu juga dengan kita. Iman bukan soal terima sekali saja lalu dibiarkan, tetapi iman harus terus dipelihara. Kita suka menyepelekan hal ini. Sebagai orang Reformed, kita sudah tahu doktrin predestinasi. Kita pikir asal sudah selamat dan masuk sorga maka sudah selesai tugas kita. Iman Kristen bukan hanya soal keselamatan, tetapi juga soal pertumbuhan dan perkembangan hidup. Theologi Reformed mengajarkan kita untuk mempersembahkan seluruh hidup kita untuk Tuhan. Setiap inci hidup kita boleh memuliakan Tuhan. Di dalam gereja, sekolah, kuliah, kerja, berkeluarga atau tidak berkeluarga, mendidik anak, dan sebagainya, benar-benar seluruhnya mempermuliakan nama Tuhan. Di dalam Gerakan Reformed Injili, kita diajarkan tanggung jawab kita di dalam mandat Injil dan juga mandat budaya. Ada banyak wadah yang disediakan oleh gerakan ini di mana kita bisa berbagian di dalamnya, misalnya di dalam mandat Injil ada KKR Regional, KPIN (Kebaktian Pembaruan Iman Nasional), kita bisa berbagian sebagai humas atau penatalayan, dan sebagainya. Lalu di dalam mandat budaya, gerakan ini juga sudah menyediakan wadah berupa Aula Simfonia Jakarta, Calvin Institute of Technology, Sekolah Kristen Calvin, museum, dan sebagainya. Masih sedikit sekali orang yang mau berbagian di dalam wadah-wadah ini. Selain itu, sebagai pemuda Reformed Injili, harusnya kita juga mempertanggungjawabkan ilmu yang telah kita dapatkan. Kita mungkin kuliah dari sarjana, master, sampai doktor, apakah kita sudah benar-benar mempertanggungjawabkan ilmu yang kita terima untuk memuliakan nama Tuhan? Dengan demikian, melalui Kitab Nahum kita belajar natur Allah yang adil, pembalas orang-orang berdosa, sekaligus adalah Allah yang setia kepada janji-Nya. Oleh karena itu sebagai umat-Nya, marilah kita dengan setia menjalankan seluruh kehendak Allah yang sudah dinyatakan di dalam firman-Nya.

Susan Doelia
Pemudi FIRES

Endnotes:
The World Book Encyclopedia Volume I, ed. J. Morris Jones (Chicago: Field Enterprises Educational Corporation, 1959), 490.
Dictionary of the Old Testament: Historical Books, 104.
New Bible Commentary Third Edition, ed. D. Guthrie, J. A. Motyer, A. M. Stibbs, D. J. Wiseman (Leichester: Inter-Varsity Press, 1984), 762.
Dictionary of the Old Testament: Historical Books, ed. Bill T. Arnold & H. G. Williamson (Nottingham: Inter-Varsity Press, 2005), 98.
Andrew, 656.
New Standard Encyclopedia Volume I, ed. Douglas W. Downey (Chicago: Standard Educational Corporation, 1970), A-692.
Barang najis ini serupa dengan makanan yang diharamkan Israel, berupa binatang berkaki empat yang bukan golongan kambing, domba, atau sapi, binatang laut yang tidak bersisik, dan burung-burung najis.

Susan Doelia

Juli 2019

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk rangkaian Grand Concert Tour 2019 di Kaohsiung, Taipei, dan Hong Kong pada tanggal 15-21 Juli 2019.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
baik

Selengkapnya...

saya mau bertanya aja, kalau di katakan bahwa "when they were created, human can be self-centered",...atau...

Selengkapnya...

Terima kasih untuk renungan tentang kasih Allah.

Selengkapnya...

Asumsikan ada terbatas banyaknya bilangan genap jika dan hanya jika terdapat M yang merupakan bilangan terbesar dari...

Selengkapnya...

YESUS BERJANJI AKAN KESELAMATAN JEMAAT-NYA SAMPAI AKHIR ZAMAN, GEREJA KATOLIK TERBUKTI EKSIS SAMPAI SEKARANG DAN...

Selengkapnya...

© 2010, 2019 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲