Artikel

I Will Fill This House with Glory: Biblical Theology of God's Temple from Genesis to Haggai (Part 1)

“Oleh karena rumah-Ku yang tetap menjadi reruntuhan, sedang kamu masing-masing sibuk dengan urusan rumahnya sendiri.” Kutipan dari ayat 9 mungkin merupakan salah satu ayat yang begitu memberi dampak bagi setiap kita yang pernah membaca Kitab Hagai. Tidak dapat dipungkiri, permasalahan utama di dalam kitab tersebut adalah mengenai pembangunan Rumah Allah oleh bangsa Israel yang sudah kembali dari pembuangan. Namun, mengapa Allah begitu mempermasalahkan rumah-Nya? Bukankah Dia adalah Allah yang Mahahadir dan mengapa Dia mempermasalahkan sebuah ruang (space) khusus di bumi? Bukankah Dia hadir di dalam seluruh sudut ciptaan-Nya? Lalu mengapa sebuah bangunan menjadi penyebab kemarahan-Nya kepada bangsa Israel?

Di dalam pembahasan ini, kita akan melihat signifikansi tempat kediaman Allah secara khusus di dalam Bait-Nya di Kitab Hagai. Namun, pada bagian pertama dari pembahasan ini, kita akan menelusuri latar belakang agama di Timur Dekat Kuno (Ancient Near East) yang berada bersampingan dengan agama Israel dan bagaimana ada kemiripan konsep antara Bait Allah di Israel dengan bait bagi dewa-dewa bangsa sekitarnya. Setelah itu, kita akan menelusuri bagaimana konsep “Bait Allah sebagai tempat kediaman” dibukakan di dalam sejarah keselamatan yang dimulai dari Kitab Kejadian lalu berkembang secara progresif dari narasi penciptaan hingga masa pascapembuangan yang adalah masa di mana Nabi Hagai melayani. Lalu, dengan mengetahui latar belakang sejarah keselamatan dan budaya Timur Dekat Kuno, kita dapat melihat signifikansi dari pembangunan Bait Allah di dalam Kitab Hagai yang akan dibahas di bagian kedua dari pembahasan ini.

Rumah dan Budaya Timur Dekat Kuno
Rumah merupakan suatu hal yang begitu umum di dalam kehidupan manusia. Bahkan, orang yang tidak memiliki atau menyewa sebuah properti pun memiliki rumah saat ia menjadikan kolong jembatan sebagai tempat tidurnya. Sebuah rumah bukanlah sekadar tumpukan bata dan semen. Bukan sekadar sebuah bangunan dengan atap, pintu, dan jendela. Namun, sebuah rumah adalah ruang yang dikhususkan oleh seorang manusia untuk hidup atau bagi seseorang yang mengklaim ruang tersebut sebagai miliknya. Rumah adalah sebuah tempat atau space khusus yang diambil dari keseluruhan alam semesta untuk kediaman sang pemilik ruang tersebut. Sebuah rumah adalah sebuah tempat di mana kehendak dari sang pemilik jadi, atau dengan kata lain, sebuah tempat yang adalah ekspresi dari diri dan kepribadian sang pemilik. Sebuah rumah adalah tempat di mana sang pemilik menyatakan kedaulatan dan kekuasaannya. Dengan modal tirai yang digelar di kolong jembatan, orang tersebut dapat menata sesuai keinginannya. Dia yang memutuskan posisi bantalnya di mana, dia juga yang memutuskan barang-barang yang akan ia letakkan di sekitar tempat tidurnya.

Selain itu, kita juga tidak bisa memungkiri bahwa sebuah rumah adalah sebuah tempat seseorang berlindung. Berlindung dari segala mara bahaya yang mengancam hidup manusia. Tempat berteduh di tengah hujan dan badai. Tempat menyejukkan diri di tengah terik matahari. Atau juga mungkin tempat berlindung dari manusia-manusia yang menyebalkan, tetapi juga bisa menjadi tempat sahabat karib dan keluarga kita berkumpul untuk berbagi cerita. Bagi setiap orang yang sudah bekerja dengan letih lesu di tengah hiruk pikuk kota, rumah juga adalah sebuah tempat istirahat. Rumah adalah tempat yang kita rindukan setelah hari yang meletihkan. Bahkan, kita semua bekerja membanting tulang demi membeli rumah dan merawat rumah kita. Pada intinya, rumah merupakan salah satu aspek yang penting di dalam kehidupan manusia.

Namun, hal yang penting untuk kita ketahui adalah seluruh aspek dari hidup manusia juga bersifat religius. Ini dikarenakan seluruh hidup dan keberadaan kita bergantung kepada dan senantiasa menghadap Allah Tritunggal. Pembangunan rumah, atau dengan kata lain, pengkhususan sebuah ruang (sanctification of space) merupakan bentuk ketaatan atau ibadah kita kepada Allah yang berdaulat atas manusia sebagai gambar dan rupa-Nya, atau bisa juga merupakan bentuk ketaatan atau ibadah kita kepada ilah-ilah lain di mana manusia mengklaim kedaulatannya atas ruang ciptaan Allah. Di dalam konteks budaya Timur Dekat Kuno yang bersinggungan dengan budaya Israel di Perjanjian Lama, bangsa-bangsa di daerah Mesopotamia dan sekitarnya membangun rumah bagi tempat kediaman ilah-ilah mereka. Mengkhususkan sebuah ruang untuk tempat kediaman sebuah ilah merupakan sebuah budaya yang mendarah daging di dalam keagamaan di dalam tradisi Timur Dekat Kuno. Di tempat inilah juga rakyat dengan wakil mereka (imam atau raja) menyembah ilah-ilah mereka, menjadikan tempat tersebut sebagai titik temu antara yang disembah dan yang menyembah. Pembuatan rumah bagi ilah-ilah ini bukan sekadar memberikan suatu tempat tinggal atau kavling bagi ilah tersebut di tengah-tengah umatnya. Tetapi, pekerjaan ini merupakan bentuk usaha para penyembah untuk membuat fotokopi dari tempat kediaman orisinal ilah tersebut.

Kuil-kuil yang dibangun oleh manusia ini adalah gambaran dari rumah sang dewa di langit atau gambaran dari seluruh alam semesta sebagai tempat kediaman dewa yang memiliki alam semesta. Contohnya, di dalam literatur Enuma Elish, kuil bagi dewa Marduk merupakan salinan dari tempat kediamannya di sorga. Firaun Thutmosis III dan Ramses III membangun rumah bagi dewa Amon dan membuatnya dengan motivasi untuk menyerupai sorga atau langit sebagai tempat Amon berdiam. Bahkan, bukan sebuah hal yang aneh pada masa itu jika kuil-kuil di dalam budaya Mesir dipanggil sebagai “sorga” di atas bumi. Selain itu, Raja Gudea dari Mesopotamia Selatan membangun kuil bagi dewa Ningirsu atau Ninurta seturut dengan bintang dewa tersebut, membangunnya menjulang tinggi seperti awan-awan di langit yang adalah tempat kediaman dewa, dan dengan penuh gemerlap seperti cahaya bulan yang bersinar. Sehingga, kediaman dewa Ninurta di langit digambarkan melalui kuil yang dibangun oleh Raja Gudea.

Di dalam Perjanjian Lama, bangsa Israel pun juga hidup di tengah-tengah konteks budaya Timur Dekat Kuno. Sehingga, tidak mengherankan bahwa di dalam sejarah Israel, kehidupan beragama mereka memiliki kemiripan dengan tradisi Timur Dekat Kuno. Di dalam Mazmur 78:69, dikatakan bahwa “He (YHWH) built His sanctuary like the high heavens, like the earth, which he has founded forever” (ESV). Tempat kediaman Allah di dalam Bait-Nya menyerupai kediaman-Nya di sorga dan seperti keseluruhan alam semesta yang Ia ciptakan. Bait Allah merupakan sebuah mikrokosmos dari seluruh sorga dan bumi. Selain itu, seluruh pola dari Kemah Suci yang dibangun Musa merupakan derivasi dari pola Bait Allah di sorga yang ditunjukkan YHWH kepadanya di Gunung Sinai (Kel. 25:9, 40; Ibr. 8:5; 9:23-24). Di dalam 1 Raja-raja 8:12-13, Allah berkata bahwa Ia akan tinggal di tengah-tengah awan dan Salomo membangun Bait Allah yang tinggi (lofted). Seperti bait Marduk, Amon, dan dewa-dewa lain, kediaman Allah di Bait-Nya di Israel dibangun sebagai gambaran atau simbol dari kediaman Allah di sorga dan keseluruhan alam semesta.

Bagaimana kita sebagai orang Kristen menyikapi akan hal ini? Pengaruh budaya Timur Dekat Kuno kepada Israel ini bukan berarti Israel menciptakan agamanya sendiri dengan mengambil inspirasi dari agama-agama sekitarnya. Agama sejati yang diwahyukan oleh YHWH kepada bangsa Israel bukan merupakan buah dari agama-agama palsu yang dipraktikkan oleh bangsa-bangsa di sekitar Israel. Namun, agama-agama di sekitar Israel ini merupakan bentuk korupsi dari agama sejati, yaitu yang diwahyukan oleh YHWH kepada manusia sejak penciptaan. Bait-bait bagi para berhala merupakan bentuk korupsi dari konsep Bait Allah yang benar yang sudah diwahyukan kepada manusia sebagai gambar dan rupa Allah. Dengan bergulirnya sejarah, wahyu khusus Allah mengenai Bait-Nya yang benar hanya diberikan kepada kaum pilihan Allah, yaitu Israel. Agama di dalam budaya Timur Dekat Kuno membangun kuil-kuil berhala berdasarkan wahyu umum Allah yang sudah didistorsi, sedangkan umat Allah, yaitu bangsa Israel, membangun Bait Allah berdasarkan wahyu khusus Allah di dalam sejarah.

Hal ini serupa dengan manusia yang tidak percaya, yang tetap adalah gambar dan rupa Allah, namun mereka sakit, terdistorsi, dan mengarah ke arah yang salah. Terlebih lagi, kita juga bisa melihat bahwa bangsa Israel mengadopsi kebijaksanaan yang bersifat umum di budaya sekitarnya, lalu menafsirkannya di dalam terang wahyu Allah. Hal ini pun memiliki tujuan yang bersifat polemis terhadap budaya sekitarnya. Salah satu contohnya adalah Mazmur 29 yang memiliki kemiripan dengan himne dari bangsa Ugarit dari tanah Kanaan yang menggambarkan dewa kesuburan Baal sebagai dewa yang berkuasa atas alam semesta. Namun, pemazmur menggunakan latar belakang budaya ini untuk menunjukkan secara polemik bahwa hanya YHWH yang berdaulat atas ciptaan-Nya. Sehingga kita bisa melihat walau wahyu Allah yang dimiliki Israel berasal dari YHWH, satu-satunya Allah yang hidup, namun penulisan wahyu tersebut tidak pernah terlepas dari konteks budaya dan sosial pada zaman itu di mana penulis manusianya berinteraksi dengannya.

Rumah Allah di dalam Narasi Penciptaan dan Sejarah Keselamatan
Dengan pengertian ini, kita juga bisa melihat bagaimana wahyu khusus Allah kepada bangsa Israel mengenai tempat kediaman-Nya terungkapkan di dalam sejarah keselamatan Israel. Dimulai dengan Kitab Kejadian, di mana penciptaan bukanlah sekadar menyatakan Allah adalah Pencipta alam semesta. Namun, di dalam keseluruhan narasi ciptaan, Allah sedang membentuk sebuah tempat kediaman bagi diri-Nya dan tempat di mana manusia boleh menikmati kehadiran Allah serta menyembah Dia. Secara khusus, Taman Eden adalah tempat khusus di mana Allah berinteraksi dengan manusia. Taman Eden merupakan tempat yang dikhususkan Allah dari seluruh bumi, di mana di tempat tersebut Allah hadir bersama-sama dengan umat manusia untuk bersekutu dengan mereka. Hal ini menunjukkan bahwa Allah yang hidup tidak hanya Allah yang transenden dan melampaui ciptaan-Nya, Allah yang sejati yang berbeda secara kualitatif dari ciptaan-Nya, tetapi Ia juga adalah Allah yang bersemayam bersama dengan ciptaan-Nya dan bersekutu dengan manusia sebagai gambar-Nya. Sehingga, Taman Eden, seperti Kemah Suci dan Bait Allah, merupakan suatu tempat yang dikhususkan dan dikuduskan oleh Allah sebagai tempat kediaman-Nya.

Banyak sekali fitur atau komponen di dalam Bait Allah yang ada di dalam sejarah keselamatan Israel yang memiliki paralel dengan Taman Eden. Misalnya, Allah berjalan di tengah-tengah Israel melalui tabut perjanjian (2Sam. 7:6-7; Ul. 23:14; Im. 26:12) sebagaimana Allah juga berjalan di Taman Eden (Kej. 3:8). Pintu masuk/keluar dari Taman Eden dan Bait Allah terletak di bagian timur (Kej. 3:24; Kel. 25:18-22; 26:31; 1Raj. 6:23-29). Sungai yang mengalir dari Eden (Kej. 2:10) menyerupai gambaran di dalam Yehezkiel 47:1-12 tentang Bait Allah saat penggenapan waktu. Gordon Wenham dan Gregory Beale juga berpendapat bahwa kandil di dalam Bait Allah (Kel. 25:31-36) menggambarkan akan pohon kehidupan yang ada di tengah Taman Eden. Sehingga kita bisa melihat bahwa Taman Eden merupakan tempat kediaman Allah yang pertama dan model dasar dari segala pembangunan Rumah Allah di dalam keseluruhan sejarah keselamatan. Kemah Suci di dalam Keluaran dan Bait Allah di zaman Salomo merujuk kepada rancangan Allah akan Taman Eden sebagai tempat kediamaan Allah di tengah-tengah umat-Nya. Dengan ini kita bisa melihat bahwa menikmati kehadiran Allah di tengah-tengah umat-Nya melalui tempat yang dikhususkan merupakan suatu hal yang natural sejak penciptaan.

Selain itu, setelah 6 hari bekerja menciptakan alam semesta dan segala isinya, Allah beristirahat di hari ketujuh. Setiap hari, terdapat sebuah pola di mana Allah memulai tiap harinya dengan “Berfirmanlah Allah”. Pola yang mirip dapat ditemukan juga di dalam narasi pembangunan Kemah Suci di bawah pimpinan Musa, di mana terdapat tujuh kali Allah berkata, “TUHAN berfirman kepada Musa” (Kel. 25:1; 30;11, 17, 22, 34; 31:1, 12). Setelah pembangunan Kemah Suci itu, di dalam Keluaran 40:34-35 dikatakan bahwa awan menutupi kemah tersebut dan kemuliaan TUHAN memenuhi Kemah Suci, sebagaimana Allah diam dan beristirahat di tengah ciptaan-Nya di hari ketujuh setelah Ia selesai membangun tempat kediaman-Nya, yaitu alam semesta. Saat Allah berdiam di hari ketujuh ataupun di Kemah Suci, hal ini bukan berarti Allah “istirahat” dalam pengertian seorang manusia mengambil waktu rehat dan meninggalkan pekerjaannya. Namun, peristirahatan ini merupakan bentuk pernyataan kedaulatan Allah sebagai Sang Raja.

Allah menunjukkan kedaulatan-Nya atas bumi yang tadinya tak berbentuk, kosong, dan dipenuhi gelap gulita. Allah menunjukkan kedaulatan-Nya atas segala berhala Mesir setelah membawa umat-Nya keluar dari tanah perbudakan. Allah menunjukkan kedaulatan-Nya atas segala bangsa Kanaan yang melawan YHWH setelah Ia membawa seluruh umat-Nya menduduki Tanah Perjanjian dan melawan musuh-musuhnya sehingga memberikan keamanan bagi umat-Nya (1Raj. 5:4-5). Setelah damai dan keamanan terjamin bagi bangsa Israel, Salomo membangun Bait Allah dengan megahnya. Setelah Israel selesai menduduki Tanah Perjanjian dan meneguhkan kekuasaan Allah setelah membasmi seluruh musuhnya, Allah beristirahat untuk menyatakan kedaulatan-Nya melalui pembangunan Bait Allah oleh Salomo. Hal ini juga mengukuhkan nubuat Nabi Natan kepada Raja Daud di 2 Samuel 7:12-13. Hal tersebut juga merujuk kepada janji Allah bagi Israel di Keluaran 15:17-18 yang menyatakan pekerjaan Allah untuk membawa Israel ke tempat kediaman Allah di mana Ia memerintah selama-lamanya. Sehingga, dengan merujuk kepada pola 7 hari dalam narasi penciptaan, pembangunan Bait Allah merupakan bentuk pernyataan kedaulatan dan Kerajaan-Nya. Sebagaimana Allah bekerja selama 6 hari dan menyatakan kedaulatan-Nya dengan beristirahat di hari ketujuh, maka Allah juga berdiam di Bait-Nya setelah Ia selesai mengerjakan keselamatan bagi bangsa Israel dan mengukuhkan Kerajaan-Nya.

Setelah kita melihat bahwa Taman Eden merupakan Bait Allah yang pertama dan yang menjadi dasar dari Bait Allah di dalam sejarah keselamatan, kita bisa menyimpulkan bahwa Adam yang Allah tempatkan untuk melayani-Nya dengan menjaga taman tersebut memiliki fungsi imam sebagai seorang yang ditugaskan untuk merawat taman tersebut. Selain itu, Taman Eden merupakan tempat peristirahatan Allah setelah mencipta selama 6 hari untuk menunjukkan kedaulatan Allah sebagai Raja atas ciptaan, maka Adam memiliki fungsi raja sebagai gambar Allah yang diperintahkan Allah untuk memerintah dan mengatur taman tersebut. Terlebih lagi, di dalam Kejadian 1:26-28, Allah memerintahkan manusia, “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Perintah ini tidak hanya berarti Adam diperintahkan untuk sekadar membuat sebuah keturunan yang banyak dan mengusahakan seluruh alam semesta. Tetapi, sebagaimana Taman Eden ialah tempat kediaman Allah dan tempat manusia bersekutu dengan Allah, maka Adam diperintahkan untuk menyebarkan kemuliaan Allah di Taman Eden ke seluruh sudut bumi.

Tujuan dari Adam sebagai gambar Allah ialah untuk membuat keseluruhan bumi menjadi tempat seperti Taman Eden. Dengan kata lain, Allah memerintahkan Adam untuk menyebarluaskan tempat kediaman Allah ke seluruh dunia sehingga kemuliaan Allah memenuhi seluruh ciptaan-Nya. Menjadi gambar Allah tidak hanya berarti Adam harus menjadi imam yang menjaga dan merawat Bait Allah, yaitu Taman Eden, agar seluruh ciptaan menyembah Allah. Menjadi gambar Allah tidak hanya berarti Adam harus menjadi raja yang mewakili Allah, Sang Raja, untuk memerintah atas seluruh Taman Eden. Tetapi, menjadi gambar Allah berarti Adam harus memperluas kehadiran suci Allah ke seluruh penjuru dunia.

Tidak dapat dipungkiri bahwa Adam gagal di dalam melaksanakan perintah Allah di dalam Kejadian 1:28 setelah ia dan Hawa jatuh ke dalam dosa dan dibuang dari Taman Eden. Namun, kita juga mengetahui bahwa pascakejatuhan, Allah tidak hanya menghukum Adam dan Hawa, tetapi juga memberikan pengharapan akan keselamatan. Walau Adam harus mengerjakan tanah dengan penuh penderitaan, ia tetap dapat bekerja dan menaklukkan bumi. Walau Hawa harus mengalami derita dalam mengandung dan melahirkan anak, Hawa tetap adalah ibu dari semua yang hidup. Terlebih penting adalah janji akan adanya benih perempuan yang akan meremukkan benih ular dalam Kejadian 3:15. Sehingga dengan ini, Allah akan memelihara keturunan Adam, khususnya dari jalur Set.

Setelah Adam, Allah memberkati Nuh dan keturunannya serta berfirman kepada mereka, “Beranakcuculah dan bertambah banyaklah serta penuhilah bumi” (Kej. 9:1, 7). Setelah Adam gagal menaati Allah untuk menyebarkan kehadiran Allah dan malah mendatangkan dosa, Adam dan keturunannya terkutuk di dalam dosa. Keturunan Adam melalui Kain menjadi kelompok manusia yang tidak takut akan Allah, namun Allah memelihara keturunan Set di dalam takut akan Tuhan. Namun, di dalam Kejadian 6, keturunan Set pun bersekutu dan berkawin campur dengan keturunan Kain, sehingga mengakibatkan penyesalan Tuhan terhadap manusia dan membuat-Nya mendatangkan air bah untuk menghukum manusia. Namun, Tuhan juga memelihara Nuh dan keluarganya setelah penghukuman tersebut. Lalu, Nuh membangun sebuah mezbah dan mempersembahkan korban bakaran di atas mezbah tersebut (Kej. 8:20). Setelah Tuhan mencium persembahan yang harum itu, Ia memberikan janji-Nya dan juga memberikan mandat yang merujuk kepada Kejadian 1:28. Kita melihat adanya kesinambungan antara mezbah persembahan dan mandat Allah tersebut. Sebagaimana Adam diberikan mandat tersebut di dalam sebuah lingkungan yang menyatakan kehadiran Allah secara khusus yaitu Taman Eden, maka Nuh pun diberikan mandat tersebut setelah ia membangun sebuah mezbah persembahan yang menyatakan kehadiran Allah di tengah umat-Nya di dalam pekerjaan keselamatan.

Hal yang serupa terjadi kepada Abraham. Abraham, seperti Nuh, juga menerima mandat yang diberikan Allah kepada Adam walau mandat tersebut mengalami kontekstualisasi sesuai dengan narasi sejarah keselamatan di saat itu, misalnya di dalam pernyataan janji Allah kepada Abraham di Kejadian 12:2-3, di mana Allah berjanji akan membuat Abraham menjadi bangsa yang besar, akan memberkatinya dan bahwa dia akan menjadi berkat bagi seluruh kaum di muka bumi. Sama seperti Kejadian 1:28, Allah memberkati Abraham, berjanji akan membuat keturunannya banyak (Kej. 17:2, 6; 22:17), dan bahwa keturunan Abraham ini akan menaklukkan musuh-musuhnya dan berkuasa atas bumi (Kej. 22:17-18). Terlebih lagi, seperti Adam diperintahkan untuk pergi menyebarkan kehadiran Allah di seluruh bumi, Abraham dan keturunannya ditugaskan untuk menjadi berkat bagi seluruh kaum di muka bumi.

Setelah melihat Allah yang menampakkan diri-Nya kepada Abraham, Abraham juga berkemah di pegunungan dan membangun sebuah mezbah bagi Tuhan dan memanggil nama-Nya (Kej. 12:7-8; 13:18). Bahkan, janji Allah di dalam Kejadian 22:17-18 juga diberikan di dalam konteks setelah Allah menghentikan persembahan Ishak oleh Abraham di atas mezbah di Gunung Moria. Dengan ini, kita bisa melihat kembali pola yang berulang, yaitu janji dan mandat Allah untuk menyatakan kemuliaan dan kehadiran-Nya melalui umat-Nya ke seluruh bumi disertai dengan lambang kehadiran Allah secara lokal di tengah umat-Nya.

Di masa Musa, kehadiran Allah di tengah-tengah umat-Nya pertama-tama dinyatakan di Gunung Sinai. Bangsa Israel diperintahkan untuk beribadah kepada Allah di Gunung Sinai setelah Allah menyelesaikan pekerjaan keselamatan-Nya membawa Israel keluar dari tanah Mesir (Kel. 3:12). Terlebih lagi, begitu banyak kesinambungan antara Gunung Sinai sebagai tempat ibadah bagi bangsa Israel dan Kemah Suci yang dibangun setelahnya. Pertama, Gunung Sinai dikatakan sebagai “Gunung Allah” (Kel. 3:1; 18:5; 24:13), di mana terminologi ini kerap ditujukan kepada Bait Allah yang berdiri di Gunung Sion (Yes. 2:2; 25:6; 56:7; Mik. 4:1-3). Kedua, seperti Tabernakel dan Bait Allah, Gunung Sinai juga dibagi menjadi tiga lapisan, yaitu: mayoritas bangsa Israel yang berdiri di kaki gunung (Kel. 19:12, 23), para imam dan tujuh puluh tua-tua di tempat yang lebih tinggi (Kel. 19:22; 24:1), dan tempat tertinggi yang hanya boleh dihampiri oleh imam besar yaitu Musa (Kel. 24:2). Ketiga, puncak dari Gunung Sinai tidak hanya adalah tempat di mana imam besar berada di sana, tetapi juga adalah tempat di mana Allah tinggal dan bersemayam dengan tanda awan teofanik (Kel. 24:15-17), sebagaimana awan Allah bersemayam di atas Tabernakel (Kel. 40:35; Bil. 9:17-18, 22; 10:12) dan juga di Bait Allah yang dibangun oleh Salomo (1Raj. 8:12-13). Keempat, sebelum bangsa Israel keluar dari Mesir, Allah menampakkan diri-Nya di Gunung Sinai kepada Musa melalui semak duri yang menyala tetapi tidak dimakan api. Tempat tersebut merupakan tempat yang kudus yang merujuk kepada tempat mahakudus di dalam Kemah Suci dan Bait Allah. Selain itu, dari penampakan Allah kepada Musa di Keluaran 3 inilah, Allah memberikan mandat kepada Musa untuk mengeluarkan umat-Nya dari Mesir demi menggenapi janji Allah kepada Abraham, Ishak, dan Yakub (Kel. 3:6, 15-16), dan juga mengikuti pembahasan sebelumnya, menggenapi mandat yang Allah berikan kepada Adam di Kejadian 1:28. Selain itu, setelah YHWH menunjukkan kepada Musa model atau blueprint dari Kemah Suci dan segala perabotannya untuk Musa bangun, YHWH memerintah Israel untuk membangun sebuah tempat kediaman bagi Allah yang bersifat tidak statis (mobile) sehingga Allah senantiasa tetap tinggal dan bersemayam dengan umat-Nya di dalam perjalanan mereka menuju Tanah Perjanjian (Kel. 25:8, 9).

Perjalanan Kemah Suci menuju tempat perjanjian dapat dilihat sebagai sebuah proses penggenapan Allah untuk membawa bangsa-Nya kepada Tanah Perjanjian di mana Allah akan diam bersama umat-Nya di dalam ketenteraman karena Kerajaan Allah sudah diteguhkan. Maka dari itu, perjalanan Kemah Suci mempersiapkan pembangunan Bait Allah oleh Salomo di Yerusalem. Di dalam 1 Tawarikh 21, setelah Daud menghitung orang Israel, YHWH lalu merespons kegiatan Daud yang jahat di mata Allah dengan menurunkan penyakit sampar. Namun, YHWH pun menyesal melihat malapetaka yang Ia berikan, lalu YHWH berfirman kepada Daud untuk mendirikan mezbah bagi YHWH. Di tempat mezbah tersebut, Daud berkata, “Di sinilah rumah YHWH, Allah kita, dan di sinilah mezbah untuk korban bakaran orang Israel” (1Taw. 22:1).

Terlebih lagi, di dalam 1 Tawarikh 21:29-30 dikatakan bahwa di dalam konteks tersebut, Kemah Suci yang didirikan oleh Musa berada di Gibeon, sehingga tidak mungkin bagi Daud untuk pergi ke tempat tersebut untuk membawa persembahan di tempat yang biasa dilakukan. Hal ini bukan sekadar kebetulan, namun Allah sedang merencanakan untuk melaksanakan sebuah transisi dari Kemah Suci kepada Bait Allah yang permanen di Yerusalem. Selain itu, Gregory Beale menunjukkan bahwa Daud pun merujuk kepada mandat di Kejadian 1:28 saat ia memuji Allah di dalam persiapan pembangunan Bait Suci (1Taw. 29:10-12). Namun, yang berbeda di sini ialah jikalau Allah memerintahkan Adam untuk berkuasa dan menaklukkan segala alam semesta, di bagian ini Daud memberi sebuah pengakuan bahwa Allahlah yang Empunya kebesaran dan kekuasaan atas segala-galanya yang ada di langit dan di bumi.

Setelah Daud memuji Allah, Salomo pun diteguhkan sebagai raja (1Taw. 29:23) yang akan menggenapkan pembangunan Bait Suci. Hal tersebut menggenapi 2 Samuel 7, di mana Allah berjanji kepada Daud bahwa keturunannya, yaitu Salomo, akan mendirikan rumah bagi Allah dan Allah akan mengukuhkan takhtanya selama-lamanya. Perlu diingat bahwa peneguhan Kerajaan Allah melalui Salomo dan pembangunan Bait Allah ini terjadi setelah Allah mengerjakan keselamatan bagi umat-Nya, dan peneguhan kerajaan ini merupakan bentuk “peristirahatan” Allah seperti Ia juga beristirahat setelah selesai menciptakan alam semesta.

Namun, kita perlu mengingat bahwa kerajaan di bawah Salomo tidak kekal selama-lamanya dan penerus-penerusnya pun juga tidak dapat menggenapi nubuat 2 Samuel 7. Sejarah raja-raja merupakan sebuah sejarah yang kelam bagi umat Allah yang pada akhirnya pun berujung kepada pengasingan, atau lebih tepatnya, pembuangan. Apakah pembangunan Bait Suci dan perjalanan narasi yang mendahului pembangunan Bait Suci oleh Salomo ini merupakan kesia-siaan? Tidak. Kita akan melihat bahwa ternyata seluruh narasi ini merujuk kepada sebuah realitas yang melampaui segala pikiran manusia, yaitu Allah sungguh-sungguh hadir di tengah manusia di dalam pribadi dan karya Yesus Kristus, Sang Anak Allah. Bait Allah tidak hanya merujuk kepada apa yang Allah telah tetapkan di dalam tatanan ciptaan, khususnya di Taman Eden, tetapi juga merujuk kepada penggenapannya di dalam Kristus. Namun, di manakah letak narasi Kitab Hagai di tengah semuanya ini? Hal ini akan dibahas di bagian berikutnya.

Nathanael Sitorus
Mahasiswa STT Reformed Injili Internasional

Nathanael Sitorus

September 2019

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Kita mengucap syukur untuk penyertaan dan pemeliharaan Tuhan atas rangkaian Gospel Rally, Seminar, dan Grand Concert Tour di Australia dan Selandia Baru pada akhir Oktober dan awal November ini.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Dear Kartika. Seperti yg disampaikan di awal, Tuhan Yesus pun 'dipilih' Allah sebagai Juruslamat...

Selengkapnya...

Allah Tritunggal mengasihi manusia tidak terbatas, hanya sebagai ciptaan kita manusia memiliki keterbatasan menerima...

Selengkapnya...

wuih mantap jiwa. sangat menjadi berkat bagi saya. terimakasih ya

Selengkapnya...

Bgm caranya sy bs memiliki buletin pillar edisi cetak?

Selengkapnya...

@David Chandra : kan kita sama2 mengerti bagaimana Tuhan memulihkan Gereja-Nya dari reformasi melalui Martin Luther...

Selengkapnya...

© 2010, 2019 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲