Artikel

I Will Fill This House with Glory: Biblical Theology of God's Temple from Genesis to Haggai (Part 2)

Di dalam bagian pertama, kita sudah membahas mengenai kediaman Allah di dalam Bait-Nya dari Kejadian hingga masa Kerajaan Israel dikukuhkan oleh Daud hingga Bait Allah dibangun oleh Salomo. Kita juga sudah membahas bahwa Bait Allah merupakan gambaran dari seluruh alam semesta. Bait Allah di dalam narasi sejarah keselamatan pun ternyata merujuk kepada Taman Eden sebagai purwarupa, atau dengan kata lain, tempat kediaman Allah yang pertama. Taman Eden merupakan tempat khusus dari seluruh alam semesta di mana Allah bersemayam dan bersekutu dengan gambar dan rupa-Nya, yaitu manusia. Selain itu, Taman Eden merupakan tempat di mana Adam, sebagai wakil Allah, mengelola dan merawat Taman Eden sebagai tempat kediaman Allah dan menggenapi seluruh kehendak Allah. Terlebih lagi, Allah tidak hanya memerintah Adam untuk mengelolanya, tetapi juga untuk menyebarluaskannya sesuai dengan mandat, seperti yang dicatat dalam Kejadian 1:28. Adam diperintahkan untuk beranak cucu dan menaklukkan seluruh bumi serta segala isinya. Dengan kata lain, Allah memerintahkan Adam untuk memperluas Taman Eden dan mengukuhkan kedaulatan Allah atas seluruh sudut ciptaan hingga seluruh bumi penuh dengan kemuliaan Allah.

Namun, Adam telah gagal melaksanakan tugasnya sebagai wakil Allah karena ia tidak menaati kehendak Allah yang berdaulat. Namun, kita juga melihat bahwa setelah kejatuhan, Allah beranugerah untuk senantiasa mengerjakan keselamatan bagi seluruh ciptaan yang telah terkena kutukan dosa. Allah masih memungkinkan Adam untuk menaklukkan bumi dan mengerjakan tanah walau dengan penuh kesengsaraan, dan Hawa pun masih dapat menghasilkan keturunan walau penuh dengan penderitaan saat melahirkan. Dengan ini, mandat di dalam Kejadian 1:28 tetap dapat dijalankan dalam anugerah Allah walau menghadapi kesulitan akibat dosa.

Selain itu, di dalam perjalanan narasi sejarah keselamatan, Allah bekerja mengusahakan keselamatan secara progresif yang mengarah kepada sebuah restorasi bagi seluruh ciptaan yang telah terkena dampak dosa. Hal ini dilakukan-Nya dengan mengikatkan diri-Nya melalui perjanjian dengan umat-Nya, bersekutu bersama dengan mereka dan memakai mereka di dalam menggenapi kehendak-Nya untuk menghadirkan Kerajaan Allah di muka bumi. Ia mengukuhkan perjanjian-Nya dengan Nuh dengan mengulangi Kejadian 1:28, kemudian memanggil Abraham dan menjanjikan berkat kepada keturunannya serta sebuah Tanah Perjanjian untuk mereka hidup dan menetap. Setelah itu, YHWH memanggil Musa untuk menggenapi janji-Nya kepada Abraham dengan mengeluarkan Israel dari perbudakan. Lalu, YHWH kembali mengukuhkan relasi perjanjian dengan memberikan Taurat-Nya dan membangun Kemah Suci sebagai tanda kehadiran Allah di tengah umat-Nya. Perjalanan bangsa Israel yang disertai Tuhan ini pun memasuki Tanah Perjanjian dan Kerajaan Israel dikukuhkan melalui Daud. Allah meneguhkan perjanjian-Nya kepada Daud di dalam 2 Samuel 7, bahwa bukan Daud yang akan mengukuhkan Kerajaan Israel dengan membangun Bait Allah, namun hal itu akan dilakukan oleh Salomo. Dengan ini, pengukuhan Kerajaan Israel di masa Daud dan Salomo juga dinyatakan dengan pembangunan Bait Allah di Yerusalem.

Namun, sejarah Kerajaan Israel merupakan sebuah sejarah yang kelam karena setelah Salomo, kerajaan tersebut terbagi menjadi dua. Di dalam dua kerajaan ini, Israel dipimpin oleh raja-raja yang gagal di mata Allah dan berujung dengan hukuman Allah atas bangsa tersebut. Allah mengirimkan bangsa Asyur untuk menaklukkan kerajaan utara dan bangsa Babel menaklukkan kerajaan selatan. Di masa-masa inilah para nabi hidup dan dipanggil oleh YHWH untuk menyuarakan kehendak Allah. Mereka menyuarakan kutukan atas kegagalan raja-raja Israel dan Yehuda beserta bangsanya karena mereka tidak setia kepada YHWH dengan melanggar Taurat-Nya. Selain itu, para nabi juga menyuarakan sebuah harapan akan restorasi bagi umat Allah jika mereka dengan segenap hati bertobat dari keberdosaannya dan setia hidup menuruti Taurat Allah. Para nabi juga menyatakan bahwa YHWH akan menyelamatkan umat-Nya dan melakukan restorasi kepada umat-Nya beserta seluruh ciptaan.

Kesetiaan YHWH yang telah mengikatkan diri-Nya kepada umat-Nya melebihi ketidaksetiaan umat-Nya yang telah melacur dari YHWH. Melalui nabi-nabi-Nya, Allah menjanjikan sebuah masa di mana Allah akan membuat sebuah perjanjian baru (new covenant) dengan Israel, menaruh Taurat-Nya di dalam hati mereka, menetapkan takhta Daud selama-lamanya, membuat mereka hidup damai di tanah yang YHWH berikan, menaruh Roh-Nya ke dalam hati mereka dan bersemayam bersama dengan mereka (Yer. 31:31-34; Yeh. 36-37). Melalui penggenapan new covenant inilah, Allah menggenapkan pekerjaan keselamatan dan melakukan restorasi terhadap seluruh umat-Nya beserta segala ciptaan. Melalui new covenant inilah, Allah mendirikan Yerusalem Baru di mana seluruh bumi menjadi tempat kediaman Allah bersama umat-Nya. Dengan ini, seluruh bumi penuh dengan kemuliaan Allah dan Allah pun menggenapkan mandat yang Allah perintahkan kepada Adam di Kejadian 1:28.

Nabi Hagai, sebagai seorang nabi, menyuarakan kutukan dan harapan restorasi kepada umat Allah. Kebanyakan nabi terkenal yang kita ketahui, seperti Yesaya, melayani umat Allah di dalam masa pra-pembuangan ataupun di dalam masa pembuangan itu sendiri seperti Daniel. Tetapi Nabi Hagai adalah seorang nabi di masa pasca-pembuangan. Konteks umat Allah pada pelayanan Hagai adalah masa mereka telah kembali dari pembuangan, kembali dari masa penghukuman dan disiplin YHWH akibat pelanggaran mereka. Dalam hal ini, nabi-nabi pasca-pembuangan memiliki perbedaan dengan nabi-nabi lainnya. Namun, sama dengan nabi lainnya, nabi-nabi pasca-pembuangan juga menegur ketidaksetiaan umat Allah terhadap hukum dan perjanjian mereka kepada YHWH, serta menubuatkan harapan restorasi yang YHWH akan kerjakan dengan melaksanakan restorasi bagi seluruh ciptaan.

Lalu apakah hubungan antara pembuangan umat Allah dan Bait Allah? Di masa pembuangan, Bait Allah di Yerusalem dihancurkan oleh bangsa Babel sebagai lambang penghukuman YHWH kepada Israel. Penghancuran Bait Allah merupakan buah dari ketidaktaatan Israel kepada YHWH dan merupakan tanda bahwa YHWH telah mencampakkan Israel dari hadirat-Nya, layaknya Adam dicampakkan keluar dari Taman Eden yang merupakan tempat kediaman-Nya. Maka dari itu, kembalinya umat Israel ke Tanah Perjanjian merupakan awal mula pekerjaan restorasi Allah bagi umat-Nya dan merupakan pernyataan akan kasih setia-Nya kepada Israel. Terlebih lagi, jika pembuangan Israel dimulai dengan penghancuran Bait Allah, pembangunan Bait Allah di Yerusalem merupakan sebuah keharusan yang mengikuti kembalinya bangsa Israel ke Tanah Perjanjian. Hal ini serupa dengan saat Allah mengeluarkan Israel dari Mesir, maka Ia menetapkan di dalam Taurat-Nya untuk Israel membangun Kemah Suci. Selain itu, hal ini serupa dengan Bait Allah yang ditetapkan oleh Allah untuk dibangun oleh Salomo setelah Israel telah sampai ke Tanah Perjanjian dan Kerajaan Daud ditegakkan. Karena itu, perihal pembangunan Bait Allah yang begitu ditekankan oleh Nabi Hagai bukanlah sekadar karena Allah memerintahkannya, tetapi hal tersebut memiliki latar belakang sejarah yang begitu limpah sejak Kejadian hingga masa pasca-pembuangan.

Pembangunan Bait Allah bukan hanya sekadar sebuah aksesori di dalam ritual penyembahan Israel kepada YHWH ataupun peraturan tambahan yang bisa ditawar. Manifestasi kehadiran Allah di tengah umat-Nya harus diwujudkan di dalam suatu tempat yang konkret, yaitu Bait Allah sebagai kediaman-Nya. Bait Allah harus dibangun oleh bangsa Israel saat mereka kembali dari pembuangan karena Bait Allah merupakan hal yang esensial di dalam kehidupan manusia yang menyembah Allah. Kita sudah melihat bahwa sejak di Taman Eden, konsep tempat kediaman Allah di tengah umat-Nya merupakan konsep yang esensial di dalam penyembahan kepada YHWH. Bahkan nabi-nabi awal menyatakan pentingnya Bait Allah di dalam pekerjaan restorasi Allah kepada umat-Nya (Yes. 2:2-3; 44:28; Yeh. 40-48; Yl. 3:18; Mik. 4:1-2). Hal inilah yang menjadi akar permasalahan dari umat Allah di dalam narasi Kitab Hagai. Ia mengerti betul bahwa pembangunan Bait Allah setelah kembalinya bangsa Israel ke Tanah Perjanjian merupakan sebuah hal yang tidak dapat ditawar oleh umat perjanjian Allah. Hanya melalui kehadiran Allah di tengah umat-Nya sajalah berkat Allah diberikan dan janji untuk tinggal beserta umat-Nya digenapi.

Di dalam pasal pertama, Hagai mengetahui pentingnya pembangunan Bait Allah setelah bangsa Israel kembali dari pembuangan. Ia tidak puas melihat bangsa Israel yang menunda-nunda pekerjaan membangun Bait Allah. Di dalam ayat kedua, bangsa Israel menganggap waktunya belum tiba untuk membangun kembali Rumah Tuhan. Yang perlu diperhatikan di dalam ayat ini adalah bukanlah masalah keharusan membangun Bait Allah, karena seharusnya bangsa Israel sudah mengerti bahwa Bait Allah merupakan esensi di dalam hidup pemujaan mereka kepada YHWH. Tetapi, yang dipermasalahkan di sini adalah mereka berkata bahwa waktu untuk membangun Bait Allah belum tiba, atau dengan kata lain, mereka telah menentukan kapan sepatutnya Bait Allah dibangun. Alasan utama kelalaian Israel ialah setiap orang di dalam umat Israel memikirkan akan perkara mereka masing-masing dan malas dalam melakukan kehendak YHWH. Alasan mereka (ay. 2 dan 4) adalah mereka ingin mengurusi rumah mereka masing-masing. Dengan kata lain, bagi bangsa Israel, adalah baik di mata mereka untuk menentukan bahwa waktu itu bukanlah waktu untuk membangun Bait Allah, tetapi waktu bagi mereka untuk mengurusi urusan mereka masing-masing. Perlu diperhatikan bahwa hal ini tidak berarti bangsa Israel hidup mewah karena ayat 6, 9-11, menunjukkan bahwa mereka hidup di dalam masa yang sulit.

Maka, melihat keegoisan Israel, Nabi Hagai menyuarakan suara Allah agar bangsa Israel memperhatikan dan menilik kembali keadaan mereka. Nabi Hagai, di dalam kuasa Allah, secara sengaja melakukan sebuah intervensi di saat Israel mengurusi urusan pribadi mereka masing-masing. Ia tidak hanya sekadar mengimbau Israel untuk melihat keadaan mereka, tetapi mereka harus memperhatikan dan memikirkan keadaan mereka sekarang (“Now, therefore, thus says the LORD of hosts: Consider your ways” (ESV)). Nabi Hagai mengajak mereka untuk memperhatikan bagaimana kehidupan mereka di masa pasca-pembuangan merupakan hidup yang tidak diberkati.

Dalam ayat 6, Hagai mendeskripsikan secara ironis keadaaan bangsa Israel yang ditimpa kutukan. Apa yang bangsa Israel terima tidak sepadan dengan apa yang mereka kerjakan, dan apa yang mereka dapatkan tidak dapat memuaskan mereka. Mereka menabur banyak, namun hasilnya sedikit. Mereka makan, tetapi tidak sampai kenyang. Mereka bekerja mendapatkan upah, tetapi upah tersebut menjadi sia-sia karena ditaruh di dalam pundi yang berlubang. Ini menunjukkan sebuah inversi dari tatanan ciptaan yang sudah ditetapkan oleh Allah, dan hal ini tentu adalah akibat dari ketidaktaatan mereka kepada Allah. Ketidaktaatan bangsa Israel mengakibatkan seluruh ciptaan Tuhan pun “mengutuki” mereka. Hal ini merujuk kepada kutukan Allah kepada Adam setelah ia jatuh ke dalam dosa. Hal ini juga merujuk kepada kutukan yang berdasarkan perjanjian Allah dengan Musa kepada bangsa Israel jika mereka melanggar Taurat Allah (Ul. 28:13-68). Dengan ini kita bisa melihat, seperti nabi-nabi lain, Nabi Hagai menekankan deuteronomistic theology, yaitu berkat akan mengikuti ketaatan umat Allah kepada hukum-Nya, dan kutukan akan mengikuti pelanggaran umat Allah terhadap hukum-Nya. Dengan ini, Allah yang berdaulat atas ciptaan-Nya menggunakannya sebagai alat untuk mengutuki Israel atas ketidaktaatan mereka kepada-Nya. Ayat 9-11 menunjukkan motif yang serupa, namun di dalam ayat-ayat ini YHWH memperlihatkan keterlibatan-Nya secara personal di dalam keadaan bangsa Israel yang dikutuk. Allah sendiri yang “menghembuskan” seluruh hasil kerja mereka (ay. 9) dan Ia sendiri yang “memanggil kekeringan datang ke atas negeri” dan seluruh ciptaan (ay. 11). Terlebih lagi, kutukan yang dideskripsikan oleh Hagai merupakan kutukan di dalam bidang agraria atau pertanian. Hal ini terlihat bertolak belakang dengan nubuatan Nabi Amos yang menjanjikan adanya kelimpahan panen ketika YHWH mengerjakan restorasi bagi bangsa Israel (Am. 9:13-15). Namun hal ini tidak terjadi karena mereka masih tidak sepenuhnya setia kepada Allah walaupun mereka sudah kembali dari pembuangan. Sebagai umat Allah yang sudah dikembalikan Allah ke Tanah Perjanjian, seharusnya mereka mengalami sebuah hidup yang diberkati oleh Tuhan, tetapi mereka masih mengalami kutukan seperti mereka belum kembali dari pembuangan. Hal ini karena ketidaktaatan mereka. Dengan ini, Nabi Hagai menunjukkan bahwa keengganan bangsa Israel membangun Bait Allah berarti mereka belum sepenuhnya kembali kepada YHWH dan belum bertekad untuk mencintai-Nya dengan segenap hati dan jiwa mereka (Ul. 6:4-6). Walaupun mereka sudah kembali ke Tanah Perjanjian, bangsa Israel masih hidup di dalam ketidaksetiaan kepada YHWH seperti hidup mereka sebelum dibuang oleh YHWH.

Mengapa pembangunan Bait Allah ini begitu penting? Alasannya berada di ayat 8, yaitu agar Allah berkenan kepada pekerjaan mereka membangun Rumah-Nya dan menyatakan kemuliaan-Nya di tempat tersebut. Hal ini patut ditekankan karena motivasi dasar agar bangsa Israel segera membangun Rumah Allah bukanlah agar mereka terhindar dari hukuman Allah atau memaksa Allah memberkati mereka karena taat membangun Bait-Nya. Cara berpikir seperti ini mirip dengan theologi kemakmuran yang populer di zaman sekarang. Berbeda dengan itu, motivasi dasar yang diberikan Allah kepada bangsa Israel dalam menaati-Nya adalah perkenanan-Nya dan kemuliaan-Nya.

Bangsa Israel adalah pada dasarnya umat milik Allah yang sudah terlebih dahulu dikasihi oleh Allah dan sudah sepatutnya mereka menaati-Nya karena kehendak Allah ialah kegirangan bagi mereka. Penghukuman dan kutukan Allah sepatutnya mereka hindari bukan karena itu merugikan mereka, tetapi patut dihindari karena pelanggaran Taurat membuat sedih hati Allah yang sudah senantiasa mengasihi mereka dalam kasih setia-Nya. Kemuliaan Allah di ayat ini tidak hanya merujuk kepada kehormatan Allah yang ditinggikan akibat kesetiaan Israel kepada hukum-Nya. Tetapi sesuai dengan pola pembangunan tempat kediaman Allah dari seluruh Perjanjian Lama, tanda kehadiran Allah di tengah umat-Nya adalah kemuliaan Allah memenuhi tempat kediaman-Nya dan awan menutupi tempat kediaman-Nya tersebut (Kel. 16:10; 19:9-20; 24:15-18; 40:34-38; 1Raj. 8:10-11; 2Taw 5:13-14; 7:1-3; Yeh. 10:3-5; 43:1-5). Kehadiran dan penyertaan YHWH inilah yang seharusnya menjadi kerinduan setiap umat Allah. Namun, ketidaktaatan mereka untuk membangun Bait Allah mengakibatkan Allah tidak hadir bersama umat-Nya dan menjalankan pekerjaan pemulihan bagi seluruh ciptaan.

Melihat kondisi seperti ini, Zerubabel bin Sealtiel dan Yosua bin Yozadak pun tergerak, beserta seluruh umat, untuk menaati suara Allah yang disuarakan oleh Nabi Hagai. Lalu, mereka pun takut kepada Allah. Takut akan Allah merupakan bentuk ekspresi kesetiaan umat Allah kepada janji-janji Allah (covenant faithfulness). Mereka menyadari kedaulatan YHWH dan kasih setia-Nya atas mereka dan bertekad untuk menaati apa yang Ia kehendaki. Nabi Hagai, mewakili Allah, pun bereaksi terhadap respons mereka kepada YHWH dengan menyatakan bahwa YHWH beserta mereka (ay. 13). Kebesertaan YHWH dengan umat-Nya menyatakan akan pulihnya relasi antara YHWH dan bangsa Israel karena mereka berespons terhadap YHWH dengan pertobatan dan pembulatan tekad untuk membangun Bait Allah. Umat Allah menyelaraskan kehendak mereka dengan kehendak YHWH dan YHWH pun menyatakan kebesertaan-Nya dengan umat-Nya. Inilah pertobatan umat Allah. Melalui pertobatan mereka, Israel telah menyatukan kehendak mereka dengan kehendak YHWH. Kesatuan ini pun ditunjukkan dengan Allah menggerakkan semangat atau roh Zerubabel, Yosua, dan seluruh bangsa untuk membangun Bait Allah. Allah bergerak melalui kuasa Roh-Nya untuk menggerakkan roh-roh dari setiap umat-Nya. Hal ini merujuk kepada peristiwa hakim-hakim di mana Roh Allah menyertai dalam penyelamatan bangsa Israel. Dengan ini, kita juga bisa melihat adanya kesatuan kehendak dan semangat/roh antara YHWH dan umat-Nya. Bahkan, hal ini pun sudah diantisipasi di dalam ayat 12 di mana suara YHWH diidentifikasikan dengan perkataan Nabi Hagai. Sebagaimana YHWH telah menggerakkan Nabi Hagai sehingga perkataannya selaras dengan suara YHWH, maka YHWH pun sekarang menggerakkan seluruh bangsa Israel di dalam ketaatan sesuai dengan kehendak dan kuasa Roh Allah. Terlebih lagi, kesatuan ini juga selaras dengan salah satu tema utama yang ingin ditekankan oleh Nabi Hagai.

Kita melihat bahwa penggenapan janji eskatologis Allah kepada Israel, yaitu peneguhan Kerajaan Allah dan pemulihan seluruh ciptaan, digenapi dengan ketaatan umat Allah kepada YHWH. Umat Allah tidak hanya menikmati akan kebesertaan dan berkat dari YHWH yang menggenapi janji-Nya kepada umat-Nya, tetapi mereka sendiri pun juga harus bertanggung jawab untuk menggenapi janji tersebut. YHWH menggenapi janji-Nya untuk menghadirkan Kerajaan Allah dan hadir beserta umat-Nya dengan menggerakkan umat-Nya untuk bertanggung jawab dan berpartisipasi di dalam mendatangkan Kerajaan Allah melalui ketaatan mereka. Kedaulatan Allah dalam menggenapi janji-Nya tidak pernah meniadakan tanggung jawab umat-Nya, bahkan kita melihat bahwa kedua hal ini merupakan suatu kesatuan organik di dalam narasi Kitab Hagai.

Memasuki pasal kedua, setelah satu bulan, pembangunan Bait Allah mengalami suatu kendala karena umat Israel mengenang kembali akan kejayaan Bait Allah yang dibangun oleh Salomo (ay. 3) dan membandingkannya dengan Bait Allah yang sedang mereka bangun. Bait Allah yang sedang mereka bangun seperti tidak ada artinya dibandingkan dengan Bait Allah yang dibangun Salomo. Hagai pun memberikan sebuah balasan yang sangat menarik. Hagai tidak hanya memberikan kepastian akan kebesertaan Allah dalam pekerjaan mereka saat ini, tetapi ia juga menunjukkan bahwa pekerjaan restorasi Bait Allah pada saat itu masih bersifat sementara, dan menunggu realitas eskatologis yang menyatakan kemuliaan Bait Allah dengan lebih agung lagi. Sehingga, di pasal kedua, Nabi Hagai menunjukkan bahwa pembangunan Bait Allah tersebut pun bukanlah tujuan akhir atau penggenapan final dari janji eskatologis Allah kepada umat-Nya.

Di dalam ayat 4-5, YHWH berkata melalui Nabi Hagai agar Israel menguatkan hati mereka dan terus setia bekerja karena YHWH senantiasa menyertai mereka dan Roh-Nya tinggal beserta mereka. Bahkan, YHWH pun merujuk kembali kepada perjanjian-Nya kepada Israel di Sinai. Sehingga hal ini menyatakan bahwa setelah begitu banyak gejolak dan ketidaksetiaan yang meliputi sejarah Israel hingga saat itu, YHWH senantiasa tetap setia kepada perjanjian-Nya, khususnya di Sinai. Hal ini merupakan sebuah gema dari pasal pertama yang sudah dibahas. Namun, di dalam ayat 6-9, hal yang menarik di bagian ini adalah YHWH seperti merelativisasi pembangunan Bait Allah yang Ia sendiri kehendaki untuk Israel lakukan. Hal ini ditunjukkan dengan bagaimana YHWH menekankan janji eskatologis-Nya (peneguhan Kerajaan Allah dan pemulihan seluruh ciptaan melalui seorang Raja dari keturunan Daud), tetapi juga menyatakan bahwa hal tersebut akan digenapi di masa yang akan datang dan bukan pada saat itu. Bukanlah pada saat itu Ia akan mengguncang seluruh ciptaan dan memulihkannya, tetapi di masa yang akan datang Ia akan mengguncang seluruh bangsa agar seluruh bangsa tunduk dan mereka yang takut akan Allah datang ke Gunung Sion, tempat kediaman-Nya. Terlebih lagi, dikatakan bahwa bukanlah Rumah Allah yang sedang dibangun Israel pada saat itu yang akan melampaui kemuliaan Bait Allah yang dibangun Salomo, tetapi Rumah Allah yang kemudianlah yang akan melebihi kemuliaannya yang semula. Di dalam ayat 10-19, Nabi Hagai kembali merelativisasi pentingnya pembangunan kembali Bait Allah. Ia menyatakan bahwa jika seorang membawa sebuah daging kudus dan menyentuh roti yang dapat dimakan dan tidak membuat roti itu kudus, pembangunan Bait Allah yang sesuai kehendak Allah itu tidak membuat bangsa Israel menjadi bangsa yang kudus dan memulihkan relasi mereka dengan YHWH yang sudah hancur. Sebagaimana seseorang yang telah menajiskan dirinya dengan menyentuh mayat dan menyentuh daging dan membuat daging itu najis, maka sama halnya dengan bangsa Israel yang penuh kenajisan dan ketidaksetiaan akan menajiskan pekerjaan mereka dalam pembangunan kembali Bait Allah. Dengan ini, keberadaan Bait Allah yang sudah dibangun kembali tidak membuat mereka menjadi bangsa kudus yang setia kepada YHWH. Jika bangsa Israel masih hidup di dalam ketidakmurnian, ketidakadilan, dan ketidaksetiaan kepada YHWH, pembangunan Bait Allah menjadi najis. YHWH menginginkan mereka untuk memiliki pertobatan yang sejati dan kesetiaan dari hati mereka kepada perjanjian mereka dengan YHWH. Pertobatan palsu dan kesetiaan yang sementara merupakan hal yang sangat najis di hadapan Allah. Selain Ia menginginkan bangsa Israel untuk membangun Bait Allah, YHWH terlebih lagi menginginkan mereka untuk mempersiapkan Bait Allah di dalam hati mereka dengan pertobatan sejati dari hati mereka.

Sebagai penutup, kita bisa melihat pentingnya kediaman Allah yang bersekutu bersama dengan umat-Nya. Allah kita yang hidup ialah Allah yang tidak hanya berbeda secara kualitatif dengan ciptaan-Nya, tetapi Dia juga rela bersemayam dan tinggal bersama ciptaan-Nya. Allah ingin bersekutu dan berelasi dengan manusia di dalam keutuhan pribadi mereka. Hal ini pun juga membuka sebuah risiko di mana manusia secara aktif melawan Allah. Ketika hal itu pun terjadi, Allah di dalam kasih setia-Nya senantiasa bekerja di tengah ciptaan-Nya untuk mengerjakan keselamatan dan pemulihan bagi seluruh ciptaan yang telah jatuh ke dalam dosa, serta membangun tempat kediaman-Nya di tengah umat-Nya di dalam narasi sejarah keselamatan. Di dalam cerita inilah kita berpartisipasi, sebagaimana Nabi Hagai mengajak bangsa Israel untuk berpartisipasi di dalam penggenapan janji Allah melalui pembangunan Bait Allah. Kita dipanggil untuk dengan setia mengerjakan pekerjaan Allah yang Ia berikan kepada umat-Nya dalam mendatangkan Kerajaan Allah dan Yerusalem Baru di muka bumi ini. Terlebih lagi, di dalam Anak Allah, yaitu Yesus Kristus, kita dipersatukan dengan Dia dan berbagian di dalam pekerjaan-Nya untuk mendatangkan Kerajaan Allah hingga Kristus datang kembali. Amin.

Nathanael Sitorus
Mahasiswa STT Reformed Injili Internasional

Nathanael Sitorus

November 2019

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Kita mengucap syukur untuk penyertaan dan pemeliharaan Tuhan atas rangkaian Gospel Rally, Seminar, dan Grand Concert Tour di Australia dan Selandia Baru pada akhir Oktober dan awal November ini.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Dear Kartika. Seperti yg disampaikan di awal, Tuhan Yesus pun 'dipilih' Allah sebagai Juruslamat...

Selengkapnya...

Allah Tritunggal mengasihi manusia tidak terbatas, hanya sebagai ciptaan kita manusia memiliki keterbatasan menerima...

Selengkapnya...

wuih mantap jiwa. sangat menjadi berkat bagi saya. terimakasih ya

Selengkapnya...

Bgm caranya sy bs memiliki buletin pillar edisi cetak?

Selengkapnya...

@David Chandra : kan kita sama2 mengerti bagaimana Tuhan memulihkan Gereja-Nya dari reformasi melalui Martin Luther...

Selengkapnya...

© 2010, 2019 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲