Artikel

Iman dan Rasio

Karena itu di rumah ibadat ia bertukar pikiran dengan orang-orang Yahudi dan orang-orang yang takut akan Allah, dan di pasar setiap hari dengan orang-orang yang dijumpainya di situ. (Kis. 17:17)

So he reasoned in the synagogue with the Jews and the devout persons, and in the marketplace every day with those who happened to be there. (Acts 17:17, ESV)

Itulah sebabnya aku menderita semuanya ini, tetapi aku tidak malu; karena aku tahu kepada siapa aku percaya dan aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercayakan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan. (2Tim. 1:12)

Introduksi

Pada bulan ini, Buletin PILLAR akan membahas mengenai tema “Iman dan Rasio”. Tema ini adalah suatu tema yang besar dan kerap dibahas sepanjang sejarah gereja. Perspektif pembahasan tema ini bisa dari sisi penggalian ayat, kerangka theologi sistematik, filsafat, ilmu/sains, sejarah, dan masih banyak lagi. Dalam artikel yang terbatas ini, penulis sedikit membahas pembelajaran dari Rasul Paulus, juga berusaha merangkum secara singkat penjelasan Pdt. Dr. Stephen Tong selaku pendiri Gerakan Reformed Injili mengenai tema besar ini, dan kemudian mengaitkan dalam konteks tantangan sehari-hari dari pembaca Buletin PILLAR (terutama golongan pemuda). Penulis sendiri kagum dengan rangkuman yang padat sekaligus mudah dimengerti dari Pdt. Dr. Stephen Tong. Beliau menekankan bahwa “iman membawa rasio kepada kebenaran”. Poin ini beliau sampaikan dalam Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK) yang pada waktu itu memecahkan rekor jumlah peserta yang pernah mengikuti SPIK dalam tema-tema sebelumnya.

Pembelajaran Singkat dari Rasul Paulus

Di bagian awal artikel ini, penulis mengutip dua ayat dari Rasul Paulus. Yang pertama adalah dari suatu bagian yang terkenal di Alkitab mengenai Paulus yang memberitakan Injil di Atena, suatu kota yang memiliki dampak luar biasa terhadap filsafat dan kebudayaan manusia. Di sana, Paulus berdialog dengan orang-orang yang ia jumpai, dan bahkan ia nantinya memiliki kesempatan untuk berbicara kepada publik dan memperkenalkan Kristus kepada mereka. Cara dialog Paulus diduga sangat mirip dengan cara dialog Sokrates yang banyak bertanya secara mendalam, mendengarkan dengan saksama, untuk nantinya membawa orang yang diajak bicara untuk lebih memahami kebenaran. Dalam ayat 17, bahasa Indonesia menggunakan kata “bertukar pikiran”, dan dalam bahasa Inggris (ESV) digunakan kata “reasoned”. Dalam konteks orang-orang Yahudi di rumah ibadah, dan berbagai lapisan masyarakat di pasar, Paulus dengan berani bertukar pikiran secara rasional. Pasar dalam konteks waktu itu berbeda dengan “pasar basah” atau pasar tradisional yang kita bayangkan sekarang. Pasar menjadi tempat penting dan sentral di mana orang dari berbagai lapisan bertemu. Mulai dari pelaku bisnis yang melakukan negosiasi dan transaksi ekonomi, politikus yang memaparkan berbagai kampanye dan kebijakan, filsuf/pengajar yang ingin menjelaskan ide-ide mereka, juga seniman yang ingin memamerkan hasil karya mereka. Dalam konteks seperti ini Paulus dengan berani berdialog secara rasional dengan mereka. Paulus tanpa ragu memberikan pemaparan dalam konteks ruang publik dengan beragam diversitas pendengar.

Yang kedua adalah dari surat kepada Timotius. Dalam 2 Timotius 1:12, Rasul Paulus sedikit menjelaskan bahwa dengan rela ia menderita semua ini. Kalau kita membaca kisah Paulus dalam Kisah Para Rasul, surat Korintus, atau surat Filipi, kita akan mengerti bahwa Paulus telah menderita begitu banyak hal bagi Kristus. Ia pernah dirajam, dikejar-kejar, difitnah, kelaparan, mengalami kapal karam, dan berbagai peristiwa lain yang begitu sulit dan menantang. Dalam suratnya yang lebih bersifat personal kepada Timotius, Paulus menyatakan bahwa ia sama sekali tidak malu mengalami segala kesulitan tersebut. Ia langsung menjelaskan alasannya, yakni karena Paulus tahu siapa yang ia percayai. Iman Kristen bukanlah iman yang buta. Iman Kristen bukan mematikan rasio atau menumpulkan akal budi. Iman yang sejati justru akan menuntut pengertian mengenai apa yang dipercayai. Melalui pengertian yang makin mendalam, iman kepercayaan kemudian akan makin dikuatkan. Prinsip ini sekarang kita kenal dengan “credo ut intellegam” (oleh Anselmus dari Canterbury) atau “crede ut intelligas” (oleh Agustinus).

Tantangan dalam Konteks Saat Ini

Dalam kehidupan dan interaksi kita sehari-hari, tentu kita menjumpai berbagai macam tantangan dan kesulitan dalam melihat kaitan antara iman dan rasio dari orang-orang di sekitar kita. Dalam tulisan artikel singkat ini, penulis hanya membatasi pembahasan dua poin tantangan. Yang pertama, persepsi bahwa iman tidak ada kaitannya dengan rasio. Di sekeliling kita, sangat mungkin ada orang-orang yang hidup beragama (bahkan orang Kristen), namun tidak melihat adanya hubungan antara agama atau iman mereka dan ilmu pengetahuan, rasio, atau cara berpikir. Sangatlah mungkin orang-orang semacam ini membatasi aspek agama atau iman dalam lingkup privat atau membatasi kejatuhan manusia hanya dalam aspek rohani, seakan rasio tidak tercemar dosa. Sebagai orang Kristen, seharusnya kita sadar bahwa Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat atas segala aspek dan jengkal hidup kita, termasuk rasio. Iman kepercayaan kita pasti akan sangat memengaruhi cara kita berpikir, belajar, dan bekerja. Iman yang sudah diperbarui atau belum akan berbeda, karena Alkitab mengatakan bahwa itu bagaikan antara yang hidup dan yang mati. Rasio orang hidup berbeda dengan rasio orang mati.

Yang kedua, adanya anggapan bahwa apa saja yang saya percayai pasti adalah kebenaran. Bagi golongan ini, mereka sangat menekankan atau meninggikan aspek kepercayaan individu yang tentunya bisa sangat relatif. Mereka menganggap apa saja yang mereka percayai sudah pasti adalah kebenaran. Orang atheis (tidak percaya adanya Tuhan) sangat mungkin masuk ke dalam kategori ini. Mereka memiliki kepercayaan bahwa Tuhan itu tidak ada, dan menganggap itu adalah “kebenaran”. Orang-orang beragama (termasuk Kristen) juga mungkin masuk ke dalam golongan ini. Mereka merasa sudah percaya, namun sebenarnya belum sungguh-sungguh mendalami atau mempelajari kepercayaan mereka secara lebih dalam, namun merasa sudah sangat yakin mengenai apa yang mereka anut. Penulis pribadi pernah mengalami fase semacam ini ketika berumur 12-17 tahun. Dari prinsip “crede ut intelligas”, seharusnya kita sadar bahwa iman atau kepercayaan bukanlah sesuatu yang statis. Iman yang beres akan menuntut pembelajaran dan pengetahuan. Iman yang beres juga memiliki ruang untuk dikoreksi dan mengalami pertumbuhan. Yang hidup akan bertumbuh. Iman yang hidup akan mempertumbuhkan keseluruhan aspek kehidupan seseorang, termasuk pengetahuannya.

Ini hanyalah dua contoh tantangan yang penulis bisa bagikan. Penulis sangat mendorong agar para pembaca Buletin PILLAR bisa menggumulkan lebih jauh mengenai tantangan dalam konteks hidup dan pelayanan masing-masing.

Penutup

Semoga melalui artikel singkat ini, para pembaca Buletin PILLAR bisa makin menyadari kaitan yang indah antara iman dan rasio. Melalui pengenalan yang makin mendalam akan Allah yang sejati, iman kita boleh makin dikuatkan, dan kita boleh makin dipakai Tuhan untuk menjadi saksi Kristus bagi orang-orang di sekeliling kita. Sama seperti Paulus yang berani memberitakan Kristus kepada berbagai macam lapisan masyarakat. Terakhir, kita juga bisa mendoakan orang-orang yang kita kenal yang mungkin memiliki kesulitan atau keraguan untuk percaya kepada Kristus, terutama kesulitan dalam melihat kaitan antara iman dan rasio.

Take my silver and my gold;

Not a mite would I withhold;

Take my intellect, and use

Every power as Thou shalt choose,

Every power as Thou shalt choose.

(Francis Havergal)

Dorongan untuk Pembelajaran Lebih Jauh

Bagi pembaca Buletin PILLAR yang mau mendalami lebih jauh mengenai topik iman dan rasio, berikut adalah beberapa contoh buku yang direkomendasikan oleh penulis:

Iman, Rasio, dan Kebenaran oleh Stephen Tong

The Reason for God oleh Timothy Keller

Logic: A God-Centered Approach to the Foundation of Western Thought oleh Vern Sheridan Poythress

Redeeming Science oleh Vern Sheridan Poythress

Faith and Reason oleh Ronald H. Nash

Escape from Reason oleh Francis Schaeffer

What Is Faith? oleh R.C. Sproul

The Logic of God oleh Ravi Zacharias

Juan Intan Kanggrawan

Redaksi Bahasa PILLAR

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Unduh PDF
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk situasi global dalam menghadapi pandemi COVID-19 ini, berdoa kiranya setiap umat Kristen diberikan kekuatan oleh Tuhan di dalam menghadapi situasi ini dan mampu untuk menyaksikan Tuhan di dalam kehidupan mereka.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2020 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲