Artikel

Imanuel, Apa Maknanya di Abad ke-21 Ini?

Di Alkitab, ada berbagai macam nama yang disematkan kepada Pribadi kedua Allah Tritunggal. Nama pertama sudah pasti adalah Yesus Kristus, tetapi ada juga nama-nama lainnya seperti Sang Anak Domba Allah (Yoh. 1:29), Tunas Daud (Why. 5:5), Gembala Agung (Ibr. 13:20), Imam Besar Agung (Ibr. 5:10), dan salah satu yang cukup unik adalah Imanuel. Kenapa demikian? Karena berbeda dengan istilah lain yang lebih cenderung kepada nama jabatan, kata “Imanuel” seolah menunjukkan nama lain atau alias dari nama Tuhan Yesus. Contoh sederhana, Presiden Republik Indonesia yang ke-7 bernama lengkap Joko Widodo, namun juga dapat dipanggil “Jokowi”. Begitu juga dengan Tuhan Yesus yang juga dapat dipanggil “Imanuel”. Hal ini makin diperkuat lagi dengan jumlah kemunculan kata ini di seluruh Alkitab, yaitu hanya sebanyak tiga kali.[1] Salah satunya disebutkan pada Matius 1:28 yang terkait dengan pemberitahuan akan kelahiran Kristus kepada Yusuf. Kata “Imanuel” pada ayat tersebut pasti memiliki signifikansi tertentu terhadap inkarnasi Kristus. Mari kita melihat makna kata “Imanuel” dan bagaimana makna tersebut dapat kita gumulkan di dalam konteks abad ke-21 ini.

Salah satu konteks pergumulan yang dibahas adalah mengenai pergumulan tubuh manusia. Bahwa di zaman postmodern ini, aspek tubuh menjadi sesuatu yang sangat diperhatikan oleh manusia. Hal ini sangat kontras dengan zaman modern yang cenderung tidak menaruh perhatian pada aspek tubuh manusia. Bagi mereka, manusia dinilai dari rasionya, bukan dari tubuh fisiknya. Sehingga di zaman modern wajah jelek tidak menjadi soal, yang penting rasionya dapat berjalan dengan baik. Apresiasi lebih akan diberikan jika mampu menggunakan rasionya untuk menciptakan teori atau ilmu baru. Pandangan ini didasarkan oleh pemikiran seorang filsuf yang bernama René Descartes (1596-1650), yang terkenal dengan slogan “I think therefore I am” (aku berpikir maka aku ada). Melalui slogan ini saja menunjukkan bagaimana orang modern sangat meninggikan rasio dibandingkan tubuh fisik di dalam keseluruhan aspek hidup manusia.

Aspek Tubuh di dalam Konteks Postmodern
Lalu bagaimana dengan konteks postmodern saat ini mengenai aspek tubuh manusia? Hal ini tidaklah begitu sulit karena sangat mudah kita jumpai di kehidupan sehari-hari. Kita bahkan justru menghidupi filsafat postmodern mengenai tubuh. Contoh sederhananya saja tentang berat badan. Hanya dua kata ini saja sudah menjadi momok bagi banyak wanita. Di abad ke-21 ini, berat badan sudah menjadi standar penilaian terhadap manusia. Berbagai cara dilakukan agar dapat mencapai berat badan ideal. Mulai dari mengikuti program kebugaran (fitness), program diet pola makan, hingga suplemen tambahan. Uang ratusan juta rupiah pun rela digelontorkan asalkan mendapat bentuk tubuh bagus dan tidak sekadar berat badan ideal. Tidak ada salahnya dengan kegiatan-kegiatan seperti itu (olahraga dan pengaturan pola makan) karena sangat baik di dalam menjaga kesehatan tubuh dan tidak ada larangan di dalam Alkitab. Tetapi, yang menjadi persoalan adalah ketika kita memakai aspek tubuh sebagai yang mutlak di dalam menilai manusia. Seolah-olah kemanusiaan kita menjadi tidak ada harganya ketika memiliki tubuh yang gemuk atau bentuk badan yang tidak ideal. Kemudian, kita melakukan berbagai cara agar bisa memiliki bentuk tubuh yang ideal, bahkan iman kekristenan kita pun dapat kita kompromikan asal demi satu tujuan, yaitu dapat menjadi manusia yang diterima oleh masyarakat postmodern. Ketika muncul seorang pria atau wanita yang memiliki bentuk tubuh yang ideal, akan ada banyak orang yang mengejar standar tersebut. Pada akhirnya aspek tubuh hanya dijadikan sebagai ajang kompetisi atau persaingan siapa yang memiliki bentuk tubuh yang paling bagus. Bukankah ajang kontes kecantikan seperti Miss World sering berdalil mengenai inner beauty dan segala macam slogan lainnya, tetapi tetap diikuti oleh peserta wanita yang minimal memiliki wajah cantik, badan tinggi, dan langsing. Sehingga dunia postmodern saat ini sudah sangat mengaburkan apa yang menjadi tujuan semula tubuh diciptakan.

Immanuel: God with Us
Maka, kita sebagai orang Kristen perlu kembali melihat kepada Alkitab karena manusia diciptakan seturut gambar-Nya (Kej. 1:26). Alkitab tidak mengatakan “roh manusia”, melainkan manusia dengan tubuh yang terlihat. Ketika kita membicarakan manusia, tidak dapat lepas dari yang namanya aspek roh dan tubuh. Sehingga Tuhan pasti mempunyai maksud atau tujuan mulia dengan diciptakannya tubuh manusia. Bertepatan dengan momen Natal ini, kita makin diingatkan kembali mengenai inkarnasi Kristus ke dunia. Ia rela memakai tubuh manusia yang serba terbatas ini. Ia yang adalah Allah, Pencipta langit dan bumi, harus rela menahan lapar ketika berpuasa (Mat. 4:1-11). Tuhan Yesus pun juga perlu istirahat sejenak ketika melalui perjalanan panjang (Yoh. 4:6). Puncaknya adalah ketika Tuhan Yesus bangkit dari kematian. Ia tidak bangkit dalam bentuk roh, melainkan memakai tubuh kemuliaan, tubuh yang sempurna dan sudah dibangkitkan. Lalu, kita yang adalah bagian dari umat Tuhan yang ditebus, juga akan dibangkitkan dengan tubuh yang baru (1Kor. 15:35-49). Jadi, Tuhan tidak membuang begitu saja aspek tubuh manusia, melainkan justru dipulihkan sesuai dengan kehendak Tuhan.

Kembali lagi kepada Matius 1:23 di mana kata “Imanuel” diberikan semacam pengertian oleh malaikat Gabriel kepada Yusuf, yaitu Allah menyertai kita (God with us). Sebagian dari kita mungkin menganggap ini hanya sebagai slogan kekristenan yang sering kita dengar. Tetapi, bagi orang Yahudi pada zaman itu, kalimat “Allah menyertai kita” memiliki makna sejarah yang sangat panjang. Bagaimana tidak, bangsa Israel dapat tinggal di daerah orang Kanaan oleh karena penyertaan Allah secara langsung. Mulai dari tiang awan dan tiang api untuk memimpin perjalanan bangsa Israel di padang gurun (Kel. 13:22; Neh. 9:12) sampai pada peruntuhan tembok Yerikho (Yos. 6:1-27). Terakhir, Allah tetap menyertai dan memulihkan bangsa Yehuda setelah mengalami pembuangan ke Babel selama 70 tahun.

Lalu, apa hubungannya kata “Imanuel” dengan konsep tubuh pada awal pembahasan artikel ini? Seperti makna pada kata “Imanuel” yang berarti “Allah beserta dengan kita”, inkarnasi Tuhan Yesus adalah puncak dari penyertaan Allah kepada manusia, ciptaan-Nya. Penyertaan yang justru melalui hal yang sangat sederhana, yaitu mengambil rupa sebagai manusia dengan tubuh yang dapat dikekang oleh ruang dan waktu. Tidak seperti di masa lampau yang mana Allah memakai fenomena alam yang sangat menakjubkan. Siapa yang tidak bakal takjub ketika melihat tiang awan yang melindungi umat Allah dari terik matahari dan tiang api yang dapat menjadi terang di malam hari. Tetapi, justru inkarnasi Kristus sebagai manusia menjadi kekuatan dan pengharapan yang lebih menakjubkan lagi. Pengharapan akan adanya suatu pemulihan terhadap ciptaan, termasuk memulihkan seluruh aspek kehidupan manusia dari ikatan dosa.

Ketika Tuhan Yesus disebut sebagai Imanuel di dalam Matius 1:23, ini sungguh-sungguh mau menyatakan bahwa Allah menyertai kita, manusia yang berdosa ini. Tuhan Yesus benar-benar beserta dengan kita melalui wujud tubuh fisik yang dapat dilihat dan diraba seperti yang Yohanes tuliskan melalui 1 Yohanes 1:1-3.[2] Bandingkan dengan Musa yang memiliki kerinduan untuk melihat kemuliaan Allah secara langsung, tetapi kenyataannya hanya diizinkan untuk melihat bagian belakang Allah. Alkitab jelas menyatakan bahwa siapa pun yang melihat Allah pasti akan mati (Kel. 33:20). Tetapi, melalui inkarnasi Tuhan Yesus, kita seolah-olah telah melihat Allah secara langsung karena Tuhan Yesus sungguh-sungguh dalam wujud fisik tubuh manusia. Tuhan Yesus sendiri pun mengonfirmasi hal ini melalui khotbah-Nya di Yohanes 14:9, “Barangsiapa telah melihat Aku, ia telah melihat Bapa; bagaimana engkau berkata: Tunjukkanlah Bapa itu kepada kami.

Ketika berbicara mengenai penyertaan, secara otomatis akan berkait dengan kehadiran. Inkarnasi Kristus pada akhirnya menyingkapkan kehadiran Allah yang sungguh nyata. Murid-murid Tuhan Yesus dan orang-orang pada zaman itu dapat berinteraksi secara langsung dengan Allah melalui diri Tuhan Yesus. Lalu, melalui tubuh manusia, mereka dapat melihat langsung tindakan Tuhan Yesus, ekspresi wajah yang menyatakan kesedihan (Yoh. 11:38), kemarahan (Yoh. 4:15-17), dan cinta kasih kepada murid-murid-Nya. Melalui mulut-Nya, Ia dapat menyampaikan secara nyata apa yang menjadi kehendak Bapa. Semua orang dapat melihat dan berespons akan hal itu karena melihat secara langsung. Ada interaksi yang terjalin melalui percakapan tersebut. Hal ini berbanding terbalik dengan kisah bangsa Israel yang sangat takut bertemu dengan Allah. Mereka lebih memilih menunggu di lembah dan menyuruh Musa naik ke gunung bertemu Allah (Kel. 20:18-21).

Imanuel dan Pergumulan Tubuh
Konsep inkarnasi inilah yang menjadi jawaban atas pergumulan tubuh. Bahwa pergumulan tubuh bukan soal bagaimana dapat tampil paling menarik di antara orang lain atau sebagai beban ketidakpercayaan diri, melainkan pertama-tama adalah hadir di antara sesama manusia. Tubuh juga bukan diciptakan baik sebagai ajang pamer maupun ajang pencarian identitas diri, melainkan untuk menyatakan kasih satu sama lain secara nyata. Hal ini makin diperkaya oleh ekspresi wajah manusia yang dapat menyatakan baik kebahagiaan maupun kesedihan dengan kontras yang jelas. Kemarahan dan ketegasan dapat ternyatakan secara jelas melalui ekspresi wajah asalkan itu menyatakan kesucian Tuhan. Berbeda dengan dunia smartphone yang sangat minim dengan ekspresi dan sulit terjalin ikatan relasi yang kuat. Walaupun smartphone sudah dibekali berbagai macam emoji dan animasi, tetap tidak dapat menggantikan ekspresi wajah manusia. Bahkan, melalui video call sekalipun, tetap ada nuansa relasi yang sangat berbeda jika berkomunikasi dengan tubuh yang hadir secara langsung. Hal ini pasti sangat terasa bagi mereka yang hidupnya jauh dari keluarga, pasti tetap ada kerinduan untuk bertemu langsung. Relasi yang sejati tidak semudah itu tergantikan dengan smartphone.

Di era tahun 2000-an merek ponsel pintar Nokia pernah populer dengan slogannya yang cukup revolusioner, yaitu “Connecting People”. Cukup revolusioner hingga mampu mendorong Nokia untuk meluncurkan ponsel yang ringkas (compact), kuat, dan harga terjangkau. Yang pada akhirnya menjadi “ponsel sejuta umat” pada masa itu. Slogan tersebut menjadi makin relevan karena banyak orang yang memakai produk tersebut. Seolah-olah Nokia mampu menghubungkan setiap orang di berbagai belahan dunia.

Tetapi kita yang hidup di tahun 2018 ini menyadari bahwa perkembangan ponsel tidak semulus dan seindah slogan tersebut. Ada begitu banyak dampak negatif dari penggunaan ponsel. Slogan “mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat” sepertinya sudah cukup untuk menjawab dampak negatif dari ponsel atau smartphone. Bukannya menghubungkan banyak orang, tetapi justru makin menjauhkan banyak orang. Sehingga smartphone hanyalah sebagai alat (tools) atau salah satu media komunikasi saja, tidak menjadi yang paling utama. Tetapi sekarang kita justru makin diperalat oleh smartphone. Relasi kita dengan orang lain cenderung makin bergantung kepada smartphone sebagai yang paling utama. Padahal Allah sudah memberikan kita tubuh untuk dapat berelasi tanpa perlu alat apa pun. Inilah yang menjadi salah satu pesan Natal yaitu Imanuel, God with us. Lewat inkarnasi-Nya, Tuhan Yesus memulihkan kembali apa yang menjadi fungsi utama dari tubuh, yakni berkomunikasi, seperti melalui tubuh-Nya, Ia sudah menghubungkan kita dengan Allah dan mengomunikasikan kehendak Allah kepada kita.

Akhir kata, melalui momen Natal ini sekali lagi kita diingatkan akan inkarnasi Kristus. Ia tidak hanya sekadar datang ke dunia untuk membuat umat-Nya masuk ke sorga, tetapi lebih dari itu, membebaskan dan memulihkan kita dari kutukan dosa menjadi manusia yang baru. Manusia tidak perlu lagi hidup di dalam dosa, tetapi di dalam terang firman Tuhan. Terutama juga ketika menyangkut pergumulan tubuh ini. Betul adanya bahwa kita sekarang masih hidup di dunia dan masih bisa berdosa. Tetapi, hal tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk terus berkutat pada pergumulan yang salah, melainkan terus mendisiplinkan diri agar bergumul pada hal yang benar. Kita mengusahakan bagaimana tubuh ini hadir di antara sesama manusia dan menjadi berkat bagi mereka, seperti Kristus yang rela mengambil rupa sebagai manusia, bahkan rela menjadi hamba di antara manusia (Flp. 2:6-8). Ia tidak hadir dengan segala fenomena yang menakjubkan seolah-olah sangat jauh dari kita, tetapi justru dengan tubuh manusia Ia sangat dekat dengan kita.

Sebab itu Tuhan sendirilah yang akan memberikan kepadamu suatu pertanda: Sesungguhnya, seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel.” (Yes. 7:14)

Trisfianto Prasetio
Pemuda FIRES

Endnotes:
[1] Mat. 1:28; Yes. 7:14, 8:8.
[2] 1Yoh. 1:1 “Apa yang telah ada sejak semula, yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup–itulah yang kami tuliskan kepada kamu.”

Trisfianto Prasetio

Desember 2018

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pimpinan Tuhan selama 30 tahun bagi GRII.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
@David Chandra : kan kita sama2 mengerti bagaimana Tuhan memulihkan Gereja-Nya dari reformasi melalui Martin Luther...

Selengkapnya...

Apa indikator bahwa gerakan Pentakosta Kharismatik dapat disebut sebagai gerakan pemulihan berikutnya?

Selengkapnya...

Saya diberkati oleh tulisan ini. Tapi pada akhir-akhir tulisan ada bbrp hal yang mengganggu saya, kenapa tulisan2...

Selengkapnya...

Terimakasih atas renungannya sangata memberkati

Selengkapnya...

Terima kasih..sangat memberkati!

Selengkapnya...

© 2010, 2019 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲