Artikel

Inkarnasi, Damai, dan Injil Natal

Tidak terasa, kita sudah kembali masuk ke dalam momen Natal. Momen yang sangat dinantikan, sebab hampir seluruh negara di dunia turut merayakannya. Kita menjumpai SALE hampir di setiap pusat perbelanjaan, lagu-lagu yang penuh damai dapat kita dengarkan sambil melihat (atau membayangkan) salju turun, ada juga sosok kakek tua yang penuh dengan kolesterol membagi-bagikan hadiah. Benar-benar satu momen yang penuh meriah, damai, dan indah! Inikah Natal yang sesungguhnya? 

Inkarnasi
Alkitab mengatakan bahwa Natal adalah saat Yesus Kristus turun ke dalam dunia lahir dalam palungan. Inilah hadiah terindah Allah dan merupakan anugerah terbesar bagi umat manusia. Yesus Kristus, Sang Allah Anak rela turun ke dalam dunia, merendahkan diri-Nya, menjalankan kehendak Bapa yaitu menebus umat pilihan-Nya. Yesus datang ke dunia ini dengan penuh kerendahan hati untuk melayani dan menjalankan seluruh kehendak Allah Bapa.

Dalam Kitab Markus 10:45, Yesus berkata, “Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (band. Mat. 20:28). Paulus di dalam Kitab Filipi 2:6-8 juga mengatakan bahwa Yesus sendiri mengosongkan diri-Nya dan taat sampai mati di kayu salib. Yesus, Sang Raja semesta alam datang ke dalam dunia untuk melayani bukan untuk dilayani dan rela mengosongkan diri-Nya. Inilah kerendahan hati Yesus. Namun hal ini ditolak oleh dunia ini. Dunia berbondong-bondong mencari kekuasaan tanpa memedulikan orang lain dan hanya mementingkan ego mereka sendiri. Dunia mengajarkan bagaimana seseorang mengejar posisi dan power, agar setelahnya menjadi yang dilayani, bukan yang melayani.

Contoh dari Alkitab yang menggambarkan hal seperti ini adalah Raja Herodes. Herodes takut jika ada raja yang lebih berkuasa, dia akan kehilangan posisi dan kuasanya. Dia takut menjadi lebih rendah. Berbeda dengan Kristus, Dia rela mengosongkan diri-Nya, menjadi sama seperti kita, manusia berdosa, dan datang untuk melayani kita, manusia berdosa yang telah mengkhianati-Nya, serta membawa kita kembali kepada Allah Bapa. Melakukan hal seperti ini, diperlukan penyangkalan diri yang sangat besar, Kristus harus membuang semua ego-Nya dan rela melayani orang-orang yang tidak layak seperti kita.

Damai
Natal sering kali juga diidentikkan dengan masa penuh damai. Tersirat dari lagu-lagu Natal yang kita dengar atau nyanyikan, adanya perasaan tenang, damai nan indah di dalam melodi serta syair lagu-lagu tersebut. Namun, apakah benar Natal membawa damai bagi manusia berdosa? Kelahiran Yesus membuat Herodes ketakutan, karena ia terancam dengan kehadiran Sang Raja. Di dalam ketakutannya, dia memerintahkan untuk membunuh semua anak-anak di bawah umur dua tahun di Betlehem. Natal yang pertama diwarnai dengan ketakutan seorang raja dan aliran darah dari pembantaian anak-anak. Inikah kedamaian? Kelahiran Yesus, Sang Raja Damai disambut dengan ketakutan dan pembantaian. Lebih daripada itu, sepanjang kehidupan pelayanan-Nya Yesus sering diresponi dengan kebencian. Orang-orang Farisi membenci Dia, bahkan berusaha untuk membunuh dan menyalibkan Dia. Orang Farisi dan orang Saduki, yang dulunya merupakan musuh dan saling bertengkar satu sama lain, bersatu menjadi kawan demi menyalibkan Yesus Kristus yang mereka benci. Lalu, di manakah damai itu? Jika Yesus membawa damai, mengapa orang-orang berbondong-bondong ingin menyalibkan dan membunuh Dia? Dunia ini sulit memahami arti kedamaian yang Yesus hadirkan. Bahkan hingga saat ini pun, kita tetap melihat banyak pertentangan dan perselisihan, bukan hanya di negara kita saja, bahkan di seluruh dunia, khususnya ketika Sang Raja Damai diberitakan dan sekali lagi ditinggikan.

Kedamaian yang Kristus hadirkan berbeda dengan kedamaian yang didambakan oleh dunia ini. Bukan sekadar ketenangan dan damai, seperti tidak akan ada perang, semua orang akan bergandeng tangan tanpa ada perselisihan, dan tidak ada peperangan, tidak ada gangguan. Itu bukanlah damai yang sesungguhnya! Inti dari kedamaian yang sejati adalah pulihnya hubungan manusia dengan Allah. Kedamaian yang sejati ini justru hadir ketika Allah Anak digantung di atas kayu salib. Melalui kematian Kristus, hubungan kita dengan Allah Bapa dipulihkan, inilah kedamaian sejati. Thomas Watson mengatakan, “The world can create trouble in peace, but God can create peace in trouble.” Kristus menyatakan kedamaian yang sejati di tengah segala kebiadaban dunia yang berdosa ini dengan mati di atas kayu salib.

Injil
Menyadari akan makna sejati dari Natal, apa yang seharusnya menjadi beban kita? Ketika kita sudah mengenal makna dari inkarnasi Kristus, apakah yang menjadi respons kita? Memberitakan Injil! Allah Anak harus diberitakan sekali lagi! Momen Natal adalah momen yang sangat baik untuk mengajak orang kembali kepada Kristus. Inkarnasi Kristus sebagai makna Natal seharusnya mendorong setiap anak Tuhan memiliki respons yang tepat, bukan mencari suasana untuk bersenang-senang bagaikan dunia berdosa ini. Teladan Kristus harus nyata melalui kehidupan kita, kehidupan yang memancarkan cinta kasih dan damai Allah yang sejati dari hati kita yang terdalam. Kerinduan memperkenalkan Kristus kepada setiap orang dan kerinduan membawa setiap orang kepada Kristus, semangat hidup seperti itulah yang harus dimiliki para pengikut Kristus.

Ketika kita melihat dunia sekarang ini, banyak sekali orang yang tidak percaya kepada Tuhan. Mereka menjalani hidup di tengah-tengah keadaan yang nyaman, namun jiwa mereka menuju kebinasaan. Mereka adalah jiwa-jiwa yang sedang tersesat yang membutuhkan Injil ini. Sebagaimana Kristus taat dan rela merendahkan diri-Nya, kita juga harus mau untuk belajar memaksa diri dan menyangkal diri, untuk rela pergi memberitakan Injil.

Biarlah melalui momen Natal ini kita bisa kembali diingatkan untuk mengajak orang lain melihat makna Natal yang sesungguhnya melalui kehidupan kita, bukan makna Natal seturut dengan makna yang dunia berikan. Kita tidak dipanggil untuk menyerupai dunia ini, melainkan memberikan kesaksian pengharapan bagi dunia ini. Marilah kita berdoa kepada Tuhan agar diberikan keberanian untuk memberitakan Injil kepada teman-teman kita dan orang-orang yang belum mengenal Yesus Kristus, Sang Allah yang turun ke dalam dunia dan memberikan kedamaian sejati dalam hati umat-Nya!

Tjioe Marvin Christian
Pemuda GRII Melbourne

Tjioe Marvin Christian

Desember 2016

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲