Artikel

Inteligensi Buatan, Kemungkinan, dan Kedaulatan Tuhan

Saat kita pertama kali mendengar istilah inteligensi buatan atau yang lebih dikenal sebagai artificial intelligence (AI), apa yang terlintas di benak kita? Mungkin sesosok robot manusia (humanoid) seperti di film Terminator, mungkin juga sebuah kota pintar dengan segala jenis layanan yang sudah terautomasi, mungkin juga sebuah sistem pintar yang dapat memprediksi apa yang akan terjadi di masa depan. Tak dapat dipungkiri, abad ke-21 adalah abad dengan laju perkembangan dan kemajuan teknologi yang sangat pesat. Dalam kurun waktu kurang dari 20 tahun saja, kita sudah disuguhkan dengan internet, ponsel pintar, kendaraan nirawak, pengenal wajah berbasis AI, dan sebagainya. Akan tetapi, pernahkah kita berpikir bahwa di suatu saat nanti, teknologi berbasis AI ini akan mengubah seluruh aspek kehidupan kita atau lebih dari itu, mengatur dan mengendalikan seluruh aspek kehidupan kita? Mungkinkah bahwa teknologi ini bisa menentukan apa yang akan terjadi pada hidup kita? Lantas, bagaimana dengan kedaulatan Tuhan yang kita percaya selama ini?

Inteligensi Buatan Mengimitasi Manusia

Inteligensi buatan (untuk seterusnya disebut sebagai AI) dapat dikatakan sebagai salah satu bidang yang baru dalam dunia ilmu komputer karena muncul pada saat Perang Dunia II berakhir. Bidang ilmu AI bermula dari bagaimana para ilmuwan melihat manusia sebagai makhluk yang istimewa berkat kemampuan inteligensi yang dimilikinya, kemudian para ilmuwan mempelajari kemampuan intelektual manusia untuk diterapkan dalam dunia ilmu komputer.

Menurut Stuart Russell dan Peter Norvig dalam bukunya yang berjudul Artificial Intelligence: A Modern Approach, AI dapat didefinisikan dalam empat kuadran bidang utama yang menjadi identitas dari AI. Empat bidang tersebut adalah:

1.Thinking Humanly

2.Thinking Rationally

3.Acting Humanly

4.Acting Rationally

Dalam bidang thinking humanly, setiap ilmuwan AI akan mengembangkan program-program berbasis AI dengan mempelajari bagaimana manusia berpikir yang dibagi menjadi tiga pendekatan. Pertama, dengan pendekatan introspeksi, yaitu menangkap pikiran kita sebagaimana kita berpikir. Kedua, melalui eksperimen psikologis, yaitu memperhatikan tingkah laku seseorang. Ketiga, dengan memetakan otak manusia ketika otak bekerja. Dari sumber-sumber informasi di atas, kita melihat bahwa AI adalah usaha peneliti ilmu komputer untuk memimik cara manusia berpikir.

Dalam bidang thinking rationally, AI akan berusaha untuk meniru bagaimana manusia berpikir dengan berbagai aturan silogisme yang kita kenal, misal modus ponens (jika p menyebabkan q dan kondisi terpenuhi, q pasti terjadi), modus tollens (jika menyebabkan q dan tidak terjadi, tidak terpenuhi atau tidak terjadi), dan beberapa aturan logika lainnya. Secara singkat, AI akan mempelajari aturan-aturan tersebut dalam pengambilan keputusan.

Dalam bidang acting humanly, AI berusaha untuk meniru manusia berperilaku sehari-hari, seperti berbicara, menganalisis, mendengar, melihat, bertindak, dan sebagainya. AI akan mempelajari bagaimana seorang ahli bertindak dan mengambil keputusan, misal seorang pemain catur, sehingga pada suatu saat tertentu, AI yang dibuat dapat menyetarai kemampuan para ahli di bidangnya masing-masing. Salah satu teknik dalam menguji “kemanusiaan” dari AI adalah pengujian Turing.[1]

Terakhir, dalam bidang acting rationally, AI akan berusaha untuk bertindak secara rasional sebagaimana manusia bertindak. Jikalau sebuah program biasa diprogram dengan algoritma yang mutlak untuk melakukan sesuatu agar tercapai suatu tujuan, AI akan dituntut lebih, yaitu untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

Untuk memenuhi definisi-definisi yang telah diuraikan di atas, AI mendasarkan ilmunya kepada beberapa ilmu yang mendasari ilmu pengetahuan di dunia ini, seperti filsafat, matematika, ekonomi, neurosains, bahasa, dan ilmu komputer. Pengertian-pengertian mengenai apa itu ilmu pengetahuan, aturan formal apa yang diperlukan untuk mendapatkan kesimpulan, bagaimana meminimalisasi biaya yang diperlukan, bagaimana otak bekerja, kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pada suatu keputusan, dan sebagainya, akan menjadi dasar bagi para peneliti AI untuk menciptakan produk berbasis AI.

Salah satu produk AI yang paling mula dan terkenal adalah program permainan catur. Permainan catur begitu menarik untuk dipelajari karena setiap pergerakan dari bidak catur dapat melonjakkan jumlah kemungkinan permainan yang dapat dilakukan. Menurut seorang ilmuwan bernama Claude Shannon, sebuah permainan catur memiliki kompleksitas paling sedikit sebesar 10120 dalam 40 langkah permainan catur[2]; sebuah angka yang sangat besar untuk dibayangkan. Komputer yang mampu memetakan dan memperkirakan segala kemungkinan yang dapat terjadi pada satu permainan catur dapat dipastikan akan memenangkan setiap permainan melawan pemain-pemain catur profesional (grandmaster).

Selain permainan catur yang begitu populer, produk AI yang cukup populer dan sedang gencar untuk dikembangkan adalah mobil nirawak (autonomous car). Mobil-mobil tersebut dirancang dengan berbagai sensor yang ada, seperti kamera dan ultrasonik, kemudian data-data dari sensor tersebut akan diolah oleh komputer untuk menentukan laju kendaraan, seperti menaikkan kecepatan, mengubah lajur kendaraan, atau mengerem kendaraan. Ketangkasan pemrosesan data dari sensor-sensor yang ada, menggunakan algoritma yang ada dengan perhitungan kemungkinan akan terjadinya suatu kejadian membuat mobil nirawak memiliki tingkat keselamatan yang cukup tinggi.

Terjadi Ini dan Itu Karena Kebetulan?

Dari kedua contoh produk AI yang cukup dikenal, kita dapat membayangkan betapa mengagumkannya sebuah teknologi yang dapat memperkirakan apa yang terjadi di masa yang akan datang ketika melakukan suatu tindakan pada saat ini. Teknologi AI begitu menjanjikan bagi kelangsungan peradaban manusia, karena dengan adanya teknologi ini, kemungkinan-kemungkinan kejadian yang buruk dapat dihindari—khususnya melalui perhitungan yang ketat dan pertimbangan kemungkinan yang mengutamakan kebaikan dan keuntungan bagi manusia. Akan tetapi, apakah perhitungan yang ketat tersebut dapat menentukan setiap hal yang baik pasti terjadi pada kita?

Jikalau kita membahas mengenai peristiwa baik dan buruk, manusia sudah memikirkan persoalan ini berulang-ulang kali di dalam sejarah. Persoalan nasib, takdir, dan hal-hal sejenis sudah menjadi perdebatan hangat di sepanjang sejarah manusia, mulai dari ajaran Buddhisme yang mengajarkan karma dan reinkarnasi bagi setiap makhluk, hingga para filsuf dan ilmuwan yang berkutat di bidang metafisika akan alam semesta. Di sisi lain, tak sedikit juga manusia yang tak percaya akan hal-hal transenden yang mengatur gerak-gerik kehidupan manusia, seperti penganut Materialisme yang mengganggap bahwa semua entitas atau keberadaan dalam alam semesta hanya bersifat material dan tidak ada transendensi dari semua itu. Kedua pandangan akan eksistensi dan pengaturan hidup di dunia ini menjadi dasar dari perkembangan teknologi yang berusaha membuat hidup manusia menjadi lebih baik atau setidaknya lebih berumur panjang.

Tak menampik pun, di dalam kekristenan, masalah peristiwa yang baik dan buruk ini sudah begitu lama diperdebatkan dalam sejarah gereja, yaitu apakah peristiwa baik dan buruk berasal dari Tuhan, atau peristiwa buruk berasal dari setan, atau Tuhan tidak ikut campur dalam penentuan peristiwa-peristiwa yang ada. Sebagai contoh, paham Deisme adalah sebuah paham yang percaya bahwa Tuhan Allah secara filosofis adalah penggerak utama (prima causa) dari segala alam semesta yang diciptakan. Akan tetapi, penganut Deisme percaya bahwa kuasa Tuhan hanya sebatas dalam penciptaan sebagaimana dicatat dalam Kitab Kejadian, lalu selebihnya setiap peristiwa dan kehidupan yang ada di muka bumi terjadi dengan sendirinya tanpa ada campur tangan dari Tuhan. Singkat kata, Tuhan Allah dapat dianalogikan sebagai seorang pengrajin jam dengan seluruh alam semesta adalah jam yang dibuat oleh-Nya, kemudian Tuhan memutar jam tersebut untuk berjalan dengan sendirinya dan Tuhan tidak lagi mengurusi apa pun yang terjadi dengan jam tersebut. Alhasil, penganut Deisme memercayai bahwa apa pun yang terjadi dalam sejarah murni adalah kehendak bebas dari manusia dan Allah tidak berdaulat sama sekali atasnya.

Dari beberapa pemikiran yang terurai di atas, ada satu kesamaan yang mendasari pergerakan hidup setiap manusia, yaitu kebebasan manusia. Manusia dianggap memiliki kebebasan secara mutlak untuk menentukan kebebasan dalam berpendapat, dalam bertindak, dalam berencana, dan sebagainya, sehingga tidak ada pihak lain yang berhak untuk menutup kemungkinan terjadinya kebebasan tersebut. Segala sesuatu yang terjadi di luar dari kehendak manusia adalah secara alamiah terjadi tanpa ada campur tangan dari kuasa Ilahi, seperti hujan atau matahari terbit. Pemikiran ini sangat marak digaungkan pada zaman modern saat ini, selaras dengan perkembangan teknologi yang pesat.

Akan tetapi, kebebasan manusia dalam bertindak akan menimbulkan satu pertanyaan besar, apakah manusia benar-benar bebas untuk melakukan dan merencanakan segala sesuatu? Jikalau manusia memang seperti demikian, kenapa ada hal yang terjadi di luar rencana kita? Meskipun manusia sudah memiliki ilmu pengetahuan yang ketat dengan kalkulasi yang begitu akurat, mengapa masih ada hal-hal terjadi yang kita anggap buruk?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, kita tidak akan pernah bisa melepaskan dan menyingkirkan Tuhan Allah dari permasalahan ini. Menurut buku Chance and the Sovereignty of God[3], segala sesuatu yang terjadi di dunia ini, baik itu hal-hal yang mungkin terjadi maupun hal-hal yang terlihat acak, semua terjadi di bawah kedaulatan Tuhan. Kehendak bebas manusia dengan kedaulatan Tuhan sering kali diperdebatkan oleh orang Kristen, karena jika kedua hal ini dibenturkan, tentulah menjadi sebuah kontradiksi yang terlihat mustahil untuk selaras. Kerangka berpikir kita yang terpaku pada either-or membuat kedua hal ini tidak mungkin bisa berjalan bersamaan—jika semua peristiwa terjadi di dalam kedaulatan Tuhan, manusia tidak bebas menjalankan kehendak bebasnya. Sebaliknya, jika manusia bebas melakukan kehendak bebasnya, dapat dipastikan bahwa Allah tidak berdaulat secara mutlak akan semua hal yang terjadi. Sebagai contoh, peristiwa-peristiwa yang terjadi pada Yusuf, anak Yakub, yang begitu kita kenal (Kej. 37-50), mulai dari bermimpi, dibuang dan dijual oleh saudara-saudaranya, menjadi orang kepercayaan Potifar dan ditipu oleh istrinya, dipenjara bersama juru roti dan anggur, dan pada akhirnya menjadi orang kedua terpenting setelah Firaun di Mesir dan menyelamatkan keluarga Yusuf dari ancaman kelaparan. Jika kita melihat dari sudut pandang kebebasan manusia dalam bertindak di dalam kehendak bebasnya, semua peristiwa yang dialami oleh Yusuf terjadi secara bebas dan sepenuhnya terjadi akibat keinginan dan kehendak dari setiap pelaku yang ada. Akan tetapi, jika kita melihat rentetan peristiwa tersebut secara utuh dan menyeluruh, kita dapat melihat bahwa kejadian-kejadian tersebut berada di bawah kedaulatan Tuhan untuk terjadi sehingga dapat menyelamatkan keluarga Yusuf dari kelaparan dan meneruskan kisah umat perjanjian Allah, Israel yang dijanjikan-Nya.

Selain dari peristiwa Yusuf, kita juga bisa berkaca dari inkarnasi Yesus Kristus yang sudah dinubuatkan oleh berbagai nabi di Perjanjian Lama, mulai dari Nabi Mikha (Mik. 5:2) yang menubuatkan kelahiran Sang Mesias di Betlehem 700 tahun sebelumnya, Nabi Yesaya (Yes. 35) yang menubuatkan penyaliban Yesus Kristus 700 tahun sebelumnya, Daniel (Dan. 2:44) yang menubuatkan pelayanan Yesus Kristus di zaman Kekaisaran Romawi 700 tahun sebelumnya, hingga Nabi Maleakhi (Mal. 3:1) yang menubuatkan Yohanes Pembaptis sebagai pendahulu dari pelayanan Yesus Kristus 400 tahun sebelumnya. Jikalau kita menghitung secara kemungkinan apakah ada orang yang dapat menubuatkan semuanya ini dan menggenapinya, luar biasa kecil kemungkinannya. Namun, semua nubuat ini nyata dilakukan oleh seorang Yesus Kristus yang adalah manusia sejati dengan kehendak bebas-Nya dan dilakukan oleh Sang Anak Allah yang dalam rencana-Nya menggenapi seluruh nubuat yang sudah ada. Kedaulatan Allah, peristiwa-peristiwa alamiah, dan kehendak bebas manusia tidak dapat dipisahkan.

Peristiwa-peristiwa yang dicatat dalam Alkitab banyak sekali memperlihatkan kepada kita bahwa perbuatan manusia dalam kehendak bebasnya, kejadian-kejadian alamiah yang terjadi setiap hari, dan kedaulatan Allah bekerja secara selaras. Sebagai contoh, peristiwa terpanahnya Raja Ahab dalam peperangan Israel di Ramot-Gilead. Nabi Mikha sudah menubuatkan terbunuhnya Raja Ahab di dalam medan perang (1Raj. 22:20-22), kemudian Raja Ahab mencoba untuk menyamar menjadi prajurit biasa dalam peperangan tersebut (ay. 30). Namun, seorang prajurit secara sembarangan atau tidak terarah menembakkan panahnya dan secara tepat menembus tubuh Raja Ahab tepat di celah baju zirahnya. Pada akhirnya, Raja Ahab pun harus mati di medan perang tersebut sesuai dengan nubuat dari Nabi Mikha.

Jikalau kita mencoba untuk menghitung kemungkinan Raja Ahab terkena panah yang ditembak secara sembarangan dan masuk tepat di lubang baju zirahnya, kemungkinannya sangat kecil untuk terjadi. Akan tetapi, demikianlah Tuhan berdaulat dalam kematian Raja Ahab di dalam kehendak Raja Ahab untuk tetap ikut di dalam peperangan dan di dalam kehendak sang pemanah yang dengan bebas menembakkan panahnya.

Lantas, dengan adanya peristiwa-peristiwa demikian dalam sejarah, kita harus kembali mengingat bahwa Alkitab bukan buku cerita semata. Alkitab adalah firman Allah yang diilhamkan-Nya (2Tim. 3:16) dan Allah jugalah yang menciptakan segala alam semesta melalui Firman-Nya (Kej. 1:1; 1Kor. 8:6). Setelah Allah mencipta, Allah juga menopang seluruh ciptaan-Nya (Ibr. 1:3; Kol. 1:17) bahkan berintervensi di dalam sejarah, mulai dari peristiwa tulah dan keluarnya bangsa Israel dari Mesir hingga puncaknya pada karya keselamatan Yesus Kristus di atas kayu salib. Bukti-bukti dari Alkitab tentu benar adanya karena Allah sendiri adalah Sang Kebenaran dan segala kebenaran berasal dari-Nya.

Akibatnya, kita dapat mengerti segala kemungkinan yang dapat terjadi di dalam kebenaran Tuhan, khususnya di dalam kerangka Allah Tritunggal. Allah Tritunggal berarti satu esensi Allah di dalam tiga Pribadi Allah. Ada pola kesatuan dan perbedaan yang sejati di dalam Allah Tritunggal dan ini dapat dilihat dalam kejadian sehari-hari karena Alkitab menyatakan bahwa seluruh alam semesta diciptakan oleh Allah Tritunggal, sehingga seluruh ciptaan Tuhan akan membawa gambaran Allah Tritunggal di dalamnya. Sebagai contoh, ketika kita melakukan uji coba melempar koin, kemungkinan yang terlihat adalah bagian muka koin adalah setengah (50%) dan bagian belakang koin adalah setengah (50%). Jikalau kita melakukan pelemparan dalam jumlah yang sedikit, kita akan melihat adanya hasil-hasil yang berbeda di setiap pelemparan, mungkin muka koin, mungkin belakang koin, mungkin hasilnya mayoritas muka koin, dan sebagainya. Namun, jikalau kita melakukan uji coba pelemparan dalam jumlah yang besar, kita akan melihat pola kesatuan, yaitu rata-rata dari kemunculan muka koin atau belakang koin pasti menuju 50% untuk masing-masing sisi. Meskipun dalam sekali lempar koin hasilnya tidak dapat ditentukan, tetapi dalam uji coba yang terus berulang-ulang, Allah beranugerah agar kita dapat mengetahui hasilnya secara pasti melalui rata-rata.

Contoh yang lain adalah cuaca dan musim yang ada di muka bumi. Kedaulatan Tuhan dalam mengatur cuaca dan musim di muka bumi dapat dibagi menjadi dua sisi, yaitu sisi yang pasti terjadi secara ilmiah, seperti musim-musim di bumi. Musim-musim di bumi sudah pasti terjadi di waktu-waktu yang ditentukan oleh Allah sendiri di dalam kesatuan kebenaran yang pasti, misal musim dingin di akhir tahun dan musim panas di pertengahan tahun bagi negara-negara subtropis. Kita tidak perlu memprediksi kapan terjadi musim dingin atau musim panas karena hal-hal tersebut sudah menjadi hal yang alami terjadi. Namun, di dalam musim yang pasti terjadi, ada waktu-waktu ketika suatu cuaca akan terjadi secara terpisah satu dengan lainnya, misal pada esok hari diprediksi akan terjadi hujan lebat, tetapi pada esok hari ternyata cerah, dan sebaliknya. Ada hal-hal yang tidak dapat diprediksi secara akurat di dalam keberbedaan yang sudah Allah ciptakan di dalam peta Allah Tritunggal. Namun, kita perlu ingat bahwa antara cuaca dan musim ada harmoni yang terbentuk, yaitu bahwa di musim dingin pasti yang turun adalah salju, bukan hujan biasa dan sebaliknya. Harmoni ini menggambarkan relasi dari Allah Tritunggal yang terjadi di dalam kesatuan dan perbedaan Allah Tritunggal. Untuk lebih jelasnya, kita dapat melihat archetype atau purwarupa dari Allah Tritunggal di dalam hal-hal yang alamiah dan yang tidak dapat diprediksi:

Gambar 1 Archetype dari Allah Tritunggal di dalam ciptaan-Nya

Kedaulatan Tuhan dan Kebebasan Ciptaan

Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa segala sesuatu yang terjadi di dalam sejarah kehidupan manusia tak bisa terlepas dari peta Allah Tritunggal yang menyertai dan di dalam kedaulatan Allah meskipun manusia juga memiliki kebebasan untuk bertindak. Produk-produk AI yang memiliki kecekatan dalam perhitungan kemungkinan, seperti permainan catur berbasis AI, tetap berada di bawah kedaulatan Allah. Sebuah superkomputer mungkin dapat dengan mudah memperhitungkan segala kemungkinan langkah-langkah yang akan dilakukan oleh seorang grandmaster catur, tetapi langkah apa yang akan diambil oleh sang grandmaster tetap berada di bawah kehendak bebas sang grandmaster dan tetap juga berada di dalam kehendak Allah di dalam sejarah.

Contoh yang lain, ketika kita mengendarai kendaraan nirawak, kendaraan kita sudah dengan cekatan memperhitungkan segala parameter yang diperlukan untuk melajukan kendaraan dengan aman dan menghindari kecelakaan, tetapi ada hal-hal yang tetap terjadi di luar dugaan; di luar perhitungan yang sudah disiapkan, misal sepeda motor yang keluar dari gang secara mendadak atau adanya malfungsi pada sistem kendaraan. Kejadian-kejadian ini secara terpisah terjadi pada kehendak bebas masing-masing pelaku, seperti pengendara sepeda motor yang tidak hati-hati, dan andai kata terjadi kecelakaan parah akibat kendaraan tidak dapat menghindar, peristiwa ini juga berada di dalam kedaulatan dan topangan Tuhan.

Akhir kata, meski kita akan dihadapkan oleh teknologi-teknologi yang begitu canggih dan mutakhir dalam memperkirakan segala kemungkinan yang dapat terjadi pada diri kita, seperti yang ditawarkan oleh AI, kita tidak pernah bisa bersandar sepenuhnya pada perhitungan tersebut karena di dalam akurasi perhitungan kemungkinan, masih ada hal-hal yang tidak terduga dapat terjadi. Kita perlu secara bijaksana menggunakan teknologi tersebut untuk mengurangi risiko kemungkinan hal-hal buruk terjadi sembari mengingat bahwa Tuhan juga berdaulat untuk mengintervensi hidup kita dengan kejadian-kejadian yang tidak terduga. Kendati demikian, kita tetap dapat bersandar pada Allah dan percaya bahwa ada maksud baik di dalam intervensi-Nya, dan kita pun bersukacita karena kedaulatan Allah pasti baik adanya meski terlihat bertentangan dengan rencana hidup kita.

Andrian Cedric

Pemuda GRII Bandung

Referensi:

- Poythress, Vern S. 2014. Chance and the Sovereignity of God: A God-Centered Approach to Probability and Random Events. USA: Crossway.

- Russel, Stuart J. and Peter Norvig. 2010. Artificial Intelligence: A Modern Approach. 3rd Edition. USA: Pretince Hall.

- Claude Shannon (1950). Programming a Computer for Playing Chess.

Endnotes:

[1] Pengujian Turing adalah sebuah pengujian yang diajukan oleh Alan Turing (1950) untuk mengukur inteligensi dari berbagai produk AI. Komputer berbasis AI akan dinyatakan lulus uji ketika penguji manusia tidak mampu membedakan respons tertulis yang diberikan berasal dari manusia atau komputer.

[2] Claude Shannon (1950). Programming a Computer for Playing Chess.

[3] Poythress, Vern S. 2014. Chance and the Sovereignty of God: A God-Centered Approach to Probability and Random Events. USA: Crossway.

Andrian Cedric

Juni 2020

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pelayanan Tim Aksi Kasih (TAK) GRII untuk COVID-19 yang telah melayani pembagian Alat Pelindung Diri (APD) untuk 213 rumah sakit/puskesmas dan pembagian sembako di 31 provinsi di Indonesia. Berdoa kiranya melalui pelayanan ini, gereja dapat menjadi saluran kasih.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2020 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲