Artikel

Is There a Room for Thee?

Tanggal 25 Desember 2010 segera tiba, atau lebih tepat dikatakan “tanpa terasa sudah tiba kembali…”. Lantas, jika memang segera tiba, kenapa? “Aduh, kok nanya lagi sih, Kristen bukan sih? Natal donk! Liat donk di mall”. Begitulah kira-kira kalimat yang akan keluar, jika ada yang masih mempertanyakan ada apa pada tanggal 25 Desember. Untuk kesekian kali tanggal 25 Desember pun tiba dalam hidup kita. Ada yang baru untuk pertama kali akan melewatinya, ada yang sudah tahunan, belasan tahun, bahkan hingga puluhan tahun. Bagi Anda, tanggal 25 Desember ini merupakan yang keberapa kalikah yang akan Anda lewati kembali? Terperangkapkah Natal yang sesungguhnya pada tanggal 25 Desember 2010?

Natal sudah menjadi perayaan internasional dan hampir seluruh bagian belahan bumi tahu kalau Natal segera akan tiba kembali, Kristen atau tidak, beragama atau tidak, theis atau atheis... Hal ini terlihat dari hiasan-hiasan di berbagai mal, etalase toko, dan jalanan. Selain hiasan, Natal juga memberikan satu ciri lainnya... SIBUK...

Inilah gambaran Natal hampir di seluruh dunia di zaman ini. Zaman yang menuntut bungkusan terlihat semenarik mungkin, zaman di mana kertas kadolah yang menjadi penentu seberapa bernilainya kado tersebut. Tidak peduli telah berapa kali kita melewati dan merayakan Natal, kita senantiasa menaruh perhatian lebih kepada bungkusan yang menarik itu seperti yang dilakukan orang dunia dan lupa bahwa dengan demikian kita menjadi seperti kuburan berlapis emas yang berisi tengkorak. Kita bagaikan orang-orang yang dengan bangga mengatakan bahwa kita adalah umat tebusan Allah tetapi menjadi tidak berdaya menyatakan kuasa penebusan Kristus yang sudah dikerjakan-Nya di atas kayu salib. Lantas, inikah gambaran Natal kita tahun ini? Natal, apa atau siapakah yang sesungguhnya dirayakan? Apakah yang kita persiapkan untuk menyambut Natal, hari di mana kita memperingatinya sebagai hari kelahiran Sang Juruselamat?

Heaven's arches rang when the angels sang, Proclaiming Thy royal degree; But in lowly birth didst Thou come to earth, And in great humility. O come to my heart, Lord Jesus! There is room in my heart for Thee. (Emily E. Elliott, 1864)

Kelahiran Kristus yang adalah Allah Anak tidak pernah bersumber dari ide manusia. Kelahiran Kristus adalah inisiatif Allah Tritunggal dalam kekekalan. Dalam kekekalan-Nya, Allah Tritunggal menetapkan adanya inkarnasi Allah Anak yaitu Yesus Kristus sebagai satu-satunya jalan untuk membebaskan manusia dari belenggu dosa. Seperti penggalan bait sebuah hymn, “But in lowly birth didst Thou come to earth, And in great humility”, Kristus Allah Anak yang mahamulia, berinkarnasi, lahir dalam kerendahan yang teramat sangat bahkan sampai mati di atas kayu salib untuk menjalankan kehendak Bapa yaitu misi penebusan. Sadarkah kita akan hal ini? John Drane menyatakan, “Have you ever considered the utter mystery surrounding the incarnation of Christ, God entering our time and space while remaining above time and space as our sovereign Lord? The eternal becomes temporal; the infinite becomes finite; the Word that created all things becomes flesh. It is beyond human comprehension.

Adakah satu di antara kita – manusia – yang rela dan mau mengorbankan nyawanya dengan penuh kesengsaraan bagi seekor binatang yang tidak ada gunanya bagi diri kita atau bahkan yang akan mengganggu hidup kita? Misalnya seekor cacing pita. Tidak ada! Tetapi itulah yang terjadi waktu Natal! Allah Anak itu datang ke dalam dunia, lahir melalui seorang perawan Maria, tidak ada tempat bagi-Nya selain kandang domba, dan kelahiran-Nya hanya diiringi suara malaikat dan disaksikan oleh para gembala yang tidak diperhitungkan. Kristus yang adalah Raja segala raja tidak lahir di istana. Kelahiran-Nya penuh kesederhanaan. Di sinilah letak keagungan dari Natal. Keagungan inkarnasi inilah yang kemudian kita gantikan dengan pohon Natal, Santa Claus, dan bahkan reuni keluarga setahun sekali diiringi oleh lagu-lagu Natal yang sangat menyentuh. Inikah yang disebut menyambut kelahiran Sang Juruselamat? Bukankah ini usaha menipu diri sendiri dan membodohi Allah?

Natal pertama menjadi jaminan adanya “Natal” kedua, kedatangan Kristus yang pertama membuat kedatangan-Nya kedua merupakan kepastian. Pada saat kedatangan kedua-Nya, akankah Allah menanyakan seberapa bagus kita telah menghias pohon Natal atau seberapa heboh Natal yang pernah kita rayakan? Tidak bukan? Tetapi salah satu hal yang akan ditanyakan kepada kita adalah seberapa dekatnya hidup kita dengan teladan kehidupan Kristus yang menggenapkan seluruh kehendak Bapa dengan sempurna.

Demi menghadirkan Natal maka kita menghias pohon Natal, kita rela mengeluarkan sejumlah uang yang tidak sedikit dan menghabiskan cukup banyak waktu serta mengerahkan hampir segenap jiwa kita. Tetapi demi menghadirkan Kristus (Natal sesungguhnya), maka kita harus meneladani Kristus. Demi meneladani Kristus, kita harus mengenal kehendak Bapa bagi kita. Demi mengenal kehendak Bapa, kita harus mengerti dan menjalankan Firman-Nya. Ehmmm… Relakah kita membayar “harga” ini demi menghadirkan Kristus dalam hidup kita? Benarkah kita ingin menghadirkan Natal atau hanya ingin menghadirkan natal?

Kezia Ratih Runtu
Pemudi GRII Karawaci

Kezia Ratih Runtu

Desember 2010

6 tanggapan.

1. Maruli T.H. Sianipar dari Bandung berkata pada 14 December 2010:

Pertama saya ingin mengucapkan terima kasih. Sungguh merupakan suatu renungan yang menyadarkan saya tentang kesederhanaan dan arti dari natal yang adalah kehadiran Kristus dalam hidup kita.

Namun saya kurang menyukai ilustrasi : "Adakah satu di antara kita – manusia – yang rela dan mau mengorbankan nyawanya dengan penuh kesengsaraan bagi seekor binatang yang tidak ada gunanya bagi diri kita atau bahkan yang akan mengganggu hidup kita?" yang diberikan dalam artikel ini. Kenapa ilustrasi yang diberikan tersebut memberikan contoh pengorbanan yang dilakukan seorang manusia untuk binatang? Menurut saya ilustrasi yang diberikan kurang sesuai atau saudari yang menjadi penulis artikel ini mempunyai alasan lain mengapa memberikan ilustrasi tersebut.

Tuhan memberkati. :)

2. Kezia R.R. dari Karawaci berkata pada 15 December 2010:

Ilustrasi yang digunakan sebenarnya merujuk pada realms, yaitu Creator dan creature. Baik manusia maupun cacing ada pada realm yang sama yaitu sebagai ciptaan. Penulis ingin menunjukkan garis yang jelas antara Pencipta dengan ciptaan. Manusia pada umumnya jijik melihat cacing (padahal sama-sama ciptaan) dan jika manusia misalnya menginjak cacing sampai mati, bisakah manusia tersebut membuat cacing baru lagi? Tentu tidak bukan. Allah tentu dapat dengan begitu saja melenyapkan kita (manusia, ciptaanNya) dan menciptakan replikasi kita tapi dengan sifat yang lebih unggul. Tapi mengapa Allah tidak melakukannya, kenapa Allah tidak begitu saja melenyapkan umat pilihanNya?

“Have you ever considered the utter mystery surrounding the incarnation of Christ, God entering our time and space while remaining above time and space as our sovereign Lord? The eternal becomes temporal; the infinite becomes finite; the Word that created all things becomes flesh. It is beyond human comprehension.” - John Drane

3. Danny Wiratama dari Jakarta berkata pada 16 December 2010:

Ingin memberikan komentar, semoga bisa menjadi masukan yang berarti :)

Dari renungan natal yang saya baca di buletin REIN (MRII Berlin) berjudul "Inkarnasi" yang ditulis oleh Pdt. Billy Kristanto (http://www.grii.de/temp/REIN_edisi4pluscover.pdf >> tp sayang, sepertinya sudah tidak bisa dibuka lagi webnya).

Pdt Billy berkata (saya tidak mengulang secara tepat perkata, tapi secara prinsipnya) "Kalaupun manusia bisa menjadi binatang lalu mati demi binatang itu. Ini hanyalah dari realm ciptaan yang lebih tinggi menjadi ciptaan yang lebih rendah. tidak akan pernah menyamai: dari realm Pencipta menjadi ciptaan."

Tuhan memberkati

4. Kezia R.R. dari Karawaci berkata pada 16 December 2010:

:) Itulah kelemahan dari ilustrasi-ilustrasi yang coba diberikan. Maka, adakah yang dapat menggambarkannya secara tepat? Merenung..sekarang gaya seperti apa yang saya hidupi?

5. Danny Wiratama dari Jakarta Barat - Kebon Jeruk berkata pada 16 December 2010:

Menurut saya tidak akan pernah ada illustrasi yang dapat menggambarkan inkarnasi secara tepat, krn hal ini bersifat suprarasional. Sama seperti Allah Tritunggal.

6. Maruli T.H. Sianipar dari Bandung berkata pada 25 December 2010:

Saya sependapat dengan saudara Danny, bahwa tidak ada ilustrasi yang dapat menggambarkan inkarnasi tersebut.

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk Gerakan Reformed Injili dalam menjalankan mandat Injil melalui pemberitaan Injil baik secara pribadi, berkelompok, maupun massal.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Menurut saya artikel yg membingungkan...terakhir dinyatakan iman dan perbuatan baik tidak dapat dipisahkan.....awal...

Selengkapnya...

Awalnya saya bingung, saya sedang berlatih agar bisa menjadi seorang atlet tinju profesional.. Namun bagaimanakah...

Selengkapnya...

Contoh lain bhw di dlm Alkitab terdapat konsep seseorang dpt memperoleh pengurangan atau pembebasan hukuman sbg...

Selengkapnya...

Akan tetapi, seseorang tidak perlu bergantung pada dirinya saja untuk melunasi utang tersebut. Kekristenan pada zaman...

Selengkapnya...

Gereja Roma Katolik pada zaman itu memercayai dua hal yang fundamental berkaitan hal ini. Pertama, bahwa manusia...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲