Artikel

It Is Not Safe To Feel Safe

Sekali selamat tetap selamat! Jaminan keselamatan yang absolut bagi orang Kristen. Tuhan yang memilih, Tuhan yang menjamin! Banyak orang Kristen merasa sudah sangat aman sebagai umat-Nya karena slogan-slogan di atas. Aman karena merasa sudah dipilih dan keselamatannya tidak dapat hilang. Perasaan aman tanpa disertai iman dan pengetahuan yang cukup merupakan sebuah jebakan rohani yang menurunkan tingkat kewaspadaan kita. Kita akan menjadi begitu rentan terhadap berbagai kemungkinan berbuat dosa. Kitab Amos menggambarkan kondisi yang sama. Orang Israel merasa aman karena mereka adalah umat Tuhan Pencipta langit dan bumi. Kondisi mereka saat itu juga baik-baik saja, sehingga tidak ada yang perlu digelisahkan, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, semuanya baik-baik saja. Tuhan masih memberkati, Tuhan tidak menurunkan hukuman, Tuhan masih menyertai, pastilah tidak ada yang salah, inilah pikiran orang Israel yang menggambarkan pikiran kita saat ini. Amos kemudian dikirim Tuhan untuk menyampaikan hal yang justru sebaliknya sebagai teguran dan peringatan kepada umat Allah yang juga berlaku kepada kita hari ini.

Umat Allah dan Dosa
Amos yang hanya seorang peternak dan seorang pemungut buah ara dipanggil sebagai penyambung lidah Allah untuk menegur dua raja besar, yaitu Raja Yerobeam II (raja Isarel) dan Raja Uzia (raja Yehuda). Bukan saja menegur, tetapi juga mengadili dan menyatakan hukuman atas seluruh bangsa Israel dan bangsa Yehuda. Kerusakan bangsa Israel dan Yehuda telah membawa murka Tuhan. Tidak ada yang mampu melarikan diri dari murka Tuhan yang Mahakuasa yang menyentuh bumi dan mendirikan langit (Am. 9:5-6). Allah tidak pernah berpihak kepada kejahatan, sekalipun yang melakukannya adalah umat pilihan-Nya. Begitu juga dengan Amos, ia tidak kompromi dan menyerukan dengan keras kemarahan Allah kepada umat-Nya. Allah murka kepada umat-Nya karena, pertama, Yehuda telah berzinah, mereka telah menolak hukum Tuhan dan telah disesatkan oleh dewa-dewa kebohongan yang diikuti nenek moyang mereka (Am. 4:4). Kedua, mereka menindas orang yang lemah dan miskin. Kemudian yang terakhir, mereka munafik di hadapan Allah dengan mengenakan jubah agama (Am. 4:6-12).

Masa itu merupakan masa tenang di kedua kerajaan. Mereka sedang menikmati kesuksesan yang besar di bawah pemerintahan kedua raja tersebut (Yerobeam dan Uzia). Dikatakan bahwa di bawah pemerintahan kedua raja ini, wilayah kekuasaan dari Israel dan Yehuda hampir mencapai luasnya ketika kerajaan ini dipimpin oleh Daud dan Salomo. Sebagai konsekuensi dari kesuksesan, baik secara militer maupun wilayah kekuasaan, kedua kerajaan ini menjadi kerajaan yang berlimpah dengan harta. Namun, makin berkembang kekayaan, terutama di daerah Samaria, penyalahgunaan kekuasaan dan kekayaan menjadi makin kental. Hal inilah yang menjadi sasaran atau fokus dari teguran Nabi Amos. Karena di dalam kekayaan tersebut, justru ketidakadilan secara sosial makin jelas terlihat pada bangsa ini. Orang-orang miskin ditindas oleh orang-orang yang kaya dan berkuasa. Bukan hanya itu, bangsa ini menjadi bangsa yang menyembah berhala dan melupakan Allah nenek moyang mereka yang senantiasa memberkati mereka.

Apakah dosa-dosa ini juga kita lakukan? Sesungguhnya dosa yang sama juga masih ada di dalam kehidupan kita. Kita sering merasa bahwa diri kita adalah domba di tengah-tengah serigala. Padahal ketika Tuhan memakai ilustrasi domba di tengah serigala, bisa jadi kita yang menjadi serigala itu dan bukan menjadi dombanya. Betapa seringnya kemunafikan hadir dalam kehidupan kita. Kita senantiasa melakukan dosa seperti yang dilakukan oleh orang fasik dan kita pun sambil dengan rajinnya melakukan aktivitas rohani untuk membenarkan dan menutupi segala dosa-dosa kita. Celakalah kita yang melakukannya, karena sesungguhnya hal ini membuat kita jauh lebih rusak daripada orang fasik. Mari kita jujur di hadapan Allah dan bertanya kepada diri sendiri, sudah seberapa jauh dosa kita di hadapan Tuhan dan sudah seberapa jauh kemunafikan kita di hadapan manusia lainnya? Mari, kita bertobat di hadapan-Nya, karena teguran Nabi Amos masih berlaku bagi kita sampai hari ini.

Feeling Safe
Celaka atas orang-orang yang merasa aman di Sion,
atas orang-orang yang merasa tenteram di gunung Samaria,
atas orang-orang terkemuka dari bangsa yang utama,
orang-orang yang kepada mereka kaum Israel biasa datang! (Am. 6:1)

Kesombongan identitas, ya kesombongan akan identitas diri, inilah yang dialami Sion dan Samaria. Mereka bangga atas diri mereka sebagai bangsa keturunan Daud dan Abraham yang tinggal di Yerusalem, kota Allah (the city of God). Mereka yakin, tempat tinggal umat yang dikasihi Allah tidak akan dan tidak mungkin dihancurkan. Kedua hal ini, yakni kesombongan dan keyakinan mereka yang salah, telah membuat mereka merasa tenteram. Ditambah dengan kedua kerajaan yang sedang mengalami puncak kejayaan, kesejahteraan, dan kemakmuran pada saat itu. Dengan semuanya yang ada, mereka makin bias dan merasa bahwa semuanya bisa ada merupakan bukti nyata bahwa Tuhan sedang menyertai mereka dan memberkati mereka. Akhirnya mereka tidak lagi merasa salah, perlu bertobat, apalagi perlu mencari Tuhan; tidak ada lagi rasa bertanggung jawab atas tuntutan Tuhan kepada mereka dan mereka melupakan Tuhan. Di dalam pasal 6, Allah menyatakan kebencian-Nya atas tiga ketenteraman mereka, yaitu kesombongan, membuang kesempatan karena menganggap jauh hari malapetaka, dan kemabukan hawa nafsu.

Perasaan aman seperti ini telah menjadikan umat Allah lupa akan status mereka serta lupa akan tanggung jawab yang harus mereka jalankan di dalam kehidupannya. Mereka lupa akan relasi mereka di hadapan Tuhan, dan menganggap status dan berkat yang Tuhan berikan sebagai hal yang dapat mereka “take it for granted”. Seluruh berkat dari Allah dianggap sebagai kewajaran dan kelayakan yang memang harus mereka terima. Janji Tuhan tidak lagi dilihat sebagai anugerah menuju pengharapan yang harus sungguh-sungguh disyukuri. Mereka begitu sombong dengan menganggap diri sebagai bangsa yang sangat beruntung atau bahkan layak untuk menerima segala anugerah dan berkat ini. Sikap rendah hati yang seharusnya menjadi respons atas berkat dan anugerah tersebut berubah menjadi sebuah kesombongan hati dan kebanggaan atas anugerah sebagai sesuatu untuk dipamerkan. Mereka menjadi bangsa yang lupa akan siapa diri mereka, bahkan mereka pun lupa akan siapa Tuhan yang memilih mereka menjadi umat-Nya. Hal ini menunjukkan bahwa sesungguhnya mereka tidak mengenal siapa Allah yang telah memilih dan menyelamatkan mereka. Mereka hanya mengenal Allah mereka sejauh berkat-berkat-Nya saja.

Memang mereka rajin dalam beragama, menjalankan segala ritual, bahkan memelihara hari-hari raya keagamaan. Tetapi Tuhan tidak bisa dipermainkan, Tuhan tidak bisa ditipu dengan ritual keagamaan yang kelihatan. Tuhan melihat hati setiap manusia sampai sedalam-dalamnya. Ketika Tuhan memberikan anugerah kesempatan, kiranya kita boleh belajar sadar akan anugerah yang sangat berharga ini. Sesungguhnya Tuhan tidak senantiasa memberikan kesempatan kepada manusia; sekali kesempatan itu berlalu, maka kesempatan itu tidak akan pernah ada lagi. Nabi Amos dikirim Tuhan untuk bernubuat bagi bangsa Israel sekali lagi, Tuhan memberikan kesempatan yang terakhir bagi umat pilihan-Nya untuk kembali, namun mereka melewatkannya. Mereka tidak mengindahkan kesempatan emas dari Tuhan untuk berbalik kepada-Nya. Karena rasa aman yang sombong inilah, bangsa Israel membayar harga yang sangat mahal pada akhirnya dengan dibuang oleh Tuhan.

Bagaimana dengan kita hari ini? Seberapa banyak kesempatan yang diberikan Tuhan tidak kita indahkan? Di dalam masa penantian kedatangan Kristus kedua kalinya, kesempatan demi kesempatan diberikan kepada kita, bagaimana kita berespons terhadapnya? “Peringatan Nabi Amos” telah diberikan kepada kita oleh Tuhan Yesus melalui beberapa perumpamaan di Matius 24 dan 25. Dikatakan bahwa Tuhan akan datang seperti pencuri di malam hari, oleh sebab itu berjaga-jagalah (Mat. 24:43). Janganlah kita seperti hamba yang jahat yang tidak percaya akan janji tuannya yang akan segera kembali. Janganlah kita seperti gadis bodoh yang tidak siap sedia sampai pada akhirnya, melainkan menjadi seperti gadis bijaksana yang selalu bersiap-siap dan setia menunggu kedatangan sang mempelai. Janganlah kita juga seperti hamba yang jahat yang tidak mengerjakan tanggung jawabnya yang diserahkan kepadanya sesuai anugerah tuannya kepadanya. Di zaman ini, kesenangan dan kenikmatan dunia telah membius mata rohani kita untuk melihat apa yang Tuhan ingin kita lihat, melakukan apa yang Tuhan ingin kita lakukan, dan menikmati apa yang Tuhan ingin kita nikmati. Kita terlatih untuk dengan mudahnya menggunakan kata “tunggu” ketika ada kesempatan untuk bertobat. Kita terlatih untuk terpana memandang kenyamanan dunia yang makin membius kita dan membutakan kita dalam melihat signifikansi dari kesempatan pertobatan yang diberikan Tuhan. Kita terhilang dalam dunia ini; sambil ingin berbeda dengan dunia ini, sambil menikmati dan tenggelam di dalamnya. Kita menikmati dan merasa nyaman dengan kondisi seperti ini.

Grace of God
Atas segala hukuman yang telah dijatuhkan kepada Israel, Tuhan juga memberikan janji keselamatan bagi Israel. Tuhan berjanji akan memulihkan Israel kembali dari reruntuhannya (Am. 9:11-15). Tuhan mengasihi kepada siapa Ia kasihi dan Tuhan membenci kepada siapa Ia benci. Orang yang jahat akan menerima hukuman dan orang yang benar akan diberkati Tuhan. Amos menutup pasal 9 dengan janji berkat bagi orang yang mau berdamai dengan Tuhan. Tuhan kenal baik kondisi kita yang “runtuh” akibat dosa, dan Tuhan mau memulihkan keruntuhan itu. Dari peristiwa ini kita dapat melihat Tuhan tidak pernah berubah, janji keselamatan Tuhan terus akan bertahan selama-lamanya bagi umat-Nya. Janji ini tidak hanya berlaku bagi bangsa Israel, tetapi juga kepada kita pada saat ini. Tuhan memanggil kita pulang dan bangkit dari keruntuhan kita. Dia setia kepada janji-Nya, Dia akan mendatangkan keselamatan bagi umat-Nya, Dia akan membangkitkan kembali kota-Nya.

Kitab Amos menyadarkan kita seberapa rusaknya manusia di dalam dosa, tidak terkecuali umat Allah. Namun Allah yang baik bukan hanya memberikan peringatan dan penghukuman, namun juga memberikan keselamatan bagi umat-Nya. Kiranya kita disadarkan melaluinya untuk senantiasa belajar rendah hati dan memohon belas kasihan Tuhan dalam menjalankan kehidupan kita sebagai umat Allah di zaman ini. Anugerah identitas sebagai umat Allah, jaminan keselamatan sebagai gereja Tuhan, dan penyertaan Tuhan sebagai bukti kehadiran Tuhan dalam hidup kita tidak menjadikan kita sombong dan merasa tenteram dan nyaman, melainkan kita dimampukan menyaksikan kepada dunia, bahwa Allah Alkitab adalah Allah kita dan kita adalah umat-Nya. Kiranya Tuhan memberkati kita!

Surya Oemar
Pemuda FIRES

Surya Oemar

Maret 2019

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pimpinan Tuhan selama 30 tahun bagi GRII.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
@David Chandra : kan kita sama2 mengerti bagaimana Tuhan memulihkan Gereja-Nya dari reformasi melalui Martin Luther...

Selengkapnya...

Apa indikator bahwa gerakan Pentakosta Kharismatik dapat disebut sebagai gerakan pemulihan berikutnya?

Selengkapnya...

Saya diberkati oleh tulisan ini. Tapi pada akhir-akhir tulisan ada bbrp hal yang mengganggu saya, kenapa tulisan2...

Selengkapnya...

Terimakasih atas renungannya sangata memberkati

Selengkapnya...

Terima kasih..sangat memberkati!

Selengkapnya...

© 2010, 2019 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲