Artikel

Justification by Faith Alone: The Doctrine by which the Church Stands or Falls

Martin Luther (1483-1546) menyebut doktrin justification by faith alone sebagai dasar di mana kelangsungan atau kehancuran Gereja dipertaruhkan (articulus stantis et cadentis ecclesiae). Kurang dari seratus tahun kemudian, Francis Turrentin (1623-1687), seorang pastor and profesor theologi di Geneva, memperingatkan Gereja agar tetap setia mengajarkan doktrin ini secara jelas dan akurat karena penyelewengan atas doktrin ini pasti mengakibatkan penyelewengan yang lebih lanjut akan doktrin-doktrin lainnya dan Iblis pasti selalu berusaha dengan segala cara untuk menggeser perhatian Gereja akan pentingnya mengajarkan doktrin ini. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa doktrin ini begitu penting bagi Gereja? Apakah yang dicatat oleh Alkitab mengenai doktrin ini? Serta bagaimana sejarah keKristenan mencatat perkembangan doktrin ini?

Development of the Doctrine in Church History

Doktrin justification by faith alone sudah diajarkan secara tersirat dalam tulisan-tulisan bapa-bapa Gereja mula-mula, dan hingga abad ke-16 barulah Gereja menjawab panggilan untuk menggali kebenaran doktrin pembenaran secara lebih akurat dan jelas dari Alkitab. Pelagius (354-420) mengajarkan bahwa manusia diciptakan Allah tanpa mewarisi dosa turunan (original sin). Akibat dari pemahaman doktrin dosa yang salah ini, Pelagius sampai pada kesimpulan yang begitu menyimpang dari Alkitab, yaitu manusia dimungkinkan untuk memperoleh keselamatan melalui upaya perbuatan baik dan menjalankan perintah-perintah agama. Pelagius menolak akan keabsolutan anugerah Allah di dalam Kristus melalui iman yang memimpin kepada keselamatan pribadi. Ajaran Pelagius (Pelagianism) ini akhirnya dinyatakan sebagai ajaran sesat oleh tiga sidang Gereja: Synod of Carthage, Council of Ephesus, dan Synod of Orange.

Agustinus (354-430) melawan ajaran Pelagius karena tidak sesuai dengan ajaran Alkitab. Ia memakai starting point yang sangat berbeda dengan Pelagius. Natur manusia adalah natur yang berdosa akibat dosa turunan Adam sehingga tidak mungkin untuk melakukan perbuatan-perbuatan baik di mata Allah yang suci. Oleh karena itu manusia membutuhkan anugerah spiritual dari Roh Kudus yang mencerahkan akal budi manusia, mengubahkan hati manusia untuk mencintai hal-hal yang kudus, menumbuhkan iman, dan memungkinkan manusia untuk berbuat baik. Menurut Agustinus, iman di dalam Kristuslah yang membenarkan orang berdosa. Manusia berdosa dibenarkan oleh darah Kristus yang dialirkan di atas kayu salib untuk menggantikannya. Anugerah ini diberikan oleh Allah secara bebas sesuai dengan kedaulatan Allah dan tidak tergantung kepada jasa perbuatan baik manusia. Jadi bisa dilihat bahwa anugerah Allah mendahului perbuatan baik manusia.

Di dalam konsep justification-nya, Agustinus mencampuradukkan doktrin pembenaran (justification) dengan doktrin pengudusan (sanctification). Menurutnya di dalam membenarkan orang berdosa, Allah tidak mendeklarasikan orang berdosa sebagai orang benar tetapi membuat pendosa itu menjadi orang benar. Kegagalan Agustinus dalam membedakan secara jelas dan akurat mengenai doktrin pembenaran dan pengudusan ini kemudian diwariskan kepada theolog-theolog Gereja setelahnya.

Thomas Aquinas (1225-1274) mengembangkan doktrin justification yang telah diajarkan oleh Agustinus. Menurutnya, pembenaran oleh Allah bekerja melalui anugerah pengudusan yang diinfusikan ke dalam jiwa manusia oleh Allah sehingga mengubah orientasi kehendak bebas manusia untuk pertama-tama taat kepada Allah, dan kemudian melawan dosa, serta akhirnya menghasilkan pengampunan dosa. Aspek pengudusan menjadi lebih jelas dan sistematik di dalam konsep justification yang diajarkan oleh Thomas Aquinas dan menjadi ajaran resmi gereja Katolik Roma sampai dengan abad ini.

Kondisi gereja Katolik pada abad ke-16 menjadi semakin bergeser, gereja mengajarkan bahwa untuk mendapatkan pengampunan Tuhan atas dosa-dosa yang telah dilakukan, seseorang harus melakukan work of penance, seperti perbuatan baik, membayar denda atau menerima hukuman, sesuai dengan yang ditetapkan oleh pastor yang menjadi perantara antara pendosa dan Tuhan. Bahkan gereja pada puncak kegelapannya “menjual” anugerah pengampunan dan pembenaran oleh Tuhan kepada publik melalui penjualan selembar surat pembebasan dosa demi memperoleh dana untuk kelangsungan pembangunan gedung gereja St. Peter Basilica di Vatikan. Disebabkan oleh dua hal itu, Martin Luther (1483-1546) mengadakan reformasi di Jerman dengan memakukan 95 tesisnya di pintu utama gereja Schloβkirche di Wittenberg. Ia sendiri adalah seorang biarawan dari ordo Agustinian, dan melakukan work of penance secara sungguh-sungguh untuk mendapatkan pengampunan dosa sebelum akhirnya mendapatkan terang kebenaran pada saat merenungkan Roma 1:17 bahwa manusia dibenarkan Tuhan melalui iman saja. Dalam anugerah Allah, Luther mendapatkan pengertian yang benar bahwa pengampunan dosa dan pembenaran dari Tuhan bukan tergantung kepada pengakuan dosa kepada pastor, ataupun perbuatan baik kita, dan apalagi melalui pembelian surat pengampunan dosa; melainkan melalui penyesalan yang mendalam akan dosa-dosa yang telah dilakukan serta pertobatan sungguh-sungguh untuk menjalani hidup yang baru – yang mana kedua hal ini merupakan anugerah Allah melalui iman kepada Kristus. Luther dipakai Tuhan untuk mengembalikan konsep anugerah dari Allah menjadi poros dari Doktrin Keselamatan yang telah diselewengkan oleh Gereja Katolik; serta mendeklarasikan doktrin pembenaran melalui iman kepada Kristus saja sebagai dasar di mana kelangsungan atau kehancuran Gereja dipertaruhkan.

Doktrin Justification by Faith Alone in the Bible

Justification adalah tindakan anugerah Allah, di mana Ia mengampuni segala dosa kita dan menerima kita sebagai orang benar di mata-Nya, hanya karena kebenaran Kristus telah ditanamkan ke dalam kita dan semuanya itu kita terima melalui iman saja (Westminster Shorter Catechism Q. 33).  Dari definisi ini, justification adalah semata-mata anugerah Allah saja yang diterima melalui iman dan mengandung dua aspek penting yaitu pengampunan dosa dan pendeklarasian status sebagai orang benar di mata Tuhan.

Doktrin justification paling banyak dibicarakan oleh Rasul Paulus khususnya di dalam kitab Roma dan Galatia. Tiga pasal pertama kitab Roma mengajarkan bahwa semua orang (termasuk kamu dan saya) adalah orang yang sungguh berdosa karena motivasi kita adalah melawan Allah dan menekan kebenaran Allah. Kita menukar Allah sebagai satu-satunya yang pantas menjadi objek persembahan kita dengan patung, ilah-ilah ciptaan manusia, harta, kemuliaan, dan kekuasaan dunia (yang ironisnya merupakan ciptaan Allah), bahkan kita menolak untuk mengakui keberadaan Allah. Kita penuh dengan rupa-rupa kelaliman, kejahatan, keserakahan dan kebusukan, penuh dengan dengki, pembunuhan, perselisihan, tipu muslihat dan kefasikan. Kita adalah pengumpat, pemfitnah, pembenci Allah, kurang ajar, congkak, sombong, pandai dalam kejahatan, tidak taat kepada orang tua, tidak berakal, tidak setia, tidak penyayang, tidak mengenal belas kasihan (Roma 1:24-32). Kita adalah orang yang sungguh berdosa dan sungguh pantas menjadi objek kemurkaan Allah yang suci dan benar. 

Kita mungkin sadar dengan keberdosaan kita, namun masih menaruh harapan untuk menyenangkan Allah dengan melakukan perbuatan baik menurut Hukum Taurat. Rasul Paulus dengan jelas mengajarkan bahwa justru melalui Hukum Taurat kita menyadari ketidakmampuan diri untuk mencapai standar Allah dalam mematuhi setiap perintah-Nya sehingga mustahil untuk menyenangkan Allah. Dan sebagai klimaksnya, Paulus memberitahukan kepada kita secara jelas dan tepat bahwa tidak ada seorang pun yang dapat dibenarkan di hadapan Allah karena melakukan Hukum Taurat (Roma 3:19-20). Jikalau tidak ada satu pun manusia yang berkenan kepada Allah, bagaimana dengan kita? Siapkah kita untuk menerima murka Allah yang menyala-nyala atas dosa-dosa yang kita perbuat?

Dengan kondisi di bawah murka Allah, kita yang berdosa tentu saja akan membaca bagian akhir pasal ketiga dari Kitab Roma dengan penuh sukacita dan penuh pengharapan. Paulus men-sharing-kan rahasia rencana Allah kepada jemaat di Roma bahwa orang berdosa dapat menerima pengampunan dan sekaligus dinyatakan sebagai orang benar melalui iman kepada Yesus Kristus (Roma 3:21-26). Kita yang dahulu berada di bawah tuntutan covenant of work sehingga berada di dalam bayang-bayang penghukuman Allah akibat kegagalan dalam melakukan perintah Allah secara sempurna; sekarang berada di bawah covenant of grace karena Kristus telah menggenapi tuntutan covenant of work dengan menggenapi secara sempurna segala perintah Allah yang tidak mungkin kita patuhi; dan Kristus juga sekaligus memuaskan kemarahan Allah (propitiation) dengan kematian-Nya di atas kayu salib. Sehingga darah Kristus yang tercurah di Golgota yang diterima (imputation) melalui iman menyucikan dosa-dosa kita (1Ptr. 2:24, 2Kor. 5:21). Kebenaran Kristus di dalam ketaatan-Nya kepada perintah Bapa yang juga kita terima (imputation) melalui iman membuat kita bukan lagi orang berdosa di hadapan Allah, tetapi Allah menyatakan kita sebagai orang benar (Roma 5:9b).

Dalam pasal keempat, Paulus memberikan bukti bahwa fondasi doktrin pembenaran oleh iman saja bukanlah hasil pemikiran manusia tetapi adalah kebenaran yang didasarkan kepada kebenaran Allah yang dinyatakan Alkitab. Melalui kisah Abraham, bapak orang beriman, ia menunjukkan bukti yang jelas bahwa Abraham dibenarkan melalui imannya kepada janji Allah (yang tidak ia kenal sebelumnya karena pada saat itu mayoritas penduduk Ur-Kasdim menyembah dewa bulan ‘Camarina’) bukan melalui perbuatan ketaatan kepada perintah Allah (lihat ayat 9-10). Pada saat Allah ‘asing’ meminta Abraham untuk meninggalkan rumah, keluarga, sanak saudara, dan kampung halamannya, untuk pergi ke tempat yang jauh dan belum pernah ia kunjungi sebelumnya, Abraham percaya kepada Allah. Di dalam iman ia melangkah pergi menuju ke tempat yang dijanjikan Allah untuknya walaupun tanpa penjelasan yang detail mengenai tempat tujuannya. Dan Alkitab mencatat bahwa Abraham dibenarkan oleh karena imannya kepada Allah (Kej. 15:6, Gal. 3:5-6 dan Rm. 4:3).

The Ground of Justification

Pada bagian sebelumnya kita telah mempelajari bahwa orang berdosa dibenarkan Allah melalui iman saja bukan melalui perbuatan ataupun kombinasi keduanya seperti tertulis dalam Alkitab: “Melalui perbuatan ketaatan kepada hukum Allah tidak ada satu orang pun yang dibenarkan dihadapan-Nya” (Rm. 3:20 dan Gal. 2:16). Pertanyaan yang muncul adalah jikalau kita dibenarkan melalui iman, apakah iman yang menjadi dasar bagi Allah untuk membenarkan orang berdosa?

Perlu mendapat perhatian khusus bahwa di antara justification dan faith di dalam bahasa Yunani diikuti dengan preposisi dia sebagai genitive bukan dia sebagai accusative (Rm. 3:25, 28, 30, 5:1, Gal. 2:16, dan Flp. 3:9). Preposisi dia sebagai genitive menekankan fakta bahwa iman adalah alat atau instrumen di dalam proses justification. Selain itu Alkitab tidak pernah menggunakan preposisi dia sebagai accusative yang berarti “sebagai dasar atau alasan” di dalam menjelaskan proses justification. Jadi, melalui analisa gramatikal bahasa asli yang dipakai Alkitab, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa iman tidak pernah menjadi dasar di dalam proses justification.

R.C. Sproul memberikan satu ilustrasi yang sangat baik untuk menjelaskan fungsi iman dalam proses justification. Iman menurut dia adalah prakondisi yang perlu (necessity) di dalam proses justification seperti halnya oksigen di dalam proses pembakaran, tetapi bukan merupakan prakondisi yang cukup (sufficient). Jikalau oksigen adalah prakondisi yang cukup (sufficient), maka hal ini akan menjadi problem besar bagi manusia di mana proses pembakaran akan terjadi jikalau oksigen tersedia, termasuk di dalam paru-paru kita! Walaupun tidak menjadi prakondisi yang cukup, oksigen tetap menjadi suatu kebutuhan yang diperlukan didalam proses pembakaran, sehingga tanpa oksigen tidak mungkin ada nyala api. Problema yang lebih lanjut kini muncul: “Jika iman bukan menjadi dasar di dalam proses justification, apakah yang menjadi dasar Allah membenarkan orang berdosa?”.

Jawaban atas pertanyaan di atas menjadi salah satu poin penting yang membedakan theologi Yudaisme, theologi Roma Katolik, dan theologi Protestan khususnya yang mewarisi ajaran para Reformator. Dasar pembenaran Allah untuk orang berdosa bukanlah ketaatan orang berdosa kepada hukum Allah (ajaran Yudaisme), bukan pula kebenaran Kristus ditambah dengan perbuatan baik (ajaran Roma Katolik), melainkan karena ketaatan sempurna Kristus dalam menjalankan perintah Allah yang secara anugerah diberikan Allah kepada orang berdosa seperti ada tertulis: “karena ketaatan satu orang maka semua orang menjadi benar” (Roma 5:19). Manusia yang telah berdosa dibenarkan oleh karena kasih karunia yang telah diberikan dengan cuma-cuma karena penebusan Kristus Yesus dalam darah-Nya, yang memuaskan murka Allah yang menyala-nyala, dan semua ini diterima melalui iman (Roma 5:9, Roma 3:24-25).

Dasar pembenaran orang berdosa tidak berada di dalam diri kita yang berdosa, bukan pula kebenaran dalam tindakan, pikiran dan karakter, bukan pula ketaatan kita kepada Hukum Taurat, melainkan karya Kristus yang genap di atas Golgota yang menjadi milik kita berdasarkan kasih karunia Allah dan diterima melalui iman kepada Kristus. Iman hanyalah menjadi instrumen di dalam kita untuk menerima semua karya Kristus tersebut. Sehingga tidak ada satu orang pun yang boleh menjadi sombong atas status orang benar yang ia miliki (Roma 4:2).

Justification by Faith Alone in Book of James

Problem lain yang muncul di dalam memahami doktrin justification by faith alone adalah bahwa Yakobus di dalam suratnya menuliskan bahwa orang dibenarkan melalui perbuatan baik dan bukan iman saja (Yakobus 2:24), yang secara sekilas terlihat bertentangan dengan ajaran Paulus yang telah kita bahas di atas. Sebelum kita menganalisa kedua hal tersebut, perlulah kita mengingat bahwa Allah yang mewahyukan Diri-Nya di dalam Alkitab dan menginspirasikan penulis Alkitab (termasuk Paulus dan Yakobus) untuk menuliskan isi hati-Nya adalah Allah yang suci, benar, tidak berubah dan tidak berkontradiksi di dalam Diri-Nya (Yakobus 1:17), sehingga Dia tidak mungkin mewahyukan Diri-Nya dalam pengajaran-pengajaran yang berkontradiksi satu sama lain. Dengan sikap yang hormat kepada Alkitab sebagai firman Allah, barulah kita berusaha untuk merekonsiliasi kedua hal yang yang tampaknya bertentangan ini.

Jika kita menganalisis lebih lanjut surat Yakobus, maka jelaslah bahwa ajaran Yakobus mengenai justification tidaklah bertentangan dengan ajaran Paulus melainkan saling melengkapi. Yang menjadi kunci di dalam ‘perbedaan’ ini adalah perbedaan konteks di dalam tulisan mereka. Surat Yakobus ditulis lebih dahulu (sekitar abad 40-50M) dibandingkan dengan surat Roma (sekitar 57M), sehingga surat ini tidak mungkin ditulis untuk memberikan sanggahan terhadap tulisan Paulus kepada Jemaat di Roma (lihat Yakobus 2:23). Yakobus di dalam suratnya memiliki tujuan untuk mengajarkan cara hidup yang benar dan berkenan kepada Tuhan kepada orang Kristen mula-mula yang memiliki cara hidup antinomianisme (kesalahan akibat penekanan berlebihan terhadap aspek anugerah dengan mengabaikan ketaatan kepada hukum Allah). Sebelum sampai kepada kesimpulan di ayat 23, Yakobus di ayat 14 memulai dengan contoh seseorang yang berkata bahwa ia memiliki iman tetapi tidak merefleksikan imannya di dalam perbuatan. Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seseorang memiliki iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkan iman itu menyelamatkan dia? (Yakobus 2:14). Di dalam hal ini Yakobus menghadapi persoalan yang berbeda dengan Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Roma. Yakobus berhadapan dengan orang-orang yang yang memiliki iman yang “mati” sedangkan Paulus berhadapan khususnya dengan orang yang Yahudi yang merasa sebagai orang benar (righteous) karena mereka memiliki Hukum Taurat dan “menjalankannya”.

Oleh karena itu Yakobus menggunakan pendekatan yang berbeda dengan Paulus. Paulus di dalam surat kepada jemaat di Roma menggunakan ide forensic untuk menjelaskan konsep justification. Seperti halnya seorang terhukum dinyatakan tidak bersalah oleh hakim di dalam pengadilan, begitu pula orang berdosa dinyatakan sebagai orang benar di hadapan Allah. Sebaliknya di dalam problem yang dihadapi oleh Yakobus, orang Kristen yang memiliki iman yang “mati” telah dinyatakan sebagai orang benar di hadapan Allah, akan tetapi perbuatan mereka di hadapan manusia tidak mempermuliakan Allah dan menjadi batu sandungan bagi orang lain. Oleh karena itu Yakobus menantang mereka untuk menunjukkan iman mereka tanpa perbuatan dan ia akan menunjukkan kepada mereka iman yang ia (Yakobus) miliki dengan perbuatannya (ayat 18).  Lebih lanjut Yakobus mengingatkan bahwa iman yang tanpa disertai dengan tindakan tidak banyak berbeda dengan iman yang dimiliki oleh Iblis. Terakhir, ia memberikan contoh iman yang diperkenan Allah. Abraham (yang juga menjadi contoh dalam surat Paulus) dan Rahab dicatat sebagai orang-orang yang tidak hanya beriman tetapi juga mengerjakan iman mereka di dalam kehidupan mereka dengan setia (Yakobus 2: 23-25 dan Ibrani 11).          

Orang berdosa memang hanya dibenarkan di hadapan Allah berdasarkan ketaatan sempurna Kristus hingga rela mati tersalib di Golgota. Kebenaran Kristus ini menjadi milik mereka berdasarkan kasih karunia Allah dan diterima hanya melalui iman kepada Kristus, sehingga mereka tidak lagi berstatus sebagai orang berdosa tetapi sebagai orang benar. Akan tetapi sesudah mendapat status orang benar, seorang tidak bisa menjalani hidupnya tanpa bertanggung jawab di dalam melakukan kehendak Allah. Justru sebaliknya, setelah mendapatkan anugerah yang begitu besar, seseorang harus memiliki kerinduan untuk menaati perintah Allah, bukan agar diselamatkan melainkan sebagai ekspresi ucapan syukur atas anugerah keselamatan yang diterima. Seperti halnya Paulus yang mengikuti teladan ketaatan Kristus, marilah kita juga mengerjakan bagian yang Tuhan percayakan kepada kita sehingga pada akhir dari waktu yang Tuhan percayakan, kita dapat berkata, "Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman[ku]" (II Timotius 4:7).

Penutup

Seperti yang telah dibahas di atas, justification by faith alone adalah doktrin yang sangat penting dan menjadi inti dalam keKristenan. Kesalahan dalam memahami doktrin  justification by faith alone akan menyebabkan distorsi terhadap pengertian Injil yang seutuhnya seperti yang diajarkan di dalam Alkitab. Selain itu, doktrin ini juga yang membedakan ajaran Alkitab dengan ajaran Roma Katolik (yang telah terdistorsi dengan perbuatan baik dan tradisi) dan agama-agama lainnya di dunia. Jikalau agama-agama di dunia mengajarkan bahwa manusia perlu melakukan perbuatan baik, mengerjakan ritual-ritual ibadah, membuang segala hawa nafsu, memberi sedekah dan berpuasa, dan lain-lain agar mereka mungkin diselamatkan, maka doktrin justification by faith alone mengajarkan sebaliknya. Justification by faith alone mengajarkan bahwa Allah sendirilah yang merencanakan dan menggenapi rencana keselamatan bagi kaum pilihan yang Ia kasihi, terlepas dari segala campur tangan manusia. Dan jaminan keselamatan menjadi suatu hal yang pasti seperti halnya Allah yang pada Diri-Nya kudus dan tidak berubah.

Akhir kata, tiada lain yang dapat dikatakan selain ucapan syukur kepada Tuhan atas anugerah keselamatan yang kita terima. Jikalau bukan karena kasih karunia dari Allah, maka kita layak menerima murka Allah yang menyala-nyala untuk selama-lamanya. Soli Deo Gloria.       

Jesus, thy blood and righteousness.

My beauty are, my heavenly dress.

Midst flaming worlds in these arrayed

With joy shall I lift up my head.

Wiryi Aripin

Pemuda GRII Singapura

Wiryi Aripin

Oktober 2008

1 tanggapan.

1. Antono Adhi dari Semarang berkata pada 18 August 2013:

Terima kasih atas artikel ini mas, mohon ijin artikel ini saya masukkan sebagai salah satu bab di pelajaran agama Kristen di Unisbank Semarang. Karena saya hanya mengambil doktrin-doktrin Alkitab yang dijabarkan oleh orang Reformed.

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pimpinan Tuhan selama 29 tahun terhadap GRII. Berdoa kiranya Tuhan tetap beranugerah kepada gereja ini dalam memenangkan jiwa-jiwa bagi Kristus dan memimpin generasi ini.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Shalom, Saya ingin bertanya. Saya sadar saya tidak bersunguh-sungguh didalan Tuhan, saya juga sadar kalau saya ikut...

Selengkapnya...

Senang membahas tentang tokoh Barnabas. Saya ingin mendalami tokoh tersebut, mengingat pada abad 20-an terpublish...

Selengkapnya...

Saya berfikir untuk memperluas jarak dan kelembagaan keuangan Kristiani...

Selengkapnya...

kok banyak yang bilang gereja adalah bangunan,tempat buatan rasul,dll. padahal gereja yang dikehendaki Yesus bukanlah...

Selengkapnya...

"Betul bahwa seluruh hidup kita adalah pelayanan kepada Tuhan. Betul pula bahwa aktivitas pelayanan tidak hanya...

Selengkapnya...

© 2010, 2018 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲