Artikel

Justification: Grace on Grace

Dear Paman Sam,

Long time no see yah Paman. Grace baik-baik aja di Singapura; tetapi ini negara yang menurut saya cukup kuat dorongan materialis dan sekulernya, tantangan yang berbeda dengan Indonesia. Alasan saya menulis ke Paman karena selama di Indonesia, Paman yang mendidik saya dalam hal rohani hingga saya remaja. Saya masih ingat Paman yang memberikan Alkitab pertama kepada Grace, walau sekarang sudah agak jarang dibuka.

Sebenarnya selama ini ada satu hal yang saya ingin tanyakan ke Paman tapi susah sekali untuk diungkapkan. Tapi lewat surat ini saya lebih bisa mengungkapkan apa yang ada di dalam benak saya selama ini. Begini, Grace sering merasa tertekan dan mempunyai kesan selalu dibayang-bayangi “penghakiman Allah” yang menakutkan. Kenapa yah Grace suka merasa dihakimi oleh hati nurani setiap kali berbuat dosa baik kecil maupun lumayan besar? Saya pernah cerita hal ini ke teman baik Grace, namanya Dewi. Dia bilang di antara semua teman-temannya, Grace itu yang paling baik dan “suci” – tidak smoking, tidak drinking, tidak clubbing, masih pergi ke gereja, dan suka membantu teman tanpa pamrih lagi. Dia bilang, “Grace, Grace, kamu kok lucu sih merasa tertekan segala, kalo ada satu orang yang nantinya ke sorga yah itu pasti kamu, kalau kamu aja gak ke sorga siapa yang bisa kalau begitu? Yah cuma malaikat-malaikat yang tidak berdosa aja dong? Sudah kamu jangan pikir yang tidak-tidak.”

Jadi Paman apakah saya harus take comfort dari apa yang teman-teman saya katakan? Tapi walau begitu tetap hati nurani saya berkata sebaliknya. Ataukah pertanyaan selanjutnya, sampai harus menjadi sebaik apa agar saya boleh dibebaskan dari pengadilan Allah? Mohon Paman memberikan bijaksana kepada keponakanmu yang sedang bergumul ini.

Salam Kasih,

Graciana

Dear Grace,

Paman senang sekali mendapatkan surat dari Grace. Sudah lama sekali kita tidak bertukar pikiran seperti ini yah. Paman bersyukur Tuhan terus menjaga Grace selama ini, dan tentunya hati nuranimu yang masih segar itu harus tetap dijaga. Grace, Paman ada kabar buruk dan kabar baik untuk Grace. Kabar buruknya, Grace mungkin orang terbaik di kalangan teman-temanmu, atau bahkan paling extreme, meskipun Grace mungkin orang terbaik di bumi ini, Grace tetap tidak akan lolos dari penghakiman Allah. Standar yang Tuhan kita pakai bukanlah kebaikan manusia yang rapuh. Mungkin kita berpikir kita orang baik, tetapi yang lebih penting bukan apa pendapat kita melainkan pendapat Tuhan. Apa sih pendapat Tuhan tentang manusia? Di Amsal 53:3-4 dikatakan, “Allah memandang ke bawah dari sorga kepada anak-anak manusia, untuk melihat apakah ada yang berakal budi dan yang mencari Allah. Mereka semua telah menyimpang, sekaliannya telah bejat; tidak ada yang berbuat baik,
seorangpun tidak.” Grace tentu masih ingat ayat hafalan dari Roma 3:23 yang menyatakan bahwa: “Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah.” Dan lagi di Yesaya 64:6 dikatakan kesalehan kita seperti kain kotor. Di mata manusia kita mungkin orang suci, tetapi di mata Tuhan kesucian manusia seperti kain gombal. Grace, sudah saatnya kamu membuka kembali Alkitabmu yang mungkin sudah berdebu di rak buku. Biarlah firman Tuhan yang berbicara langsung ke dalam lubuk hatimu dan meyakinkanmu, bukan sekedar kata-kata Paman semata.

Standar yang Tuhan pakai untuk menghakimi kita adalah standar kesucian Allah yang sempurna. Allah yang pada dirinya suci tidak akan memakai standar manusia yang jatuh, Ia hanya akan memakai standar kesucian-Nya tanpa kompromi. Cacat dosa seiota pun akan menyobek kemungkinan kita masuk ke dalam sorga yang kekal. Tidak ada cara lain bagi kita untuk boleh diterima di hadapan takhta pengadilan Allah selain kita menjadi sempurna.

Kabar baiknya adalah bukan kamu seorang yang pernah merasakan kegentaran dan ketakutan akan takhta pengadilan Allah. Di abad ke-16 ada seorang biarawan yang bernama Martin Luther yang juga mengalami pergumulan di dalam hatinya seperti kamu yang bahkan jauh lebih hebat. Ia memutuskan menjadi biarawan ketika ia berjalan dalam badai dan hampir disambar petir. Kejadian tersebut dilihatnya sebagai tanda hukuman dari Allah. Akhirnya, ia mendedikasikan dirinya ke dalam kehidupan biara, mencoba semua cara seperti berpuasa, berdoa berjam-jam, berziarah ataupun mengaku dosa terus-menerus. Ia mencoba menyenangkan Allah melalui perbuatan baiknya tetapi ternyata itu semua hanya meningkatkan kepekaannya akan keberdosaannya. Ia bahkan pernah berkata, “Jikalau seseorang bisa menggapai sorga karena menjadi biarawan, aku tentunya akan termasuk salah satunya.” ... mirip seperti komentar Dewi tentangmu yah Grace.

Tetapi Luther tetap tidak mendapatkan kedamaian yang ia cari. Paman mengutip J. I. Packer yang berkata bahwa siapapun yang mengerti tentang kebobrokan dirinya sekaligus tuntutan kesucian dari Tuhan sebagai Hakim yang adil pasti akan bertanya pertanyaan yang Luther pernah ajukan hampir 500 tahun yang lalu, “Bagaimana saya bisa menemukan Allah yang penuh anugerah?”[i] Pertanyaan tersebut tidak dapat dijawab oleh rasio manusia belaka. Luther tidak menemukan jawabannya di dalam semua latihan-latihan disiplin rohani biara melainkan di dalam Wahyu Allah. Ia menemukannya di dalam Roma 1:17 - Orang benar akan hidup oleh iman. Sola Fide!

Namun theologi gereja yang berkembang saat itu menyatakan bahwa iman semata tidak dapat membenarkan sesorang, hanyalah iman yang aktif dalam charity dan perbuatan baik barulah itu mampu membenarkan seseorang di hadapan Allah. Perbuatan baik yang dimaksud lebih lanjut adalah menyumbangkan uang kepada gereja.

Kalau tadi Paman sudah memberikan satu berita buruk dan satu berita baik kepada Grace, sekarang Paman berikan 1 lagi yaitu kabar terbaik yang seseorang pernah terima: Luther, semakin ia mendalami pemahaman Alkitab, semakin ia diyakinkan bahwa gereja pada saat itu sudah corrupted dan menyeleweng dalam beberapa doktrin sentral yang penting, terutama dalam doktrin pembenaran – tindakan Allah yang menyatakan orang berdosa menjadi benar. Ia berkata bahwa Alkitab menyatakan pembenaran adalah kasih karunia Allah semata. Keselamatan seseorang adalah tindakan karunia Allah yang didapat melalui iman kepada Yesus Kristus.

Semoga ini dapat memperjelas pergumulan Grace, dan jangan ragu-ragu bertanya atau cerita kepada Paman yah Grace. Paman doakan Tuhan membukakan hati Grace kepada kebenaran kasih karunia Allah.

Salam dalam Kristus,

Paman Sam

Dear Paman Sam,

Terima kasih banyak Paman untuk suratnya. Grace senang sekali membaca apa yang Paman jelaskan. Grace juga sudah mulai lagi membuka dan membaca Alkitab, terutama bagian-bagian yang Paman jelaskan. Grace juga sudah meneliti dan membaca riwayat hidup Martin Luther. Grace belajar banyak dari kehidupannya dan juga kegigihannya memperjuangkan kebenaran, bahkan harus melawan Paus sekalipun. Keren pisan yah.

Grace dulu suka membayangkan Grace dengan wajah tertunduk sedang duduk di kursi terdakwa, sedangkan Allah duduk di takhta-Nya yang super-megah menghakimi setiap dosa-dosa Grace. Grace selalu merasa tertekan dan kurang bisa melihat Allah yang Mahabaik, yang Grace lihat adalah Allah sebagai Hakim yang mengadili manusia berdosa. Dan itu jugalah rupanya yang Martin Luther rasakan.

Dulu Grace selalu berpikir adanya kontradiksi antara pengadilan Allah dan pengadilan dunia. Alkitab berkata: siapa yang mengaku dosa akan diampuni, sedangkan di pengadilan dunia: siapa yang berdosa harus dihukum. Bayangkan, seorang pembunuh mengaku semua dosanya di ruang pengadilan, “Betul, sayalah yang membunuh sang korban, saya waktu itu khilaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Maafkan saya.” Lalu sang hakim berkata, “Kamu diampuni karena kamu mengaku kesalahanmu.” Tentulah hakim tersebut besok yang akan masuk penjara bersama-sama si pembunuh tersebut.

Tetapi sekarang Grace mendapatkan kejelasan bahwa kita bisa diampuni karena ada Tuhan Yesus yang mati di kayu salib bagi Grace dan semua orang yang percaya kepada-Nya. Kristus menjadi tumbal bagi dosa-dosa umat manusia. Grace sekarang membayangkan sedang duduk tertunduk di kursi terdakwa yang hampir dibawa keluar untuk menjalani hukuman mati, tiba-tiba Kristus datang menghampiri dan ia membuka ikatan-ikatan borgol Grace dan bukannya Grace yang keluar ke ruangan penghukuman, Ia yang kini menggantikan Grace menangggung hukuman tersebut.

Benar-benar lega sekarang mengetahui kebenaran firman Tuhan. Jadi rupanya iman kitalah yang menyelamatkan kita, bukan perbuatan baik kita yang seberapapun banyaknya itu. Sekarang saya membayangkan saya seperti orang yang tenggelam dalam dosa, sedang berupaya keras tetap dalam permukaan dengan nafas senen-kemis dan ada tangan Allah dari atas ‘sekoci keselamatan’ yang terulur kepada Grace, dan Grace mengulurkan tangan Grace menyambut-Nya. Sekarang Grace sudah aman di dalam ‘sekoci keselamatan’.

Salam Kasih dari yang Dibebaskan,

Grace

Dear Grace,

Paman senang Grace merasakan kebenaran firman Tuhan yang membebaskan, namun Grace perlu ingat bahwa Grace dibebaskan bukan untuk bebas dari segala sesuatu, tetapi dibebaskan untuk menjadi budak Kristus, mengikut Kristus sampai mati.

John Calvin, Reformator di Swiss, menulis berkenaan dengan doktrin “justification by faith”, bahwa dengan menerima Kristus kita menerima anugerah ganda yaitu:

1.      Kita didamaikan dengan Tuhan melalui Korban Kristus yang tidak bercacat sehingga di sorga kelak kita tidak berhadapan dengan Allah sebagai Hakim yang Adil tetapi sebagai Bapa yang penuh kasih.

2.      Kita dikuduskan sehingga kita bisa menjalani kehidupan yang kudus dan tanpa cela.

Paman berdoa untuk Grace, seperti doa rasul Paulus, “Semoga Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus” (Filipi 1:6). Tetapi di dalam kebahagiaan Paman, ada satu hal yang Paman ingin tekankan lagi setelah membaca surat Grace yang terakhir. Paman khawatir jangan-jangan Grace mempunyai konsep yang keliru tentang iman. Kita diselamatkan bukan karena iman kita, tetapi melalui iman kita diselamatkan. Ilustrasi tangan kita menggapai tangan Tuhan mungkin membantu menjelaskan tetapi setiap ilustrasi ada limitasi dan mungkin mempunyai ekses pengertian yang tidak sepenuhnya benar. Di sini Paman mau menjelaskan, jangan sampai karena ilustrasi tersebut, kita mempunyai pengertian bahwa keselamatan adalah hasil kongsi antara Allah yang menyediakan dengan kita yang beriman menerima. Kongsi 50%-50%. Padahal bukan demikian. Pembenaran adalah sepenuhnya tindakan Allah. Kalau tidak, iman kita kembali lagi menjadi “tindakan” kita untuk mendapatkan pembenaran tersebut dan kita sekali lagi jatuh kepada pembenaran melalui tindakan manusia.

Pembenaran tersebut kita terima dari Kristus yang diimputasikan kepada kita melalui iman. Nih, Paman beri kutipan apa yang ditulis oleh Martin Luther: “The first and chief article is this: Jesus Christ, our God and Lord, died for our sins and was raised again for our justification (Romans 3:24-25). He alone is the Lamb of God who takes away the sins of the world (John 1:29), and God has laid on Him the iniquity of us all (Isaiah 53:6). All have sinned and are justified freely, without their own works and merits, by His grace, through the redemption that is in Christ Jesus, in His blood (Romans 3:23-25). This is necessary to believe. This cannot be otherwise acquired or grasped by any work, law or merit. Therefore, it is clear and certain that this faith alone justifies us ... Nothing of this article can be yielded or surrendered, even though heaven and earth and everything else falls (Mark 13:31).[ii]

Secara sederhana dapat disimpulkan perjuangan Luther di dalam Reformasi abad ke-16 adalah peperangan sengit antara “justification by faith” dengan “justification by works”.

Sola Fide menjadi salah satu dari lima sola yang menjadi dasar perjuangan Reformasi: Sola Fide — Sola Gratia — Solus Christus — Sola Scriptura — Soli Deo Gloria.

Oh ya Grace, saya hampir lupa, Sola itu artinya HANYA. Paman jelaskan secara singkat seperti ini:

  • SOLA FIDE: HANYA melalui iman sebagai sarana kita menerima pembenaran Allah – menolak pembenaran melalui perbuatan.
  • SOLA GRATIA: HANYA karena kasih karunia-Nya kita diselamatkan secara cuma-cuma – menolak keselamatan karena hasil usaha kita.
  • SOLUS CHRISTUS: HANYA Kristus-lah satu-satunya perantara Allah dan manusia – menolak perantara lainnya entah itu Paus, orang-orang suci (saints) ataupun Bunda Maria.
  • SOLA SCRIPTURA: HANYA Alkitab sebagai otoritas yang mutlak – menolak otoritas Paus yang infallible dan praktis-praktis yang bertentangan dengan kitab suci seperti praktis penjualan indulgensia, purgatory, dan lain-lain.
  • SOLI DEO GLORIA: HANYA kepada Allah segala puji syukur kita tujukan.

Grace, kamu sadar sekarang namamu begitu indah? Saya ingat orang tuamu dengan jelas memilih nama Grace untuk kamu karena mereka benar-benar menyadari bahwa kamu adalah anugerah dari Tuhan untuk mereka. Jadi kamu harus menghidupi makna dari namamu bahwa keselamatan kekal kita, dan bahkan setiap inci seluruh hidup kita, adalah anugerah dari Tuhan.

Salam Kasih,

Paman Sam

Dear Paman Sam,

Terima kasih sejuta Paman, Grace senang sekali dan bersyukur kepada Tuhan karena diberikan nama yang begitu indah dan juga mempunyai makna yang dalam sekali. Grace jadi sedikit bingung karena dalam KTB di gereja sini, Grace diajarkan bahwa setelah kita diselamatkan itu tidak cukup, harus ada baptisan, dan harus ada perbuatan baik, dan juga kesucian untuk melengkapinya. Padahal di surat Paman sebelumnya, Grace cukup yakin mengerti bahwa keselamatan itu adalah semata-mata anugerah Tuhan bagi kita yang tidak layak melalui iman bukan perbuatan. Lalu kalau sudah diselamatkan bagaimana tentang perbuatan baik? Di manakah tempatnya? Apakah itu penyempurna iman?

Paman juga tolong berikan bagian-bagian Kitab Suci yang menjelaskan hal ini supaya Grace bisa mulai menggali sendiri, kan Grace tidak mau dikasih ikan terus, Grace mau dikasih kail dan umpan supaya bisa menangkap ikan sendiri.

Oh ya, Paman juga ada menulis tentang kebenaran Kristus yang diimputasikan kepada kita. Apa itu yah artinya?

Salam,

Grace

Dear Grace,

Roma 3:24 mungkin bisa menjelaskan tentang “Justification”:

  • The FACT of Justification – "being justified"
  • The MANNER of Justification – "freely"
  • The SOURCE of our Justification – "by His grace"
  • The GROUND of Justification – "redemption in Christ Jesus"[iii]

Dan dalam Roma 5: Ia yang dibenarkan, Ia juga dikuduskan. Sehingga tidak mungkin orang yang menerima anugerah keselamatan dan dibenarkan oleh Tuhan, kembali kepada kehidupannya yang berkubang dalam dosa. Perbuatan baik dan kesucian adalah buah hasil pembenaran yang seharusnya keluar secara otomatis.

Kamu coba klarifikasi dengan pemimpin KTB kamu apakah perbuatan baik yang ia maksud itu sebagai buah dari justification ataukah sebagai salah satu prasyarat kita dibenarkan yaitu iman plus perbuatan baik. Konsep justification by faith ini memang tidak mudah diterima bahkan itulah keunikan dari iman Kristen yang sejati. Konsep justification di agama-agama lain adalah justification by works.  Doktrin justification by faith akan selalu diganggu dan diselewengkan menjadi justification by works dari zaman ke zaman.

Prinsip lima Sola yang Paman jelaskan di surat sebelumnya itu mengakibatkan peperangan yang sengit antara gerakan Reformasi Luther dengan gereja Roma Katolik. Justification by faith yang menjadi melodi utama dari gerakan Reformasi mendapatkan perlawanan yang keras baik di masa lalu, masa sekarang maupun masa yang akan datang. Alasannya adalah karena doktrin ini melawan natur manusia berdosa yang independen dari Allah.

Namun kelima Sola ini tidak hanya mendapatkan perlawanan dari gereja Roma Katolik abad pertengahan tetapi ketika kita telusuri ke belakang, peperangan yang sama juga dihadapi oleh Paulus melawan orang-orang Yahudi yang menghendaki orang-orang Kristen Yunani yang tidak bersunat untuk disunatkan dan mengikuti aturan hukum Taurat baru menjadi Kristen. Ketika kita telusuri ke depan, kita menemukan perlawanan yang sama juga dihadapi Agustinus melawan Pelagius ataupun Reformed melawan Arminian. Dan sepertinya justification by works menjadi arus utama di dunia ini sedangkan pandangan Reformed berada di tempat yang marginal dan tersendiri sekarang.

Jadi kalau kamu ingin menelusuri bagian kitab suci tentang konsep justification, Grace bisa mulai dengan Kitab Roma dan Galatia. Di kitab Roma, Rasul Paulus menjelaskan dasar-dasar prinsip justification secara mendetail. Sedangkan di kitab Galatia, Paulus dengan sengit membela konsep justification terhadap serangan kaum Judaizer. Karena mereka yang sudah dibebaskan dari ikatan hukum Taurat (justification by works) ingin kembali kepada ikatan yang memperbudak sekali lagi. Tapi tabah yah Grace, mungkin kamu akan mendapati beberapa konsep yang sulit dimengerti dan perlu perjuangan untuk mengerti kebenaran firman Tuhan, but is definitely worth it!

Grace, tentang istilah “imputasi” Paman lupa menjelaskan karena istilah ini memang agak teknikal untuk orang awam. Imputasi ini mungkin bisa dijelaskan dengan lebih mudah ketika kamu mengerti istilah amputasi. Amputasi pasti kata yang cukup familiar seperti dalam kalimat, “Dokter mengamputasi tangan si pasien.” Amputasi berarti memutuskan atau melepaskan apa yang menjadi bagian dari sesuatu/seseorang. Imputasi adalah kebalikannya, yaitu mengenakan sesuatu yang dari luar kepada sesuatu/seseorang tersebut. Jadi dalam hal ini kebenaran Kristus diimputasikan kepada orang yang dibenarkan dapat dimengerti bahwa kebenaran Kristus dikenakan kepada kita atau kita di-cover oleh kebenaran Kristus.

Bagaimana Grace? Apakah kamu jadi lebih jelas atau tambah bingung dengan surat-menyurat ini?

Salam kasih,

Paman Sam

Dear Paman Sam,

Paman, tenang aja, Grace jadi lebih mengerti kok walau ada kebingungan sini-sono, tapi sekarang kerangka berpikir Grace yang semerawut sudah lebih tertata rapi.  Point berikutnya yang Grace tanyakan adalah bagaimana mengabarkan Injil dan kebenaran “justification of faith” kepada teman-teman dalam konteks pluralisme. Mereka sih stand-nya seperti ini kira-kira, “Ya sudah itu kan yang kamu percaya, yang saya percaya lain. Marilah kita saling menghormati kepercayaan masing-masing.”

Paman, tolong kasih bijaksana dan tips praktis dong.

Salam,

Grace

Dear Grace,

Grace, first of all, keselamatan adalah anugerah dari Tuhan, oleh karena itu mari kita minta kepada yang Empunya tuaian untuk memberikan kesempatan bagi kita menuai pada saat-Nya. Maka, sebelum kita membuka mulut kita mengabarkan Injil, biarlah lutut kita bertelut lebih dahulu untuk mereka, Grace. Berdoa biar kiranya Tuhan membukakan pengertian akan dosa, penghakiman dan kasih Allah, serta pengharapan manusia satu-satunya di dalam Kristus. Setiap manusia berdosa harus mengerti dan menyadari fakta dosa adalah fakta yg tidak bisa dipungkiri. Setiap manusia berdosa juga akan menerima penghakiman dari murka Tuhan. Sehingga Kristus yang tersalib, paradoks terbesar dari zaman ke zaman, tetaplah jawaban satu-satunya bagi umat manusia. Berita Injil tidak pernah menjadi usang, ketinggalan zaman, bahkan tidak pernah menjadi satu pilihan di antara begitu banyak pilihan yang ada seperti yang dipikirkan manusia di tengah dunia pluralistis.

Berita justification by faith tetap merupakan batu sandungan yang besar bagi mereka yang merasa diri benar melalui perbuatan baik mereka. Namun orang yang berpegang pada sentralitas berita Injil tidak perlu merasa minder. Mari kita tetap beritakan Yesus yang tersalib dengan setia karena hanya melalui Dia-lah kita manusia beroleh pembenaran! Inilah pengharapan sejati bagi manusia berdosa.

Grace, tidak ada jalan pintas, Paman sarankan selain kamu rajin menggali Alkitab, bacalah buku-buku yang baik yang bisa memperlengkapi kamu lebih lanjut dalam pengenalan akan Allah, sehingga kamu dapat memberitakan Injil di konteks dunia sekarang ini dengan lebih baik lagi. Mari kita terus bertumbuh kepada kesempurnaan dalam Kristus!

Salam dan Doa,

Paman Sam

Heruarto Salim

Redaksi Pelaksana PILLAR



[i] http://www.the-highway.com/Justification_Packer.html

[ii] http://en.wikipedia.org/wiki/Theology_of_Martin_Luther

[iii] http://www.leaderu.com/offices/stoll/justific.html

Heruarto Salim

Oktober 2008

12 tanggapan.

1. Bobby Felix dari Jakarta berkata pada 6 June 2013:

MENGAPA TIDAK SOLA SCRIPTURA?

Sebelum dibahas, ada baiknya disepakati dulu ttg pemakaian istilah agar tidak terjadi ke-salah mengerti-an yg diakibatkan perbedaan persepsi pemakaian istilah.

PEMAKAIAN ISTILAH

Adalah tidak tepat mengkontraskan antara Alkitab dgn Tradisi karena Alkitab pada hakekatnya adalah juga merupakan sebuah Tradisi (yakni Tradisi tertulis). Mengapa Alkitab disebut sbg Tradisi? Perlu diingat terlebih dahulu pengertian dari Tradisi. Apa itu Tradisi? Tradisi adalah ajaran/sekumpulan ajaran yg berasal dari seseorang/kelompok tertentu yg kemudian diwariskan & diajarkan turun temurun (dari generasi ke generasi). Maka dari itu tepatlah bila Alkitab dikatakan adalah sebuah Tradisi. Bukankah kebenaran ajaran Alkitab yg berasal dari para rasul & para nabi diwariskan & diajarkan dari generasi ke generasi, hingga sampai pada generasi kita saat ini? Namun telah menjadi kesepakatan tidak tertulis dalam berbagai diskusi (terutama dgn rekan protestan) yg membahas ttg Sola Scriptura, bahwa ketika dipakai istilah "Tradisi" adalah mengacu pada Tradisi (bentuk) Lisan, sedangkan utk Tradisi (bentuk) tertulis digunakan istilah "Alkitab/kitab suci". Gereja Katolik sendiri dalam katekismusnya menggunakan istilah "Tradisi Rasuli/Tradisi Suci" utk menunjuk pada Tradisi (bentuk) Lisan tsb sedangkan utk Tradisi (bentuk) tertulis digunakan istilah "Kitab suci (Sacred scripture)" Jadi utk kepentingan praktis dalam berdiskusi, maka digunakan istilah "Tradisi" utk menunjuk pada Tradisi (bentuk) lisan dan istilah "Alkitab/Kitab suci" utk menunjuk pada Tradisi (bentuk) tertulis. Sekarang mari kita membahas masalah Sola Scriptura dgn membaca ayat Alkitab berikut :

Bersambung pada posting berikutnya

2. Bobby Felix dari Jakarta berkata pada 6 June 2013:

PEMBAHASAN

2 Tes 2:15

"Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis."

"Therefore, brethren, stand fast, and hold the TRADITIONS which ye have been taught, whether by word, or our epistle."

"ara oun adelfoi sthkete kai krateite taV PARADOSEIV aV edidacqhte eite dia logou eite di epistolhV hmwn"

Ayat ini berangkat dari realita bahwa pada mulanya ajaran Kristus yg disampaikan oleh para rasul adalah melalui pengajaran secara lisan. Sebelumnya, Kristuspun mengajar para murid2Nya secara lisan. Kristus bahkan tidak menghasilkan satu lembar kertaspun yg berisi tulisanNya. Kumpulan pengajaran2 dari para Rasul yg disampaikan secara lisan inilah yg disebut sebagai Tradisi (Tradisi Lisan). Beberapa dari ajaran2 para rasul tsb kemudian dituliskan kedalam bentuk tertulis (berupa surat2 dari rasul kpd seseorang/suatu jemaat). Namun sayang, adalah tidak mungkin memasukan semua ajaran para rasul tsb kedalam bentuk tertulis. Yohanes menulis bhw masih banyak yang dikerjakan oleh Yesus yg tidak mungkin bila semuanya harus dicatat, dunia ini tidak akan mampu menampung kitab2 yg berisi semua ajaran Yesus tsb (Yoh 21:25). Sebagian yg tidak tertulis tetap berada dlm ajaran2 Tradisi (Tradisi Lisan). Oleh sebab itu Paulus menasehati agar kita berpegang teguh pada ajaran2 (Inggris : Traditions, Yunani : Paradosis) baik yg tertulis (yaitu Alkitab) maupun yg tidak tertulis (Tradisi/Tradisi Lisan). Dari konsep inilah Gereja (Katolik) mengenal dua sumber iman yaitu Alkitab (yg adalah Tradisi tertulis) dan Tradisi (Tradisi Llisan). Baik Alkitab maupun Tradisi (Tradisi Lisan) keduanya berisi warisan ajaran iman dari para Rasul yg dipercayakan kpd Gereja. Gereja memelihara kebenaran iman dari dua sumber tsb dan keduanya diperlakukan sama oleh Gereja. Keduanya memiliki otoritas yg sama dan wajib diimani. Harap dibedakan antara Tradisi (Tradisi Lisan) (huruf " T " besar) dgn tradisi gerejawi (huruf " t" kecil). Sepanjang suatu masalah menyangkut hal2 doktrinal maka ia termasuk dalam Tradisi (Tradisi Lisan) sedangkan masalah2 seperti jenis liturgi, disiplin gerejawi, berbagai bentuk kegiatan sebagai ungkapan/ekspresi iman (devosi) adalah merupakan sebuah tradisi gerejawi. Bedanya Tradisi (Tradisi Lisan) karena menyangkut doktrin/kebenaran iman, maka ajaran dalam Tradisi (Tradisi Lisan) tidak dpt berubah (Irreformable dan Irrevocable), sedangkan tradisi gerejawi karena tidak menyangkut doktrin/ kebenaran iman, maka dapat berubah dan bahkan dimungkinkan suatu daerah memiliki tradisi gerejawi yg berbeda dgn daerah lain

Bersambung pada posting berikutnya

3. Bobby Felix dari Jakarta berkata pada 6 June 2013:

MASALAH OTORITAS TRADISI & KITAB SUCI

Beberapa rekan protestan mungkin berkata bahwa mereka pada hakekatnya menerima Tradisi (Tradisi Lisan) namun mereka tidak bisa menyamakan otoritas ajaran Tradisi (Tradisi Lisan) sama & sejajar dgn otoritas Alkitab. Konsekuensi dari sikap ini adalah bahwa segenap pengajaran Tradisi (Tradisi Lisan) harus dilihat sesuaikah dgn pengajaran Kitab Suci. Jadi penerimaan terhadap sebuah ajaran Tradisi (Tradisi Lisan) bergantung dari kesesuaian dgn kebenaran Kitab Suci. Otoritas Tradisi(Tradisi Lisan) berada dibawah otoritas Kitab Suci. Bagaimana menanggapi pernyataan ini? Bahwa Gereja Katolik tidak masalah bila pengajaran Tradisi (Tradisi Lisan) harus di cross check dgn pengajaran Kitab Suci. Keduanya sudah pasti tidak mungkin akan bertentangan karena keduanya berasal dari sumber yg sama. Namun mari kita melihat pada proses kanonisasi...

Bahwa ketika para Bapa Gereja melakukan kanonisasi, baik umat Katolik maupun protestan sama-sama mengimani akan adanya inspirasi Roh Kudus. Namun bagaimana pada akhirnya para Bapa Gereja bisa menetapkan kitab A,B,C kanonik, kitab X,Y,Z tidak kanonik? Apakah para Bapa Gereja mendengar suara2 tertentu (sebagai bentuk manifestasi inspirasi Roh Kudus) dalam memberitahu mereka mana kitab yg kanonik, mana yg tidak kanonik? Tentu Tidak. Di depan tumpukan kitab2 yg hendak ditentukan kekanonikannya, para Bapa Gereja membaca & meneliti kandungan pengajaran yg terdapat pada masing2 kitab tsb, apakah sesuai atau tidak. Sesuai - Tidak Sesuai dgn apa? Tentu saja dengan ajaran Tradisi (Tradisi Lisan) yg telah mereka terima dari para Rasul. Agar lebih jelas berikut saya beri contoh :

MISALKAN pada saat itu Tradisi (Tradisi Lisan) mengajarkan bhw Kristus tidak disalib, melainkan yudaslah yg disalib, maka kitab2 yg berisi ajaran/kisah penyaliban Kristus akan dianggap tidak kanonik, sebaliknya kitab2 yg berisi ajaran/kisah penyelamatan Kristus dari peristiwa salib akan dianggap kanonik. NAMUN kenyataan berkata sebaliknya. Mengapa injil Barnabas akhirnya dinyatakan tidak kanonik? Karena Tradisi (Tradisi Lisan) mengajarkan kpd para Bapa Gereja bhw Kristus benar2 disalibkan demi pengampunan dosa umat manusia. Sehingga injil Barnabas yg mengisahkan kisah penyelamatan Kristus dianggap tidak kanonik.

MISALKAN pada saat itu Tradisi (Tradisi Lisan) mengajarkan bhw Yesus hanya memiliki satu natur saja maka tentu kitab2 yg mengajarkan dwinatur Kristus akan dianggap tidak kanonik, sebaliknya kitab2 gnostik akan dianggap kanonik. NAMUN sekali lagi kenyataan berkata sebaliknya. Karena Tradisi (Tradisi Lisan) mengajarkan keilahian & kemanusiaan (dwinatur) Kristus, maka injil/kitab gnostik-lah yg kemudian dianggap tidak kanonik.

Peran inspirasi Roh Kudus disini adalah mengingatkan para Bapa Gereja akan ajaran Tradisi (Tradisi Lisan) yg telah mereka terima dari para Rasul. Menyadari bagaiama proses kanonisasi inilah, maka jelas Gereja (Katolik) tidak mungkin dapat berposisi utk menerima sola scriptura dimana ajaran Tradisi (Tradisi Lisan) otoritasnya diletakan dibawah (subordinat) dari otoritas Kitab Suci. Apakah kalau begitu Gereja Katolik meletakan otoritas Tradisi (Tradisi Lisan) diatas otoritas Alkitab? Tidak juga. Gereja meletakannya keduanya sama otoritatifnya sebab keduanya berasal dari sumber Ilahi yg sama yg berbeda dalam moda transmisi penyampaiannya. Oleh karenanya keduanya tidak mungkin saling bertentangan (kontradiksi).

Bersambung pada posting berikutnya

4. Bobby Felix dari Jakarta berkata pada 6 June 2013:

Dalam Sola Scriptura terkadang ada yg mengemukakan prinsip bhw otoritas Gereja harus berada dibawah otoritas Alkitab. Ini juga sulit diterima oleh Gereja Katolik mengingat proses kanonisasi dan penetapan daftar kanon adalah oleh Gereja. Otoritas Gerejalah yg menetapkan daftar kanon kitab suci. Namun itu tidak berarti Gereja dpt bertindak seenaknya. Gereja menyatakan dirinya sbg pelayan Firman Tuhan baik yg ada dlm Alkitab maupun dlm Tradisi (Tradisi Lisan). Otoritas Gereja diwujudkan dlm penafsiran kitab suci & ajaran Tradisi (Tradisi Lisan).

Kemudian ada yg mungkin keberatan dgn mengatakan bahwa Tradisi sebagai ajaran yg disampaikan scr lisan bisa berbahaya karena bisa diubah-ubah ibarat permaianan membisikan suatu kalimat dari org pertama hingga org kesepuluh. Well ini masalah pada otoritas mana yg dipercaya. Apakah yg tertulis (Alkitab/Kitab Suci) juga tidak bisa disangsikan? Tentu sangat bisa. Gampang saja : Tau darimana surat Roma adalah surat tulisan Paulus?Jangan2 surat tsb adalah surat seorang bidat yg memakai/meminjam nama Paulus. Tau darimana surat Petrus adalah surat yg ditulis oleh Petrus? Jangan2 surat tsb adalah surat seorang bidat yg memakai/meminjam nama Petrus. Bukankah sudah diketahui bahwa aliran bidat sering meminjam nama para Rasul atau murid Para Rasul utk menamai kitab tulisan mereka? Lantas siapa yg menulis kitab Ibrani? Disini kita sbg umat HANYA bisa percaya kepada Gereja (yg adalah tiang penopang & dasar kebenaran, 1 Tim 3:15) yg mewartakan keotentikan surat2 tsb sbg benar2 tulisan dari para Rasul atau murid para Rasul. Demikian pula thd ajaran2 Tradisi yg diwartakan Gereja, umat Katolik mempercayai bahwa ajaran Tradisi tsb adalah ajaran dari para Rasul.

Salam

5. Bobby Felix dari Jakarta berkata pada 6 June 2013:

SOLA FIDE: HANYA melalui iman sebagai sarana kita menerima pembenaran Allah – menolak pembenaran melalui perbuatan.

TANGGAPAN : Martin Luther dalam proses menerjemahkan Alkitab ke Bahasa German telah MENAMBAHKAN kata "Hanya" (Sola) di surat Paulus ke Roma pada kata "Iman", dan membuat phrase BARU yang berbunyi "Hanya Iman" (Sola Fide). Kenapa dia melakukan ini? Untuk menyesuikan kitab dengan doktrinnya.

PADAHAL, Luther sebenarnya TIDAK PERLU menambahkan kata "Hanya", karena dibagian lain alkitab kita bisa temukan satu-satunya tempat dimana BENAR-BENAR ADA (dan bukannya ditambahkan) konsep "Hanya Iman". Dimanakah itu? Silahkan lihat Yakobus 2:24. Di Versi Indonesia kurang jelas, maka ini dari Revised Standard Version:

James 2:24 (RSV) 2:24 24 You see that a man is justified by works and not by faith alone.

Tapi, tentu saja ini lain sekali dengan yang diharapkan Luther. Karena Surat Yakobus mengajarkan Iman+Perbuatan. Dan bahkan Yakobus mewanti-wanti terhadap konsep "Hanya Iman". Jadi singkatnya ALKITAB MELARANG KONSEP SOLA FIDE!

(sumber : ekarsti.org)

6. Juan Intan Kanggrawan dari Singapura berkata pada 27 June 2013:

Dear Bobby,

Saya hanya ingin memberi komentar singkat mengenai relasi antara tradisi dan Alkitab. Sebab komentar-komentar anda selanjutnya juga berangkat dari pengertian ini.

Saya keberatan jika dikatakan bahwa Alkitab adalah tradisi / buah dari tradisi. Seharusnya, Alkitab merupakan Wahyu Allah secara khusus. Dengan demikian, Alkitab adalah suatu penyingkapan rahasia yang bersumber/berasal dari Allah, bukan dari manusia.

Tradisi dalam arti sempit bisa dimengerti sebagai ajaran/tata cara dari seseorang/sekelompok orang yang diwariskan secara turun-temurun. Jika dikatakan bahwa Alkitab berasal dari tradisi, akan ada ekses negatif bahwa Alkitab hanyalah karya dari manusia/tradisi saja. Bukankah seharusnya Alkitab adalah Wahyu Allah yang tertulis yang bersifat ilahi? Allah Pribadi Kedua adalah Allah yang telah membatasi Diri dalam bentuk tulisan. Senada dengan peristiwa inkarnasi dimana Firman menjadi manusia ("flesh" dalam versi ESV).

Tradisi memang tetap memiliki tempatnya yang unik dan penting. Dalam Perjanjian Lama misalnya, perintah Tuhan harus terus menerus diucapkan, diajarkan, dan dituliskan (Ulangan 6:6-9).

Juan Intan Kanggrawan Redaksi PILLAR

7. Bobby Felix dari Jakarta berkata pada 30 June 2013:

Pro : Juan Intan

Kamu menulis : Saya keberatan jika dikatakan bahwa Alkitab adalah tradisi / buah dari tradisi. Seharusnya, Alkitab merupakan Wahyu Allah secara khusus. Dengan demikian, Alkitab adalah suatu penyingkapan rahasia yang bersumber/berasal dari Allah, bukan dari manusia.

TANGGAPAN>>> 1. Keberatan anda berangkat dari pola pikir "Tradisi=berasal dari manusia". Padahal Tradisi tidak selalu melulu dari manusia. Bicara Tradisi, bicara sejumlah keyakinan/ajaran yg diwariskan oleh leluhur kita kepada kita dan keyakinan2/ajaran2 tsb bisa berasal dari Tuhan bisa pula dari manusia. Ajaran2 Alkitab yg berasal dari Allah diwariskan dari umat Allah abad2 awal (Gereja perdana) kpd kita. Jadi tidak salah mengatakan Alkitab adalah sebuah Tradisi (dalam hal ini Tradisi tertulis - 2 Tes 2:15).

2. Jika anda keberatan Alkitab sbg Tradisi, lalu akan anda mengerti sebagai apa Tradisi tertulis yg kepadanya kita harus berpegang teguh pada 2 Tes 2:15?

Kamu menulis : Tradisi dalam arti sempit bisa dimengerti sebagai ajaran/tata cara dari seseorang/sekelompok orang yang diwariskan secara turun-temurun. Jika dikatakan bahwa Alkitab berasal dari tradisi, akan ada ekses negatif bahwa Alkitab hanyalah karya dari manusia/tradisi saja.

TANGGAPAN>>> Gimana kalo pola pikir kamu diubah menjadi : Alkitab adalah Tradisi (tertulis) yg berasal/bersumber dari Allah yang diwariskan oleh umat Allah abad awal (Gereja Perdana) kpd generasi berikut hingga kpd kita saat ini? Dgn pola pikir diatas, maka tidak akan muncul ekses negatif sebagaimana yg kamu kemukakan.

Kamu menulis : Bukankah seharusnya Alkitab adalah Wahyu Allah yang tertulis yang bersifat ilahi? Allah Pribadi Kedua adalah Allah yang telah membatasi Diri dalam bentuk tulisan. Senada dengan peristiwa inkarnasi dimana Firman menjadi manusia ("flesh" dalam versi ESV).

TANGGAPAN>>> Dimana ayat Alkitab yg mengajarkan bhw Allah pribadi kedua telah membatas Diri dlm bentuk tulisan? Sebagai penganut sola scriptura, sebaiknya anda membuktikan dasar Alkitabiah pernyataan kamu diatas.

Salam

8. Lukas Yuan Utomo dari Singapura berkata pada 7 August 2013:

Terima kasih atas saudara yang telah memberikan tanggapan di dalam artikel ini. Saya mewakili redaksi Pillar ingin mengingatkan bahwa kolom tanggapan merupakan kolom dimana pembaca bisa memberikan tanggapan mengenai artikel yang ditulis. Tetapi kami sebagai redaksi ingin menghindari terjadinya diskusi di dalam kolom tanggapan.

Alasan kami untuk tidak terjadi diskusi, karena banyak hal di dalam diskusi Teologis harus di dijawab oleh orang yang benar-benar mempelajari teologis seperti Hamba Tuhan. Agar seluruh jawaban tersebut dapat kami pertanggung jawabkan secara keseluruhan.

Saya akan menanggapi sedikit supaya tidak menggantung: 1. Kami percaya bahwa jalan manusia dapat mengenal Tuhan adalah inisiatif Tuhan untuk mewahyukan diri dan memperkenalkan diri-Nya kepada manusia. Dan kami percaya bahwa apa yang Allah wahyukan dinyatakan dan dipelihara dalam bentuk Kitab Suci yaitu Alkitab. Tentu saja, di dalam kalimat: "keberatan jika dikatakan bahwa Alkitab adalah tradisi / buah dari tradisi", bukan berarti Alkitab turun dari langit tetapi Allah yang menguasai sejarah memimpin para rasul dan nabi-Nya yang dipenuhi Roh Kudus untuk menulis Kitab Suci. Ada 2 pengarang Alkitab, Allah dan manusia, demikian pula Alkitab bersifat ilahi dan ditulis oleh manusia. Apa yang berguna untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik orang dalam kebenaran untuk diperlengkapi melakukan perbuatan baik yg Allah persiapkan sebelumnya, itulah yang diwakili oleh Alkitab dalam segala kecukupan dan otoritasnya. Jadi, memang banyak sekali kebenaran di dunia ini baik di alam, dan di dalam kisah kehidupan Yesus Kristus, seperti yg Yohanes tulis di Injilnya, tetapi apa yang ditulis di dalam Injil adalah apa yang mewakili untuk dipelihara dan diteruskan sepanjang sejarah.

2. Mengenai 2 Tesalonika 2:15, memang kami memiliki pandangan iman dan penafsiran yang berbeda, dan dalam hal ini Paulus sebagai orang yang mendapatkan otoritas langsung dan wahyu khusus dari Tuhan Yesus Kristus, sebagai rasul yang mendirikan gereja di jemaat Tesalonika dan juga rasul Gereja Tuhan yang kudus dan am.

3. Mengenai Sola Scriptura, kami juga memegang Tota Scriptura di mana keseluruhan Alkitab dibandingkan dan dimengerti secara utuh, komprehensif, dan konsisten. Itulah yang dilakukan Kristus yang membandingkan diri-Nya dengan Daud dalam kutipan Mazmur 110. Dia membandingkan berbagai bagian Kitab Suci bahwa jika Daud menyebut Dia Tuannya, bagaimana mungkin Ia anaknya pula? Dalam hal ini, kami percaya Luther juga seorang manusia yang tidak lepas dari kelemahan. Kami percaya bahwa iman yang murni pasti akan menghasilkan buah-buah pertobatan secara alami bukan iman yang kosong. Itulah yang Tuhan Yesus ajarkan di dalam Matius 7 tentang nabi palsu dan juga menguji mereka dengan melihat buahnya. Mengenai Allah Pribadi Kedua membatasi Diri dalam bentuk tulisan, ada beberapa perdebatan mengenai hal ini yang berkembang dari paralel antara inkarnasi dan inskripturasi. Pandangan ini memang agak kabur dan tidak terlalu terlihat jelas di dalam Alkitab. Tetapi saya melihat tujuan saudara Juan adalah penekanan keilahian Alkitab. Kita melihat Kristus sendiri tunduk kepada Kitab Suci dan inskripturasi adalah proses penulisan wahyu Tuhan yang ilahi kepada manusia.

Kiranya Allah yang mewahyukan Alkitab yang berbicara tentang Kristus, membawa kita mengenal Dia dan mengubah hidup kita di dalam kesalehan dan Dia adalah Kristus dari Alkitab. Kemuliaan hanya bagi Tuhan.

9. Bobby Ffelix dari Jakarta berkata pada 9 August 2013:

Pro : Lukas Yuan Utomo

Anda menulis : Apa yang berguna untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik orang dalam kebenaran untuk diperlengkapi melakukan perbuatan baik yg Allah persiapkan sebelumnya, itulah yang diwakili oleh Alkitab dalam segala kecukupan dan otoritasnya

TANGGAPAN>>> Anda mengutip 2 Tim 3:16-17 sebagai dasar menyatakan kecukupan & otoritas kitab suci dgn demikian menjadi pembenaran thd doktrin sola scriptura. Namun apakah 2 Tim 3:16-17 memang mengajarkan sola scriptura? Berikut ulasannya...

2Timothy 3:16-17 16 All scripture is inspired by God and profitable for teaching, for reproof, for correction, and for training in righteousness, 17 that the man of God may be complete, equipped for every good work.

(16 Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. 17 Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.)

Ayat 2Timotius 3:16-17 adalah ayat yang paling sering digunakan Protestant untuk membuktikan bahwa Sola Scriptura diajarkan di Alkitab. Protestant berargumen ayat ini menunjukkan bahwa hanya Kitab Sucilah sumber iman karena Kitab Suci diinspirasikan oleh Allah dan dengan Kitab Suci seorang beriman sudah lengkap untuk melakukan semua pekerjaan baik. Meskipun ayat ini sama sekali tidak menyebutkan kata "Sola Scriptura" tapi Protestant berkeyakinan bahwa ide tentang Sola Scriptura ditunjukkan oleh ayat tersebut, terutama pada penggunaan kata "complete" dan "equipped." Secara lebih spesifik, Protestant memfokuskan pada kata "equipped" dan berargumen bahwa kata yang berasal dari kata Yunani exartismenos ini mengandung arti mencukupi.

Protestant tidak hanya mengatakan bahwa ayat 2Tim 3:16-17 menunjukkan bahwa hanya Kitab Sucilah yang diperlukan bagi seseorang, namun Protestant juga berkata bahwa ayat tersebut menunjukkan bahwa apa yang terkandung dalam Kitab Suci sudah cukup dan tidak perlu ditambah yang lain. Sayangnya dengan membaca dengan teliti ayat 2Tim 3:16-17, pernyataan terakhir -yaitu "apa yang terkandung dalam Kitab Suci sudah lengkap dan cukup"- seketika gugur. Karena kata keterangan lengkap dan terlengkapi (yang diklaim mengandung arti mencukupi) digunakan untuk menerangkan "manusia kepunyaan Allah" ("man of God"), bukan Kitab Suci. Sedangkan untuk Kitab Suci sendiri Paulus menggunakan kata ophelimos, yang diterjemahkan menjadi bermanfaat/profitable, yang lebih "lemah" penekanannya daripada kata lengkap dan terlengkapi yang digunakan untuk menerangkan subyek "manusia kepunyaan Allah." Bila Paulus benar-benar mengajarkan Sola Scriptura di ayat 2Tim 3:16-17 tentu saja Paulus bisa memilih kata yang lebih "kuat" daripada ophelimos, tapi itu tidak dilakukan sang rasul. Terlebih, kata ophelimos/bermanfaat/profitable tidak mengandung pemahaman "satu-satunya," maksudnya, seakan-akan hanya tulisan-tulisan sucilah yang bermanfaat. Sebagai contoh, untuk mendiagnosa penyakit, stetoskop adalah suatu alat yang bermanfaat bagi seorang dokter. Tapi ini tidak berarti bahwa hanya dengan stetoskop maka seorang dokter bisa mendiagnosa pasien dengan 100% tepat. Selain stetoskop, alat-alat yang bermanfaat bagi dokter untuk mendiagnosa adalah tensi, foto sinar X, hasil test dari laboratorium dan lain-lain.

Sekarang, setelah klaim bahwa ayat 2Tim 3:16-17 menunjukkan Sola Scriptura, apakah klaim bahwa ayat 2Tim 3:16-17 menunjukkan bahwa hanya kitab suci (Sola Scriptura) yang diperlukan seseorang? Bukankah bila seorang "manusia kepunyaan Allah" menjadi lengkap dan terlengkapi maka apa yang membuat si manusia tersebut menjadi lengkap dan terlengkapi (ie: tulisan-tulisan suci) adalah sesuatu yang sudah cukup sehingga hal-hal lain tidak diperlukan lagi?

Bersambung...

10. Bobby Felix dari Jakarta berkata pada 9 August 2013:

Pro : Lukas Yuan Utomo

Sambungan...

Kata lengkap berasal dari kata artios dan kata terlengkapi berasal dari kata exartismenos. Robert Sungenis dalam Not By Scripture alone menelaah beberapa karya lexicon dari pakar-pakar berprestis yang digunakan baik Protestant maupun Katolik, Walter Bauer, Liddell & Scott, Ardt & Gingrich, dan Louw & Nida menunjukkan bahwa baik kata artios dan exartismenos mengandung arti-arti dari "cocok/tepat (fit)" dan "mampu (capable)" sampai "lengkap (complete)" atau "sempurna (perfect)." Sedangkan definisi-definisi dari "cocok/tepat (fit)," "mampu (capable)," dan "siap (ready)" menunjukkan kesiapan melakukan tugas yang diberikan namun tidak menjamin hasil [dari pelaksanaan tugas tersebut]. Definisi-definisi dari "lengkap (complete)" dan "sempurna (perfect)" lebih berbicara mengenai hasil yang diharapkan. Cukup dikatakan bahwa, bersamaan dengan jarangnya penggunaan kata-kata ini dalam bahasa Yunani klasik dan koine, variasi dalam pengertian menunjukkan bahwa pengertian dan aplikasi dari kata-kata tersebut akan sangat bergantung pada konteks dimana kata-kata tersebut berada.

Lebih lanjut, keberatan akan argumen bahwa hanya tulisan-tulisan sucilah yang mampu membuat seorang manusia kepunyaan Allah menjadi lengkap dan terlengkapi untuk melakukan setiap perbuatan baik ditunjukkan pada bagian surat-surat Paulus yang lain, yang mengandung kata setiap perbuatan baik. Ada 12 tempat dalam suratnya dimana Paulus menggunakan frase setiap pebuatan baik yang menggunakan bahasa yunani yang sama: 2Tim 2:21; 2Kor 9:8; Kol 1:10; 2Tes 2:17; 1Tim 5:10; Tit 1:16; Tit 3:1; Ibr 13:2116. Dari semuanya, yang relevan terhadap pembahasan saat ini adalah 2Tim 2:21 dan 2Kor 9:8. Berikut kedua ayat tersebut:

2Timothy 2:21 - Revised Standard Version 21 If any one purifies himself from what is ignoble, then he will be a vessel for noble use, consecrated and useful to the master of the house, ready for any good work.

(21 Jika seseorang menyucikan dirinya dari hal-hal yang jahat, ia akan menjadi perabot rumah untuk maksud yang mulia, ia dikuduskan, dipandang layak untuk dipakai tuannya dan disediakan untuk setiap pekerjaan mulia.)

2Cor 9:8 - Revised Standard Version 8 And God is able to provide you with every blessing in abundance, so that you may always have enough of everything and may provide in abundance for every good work.

(8 Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan didalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam perbagai kebajikan,)

Bersambung...

11. Bobby Felix dari Jakarta berkata pada 9 August 2013:

Pro : Lukas Yuan Utomo

Sambungan...

Bisa dilihat dari 2Tim 2:21 dan 1Kor 9:8 adanya atribut-atribut lain yang membuat seseorang mampu melakukan setiap perbuatan baik. Ayat 2Tim 2:21 patut mendapat perhatian penting dalam upaya mengerti apa yang ingin disampaikan Paulus di 2Tim 3:16-17 sebab kedua ayat tersebut berasal dari satu surat yang sama dan karena frase setiap perbuatan baik yang digunakan di kedua ayat adalah identikal dalam bahasa aslinya. Di 2Tim 2:21 terlihat satu atribut lain yang membuat seseorang bisa melakukan setiap perbuatan baik, yaitu bila dia menyucikan dirinya. Bagaimana seseorang menyucikan dirinya? Ayat-ayat selanjutnya (2Tim 2:22-25) menunjukkan bahwa menurut Paulus, Timotius bisa menyucikan dirinya dengan menghindari "youthful passion, stupidity, senseless controversies dan quarrels" dan mengusahakan "righteousness, faith, love, peace." Dengan menjauhi dan melakukan hal-hal tersebut maka Timotius akan siap untuk setiap perbuatan baik.

Sedang didalam 2Kor 9:8 Protestant akhirnya mendapatkan kata yang mereka idam-idamkan untuk ada di 2Tim 3:16-17, yaitu kata having enough/mempunyai cukup/berkecukupan yang berasal dari kata Yunani ... dimana dalam kata tersebut terkandung makna: keadaan dimana seseorang mencukupi dirinya sendiri tanpa bantuan yang lain. Bila kata tersebut digunakan untuk mendefinisikan tulisan-tulisan suci, maka tentu saja Protestant akan mempunyai argumen yang cukup kuat untuk ajaran Sola Scriptura. Namun di 2Kor 9:8 yang membuat seseorang cukup/berkecukupan adalah "berkat Allah," yang juga bisa diterjemahkan dengan kata "rahmat" dan dengan berkat Allah-lah seseorang bisa berkelimpahan/berkelebihan untuk melakukan setiap perbuatan baik. Ini sungguh sangat benar karena memang berkat/rahmat Allahlah yang memampukan manusia untuk datang kepadaNya dan memperoleh keselamatan. Berkat/rahmat ini adalah sesuatu yang benar-benar gratis dan tidak ada apapun yang wajib dilakukan manusia untuk mendapatkannya.

Telaah dari 2Tim 2:21 dan 2Cor 9:8 diatas merupakan pukulan bantahan terhadap upaya mengajukan 2Tim 3:16-17 sebagai ayat yang mengajarkan Sola Scriptura. Di 2Tim 2:21 dan 2Cor 9:8 bisa dilihat bahwa ada hal-hal lain yang membuat seorang mampu melakukan setiap perbuatan baik, maka argumen bahwa hanya kitab sucilah yang bisa membuat seseorang mampu melakukan setiap perbuatan baik telah gugur.

12. Bobby Felix dari Jakarta berkata pada 9 August 2013:

Pro : Lukas Yuan Utomo

Anda menulis : Mengenai 2 Tesalonika 2:15, memang kami memiliki pandangan iman dan penafsiran yang berbeda, dan dalam hal ini Paulus sebagai orang yang mendapatkan otoritas langsung dan wahyu khusus dari Tuhan Yesus Kristus, sebagai rasul yang mendirikan gereja di jemaat Tesalonika dan juga rasul Gereja Tuhan yang kudus dan am.

TANGGAPAN>>> Coba anda jelaskan bagaimana pandangan iman & penafsiran anda/reformed terkait ayat 2 Tes 2:15...

Anda menulis : Mengenai Allah Pribadi Kedua membatasi Diri dalam bentuk tulisan, ada beberapa perdebatan mengenai hal ini yang berkembang dari paralel antara inkarnasi dan inskripturasi. Pandangan ini memang agak kabur dan tidak terlalu terlihat jelas di dalam Alkitab.

TANGGAPAN>>> "Agak kabur dan tidak terlihat jelas" ATAU memang "Tidak ada"? Coba berikan dasar ayat Alkitab bagi pernyataan : "Allah pribadi kedua telah membatas Diri dlm bentuk tulisan"...Bukankah anda adalah seorang sola scripturist (dan jg seorang tota scripturist)?

Salam

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pimpinan dan penyertaan Tuhan sehingga izin pendirian dan pelaksanaan Calvin Institute of Technology telah diberikan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi pada tanggal 18 Oktober 2018.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kisah yang membaharui pikiran saya. Perbandingan dua orang ini dan karakternya menyadarkan untuk lebih tunduk pada...

Selengkapnya...

Puji Tuhan, harapan saya terkabul, bisa mendengar secara langsung khotbah pendeta Dr. Sthepen Tong dan foto bersama...

Selengkapnya...

Mohon penjelasannya terkait "Etika hidup kita ditentukan oleh kebenaran Allah, bukan oleh diri kita...

Selengkapnya...

bersyukur dalam segala keadaan, semakin terberkati... biarlah kehidupan ini jadi seperti yang Tuhan perkenankan...

Selengkapnya...

Terima Kasih Yah...

Selengkapnya...

© 2010, 2018 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲