Artikel

Kebangkitan Etika di Tengah Zaman Postmodern

Dalam beberapa bulan terakhir ini kita disuguhi oleh beberapa movie yang begitu digandrungi, seperti movie dari Marvel, yaitu Black Panther, Avengers: Infinity War,dan Ant-Man. Ada hal yang menarik dari movie mereka kali ini. Mereka menyajikan karakter antagonis yang kontroversial. Sangat sulit untuk kita menjawab apakah tokoh antagonis ini benar-benar seorang villain atau justru mereka adalah heroes, tetapi dengan cara mereka sendiri? Coba perhatikan kisah hidup yang ditampilkan dari karakter Killmonger dan Thanos. Di satu sisi mereka digambarkan seperti seorang villain, tetapi di sisi lain justru karena merekalah ada “tujuan baik” yang tercapai. Jikalau Killmonger tidak mengambil alih takhta kekuasaan Wakanda serta berusaha untuk menyebarkan teknologi dari Wakanda, mungkinkah koneksi negara lain dengan Wakanda dapat tercipta? Jikalau Thanos tidak berusaha untuk melenyapkan separuh penduduk alam semesta ini, dapatkah makhluk hidup di alam semesta ini selamat? Jikalau kita menganalisis dengan saksama kisah dari Killmonger dan Thanos, kita mungkin akan bertanya, “Sebenarnya mereka itu villains atau heroes?” Bahkan The Incredibles 2 pun menyajikan kebingungan yang sama, karena mereka menyajikan seorang villain yang ingin membalaskan dendamnya, tetapi justru karenanyalah para heroes dapat kembali diakui oleh dunia.

Kebingungan seperti ini secara nyata terjadi di sekitar kita. Sikap yang dahulu dianggap tidak beradab, saat ini justru mendapatkan simpati dan dukungan yang besar. Beberapa contoh yang secara terang-terangan terjadi adalah LGBT dan aborsi. Kelompok ini mendapatkan simpati dan dukungan yang cukup besar karena mereka dianggap sebagai kaum yang tertindas, sehingga atas nama kemanusiaan mereka menuntut keadilan atau kesamaan hak. Ini adalah salah satu ciri dari zaman ini. Standar kebenaran tidak lagi dianggap mutlak, malahan seberapa besar simpati yang diperoleh melalui isu-isu minoritas yang diangkat, itulah yang menjadi ukuran. Secara menarik, Marvel menyajikan masa lalu dari Killmonger dan Thanos. Mereka ditampilkan sebagai orang-orang yang memiliki masa lalu yang begitu kelam. Mereka tertindas oleh kelompok mayoritas. Kondisi inilah yang membangkitkan simpati dari para penonton. Akibatnya, tindakan bersalah yang mereka lakukan menjadi tidak lagi signifikan, dikalahkan oleh kemalangan dari masa lalu mereka. Segala kesalahan mereka dianggap sebagai tindakan yang wajar karena mereka adalah kaum yang tertindas. Pada akhirnya, kita pun dibuat bingung oleh karakter-karakter ini. Apakah mereka penjahat atau justru mereka adalah pahlawan?

Inilah etika zaman ini. Setiap tindakan dapat dipandang benar dan salah sekaligus. Tindakan yang benar, bisa dinilai sebagai tindakan yang tidak manusiawi dan bersalah. Tindakan yang salah, bisa dianggap sebagai sebuah kewajaran karena dilakukan dalam situasi tertentu atau memang sebuah keputusan pribadi. Konsep ini bagaikan konsep Yin Yang, di dalam gelap masih ada titik terang dan di dalam terang tetap ada titik gelap. Namun, yang disoroti oleh zaman ini bukanlah gambaran besarnya, melainkan titik kecilnya. Motivasi yang baik dari sebuah tindakan yang salah dapat membenarkan tindakan tersebut. Bahkan, tindakan yang baik tetapi dianggap menindas kaum minoritas akan dianggap sebagai tindakan yang jahat dan tidak berperikemanusiaan. Di dalam cara pandang ini, titik yang kecil akan menentukan keseluruhan. Oleh karena itu, kita bagaikan hidup di “upside-down world”, yang benar dianggap salah dan yang salah jadi dianggap benar.

Kehidupan pemuda tidak terlepas dari pengaruh ini. Setiap hari kita dicekoki, secara paksa atau sukarela, dengan berbagai pemikiran yang menghancurkan sistem etika kita sebagai orang Kristen. Kita tidak dapat lagi membedakan mana yang benar sesuai kehendak Allah, mana yang merupakan counterfeit atau tiruan yang menyesatkan diri kita. Artikel ini akan membahas mengenai kebahayaan di dalam cara pandang etika zaman postmodern. Kita akan melihat bagaimana seharusnya pemuda Reformed Injili menanggapi hal ini sebagai bagian dari kebangkitan di dalam etika.

Postmodern Ethics
Salah satu ciri dari masyarakat zaman postmodern adalah masyarakat yang pluralis dengan berbagai pilihan individual yang berbeda berikut dengan sistem nilai masing-masing. Kondisi ini menjadikan zaman ini memiliki berbagai standar etika atau moralitas. Pluralitas masyarakat ini didorong oleh semangat zaman postmodern yang menghormati personal autonomy, terutama kaum minoritas atau yang tertindas, termasuk penghormatan terhadap kebebasan dari individu tersebut. Semangat ini lahir sebagai anti atau pemberontakan terhadap zaman modern yang menggunakan otoritas dan mayoritas untuk memaksakan keseragaman nilai dan standar moral. Sehingga dikatakan bahwa postmodern adalah zaman yang mempertanyakan otoritas, termasuk agama, menghancurkan mitos-mitos perpolitikan dan para pemimpinnya, serta hilangnya figur seorang yang berkarisma digantikan dengan individu yang terlihat biasa tetapi dapat menarik simpati. Inilah pergeseran karakteristik masyarakat modern menjadi postmodern.

Dengan karakteristik yang seperti ini, kita bisa menyebut zaman ini sebagai zaman yang mengagungkan individualisme di dalam setiap aspek kehidupan. Hal ini dapat kita lihat dan rasakan dengan jelas dalam fenomena atau tren yang terjadi di sekitar kita. Mulai dari aspek tubuh, kita bisa merasakan bahwa zaman ini sangat mengagungkan aspek tubuh. Kita dapat melihat semakin tersebarnya pusat olahraga dan kebugaran, bukan semata karena kesadaran akan pentingnya kesehatan, tetapi juga keinginan atau ambisi untuk memiliki bentuk tubuh yang ideal dan indah. Namun di dalam aspek kuliner, kita dapat dengan mudah merasakan masakan dari berbagai daerah dan negara karena menjamurnya pusat-pusat kuliner. Semua hal ini terjadi karena semangat zaman ini yang mengejar nilai dari kenikmatan, sehingga konsumsi, waktu tenang atau santai, begitu dicari-cari karena ini merupakan bagian dari penghargaan terhadap individu atau pencarian akan kepuasan diri.

Pemujaan yang begitu tinggi terhadap individu ini disertai dengan sebuah bentuk penolakan atau penentangan terhadap segala hal yang menghambat atau memiliki potensi menghambat kebebasan individual ini. Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jikalau semangat anti terhadap otoritas merebak di mana-mana, apalagi terhadap otoritas yang dianggap menghambat kebebasan individu. Perlakuan yang “memanjakan” individu dengan menentang berbagai penghambat kebebasan pribadi menjadikan moralitas masyarakat saat ini sebagai painless weak morality. Seorang profesor filsafat moral Universitas Murcia, Diego Jose, menyatakannya seperti ini, “It is a painless weak morality, in which anything goes, but duty and sacrifice disappear.” Lebih lanjut, profesor ini menyatakan demikian, “Youth, health, slenderness, flippancy, immediacy, and kindness are typical values of the postmodern society. These values are characteristic of individualism, but are not incompatible with commitments related to the needs of the others, provided that we are not trying to go beyond what can be called painless altruism.” Secara sederhana kalimat dari Diego ini ingin menyatakan bahwa masyarakat postmodern ini adalah masyarakat yang egois, karena meninggikan akan kepentingan individu. Namun, yang menarik adalah ketika kita menyelidiki cara dari masyarakat ini dalam memperjuangkan egoismenya. Mereka memanfaatkan media dengan mengatasnamakan hak asasi manusia melawan otoritas yang dianggap egois demi memperjuangkan egoisme mereka sendiri, ini adalah suatu cara yang kontradiktif. 

Selain individualisme, kekuatan pengaruh dari media massa adalah karakteristik lain yang menonjol pada massa postmodern ini. Melalui media masa, setiap individu dapat menyatakan pendapatnya secara bebas. Melalui media massa, kelompok-kelompok minoritas mendapatkan “panggung” untuk menyatakan keberadaan mereka kepada dunia. Oleh karena itu, tidak heran jikalau pada saat ini media membanjiri kita dengan berbagai informasi dari berbagai aspek kehidupan. Namun, banjirnya informasi ini tidak menjadikan masyarakat kita semakin bijaksana, karena informasi ini hanya dianggap sebagai bagian dari entertainment dalam kehidupan mereka.

Informasi ini hanya digunakan untuk memuaskan rasa penasaran mereka saja, dan tidak diolah ataupun direnungkan hingga menjadi pengetahuan atau bahkan kebijaksanaan. Selain untuk menyampaikan berbagai informasi, media pun dipakai sebagai alat propaganda masyarakat. Media massa dimanfaatkan sebagai alat untuk menampilkan kesengsaraan dan penindasan yang dialami oleh kaum minoritas, dengan tujuan untuk menarik simpati dari masyarakat luas. Segmen masyarakat yang menjadi target mereka adalah kelompok yang memiliki massa besar tetapi kurang terdidik atau naif. Salah satu incaran utamanya adalah kelompok pemuda dan mahasiswa, karena dianggap kelompok ini memiliki kekuatan secara massa maupun keberanian untuk menyatakan pendapat, dan dianggap sebagai kelompok yang mudah dipengaruhi karena kenaifan mereka. Kelompok seperti ini dianggap sebagai kelompok yang mudah dipancing rasa simpatinya. Hal ini terbukti dengan besarnya dukungan yang diberikan terhadap berita-berita yang mengangkat isu penindasan atau kesengsaraan. Sehingga, minoritas memanfaatkan media untuk mendapatkan simpati dari mayoritas dengan mengangkat isu hak asasi manusia agar kebebasan mereka bisa terjamin.
Selain media massa, kompleksitas semangat zaman ini dibuat semakin parah oleh kehadiran teknologi digital. Melalui teknologi digital, banyak aspek kehidupan yang disimulasikan. Misalnya saja di dunia ekonomi, investasi tidak lagi dimengerti di dalam aspek sektor riil tetapi bagaimana investasi ini dapat menghasilkan nilai yang lebih secara virtual dengan memanfaatkan nilai yang floating (tidak jelas). Begitu juga dengan aspek sosial, manusia saat ini lebih senang untuk berinteraksi melalui media elektronik dibanding dengan bertemu langsung secara fisik. Semua hal ini mereka simulasikan di dalam dunia digital demi memperoleh kenikmatan, tetapi semua ini tidak dapat memberikan kenikmatan yang sejati kepada mereka.

Di dalam konteks semangat zaman seperti ini, etika tidak lagi ditentukan berdasarkan standar benar atau salah. Namun yang menentukan adalah seberapa jauh suatu tindakan itu dapat menghargai kebebasan individu, terutama kaum minoritas yang tertindas. Semangat seperti ini melanda terutama di kalangan anak-anak muda. Gaya kehidupan yang sangat bergantung kepada media sosial dianggap sebagai gaya hidup yang bebas menyatakan diri di dalam dunia virtual, tetapi justru simulasi ini malah menjerat kehidupan anak muda menjadi kehidupan yang begitu sempit dan terbatas. Pertemanan yang ada di dalam media sosial tidak dapat menggantikan arti pertemanan yang sejati. Semangat postmodern menjadikan kita tidak lagi peka akan apa itu yang benar dan salah, mana yang penting dan memerlukan prioritas dalam hidup. Kita dibanjiri dengan berbagai informasi, alternatif cara pandang kehidupan. Akibatnya, banyak anak muda yang hidup di dalam standar moral yang beragam dan mereka menjadi generasi yang bodoh. Di satu sisi mereka ingin diakui dan dianggap ada, tetapi semakin mereka diberikan ruang untuk menyatakan dirinya ada, semakin mereka kehilangan realitas dan bingung akan jati diri mereka. Inilah ironi kehidupan zaman postmodern.

Ethical Revival
Alkitab secara gamblang menyatakan bahwa pada zaman akhir manusia akan semakin cinta diri dan cinta uang. Hal ini secara jelas kita lihat pada zaman postmodern ini, seperti yang dipaparkan di atas. Manusia berusaha melarikan diri dari realitas dan tanggung jawabnya baik secara sosial maupun sebagai ciptaan Allah. Mereka memilih untuk menghidupi realitas yang dianggapnya sesuai dengan hasrat berdosanya. Bahkan segala rintangan yang menghalangi keinginannya ditentang dengan berbagai cara, termasuk menentang otoritas kebenaran firman Tuhan. Mereka menentang kebenaran yang sejati dan membangun kebenarannya sendiri, tetapi pada akhirnya mereka terhilang dan tidak memiliki kebenaran sama sekali. Hal ini secara nyata terjadi juga di kalangan pemuda dan remaja saat ini. Mereka tidak memiliki jati diri, tidak tahu realitas, apalagi mengerti kebenaran. Mereka terbawa oleh realitas-realitas alternatif yang ditawarkan dunia, tetapi semuanya itu hanyalah bersifat simulasi. Mereka berpikir bahwa mereka dapat membangun kebenarannya sendiri, tetapi sebenarnya mereka hanya sedang membangun tiruan dari kebenaran yang sebenarnya palsu. Akibatnya, mereka tidak tahu bagaimana harus bersikap dan standar etika mereka pun menjadi tidak jelas karena mereka hidup terlepas dari kebenaran. Kebebasan yang mereka harap-harapkan pun pada akhirnya menjadi jeratan yang membelenggu mereka di dalam dosa.

Alkitab menyatakan bahwa kebebasan yang sejati kita miliki saat kita mengenal kebenaran. Kebebasan yang sejati bukan ketika kita dapat menentukan sendiri apa yang benar atau salah, tetapi saat kita tunduk secara total kepada Allah Sang Kebenaran itu. Kitab Hakim-hakim memberikan gambaran kekacauan yang terjadi di dalam bangsa Israel ketika mereka hidup di dalam kebenarannya masing-masing. Manusia diciptakan sebagai wadah kebenaran, bukan sumber kebenaran, sehingga hidup kita seharusnya menjadi reflektor dari kebenaran Allah. Etika hidup kita ditentukan oleh kebenaran Allah, bukan oleh diri kita sendiri. Di dalam kacamata ini, ide mengenai villain yang diangkat oleh Marvel adalah hal yang salah karena mereka menghidupi kebenarannya masing-masing. Meskipun motivasi mereka terlihat baik, tetapi cara yang mereka lakukan tidak benar. Etika Kristen adalah etika yang mengajak kita untuk tunduk secara total, baik di dalam motivasi, metode atau cara, maupun tujuannya. Oleh karena itu, masalah dari kekristenan pada saat ini bukan kita tidak tahu kebenaran, tetapi kita tidak benar dalam menghidupinya secara total di dalam zaman ini. Kita lebih memilih untuk kompromi terhadap semangat zaman ini karena tidak rela untuk menerima konsekuensi dalam menghidupi kebenaran yang sejati.

Sebagai pemuda Reformed Injili, kita dipanggil untuk hidup di dalam realitas yang Tuhan berikan, bukan realitas yang kita bangun sendiri. Kita juga dipanggil untuk hidup menyatakan kehendak Allah dan menjadi berkat bagi orang lain, bukan untuk kenikmatan diri. Kita dipanggil untuk hidup taat kepada kebenaran, bukan hidup semau sendiri di dalam kebebasan. Semua hal ini bisa kita lakukan di dalam hidup jikalau kita sadar akan kebenaran. Kebangkitan etika seorang pemuda Reformed Injili tidak mungkin terjadi tanpa adanya kesadaran kita akan kebenaran. Kebangkitan etika seorang pemuda terjadi ketika ia berani menghidupi kebenaran di tengah segala tantangan zaman.

Simon Lukmana
Pemuda FIRES

Simon Lukmana

Agustus 2018

1 tanggapan.

1. Kolkey Kase berkata pada 3 December 2018:

Mohon penjelasannya terkait "Etika hidup kita ditentukan oleh kebenaran Allah, bukan oleh diri kita sendiri."

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pimpinan dan penyertaan Tuhan sehingga izin pendirian dan pelaksanaan Calvin Institute of Technology telah diberikan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi pada tanggal 18 Oktober 2018.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Mohon penjelasannya terkait "Etika hidup kita ditentukan oleh kebenaran Allah, bukan oleh diri kita...

Selengkapnya...

bersyukur dalam segala keadaan, semakin terberkati... biarlah kehidupan ini jadi seperti yang Tuhan perkenankan...

Selengkapnya...

Terima Kasih Yah...

Selengkapnya...

puji Tuhan...iamn yg disertai praktek syukur dalam segala musim hidup ini semakin meneguhkan pengharapan akan...

Selengkapnya...

Apakah orang Kristen harus merayakan hari raya Purim juga?

Selengkapnya...

© 2010, 2018 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲