Artikel

Kebijakan Tuhan dalam Perjanjian Lama

Banyak orang yang berpendapat bahwa membaca Alkitab itu sulit dan membosankan, khususnya Perjanjian Lama (PL). Salah satu yang menyebabkan hal ini adalah adanya gap yang jauh antara konteks zaman ketika kitab-kitab di PL dituliskan dan zaman di mana kita hidup saat ini. Secara umum, hukum-hukum Tuhan di PL mengatur kehidupan bangsa Israel sebagai umat YHWH sesuai konteks zaman itu. Kita akan melihat dua contoh dari hukum di PL: hukum mengenai levirate marriage dan hukum mengenai ujian suami kepada istri yang dicurigai berzinah.

Levirate Marriage
Di dalam Ulangan 25:5-10, dikatakan bahwa jika seorang laki-laki meninggal dengan tidak mempunyai anak, saudara laki-laki si suami harus menikahi janda kakaknya. Tidak hanya itu, anak dari pernikahan saudara laki-laki sang suami dengan istri suami yang ditinggalkan akan diberi nama sesuai nama sang suami yang sudah meninggal. Jika saudara laki-laki sang suami tidak mau menjalankan hukum ini, dengan kata lain tidak mau menikahi janda kakaknya, hukumannya adalah ia dipermalukan di depan tua-tua kota itu (sandal yang dilepaskan menandakan degradasi dan meludahi wajah menandakan penghinaan) dan dicap sebagai orang yang tidak mau meneruskan legacy dari keluarga kakak laki-lakinya.

Levirate marriage bukan sesuatu yang asing bagi Israel. Di dalam Kejadian 38:8-11, Yehuda memiliki tiga orang anak laki-laki, Er, Onan, dan Shelah. Er, yang awalnya menikah dengan Tamar, meninggal dengan tidak memiliki keturunan. Lalu Alkitab mencatat Onan menikahi Tamar, istri kakaknya, namun tidak mau memberi keturunan bagi kakaknya. Tuhan memandang ini jahat dan membunuh Onan. Kedua anak laki-laki Yehuda telah meninggal, tinggal sisa anak laki-laki terakhir, Shelah. Yehuda menjanjikan akan memberikan Tamar kepada Shelah setelah Shelah dewasa, namun pada akhirnya Yehuda “menipu” Tamar dengan tidak menikahkan Shelah dengan Tamar meskipun Shelah sudah cukup umur. Maka Alkitab mencatat Tamar membalas tipu dengan tipu. Ia menipu Yehuda, mertuanya, dengan menidurinya dan memberinya keturunan. Di tengah kerumitan peristiwa seperti ini, Alkitab tetap memuji Tamar yang memperoleh keturunan dari garis Yehuda dan menuntut haknya sebagai seorang janda dari keluarga besar Yehuda (Rut 4:12). Kita juga dapat melihat levirate marriage di dalam peristiwa Boas menikahi Rut. Boas bertindak sebagai penebus dari keluarga Naomi dengan menikahi janda dari anak Naomi, yang masih satu keluarga besar.

Namun ada beberapa isu yang dapat timbul dari hukum ini. Apakah dengan adanya peraturan mengenai levirate marriage menandakan bahwa Alkitab setuju terhadap poligami? Mengapa Alkitab sepertinya “merusak” rumah tangga orang dengan mengharuskan seorang suami menikahi janda kakaknya? Bagaimana dengan kesucian pernikahan dan eksklusivitas hubungan satu laki-laki dengan satu perempuan? Apakah prinsip Alkitab dalam levirate marriage konsisten dengan firman Tuhan yang kita pegang sampai saat ini?

Jika kita melihat dengan lebih cermat, ada beberapa tafsiran yang dapat membantu kita mengupas prinsip firman Tuhan dalam hukum ini.
Dikatakan di ayat 5, “Apabila orang-orang yang bersaudara tinggal bersama-sama, ….” Ini bisa berarti bahwa adik dari sang suami belum menikah, maka dia masih tinggal bersama kakaknya. Jika demikian halnya, berarti Alkitab memang tidak mengusulkan poligami dalam hal ini.
Tujuan dari levirate marriage adalah untuk memberikan janda keturunan, memastikan bahwa ia diperhatikan secara finansial. Levirate marriage tidak diharuskan untuk janda yang sudah memiliki anak sebelum suaminya meninggal. Janda yang memiliki anak akan mendapat warisan dan suatu saat mendapat perhatian dari anaknya jika ia sudah tumbuh dewasa.

Dari kedua prinsip tafsiran tersebut, kita melihat bahwa Alkitab menekankan hukum ini tanpa mendorong poligami, dan hukum ini didasarkan atas kasih dan perhatian untuk keluarga saudara kita. Prinsip firman Tuhan dalam hal ini konsisten dengan prinsip kasih yang kita mengerti sampai sekarang. Selain itu, Alkitab juga dalam beberapa ayatnya memerintahkan bangsa Israel untuk secara khusus memperhatikan janda, yatim piatu, dan orang-orang asing dari luar. Levirate marriage menjadi salah satu sarana bangsa Israel memperhatikan kaum janda, terutama bila janda tersebut masih satu keluarga besar.

Di samping konsistensi prinsip firman Tuhan yang kita lihat dari hukum mengenai levirate marriage, kita juga dapat melihat bagaimana Tuhan memakai hukum levirate marriage untuk menggenapi rencana-Nya bagi keselamatan umat manusia. Tamar, yang mendasari perbuatannya pada hukum ini, yaitu dengan berusaha menjaga pusaka keluarganya dengan menikahi pria yang masih satu keluarga dengan suaminya, melahirkan seorang anak bernama Perez. Perez inilah yang kemudian menjadi nenek moyang dari Raja Daud.

Begitu juga dengan Rut, yang meskipun bukan seorang Israel, tetap dipakai Tuhan menjaga kelangsungan keturunan Daud dengan menikah dengan Boas. Boas disebut sebagai “kinsman-redeemer”, yaitu orang yang masih qualified menurut hukum levirate marriage untuk menebus Rut dan menikahi Rut yang masih merupakan satu keluarga besar.

Hukum levirate marriage menjadi suatu gambaran bagaimana Kristus menjadi Penebus yang menyelamatkan kita, memberikan kita jaminan kepastian hidup, kecukupan akan semua berkat-Nya, dan relasi yang dipulihkan kembali. Boas adalah sebuah prophetic symbol akan Kristus yang rela menebus kita menjadi milik-Nya, mengambil kita sebagai mempelai perempuan dan menyelamatkan kita dari kebangkrutan. Seperti Naomi yang pulang dengan tangan kosong dan putus asa, dosa membuat kita kehilangan seluruh hal yang baik secara rohani. Tetapi Yesus menyelamatkan kita dari dosa. Yang harus kita lakukan adalah percaya kepada-Nya dan memercayakan hidup kita untuk diperbarui dan dibebaskan dari dosa.

Test for An Unfaithful Wife
Di dalam Bilangan 5:11-31, Tuhan memberi hukum-Nya kepada Musa, yang mengatakan bahwa jika seorang suami mencurigai istrinya yang ia pikir berzinah dengan laki-laki lain, suami tersebut boleh membawa istrinya kepada imam dan imam akan melakukan sebuah ritual. Imam tersebut akan menyiapkan air kudus dalam suatu tempayan tanah yang sudah dicampur dengan debu yang ada di Kemah Suci dan memberinya pada sang istri. Kemudian imam tersebut akan menyumpah perempuan tersebut, bila sang istri mencemarkan dirinya dengan perzinahan, air tersebut akan mengembungkan perutnya dan mengempiskan pahanya. Namun jika ternyata istri tersebut suci, ia akan bebas dari kutuk dan dapat beranak.

Pertanyaan yang mungkin muncul dari hukum ini adalah, adakah hukum untuk menguji suami yang tidak setia? Jawabannya, tidak ada. Kalau begitu, hukum ini terdengar sangat tidak adil, bukan? Mengapa seorang suami boleh mencurigai istrinya dengan perzinahan, sementara seorang istri tidak boleh melakukan hal yang sama kepada suaminya? Apakah ini berarti suami pasti dianggap setia terhadap istri, namun istri tidak selalu setia kepada suami?

Sulit bagi kita untuk mengerti keadilan Allah dalam hal ini jika kita tidak melihat simbol atau hal spiritual yang Allah sedang nyatakan dalam hukum ini. Waktu kita membaca hukum Tuhan ini, kita harus bertanya, apa yang Tuhan katakan mengenai diri kita dalam hukum ini? Apa yang Tuhan nyatakan mengenai sifat diri-Nya dalam hukum ini? Apa yang Tuhan ajarkan mengenai relasi manusia-Allah dalam hukum ini? Dalam PL, Allah banyak memakai simbol jasmani untuk menyatakan hikmat-Nya secara rohani. Contohnya, kemurnian Israel sebagai bangsa milik Tuhan disimbolkan dengan makanan najis dan tidak najis. Israel dilarang untuk memakan hewan yang klasifikasinya tidak jelas. Dalam hal makanan pun Israel harus memisahkan yang tidak najis dari yang najis. Begitu juga sebagai umat pilihan Tuhan, mereka memisahkan diri dari bangsa-bangsa lain. Juga sama halnya dengan sunat, di mana sunat dimaksudkan sebagai tanda perjanjian permanen bahwa mereka adalah milik Tuhan. Sunat tidak dapat dikembalikan (undone). Begitu juga dengan hati yang disunat, yaitu hati yang sudah dibarui dan dipersembahkan kepada Tuhan, tidak lagi kembali ke hidup yang lama. Keselamatan sejati adalah satu titik perubahan yang tidak bisa dikembalikan. Dalam hal ini, hukum untuk menguji istri yang tidak setia juga adalah suatu simbol yang menyatakan relasi Allah dengan umat pilihan-Nya.

a

Allah digambarkan sebagai mempelai laki-laki, dan Israel sebagai mempelai perempuan-Nya. Dalam Yesaya 62:5 dan Yehezkiel 16, nyata bahwa Tuhan memperlakukan Israel seperti mempelai perempuan-Nya. Melihat dari sejarah Israel, juga nyata bahwa Israel berulang kali berlaku tidak setia kepada Allah dengan menyembah berhala-berhala lain. Maka hukum dalam Bilangan 5:11-31 ini berlaku sebagai peringatan bagi bangsa Israel bahwa Allah sebagai suami layak menguji kesetiaan mereka. Ketika Israel melihat kepada gambaran istri yang tidak setia, mereka akan teringat kepada diri mereka. Ketika kita melihat gambaran istri yang tidak setia, kita mengingat posisi kita di hadapan Tuhan.
Sekarang sudah jelas bahwa hukum ini dimaksudkan untuk memperingatkan bangsa Israel bahwa Allah sebagai sang suami dan pemilik Israel adalah Allah yang cemburu, seperti dikatakan Keluaran 34:14, “For you shall worship no other God, for the LORD, whose name is Jealous, is a jealous God.” Maka sebagai seorang istri, Israel dituntut untuk setia. Ketika mereka membaca kembali hukum Tuhan yang diberikan kepada Musa ini, Israel akan mengingat Allah yang cemburu, YHWH yang menganggap serius pernikahan-Nya dengan Israel.

Dari kedua contoh hukum di atas kita dapat belajar dari kebijakan Tuhan di PL, yaitu “Tuhan adalah Allah yang tidak berubah dan firman-Nya tetap konsisten.” Kita sebagai pembaca di zaman Perjanjian Baru harus menafsirkan perintah Allah sesuai konteks pada zaman kitab itu dituliskan. Dengan mengerti konteks zaman dan sifat Allah yang tidak berubah, kita bisa dengan komprehensif menafsir Alkitab dan menemukan kekayaan harta terpendam di dalamnya.

Bobbie Timothea Christian
Pemuda GRII Pusat

Referensi:
1. Spirit of Reformation Study Bible, Richard Pratt.
2. 5 Essential Lessons You Need to Know from the Book of Ruth.
3. Levirate Marriage.
4. The Test for Adultery – Numbers 5:11-31.

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Unduh PDF
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk Kebaktian Pembaruan Iman Nasional II bertemakan “Bertobatlah! Dan Hidup Suci” yang telah diadakan di kota pertama yaitu Kabanjahe pada tanggal 23 April 2019. Berdoa untuk rencana 100 kota yang akan dikunjungi di seluruh penjuru Indonesia dan 50 kota di luar negeri. Berdoa untuk Pdt. Dr. Stephen Tong, kiranya Tuhan memberikan kuasa untuk memenangkan jiwa-jiwa dan kekuatan untuk memberitakan Injil di masa tua beliau. Berdoa untuk setiap persiapan di kota-kota yang akan dikunjungi sehingga kemuliaan Tuhan dinyatakan sekali lagi di zaman ini.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Satu sisi kehidupan Daud akan pengenalan kepada Allah yang meneguhkanku dan membuat saya bertobat, apapun yang...

Selengkapnya...

saya bertanya saja. apa kalau saya beribadah menggunkan drum saya masuk neraka?

Selengkapnya...

Yang saya pahami, Langit yang baru dan Bumi yang baru adalah tempat tinggal manusia2 yg telah diselamatkan, dan...

Selengkapnya...

5 Tahun yg Lalu,saya Mengalami Suatu Dorongan Yg Begitu Kuat Melalui Firman ini,Saya Juga sempat Pergi...

Selengkapnya...

saya mendoakan senor rekan pelayanan saya yang sakit kanker, segala cara telah dilakukannya, hanya tinggal menunggu...

Selengkapnya...

© 2010, 2019 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲