Artikel

Kenaikan Kristus dan Gereja

Salah satu keunikan Theologi Reformed adalah pandangan akan kenaikan Kristus ke sorga. Dalam perenungan atas kenaikan Kristus ke sorga, John Calvin mengambil langkah yang berbeda dibandingkan tradisi mistis Abad Pertengahan yang menekankan deifikasi atau pendakian roh manusia kepada Kristus dalam rangka penebusan. Calvin membalikkan dan mengubah penekanan pandangan kekristenan mengenai kenaikan Kristus Yesus sebagai tanda dimulainya partisipasi Gereja dalam sejarah dan kehidupan Yesus Kristus yang berkelanjutan sampai kekekalan. Alih-alih mengikuti penekanan skolastik mengenai penyatuan jiwa manusia dengan Yang Ilahi, Calvin lebih memilih untuk menggarisbawahi sifat personal dari persekutuan antara Gereja dan Pribadi Kristus yang naik ke sorga melalui karya Roh Kudus.

Kenaikan Kristus, lebih lanjut, berbicara mengenai partisipasi kita di dalam Kristus dan menyatakan persekutuan itu melalui tiga dimensi pekerjaan Ilahi: pembenaran, pengudusan, dan panggilan. Di dalam pembenaran (justificatio), Yang Ilahi menolak, meniadakan, dan mengampuni keberadaan manusia berdosa dan meneguhkan subjek kemanusiaan yang baru dan benar dalam iman, lalu manusia memberikan tindakan syukur sebagai gantinya. Sedangkan dalam pengudusan (sanctificatio), Yang Ilahi menyatakan identitas kemanusiaan yang baru mengenai hidup sebagai anak-anak-Nya. Pengudusan bukanlah sekadar perintah untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah, melainkan perintah untuk hidup seperti mereka yang ada di dalamnya. Sedangkan panggilan (vocatio) adalah realitas yang dijanjikan dalam Yesus Kristus, telos dari pembenaran dan pengudusan.

Persatuan Kristus dengan umat manusia (unio mystica) dalam kenaikan-Nya adalah “persatuan dalam perbedaan” melalui tindakan-Nya. Lebih lanjut, kita dapat melihat tiga karunia Ilahi melalui setiap aspek di atas: melalui rekonsiliasi, pembenaran sebagai hasil putusan Ilahi mengaruniakan iman, pengudusan sebagai arah dan pedoman Ilahi mengaruniakan kasih, dan panggilan sebagai janji Ilahi mengaruniakan harapan kepada setiap orang percaya.

Dalam hal ini pula, Gereja harus dimengerti sebagai ciptaan khas di dalam masa “in between” ini. Hal ini dikarenakan doktrin kenaikan Kristus yang mengakui dan menegaskan bahwa kehadiran Kristus dalam kemuliaan di sebelah kanan Allah belumlah lengkap karena Gereja sebagai tubuh-Nya masih berada di dunia. Pada saat yang sama, kita juga mengakui dan menegaskan kehadiran Kristus pada masa “in between” di dunia melalui kuasa, janji, dan kehadiran Roh Kudus. Dalam hal ini, karya Roh Kudus adalah memelihara dan memperkuat hubungan kita dengan Kristus, menghubungkan dengan Gereja di berbagai tempat, serta Roh Kristus menghubungkan kita dengan umat Allah di segala zaman dan di segala penjuru. Akibatnya, persatuan dan persekutuan kosmis ini membawa Gereja untuk hidup di dalam dan dengan harapan atas sejarah dan kehidupan Yesus Kristus yang berkelanjutan (continua) melalui Roh-Nya.

Realitas, Kenaikan Kristus, dan Habakuk
Ketika kita berbicara tentang realitas iman yang nyata dan dijalani, perenungan theologis mengenai kenaikan Kristus memiliki mitra percakapan yang sempurna dalam nabi Perjanjian Lama, Habakuk. Kitab Habakuk yang relatif singkat dikelompokkan dalam kategori “nabi-nabi kecil”. Kategori ini acap kali membuat Kitab Habakuk jarang diberi perhatian oleh gereja, namun perspektif yang ia tawarkan kepada Gereja yang bergumul dalam masa penantian “in between” ini sangatlah signifikan. Kitab Habakuk berbicara dengan jelas kepada setiap umat Allah yang mengeluh dan merindukan penyelesaian atas segala permasalahan dunia, serta rekonsiliasi dunia dengan Allah Tritunggal dalam Kristus melalui Roh Kudus.

Habakuk sebagai seorang nabi kecil dalam kanon Kitab Suci, pula seorang minoritas kenabian di tengah komunitas pengasingan. Ia dipanggil dan digerakkan oleh Allah untuk berkata-kata mengenai masa yang akan datang. Demikian pula Gereja merasakan ruang yang ditempati oleh Nabi Habakuk. Gereja dipanggil untuk menjadi diaspora Kerajaan Allah di dalam dunia ini dan berada dalam ruang penuh perjuangan, dalam berbagai risiko yang dipenuhi harapan karena kita berutang kepada Allah dan juga komunitas-Nya. Oleh karena itu, Habakuk bekerja keras untuk melayani dan menjembatani setidaknya dua komunitas di mana ia berada: dalam konteks Habakuk, komunitas pengasingan Israel, yaitu sisa Israel di Yerusalem, dan tanah pengasingan, Babel sendiri; dalam konteks kita, Gereja dan dunia.

Kitab Habakuk bisa dikatakan mirip seperti Kitab Ayub tetapi tanpa ketiga temannya yang suka ikut campur itu. Apa yang ditawarkan Habakuk bagi para pembaca abad keenam sebelum Masehi adalah harapan di tengah tahun-tahun bencana yang disebabkan oleh raja boneka Yoyakim. Habakuk menjadi mediator dan pendoa syafaat bagi orang Israel, dan untuk setiap ketakutan-ketakutan pribadinya. Seperti peran mediatorial Kristus sebagai Imam Besar yang naik dalam kemuliaan-Nya, Habakuk bertindak sebagai nabi dan imam atas nama komunitas yang ia cintai. Sebagai tambahan, nama Habakuk sebenarnya dalam bahasa Ibrani berarti “merangkul”, dan nubuat yang ia hadirkan (1:1) secara literal diterjemahkan sebagai “beban”.

Gereja yang hidup dalam perjuangan dengan terang pengharapan atas kenaikan Kristus, seperti Habakuk, akan merangkul beban tersebut dan membawanya dalam peran mediatorialnya dengan penuh iman, pengharapan, dan kasih. Habakuk menyampaikan petisi dan seruan yang jujur ​​untuk memanggil, mendesak, dan mendorong Allah agar segera bertindak dan melakukan sesuatu untuk menghentikan kejahatan dan kelaliman yang telah menjerat Israel.

Habakuk 1: Jangan Diam!
Habakuk sebagai bagian dari Israel, berbicara atas nama Israel ketika mereka merasa ditinggalkan oleh Allah. Ia menjerit, “Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: “Penindasan!” tetapi tidak Kautolong? Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman? Ya, aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi” (Hab. 1:2-3).

Habakuk, yang berarti “merangkul”, membawa orang-orang yang ia sebut sebagai “beban” ke hadapan Allah. Ia menghendaki Allah untuk merangkul beban Israel, karena penderitaan Israel, komunitasnya, telah menjadi bebannya. Hal ini yang akhirnya mendorong Habakuk untuk membawa pembelaannya yang penuh gelora kepada Allah yang hidup.

Sebagai anggota Gereja Tuhan, kita terkadang lalai untuk peka seperti Habakuk. Kita jatuh dalam keadaan apatis terhadap keadaan sekitar, terhadap dunia yang jatuh ke dalam dosa yang banal. Kita gagal berkomunikasi dengan Tuhan dan mendengar suara Tuhan di tengah-tengah kekacauan yang ada. Pertanyaan tepat yang diajukan Habakuk (dan Israel) pada dasarnya adalah: apakah Tuhan menjadi apatis dan menutup mata terhadap Israel? Terhadap kita?

Sekali-kali tidak! Melalui ayat 5 sampai 11, Tuhan digambarkan berbicara mengenai bangsa Kasdim yang kemudian diikuti oleh seruan Habakuk mengenai kekudusan Tuhan. Ia dengan tegas mengatakan bahwa Tuhan tidak mungkin tidak konsisten dengan apa yang Ia tahu benar. Implikasi dari seruan Habakuk terhadap Tuhan adalah bahwa Tuhan tidak mungkin apatis, dan tidak bersikap antipati terhadap Israel. Penafsiran Habakuk 1 ini menghasilkan signifikansi sakramental dari Allah dalam komunikasi Ilahi-manusia. Di dalam perjuangan keras Israel melawan Mesir, Babilonia, dan Kasdim, Allah mengomunikasikan rahmat-Nya melalui Roh Allah yang menyertai umat perjanjian dalam perjuangan.

Dalam terang peristiwa kenaikan Kristus ke sorga, kita diingatkan sekali lagi untuk melihat Injil Kristus: dalam ketiadaan-Nya, Tuhan telah bertindak. Ia tidak apatis, Allah menunjukkan keberpihakan-Nya! “Netralitas” hanya membantu penindas dan bukan korban. Kesunyian memacu sang penyiksa, bukan yang disiksa. Gereja harus ikut campur. Ketika kehidupan manusia terancam, ketika martabat manusia dalam bahaya, batas-batas negara dan agama menjadi tidak relevan!

Kenaikan Kristus mengingatkan kita pula akan peristiwa sentral dalam Injil: salib dan kubur yang kosong. Di dalam apa yang tampaknya menjadi titik terkelam, di mana Allah sepertinya tidak peduli terhadap kekerasan, penderitaan, dan kematian seluruh umat manusia, Allah merangkul kekerasan dan ketidakmanusiawian yang mengirim Kristus Yesus ke atas kayu salib dan membangkitkan Anak-Nya itu. Ia menyisakan salib dan kubur yang kosong sebagai perlambang kemenangan atas kekerasan dan kelaliman kosmis!

Dalam hal ini kita bisa melihat bahwa seruan pembuka Habakuk adalah kerinduan agar Allah merangkul beban yang dialami dan disaksikan oleh dirinya dan komunitasnya. Dan Injil memberikan jawaban atas seruan ini. Injil menegaskan bahwa Allah peduli dan merangkul kemanusiaan yang bobrok dan, sebagai hasilnya, kita dipanggil untuk merangkul Tuhan dalam kesunyian dan ketidakhadiran-Nya yang tampak. Melalui Habakuk 1, kita diajarkan untuk mengajukan permohonan kepada Tuhan secara terbuka dan jujur ​​atas nama diri kita dan komunitas kita seperti yang dilakukan oleh Nabi Habakuk. Sebuah homiletik kenaikan membawa Gereja untuk melihat titik perjuangan, perjuangan dengan iman, perjuangan dengan kemanusiaan kita, perjuangan melawan dosa yang menjerat dunia.

Habakuk 2: Menunggu dan Berlari!
Habakuk 2 menggambarkan kekerasan dan kelaliman di sekeliling Habakuk dan Israel: para penjarah (2:6), gerombolan penjahat (2:9), perampok (2:12), si bejat (2:15), dan orang-orang musyrik (2:19a). Habakuk menjadi kewalahan dengan ketidakadilan yang ada di sekitarnya di mana bangsa lain yang sengaja menghancurkan kegembiraan Israel melakukan kekerasan dan mempraktikkan hal-hal yang tidak berperikemanusiaan. Mereka sengaja memutarbalikkan kebenaran dan berkonspirasi, serta menjarah. Bukankah hal-hal ini relatif dekat, bahkan persis, seperti apa yang terjadi di sekitar kita? Pada ujungnya, hati manusia menjadi tawar dan pasrah pada kelaliman dan dosa yang merajalela.

Habakuk 2 bercerita bagaimana Habakuk menanti-nanti perkataan dari Tuhan di tengah kondisi tersebut, bahkan ia menanti sambil berdiri di pos-pos jaga dan benteng-benteng ketika kekerasan dan kelaliman makin merajalela. Demikian pula Gereja sedang menanti. Ketika Habakuk dan orang Israel menanti pembebasan waktu orang Kasdim membuat kekacauan, Gereja menanti pembebasan di tengah dosa dan kelaliman di masa “in between” ini. Pertanyaannya: Apa yang bisa dilakukan Gereja? Implikasi dari teks Kitab Habakuk jelas: Beriman, menanti, dan berdoa, Tuhan akan membalas jauh lebih daripada yang kita bayangkan.

Di sini pembalasan Ilahi akan membuat semua gigi bergemeretak. Tuhan akan mendatangkan counter-violence (kekerasan tandingan) bagi bangsa-bangsa penentang-Nya! Counter-violence ini bukanlah kekerasan yang buta dan tidak terkendali, melainkan kekerasan yang pada ujungnya bertujuan untuk menghadirkan keadaan yang tanpa kekerasan. Lebih jauh, kekerasan yang ultimat ditimpakan bukan kepada bangsa-bangsa yang melawan-Nya, melainkan kepada diri-Nya sendiri. Oleh satu orang (Adam) dosa masuk; demikian pula oleh satu orang (Yesus Kristus) kebenaran masuk. Di sini pembacaan qal wahomer diperlukan. Pembalasan Ilahi terbesar terjadi di atas kayu salib di mana kekerasan (violence) murka Allah ditimpakan kepada Kristus, bukan sebagai akhir dari kekerasan itu sendiri, melainkan sebagai sarana penebusan umat manusia, sehingga dosa tak lagi berkuasa dan kekerasan tidak akan ada lagi.

Pemikiran qal wahomer ini menghadirkan realitas yang tidak mudah dilihat, tetapi sudah terejawantah dengan tuntas. Oleh karenanya, kita membutuhkan mata dan hati iman, didorong dalam harapan, dan berlabuh dalam kasih untuk bertahan dan hidup dalam kekacauan. Menghubungkan Habakuk 2 dengan usulan Brueggeman tentang kekerasan tandingan terhadap kekerasan dalam upaya menghadirkan hidup tanpa kekerasan berlaku tidak hanya untuk apa yang sedang terjadi di Habakuk 2, tetapi juga dengan apa yang Tuhan lakukan dalam sejarah perjanjian-Nya dan apa yang dilakukan Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari, seperti apa yang dikatakan dalam Habakuk 2:2, “sehingga orang berlari dapat membacanya.” Supaya kita dapat terus berlari dengan memperbesar pemahaman melalui perintah-perintah Allah (Mzm. 119:32), dan terus berlari sambil menunggu Tuhan, memperbarui hati kita dengan harapan (Yes. 40:31). Di sini kita menemukan diri kita sebagai pengikut Allah yang setia dengan menunggu, dan sambil menunggu kita terus berlari mengejar pengertian akan kebenaran.

Homiletik kenaikan dinyatakan dan diekspresikan oleh keterlibatan Gereja dalam perjuangan yang dipenuhi dengan harapan, risiko penuh harapan. Perjuangannya adalah untuk memupuk komunitas dan untuk menjembatani kehidupan dan iman dengan sesama, untuk tetap setia ketika kekerasan membanjiri, ketika beban untuk merawat dan mencintai dunia yang penuh kekerasan tampaknya tidak dapat diatasi, ketika apa yang kita butuhkan adalah harapan dan kata-kata dari Tuhan. Habakuk 2 juga menghadirkan kekerasan Ilahi di atas kekerasan militer, karena pembalasan Ilahi tampaknya merupakan hukuman yang dijanjikan terhadap kekerasan yang berupaya menghancurkan Israel.

Habakuk 3: Sela – Diam dan Lihatlah!
Habakuk 3 memiliki kesamaan dengan banyak mazmur. Perikop ini memuat arahan musikal “Sela”, di mana “Sela” dimanfaatkan sebagai jeda musik/puisi. Emosi yang kuat seperti Mazmur 7 juga dibentuk sedemikian rupa sebagai kiasmus ABB’A’ dalam pasal 3 ini:
A: ay. 1-3
   B: ay. 4-15
      X: ay. 16
   B’: ay. 17
A’: ay. 18-19

Apa yang menjadi penting adalah ketika Habakuk meletakkan “Sela” di antara dua bagian kiastik dari pasal 3 ini. Di tengah pergumulan akan kelaliman yang dalam, Habakuk menghadirkan dua bagan kiastik penuh pengagungan untuk memuji Tuhan. Jika kita melihat ayat 4-15 sebagai bagian B dari kiasmus dan ayat 17 sebagai bagian B’ dari kiasmus, kita bisa melihat bagaimana kedua bagian tersebut menjepit pergumulan akan “kekerasan” di antara dua penegasan utamanya tentang “keagungan” dan “kekuatan” Tuhan. Dengan ayat 16 diapit di antara dua set doksologi dan dua set keputusan yang tertunda, ayat 16 menjadi momen refleksi, sebuah Sela yang tidak dinyatakan, tidak seperti Sela eksplisit dalam ayat 3, 9, dan 13. Ayat 16 menjadi jembatan atas kesenjangan antara kombinasi doksologi dan penghakiman dan penghakiman akhir yang berujung pada doksologi.

Pertanyaan kontekstual untuk dipertimbangkan adalah: Bisakah kita berdiam diri dan memuji Tuhan di tengah masa sulit ini? Masalah utamanya adalah bahwa kita begitu dibanjiri dan dibebani dengan disonansi pengalaman-pengalaman yang ada, sehingga terkadang kita menjadi lumpuh, dan kita tidak dapat berdiam untuk memuji Tuhan atas apa yang kita miliki atau keberadaan kita saat ini. Ketika kita mengalami disonansi yang luar biasa dan kita tidak bisa berdoa, kita tidak bisa memuji, dan kita tidak bisa menanti, adalah kabar baik bahwa kita tetap dapat memuji Tuhan karena Yesus telah memuji Tuhan mewakili kita. Ketika kita terbebani oleh permasalahan yang ada dalam dunia ini, Yesus menanggung beban kita sampai putih rambut kita (Yes. 46:4). Ketika kita membutuhkan keheningan, Yesuslah yang berbaring di kuburan dalam keheningan Sabtu Suci dan muncul menyatakan kemenangan atas kubur pada Paskah.

Hasil dari iman atas segala hal ini di tengah-tengah kekacauan hanya doksologi. Dalam Habakuk 1 kita diajak untuk berdialog dengan Tuhan ketika kita mengalami kekacauan, kita meratapi suatu kekotoran dan kelaliman dalam pasal 2, dan dalam pasal 3 Tuhan menuntun kita ke dalam hidup penuh doksologi. 

Kenaikan Kristus menghubungkan perjuangan dengan harapan, risiko yang dipenuhi oleh harapan yang menghubungkan segala orang percaya di dunia. Ketika homili kenaikan ini dimasukkan ke dalam percakapan dengan Kitab Habakuk, apa yang muncul adalah seruan bagi komunitas yang berkumpul untuk memperhatikan ketakutan dan kecemasan Gereja di dalam dunia, untuk menyadari dan berdoa bagi dunia dari mana Gereja diutus, untuk mendorong dan mendukung satu sama lain dalam rahmat Allah, untuk mendengar panggilan Injil untuk diubahkan dalam disposisi kita terhadap diri kita sendiri, dan orang lain, dan dunia, dan menghayati Injil dengan cara memberikan kesaksian tentang harapan yang telah Allah berikan.

Robin Gui
Pemuda FIRES

Robin Gui

Agustus 2019

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pimpinan Tuhan selama 30 tahun bagi GRII.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Syalom.......!!! Selamat siang pa saya mau inggin bertanya berkolaborasi dengan zaman milenial pa,pertanyaannya...

Selengkapnya...

Sebenernya simple mengenai ilmu tentang hidup. Ya kita harus terima kenyataan , dan kita harus punya tujuan hidup....

Selengkapnya...

maaf ternyata kesalahan pada setingan di komputer saya, syalom

Selengkapnya...

hurufnya sulit di baca... mungkin akan leih baik klw menggunakan huruf standart syalom TUHAN MEMBERKATI

Selengkapnya...

Sepertinya bagian Penutup tidak menjawab pertanyaan. Sy sebagai org awam yg mau datang kpd TY jadi bingung dengan...

Selengkapnya...

© 2010, 2019 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲