Artikel

Keutamaan Kristus dan Toleransi

Salah satu dari surat yang ditulis Rasul Paulus ditujukan kepada jemaat di Kolose. Kota Kolose terletak di Lembah Lykus di Asia Kecil, dekat dengan Kota Efesus. Paulus pernah melakukan pengabaran Injil di Kota Efesus dan menghasilkan banyak murid. Salah satu murid Paulus sewaktu Paulus mengajar di Tiranus, Efesus, adalah Epafras. Epafras inilah yang kemudian kembali ke kotanya di Kolose dan membangun jemaat di sana.

Kebanyakan masyarakat yang tinggal di Efesus bukanlah orang Yahudi, banyak dari mereka adalah etnis Frigia dan para pendatang dari bangsa Yunani setelah Asia Kecil ditaklukkan oleh Aleksander Agung. Maka, tidak heran jika kebanyakan jemaat Kolose bukanlah orang Yahudi, ini dapat dilihat dari ayat-ayat yang ditulis Paulus, misalnya dalam Kolose 2:13, di mana dikatakan bahwa mereka tidak disunat seperti layaknya orang Yahudi, atau dalam Kolose 2:8, di mana Paulus menyuruh jemaat Kolose untuk berhati-hati agar tidak tertawan oleh filsafat yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia.

Karena banyaknya persepsi yang salah mengenai Kristus dan karya keselamatan-Nya, maka Paulus menuliskan surat ini kepada jemaat di Kolose. Saat itu, banyak sekali beredar dalam jemaat Kolose, bidat atau ajaran sesat yang meragukan supremasi Allah dan keselamatan yang diperoleh dalam Kristus. Maka dari itu, Paulus memulai suratnya dengan menjabarkan tentang Kristus, yang kepada-Nya kita percaya, kemudian dilanjutkan dengan penjelasan mengenai ajaran-ajaran palsu yang menyerang iman mereka, lalu mengenai bagaimana seharusnya seorang Kristen hidup sebagai jemaat Tuhan di tengah-tengah dunia, dan ditutup dengan salam dari Paulus dan harapan yang dimilikinya secara personal kepada jemaat di Kolose ini.

Kalau di zaman Surat Kolose ini ditulis mereka menghadapi serangan yang meragukan akan Kristus, di zaman kita sekarang berkembang juga yang namanya New Age Movement. Mungkin gerakan ini belum terlalu banyak terlihat secara institusi di Indonesia, tetapi nyatanya, pemikiran-pemikiran New Age Movement ini telah banyak memasuki pemikiran kita dan memengaruhi bagaimana kita bersikap dalam hidup sehari-hari. Salah satu yang sering kali kita temukan dewasa ini adalah pemikiran bahwa segala sesuatu itu sama benar dan sama berkuasa, tergantung siapa yang melihat dan siapa yang berkata. Cara berpikir seperti ini telah memindahkan iman dari ranah rasional menjadi urusan preferensi pribadi atau subjektif. Pengertian kita akan Tuhan seharusnya dapat kita pikirkan dan diskusikan, karena Ia adalah yang benar, dan Ia memberikan diri-Nya untuk kita mengerti. Tetapi sekarang, kita membuat Tuhan menjadi bawahan kita. Saya senang tuhan yang seperti A, maka saya mengikuti ajaran A, saya senang tuhan yang B, maka saya mengikuti ajaran B. Kita tidak lagi ingin untuk membicarakan Tuhan yang sejati yang seharusnya kita percaya, mempertanggungjawabkan apa yang kita percaya, dan mengkritik orang yang berlaku tidak benar, hanya karena kita menganggap bahwa semua orang itu “benar” dalam standar mereka masing-masing. Setiap kita berada dalam “dunia iman” masing-masing yang tidak boleh saling bersentuhan dan bila ada orang yang memulai menyentuh ranah iman yang berbeda tersebut, orang tersebut dianggap tidak memiliki cinta kasih dan tidak menghargai hak asasi manusia. Dengan semangat seperti ini, kita tidak lagi menjadikan Kristus yang utama, yang benar, yang menjadi standar kebenaran, dan karya keselamatan-Nya itu yang mutlak. Kita hanya menjadikan Dia seorang penting yang ada dan tercatat dalam sejarah, dan kita hanya berhenti sebatas mengagumi Dia, tanpa mampu menyembah Dia sekalipun dari mulut kita keluar pengakuan bahwa Yesus Kristus adalah Tuhan dan Juruselamat kita.

Pada bagian ketiga surat ini (Kol. 3:5-4:6) Paulus mengajarkan mengenai bagaimana praktik hidup seorang percaya dalam menjadi saksi kepada orang yang belum percaya. Kolose 4:5 mengatakan bahwa kita perlu hidup dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar. Apa yang dimaksudkan Paulus dengan hidup penuh hikmat? Toleransi, seperti yang sering kali dikumandangkan dalam era postmodern ini, adalah suatu sikap yang menginginkan hidup yang damai dan menghindari segala jenis perdebatan, bahkan perdebatan demi mencari kebenaran. Kita diajarkan untuk tidak menghakimi seseorang, karena ketika kita menghakimi atau mengkritik seseorang, itu artinya kita sedang menyatakan bahwa apa yang saya percaya adalah yang paling benar dan paling berkuasa. Tentu saja toleransi seperti ini tidak benar karena menurunkan atau mengorbankan kebenaran demi “kedamaian”.

Alkitab juga mengajarkan kita untuk memiliki toleransi. Namun bukan toleransi yang seperti dijelaskan di atas. Toleransi yang diajarkan oleh Alkitab adalah toleransi di mana kita bersabar terhadap orang luar. Kalau seseorang belum mengenal Injil dan belum dapat menerima Injil, kita sampaikan dengan baik-baik, bukan dengan menyerang kesalahan mereka, dan tidak dengan marah-marah. Kalau orang tersebut, setelah kita beritakan Injil, belum mau percaya, kita tunjukkanlah Injil yang kita percayai dan telah kita katakan itu dengan hidup yang benar dan sesuai dengan perkataan kita, dan tentunya juga kita bawa dia dalam doa, karena iman memang adalah pekerjaan Roh Kudus dan bukan pekerjaan kita. Toleransi berarti kita menghormati seseorang sebagai manusia, dan bukan objek yang harus segera kita “cuci” dan “selamatkan”. Toleransi yang seperti ini tentunya memerlukan hikmat dari Allah, untuk mengetahui kapan kita harus berbicara, dan kapan harus diam, kapan harus menyampaikan dengan meluap-luap seperti orang yang sedang sangat semangat, kapan harus menyampaikan dengan penuh senyuman dan cinta kasih, atau bahkan kapan harus diam. Hikmat ini tentu terkait dengan waktu. Ketika kita tidak peka akan kairos atau waktunya Tuhan, maka kita tidak akan memiliki pergumulan kapan harus berbicara dan kapan harus diam, kita akan terus santai dan terlena, tanpa pernah menunjukkan hidup yang sudah ditebus, kepada orang-orang luar yang ada di sekitar kita. Toleransi yang benar ini akan membawa kita ke tahap pertumbuhan dalam kepekaan akan pimpinan Tuhan.

Ketika kita sudah mengerti kapan harus berbicara dan kita bergumul akan bagaimana membicarakan kebenaran tersebut, Paulus dalam Kolose 4:6 mengingatkan kita untuk berkata-kata dengan penuh kasih dan “dibumbui garam”. Apa maksudnya? Ketika kita sedang mengkritik seseorang karena ia melakukan kesalahan, perkataan kita pun harus tetap mengandung kebenaran di dalamnya, jangan menjadi sebatas omong kosong yang hanya ingin mengkritik karena kita senang untuk membuat kesal orang, atau karena kita ingin terlihat lebih pandai dan suci daripada orang lain. Ketika kita sedang berbicara pun, janganlah kita hanya menyampaikan pujian kosong, hanya karena kita tidak ingin dicap sebagai orang sok suci. Dalam setiap perkataan kita, hendaklah kita membangun orang lain, baik lewat pujian, maupun lewat kritik. Karena ketika kita membuka mulut kita dan berkata-kata, kita sedang menunjukkan kasih kita akan kebenaran, dan juga kasih kita terhadap orang tersebut agar dia mengenal kebenaran dan hidup dalam kebenaran.

Paulus menuliskan surat ini kepada jemaat di Kolose untuk mengingatkan mereka kembali akan bagaimana memiliki pengertian yang benar akan Kristus dan kemudian menunjukkan iman kita lewat perbuatan-perbuatan dalam hidup sehari-hari. Marilah kita juga sebagai orang Kristen yang hidup di zaman ini, membawa garam dan terang ke dunia ini, dengan menunjukkan gaya hidup yang berbeda dari orang-orang dunia zaman ini. Demikianlah juga yang dinasihatkan Rasul Paulus kepada Timotius di 1 Timotius 4:16:

Awasilah dirimu sendiri dan awasilah ajaranmu. Bertekunlah dalam semuanya itu, karena dengan berbuat demikian engkau akan menyelamatkan dirimu dan semua orang yang mendengar engkau.

Kiranya Tuhan memampukan kita mengutamakan Kristus di dalam setiap aspek kehidupan kita agar dipakai-Nya menjadi saksi bagi kemuliaan nama-Nya!

Eunice Girsang
Pemudi FIRES

Eunice Girsang

Juni 2019

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pimpinan Tuhan selama 30 tahun bagi GRII.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
@David Chandra : kan kita sama2 mengerti bagaimana Tuhan memulihkan Gereja-Nya dari reformasi melalui Martin Luther...

Selengkapnya...

Apa indikator bahwa gerakan Pentakosta Kharismatik dapat disebut sebagai gerakan pemulihan berikutnya?

Selengkapnya...

Saya diberkati oleh tulisan ini. Tapi pada akhir-akhir tulisan ada bbrp hal yang mengganggu saya, kenapa tulisan2...

Selengkapnya...

Terimakasih atas renungannya sangata memberkati

Selengkapnya...

Terima kasih..sangat memberkati!

Selengkapnya...

© 2010, 2019 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲