Artikel

Krisis, Iman, dan Kasih Allah: Sebuah refleksi dalam konteks COVID-19

Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang?... Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. (Rm. 8:35, 38-39)

Introduksi

Ketika artikel ini ditulis (Maret 2020), Indonesia telah mengalami dampak yang lebih konkret dan signifikan dari COVID-19. Sebenarnya, COVID-19 sudah mulai “bergaung” sejak Desember 2019 dan Januari 2020, namun dampak lebih nyata di Indonesia baru mulai dirasakan di bulan Maret. Ketika artikel ini ditulis, orang-orang di Jakarta sudah mulai dibatasi dari sisi mobilitas, pertemuan/kerumunan orang banyak, dan aktivitas sehari-hari. Selain dari sisi kesehatan, dampak mulai dirasakan dari aspek ekonomi, industri, edukasi, religius, dan sosial. Artikel ini ditulis sebagai bentuk refleksi pribadi penulis dalam menyikapi dan merenungkan hal ini.

Krisis: Suatu Disrupsi yang “Biasa”

Dunia yang sudah jatuh dalam dosa dan ditebus tidak akan pernah bisa benar-benar lepas dari krisis, bencana, wabah, ataupun malapetaka. Krisis dan bencana bisa muncul dari berbagai bidang/aspek. Sebagai contoh, World Economic Forum membagi risiko-risiko global dalam aspek ekonomi, lingkungan, geopolitik, sosial, dan teknologi.[1] Hidup manusia memang sesungguhnya rapuh dan penuh ketidakpastian. Di tengah-tengah situasi ini, manusia tetap mendambakan kestabilan dan kepastian. Usaha-usaha ini dapat dimulai dalam bentuk tabungan atau asuransi dalam lingkup pribadi, sampai lingkup negara dan global dalam merancang baik suatu sistem ketahanan finansial maupun kekuatan militer. Dalam usahanya ini, manusia kembali dikagetkan oleh berbagai disrupsi krisis yang menggambarkan betapa rapuh dan terbatasnya usaha manusia. Manusia sangat mudah terlena dan sombong akan “ilusi kestabilan” yang ia miliki/bangun. Penulis kadang sedikit “bersyukur” ketika datang “kejutan-kejutan” semacam ini. Terkadang manusia atau masyarakat mungkin memerlukan momen-momen krisis semacam ini untuk kembali merenungkan betapa fananya manusia. Dalam masa hidup penulis sendiri, ada berbagai macam krisis konkret yang pernah terjadi dan tertanam dalam benak penulis: wabah penyakit (COVID-19, swine flu, Ebola, SARS), kebocoran nuklir di Fukushima, tragedi 911 di Amerika Serikat, berbagai aksi bom dan teror, krisis finansial (1998 dan 2008/9), bencana gempa dan tsunami, erupsi gunung Eyjafjallajökull di Islandia, dan berbagai macam kerusuhan di berbagai negara. Setidaknya, manusia seharusnya belajar melihat bahwa disrupsi-disrupsi semacam ini adalah hal “biasa” dan akan terjadi dalam waktu-waktu ke depan.

Keyakinan Iman: Konteks Roma 8

Dalam refleksi penulis, penulis tertarik merenungkan beberapa bagian dari Roma 8. Sebelum mengerucut kepada bagian tersebut, ada baiknya kita sedikit membahas konteks Surat Roma. Bagi orang Kristen, Surat Roma seharusnya memberikan kesan tersendiri. Surat ini adalah surat Paulus kepada jemaat di Roma, di mana ia menjelaskan konteks keselamatan dengan begitu rinci dan sistematis. Dalam surat ini, Paulus memberikan kepada orang Yahudi dan non-Yahudi berbagai doktrin dasar dan penting bagi orang Kristen: Taurat, sunat, hati nurani, iman, dosa, pengorbanan Kristus, pekerjaan Roh, dan masih banyak lagi. Topik-topik tersebut dibahas dengan detail, dalam, dan lengkap. Tidak heran, salah seorang theolog terkemuka memberikan komentar seperti demikian mengenai Kitab Roma, “Neither a systematic theology nor a summary of Paul’s lifework, but it is by common consent his masterpiece. It dwarfs most of his other writings, an Alpine peak towering over hills and villages. Not all onlookers have viewed it in the same light or from the same angle, and their snapshots and paintings of it are sometimes remarkably unalike. Not all climbers have taken the same route up its sheer sides, and there is frequent disagreement on the best approach. What nobody doubts is that we are here dealing with a work of massive substance, presenting a formidable intellectual challenge while offering a breathtaking theological and spiritual vision.”

Kitab Roma secara sederhana bisa dibagi menjadi dua bagian besar. Pasal 1-11 menjelaskan berbagai doktrin penting dalam hidup orang Kristen, khususnya mengenai keselamatan. Roma 12-16 menjelaskan bagaimana seharusnya doktrin itu dihidupi dan terpancar dalam hidup orang Kristen. Dalam Kitab Roma, aplikasi itu mencakup ketaatan terhadap pemerintah, mengasihi musuh, mengasihi saudara seiman, makan makanan yang dipersembahkan kepada berhala, dan hidup saling menanggung beban. Pola kaitan antara doktrin dan aplikasi seperti ini sangat kental terlihat dalam surat-surat Rasul Paulus. Paulus dengan “mudah” dapat bergerak lincah dan mengalir indah dari satu pemahaman doktrinal ke dalam praktik hidup sehari-hari. Integrasi antara pengetahuan dan kelakuan seperti yang tentunya kita rindukan juga terpancar dari hidup orang Kristen.

Roma 8 tidak bisa dipisahkan dari pasal-pasal sebelumnya. Di pasal 4, Paulus telah menjelaskan bahwa sama seperti Abraham, orang percaya dibenarkan dan hidup oleh iman. Pada pasal 6, dijelaskan bahwa orang percaya juga telah mati dan bangkit dengan Kristus. Dalam pasal 8, dijelaskan bahwa hidup orang percaya adalah hidup oleh Roh. Roh itu telah memberi hidup dan memerdekakan dari hukum dosa dan hukum maut. Dalam bagian akhir dari Roma 8 ini, Paulus menyatakan deklarasi iman yang begitu indah dan berani! Dasar iman Paulus bukanlah karena kehebatannya atau berbagai usaha-usaha yang telah dilakukannya. Ia menyatakan keyakinan iman karena Allah berada di pihaknya dan karena Allah tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri untuk dikorbankan bagi kita. “Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia?” Demikianlah argumen dan dasar keyakinan dari Paulus.

Kasih Allah

Seperti yang mungkin kita pernah ketahui/pelajari, Paulus adalah seorang sosok istimewa. Ia bukanlah orang yang bodoh atau naif. Justru sebaliknya, ia begitu terpelajar, baik itu secara pengetahuan Taurat, maupun filsafat. Dalam konteks keyakinan iman di Roma 8, Paulus bukanlah orang yang naif atau tidak tahu terhadap berbagai bahaya yang ada di sekitarnya. Ia tahu betul ada berbagai bahaya seperti penindasan, kesesakan, penganiayaan, kelaparan, ketelanjangan, pedang, juga berbagai kuasa dari maut, malaikat, dan pemerintah. Hal-hal tersebut dijabarkan satu per satu oleh Paulus dalam Roma 8. Ia bahkan menuliskan bahwa dirinya berada dalam bahaya maut sepanjang hari, seperti domba-domba sembelihan. Bukankah bahaya yang dialami oleh Paulus tidak lebih sedikit dari yang kita alami di masa ini? Apakah yang membuat keyakinan Paulus begitu berbeda dari kebanyakan kita? Paulus memberikan jawaban singkat dan mengena: kasih Allah! Segala macam hal dan bahaya yang Paulus sebutkan tidak mampu memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Yesus Kristus, Tuhan kita.

Penutup

Dalam artikel singkat ini, penulis tidak ingin menulis terlalu panjang lebar atau masuk perdebatan detail mengenai konteks COVID-19 (misal: kebijakan lockdown, ibadah online, bentuk praktis ekspresi kasih terhadap sesama, dan lain-lain). Di tengah situasi yang penuh ketidakstabilan, penulis hanya ingin mengajak pembaca Buletin PILLAR untuk kembali merenungkan kasih Allah. Penulis berharap dan berdoa agar perenungan mengenai kasih Allah bukanlah sekadar perenungan yang abstrak dan jauh, namun menjadi kesadaran bahwa ada Pribadi yang benar-benar mengasihi dan rela memberikan yang terbaik (Anak-Nya) untuk kita. Paulus yang sama dengan berani menulis di surat lain bahwa hidup adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan. Jika Paulus harus hidup, baginya itu adalah untuk bekerja memberi buah. Sudahkah kita sungguh-sungguh menghayati dan menghidupi kasih Allah dalam keseharian hidup kita? Kiranya kasih Allah yang memberikan keyakinan iman kepada Paulus juga boleh menguatkan kita semua.

Oh, ya, Tuhan, Kau tak biarkan daku,

Oh, kasih-Mu masih mencariku,

‘ku Kau peluk dalam ribaan-Mu,

hantar daku, pulang ke kandang-Mu.

Oh, kasih-Hu, ajaib indah,

dalam lebar, sungguh tak terduga.

Meski aku, mendukakan Dikau,

Oh, cinta-Mu memanggilku pulang.

(Oh Kasih-Hu Ajaib Indah, John E. Su)

Juan Intan Kanggrawan

Redaksi Bahasa PILLAR

Endnotes:

[1] http://www3.weforum.org/docs/WEF_Global_Risks_Report_2019.pdf.

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk kondisi masyarakat pada masa pandemi COVID-19 ini, di dalam masa sulit ini kiranya Tuhan berbelaskasihan dan memberikan kekuatan untuk menghadapi setiap tantangan baik dalam masalah ekonomi, kesehatan, sosial, dan lainnya. Kiranya gereja diberikan kepekaan untuk dapat melayani jiwa-jiwa yang membutuhkan penghiburan dan pertolongan dalam masa sulit ini.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2020 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲