Artikel

Kristus sebagai Alfa dan Omega: Seberapa Besar Signifikansi-Nya dalam Kehidupan Kita?

Sebagai pemuda-pemudi yang hidup di tengah zaman yang semakin tidak stabil, kita sering kali khawatir mengenai masa depan kita. Banyak pemuda yang berjuang keras demi menjadi seorang yang “unggul”, tidak terdampar, dan terjerat dengan kemiskinan. Semangat seperti ini timbul karena melihat banyaknya “penyakit” sosial yang tidak habis-habisnya. Melihat hal seperti ini kita berpikir, “Saya tidak ingin seperti mereka.” Terfokus kepada keinginan bebas dari kesulitan hidup, kita sering tanpa sadar dibawa kepada ambisi materialisme dan akhirnya berkehidupan yang bebas dari Allah. Di dalam kekerasan hati, kita ingin menentukan sendiri siapa diri kita, dan ke mana hidup ini akan diarahkan. Kita tidak ingin melibatkan Allah dalam hal ini. Paling jauh, kita hanya menjadikan-Nya seperti Sinterklas yang memberikan hadiah tanpa peduli apa yang menjadi kehendak-Nya bagi hidup kita. Kita tidak menjadikan Allah sebagai alpha dan omega point dari hidup kita.

SPIK Kristologi seri terakhir yang dihadiri sekitar 5.900 orang[1] secara langsung ini mengambil tema Christ: The Lord of Lords, the Coming King, the End of History. Salah satu poin yang dibahas adalah menjadikan Kristus sebagai alpha dan omega point dari hidup kita. Hal ini berarti kita menjadikan Allah sebagai Tuan yang mengatur seluruh hidup kita, sehingga kita harus hidup takluk di bawah otoritas-Nya. Namun, cara hidup seperti ini tidak disukai bahkan dicibir oleh dunia ini karena dianggap sebagai kehidupan yang penuh dengan penderitaan. Oleh karena itu, mereka ingin menjadikan diri sebagai alpha dan omega point bagi diri mereka sendiri.

Alpha Point
Seorang filsuf modern bernama René Descartes mengatakan, “Cogito ergo sum—saya berpikir, maka saya ada.” Descartes meletakkan rasio sebagai alpha point-nya, titik awal keberadaannya. Pemikiran yang menjadi dasar dari rasionalitas ini timbul dari keegoisan manusia yang menganggap dirinya—dalam hal ini pikirannya—sebagai sumber dari segala sesuatu. Hal ini dapat terjadi tentu karena manusia telah mengalami kejatuhan total (total depravity) dalam dosa. Sebelum bertobat dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat, kita menganggap diri begitu penting dan menjadikan diri (self) sebagai dasar dari kehidupan. Hampir semua dari kita juga menjumpai hal yang sama ketika masih menikmati keberdosaan dan belum berjumpa dengan Kristus secara pribadi—kita menetapkan diri sebagai sumber dan standar dari segala sesuatu.

Tidak cukup sampai di sana, dengan mengandalkan rasio, kita berjuang untuk menemukan identitas, kita rindu untuk menemukan jati diri dengan melakukan berbagai upaya melalui filsafat, sains dan teknologi, ilmu sosial, dan lain sebagainya. Sebanyak apa pun hal-hal yang kita lakukan menggunakan rasio secara mutlak tidak akan memuaskan diri kita karena presuposisi awal—ketika rasio menjadi sumber dari segala sesuatu—tidaklah tepat. Kapasitas apa yang kita miliki sebagai manusia berdosa? Rasio manusia sangat terbatas dan memiliki banyak kekurangan—kita perlu “tahu diri” dan mengingat natur kita sebagai ciptaan yang terbatas, berbeda dari Sang Pencipta yang tidak terbatas, apalagi setelah kejatuhan dalam dosa! Bila tetap memaksakan rasio sebagai dasar segala sesuatu, sama halnya seperti kita memakai seorang buta menjadi sumber standar untuk menilai keindahan sebuah karya seni rupa—sebuah hal yang bodoh, konyol, dan sia-sia.

Semakin kita berjuang untuk menemukan identitas diri yang mutlak menggunakan rasio, semakin kita akan kecewa dan pesimis akan kehidupan kita sendiri. Seperti pemikiran filsuf Sigmund Freud yang mengatakan bahwa manusia berpikir dirinya mempunyai rasio yang bisa menaklukkan segala sesuatu, mereka kelihatan sopan, berbudaya, tetapi dalam diri yang terdalam kita digerakkan oleh libido, sesuatu yang begitu jahat. Manusia tidak serasional dan sehalus yang dipikirkan, tidak sebaik yang disangka. Kesimpulan yang dapat ditarik adalah manusia akan semakin kehilangan dirinya ketika ia menempatkan dirinya sebagai alpha point—sumber identitasdalam kehidupannya.

Omega Point
Lantas, bagaimana dengan omega point dalam kehidupan kita masing-masing? Omega point yang kita imani merupakan hal yang begitu penting karena menentukan tujuan kita dalam melakukan segala sesuatu. Hal-hal yang umum menjadi omega point manusia adalah uang, karena tak dapat dipungkiri, uang memiliki kuasa yang besar dan kenikmatan dunia. Uang dianggap sebagai kenikmatan tertinggi yang dikejar dan dipuja mati-matian (walaupun kadang kita sendiri tidak menyadari hal ini!).

Selain itu, ada pula orang yang mengejar kebahagiaan. Kebahagiaan dimaknai sebagai tujuan terpenting dari segala sesuatu, sehingga orang-orang semacam ini mencari kebahagiaan dan kepuasan melalui kehidupan glamor, gaya hidup high-endpamer barang mewah di sana-sini, kepuasan seksual, dan beragam hal yang dianggapnya “mendatangkan kebahagiaan”! Namun, di sisi lain kita harus terus mengingat bahwa hal-hal seperti rasio, uang, kebahagiaan, dan seks (yang sering kali dianggap tabu) bukanlah sesuatu yang buruk sepenuhnya karena hal-hal tersebut juga berasal dari Tuhan—hal itu merupakan anugerah Tuhan! Inti masalah di sini adalah bagaimana kita sebagai manusia memandang anugerah itu; jangan sampai anugerah Tuhan lebih penting dari Pemberi anugerah itu sendiri. Kita puas bertemu dengan anugerah dan bukan Pemberi anugerah. Kita bahagia bertemu dengan anugerah dan bukan Pemberi anugerah.

Inti masalah di sini adalah manusia tidak rela untuk hidup takluk di bawah otoritas Allah karena kehidupan seperti itu dianggap sebagai kehidupan yang tidak dapat dinikmati atau penuh dengan penderitaan. Kehidupan yang taat kepada Allah dinilai sebagai kehidupan menderita dan jauh dari kenikmatan dunia. Namun, semakin manusia mencari kebahagiaan dan kenikmatan di dunia ini, semakin mereka terjerat dan terikat oleh dosa yang justru membawa mereka jauh dari kebahagiaan yang sejati. Sedangkan kehidupan Kristen adalah kehidupan yang harus siap untuk menderita sebagaimana Kristus memikul salib-Nya. Penderitaan bukanlah parameter dalam menjalankan kehendak Allah, selama Allah bisa ditemui, semua penderitaan dan kesulitan tidaklah berarti. Tidak ada apa pun di dunia ini, baik anugerah Tuhan maupun penderitaan, yang mampu menggeser tujuan hidup kita, omega point kita, yaitu Allah kita, dari kehidupan kita.

Refleksi
Bicara soal penderitaan, para tokoh Alkitab pun pernah menyerukan keluhan demi keluhan kepada Allah. Di dalam Kitab Ayub, dicatat bahwa Allah adalah pihak yang aktif mengizinkan Ayub kehilangan istri, anak, serta hartanya dalam sekejap. Daud sebagai orang yang diperkenan Allah pun menulis mazmur-mazmur yang menunjukkan pergumulannya di tengah umat yang tidak mengenal Allah. Bukan hanya itu, Kristus Sang Anak Allah pun harus menderita mati di kayu salib. Orang-orang duniawi akan merasa bangga karena bebas dari kemiskinan dan penderitaan berkat jerih payah mereka. Akan tetapi, sebagai orang Kristen, kita seharusnya lebih bangga jikalau kita bisa menjalankan kehendak Allah, tidak peduli apakah kita harus menderita seperti Kristus. Penderitaan bukanlah sesuatu yang perlu dihindari ataupun ditakuti, penderitaan bukanlah fokus kehidupan kita, penderitaan hanyalah bagian kehidupan yang Tuhan izinkan dalam kita menjalankan kehendak-Nya, suatu proses yang dipakai Tuhan untuk membentuk motivasi kita semakin murni. Penderitaan seperti inilah akan membawa kita kepada kemuliaan yang sejati.

Bagi dunia ini, di dalam kemuliaan sering kali tidak ada ruang bagi penderitaan. Namun sebagai orang Kristen, kita memahami sebuah kemuliaan dapat dinyatakan melalui sebuah penderitaan. Pada masa penganiayaan Kekaisaran Romawi terhadap Gereja Mula-mula, gereja justru bertumbuh dengan sangat-sangat luar biasa. Gereja saat itu memahami sebuah ide mengenai keselamatan manusia dari kematian. Ketika orang Kristen percaya mengenai kebangkitan tubuh dari kematian, kita tidak takut akan kematian di dunia sebab kita percaya kita akan dibangkitkan pada akhirnya, dan kebangkitan itu merupakan kebangkitan kekal. Kengerian dan penganiayaan yang terjadi pada Gereja Abad Mula-mula justru menjadi kekuatan dan teladan bagi seluruh orang Kristen selama 2.000 tahun setelah peristiwa tersebut.

Demikian juga dengan kemuliaan Kristus yang hanya bisa dilihat jelas melalui perspektif salib. Di era modern ini, kemuliaan didefinisikan melalui ketenaran, kuasa, dan uang. Berbeda dengan masa Gereja Mula-mula, kemuliaan didefinisikan melalui Kristus. Ketika Rasul Petrus menginjili, ia berkata, “Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!” (Kis. 3:6). Petrus tidak menawarkan harta, ia menawarkan Kristus! Mengapa orang lumpuh justru ditawarkan Injil Kristus? Karena kebangkitan Kristus memiliki kuasa melampaui segala sesuatu yang ditawarkan dunia ini. Kuasa ini adalah kuasa Anak Allah yang menebus umat yang dikasihi-Nya dari murka kematian Allah Bapa. Kuasa ini dimiliki Pribadi yang mengatakan, “Aku adalah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terkemudian, Yang Awal dan Yang Akhir” (Why. 22:13).

Jadi, bagaimana sesungguhnya kita memaknai Kristus sebagai Alfa dan Omega? Alkitab dengan jelas mengatakan dalam Yesaya 44:6, “Beginilah firman TUHAN, Raja dan Penebus Israel, TUHAN semesta alam: ‘Akulah yang terdahulu dan Akulah yang terkemudian; tidak ada Allah selain dari pada-Ku.’” Kebenaran ini langsung dikatakan oleh Tuhan, Sang Kebenaran itu sendiri! Tidakkah Anda takjub dengan hal itu? Dalam Perjanjian Lama kita juga mengenal istilah El-shaddai, Tuhan yang dahsyat dan berdaulat atas segala sesuatu. Segala ciptaan dimulai dari Dia, dan seluruh ciptaan yang ada di dunia ini berasal dari Dia. Manusia adalah manusia ketika dia sadar akan Penciptanya dan mampu hidup segambar dan serupa dengan Penciptanya. Dalam hal ini, manusia modern telah kehilangan kemanusiaannya—di bawah gegap gempita sains dan teknologi, bukankah kita melihat manusia semakin kehilangan identitasnya? Kita sama sekali bukan merupakan alpha point dari kehidupan kita. Semua kesia-siaan yang kita alami ketika kita mencoba mengenal diri melalui diri akan terus berlanjut bila kita tidak menemukan alpha point yang benar dan yang sejati, yakni Yesus Kristus. Itulah sebabnya bagi orang Kristen, seharusnya tak sulit untuk menemukan identitas diri, karena kita dapat menemukannya di dalam Tuhan yang menciptakan kita sesuai dengan rencana-Nya.

Begitu pula dengan omega point. Segala sesuatu yang berasal dari Kristus turut berakhir di dalam Kristus. Bila tidak menempatkan Kristus sebagai tujuan akhir dari segala sesuatu, pastilah upaya-upaya kita akan sia-sia dan tidak bermakna. Ketika mengerjakan sesuatu untuk Tuhan, pasti kita akan merasa joyful—dipenuhi oleh kebahagiaan (kebahagiaan bukan menjadi hal utama yang dikejar, tetapi sebagai “bonus” yang diberikan Tuhan). Kebahagiaan bukan merupakan sesuatu yang salah, karena kebahagiaan pun berasal dari Tuhan. Jangan sampai anugerah yang diberikan oleh Allah mengalihkan kita dari kemuliaan Allah itu sendiri! Sebagai orang Kristen, seharusnya kita menyenangkan hati Tuhan sebagai tujuan hidup kita. Jadi, kalau kita ‘mengaku’ diri telah bertobat dan menerima Tuhan, tetapi tidak mengalami kebahagiaan ketika mengikut Dia dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan-Nya, tampaknya kita harus merenungkan kembali seberapa besar kita mengakui Allah sebagai Sang Sumber dan Sang Tujuan itu sendiri. Pertanyaan untuk kita renungkan: Seberapa konsistenkah kita dalam mengakui, percaya, dan menempatkan Allah sebagai alpha dan omega point dari kehidupan kita?

Jason Axellino (Siswa SMAK Calvin)
Lawrence Nobel Kurniawan (Pemuda GRII)

Endnotes:
[1] SPIK Kristologi VII (finale) diadakan pada hari Selasa, 11 September 2018, di Katedral Mesias, RMCI, Kemayoran, Jakarta.

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pimpinan dan penyertaan Tuhan sehingga izin pendirian dan pelaksanaan Calvin Institute of Technology telah diberikan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi pada tanggal 18 Oktober 2018.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Pengalaman Pak Heru membuat renungan ini lebih sarat makna. Thank you

Selengkapnya...

Salah tafsir Yesus bukan Allah atau hanya sbg ciptaan belaka ( ciptaan sbg manusia saja atau malaikat seperti...

Selengkapnya...

Hambatan-hambatan gereja baik eksternal dan internal,serta terangkan keberadaan Allah dan Sifat-sifat Allah

Selengkapnya...

Saya harus sampaikan ini Artikel sesat sebaiknya di hapus, ini tidak alkitabiah buah pemikiran penulis bukan...

Selengkapnya...

Salomo Depy : kmu over sensitif. Ini artikel tujuan utk membangun, tp kamu spt salah minum obat

Selengkapnya...

© 2010, 2018 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲