Artikel

Kristus Sebagai Nabi, Imam, dan Raja: Sebuah Refleksi dalam Hidup Sehari-hari

Artikel ini ditulis sebagai refleksi pribadi penulis dalam menyambut SPIK (Seminar Pembinaan Iman Kristen) “Kristus: Nabi, Imam, dan Raja” yang diadakan pada tanggal 14 Mei 2016. Pada edisi-edisi sebelumnya, Buletin PILLAR sudah pernah membahas tema Nabi, Imam, dan Raja secara spesifik, misalkan saja artikel “Kepekaan Seorang Nabi”, “We are Priests: Do We Realize It?” dan “Sang Raja Telah Datang”.[1] Pendekatan dalam artikel ini adalah dengan merenungkan satu dua poin dari masing-masing jabatan, melihat teladan Kristus, kemudian menarik aplikasi sebagai orang Kristen dalam keseharian hidup.

Sekilas Konteks Historis
Bibit pemikiran mengenai Kristus sebagai Nabi, Imam, dan Raja diduga sudah muncul dalam pemikiran Bapa Gereja Eusebius dari Kaisarea. Memang sebelum Reformasi, ada beberapa pembahasan yang menyoroti aspek-aspek dari raja, imam, atau nabi secara terpisah. Namun Yohanes Calvin yang kemudian diakui sebagai tokoh yang secara unik mengembangkan pemahaman ini secara komprehensif dan terstruktur. Khususnya dalam melihat Kristus sebagai penggenapan sempurna dari tiga jabatan penting ini. Dengan demikian, orang-orang percaya sudah sewajarnya hidup dengan meneladani Kristus sebagai contoh yang sempurna. Pengertian mengenai nabi, imam, dan raja kemudian terus muncul di dalam pengakuan-pengakuan iman Kristen di dalam sejarah:

Heidelberg Catechism
Q. Why is he called “Christ”, meaning “anointed”?
A. Because he has been ordained by God the Father and has been anointed with the Holy Spirit to be our chief prophet and teacher who perfectly reveals to us the secret counsel and will of God for our deliverance; our only high priest who has set us free by the one sacrifice of his body, and who continually pleads our cause with the Father; and our eternal king who governs us by his Word and Spirit, and who guards us and keeps us in the freedom he has won for us.

Westminster Shorter Catechism
Q. 23: What offices doth Christ execute as our Redeemer?
Christ, as our Redeemer, executeth the offices of a prophet, of a priest, and of a king, both in his estate of humiliation and exaltation.

Q. 24: How doth Christ execute the office of a prophet?
Christ executeth the office of a prophet, in revealing to us, by his word and Spirit, the will of God for our salvation.

Q. 25: How doth Christ execute the office of a priest?
Christ executeth the office of a priest, in his once offering up of himself a sacrifice to satisfy divine justice, and reconcile us to God, and in making continual intercession for us.

Q.26: How doth Christ execute the office of a king?
Christ executeth the office of a king, in subduing us to himself, in ruling and defending us, and in restraining and conquering all his and our enemies.

Dari perspektif theolog A. A. Hodge, Kristus memiliki jabatan (office) sebagai mediator. Kemudian di dalam jabatan ini, Kristus memiliki tiga fungsi, yakni nabi, imam, dan raja. A. A. Hodge tidak terlalu setuju untuk memisah-misahkan ketiga fungsi ini. Ketiga fungsi ini bagaikan organ-organ tubuh yang mendukung dan berkontribusi untuk kesatuan tubuh. Bagi Hodge: “Christ is always a prophetical Priest and a priestly Prophet, and he is always a royal Priest and a priestly King, and together they accomplish one redemption, to which all are equally essential.”[2]

Tantangan Saat Ini[3]
Sebelum merenungkan berbagai prinsip dan aspek aplikasi, penulis sedikit memikirkan berbagai tantangan yang kerap kita hadapi sebagai orang Kristen di zaman ini, sehingga aspek aplikasi yang dibagikan bisa relevan dalam menjawab tantangan-tantangan ini. Pertama, zaman ini sangat menekankan aspek pluralisme dan relativisme. Secara khusus dengan maraknya media dan dukungan kemajuan teknologi, orang-orang dengan berbagai latar belakang dan kepercayaan bisa berinteraksi dan membagikan pendapat atau pemikirannya. Dalam konteks seperti ini, menjadi sulit untuk mengakui ada satu pemikiran yang paling benar (kebenaran absolut). Setiap orang dianggap berhak untuk menentukan kebenaran bagi dirinya sendiri, memiliki cara pandangnya sendiri, dan kemudian mengekspresikannya. Kedua, zaman ini sangat menekankan aspek individu yang cenderung egois dan self-centered. Yang diidamkan adalah kesenangan, kemajuan, dan kenikmatan bagi diri sendiri. Dengan kondisi seperti ini, menjadi sulit untuk menghayati hidup yang dipersembahkan seutuhnya kepada Tuhan, dan memberikan kontribusi positif bagi komunitas atau masyarakat.

Nabi
Jabatan nabi memiliki penekanan kuat akan hati yang peka akan suara Tuhan dan sekaligus keberanian untuk memberitakannya. Nabi harus sangat sensitif dalam membedakan suara Tuhan dengan suara hati, pikirannya sendiri, dan bahkan suara setan. Ketika seorang nabi sudah berfirman atas nama Tuhan, jika yang dinyatakan tidak benar atau tidak terjadi, nabi harus siap menanggung konsekuensi hukuman mati. Ketika pesan dari Tuhan sudah jelas, nabi harus berani memberitakan pesan itu dengan tegas dan setia, tanpa ditambah ataupun dikurangi. Tidak peduli seberapa keras atau buruk pesan tersebut, dan tidak peduli kepada siapa pesan itu harus dinyatakan (baik kepada imam, ahli Taurat, tua-tua, panglima, bahkan raja sekalipun). Ketika Kristus di dunia, berkali-kali Ia dituliskan senantiasa mengkhususkan waktu untuk berelasi dengan Bapa-Nya. Kristus dituliskan selalu pergi ke tempat yang sunyi saat pagi-pagi benar untuk berdoa dan bersekutu dengan Bapa. Penulis percaya kepekaan kita sebagai orang Kristen sangat ditentukan melalui momen-momen seperti ini. Dalam bagian lain dalam Injil, perkataan yang begitu keras dan menusuk juga kerap Kristus lontarkan kepada orang-orang Farisi, misalkan saja dalam Yohanes 8 ketika Yesus mengatakan kepada orang-orang Farisi bahwa bapa mereka adalah Iblis.

Dalam menghayati fungsi nabi, kita bisa memikirkan seberapa jauh kerinduan dan kepekaan kita dalam mendengar suara Allah. Hal ini bisa dimulai dari seberapa sungguh kita mengkhususkan waktu untuk membaca, merenungkan, dan merindukan firman Tuhan. Hal ini juga terefleksi dalam keseriusan dan kesungguhan kita dalam berkata-kata. Sebab apa yang terpancar keluar melalui perkataan, bersumber dari kedalaman hati. Melalui lidah yang kecil terkandung kuasa yang begitu besar. Baik itu kuasa untuk membangun, maupun kuasa untuk menghancurkan. Dalam konteks masyarakat yang plural dan relatif, ini tentunya menjadi tantangan frontal dalam memberitakan keunikan pribadi Kristus. Pribadi Kristus sebagai satu-satunya jalan, kebenaran, dan hidup menjadi suatu kesulitan besar untuk diterima dan dimengerti bagi masyarakat plural dengan rupa-rupa pandangannya. Penghayatan kita akan fungsi nabi seharusnya memberikan kita dorongan dan keberanian dalam memberitakan Injil.

Imam
Jabatan imam sangat terkait dengan aspek kekudusan dan sifat pengantara. Imam harus memisahkan dirinya dan mendedikasikan seluruh hidupnya untuk Allah, secara spesifik pelayanan dalam konteks bait Allah. Imam harus siap untuk hidup secara berbeda dengan orang-orang lain secara umumnya, misalkan saja imam tidak boleh minum anggur, menikahi janda, menyentuh mayat, dan lain-lain. Imam juga harus sadar dan peka akan keberdosaan masyarakat. Di sana ia berperan sebagai pengantara untuk berdoa bagi masyarakat, dan mempersiapkan korban untuk pengampunan dosa. Dalam hidup Kristus sendiri, sebagai imam, Kristus memiliki dorongan kuat untuk mendoakan orang lain, secara khusus murid-murid-Nya, misalkan saja doa yang begitu indah yang tertulis dalam Yohanes 17. Suatu doa agar murid-murid-Nya dikuatkan untuk hidup dan bersaksi di dalam dunia. Yesus juga dituliskan menangisi Yerusalem, kota yang begitu kejam, yang telah menolak Kristus dan juga pelayan-pelayan yang Tuhan utus dalam zaman sebelumnya.

Dalam menghayati fungsi imam, kita harus siap untuk hidup berbeda di hadapan Allah. Ketika lingkungan atau komunitas sekeliling kita sudah menganggap dosa tertentu itu lumrah, kita harus memiliki ketegasan untuk hidup berbeda sebagai umat Allah, misalkan saja dosa keserakahan (yang diberi topeng sebagai niat atau dorongan untuk maju) dan apatis atau tidak peduli (yang diberi topeng fokus atau prioritas terhadap hal-hal yang kita anggap ‘penting’). Selama kita hidup di dunia, kelemahan demi kelemahan akan terus-menerus kita saksikan, baik dalam lingkup keluarga, sekolah, gereja, perusahaan, maupun negara. Memang mudah untuk menyebarkan gosip, mengolok-olok, atau sekadar mengutuki kelemahan-kelemahan tersebut. Namun itu bukan reaksi yang sepatutnya jika kita menjalankan fungsi imam. Dalam menjalankan fungsi imam, kita sudah seharusnya memiliki hati yang sensitif, kesedihan dalam melihat realitas dunia berdosa, dan mendoakan hal-hal tersebut.

Raja
Jabatan raja memiliki keunikan dalam menjalankan keadilan dan melakukan pengelolaan. Baik itu mengelola pemerintahan, masyarakat, militer, dan sumber daya alam. Ketika aspek-aspek tersebut dikelola dengan baik, bisa tercapai kesejahteraan di dalam masyarakat, misalkan saja dalam pemerintahan Daud dan masa-masa awal pemerintahan Salomo. Sangatlah penting bagi seorang raja untuk mengetahui prinsip kebenaran dan keadilan, sehingga seorang raja dapat menilai suatu perkara atau situasi, dan mengambil suatu keputusan yang benar dan adil. Lebih jauh lagi, kita juga percaya Kristus adalah Sang Raja yang sejati, Raja yang berhak menerima segala kemuliaan, puji, dan hormat. Kristus, Sang Pencipta, yang bertakhta dan berkuasa atas seluruh ciptaan. Seperti yang juga dinyatakan dalam Kitab Daniel, kerajaan dunia akan naik dan turun, datang dan pergi. Namun akan datang Kerajaan Allah yang kekal sampai selama-lamanya.

Pengertian Kristus sebagai raja sangat bertentangan dengan konsep zaman ini yang mengajarkan bahwa diri sendirilah yang menjadi pusat. Kita hidup tidak semata-mata untuk diri sendiri saja. Keseluruhan hidup kita adalah persembahan hidup bagi Allah. Terlebih lagi, dengan meneladani Allah yang memerintah dengan adil, kita juga sudah selayaknya mengerjakan tanggung jawab kita dengan sungguh di hadapan Allah. Allah telah memberikan kepada setiap kita takaran yang berbeda-beda dalam mengelola sesuatu. Baik itu mengelola waktu, studi, pekerjaan, maupun anak-anak. Segala hal yang ada pada kita bukan semata-mata hak milik kita. Itu semua harus dikelola dengan sungguh-sungguh dan dipertanggungjawabkan kembali kepada Allah sebagai Sang Pemberi anugerah. Keyakinan akan otoritas dan kekuasaan Kristus juga akan memberikan kita kestabilan dan ketenangan dalam menghadapi hiruk-pikuk dunia yang sudah jatuh dalam dosa ini. Dalam keseharian kita, kerap kali kita mendengar dan menyaksikan berita mengenai peperangan, bencana, tragedi, penyakit, dan berbagai kesulitan. Hanya ketika kita memiliki pengharapan akan Kerajaan Allah yang kekal, kita bisa menghadapi itu semua dengan penuh ketabahan dan pengharapan.

Penutup
Artikel ini hanyalah sebuah refleksi singkat mengenai topik Kristus: Nabi, Imam, dan Raja. Secara khusus bagi pembaca Buletin PILLAR yang adalah jemaat GRII dan sudah beberapa kali mendalami khotbah, kelas, atau seminar terkait topik ini, penulis sangat mendorong untuk menggali lebih jauh. Berikut beberapa contoh bacaan yang bisa memperkaya pengertian kita:
- Institutes of Christian Religion, Book II, Chapter 15: Three Things Briefly to be regarded in Christ, His Offices of Prophet, King, and Priest (John Calvin)
- A Puritan Theology, The Puritans on Christ’s Offices and States (Joel Beeke & Mark Jones)
- Systematic Theology, The Offices of Christ (Louis Berkhoff)
- The Priesthood of Christ (John Owen)
- The Returning King: A Guide to the Book of Revelation (Vern Poythress)

Semoga artikel singkat ini semakin mendorong kecintaan dan kekaguman kita akan pribadi Kristus, Sang Nabi, Imam, dan Raja yang sejati.

Juan Intan Kanggrawan
Redaksi Bahasa PILLAR

Endnotes:
[1] http://www.buletinpillar.org/artikel/kepekaan-seorang-nabi#hal-2, http://www.buletinpillar.org/artikel/we-are-priests-do-we-realize-it#hal-1, http://www.buletinpillar.org/artikel/sang-raja-telah-datang#hal-3.
[2] https://www.monergism.com/offices-christ.
[3] Dalam menuliskan tantangan ini, penulis berusaha mengaitkan dengan konteks mayoritas jemaat GRII yang tinggal di dalam perkotaan. Dalam situasi ini, arus pluralisme, relativisme, materialisme, individualisme, dan self-centeredness mengalir dengan deras.

2 tanggapan.

1. Ridolf Aponno dari Kota Jayapura berkata pada 17 June 2016:

Pertumbuan iman

2. alvons p dari yogya berkata pada 4 August 2016:

Dalam situasi ini, arus pluralisme, relativisme, materialisme, individualisme, dan self-centeredness mengalir dengan deras, saya sangat setuju dengan tiga fungsi yg telah disebutkan Nabi, Imam dan Raja menjadi pondasi bagi kita untuk melawan dan bertahan terhadap arus yang begitu kuat saat ini berusaha merongrong iman kita pada Kristus. bahkan di kalangan teman"kristen sendiri pun ada yang menganggap ibadah itu ga perlu ke gereja dan cukup perbanyak baca buku rohani tanpa firman Tuhan/Alkitab ( krna di dlm buku tersebut sdh ada ayat ayat ), singkat nya dia membuat kebenaran sendiri thd dirinya....

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲